{"nodes": [{"key": "keuangan_", "attributes": {"label": "keuangan_", "x": 424.6760128347571, "y": 787.1841582970145, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069984470938296773", "id": "keuangan_", "source": "tweet-000004", "content": "Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat\n\nhttps://t.co/yei1xDUIQA", "post_id": "2069984470938296773"}}, {"key": "AidilAKBAR", "attributes": {"label": "AidilAKBAR", "x": 409.6337779079625, "y": 866.2230775513241, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 69.375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069984470938296773", "id": "AidilAKBAR", "source": "tweet-000004", "content": "Nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat\n\nhttps://t.co/yei1xDUIQA", "post_id": "2069984470938296773"}}, {"key": "Kinkin18051341", "attributes": {"label": "Kinkin18051341", "x": 812.8150724553707, "y": 721.8854917764614, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069908230545998100", "id": "Kinkin18051341", "source": "tweet-000004", "content": "Karena ekonomi tumbuh, datanyanyg diambil  dari makin banyaknya WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI apindo dll https://t.co/XaDOQjU7HO", "post_id": "2069908230545998100"}}, {"key": "arifbalikpapan1", "attributes": {"label": "arifbalikpapan1", "x": 970.206070069696, "y": 921.5159966019706, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 53.4375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069908230545998100", "id": "arifbalikpapan1", "source": "tweet-000004", "content": "Karena ekonomi tumbuh, datanyanyg diambil  dari makin banyaknya WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI apindo dll https://t.co/XaDOQjU7HO", "post_id": "2069908230545998100"}}, {"key": "regar_op0sisi", "attributes": {"label": "regar_op0sisi", "x": 497.70553668728, "y": 558.7724035576132, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 53.4375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069895048297386329", "id": "regar_op0sisi", "source": "tweet-000004", "content": "Gpp menguras APBN Demi cita2 PKI, PDI-P PKS GOLKAR NASDEM DEMOKRAT DLL yakni mensukseskan WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI dll https://t.co/vDEsDNbXp9", "post_id": "2069895048297386329"}}, {"key": "Antokajaaa", "attributes": {"label": "Antokajaaa", "x": 288.91424365551075, "y": 983.10948670375, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2070012547982647311", "id": "Antokajaaa", "source": "tweet-000004", "content": "Ini presiden kita? Anjay.. pilihan rakyat kita mantap 🤣\n\n1. Kasih uang 100 milih presiden\n2. Kasih 100 ikut demo lanjutkan mbg\n3. Kasih 300 jt, pura” BEM mahasiswa\n\nInikah rakyat kita? Dg 100 rb yg kalian terima, harga bbm naik, harga pangan naik, rupiah menurun, emas naik dll🥴", "post_id": "2070012547982647311"}}, {"key": "Qu3en_Bakery", "attributes": {"label": "Qu3en_Bakery", "x": 33.887754167519105, "y": 675.6806730703249, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 69.375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2070012547982647311", "id": "Qu3en_Bakery", "source": "tweet-000004", "content": "Ini presiden kita? Anjay.. pilihan rakyat kita mantap 🤣\n\n1. Kasih uang 100 milih presiden\n2. Kasih 100 ikut demo lanjutkan mbg\n3. Kasih 300 jt, pura” BEM mahasiswa\n\nInikah rakyat kita? Dg 100 rb yg kalian terima, harga bbm naik, harga pangan naik, rupiah menurun, emas naik dll🥴", "post_id": "2070012547982647311"}}, {"key": "77879013289", "attributes": {"label": "77879013289", "x": 3.3211483431651034, "y": 541.1171848022865, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "3916180567561753091_77879013289", "id": "77879013289", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah sikap optimis Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Ekonom Senior sekaligus mantan Menkeu, Chatib Basri, justru melemparkan \"bom\" analisis yang mengejutkan. Dalam Grab Business Forum (9/6/2026), Chatib menegaskan bahwa keoknya Rupiah hingga menembus level Rp18.000-an bukan karena perang di Timur Tengah, melainkan akibat ambruknya kepercayaan (confidence) investor global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.