{"nodes": [{"key": "Wilicious9", "attributes": {"label": "Wilicious9", "x": 306.811978894045, "y": 151.62347478573278, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052193997008126239", "id": "Wilicious9", "source": "tweet-000004", "content": "Boro2 industrialisasi investor aja uda byk yg out krna pesimis sm kebijakan2 pemerintah skrg liat aja IHSG sm nilai rupiah", "post_id": "2052193997008126239"}}, {"key": "susunanan", "attributes": {"label": "susunanan", "x": 504.94770001209434, "y": 107.56632778060494, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052193997008126239", "id": "susunanan", "source": "tweet-000004", "content": "Boro2 industrialisasi investor aja uda byk yg out krna pesimis sm kebijakan2 pemerintah skrg liat aja IHSG sm nilai rupiah", "post_id": "2052193997008126239"}}, {"key": "itbfess_x", "attributes": {"label": "itbfess_x", "x": 402.97565334290385, "y": 47.430448764051114, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052193997008126239", "id": "itbfess_x", "source": "tweet-000004", "content": "Boro2 industrialisasi investor aja uda byk yg out krna pesimis sm kebijakan2 pemerintah skrg liat aja IHSG sm nilai rupiah", "post_id": "2052193997008126239"}}, {"key": "firman_lapendos", "attributes": {"label": "firman_lapendos", "x": 910.865164260035, "y": 982.7203440751815, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2052228019528593501", "id": "firman_lapendos", "source": "tweet-000004", "content": "Kebijakan pemerintah sudah benar dengan kembali memberikan insentif untuk mobil listrik. Kalo ga ya investor mobil listrik pada kabur.  \nKalo saya ya mending beli mobil listrik lah kalo ada uangnya. 🤭", "post_id": "2052228019528593501"}}, {"key": "RadioElshinta", "attributes": {"label": "RadioElshinta", "x": 724.2300985364285, "y": 181.95973936156506, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 44.74, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052228019528593501", "id": "RadioElshinta", "source": "tweet-000004", "content": "Kebijakan pemerintah sudah benar dengan kembali memberikan insentif untuk mobil listrik. Kalo ga ya investor mobil listrik pada kabur.  \nKalo saya ya mending beli mobil listrik lah kalo ada uangnya. 🤭", "post_id": "2052228019528593501"}}, {"key": "redcentauri", "attributes": {"label": "redcentauri", "x": 442.02311348938815, "y": 221.8778414933168, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2052272945989648528", "id": "redcentauri", "source": "tweet-000004", "content": "Itu beda urusan, kalau itu sumber masalahnya ya ormas maling, kebijakan pemerintah yang sering gonta ganti bikin investor pusing, dan korupsi pejabat pejabat yang ingin ambil keuntungan besar di proyek", "post_id": "2052272945989648528"}}, {"key": "ridiyoga1", "attributes": {"label": "ridiyoga1", "x": 307.2542111326643, "y": 987.2738470275509, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052272945989648528", "id": "ridiyoga1", "source": "tweet-000004", "content": "Itu beda urusan, kalau itu sumber masalahnya ya ormas maling, kebijakan pemerintah yang sering gonta ganti bikin investor pusing, dan korupsi pejabat pejabat yang ingin ambil keuntungan besar di proyek", "post_id": "2052272945989648528"}}, {"key": "BangJarskii", "attributes": {"label": "BangJarskii", "x": 126.5841909880987, "y": 956.5835034933397, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052272945989648528", "id": "BangJarskii", "source": "tweet-000004", "content": "Itu beda urusan, kalau itu sumber masalahnya ya ormas maling, kebijakan pemerintah yang sering gonta ganti bikin investor pusing, dan korupsi pejabat pejabat yang ingin ambil keuntungan besar di proyek", "post_id": "2052272945989648528"}}, {"key": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "LambeSahamjja", "x": 447.51160909207346, "y": 258.1667691543308, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052272945989648528", "id": "LambeSahamjja", "source": "tweet-000004", "content": "Itu beda urusan, kalau itu sumber masalahnya ya ormas maling, kebijakan pemerintah yang sering gonta ganti bikin investor pusing, dan korupsi pejabat pejabat yang ingin ambil keuntungan besar di proyek", "post_id": "2052272945989648528"}}, {"key": "Starlog20", "attributes": {"label": "Starlog20", "x": 555.5423467765663, "y": 322.84284527369556, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2052174190707683612", "id": "Starlog20", "source": "tweet-000004", "content": "Blue chip out dulu. Investor asing lg pada kabur karna fiskal negara berantakan. Pertumbuhan ekonomi 5.6% jg ternyata efek spend pemerintah bukan efek perputaran ekonomi grassroot via MBG dan pembuatan KOPDES🙃\nRejin manipulatif", "post_id": "2052174190707683612"}}, {"key": "Saham_fess", "attributes": {"label": "Saham_fess", "x": 974.2397728263755, "y": 330.7144033920626, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 44.74, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052174190707683612", "id": "Saham_fess", "source": "tweet-000004", "content": "Blue chip out dulu. Investor asing lg pada kabur karna fiskal negara berantakan. Pertumbuhan ekonomi 5.6% jg ternyata efek spend pemerintah bukan efek perputaran ekonomi grassroot via MBG dan pembuatan KOPDES🙃\nRejin manipulatif", "post_id": "2052174190707683612"}}, {"key": "Mrfarhat_Id", "attributes": {"label": "Mrfarhat_Id", "x": 494.5432718155164, "y": 458.35186251340997, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052021659926950320", "id": "Mrfarhat_Id", "source": "tweet-000004", "content": "Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga lainnya untuk meminjam uang dari investor.