{"nodes": [{"key": "ainurohman", "attributes": {"label": "ainurohman", "x": 999.8561977693979, "y": 558.0105662602482, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 74.6268, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069252648973541701", "id": "ainurohman", "source": "tweet-000004", "content": "Kalau dari kacamata data makro, berdasarkan prediksi Simon Kuper dan Szymanski di Soccernomics, Norwegia sangat kapabel utk terus menciptakan atlet elite krn memiliki modal terbaik yakni kekayaan negara yang melimpah dan pemerataan ekonomi. \n\nDiprediksi timnasnya akan terus kuat", "post_id": "2069252648973541701"}}, {"key": "f_zh19", "attributes": {"label": "f_zh19", "x": 664.9232787683914, "y": 18.783401745817052, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 106.3433, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069252648973541701", "id": "f_zh19", "source": "tweet-000004", "content": "Kalau dari kacamata data makro, berdasarkan prediksi Simon Kuper dan Szymanski di Soccernomics, Norwegia sangat kapabel utk terus menciptakan atlet elite krn memiliki modal terbaik yakni kekayaan negara yang melimpah dan pemerataan ekonomi. \n\nDiprediksi timnasnya akan terus kuat", "post_id": "2069252648973541701"}}, {"key": "ArviscoAndy", "attributes": {"label": "ArviscoAndy", "x": 393.0074531008286, "y": 606.637555708384, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 106.3433, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069252972954157247", "id": "ArviscoAndy", "source": "tweet-000004", "content": "Sama kayak jawaban di atas: \n\nKalau dari kacamata data makro, berdasarkan prediksi Simon Kuper dan Szymanski di Soccernomics (rilis 2009), Norwegia sangat kapabel utk terus menciptakan atlet elite krn memiliki modal terbaik yakni kekayaan negara yg melimpah dan pemerataan", "post_id": "2069252972954157247"}}, {"key": "joeliardisunendar", "attributes": {"label": "joeliardisunendar", "x": 93.95981509414797, "y": 296.4137426597325, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 74.6268, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3925575309378261873_9022830818", "id": "joeliardisunendar", "source": "instagram-000001", "content": "The same man - the same river.\n\nIPO terbesar sepanjang sejarah — dan tiga hari kemudian, nilainya menguap setara satu bursa - yang pernah menjadi terbesar di Asia Tenggara.\n\nSPCX (Space Exploration Technologies) ditutup anjlok 16,43% semalam, 22 Juni, ke US$154,60. Dalam tiga hari sesi, kapitalisasinya susut lebih dari US$600 miliar. \n\nPerhatikan angka itu: penurunan satu emiten ini nyaris setara dengan SELURUH kapitalisasi Bursa Efek Indonesia (Rp10.788 triliun ≈ US$601 miliar).\n\nPemicunya bukan kabar buruk operasional, melainkan kekhawatiran capex: rencana obligasi perdana ~US$20 miliar untuk mendanai ambisi AI, di tengah pembakaran kas yang membesar. Hasil dana IPO yang sebesar $ 75 Milyar itu ternyata masih kurang.\n\nDemamnya menjalar ke para hyperscaler — Alphabet −5,33%, Amazon −4,09%, Microsoft −2,40%, Meta −1,98% — emiten yang gabungan belanja modal AI-nya 2026 menembus ~US$452 miliar, sementara monetisasinya dinilai tertinggal.\n\nApakah ini awal rotasi ke pasar bervaluasi wajar — seperti yang kita saksikan pada 2022?