\n\nLewat data ilmiah Granger Causality Test, Chatib membongkar bahwa kenaikan Credit Default Swap (CDS) - instrumen pengukur risiko gagal bayar suatu negara - mampu menjelaskan 23% dari pelemahan Rupiah. Faktanya, grafik risiko fiskal RI sudah memburuk jauh sebelum konflik geopolitik Iran-Israel memanas. Para investor global dilanda kecemasan (anxiety) akut mengenai keberlanjutan defisit anggaran belanja pemerintah ke depan. Analisis menohok ini menjadi alarm keras bagi pasar; jika pemerintah gagal memulihkan kepercayaaan pasar terhadap keberlanjutan anggaran negara, amunisi naik suku bunga dari Bank Indonesia pun dinilai hanya akan menjadi obat pereda nyeri sementara!\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\n#ChatibBasri #Purbaya #PurbayaYudhiSadewa #KrisisFiskal #IHSG", "post_id": "3916180567561753091_77879013289"}}, {"key": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "BELDOCUAN", "x": 34.18403491499833, "y": 871.6207867515473, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 48.125, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3916180567561753091_77879013289", "id": "BELDOCUAN", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah sikap optimis Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Ekonom Senior sekaligus mantan Menkeu, Chatib Basri, justru melemparkan \"bom\" analisis yang mengejutkan. Dalam Grab Business Forum (9/6/2026), Chatib menegaskan bahwa keoknya Rupiah hingga menembus level Rp18.000-an bukan karena perang di Timur Tengah, melainkan akibat ambruknya kepercayaan (confidence) investor global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.\n\nLewat data ilmiah Granger Causality Test, Chatib membongkar bahwa kenaikan Credit Default Swap (CDS) - instrumen pengukur risiko gagal bayar suatu negara - mampu menjelaskan 23% dari pelemahan Rupiah. Faktanya, grafik risiko fiskal RI sudah memburuk jauh sebelum konflik geopolitik Iran-Israel memanas. Para investor global dilanda kecemasan (anxiety) akut mengenai keberlanjutan defisit anggaran belanja pemerintah ke depan. Analisis menohok ini menjadi alarm keras bagi pasar; jika pemerintah gagal memulihkan kepercayaaan pasar terhadap keberlanjutan anggaran negara, amunisi naik suku bunga dari Bank Indonesia pun dinilai hanya akan menjadi obat pereda nyeri sementara!\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\n#ChatibBasri #Purbaya #PurbayaYudhiSadewa #KrisisFiskal #IHSG", "post_id": "3916180567561753091_77879013289"}}, {"key": "beldocuanfreeforum", "attributes": {"label": "beldocuanfreeforum", "x": 436.93744770415555, "y": 891.0470351359268, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 48.125, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916180567561753091_77879013289", "id": "beldocuanfreeforum", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah sikap optimis Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Ekonom Senior sekaligus mantan Menkeu, Chatib Basri, justru melemparkan \"bom\" analisis yang mengejutkan. Dalam Grab Business Forum (9/6/2026), Chatib menegaskan bahwa keoknya Rupiah hingga menembus level Rp18.000-an bukan karena perang di Timur Tengah, melainkan akibat ambruknya kepercayaan (confidence) investor global terhadap pengelolaan fiskal Indonesia.\n\nLewat data ilmiah Granger Causality Test, Chatib membongkar bahwa kenaikan Credit Default Swap (CDS) - instrumen pengukur risiko gagal bayar suatu negara - mampu menjelaskan 23% dari pelemahan Rupiah. Faktanya, grafik risiko fiskal RI sudah memburuk jauh sebelum konflik geopolitik Iran-Israel memanas. Para investor global dilanda kecemasan (anxiety) akut mengenai keberlanjutan defisit anggaran belanja pemerintah ke depan. Analisis menohok ini menjadi alarm keras bagi pasar; jika pemerintah gagal memulihkan kepercayaaan pasar terhadap keberlanjutan anggaran negara, amunisi naik suku bunga dari Bank Indonesia pun dinilai hanya akan menjadi obat pereda nyeri sementara!\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\n#ChatibBasri #Purbaya #PurbayaYudhiSadewa #KrisisFiskal #IHSG", "post_id": "3916180567561753091_77879013289"}}, {"key": "suarantb1", "attributes": {"label": "suarantb1", "x": 478.7811997563041, "y": 330.90421536826096, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 5, "degree": 5}, "_id": "7655119943809240328", "id": "suarantb1", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "rsud.dr.r.soedjon", "attributes": {"label": "rsud.dr.r.soedjon", "x": 199.42327113065429, "y": 390.3313729971657, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.875, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655119943809240328", "id": "rsud.dr.r.soedjon", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "rsud.patuh.karya", "attributes": {"label": "rsud.patuh.karya", "x": 103.01065863261793, "y": 