\nDengan kata lain, ketika kamu membeli obligasi, kamu sedang meminjamkan uang kepada penerbit obligasi tersebut.", "post_id": "2052021659926950320"}}, {"key": "dk_itu_dokyeom", "attributes": {"label": "dk_itu_dokyeom", "x": 692.2218285201618, "y": 466.9770459649647, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052021659926950320", "id": "dk_itu_dokyeom", "source": "tweet-000004", "content": "Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga lainnya untuk meminjam uang dari investor.\nDengan kata lain, ketika kamu membeli obligasi, kamu sedang meminjamkan uang kepada penerbit obligasi tersebut.", "post_id": "2052021659926950320"}}, {"key": "christianvctrs", "attributes": {"label": "christianvctrs", "x": 503.8321457476933, "y": 678.7290738540341, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052021659926950320", "id": "christianvctrs", "source": "tweet-000004", "content": "Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah, perusahaan, atau lembaga lainnya untuk meminjam uang dari investor.\nDengan kata lain, ketika kamu membeli obligasi, kamu sedang meminjamkan uang kepada penerbit obligasi tersebut.", "post_id": "2052021659926950320"}}, {"key": "prokompimkabkarawang", "attributes": {"label": "prokompimkabkarawang", "x": 417.163798334068, "y": 714.1386953922806, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "3891022349449780641_4482705725", "id": "prokompimkabkarawang", "source": "instagram-000001", "content": "Sekda Karawang Hadiri Rakor Virtual, Bahas KKPR Bersama Kementerian ATR/BPN\n\nSekretaris Daerah Kabupaten Karawang H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP.,MP menghadiri Rakor Permohonan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk Kegiatan Berusaha di Kabupaten Karawang secara virtual melalui zoom di Command Center Gedung Singaperbangsa Lt.3 (06/05).\n\nRakor dipimpin langsung oleh Koordinator Tim Wilayah C.1 Subdirektorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang Wilayah C, Direktorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang.\n\nRapat ini bertujuan untuk mengsinkronisasi lokasi yang diajukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Karawang guna menghindari tumpang tindih lahan.\n\nDalam arahannya, Sekda Karawang menekankan bahwa pemerintah daerah Karawang sangat mendukung investasi yang masuk ke Karawang, namun harus tetap memperhatikan keseimbangan antara ekosistem dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang.\n\nSekda memaparkan bahwa selain aspek lingkungan, keberadaan kawasan industri Investor harus memberikan kontribusi optimal bagi kesejahteraan masyarakat melalui prioritas penyerapan tenaga kerja lokal asal Kabupaten Karawang. \n\nPihak perusahaan juga diminta membangun komitmen nyata dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan menyediakan alokasi ruang bagi sentra Industri Kecil dan Menengah dengan harga yang terjangkau.\n\nSekda juga mengingatkan di sekitar lokasi tersebut sudah banyak kawasan industri lain, maka pembangunan jalan dan saluran air harus direncanakan secara bersama-sama agar tetap rapi, lancar, dan tidak merugikan lingkungan sekitar.", "post_id": "3891022349449780641_4482705725"}}, {"key": "aep_syaepulohse", "attributes": {"label": "aep_syaepulohse", "x": 667.3249575721593, "y": 724.681219494425, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3891022349449780641_4482705725", "id": "aep_syaepulohse", "source": "instagram-000001", "content": "Sekda Karawang Hadiri Rakor Virtual, Bahas KKPR Bersama Kementerian ATR/BPN\n\nSekretaris Daerah Kabupaten Karawang H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP.,MP menghadiri Rakor Permohonan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk Kegiatan Berusaha di Kabupaten Karawang secara virtual melalui zoom di Command Center Gedung Singaperbangsa Lt.3 (06/05).\n\nRakor dipimpin langsung oleh Koordinator Tim Wilayah C.1 Subdirektorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang Wilayah C, Direktorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang.\n\nRapat ini bertujuan untuk mengsinkronisasi lokasi yang diajukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Karawang guna menghindari tumpang tindih lahan.\n\nDalam arahannya, Sekda Karawang menekankan bahwa pemerintah daerah Karawang sangat mendukung investasi yang masuk ke Karawang, namun harus tetap memperhatikan keseimbangan antara ekosistem dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang.\n\nSekda memaparkan bahwa selain aspek lingkungan, keberadaan kawasan industri Investor harus memberikan kontribusi optimal bagi kesejahteraan masyarakat melalui prioritas penyerapan tenaga kerja lokal asal Kabupaten Karawang. \n\nPihak perusahaan juga diminta membangun komitmen nyata dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan menyediakan alokasi ruang bagi sentra Industri Kecil dan Menengah dengan harga yang terjangkau.