{"nodes": [{"key": "iwanpiliang7", "attributes": {"label": "iwanpiliang7", "x": 941.0589561641438, "y": 875.682839245498, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069289073857175705", "id": "iwanpiliang7", "source": "retweet-000002", "content": "#IDNWatch🇮🇩: If the IMF had not SABOTAGED the currency board that Suharto and I were going to install in 1998, the RUPIAH…", "post_id": "2069289073857175705"}}, {"key": "steve_hanke", "attributes": {"label": "steve_hanke", "x": 787.436819614119, "y": 753.5495800998461, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 92.794, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "2069289073857175705", "id": "steve_hanke", "source": "retweet-000002", "content": "#IDNWatch🇮🇩: If the IMF had not SABOTAGED the currency board that Suharto and I were going to install in 1998, the RUPIAH…", "post_id": "2069289073857175705"}}, {"key": "AlhamadKim37129", "attributes": {"label": "AlhamadKim37129", "x": 583.1147778763395, "y": 707.4799134933088, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069265148720849359", "id": "AlhamadKim37129", "source": "tweet-000004", "content": "Kebijakan wajib rupiah di dalam negeri adalah langkah tegas pemerintah untuk menjaga kedaulatan mata uang kita dan memperkuat fundamental ekonomi nasional.", "post_id": "2069265148720849359"}}, {"key": "udanudinudan", "attributes": {"label": "udanudinudan", "x": 109.94301067565048, "y": 219.49305698464894, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069218070091165858", "id": "udanudinudan", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi beras tetap mahal di pasaran, jangan2 nanti ada impor beras. \nAgak sulit percaya dg data yg disampaikan pemerintah, bilangnya swasembada energi tetapi listrik pemadaman bergilir, pertamak dinaikan. Bilangnya fundamental kuat, eh.. rupiah nyungsep, investor asing kabur.", "post_id": "2069218070091165858"}}, {"key": "99propaganda", "attributes": {"label": "99propaganda", "x": 178.99545562785335, "y": 217.3015928349903, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 75.4589, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069218070091165858", "id": "99propaganda", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi beras tetap mahal di pasaran, jangan2 nanti ada impor beras. \nAgak sulit percaya dg data yg disampaikan pemerintah, bilangnya swasembada energi tetapi listrik pemadaman bergilir, pertamak dinaikan. Bilangnya fundamental kuat, eh.. rupiah nyungsep, investor asing kabur.", "post_id": "2069218070091165858"}}, {"key": "66320242220", "attributes": {"label": "66320242220", "x": 982.2042123559991, "y": 420.97619543621835, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3925188914029089351_66320242220", "id": "66320242220", "source": "instagram-000001", "content": "Ekonom Steve Hanke mengklaim rupiah bisa memiliki nilai setara dolar Amerika Serikat (AS) jika International Monetary Fund (IMF) dan Presiden ke-42 AS Bill Clinton tidak menghalangi rencana yang ia susun bersama Presiden Soeharto pada masa krisis 1998.\n\n“Jika IMF tidak menyabotase dewan mata uang yang akan saya dan Suharto terapkan pada tahun 1998, rupiah tidak akan bermasalah saat ini. Rupiah akan sama baiknya dengan dolar AS,” tulis Hanke melalui akun X pribadinya, Senin (22/06).\n\nMenurut Hanke, sistem tersebut akan mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga dapat mencegah pelemahan tajam saat Krisis Keuangan Asia. Ia bahkan mengklaim rupiah sempat menguat sekitar 28% setelah wacana kebijakan itu diumumkan, di tengah kejatuhan nilai tukar dari sekitar Rp2.700 ke Rp16.000 per dolar .\n\nNamun, rencana tersebut akhirnya tidak pernah diterapkan. Hanke menuding IMF dan pemerintahan Bill Clinton saat itu menolak kebijakan tersebut serta mengancam penghentian bantuan internasional senilai US$43 miliar apabila Indonesia tetap melanjutkannya.