292.80537737186575, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.875, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655119943809240328", "id": "rsud.patuh.karya", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "rsudsoedjono", "attributes": {"label": "rsudsoedjono", "x": 356.2705768819309, "y": 37.75183897715906, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.875, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655119943809240328", "id": "rsudsoedjono", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "rsudlomboktimur31", "attributes": {"label": "rsudlomboktimur31", "x": 820.5917517062815, "y": 224.91870290174697, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.875, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655119943809240328", "id": "rsudlomboktimur31", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "dprd.lotim", "attributes": {"label": "dprd.lotim", "x": 319.4932488182844, "y": 681.5542455826406, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.875, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655119943809240328", "id": "dprd.lotim", "source": "tiktok-000001", "content": "Nyawa Rakyat Terus Melayang, DPRD dan Pemkab Lombok Timur Masih Membisu? Lombok Timur – Bungkamnya manajemen RSUD Patuh Karya dan lambannya respons DPRD Lombok Timur terhadap berbagai keluhan masyarakat dinilai telah berubah menjadi krisis kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan daerah.  Kasus meninggalnya Niken Hafizah Anggraeni dalam ambulans bukan lagi dipandang sebagai peristiwa tunggal. Tragedi tersebut justru menjadi pintu terbukanya berbagai kesaksian dan keluhan masyarakat terkait dugaan kematian pasien pascaoperasi serta pelayanan kesehatan yang dinilai semakin jauh dari standar yang layak.  Di tengah derasnya tuntutan publik akan transparansi, Direktur RSUD Patuh Karya memilih diam. Sementara DPRD Lombok Timur yang memiliki fungsi pengawasan hingga kini belum menunjukkan langkah tegas meski surat hearing telah dilayangkan masyarakat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: siapa yang sebenarnya sedang dilindungi, dan mengapa keselamatan pasien tidak menjadi prioritas utama?  Sorotan publik juga mengarah pada dugaan kejanggalan sistem rujukan kesehatan serta persoalan utang pengadaan obat yang nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah. Jika benar, maka persoalan ini bukan sekadar masalah administrasi, melainkan menyangkut kualitas layanan dan keselamatan nyawa masyarakat.  Atas dasar itu, gelombang aksi massa dijadwalkan berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026. Aksi tersebut menjadi peringatan keras kepada DPRD dan Bupati Lombok Timur agar berhenti menjadi penonton dalam persoalan yang menyangkut hak dasar rakyat atas layanan kesehatan.  Sebab ketika nyawa terus berjatuhan sementara para pemegang kewenangan memilih diam, maka yang sedang dipertontonkan bukan sekadar buruknya tata kelola kesehatan, melainkan kegagalan negara hadir melindungi warganya. #fyp #dprdlotim #bupatilotim  #trending #kesehatan", "post_id": "7655119943809240328"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "attributes": {"label": "@KompasTVSukabumi", "x": 302.88139556776815, "y": 402.581981633727, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "@KompasTVSukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}, {"key": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "ktvsukabumi", "x": 343.2329665647307, "y": 216.2210633625469, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 69.375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "ktvsukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}, {"key": "@TheFreePressJournal", "attributes": {"label": "@TheFreePressJournal", "x": 956.9982829376552, "y": 624.6815618132232, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 37.5, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "_YI0S_cbGjk", "id": "@TheFreePressJournal", "source": "youtube-000001", "content": "Hujan Mumbai 2026 & Banjir | Cerita yang Sama Setiap Tahun | Miliaran Rupiah Dihabiskan untuk Pen...\n\nHujan lebat sekali lagi menyebabkan genangan air, kemacetan lalu lintas, dan gangguan di beberapa bagian Mumbai, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan kota menghadapi musim hujan.\n\nMeskipun miliaran rupiah telah dihabiskan untuk pengerukan saluran air, langkah-langkah mitigasi banjir, dan stasiun pompa, daerah-daerah seperti Kings Circle, Sion, dan Gandhi Market mengalami banjir setelah hujan lebat.