\n\nSekda juga mengingatkan di sekitar lokasi tersebut sudah banyak kawasan industri lain, maka pembangunan jalan dan saluran air harus direncanakan secara bersama-sama agar tetap rapi, lancar, dan tidak merugikan lingkungan sekitar.", "post_id": "3891022349449780641_4482705725"}}, {"key": "hajimaslani", "attributes": {"label": "hajimaslani", "x": 245.4943981432316, "y": 596.2940336033755, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3891022349449780641_4482705725", "id": "hajimaslani", "source": "instagram-000001", "content": "Sekda Karawang Hadiri Rakor Virtual, Bahas KKPR Bersama Kementerian ATR/BPN\n\nSekretaris Daerah Kabupaten Karawang H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP.,MP menghadiri Rakor Permohonan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk Kegiatan Berusaha di Kabupaten Karawang secara virtual melalui zoom di Command Center Gedung Singaperbangsa Lt.3 (06/05).\n\nRakor dipimpin langsung oleh Koordinator Tim Wilayah C.1 Subdirektorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang Wilayah C, Direktorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang.\n\nRapat ini bertujuan untuk mengsinkronisasi lokasi yang diajukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Karawang guna menghindari tumpang tindih lahan.\n\nDalam arahannya, Sekda Karawang menekankan bahwa pemerintah daerah Karawang sangat mendukung investasi yang masuk ke Karawang, namun harus tetap memperhatikan keseimbangan antara ekosistem dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang.\n\nSekda memaparkan bahwa selain aspek lingkungan, keberadaan kawasan industri Investor harus memberikan kontribusi optimal bagi kesejahteraan masyarakat melalui prioritas penyerapan tenaga kerja lokal asal Kabupaten Karawang. \n\nPihak perusahaan juga diminta membangun komitmen nyata dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan menyediakan alokasi ruang bagi sentra Industri Kecil dan Menengah dengan harga yang terjangkau.\n\nSekda juga mengingatkan di sekitar lokasi tersebut sudah banyak kawasan industri lain, maka pembangunan jalan dan saluran air harus direncanakan secara bersama-sama agar tetap rapi, lancar, dan tidak merugikan lingkungan sekitar.", "post_id": "3891022349449780641_4482705725"}}, {"key": "ang.rahmatullah", "attributes": {"label": "ang.rahmatullah", "x": 781.952358199592, "y": 123.18561308487452, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 31.0359, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3891022349449780641_4482705725", "id": "ang.rahmatullah", "source": "instagram-000001", "content": "Sekda Karawang Hadiri Rakor Virtual, Bahas KKPR Bersama Kementerian ATR/BPN\n\nSekretaris Daerah Kabupaten Karawang H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP.,MP menghadiri Rakor Permohonan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) untuk Kegiatan Berusaha di Kabupaten Karawang secara virtual melalui zoom di Command Center Gedung Singaperbangsa Lt.3 (06/05).\n\nRakor dipimpin langsung oleh Koordinator Tim Wilayah C.1 Subdirektorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang Wilayah C, Direktorat Sinkronisasi Pemanfaatan Ruang.\n\nRapat ini bertujuan untuk mengsinkronisasi lokasi yang diajukan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kabupaten Karawang guna menghindari tumpang tindih lahan.\n\nDalam arahannya, Sekda Karawang menekankan bahwa pemerintah daerah Karawang sangat mendukung investasi yang masuk ke Karawang, namun harus tetap memperhatikan keseimbangan antara ekosistem dan kepatuhan terhadap aturan tata ruang.\n\nSekda memaparkan bahwa selain aspek lingkungan, keberadaan kawasan industri Investor harus memberikan kontribusi optimal bagi kesejahteraan masyarakat melalui prioritas penyerapan tenaga kerja lokal asal Kabupaten Karawang. \n\nPihak perusahaan juga diminta membangun komitmen nyata dalam memberdayakan ekonomi kerakyatan dengan menyediakan alokasi ruang bagi sentra Industri Kecil dan Menengah dengan harga yang terjangkau.\n\nSekda juga mengingatkan di sekitar lokasi tersebut sudah banyak kawasan industri lain, maka pembangunan jalan dan saluran air harus direncanakan secara bersama-sama agar tetap rapi, lancar, dan tidak merugikan lingkungan sekitar.", "post_id": "3891022349449780641_4482705725"}}, {"key": "harianclip.id", "attributes": {"label": "harianclip.id", "x": 216.08972545719107, "y": 942.1986512115164, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7636711871378214161", "id": "harianclip.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Banyak yang khawatir soal kondisi pasar modal belakangan ini, tapi ada kabar segar nih dari Pak Purbaya Yudhi Sadewa  ​Dalam video ini, dibahas poin-poin krusial yang bisa bikin IHSG kembali bullish mulai bulan Mei: ​Defisit Fiskal Aman: Diprediksi tetap terjaga di bawah 3%. ​Kenaikan Pajak Komoditas: Menjadi langkah konkret pemerintah untuk memperkuat pondasi ekonomi. ​Sinyal Positif: Mengatasi hambatan (overhang) IHSG yang selama ini membayangi pasar. ​Optimisme mulai tumbuh! Apakah ini saat yang tepat untuk mulai re-entry atau menambah muatan di portofolio kamu? 🤔 ​Tulis pendapatmu di kolom komentar! 