\n\nFollow  untuk dapatkan informasi dan menambahkan wawasan", "post_id": "3925188914029089351_66320242220"}}, {"key": "ruangpikirr.id", "attributes": {"label": "ruangpikirr.id", "x": 50.305450639567816, "y": 834.9243785921948, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 75.4589, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3925188914029089351_66320242220", "id": "ruangpikirr.id", "source": "instagram-000001", "content": "Ekonom Steve Hanke mengklaim rupiah bisa memiliki nilai setara dolar Amerika Serikat (AS) jika International Monetary Fund (IMF) dan Presiden ke-42 AS Bill Clinton tidak menghalangi rencana yang ia susun bersama Presiden Soeharto pada masa krisis 1998.\n\n“Jika IMF tidak menyabotase dewan mata uang yang akan saya dan Suharto terapkan pada tahun 1998, rupiah tidak akan bermasalah saat ini. Rupiah akan sama baiknya dengan dolar AS,” tulis Hanke melalui akun X pribadinya, Senin (22/06).\n\nMenurut Hanke, sistem tersebut akan mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga dapat mencegah pelemahan tajam saat Krisis Keuangan Asia. Ia bahkan mengklaim rupiah sempat menguat sekitar 28% setelah wacana kebijakan itu diumumkan, di tengah kejatuhan nilai tukar dari sekitar Rp2.700 ke Rp16.000 per dolar .\n\nNamun, rencana tersebut akhirnya tidak pernah diterapkan. Hanke menuding IMF dan pemerintahan Bill Clinton saat itu menolak kebijakan tersebut serta mengancam penghentian bantuan internasional senilai US$43 miliar apabila Indonesia tetap melanjutkannya.\n\nFollow  untuk dapatkan informasi dan menambahkan wawasan", "post_id": "3925188914029089351_66320242220"}}, {"key": "vinelsapri_", "attributes": {"label": "vinelsapri_", "x": 803.3034392885958, "y": 426.7737948605511, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7654399835172343058", "id": "vinelsapri_", "source": "tiktok-000001", "content": "Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah sempat melemah. APBN disebut terus mendukung program prioritas dan stabilitas ekonomi nasional. Sumber:  #PRI #PartaiRakyatIndonesia #TumbuhBersamaRakyat #MajuRakyatnyaJagaBangsanya #KoalisiIndonesiaMaju", "post_id": "7654399835172343058"}}, {"key": "cnbcindonesia", "attributes": {"label": "cnbcindonesia", "x": 366.2780700612531, "y": 744.6310134624542, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 75.4589, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7654399835172343058", "id": "cnbcindonesia", "source": "tiktok-000001", "content": "Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat meski rupiah sempat melemah. APBN disebut terus mendukung program prioritas dan stabilitas ekonomi nasional. Sumber:  #PRI #PartaiRakyatIndonesia #TumbuhBersamaRakyat #MajuRakyatnyaJagaBangsanya #KoalisiIndonesiaMaju", "post_id": "7654399835172343058"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "attributes": {"label": "suaramuslimahjabar", "x": 338.7241351178739, "y": 381.26587920844025, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1447083657444392", "id": "suaramuslimahjabar", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus\n\nKrisis Kedelai, Tahu dan Tempe Masihkah Murah?\n\nHarga kedelai di Indonesia naik sebagai imbas kenaikan pada tingkat global. Harga kedelai dunia pada 21 Mei 2026 sebesar USD11,94/bushel, naik 18,3% dari awal tahun. Harga ini diprediksi akan naik lagi hingga USD13—14 (Rp230.308—248.024) per bushel setelah adanya kesepakatan pembelian kedelai AS dalam jumlah besar oleh Cina baru-baru ini. (Farm Progress, 18-5-2026). Di Indonesia, Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga kedelai impor di tingkat nasional pada 26 Mei 2026 adalah Rp13.679 per kg, naik 1,12% dibandingkan pada awal tahun.\n\nSelain karena kenaikan harga kedelai dunia, kenaikan harga kedelai di Indonesia juga disebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal tahun hingga menyentuh angka Rp17.906 per dolar AS pada Kamis (28-5-2026).\n\nKenaikan harga tahu dan tempe merupakan sebuah ironi. Pada saat harga ayam, daging, dan ikan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, kini tahu dan tempe pun tidak murah lagi. Alhasil, asupan protein untuk masyarakat makin minim, kualitas gizi masyarakat pun makin menurun.