\n\nSetelah Wall Street berpesta sepanjang 2021 (S&P 500 mencetak 70 rekor baru), Semester I-2022 mencatat penurunan terburuk dalam lima dekade. Banjir merah menyebar ke pasar dunia. \n\nTapi BEI menjadi bintang saat itu — naik 4% lebih, outlier di tengah merahnya koreksi global. Komoditas menjadi penyelamat.\n\nIndonesia kini tetap gudang komoditas, namun IHSG menjadi salah satu pasar terburuk dunia. Berbagai emiten dibanderol setara EV/EBITDA <5×, dengan dividend yield high single digit — bahkan double digit. \n\nHarga saham kembali ke level 2017–2018, padahal skala bisnisnya jauh lebih besar. It simply doesn’t make sense.\n\nTiga hal berperan dalam pembentukan IHSG ke depan : (a) pengumuman MSCI 23 Juni (b) rilis LK Q2/2026, dan (c) rekor bulan Juli — yang dalam 25 tahun ini mencetak skor 84,6%, hanya kalah dari bulan window-dressing, Desember.\n\nAnda tentu saja boleh tidak sepakat.\n— Simpan & bagikan bila bermanfaat. Ikuti  untuk analisis berikutnya.\n\n#SpaceX #IHSG #BEI #ValueInvesting #JSPortfolio", "post_id": "3925575309378261873_9022830818"}}, {"key": "jsportfolio.id", "attributes": {"label": "jsportfolio.id", "x": 616.8106174083122, "y": 317.5530547722436, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 138.0597, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3925575309378261873_9022830818", "id": "jsportfolio.id", "source": "instagram-000001", "content": "The same man - the same river.\n\nIPO terbesar sepanjang sejarah — dan tiga hari kemudian, nilainya menguap setara satu bursa - yang pernah menjadi terbesar di Asia Tenggara.\n\nSPCX (Space Exploration Technologies) ditutup anjlok 16,43% semalam, 22 Juni, ke US$154,60. Dalam tiga hari sesi, kapitalisasinya susut lebih dari US$600 miliar. \n\nPerhatikan angka itu: penurunan satu emiten ini nyaris setara dengan SELURUH kapitalisasi Bursa Efek Indonesia (Rp10.788 triliun ≈ US$601 miliar).\n\nPemicunya bukan kabar buruk operasional, melainkan kekhawatiran capex: rencana obligasi perdana ~US$20 miliar untuk mendanai ambisi AI, di tengah pembakaran kas yang membesar. Hasil dana IPO yang sebesar $ 75 Milyar itu ternyata masih kurang.\n\nDemamnya menjalar ke para hyperscaler — Alphabet −5,33%, Amazon −4,09%, Microsoft −2,40%, Meta −1,98% — emiten yang gabungan belanja modal AI-nya 2026 menembus ~US$452 miliar, sementara monetisasinya dinilai tertinggal.\n\nApakah ini awal rotasi ke pasar bervaluasi wajar — seperti yang kita saksikan pada 2022?\n\nSetelah Wall Street berpesta sepanjang 2021 (S&P 500 mencetak 70 rekor baru), Semester I-2022 mencatat penurunan terburuk dalam lima dekade. Banjir merah menyebar ke pasar dunia. \n\nTapi BEI menjadi bintang saat itu — naik 4% lebih, outlier di tengah merahnya koreksi global. Komoditas menjadi penyelamat.\n\nIndonesia kini tetap gudang komoditas, namun IHSG menjadi salah satu pasar terburuk dunia. Berbagai emiten dibanderol setara EV/EBITDA <5×, dengan dividend yield high single digit — bahkan double digit. \n\nHarga saham kembali ke level 2017–2018, padahal skala bisnisnya jauh lebih besar. It simply doesn’t make sense.\n\nTiga hal berperan dalam pembentukan IHSG ke depan : (a) pengumuman MSCI 23 Juni (b) rilis LK Q2/2026, dan (c) rekor bulan Juli — yang dalam 25 tahun ini mencetak skor 84,6%, hanya kalah dari bulan window-dressing, Desember.\n\nAnda tentu saja boleh tidak sepakat.