👇  Sekuritas #sucorsekuritas #sahamindonesia #bexpertwithsucor #bernardwijaya17 #bernardxgcpk2", "post_id": "7636711871378214161"}}, {"key": "Sucor", "attributes": {"label": "Sucor", "x": 16.870867275111003, "y": 615.1484711535276, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 44.74, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7636711871378214161", "id": "Sucor", "source": "tiktok-000001", "content": "Banyak yang khawatir soal kondisi pasar modal belakangan ini, tapi ada kabar segar nih dari Pak Purbaya Yudhi Sadewa  ​Dalam video ini, dibahas poin-poin krusial yang bisa bikin IHSG kembali bullish mulai bulan Mei: ​Defisit Fiskal Aman: Diprediksi tetap terjaga di bawah 3%. ​Kenaikan Pajak Komoditas: Menjadi langkah konkret pemerintah untuk memperkuat pondasi ekonomi. ​Sinyal Positif: Mengatasi hambatan (overhang) IHSG yang selama ini membayangi pasar. ​Optimisme mulai tumbuh! Apakah ini saat yang tepat untuk mulai re-entry atau menambah muatan di portofolio kamu? 🤔 ​Tulis pendapatmu di kolom komentar! 👇  Sekuritas #sucorsekuritas #sahamindonesia #bexpertwithsucor #bernardwijaya17 #bernardxgcpk2", "post_id": "7636711871378214161"}}, {"key": "mynameisrio26", "attributes": {"label": "mynameisrio26", "x": 473.23875221524014, "y": 483.1823052437041, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7636937545560902930", "id": "mynameisrio26", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (menyentuh level >Rp17.400 pada Mei 2026) berdampak signifikan, terutama kenaikan harga barang impor/bahan baku (imported inflation), beban biaya produksi industri manufaktur membengkak, penurunan daya beli masyarakat, serta risiko PHK. Kondisi ini juga menekan margin laba emiten di pasar modal dan meningkatkan potensi inflasi.  Dampak Utama Rupiah Melemah: Lonjakan Harga Barang Impor & Bahan Baku: Biaya impor barang konsumsi, elektronik, obat-obatan, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, langsung meningkatkan harga jual di pasar. Inflasi (Cost-Push Inflation): Kenaikan biaya bahan baku impor memicu kenaikan harga produk jadi (konsumen) secara umum, menyebabkan inflasi. Penurunan Daya Beli Masyarakat: Nilai riil pendapatan masyarakat menurun, membuat kemampuan belanja berkurang karena harga barang kebutuhan pokok dan non-pokok naik. Tekanan pada Sektor Industri & Manufaktur: Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor mengalami kenaikan biaya operasional, yang seringkali menyebabkan pengurangan margin laba atau pemotongan produksi. Beban Utang Luar Negeri Membengkak: Perusahaan atau pemerintah yang memiliki utang dalam Dolar AS harus membayar lebih banyak dalam Rupiah. Sentimen Negatif di Pasar Modal: Saham emiten berbasis impor cenderung tertekan, memengaruhi aliran modal asing dan kepercayaan investor. Sektor yang Diuntungkan: Eksportir (contoh: komoditas, sawit) berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan dolar mereka bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.  Strategi Menghadapi: Masyarakat disarankan menghemat, beralih ke produk lokal, dan mempertimbangkan instrumen investasi aman seperti emas. Bank Indonesia (BI) juga melakukan intervensi melalui bauran kebijakan moneter untuk menstabilkan kurs.   #rupiahmelemah #usdollar #inflasi #beritaviral #fyp", "post_id": "7636937545560902930"}}, {"key": "bamhardy", "attributes": {"label": "bamhardy", "x": 529.1471453615909, "y": 118.79759779419463, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 44.74, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7636937545560902930", "id": "bamhardy", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS (menyentuh level >Rp17.400 pada Mei 2026) berdampak signifikan, terutama kenaikan harga barang impor/bahan baku (imported inflation), beban biaya produksi industri manufaktur membengkak, penurunan daya beli masyarakat, serta risiko PHK. Kondisi ini juga menekan margin laba emiten di pasar modal dan meningkatkan potensi inflasi.  Dampak Utama Rupiah Melemah: Lonjakan Harga Barang Impor & Bahan Baku: Biaya impor barang konsumsi, elektronik, obat-obatan, dan bahan baku industri menjadi lebih mahal, langsung meningkatkan harga jual di pasar. Inflasi (Cost-Push Inflation): Kenaikan biaya bahan baku impor memicu kenaikan harga produk jadi (konsumen) secara umum, menyebabkan inflasi. Penurunan Daya Beli Masyarakat: Nilai riil pendapatan masyarakat menurun, membuat kemampuan belanja berkurang karena harga barang kebutuhan pokok dan non-pokok naik. Tekanan pada Sektor Industri & Manufaktur: Perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor mengalami kenaikan biaya operasional, yang seringkali menyebabkan pengurangan margin laba atau pemotongan produksi. Beban Utang Luar Negeri Membengkak: Perusahaan atau pemerintah yang memiliki utang dalam Dolar AS harus membayar lebih banyak dalam Rupiah. Sentimen Negatif di Pasar Modal: Saham emiten berbasis impor cenderung tertekan, memengaruhi aliran modal asing dan kepercayaan investor. Sektor yang Diuntungkan: Eksportir (contoh: komoditas, sawit) berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan dolar mereka bernilai lebih tinggi saat dikonversi ke Rupiah.  Strategi Menghadapi: Masyarakat disarankan menghemat, beralih ke produk lokal, dan mempertimbangkan instrumen investasi aman seperti emas. Bank Indonesia (BI) juga melakukan intervensi melalui bauran kebijakan moneter untuk menstabilkan kurs.   #rupiahmelemah #usdollar #inflasi #beritaviral #fyp", "post_id": "7636937545560902930"}}, {"key": "cashflowchronicles07", "attributes": {"label": "cashflowchronicles07", "x": 213.49648853353042, "y": 441.0304592017228, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7636993961051032853", "id": "cashflowchronicles07", "source": "tiktok-000001", "content": "Miliarder Warren Buffett mengungkapkan bahwa dirinya belum menemukan instrumen investasi yang cukup menarik untuk menandingi cadangan kasnya yang mencapai lebih dari US$370 miliar atau sekitar Rp6 kuadriliun. Dalam pernyataannya yang dikutip dari berbagai sumber pada Rabu (06/05), Buffett menekankan pentingnya memiliki uang tunai sebagai bentuk kesiapan menghadapi situasi tak terduga, layaknya oksigen yang baru terasa sangat berharga ketika dibutuhkan. Meski demikian, investor yang dijuluki “Oracle of Omaha” tersebut tetap menyukai investasi saham karena dinilai mampu memberikan pertumbuhan majemuk jangka panjang yang melampaui inflasi. Selain itu, Buffett juga menempatkan sebagian besar dananya pada treasury bills atau surat utang pemerintah agar asetnya tetap produktif dan terus menghasilkan keuntungan. Sumber Ig:  #ternakuang", "post_id": "7636993961051032853"}}, {"key": "ternakuang.id", "attributes": {"label": "ternakuang.id", "x": 321.79481689100476, "y": 368.153210349908, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 44.74, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7636993961051032853", "id": "ternakuang.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Miliarder Warren Buffett mengungkapkan bahwa dirinya belum menemukan instrumen investasi yang cukup menarik untuk menandingi cadangan kasnya yang mencapai lebih dari US$370 miliar atau sekitar Rp6 kuadriliun. Dalam pernyataannya yang dikutip dari berbagai sumber pada Rabu (06/05), Buffett menekankan pentingnya memiliki uang tunai sebagai bentuk kesiapan menghadapi situasi tak terduga, layaknya oksigen yang baru terasa sangat berharga ketika dibutuhkan. Meski demikian, investor yang dijuluki “Oracle of Omaha” tersebut tetap menyukai investasi saham karena dinilai mampu memberikan pertumbuhan majemuk jangka panjang yang melampaui inflasi. Selain itu, Buffett juga menempatkan sebagian besar dananya pada treasury bills atau surat utang pemerintah agar asetnya tetap produktif dan terus menghasilkan keuntungan. Sumber Ig:  #ternakuang", "post_id": "7636993961051032853"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "attributes": {"label": "@BloombergPodcasts", "x": 774.7176839231053, "y": 136.54699831036876, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2iAu2Ts8CGM", "id": "@BloombergPodcasts", "source": "youtube-000001", "content": "Ketua ESMA Membahas Risiko Keamanan Siber AI | Bloomberg Talks\n\nKetua Otoritas Sekuritas dan Pasar Eropa, Verena Ross, membahas risiko keamanan siber bagi perusahaan keuangan Eropa dari alat kecerdasan buatan yang berkembang pesat, dan upaya untuk meningkatkan pasar modal Uni Eropa. Ia berbicara kepada Stephen Carroll dari Bloomberg Daybreak Europe di Brussels.\nLihat omnystudio.com/listener (https://omnystudio.com/listener) untuk informasi privasi.\n\nBloomberg Talks menyajikan wawancara-wawancara terbaik dari seluruh Bloomberg News. Dengarkan percakapan dengan nama-nama besar di bidang keuangan, politik, dan hiburan. Di Bloomberg Talks, kami mengumpulkan wawancara dengan CEO Fortune 500, pejabat pemerintah, investor terkenal, dan pemimpin bisnis.\n\nDengarkan lebih banyak Bloomberg Talks:    • Bloomberg Talks (Audio)  \n\nBerlangganan Bloomberg Podcasts: https://bit.ly/BloombergPodcasts\n\n#Bloomberg #Podcast\n\nKunjungi kami: https://www.bloomberg.com/podcasts\n\nIkuti Bloomberg Podcasts di Twitter:   / podcasts  \n\nKunjungi saluran YouTube kami lainnya:\nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg  \nQuicktake:    /   \n\nUntuk liputan berita, pasar, dan lainnya: http://www.bloomberg.com/video", "post_id": "2iAu2Ts8CGM"}}, {"key": "markets", "attributes": {"label": "markets", "x": 405.8987295102823, "y": 352.16011613463627, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2iAu2Ts8CGM", "id": "markets", "source": "youtube-000001", "content": "Ketua ESMA Membahas Risiko Keamanan Siber AI | Bloomberg Talks\n\nKetua Otoritas Sekuritas dan Pasar Eropa, Verena Ross, membahas risiko keamanan siber bagi perusahaan keuangan Eropa dari alat kecerdasan buatan yang berkembang pesat, dan upaya untuk meningkatkan pasar modal Uni Eropa. Ia berbicara kepada Stephen Carroll dari Bloomberg Daybreak Europe di Brussels.\nLihat omnystudio.com/listener (https://omnystudio.com/listener) untuk informasi privasi.\n\nBloomberg Talks menyajikan wawancara-wawancara terbaik dari seluruh Bloomberg News. Dengarkan percakapan dengan nama-nama besar di bidang keuangan, politik, dan hiburan. Di Bloomberg Talks, kami mengumpulkan wawancara dengan CEO Fortune 500, pejabat pemerintah, investor terkenal, dan pemimpin bisnis.