{"nodes": [{"key": "gumelarpm", "attributes": {"label": "gumelarpm", "x": 858.9922234809543, "y": 125.32833662209109, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052245073304428717", "id": "gumelarpm", "source": "retweet-000002", "content": "Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. \n\n1. Dollar ke rupiah 17.400.\n2. BBM di luar jawa langka. Bisa antr…", "post_id": "2052245073304428717"}}, {"key": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "LambeSahamjja", "x": 322.55000764011, "y": 347.0995222358704, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 159.1357, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 8, "out_degree": 0, "degree": 8}, "_id": "2052245073304428717", "id": "LambeSahamjja", "source": "retweet-000002", "content": "Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. \n\n1. Dollar ke rupiah 17.400.\n2. BBM di luar jawa langka. Bisa antr…", "post_id": "2052245073304428717"}}, {"key": "Prnchybrid", "attributes": {"label": "Prnchybrid", "x": 491.2118154388484, "y": 704.5609676503049, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052178891062878366", "id": "Prnchybrid", "source": "retweet-000002", "content": "Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. \n\n1. Dollar ke rupiah 17.400.\n2. BBM di luar jawa langka. Bisa antr…", "post_id": "2052178891062878366"}}, {"key": "rakatoulie", "attributes": {"label": "rakatoulie", "x": 778.2868536130409, "y": 912.2487894598505, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052249229612184061", "id": "rakatoulie", "source": "retweet-000002", "content": "Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. \n\n1. Dollar ke rupiah 17.400.\n2. BBM di luar jawa langka. Bisa antr…", "post_id": "2052249229612184061"}}, {"key": "felico74", "attributes": {"label": "felico74", "x": 633.7598686264794, "y": 391.2184416425878, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052245574985122086", "id": "felico74", "source": "retweet-000002", "content": "Baca berita tuh jujur kondisi negara ini meresahkan. \n\n1. Dollar ke rupiah 17.400.\n2. BBM di luar jawa langka. Bisa antr…", "post_id": "2052245574985122086"}}, {"key": "Ikhwanazis89", "attributes": {"label": "Ikhwanazis89", "x": 76.77378820371395, "y": 160.03910926651022, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2052155088215663037", "id": "Ikhwanazis89", "source": "tweet-000004", "content": "Oalah pantes.\nAkun ini selalu demonisasi subsidi BBM dan jarang kritik MBG-KDMP especially saat Rupiah melemah.\nBuzzerp divisi soft selling toh.\n\nhttps://t.co/UYgChY62n1", "post_id": "2052155088215663037"}}, {"key": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "BigAlphaID", "x": 599.1767181420424, "y": 503.18748814503033, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 75.6385, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2052155088215663037", "id": "BigAlphaID", "source": "tweet-000004", "content": "Oalah pantes.\nAkun ini selalu demonisasi subsidi BBM dan jarang kritik MBG-KDMP especially saat Rupiah melemah.\nBuzzerp divisi soft selling toh.\n\nhttps://t.co/UYgChY62n1", "post_id": "2052155088215663037"}}, {"key": "nakalbynight", "attributes": {"label": "nakalbynight", "x": 598.0778783793837, "y": 323.8020323702576, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 75.6385, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052155788085629422", "id": "nakalbynight", "source": "tweet-000004", "content": "Betul kak.\nCek deh twit dia saat APBN defisit dan Rupiah melemah.\nBlaming ke subsidi BBM terus tapi tone deaf soal MBG-KDMP.\n\nFixed buzzerp berkedok media independen.", "post_id": "2052155788085629422"}}, {"key": "sorotan.terkiniid", "attributes": {"label": "sorotan.terkiniid", "x": 474.49983871418357, "y": 934.6150302851881, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3890967371061151156_35605154842", "id": "sorotan.terkiniid", "source": "instagram-000001", "content": "Kita bahas nyok\n\nKenaikan harga BBM non-subsidi kembali terjadi dan menjadi perhatian banyak pihak. Pemerintah menyesuaikan harga karena mengikuti kondisi pasar global dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, subsidi energi tetap diarahkan untuk kelompok yang berhak.\n\nDilansir dari  dan , LPG 3 kg masih diprioritaskan untuk rumah tangga kecil, dan BBM subsidi tetap difokuskan untuk kebutuhan dasar masyarakat. DPR juga menekankan pentingnya menjaga perlindungan bagi kelompok rentan agar tidak terdampak secara berlebihan.\n\nSecara sederhana, kebijakan ini memisahkan antara kebutuhan pokok dan konsumsi yang lebih tinggi.