\n— Simpan & bagikan bila bermanfaat. Ikuti  untuk analisis berikutnya.\n\n#SpaceX #IHSG #BEI #ValueInvesting #JSPortfolio", "post_id": "3925575309378261873_9022830818"}}, {"key": "@sb30official", "attributes": {"label": "@sb30official", "x": 311.7519102680703, "y": 764.9801501939709, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 74.6268, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "uPmPqZfR5q4", "id": "@sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "INDONESIA GELAP: Negara Kaya Batu Bara, Kok Mati Terus Merugikan Pengusaha UMKM?\n\n00:00 Hook: Jeritan UMKM di Bandung Hingga Isu Konspirasi \"Blackout 7 Hari\" di Tahun 2026\n\n00:51 Realita Makro: Kerugian Sektor Manufaktur Tembus Miliaran Rupiah Per Jam Akibat Pemadaman\n\n01:55 Ironi Sistem Jamali: Cadangan Daya 32% yang Tetap Jebol Akibat Krisis di Sektor Hulu\n\n02:35 Ketimpangan Modal: Mengapa UMKM Menjadi Korban Paling Rentan dari Kegagalan Sistem Terpusat\n\n03:29 Kronologi Krisis Kelistrikan 2026: Membaca Manipulasi Data Keamanan Stok Batubara PLN\n\n04:39 4 Faktor Utama Meledaknya Krisis: Kebijakan Kuota Produksi Hingga Kontrak Finansial Kaku\n\n05:28 Faktor 1 & 2—Disparitas Harga: Mengapa Pengusaha Tambang Lebih Memilih Ekspor Senilai $120 Per Ton\n\n06:38 Faktor 3—Psikologi Kuota Beras: Logika Pengusaha Mengamankan Margin di Tengah Pemotongan Kuota\n\n07:19 Transisi Satu Pintu Danantara (DSI): Benarkah Ada Aksi \"Jual Massal\" Sebelum Regulasi 2027?\n\n08:24 Faktor 4—Jeratan Finansial Kontrak Swasta: Menguliti Beban Biaya PLN yang Mengikat Arus Kas\n\n09:05 Hambatan Likuiditas PLN: Kapal Eskpor Terus Berlayar Saat Pembangkit Domestik Kehabisan Bahan Bakar\n\n09:44 Dampak Berantai Krisis Air: Kelumpuhan Rumah Pompa PDAM di Surabaya, Kediri, Hingga Medan\n\n10:40 Ironi Negara Raksasa Energi: Ketika Adonan Roti Rusak & Omset Fotokopi Anjlok Kena Sektor Hulu\n\n11:26 Target Pajak 2026 Terancam: Bagaimana Matinya Listrik Menggerogoti Basis Konsumsi Domestik\n\n12:14 Gelombang Protes Mahasiswa: Mempertanyakan Transparansi dan Lingkaran Elite di Samping Pak Prabowo\n\n13:08 Klaim Meleset Pemerintah: Janji Stok Aman Menteri Bahlil Versus Analisis Skeptis Lembaga Independen (IESR)\n\n14:18 Solusi Jangka Pendek vs Masalah Struktural: Kebiasaan Penambalan Permukaan yang Terus Berulang\n\n15:14 Bahaya Monopoli Energi: Ketiadaan Alternatif \"Plan B\" Bagi Konsumen Ketika Sistem Utama Gagal\n\n16:41 Refleksi Ketahanan Energi: Ketergantungan 75% Batubara & Hak Rakyat Atas Transparansi Informasi\n\n18:20 Closing: Suarakan Aspirasi di Kolom Komentar, Mari Selamatkan Ekonomi Keluarga! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "uPmPqZfR5q4"}}, {"key": "sb30official", "attributes": {"label": "sb30official", "x": 712.8823348127281, "y": 330.9165142254088, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 138.0597, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "uPmPqZfR5q4", "id": "sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "INDONESIA GELAP: Negara Kaya Batu Bara, Kok Mati Terus Merugikan Pengusaha UMKM?