\n\nAlih-alih menyelesaikan masalah produksi dalam negeri, pemerintah justru menggenjot impor kedelai. Pemerintah membuat regulasi yang memasukkan kedelai sebagai komoditas impor non-larangan terbatas (non-lartas) sehingga perusahaan pengimpor bebas memasukkan kedelai ke Indonesia seberapa pun banyaknya. Kebijakan negara untuk melegalkan dominasi impor kedelai merupakan cerminan kuatnya liberalisasi pangan. Indonesia sebagai negara pengikut dalam konstelasi global berada dalam dominasi negara kapitalis (AS) sehingga Indonesia menjadi pasar bagi produk pertanian AS. Dominasi ini tampak dalam keputusan impor pangan yang masif dari negara adikuasa tersebut.\n\nIni adalah konsekuensi adopsi sistem kapitalisme oleh Indonesia dan dunia. Kapitalisme memandang pangan hanya sebagai komoditas yang diperlakukan berbasis prinsip ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebesar-besarnya. Impor lebih menguntungkan bagi para pejabat karena berpotensi mendatangkan keuntungan pribadi bagi dirinya dan pengusaha yang mendukungnya dalam kontestasi politik.\n\nNegara akhirnya menjadi seperti pedagang yang membuat keputusan berdasarkan untung rugi personal, bukan demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, negara lepas tangan dari urusan pangan rakyat dan menyerahkan pada mekanisme pasar.\n\nBerbeda dengan kapitalisme, Islam memandang persoalan pangan bukan sebaga komoditas semata, tetapi kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi negara. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).\n\nKetersediaan pangan akan mewujudkan salah satu maqashidu syariah, yaitu hifzhu nafs (penjagaan jiwa). Hal ini menjadi tanggung jawab penguasa yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda,\n\nأَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).\n\nKhalifah mengurus rakyat dengan prinsip “tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah” (kebijakan imam untuk mengurusi rakyat bergantung pada kemaslahatan), yaitu bahwa setiap kebijakan harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan pribadi penguasa dan kroninya.\n\nPolitik ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan individu per individu. Komoditas pangan strategis (seperti kedelai dan tempe sebagai sumber protein nabati) harus tersedia dalam jumlah cukup, yaitu mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, tanpa ada yang kekurangan atau kesulitan mengakses. Negara tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga kedaulatan pangan. Harga komoditas pangan strategis juga harus terjangkau oleh seluruh rakyat.\n\nNegara harus memperhatikan aspek produksi dan distribusi pangan. Pada aspek produksi, negara memastikan ketersediaan lahan cukup sehingga secara kuantitas bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.\n\nIslam memiliki solusi untuk permasalahan lahan, yaitu pertama, dengan pemberian lahan produktif dari negara pada rakyat (iqtha’). Yang kedua adalah kebolehan menghidupkan tanah mati (ihyaul mawat), yaitu tanah yang ditelantarkan selama tiga tahun berturut-turut terkategori tanah mati dan negara boleh mengambilnya untuk diberikan pada orang yang membutuhkan lahan dan bersedia menggarapnya. Dengan dua solusi ini, problem kekurangan lahan bisa teratasi.\n\nNegara Khilafah juga akan meningkatkan produksi pangan dengan penggunaan bibit unggul sehingga hasilnya lebih banyak dan kualitasnya terjamin. Negara juga akan memfasilitasi petani dengan menyediakan bibit dan pupuk, air irigasi, pestisida, penyuluh pertanian, dan semua alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi pertanian (saprotan).\n\nPembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung logistik dari petani ke pasar maupun konsumen. Teknologi pascapanen akan dikembangkan sehingga hasil panen tidak mudah mengalami susut (penurunan nilai ekonomi). Khilafah juga akan membiayai riset untuk mengembangkan varietas unggul sehingga membantu petani dalam produksi.\n\nNegara memberantas pelaku monopoli dan penimbunan yang bisa merusak harga alami pasar. Infrastruktur antarwilayah dipastikan tersedia dengan baik sehingga distribusi berjalan lancar.\n\nHarga bahan bakar dalam Khilafah akan dijaga agar murah dan stabil sehingga rakyat mudah mengaksesnya. Hal ini bisa terwujud dengan pengelolaan sumber daya alam milik umum (tambang migas) oleh negara, tidak diserahkan pada swasta, apalagi asing.