\nTujuannya agar subsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan, bukan digunakan secara luas tanpa target.\nberikan pendapat kalian dibawah nyok 👇\n#jagaindonesia #negarahadir #indonesiastabil #subsidiaman #lpg", "post_id": "3890967371061151156_35605154842"}}, {"key": "cnbcindonesia", "attributes": {"label": "cnbcindonesia", "x": 351.6770954583934, "y": 286.49216923148856, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 83.9882, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3890967371061151156_35605154842", "id": "cnbcindonesia", "source": "instagram-000001", "content": "Kita bahas nyok\n\nKenaikan harga BBM non-subsidi kembali terjadi dan menjadi perhatian banyak pihak. Pemerintah menyesuaikan harga karena mengikuti kondisi pasar global dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, subsidi energi tetap diarahkan untuk kelompok yang berhak.\n\nDilansir dari  dan , LPG 3 kg masih diprioritaskan untuk rumah tangga kecil, dan BBM subsidi tetap difokuskan untuk kebutuhan dasar masyarakat. DPR juga menekankan pentingnya menjaga perlindungan bagi kelompok rentan agar tidak terdampak secara berlebihan.\n\nSecara sederhana, kebijakan ini memisahkan antara kebutuhan pokok dan konsumsi yang lebih tinggi.\nTujuannya agar subsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan, bukan digunakan secara luas tanpa target.\nberikan pendapat kalian dibawah nyok 👇\n#jagaindonesia #negarahadir #indonesiastabil #subsidiaman #lpg", "post_id": "3890967371061151156_35605154842"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 285.6131059461383, "y": 118.97523370092522, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 83.9882, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3890967371061151156_35605154842", "id": "kompascom", "source": "instagram-000001", "content": "Kita bahas nyok\n\nKenaikan harga BBM non-subsidi kembali terjadi dan menjadi perhatian banyak pihak. Pemerintah menyesuaikan harga karena mengikuti kondisi pasar global dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, subsidi energi tetap diarahkan untuk kelompok yang berhak.\n\nDilansir dari  dan , LPG 3 kg masih diprioritaskan untuk rumah tangga kecil, dan BBM subsidi tetap difokuskan untuk kebutuhan dasar masyarakat. DPR juga menekankan pentingnya menjaga perlindungan bagi kelompok rentan agar tidak terdampak secara berlebihan.\n\nSecara sederhana, kebijakan ini memisahkan antara kebutuhan pokok dan konsumsi yang lebih tinggi.\nTujuannya agar subsidi benar-benar sampai ke masyarakat yang membutuhkan, bukan digunakan secara luas tanpa target.\nberikan pendapat kalian dibawah nyok 👇\n#jagaindonesia #negarahadir #indonesiastabil #subsidiaman #lpg", "post_id": "3890967371061151156_35605154842"}}, {"key": "@TribunnewsSurya", "attributes": {"label": "@TribunnewsSurya", "x": 136.02566781716808, "y": 471.3988060800408, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.9391, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "RBiiXpCQFfk", "id": "@TribunnewsSurya", "source": "youtube-000001", "content": "Inovasi Warga Pesanggrahan Madiun Ubah Plastik jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru\n\nPengelolaan sampah anorganik terutama plastik sering kali menjadi momok di perkotaan. Sampah plastik yang tidak bisa terurai menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Madiun.\n\nPadahal berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun kapasitas TPA Kota Madiun hampir penuh. Pemkot Madiun harus melakukan rekayasa dan perlakuan khusus agar TPA yang berada di Kecamatan Manguharjo tersebut tetap bisa menampung sampah warga Kota Pendekar.\n\nDi tengah darurat sampah Kota Madiun, warga di Jalan Pesanggrahan, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun membuat terobosan dengan mengolah sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis.\n\nDari kelompok Program Kampung Iklim (Proklim), sampah plastik disulap menjadi berbagai produk seperti nampan, tempat sampah, sapu, hingga meubel dan perabotan rumah tangga lainnya.\n\nKetua Workshop 3Re (Reduce, Reuse, Recycle) Labs Proklim Pesanggrahan, Kurnia Fidya Wati, menuturkan program tersebut baru berjalan sekitar satu tahun, meski Bank Sampah Pesanggrahan sendiri telah berdiri sejak 2017.\n\nAwalnya, sampah plastik yang terkumpul hanya dijual ke pengepul dengan harga rendah. Kondisi itu membuat kelompok Proklim berpikir untuk meningkatkan nilai tambah dari sampah yang ada.\n\n\"Kalau kita hanya menjual ke pengepul, nilainya memang tidak banyak. Satu kilogram hanya sekitar Rp 1.000 sampai Rp 1.500. Padahal volumenya besar. Dari situ kami berpikir bagaimana sampah ini bisa punya nilai lebih,\" ujar Fifid, Rabu (6/5/2026).