{"nodes": [{"key": "ArRachmanGold", "attributes": {"label": "ArRachmanGold", "x": 355.87145859069955, "y": 196.8054082503017, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 91.1161, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052188519070921209", "id": "ArRachmanGold", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah akan rebound!! \nGubernur BI: Pelemahan Rupiah hanya sementara. Fundamental ekonomi solid — pertumbuhan tinggi, inflasi…", "post_id": "2052188519070921209"}}, {"key": "ekowboy2", "attributes": {"label": "ekowboy2", "x": 832.7887419033045, "y": 782.8068912026087, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 129.8406, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2052188519070921209", "id": "ekowboy2", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah akan rebound!! \nGubernur BI: Pelemahan Rupiah hanya sementara. Fundamental ekonomi solid — pertumbuhan tinggi, inflasi…", "post_id": "2052188519070921209"}}, {"key": "lensa_negeri", "attributes": {"label": "lensa_negeri", "x": 303.6693121186395, "y": 800.8445269495509, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 91.1161, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2052236360531255693", "id": "lensa_negeri", "source": "tweet-000004", "content": "Bandingkan era Habibie dan sekarang harus pakai konteks. Dulu rupiah rebound pasca krisis 98, sekarang semua negara kena tekanan dolar AS dan ekonomi global. Kurs bukan ditentukan jumlah menteri saja, tapi faktor ekonomi dunia, investasi, ekspor, dan kebijakan moneter.", "post_id": "2052236360531255693"}}, {"key": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "MurtadhaOne1", "x": 83.09409528867317, "y": 170.0283054181184, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 168.565, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052236360531255693", "id": "MurtadhaOne1", "source": "tweet-000004", "content": "Bandingkan era Habibie dan sekarang harus pakai konteks. Dulu rupiah rebound pasca krisis 98, sekarang semua negara kena tekanan dolar AS dan ekonomi global. Kurs bukan ditentukan jumlah menteri saja, tapi faktor ekonomi dunia, investasi, ekspor, dan kebijakan moneter.", "post_id": "2052236360531255693"}}, {"key": "BuBandi", "attributes": {"label": "BuBandi", "x": 748.0186201293686, "y": 388.0528659496657, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 91.1161, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051827724520677746", "id": "BuBandi", "source": "tweet-000004", "content": "Nilai Rupiah bukan tugas Kemenkeu bahkan Presiden, tapi itu kerja Gubernur BI! Dan selama dianchor ke USD maka itu games milik zionis yg diatur SENTIMEN PASAR, jd BI spt mandul, krn sebesar apapun cadangan devisa dan sebagus apapun fundamental ekonomi negara percuma.Soros mainkan", "post_id": "2051827724520677746"}}, {"key": "ferrykoto", "attributes": {"label": "ferrykoto", "x": 333.71444836231177, "y": 160.60689781996007, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 168.565, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051827724520677746", "id": "ferrykoto", "source": "tweet-000004", "content": "Nilai Rupiah bukan tugas Kemenkeu bahkan Presiden, tapi itu kerja Gubernur BI! Dan selama dianchor ke USD maka itu games milik zionis yg diatur SENTIMEN PASAR, jd BI spt mandul, krn sebesar apapun cadangan devisa dan sebagus apapun fundamental ekonomi negara percuma.Soros mainkan", "post_id": "2051827724520677746"}}, {"key": "mynameisrio26", "attributes": {"label": "mynameisrio26", "x": 26.693177043349614, "y": 419.09477455743496, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 91.1161, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7636937545560902930", "id": "mynameisrio26", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (menyentuh level >Rp17.400 pada Mei 2026) berdampak signifikan, terutama kenaikan harga barang impor/bahan baku (imported inflation), beban biaya produksi industri manufaktur membengkak, penurunan daya beli masyarakat, serta risiko PHK. Kondisi ini juga menekan margin laba emiten di pasar modal dan meningkatkan potensi inflasi.  