\n\n00:00 Hook: Jeritan UMKM di Bandung Hingga Isu Konspirasi \"Blackout 7 Hari\" di Tahun 2026\n\n00:51 Realita Makro: Kerugian Sektor Manufaktur Tembus Miliaran Rupiah Per Jam Akibat Pemadaman\n\n01:55 Ironi Sistem Jamali: Cadangan Daya 32% yang Tetap Jebol Akibat Krisis di Sektor Hulu\n\n02:35 Ketimpangan Modal: Mengapa UMKM Menjadi Korban Paling Rentan dari Kegagalan Sistem Terpusat\n\n03:29 Kronologi Krisis Kelistrikan 2026: Membaca Manipulasi Data Keamanan Stok Batubara PLN\n\n04:39 4 Faktor Utama Meledaknya Krisis: Kebijakan Kuota Produksi Hingga Kontrak Finansial Kaku\n\n05:28 Faktor 1 & 2—Disparitas Harga: Mengapa Pengusaha Tambang Lebih Memilih Ekspor Senilai $120 Per Ton\n\n06:38 Faktor 3—Psikologi Kuota Beras: Logika Pengusaha Mengamankan Margin di Tengah Pemotongan Kuota\n\n07:19 Transisi Satu Pintu Danantara (DSI): Benarkah Ada Aksi \"Jual Massal\" Sebelum Regulasi 2027?\n\n08:24 Faktor 4—Jeratan Finansial Kontrak Swasta: Menguliti Beban Biaya PLN yang Mengikat Arus Kas\n\n09:05 Hambatan Likuiditas PLN: Kapal Eskpor Terus Berlayar Saat Pembangkit Domestik Kehabisan Bahan Bakar\n\n09:44 Dampak Berantai Krisis Air: Kelumpuhan Rumah Pompa PDAM di Surabaya, Kediri, Hingga Medan\n\n10:40 Ironi Negara Raksasa Energi: Ketika Adonan Roti Rusak & Omset Fotokopi Anjlok Kena Sektor Hulu\n\n11:26 Target Pajak 2026 Terancam: Bagaimana Matinya Listrik Menggerogoti Basis Konsumsi Domestik\n\n12:14 Gelombang Protes Mahasiswa: Mempertanyakan Transparansi dan Lingkaran Elite di Samping Pak Prabowo\n\n13:08 Klaim Meleset Pemerintah: Janji Stok Aman Menteri Bahlil Versus Analisis Skeptis Lembaga Independen (IESR)\n\n14:18 Solusi Jangka Pendek vs Masalah Struktural: Kebiasaan Penambalan Permukaan yang Terus Berulang\n\n15:14 Bahaya Monopoli Energi: Ketiadaan Alternatif \"Plan B\" Bagi Konsumen Ketika Sistem Utama Gagal\n\n16:41 Refleksi Ketahanan Energi: Ketergantungan 75% Batubara & Hak Rakyat Atas Transparansi Informasi\n\n18:20 Closing: Suarakan Aspirasi di Kolom Komentar, Mari Selamatkan Ekonomi Keluarga! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "uPmPqZfR5q4"}}, {"key": "@TheMasterInvestorPodcast", "attributes": {"label": "@TheMasterInvestorPodcast", "x": 983.1522194514685, "y": 263.3286439440176, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 74.6268, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "8xWhfSGrO50", "id": "@TheMasterInvestorPodcast", "source": "youtube-000001", "content": "MI 58 Ned Naylor Leyland RFTX v1\n\nWilf ditemani oleh Ned Naylor-Leyland, yang baru saja dinobatkan sebagai Manajer Dana Logam Mulia Terbaik Tahun Ini oleh Investment Week dan manajer dari Jupiter Gold & Silver Fund yang bernilai hampir $3 miliar. Dikenal karena perspektifnya yang khas, kontrarian, dan sangat analitis, Ned menjelaskan mengapa narasi sebenarnya seputar emas dan perak sangat disalahpahami oleh publik investor.\n\nAlih-alih melihat emas dan perak melalui lensa komoditas tradisional, Ned menjelaskan mengapa keduanya pada dasarnya adalah instrumen valuta asing dan mengapa emas adalah aset bebas risiko sejati dari sistem keuangan global.\n\n“Ini tentang mengambil posisi short terhadap perilaku pemerintah Anda.” Ned mengemukakan argumen bahwa emas fisik adalah perlindungan utama terhadap erosi daya beli jangka panjang yang disebabkan oleh penurunan nilai mata uang kertas yang tak terhindarkan. Tetapi ia tidak setuju dengan banyak pendukung emas lainnya ketika menjelaskan lonjakan harga pada tahun 2025, dan berpikir bahwa momentum dan mengikuti tren makro dari investor yang menggunakan leverage, serta perubahan ekspektasi suku bunga riil, memicu reli eksplosif baru-baru ini, daripada pembelian oleh bank sentral atau penerimaan yang lebih luas terhadap argumen penurunan nilai moneter oleh sebagian besar investor.