\n\nDengarkan lebih banyak Bloomberg Talks:    • Bloomberg Talks (Audio)  \n\nBerlangganan Bloomberg Podcasts: https://bit.ly/BloombergPodcasts\n\n#Bloomberg #Podcast\n\nKunjungi kami: https://www.bloomberg.com/podcasts\n\nIkuti Bloomberg Podcasts di Twitter:   / podcasts  \n\nKunjungi saluran YouTube kami lainnya:\nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg  \nQuicktake:    /   \n\nUntuk liputan berita, pasar, dan lainnya: http://www.bloomberg.com/video", "post_id": "2iAu2Ts8CGM"}}, {"key": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "bloombergquicktake", "x": 789.1975340211906, "y": 1.7773648493385474, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.4619, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2iAu2Ts8CGM", "id": "bloombergquicktake", "source": "youtube-000001", "content": "Ketua ESMA Membahas Risiko Keamanan Siber AI | Bloomberg Talks\n\nKetua Otoritas Sekuritas dan Pasar Eropa, Verena Ross, membahas risiko keamanan siber bagi perusahaan keuangan Eropa dari alat kecerdasan buatan yang berkembang pesat, dan upaya untuk meningkatkan pasar modal Uni Eropa. Ia berbicara kepada Stephen Carroll dari Bloomberg Daybreak Europe di Brussels.\nLihat omnystudio.com/listener (https://omnystudio.com/listener) untuk informasi privasi.\n\nBloomberg Talks menyajikan wawancara-wawancara terbaik dari seluruh Bloomberg News. Dengarkan percakapan dengan nama-nama besar di bidang keuangan, politik, dan hiburan. Di Bloomberg Talks, kami mengumpulkan wawancara dengan CEO Fortune 500, pejabat pemerintah, investor terkenal, dan pemimpin bisnis.\n\nDengarkan lebih banyak Bloomberg Talks:    • Bloomberg Talks (Audio)  \n\nBerlangganan Bloomberg Podcasts: https://bit.ly/BloombergPodcasts\n\n#Bloomberg #Podcast\n\nKunjungi kami: https://www.bloomberg.com/podcasts\n\nIkuti Bloomberg Podcasts di Twitter:   / podcasts  \n\nKunjungi saluran YouTube kami lainnya:\nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg  \nQuicktake:    /   \n\nUntuk liputan berita, pasar, dan lainnya: http://www.bloomberg.com/video", "post_id": "2iAu2Ts8CGM"}}, {"key": "@Bennix", "attributes": {"label": "@Bennix", "x": 800.0383985832872, "y": 689.1086739580677, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.1838, "eigenvector": 199.9998, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "m7NeAtecoDI", "id": "@Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEkonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan sebesar 5,6% dan menjadi sorotan dunia. Pemerintah mengklaim ekonomi RI masih kuat di tengah ancaman krisis global, perang dagang, inflasi dunia, dan perlambatan ekonomi internasional. Namun di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlihat positif, kondisi rakyat justru berkata lain. Banyak masyarakat merasa uang semakin sulit dicari, harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, pasar tradisional mulai sepi, UMKM mengeluh omzet turun, dan kelas menengah Indonesia mulai tertekan.\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta ekonomi Indonesia terbaru dan mengapa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,6% belum terasa sampai ke rakyat kecil. Apakah pertumbuhan ekonomi RI hanya dinikmati elite dan perusahaan besar? Kenapa ekonomi Indonesia tumbuh tetapi rakyat makin susah? Apakah ada permainan asing, tekanan global, atau sabotase ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia tanpa disadari pemerintah?\n\nVideo ini juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mulai dari arus modal asing, tekanan nilai tukar rupiah, ancaman impor, PHK massal, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Semua kondisi ini membuat banyak rakyat mempertanyakan apakah ekonomi Indonesia benar-benar baik-baik saja.\n\nSelain itu, kita juga akan membahas bagaimana kondisi pasar Indonesia saat ini, kenapa uang terasa tidak berputar di masyarakat bawah, serta mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia sering tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi baru? Apakah kelas menengah Indonesia sedang runtuh? Dan apakah pemerintah mampu menyelamatkan ekonomi rakyat sebelum semuanya terlambat?\n\nTonton video ini sampai habis karena pembahasannya akan membuka fakta mengejutkan tentang ekonomi Indonesia terbaru, pertumbuhan PDB RI, kondisi rakyat Indonesia, masa depan rupiah, ancaman ekonomi global, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "m7NeAtecoDI"}}, {"key": "Bennix", "attributes": {"label": "Bennix", "x": 618.6648014809891, "y": 564.6879513940745, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.3229, "eigenvector": 199.9998, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "m7NeAtecoDI", "id": "Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEkonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan sebesar 5,6% dan menjadi sorotan dunia. Pemerintah mengklaim ekonomi RI masih kuat di tengah ancaman krisis global, perang dagang, inflasi dunia, dan perlambatan ekonomi internasional. Namun di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlihat positif, kondisi rakyat justru berkata lain. Banyak masyarakat merasa uang semakin sulit dicari, harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, pasar tradisional mulai sepi, UMKM mengeluh omzet turun, dan kelas menengah Indonesia mulai tertekan.