\n\nFPJ mengunjungi lokasi yang terkena dampak dan berbicara dengan warga dan pemilik toko, banyak di antaranya melaporkan air hujan masuk ke toko mereka dan mempertanyakan efektivitas langkah-langkah pemerintah kota yang dilakukan sebelum musim hujan.\n\nDengan usulan anggaran sebesar ₹80.952,56 crore dari BMC untuk tahun fiskal 2026-2027, warga bertanya-tanya apakah dana yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur dan pengendalian banjir membuahkan hasil di lapangan.\n\nSaksikan laporan lapangan FPJ ini untuk melihat reaksi dari warga dan gambaran nyata kesiapan Mumbai menghadapi musim hujan.\n\n#HujanMumbai #BanjirMumbai #CuacaMumbai #MusimHujan2026 #GenanganAir #BeritaMumbai #BMC #KingsCircle #Sion #PasarGandhi #InformasiLaluLintas #BeritaMaharashtra #BeritaTerbaru #PeringatanHujan #FPJ\n\nSelamat datang di The Free Press Journal – Berita Terpercaya Sejak 1928\nMenyajikan jurnalisme yang andal, tidak bias, dan mendalam selama lebih dari 96 tahun. Tetap terinformasi dengan berita terkini, politik, bisnis, hiburan, olahraga, kesehatan, dan banyak lagi—langsung dari salah satu harian berbahasa Inggris tertua dan paling dihormati di Mumbai.\n\n📲 Berlangganan untuk berita nyata, kisah nyata, dan dampak nyata.\n\n#FreePressJournal #FPJ #BeritaTerbaru #BeritaIndia #JurnalismeTerpercaya\n\nBerlangganan Saluran Kami:\nSitus web: https://www.freepressjournal.in\nTautan Media Sosial\nFacebook:   / freepressjournal  \nYouTube:    /   \nYouTube Shorts: https://www.youtube.com/\nTwitter: https://x.com/fpjindia\nInstagram:   / freepressjournal  \nTelegram: https://t.me/freepressjournal\nIkuti Saluran Free Press Journal di WhatsApp\nE-Paper Free Press Journal Kini Tersedia di Ponsel & Tablet Android Anda Tanpa Biaya untuk Mengunduh Aplikasi: https://www.freepressjournal.in/get-apps", "post_id": "_YI0S_cbGjk"}}, {"key": "thefreepressjournal", "attributes": {"label": "thefreepressjournal", "x": 130.28669254562763, "y": 423.3607117677262, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 53.4375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "_YI0S_cbGjk", "id": "thefreepressjournal", "source": "youtube-000001", "content": "Hujan Mumbai 2026 & Banjir | Cerita yang Sama Setiap Tahun | Miliaran Rupiah Dihabiskan untuk Pen...\n\nHujan lebat sekali lagi menyebabkan genangan air, kemacetan lalu lintas, dan gangguan di beberapa bagian Mumbai, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan kota menghadapi musim hujan.\n\nMeskipun miliaran rupiah telah dihabiskan untuk pengerukan saluran air, langkah-langkah mitigasi banjir, dan stasiun pompa, daerah-daerah seperti Kings Circle, Sion, dan Gandhi Market mengalami banjir setelah hujan lebat.\n\nFPJ mengunjungi lokasi yang terkena dampak dan berbicara dengan warga dan pemilik toko, banyak di antaranya melaporkan air hujan masuk ke toko mereka dan mempertanyakan efektivitas langkah-langkah pemerintah kota yang dilakukan sebelum musim hujan.\n\nDengan usulan anggaran sebesar ₹80.952,56 crore dari BMC untuk tahun fiskal 2026-2027, warga bertanya-tanya apakah dana yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur dan pengendalian banjir membuahkan hasil di lapangan.\n\nSaksikan laporan lapangan FPJ ini untuk melihat reaksi dari warga dan gambaran nyata kesiapan Mumbai menghadapi musim hujan.\n\n#HujanMumbai #BanjirMumbai #CuacaMumbai #MusimHujan2026 #GenanganAir #BeritaMumbai #BMC #KingsCircle #Sion #PasarGandhi #InformasiLaluLintas #BeritaMaharashtra #BeritaTerbaru #PeringatanHujan #FPJ\n\nSelamat datang di The Free Press Journal – Berita Terpercaya Sejak 1928\nMenyajikan jurnalisme yang andal, tidak bias, dan mendalam selama lebih dari 96 tahun. Tetap terinformasi dengan berita terkini, politik, bisnis, hiburan, olahraga, kesehatan, dan banyak lagi—langsung dari salah satu harian berbahasa Inggris tertua dan paling dihormati di Mumbai.\n\n📲 Berlangganan untuk berita nyata, kisah nyata, dan dampak nyata.\n\n#FreePressJournal #FPJ #BeritaTerbaru #BeritaIndia #JurnalismeTerpercaya\n\nBerlangganan Saluran Kami:\nSitus web: https://www.freepressjournal.in\nTautan Media Sosial\nFacebook:   / freepressjournal  \nYouTube:    /   \nYouTube Shorts: https://www.youtube.com/\nTwitter: https://x.com/fpjindia\nInstagram:   / freepressjournal  \nTelegram: https://t.me/freepressjournal\nIkuti Saluran Free Press Journal di WhatsApp\nE-Paper Free Press Journal Kini Tersedia di Ponsel & Tablet Android Anda Tanpa Biaya untuk Mengunduh Aplikasi: https://www.freepressjournal.in/get-apps", "post_id": "_YI0S_cbGjk"}}, {"key": "TheFreePress...", "attributes": {"label": "TheFreePress...", "x": 615.8100157412118, "y": 989.54137517225, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 53.4375, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "_YI0S_cbGjk", "id": "TheFreePress...", "source": "youtube-000001", "content": "Hujan Mumbai 2026 & Banjir | Cerita yang Sama Setiap Tahun | Miliaran Rupiah Dihabiskan untuk Pen...