\n\nKesatuan kaum muslim sedunia akan menjamin rantai pasok tetap aman. Jika ada wilayah yang kekurangan pangan strategis tertentu, baik karena paceklik atau hal lainnya, khalifah akan mendatangkan pasokan dari wilayah lain di dalam negara Khilafah. Demikian pula dalam hal penyediaan bahan bakar. Dengan demikian, negara tidak perlu melakukan impor terhadap komoditas strategis. Hal ini akan mencegah negara berada dalam dominasi negara asing.\n\nAllah Taala berfirman,\n\nوَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا\n\n“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’ [4]: 141).\n\nAdapun perdagangan luar negeri diatur bukan dengan orientasi keuntungan semata, melainkan berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan kepentingan dakwah dan jihad. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 161, “Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan tempat asal barang dagangan. Pedagang yang berasal dari negara yang sedang berperang dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya ataupun barang dagangannya. Pedagang yang berasal dari negara yang terikat perjanjian diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita dan mereka. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) dilarang mengekspor bahan-bahan yang diperlukan negara (Khilafah), termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat militer, industri, dan perekonomian musuh. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) tidak dilarang mengimpor barang yang hendak mereka miliki. Dikecualikan dari hukum-hukum ini, negara yang antara kita dan penduduknya terjadi peperangan secara langsung, seperti entitas Zion*s maka ia diperlakukan sebagai negara kafir harbi fi’lan pada semua hubungan dengan negara tersebut, baik hubungan perdagangan maupun nonperdagangan.”\n\nBerdasarkan pasal tersebut, Khilafah haram melakukan kerja sama dagang dengan negara kafir harbi fi’lan, seperti AS. Hanya ada hubungan perang dengan mereka. Dengan demikian, AS tidak akan bisa mendikte Khilafah, termasuk dalam aspek perdagangan (ekspor impor). Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1447083657444392"}}, {"key": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "zilenialdutaislam", "x": 800.9260345770211, "y": 231.55679387271343, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 46.567, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1447083657444392", "id": "zilenialdutaislam", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus\n\nKrisis Kedelai, Tahu dan Tempe Masihkah Murah?\n\nHarga kedelai di Indonesia naik sebagai imbas kenaikan pada tingkat global. Harga kedelai dunia pada 21 Mei 2026 sebesar USD11,94/bushel, naik 18,3% dari awal tahun. Harga ini diprediksi akan naik lagi hingga USD13—14 (Rp230.308—248.024) per bushel setelah adanya kesepakatan pembelian kedelai AS dalam jumlah besar oleh Cina baru-baru ini. (Farm Progress, 18-5-2026). Di Indonesia, Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga kedelai impor di tingkat nasional pada 26 Mei 2026 adalah Rp13.679 per kg, naik 1,12% dibandingkan pada awal tahun.\n\nSelain karena kenaikan harga kedelai dunia, kenaikan harga kedelai di Indonesia juga disebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal tahun hingga menyentuh angka Rp17.906 per dolar AS pada Kamis (28-5-2026).\n\nKenaikan harga tahu dan tempe merupakan sebuah ironi. Pada saat harga ayam, daging, dan ikan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, kini tahu dan tempe pun tidak murah lagi. Alhasil, asupan protein untuk masyarakat makin minim, kualitas gizi masyarakat pun makin menurun.\n\nAlih-alih menyelesaikan masalah produksi dalam negeri, pemerintah justru menggenjot impor kedelai. Pemerintah membuat regulasi yang memasukkan kedelai sebagai komoditas impor non-larangan terbatas (non-lartas) sehingga perusahaan pengimpor bebas memasukkan kedelai ke Indonesia seberapa pun banyaknya. Kebijakan negara untuk melegalkan dominasi impor kedelai merupakan cerminan kuatnya liberalisasi pangan. Indonesia sebagai negara pengikut dalam konstelasi global berada dalam dominasi negara kapitalis (AS) sehingga Indonesia menjadi pasar bagi produk pertanian AS. Dominasi ini tampak dalam keputusan impor pangan yang masif dari negara adikuasa tersebut.