\n\nIa menjelaskan mengapa perak beroperasi sebagai aset \"bersifat ganda\" – bertindak sebagai uang sekaligus sangat langka bagi industri masa depan, mulai dari AI hingga teknologi hijau hingga perangkat keras militer. “Perak seperti emas, Anda memiliki posisi short terhadap politisi, tetapi Anda juga memiliki posisi long terhadap masa depan.” Namun Ned hanya memiliki eksposur terhadap emas dan perak, dan menjelaskan mengapa logam mulia atau logam industri lainnya tidak memiliki tempat dalam dananya.\n\nMeskipun ia sendiri pernah memiliki Bitcoin di masa lalu, ia tidak lagi memilikinya karena ia suka menjadi pelopor dan kontrarian, dan tidak melihat tempat untuk $BTC mengingat hal itu.\n\nIa percaya bahwa produsen emas dan perak lebih murah daripada sebelumnya, dengan margin arus kas bebas yang dua atau tiga kali lipat dari sektor teknologi, sementara diperdagangkan dengan kelipatan yang jauh lebih rendah. Alasannya adalah kurangnya modal institusional jangka panjang di sektor ini, yang menurutnya dapat membanjiri jika saham teknologi mencapai puncaknya.\n\nNed dan Wilf juga membahas faktor tak terduga – ‘Di Mana Emasnya?’ – sebuah pembahasan mendalam yang menarik tentang perbankan emas batangan cadangan fraksional, ekspansi neraca bank sentral, dan risiko sistemik seputar keberadaan emas fisik sebenarnya.\n\nUntuk konten seperti ini, berlanggananlah ke Saluran YouTube The Master Investor Podcast -    /   \n\nDan ikuti  di X - https://x.com/wilfredfrost?lang=en \nDan LinkedIn -   / wilfred-frost-279667374  \n\nDisponsori oleh BNY Investments, World Gold Council, London Stock Exchange Group (LSEG) dan Interactive Brokers - ibkr.com/masterinvestor.\n\nThe Master Investor Podcast diproduksi oleh Paradine Productions dan Master Investor Ltd bekerja sama dengan Bird Lime Media.\n\nPodcast ini hanya untuk tujuan informasi. Ini bukan merupakan ajakan atau bujukan untuk terlibat dalam aktivitas investasi apa pun. Ini bukan promosi keuangan sebagaimana didefinisikan dalam pasal 21 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (FSMA). Pandangan yang diungkapkan oleh pembawa acara podcast ini adalah pandangan pembawa acara dan diberikan dalam rangka jurnalisme. Podcast ini mendapat pengecualian berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (Peraturan Promosi Keuangan) 2005 (FPO), dan tidak memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan FSMA. Informasi umum, yang tidak mengidentifikasi investasi, dana, penyedia, atau layanan tertentu, tentang kelas investasi seperti saham, obligasi, derivatif, dan aset kripto, mungkin diberikan dan/atau dibahas selama podcast ini. Diskusi tersebut termasuk dalam pengecualian promosi umum (Pasal 17 FPO). Diskusi tersebut bukan promosi keuangan yang memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan pasal 21 FSMA. Investasi melibatkan risiko. Anda harus berkonsultasi dengan penasihat yang berkualifikasi yang dapat menilai keadaan individu Anda sebelum membuat keputusan investasi apa pun.", "post_id": "8xWhfSGrO50"}}, {"key": "themasterinvestorpodcast", "attributes": {"label": "themasterinvestorpodcast", "x": 864.1505646815178, "y": 