\n\nBerbekal ide tersebut, mereka mulai berinovasi dengan cara melelehkan botol plastik secara manual, lalu mencetaknya menjadi berbagai produk fungsional. Seiring waktu, variasi produk pun semakin berkembang.\n\nInovasi tersebut mendapatkan perhatian dari sejumlah kalangan, salah satunya Pertamina Patra Niaga yang menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan berupa alat pencacah plastik dan oven peleleh plastik.\n\nDengan bantuan alat tersebut kapasitas pengolahan sampah plastik semakin besar. Dalam sehari kelompok tersebut mampu mengolah lebih dari 10 kilogram sampah plastik, tergantung permintaan pasar. \n\nDari jumlah tersebut, berbagai produk berhasil dihasilkan, termasuk wadah sampah pilah yang menjadi salah satu produk terbaru.\n\n\"Untuk satu wadah sampah saja bisa membutuhkan sekitar 2 kilogram plastik. Jadi dalam sehari kami bisa produksi lebih dari 10 kilogram, bahkan bisa maksimal kalau permintaan tinggi,\" jelasnya.\n\nInovasi tersebut juga menarik perhatian bank sampah dari wilayah lain. Sedikitnya 10 bank sampah dari berbagai kelurahan di Kota Madiun rutin menyetorkan sampah plastik ke Pesanggrahan.\n\nSampah tersebut tidak disetorkan secara cuma-cuma, Bank Sampah Pesanggrahan membelinya dengan harga lebih tinggi dibanding pengepul, yakni antara Rp2.500 hingga Rp4.500 per kilogram, tergantung kondisi dan tingkat pemilahan.\n\n\"Kalau masih campur, kita beli sekitar Rp2.500 sampai Rp3.000 per kilogram. Kalau sudah dipilah, bisa Rp4.000 sampai Rp4.500,\" imbuhnya.\n\nKelompok ini juga mengembangkan inovasi layanan berbasis digital melalui aplikasi bernama “Sok Rosok”.\n\nAplikasi tersebut memungkinkan masyarakat untuk meminta penjemputan sampah secara langsung, layaknya layanan ojek online.\n\nMelalui pendekatan ini, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah perlahan mulai meningkat. Nasabah bank sampah pun terus bertambah, seiring edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.\n\n\"Awalnya memang tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Tapi sekarang mulai terlihat perubahan. Warga sudah mulai memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah,\" jelas Fifid.\n\nJangan hanya di YouTube, ikuti juga saluran WhatsApp kami! Dapatkan update video terbaru, informasi eksklusif, dan konten menarik lainnya langsung di ponselmu. Klik link di deskripsi untuk bergabung dan jadi yang pertama tahu tentang video-video terbaru dari Harian Surya! Jangan sampai ketinggalan!\nhttps://whatsapp.com/channel/0029VaUt... \n\nVideo :\nEditor Video : Ahmad Zaimul Haq \n\nWEBSITE: \nhttp://surabaya.tribunnews.com/ \n\nInstagram:\n  / suryaonline   \n\nFacebook:\n  / suryaonline   \n\nYOUTUBE\n   /    \n\n#TribunnewsSURYA\n#hariansurya\n#suryaonline\n#jawatimur\n#jatim\n#madiun\n#sampahplastik\n#pengolahansampahplastik\n#kotamadiun", "post_id": "RBiiXpCQFfk"}}, {"key": "tribunnewssurya", "attributes": {"label": "tribunnewssurya", "x": 261.9563798948703, "y": 923.6961314943364, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 109.0374, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "RBiiXpCQFfk", "id": "tribunnewssurya", "source": "youtube-000001", "content": "Inovasi Warga Pesanggrahan Madiun Ubah Plastik jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru\n\nPengelolaan sampah anorganik terutama plastik sering kali menjadi momok di perkotaan. Sampah plastik yang tidak bisa terurai menjadi salah satu penyumbang terbesar sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kota Madiun.\n\nPadahal berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun kapasitas TPA Kota Madiun hampir penuh. Pemkot Madiun harus melakukan rekayasa dan perlakuan khusus agar TPA yang berada di Kecamatan Manguharjo tersebut tetap bisa menampung sampah warga Kota Pendekar.\n\nDi tengah darurat sampah Kota Madiun, warga di Jalan Pesanggrahan, Kelurahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun membuat terobosan dengan mengolah sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis.\n\nDari kelompok Program Kampung Iklim (Proklim), sampah plastik disulap menjadi berbagai produk seperti nampan, tempat sampah, sapu, hingga meubel dan perabotan rumah tangga lainnya.\n\nKetua Workshop 3Re (Reduce, Reuse, Recycle) Labs Proklim Pesanggrahan, Kurnia Fidya Wati, menuturkan program tersebut baru berjalan sekitar satu tahun, meski Bank Sampah Pesanggrahan sendiri telah berdiri sejak 2017.