\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta ekonomi Indonesia terbaru dan mengapa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,6% belum terasa sampai ke rakyat kecil. Apakah pertumbuhan ekonomi RI hanya dinikmati elite dan perusahaan besar? Kenapa ekonomi Indonesia tumbuh tetapi rakyat makin susah? Apakah ada permainan asing, tekanan global, atau sabotase ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia tanpa disadari pemerintah?\n\nVideo ini juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mulai dari arus modal asing, tekanan nilai tukar rupiah, ancaman impor, PHK massal, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Semua kondisi ini membuat banyak rakyat mempertanyakan apakah ekonomi Indonesia benar-benar baik-baik saja.\n\nSelain itu, kita juga akan membahas bagaimana kondisi pasar Indonesia saat ini, kenapa uang terasa tidak berputar di masyarakat bawah, serta mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia sering tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi baru? Apakah kelas menengah Indonesia sedang runtuh? Dan apakah pemerintah mampu menyelamatkan ekonomi rakyat sebelum semuanya terlambat?\n\nTonton video ini sampai habis karena pembahasannya akan membuka fakta mengejutkan tentang ekonomi Indonesia terbaru, pertumbuhan PDB RI, kondisi rakyat Indonesia, masa depan rupiah, ancaman ekonomi global, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "m7NeAtecoDI"}}, {"key": "bennix.official", "attributes": {"label": "bennix.official", "x": 310.5779399712032, "y": 114.65984108262617, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.3229, "eigenvector": 199.9998, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "m7NeAtecoDI", "id": "bennix.official", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEkonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan sebesar 5,6% dan menjadi sorotan dunia. Pemerintah mengklaim ekonomi RI masih kuat di tengah ancaman krisis global, perang dagang, inflasi dunia, dan perlambatan ekonomi internasional. Namun di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlihat positif, kondisi rakyat justru berkata lain. Banyak masyarakat merasa uang semakin sulit dicari, harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, pasar tradisional mulai sepi, UMKM mengeluh omzet turun, dan kelas menengah Indonesia mulai tertekan.\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta ekonomi Indonesia terbaru dan mengapa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,6% belum terasa sampai ke rakyat kecil. Apakah pertumbuhan ekonomi RI hanya dinikmati elite dan perusahaan besar? Kenapa ekonomi Indonesia tumbuh tetapi rakyat makin susah? Apakah ada permainan asing, tekanan global, atau sabotase ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia tanpa disadari pemerintah?\n\nVideo ini juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mulai dari arus modal asing, tekanan nilai tukar rupiah, ancaman impor, PHK massal, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Semua kondisi ini membuat banyak rakyat mempertanyakan apakah ekonomi Indonesia benar-benar baik-baik saja.\n\nSelain itu, kita juga akan membahas bagaimana kondisi pasar Indonesia saat ini, kenapa uang terasa tidak berputar di masyarakat bawah, serta mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia sering tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi baru? Apakah kelas menengah Indonesia sedang runtuh? Dan apakah pemerintah mampu menyelamatkan ekonomi rakyat sebelum semuanya terlambat?\n\nTonton video ini sampai habis karena pembahasannya akan membuka fakta mengejutkan tentang ekonomi Indonesia terbaru, pertumbuhan PDB RI, kondisi rakyat Indonesia, masa depan rupiah, ancaman ekonomi global, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "m7NeAtecoDI"}}, {"key": "bennix.real", "attributes": {"label": "bennix.real", "x": 622.2887457732025, "y": 212.59804047500919, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.3229, "eigenvector": 199.9998, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "m7NeAtecoDI", "id": "bennix.real", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEkonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan sebesar 5,6% dan menjadi sorotan dunia. Pemerintah mengklaim ekonomi RI masih kuat di tengah ancaman krisis global, perang dagang, inflasi dunia, dan perlambatan ekonomi internasional. Namun di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlihat positif, kondisi rakyat justru berkata lain. Banyak masyarakat merasa uang semakin sulit dicari, harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, pasar tradisional mulai sepi, UMKM mengeluh omzet turun, dan kelas menengah Indonesia mulai tertekan.\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta ekonomi Indonesia terbaru dan mengapa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,6% belum terasa sampai ke rakyat kecil. Apakah pertumbuhan ekonomi RI hanya dinikmati elite dan perusahaan besar? Kenapa ekonomi Indonesia tumbuh tetapi rakyat makin susah? Apakah ada permainan asing, tekanan global, atau sabotase ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia tanpa disadari pemerintah?