256.2213373501756, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 106.3433, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "8xWhfSGrO50", "id": "themasterinvestorpodcast", "source": "youtube-000001", "content": "MI 58 Ned Naylor Leyland RFTX v1\n\nWilf ditemani oleh Ned Naylor-Leyland, yang baru saja dinobatkan sebagai Manajer Dana Logam Mulia Terbaik Tahun Ini oleh Investment Week dan manajer dari Jupiter Gold & Silver Fund yang bernilai hampir $3 miliar. Dikenal karena perspektifnya yang khas, kontrarian, dan sangat analitis, Ned menjelaskan mengapa narasi sebenarnya seputar emas dan perak sangat disalahpahami oleh publik investor.\n\nAlih-alih melihat emas dan perak melalui lensa komoditas tradisional, Ned menjelaskan mengapa keduanya pada dasarnya adalah instrumen valuta asing dan mengapa emas adalah aset bebas risiko sejati dari sistem keuangan global.\n\n“Ini tentang mengambil posisi short terhadap perilaku pemerintah Anda.” Ned mengemukakan argumen bahwa emas fisik adalah perlindungan utama terhadap erosi daya beli jangka panjang yang disebabkan oleh penurunan nilai mata uang kertas yang tak terhindarkan. Tetapi ia tidak setuju dengan banyak pendukung emas lainnya ketika menjelaskan lonjakan harga pada tahun 2025, dan berpikir bahwa momentum dan mengikuti tren makro dari investor yang menggunakan leverage, serta perubahan ekspektasi suku bunga riil, memicu reli eksplosif baru-baru ini, daripada pembelian oleh bank sentral atau penerimaan yang lebih luas terhadap argumen penurunan nilai moneter oleh sebagian besar investor.\n\nIa menjelaskan mengapa perak beroperasi sebagai aset \"bersifat ganda\" – bertindak sebagai uang sekaligus sangat langka bagi industri masa depan, mulai dari AI hingga teknologi hijau hingga perangkat keras militer. “Perak seperti emas, Anda memiliki posisi short terhadap politisi, tetapi Anda juga memiliki posisi long terhadap masa depan.” Namun Ned hanya memiliki eksposur terhadap emas dan perak, dan menjelaskan mengapa logam mulia atau logam industri lainnya tidak memiliki tempat dalam dananya.\n\nMeskipun ia sendiri pernah memiliki Bitcoin di masa lalu, ia tidak lagi memilikinya karena ia suka menjadi pelopor dan kontrarian, dan tidak melihat tempat untuk $BTC mengingat hal itu.\n\nIa percaya bahwa produsen emas dan perak lebih murah daripada sebelumnya, dengan margin arus kas bebas yang dua atau tiga kali lipat dari sektor teknologi, sementara diperdagangkan dengan kelipatan yang jauh lebih rendah. Alasannya adalah kurangnya modal institusional jangka panjang di sektor ini, yang menurutnya dapat membanjiri jika saham teknologi mencapai puncaknya.\n\nNed dan Wilf juga membahas faktor tak terduga – ‘Di Mana Emasnya?’ – sebuah pembahasan mendalam yang menarik tentang perbankan emas batangan cadangan fraksional, ekspansi neraca bank sentral, dan risiko sistemik seputar keberadaan emas fisik sebenarnya.\n\nUntuk konten seperti ini, berlanggananlah ke Saluran YouTube The Master Investor Podcast -    /   \n\nDan ikuti  di X - https://x.com/wilfredfrost?lang=en \nDan LinkedIn -   / wilfred-frost-279667374  \n\nDisponsori oleh BNY Investments, World Gold Council, London Stock Exchange Group (LSEG) dan Interactive Brokers - ibkr.com/masterinvestor.\n\nThe Master Investor Podcast diproduksi oleh Paradine Productions dan Master Investor Ltd bekerja sama dengan Bird Lime Media.