\n\nIni adalah konsekuensi adopsi sistem kapitalisme oleh Indonesia dan dunia. Kapitalisme memandang pangan hanya sebagai komoditas yang diperlakukan berbasis prinsip ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebesar-besarnya. Impor lebih menguntungkan bagi para pejabat karena berpotensi mendatangkan keuntungan pribadi bagi dirinya dan pengusaha yang mendukungnya dalam kontestasi politik.\n\nNegara akhirnya menjadi seperti pedagang yang membuat keputusan berdasarkan untung rugi personal, bukan demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, negara lepas tangan dari urusan pangan rakyat dan menyerahkan pada mekanisme pasar.\n\nBerbeda dengan kapitalisme, Islam memandang persoalan pangan bukan sebaga komoditas semata, tetapi kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi negara. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).\n\nKetersediaan pangan akan mewujudkan salah satu maqashidu syariah, yaitu hifzhu nafs (penjagaan jiwa). Hal ini menjadi tanggung jawab penguasa yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda,\n\nأَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).\n\nKhalifah mengurus rakyat dengan prinsip “tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah” (kebijakan imam untuk mengurusi rakyat bergantung pada kemaslahatan), yaitu bahwa setiap kebijakan harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan pribadi penguasa dan kroninya.\n\nPolitik ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan individu per individu. Komoditas pangan strategis (seperti kedelai dan tempe sebagai sumber protein nabati) harus tersedia dalam jumlah cukup, yaitu mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, tanpa ada yang kekurangan atau kesulitan mengakses. Negara tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga kedaulatan pangan. Harga komoditas pangan strategis juga harus terjangkau oleh seluruh rakyat.\n\nNegara harus memperhatikan aspek produksi dan distribusi pangan. Pada aspek produksi, negara memastikan ketersediaan lahan cukup sehingga secara kuantitas bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.\n\nIslam memiliki solusi untuk permasalahan lahan, yaitu pertama, dengan pemberian lahan produktif dari negara pada rakyat (iqtha’). Yang kedua adalah kebolehan menghidupkan tanah mati (ihyaul mawat), yaitu tanah yang ditelantarkan selama tiga tahun berturut-turut terkategori tanah mati dan negara boleh mengambilnya untuk diberikan pada orang yang membutuhkan lahan dan bersedia menggarapnya. Dengan dua solusi ini, problem kekurangan lahan bisa teratasi.\n\nNegara Khilafah juga akan meningkatkan produksi pangan dengan penggunaan bibit unggul sehingga hasilnya lebih banyak dan kualitasnya terjamin. Negara juga akan memfasilitasi petani dengan menyediakan bibit dan pupuk, air irigasi, pestisida, penyuluh pertanian, dan semua alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi pertanian (saprotan).\n\nPembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung logistik dari petani ke pasar maupun konsumen. Teknologi pascapanen akan dikembangkan sehingga hasil panen tidak mudah mengalami susut (penurunan nilai ekonomi). Khilafah juga akan membiayai riset untuk mengembangkan varietas unggul sehingga membantu petani dalam produksi.\n\nNegara memberantas pelaku monopoli dan penimbunan yang bisa merusak harga alami pasar. Infrastruktur antarwilayah dipastikan tersedia dengan baik sehingga distribusi berjalan lancar.\n\nHarga bahan bakar dalam Khilafah akan dijaga agar murah dan stabil sehingga rakyat mudah mengaksesnya. Hal ini bisa terwujud dengan pengelolaan sumber daya alam milik umum (tambang migas) oleh negara, tidak diserahkan pada swasta, apalagi asing.\n\nKesatuan kaum muslim sedunia akan menjamin rantai pasok tetap aman. Jika ada wilayah yang kekurangan pangan strategis tertentu, baik karena paceklik atau hal lainnya, khalifah akan mendatangkan pasokan dari wilayah lain di dalam negara Khilafah. Demikian pula dalam hal penyediaan bahan bakar. Dengan demikian, negara tidak perlu melakukan impor terhadap komoditas strategis. Hal ini akan mencegah negara berada dalam dominasi negara asing.\n\nAllah Taala berfirman,\n\nوَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا\n\n“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’ [4]: 141).