\n\nVideo ini juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mulai dari arus modal asing, tekanan nilai tukar rupiah, ancaman impor, PHK massal, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Semua kondisi ini membuat banyak rakyat mempertanyakan apakah ekonomi Indonesia benar-benar baik-baik saja.\n\nSelain itu, kita juga akan membahas bagaimana kondisi pasar Indonesia saat ini, kenapa uang terasa tidak berputar di masyarakat bawah, serta mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia sering tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi baru? Apakah kelas menengah Indonesia sedang runtuh? Dan apakah pemerintah mampu menyelamatkan ekonomi rakyat sebelum semuanya terlambat?\n\nTonton video ini sampai habis karena pembahasannya akan membuka fakta mengejutkan tentang ekonomi Indonesia terbaru, pertumbuhan PDB RI, kondisi rakyat Indonesia, masa depan rupiah, ancaman ekonomi global, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "m7NeAtecoDI"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 284.6839312614856, "y": 266.25261748275597, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.3229, "eigenvector": 199.9998, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "m7NeAtecoDI", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEKONOMI RI TUMBUH 5,6%! TAPI KANTONG RAKYAT TERCEKIK, PRABOWO KECOLONGAN??\n\nEkonomi Indonesia kembali mencatat pertumbuhan sebesar 5,6% dan menjadi sorotan dunia. Pemerintah mengklaim ekonomi RI masih kuat di tengah ancaman krisis global, perang dagang, inflasi dunia, dan perlambatan ekonomi internasional. Namun di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlihat positif, kondisi rakyat justru berkata lain. Banyak masyarakat merasa uang semakin sulit dicari, harga kebutuhan pokok naik, daya beli melemah, pasar tradisional mulai sepi, UMKM mengeluh omzet turun, dan kelas menengah Indonesia mulai tertekan.\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta ekonomi Indonesia terbaru dan mengapa pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 5,6% belum terasa sampai ke rakyat kecil. Apakah pertumbuhan ekonomi RI hanya dinikmati elite dan perusahaan besar? Kenapa ekonomi Indonesia tumbuh tetapi rakyat makin susah? Apakah ada permainan asing, tekanan global, atau sabotase ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia tanpa disadari pemerintah?\n\nVideo ini juga membahas tantangan besar yang sedang dihadapi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Mulai dari arus modal asing, tekanan nilai tukar rupiah, ancaman impor, PHK massal, lemahnya daya beli masyarakat, hingga ketimpangan ekonomi yang semakin terasa. Semua kondisi ini membuat banyak rakyat mempertanyakan apakah ekonomi Indonesia benar-benar baik-baik saja.\n\nSelain itu, kita juga akan membahas bagaimana kondisi pasar Indonesia saat ini, kenapa uang terasa tidak berputar di masyarakat bawah, serta mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia sering tidak sejalan dengan kondisi nyata di lapangan. Apakah Indonesia sedang menuju krisis ekonomi baru? Apakah kelas menengah Indonesia sedang runtuh? Dan apakah pemerintah mampu menyelamatkan ekonomi rakyat sebelum semuanya terlambat?\n\nTonton video ini sampai habis karena pembahasannya akan membuka fakta mengejutkan tentang ekonomi Indonesia terbaru, pertumbuhan PDB RI, kondisi rakyat Indonesia, masa depan rupiah, ancaman ekonomi global, hingga dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "m7NeAtecoDI"}}], "edges": [{"key": "Wilicious9", "source": "Wilicious9", "target": "susunanan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Wilicious9", "source": "Wilicious9", "target": "itbfess_x", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "firman_lapendos", "source": "firman_lapendos", "target": "RadioElshinta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "redcentauri", "source": "redcentauri", "target": "ridiyoga1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "redcentauri", "source": "redcentauri", "target": "BangJarskii", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "redcentauri", "source": "redcentauri", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Starlog20", "source": "Starlog20", "target": "Saham_fess", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Mrfarhat_Id", "source": "Mrfarhat_Id", "target": "dk_itu_dokyeom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Mrfarhat_Id", "source": "Mrfarhat_Id", "target": "christianvctrs", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "prokompimkabkarawang", "source": "prokompimkabkarawang", "target": "aep_syaepulohse", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "prokompimkabkarawang", "source": "prokompimkabkarawang", "target": "hajimaslani", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "prokompimkabkarawang", "source": "prokompimkabkarawang", "target": "ang.rahmatullah", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "harianclip.id", "source": "harianclip.id", "target": "Sucor", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "mynameisrio26", "source": "mynameisrio26", "target": "bamhardy", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "cashflowchronicles07", "source": "cashflowchronicles07", "target": "ternakuang.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "markets", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}