\n\nPodcast ini hanya untuk tujuan informasi. Ini bukan merupakan ajakan atau bujukan untuk terlibat dalam aktivitas investasi apa pun. Ini bukan promosi keuangan sebagaimana didefinisikan dalam pasal 21 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (FSMA). Pandangan yang diungkapkan oleh pembawa acara podcast ini adalah pandangan pembawa acara dan diberikan dalam rangka jurnalisme. Podcast ini mendapat pengecualian berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (Peraturan Promosi Keuangan) 2005 (FPO), dan tidak memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan FSMA. Informasi umum, yang tidak mengidentifikasi investasi, dana, penyedia, atau layanan tertentu, tentang kelas investasi seperti saham, obligasi, derivatif, dan aset kripto, mungkin diberikan dan/atau dibahas selama podcast ini. Diskusi tersebut termasuk dalam pengecualian promosi umum (Pasal 17 FPO). Diskusi tersebut bukan promosi keuangan yang memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan pasal 21 FSMA. Investasi melibatkan risiko. Anda harus berkonsultasi dengan penasihat yang berkualifikasi yang dapat menilai keadaan individu Anda sebelum membuat keputusan investasi apa pun.", "post_id": "8xWhfSGrO50"}}, {"key": "WilfredFrost", "attributes": {"label": "WilfredFrost", "x": 245.6133079113223, "y": 346.098314510374, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 106.3433, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "8xWhfSGrO50", "id": "WilfredFrost", "source": "youtube-000001", "content": "MI 58 Ned Naylor Leyland RFTX v1\n\nWilf ditemani oleh Ned Naylor-Leyland, yang baru saja dinobatkan sebagai Manajer Dana Logam Mulia Terbaik Tahun Ini oleh Investment Week dan manajer dari Jupiter Gold & Silver Fund yang bernilai hampir $3 miliar. Dikenal karena perspektifnya yang khas, kontrarian, dan sangat analitis, Ned menjelaskan mengapa narasi sebenarnya seputar emas dan perak sangat disalahpahami oleh publik investor.\n\nAlih-alih melihat emas dan perak melalui lensa komoditas tradisional, Ned menjelaskan mengapa keduanya pada dasarnya adalah instrumen valuta asing dan mengapa emas adalah aset bebas risiko sejati dari sistem keuangan global.\n\n“Ini tentang mengambil posisi short terhadap perilaku pemerintah Anda.” Ned mengemukakan argumen bahwa emas fisik adalah perlindungan utama terhadap erosi daya beli jangka panjang yang disebabkan oleh penurunan nilai mata uang kertas yang tak terhindarkan. Tetapi ia tidak setuju dengan banyak pendukung emas lainnya ketika menjelaskan lonjakan harga pada tahun 2025, dan berpikir bahwa momentum dan mengikuti tren makro dari investor yang menggunakan leverage, serta perubahan ekspektasi suku bunga riil, memicu reli eksplosif baru-baru ini, daripada pembelian oleh bank sentral atau penerimaan yang lebih luas terhadap argumen penurunan nilai moneter oleh sebagian besar investor.\n\nIa menjelaskan mengapa perak beroperasi sebagai aset \"bersifat ganda\" – bertindak sebagai uang sekaligus sangat langka bagi industri masa depan, mulai dari AI hingga teknologi hijau hingga perangkat keras militer. “Perak seperti emas, Anda memiliki posisi short terhadap politisi, tetapi Anda juga memiliki posisi long terhadap masa depan.” Namun Ned hanya memiliki eksposur terhadap emas dan perak, dan menjelaskan mengapa logam mulia atau logam industri lainnya tidak memiliki tempat dalam dananya.