\n\nHujan lebat sekali lagi menyebabkan genangan air, kemacetan lalu lintas, dan gangguan di beberapa bagian Mumbai, menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan kota menghadapi musim hujan.\n\nMeskipun miliaran rupiah telah dihabiskan untuk pengerukan saluran air, langkah-langkah mitigasi banjir, dan stasiun pompa, daerah-daerah seperti Kings Circle, Sion, dan Gandhi Market mengalami banjir setelah hujan lebat.\n\nFPJ mengunjungi lokasi yang terkena dampak dan berbicara dengan warga dan pemilik toko, banyak di antaranya melaporkan air hujan masuk ke toko mereka dan mempertanyakan efektivitas langkah-langkah pemerintah kota yang dilakukan sebelum musim hujan.\n\nDengan usulan anggaran sebesar ₹80.952,56 crore dari BMC untuk tahun fiskal 2026-2027, warga bertanya-tanya apakah dana yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur dan pengendalian banjir membuahkan hasil di lapangan.\n\nSaksikan laporan lapangan FPJ ini untuk melihat reaksi dari warga dan gambaran nyata kesiapan Mumbai menghadapi musim hujan.\n\n#HujanMumbai #BanjirMumbai #CuacaMumbai #MusimHujan2026 #GenanganAir #BeritaMumbai #BMC #KingsCircle #Sion #PasarGandhi #InformasiLaluLintas #BeritaMaharashtra #BeritaTerbaru #PeringatanHujan #FPJ\n\nSelamat datang di The Free Press Journal – Berita Terpercaya Sejak 1928\nMenyajikan jurnalisme yang andal, tidak bias, dan mendalam selama lebih dari 96 tahun. Tetap terinformasi dengan berita terkini, politik, bisnis, hiburan, olahraga, kesehatan, dan banyak lagi—langsung dari salah satu harian berbahasa Inggris tertua dan paling dihormati di Mumbai.\n\n📲 Berlangganan untuk berita nyata, kisah nyata, dan dampak nyata.\n\n#FreePressJournal #FPJ #BeritaTerbaru #BeritaIndia #JurnalismeTerpercaya\n\nBerlangganan Saluran Kami:\nSitus web: https://www.freepressjournal.in\nTautan Media Sosial\nFacebook:   / freepressjournal  \nYouTube:    /   \nYouTube Shorts: https://www.youtube.com/\nTwitter: https://x.com/fpjindia\nInstagram:   / freepressjournal  \nTelegram: https://t.me/freepressjournal\nIkuti Saluran Free Press Journal di WhatsApp\nE-Paper Free Press Journal Kini Tersedia di Ponsel & Tablet Android Anda Tanpa Biaya untuk Mengunduh Aplikasi: https://www.freepressjournal.in/get-apps", "post_id": "_YI0S_cbGjk"}}], "edges": [{"key": "keuangan_", "source": "keuangan_", "target": "AidilAKBAR", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Kinkin18051341", "source": "Kinkin18051341", "target": "arifbalikpapan1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Kinkin18051341", "source": "Kinkin18051341", "target": "regar_op0sisi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Antokajaaa", "source": "Antokajaaa", "target": "Qu3en_Bakery", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "77879013289", "source": "77879013289", "target": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "77879013289", "source": "77879013289", "target": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "77879013289", "source": "77879013289", "target": "beldocuanfreeforum", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "suarantb1", "source": "suarantb1", "target": "rsud.dr.r.soedjon", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suarantb1", "source": "suarantb1", "target": "rsud.patuh.karya", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suarantb1", "source": "suarantb1", "target": "rsudsoedjono", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suarantb1", "source": "suarantb1", "target": "rsudlomboktimur31", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suarantb1", "source": "suarantb1", "target": "dprd.lotim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "source": "@KompasTVSukabumi", "target": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheFreePressJournal", "source": "@TheFreePressJournal", "target": "thefreepressjournal", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheFreePressJournal", "source": "@TheFreePressJournal", "target": "TheFreePress...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}