\n\nAwalnya, sampah plastik yang terkumpul hanya dijual ke pengepul dengan harga rendah. Kondisi itu membuat kelompok Proklim berpikir untuk meningkatkan nilai tambah dari sampah yang ada.\n\n\"Kalau kita hanya menjual ke pengepul, nilainya memang tidak banyak. Satu kilogram hanya sekitar Rp 1.000 sampai Rp 1.500. Padahal volumenya besar. Dari situ kami berpikir bagaimana sampah ini bisa punya nilai lebih,\" ujar Fifid, Rabu (6/5/2026).\n\nBerbekal ide tersebut, mereka mulai berinovasi dengan cara melelehkan botol plastik secara manual, lalu mencetaknya menjadi berbagai produk fungsional. Seiring waktu, variasi produk pun semakin berkembang.\n\nInovasi tersebut mendapatkan perhatian dari sejumlah kalangan, salah satunya Pertamina Patra Niaga yang menyalurkan tanggung jawab sosial perusahaan berupa alat pencacah plastik dan oven peleleh plastik.\n\nDengan bantuan alat tersebut kapasitas pengolahan sampah plastik semakin besar. Dalam sehari kelompok tersebut mampu mengolah lebih dari 10 kilogram sampah plastik, tergantung permintaan pasar. \n\nDari jumlah tersebut, berbagai produk berhasil dihasilkan, termasuk wadah sampah pilah yang menjadi salah satu produk terbaru.\n\n\"Untuk satu wadah sampah saja bisa membutuhkan sekitar 2 kilogram plastik. Jadi dalam sehari kami bisa produksi lebih dari 10 kilogram, bahkan bisa maksimal kalau permintaan tinggi,\" jelasnya.\n\nInovasi tersebut juga menarik perhatian bank sampah dari wilayah lain. Sedikitnya 10 bank sampah dari berbagai kelurahan di Kota Madiun rutin menyetorkan sampah plastik ke Pesanggrahan.\n\nSampah tersebut tidak disetorkan secara cuma-cuma, Bank Sampah Pesanggrahan membelinya dengan harga lebih tinggi dibanding pengepul, yakni antara Rp2.500 hingga Rp4.500 per kilogram, tergantung kondisi dan tingkat pemilahan.\n\n\"Kalau masih campur, kita beli sekitar Rp2.500 sampai Rp3.000 per kilogram. Kalau sudah dipilah, bisa Rp4.000 sampai Rp4.500,\" imbuhnya.\n\nKelompok ini juga mengembangkan inovasi layanan berbasis digital melalui aplikasi bernama “Sok Rosok”.\n\nAplikasi tersebut memungkinkan masyarakat untuk meminta penjemputan sampah secara langsung, layaknya layanan ojek online.\n\nMelalui pendekatan ini, kesadaran masyarakat untuk memilah sampah perlahan mulai meningkat. Nasabah bank sampah pun terus bertambah, seiring edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.\n\n\"Awalnya memang tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat. Tapi sekarang mulai terlihat perubahan. Warga sudah mulai memilah sampah dan menyetorkannya ke bank sampah,\" jelas Fifid.\n\nJangan hanya di YouTube, ikuti juga saluran WhatsApp kami! Dapatkan update video terbaru, informasi eksklusif, dan konten menarik lainnya langsung di ponselmu. Klik link di deskripsi untuk bergabung dan jadi yang pertama tahu tentang video-video terbaru dari Harian Surya! Jangan sampai ketinggalan!\nhttps://whatsapp.com/channel/0029VaUt... \n\nVideo :\nEditor Video : Ahmad Zaimul Haq \n\nWEBSITE: \nhttp://surabaya.tribunnews.com/ \n\nInstagram:\n  / suryaonline   \n\nFacebook:\n  / suryaonline   \n\nYOUTUBE\n   /    \n\n#TribunnewsSURYA\n#hariansurya\n#suryaonline\n#jawatimur\n#jatim\n#madiun\n#sampahplastik\n#pengolahansampahplastik\n#kotamadiun", "post_id": "RBiiXpCQFfk"}}], "edges": [{"key": "gumelarpm", "source": "gumelarpm", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "gumelarpm", "source": "gumelarpm", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Prnchybrid", "source": "Prnchybrid", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Prnchybrid", "source": "Prnchybrid", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "rakatoulie", "source": "rakatoulie", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "rakatoulie", "source": "rakatoulie", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "felico74", "source": "felico74", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "felico74", "source": "felico74", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Ikhwanazis89", "source": "Ikhwanazis89", "target": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Ikhwanazis89", "source": "Ikhwanazis89", "target": "nakalbynight", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Ikhwanazis89", "source": "Ikhwanazis89", "target": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "sorotan.terkiniid", "source": "sorotan.terkiniid", "target": "cnbcindonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "sorotan.terkiniid", "source": "sorotan.terkiniid", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "@TribunnewsSurya", "source": "@TribunnewsSurya", "target": "tribunnewssurya", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}