\n\nMeskipun ia sendiri pernah memiliki Bitcoin di masa lalu, ia tidak lagi memilikinya karena ia suka menjadi pelopor dan kontrarian, dan tidak melihat tempat untuk $BTC mengingat hal itu.\n\nIa percaya bahwa produsen emas dan perak lebih murah daripada sebelumnya, dengan margin arus kas bebas yang dua atau tiga kali lipat dari sektor teknologi, sementara diperdagangkan dengan kelipatan yang jauh lebih rendah. Alasannya adalah kurangnya modal institusional jangka panjang di sektor ini, yang menurutnya dapat membanjiri jika saham teknologi mencapai puncaknya.\n\nNed dan Wilf juga membahas faktor tak terduga – ‘Di Mana Emasnya?’ – sebuah pembahasan mendalam yang menarik tentang perbankan emas batangan cadangan fraksional, ekspansi neraca bank sentral, dan risiko sistemik seputar keberadaan emas fisik sebenarnya.\n\nUntuk konten seperti ini, berlanggananlah ke Saluran YouTube The Master Investor Podcast -    /   \n\nDan ikuti  di X - https://x.com/wilfredfrost?lang=en \nDan LinkedIn -   / wilfred-frost-279667374  \n\nDisponsori oleh BNY Investments, World Gold Council, London Stock Exchange Group (LSEG) dan Interactive Brokers - ibkr.com/masterinvestor.\n\nThe Master Investor Podcast diproduksi oleh Paradine Productions dan Master Investor Ltd bekerja sama dengan Bird Lime Media.\n\nPodcast ini hanya untuk tujuan informasi. Ini bukan merupakan ajakan atau bujukan untuk terlibat dalam aktivitas investasi apa pun. Ini bukan promosi keuangan sebagaimana didefinisikan dalam pasal 21 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (FSMA). Pandangan yang diungkapkan oleh pembawa acara podcast ini adalah pandangan pembawa acara dan diberikan dalam rangka jurnalisme. Podcast ini mendapat pengecualian berdasarkan Pasal 20 Undang-Undang Layanan Keuangan dan Pasar 2000 (Peraturan Promosi Keuangan) 2005 (FPO), dan tidak memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan FSMA. Informasi umum, yang tidak mengidentifikasi investasi, dana, penyedia, atau layanan tertentu, tentang kelas investasi seperti saham, obligasi, derivatif, dan aset kripto, mungkin diberikan dan/atau dibahas selama podcast ini. Diskusi tersebut termasuk dalam pengecualian promosi umum (Pasal 17 FPO). Diskusi tersebut bukan promosi keuangan yang memerlukan persetujuan dari orang yang berwenang berdasarkan pasal 21 FSMA. Investasi melibatkan risiko. Anda harus berkonsultasi dengan penasihat yang berkualifikasi yang dapat menilai keadaan individu Anda sebelum membuat keputusan investasi apa pun.", "post_id": "8xWhfSGrO50"}}], "edges": [{"key": "ainurohman", "source": "ainurohman", "target": "f_zh19", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ainurohman", "source": "ainurohman", "target": "ArviscoAndy", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "joeliardisunendar", "source": "joeliardisunendar", "target": "jsportfolio.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheMasterInvestorPodcast", "source": "@TheMasterInvestorPodcast", "target": "themasterinvestorpodcast", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheMasterInvestorPodcast", "source": "@TheMasterInvestorPodcast", "target": "WilfredFrost", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}