Dampak Utama Rupiah Melemah: Lonjakan Harga Barang Impor & Bahan Baku: Biaya impor barang konsumsi, elektronik, obat-obatan, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, langsung meningkatkan harga jual di pasar. Inflasi (Cost-Push Inflation): Kenaikan biaya bahan baku impor memicu kenaikan harga produk jadi (konsumen) secara umum, menyebabkan inflasi. Penurunan Daya Beli Masyarakat: Nilai riil pendapatan masyarakat menurun, membuat kemampuan belanja berkurang karena harga barang kebutuhan pokok dan non-pokok naik. Tekanan pada Sektor Industri & Manufaktur: Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor mengalami kenaikan biaya operasional, yang seringkali menyebabkan pengurangan margin laba atau pemotongan produksi. Beban Utang Luar Negeri Membengkak: Perusahaan atau pemerintah yang memiliki utang dalam Dolar AS harus membayar lebih banyak dalam Rupiah. Sentimen Negatif di Pasar Modal: Saham emiten berbasis impor cenderung tertekan, memengaruhi aliran modal asing dan kepercayaan investor. Sektor yang Diuntungkan: Eksportir (contoh: komoditas, sawit) berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan dolar mereka bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.  Strategi Menghadapi: Masyarakat disarankan menghemat, beralih ke produk lokal, dan mempertimbangkan instrumen investasi aman seperti emas. Bank Indonesia (BI) juga melakukan intervensi melalui bauran kebijakan moneter untuk menstabilkan kurs.   #rupiahmelemah #usdollar #inflasi #beritaviral #fyp", "post_id": "7636937545560902930"}}, {"key": "bamhardy", "attributes": {"label": "bamhardy", "x": 277.0300970140777, "y": 291.6611129327855, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 168.565, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7636937545560902930", "id": "bamhardy", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (menyentuh level >Rp17.400 pada Mei 2026) berdampak signifikan, terutama kenaikan harga barang impor/bahan baku (imported inflation), beban biaya produksi industri manufaktur membengkak, penurunan daya beli masyarakat, serta risiko PHK. Kondisi ini juga menekan margin laba emiten di pasar modal dan meningkatkan potensi inflasi.  Dampak Utama Rupiah Melemah: Lonjakan Harga Barang Impor & Bahan Baku: Biaya impor barang konsumsi, elektronik, obat-obatan, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, langsung meningkatkan harga jual di pasar. Inflasi (Cost-Push Inflation): Kenaikan biaya bahan baku impor memicu kenaikan harga produk jadi (konsumen) secara umum, menyebabkan inflasi. Penurunan Daya Beli Masyarakat: Nilai riil pendapatan masyarakat menurun, membuat kemampuan belanja berkurang karena harga barang kebutuhan pokok dan non-pokok naik. Tekanan pada Sektor Industri & Manufaktur: Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor mengalami kenaikan biaya operasional, yang seringkali menyebabkan pengurangan margin laba atau pemotongan produksi. Beban Utang Luar Negeri Membengkak: Perusahaan atau pemerintah yang memiliki utang dalam Dolar AS harus membayar lebih banyak dalam Rupiah. Sentimen Negatif di Pasar Modal: Saham emiten berbasis impor cenderung tertekan, memengaruhi aliran modal asing dan kepercayaan investor. Sektor yang Diuntungkan: Eksportir (contoh: komoditas, sawit) berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan dolar mereka bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.  Strategi Menghadapi: Masyarakat disarankan menghemat, beralih ke produk lokal, dan mempertimbangkan instrumen investasi aman seperti emas. Bank Indonesia (BI) juga melakukan intervensi melalui bauran kebijakan moneter untuk menstabilkan kurs.   #rupiahmelemah #usdollar #inflasi #beritaviral #fyp", "post_id": "7636937545560902930"}}], "edges": [{"key": "ArRachmanGold", "source": "ArRachmanGold", "target": "ekowboy2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "ArRachmanGold", "source": "ArRachmanGold", "target": "ekowboy2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "lensa_negeri", "source": "lensa_negeri", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "BuBandi", "source": "BuBandi", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mynameisrio26", "source": "mynameisrio26", "target": "bamhardy", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}]}