\n\nAdapun perdagangan luar negeri diatur bukan dengan orientasi keuntungan semata, melainkan berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan kepentingan dakwah dan jihad. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 161, “Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan tempat asal barang dagangan. Pedagang yang berasal dari negara yang sedang berperang dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya ataupun barang dagangannya. Pedagang yang berasal dari negara yang terikat perjanjian diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita dan mereka. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) dilarang mengekspor bahan-bahan yang diperlukan negara (Khilafah), termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat militer, industri, dan perekonomian musuh. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) tidak dilarang mengimpor barang yang hendak mereka miliki. Dikecualikan dari hukum-hukum ini, negara yang antara kita dan penduduknya terjadi peperangan secara langsung, seperti entitas Zion*s maka ia diperlakukan sebagai negara kafir harbi fi’lan pada semua hubungan dengan negara tersebut, baik hubungan perdagangan maupun nonperdagangan.”\n\nBerdasarkan pasal tersebut, Khilafah haram melakukan kerja sama dagang dengan negara kafir harbi fi’lan, seperti AS. Hanya ada hubungan perang dengan mereka. Dengan demikian, AS tidak akan bisa mendikte Khilafah, termasuk dalam aspek perdagangan (ekspor impor). Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1447083657444392"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "attributes": {"label": "@OpenDialogueByAxis", "x": 857.5633362127315, "y": 880.915871284593, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "@OpenDialogueByAxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "opendialoguebyaxis", "x": 571.5956203919067, "y": 470.81372034829525, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 75.4589, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "opendialoguebyaxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "@VoyageThroughSpace", "attributes": {"label": "@VoyageThroughSpace", "x": 695.8512619178468, "y": 418.76215876879644, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "vf2G0RwttFQ", "id": "@VoyageThroughSpace", "source": "youtube-000001", "content": "20 Petunjuk Kosmik yang Mengguncang Model Standar Kosmologi\n\nKurva rotasi galaksi adalah tanda jelas pertama bahwa alam semesta tidak mengikuti harapan paling sederhana kita. Sejak saat itu, pengamatan demi pengamatan mulai menekan batas-batas kosmologi modern.\n\nBuku \"20 Anomalies That Keep Cosmologists Rethinking the Standard Model\" menelusuri tekanan tersebut secara berurutan: kurva rotasi galaksi datar, Gugus Peluru, ketegangan Hubble, ketidaksesuaian S8, ketidakaturan CMB seperti Bintik Dingin dan keselarasan sumbu, masalah galaksi kerdil, perbedaan litium-7, sinyal materi gelap yang diperdebatkan, percepatan kosmik, dan masalah konstanta kosmologi. Kemudian berlanjut ke bukti yang lebih baru dari JWST, struktur kuasar skala besar, keselarasan putaran galaksi, bias ganda kosmik, sinyal EDGES 21-cm, baryon yang hilang, dan retakan halus dalam pengukuran BAO dan ISW. Kerangka kerja yang diteliti adalah Lambda-CDM, yang dibangun dari relativitas umum, materi gelap, energi gelap, nukleosintesis, dan data presisi dari Planck, DES, KiDS, Fermi-LAT, dan survei supernova sejak tahun 1998. Hasilnya bukanlah penolakan terhadap gambaran standar kosmologi, tetapi penjelasan terukur tentang di mana data masih belum terpecahkan.\n\n#RuangAngkasa #Kosmologi #MateriGelap #TeganganHubble #CMB #JWST #LambdaCDM #Astrofisika\n\nTetap terhubung. Berlangganan.    /   \nLanjutkan penjelajahan 👇\nAnda mungkin menyukai ini: \"Sebelum Ledakan Besar, Fisika Berhenti Berbicara\" —    • Before the BIG BANG, Physics Stops Speaking  \nAnda mungkin menyukai ini: \"Sebuah Galaksi Tampak Terbentuk Terlalu Awal untuk Kosmos\" —    • A Galaxy Looked Settled Far Too Early for ...  \nAnda mungkin menyukai ini: \"15 Kebetulan Kosmik yang Membuat Fisika Tampak Teratur dengan Cermat\" —    • 15 Cosmic Coincidences That Make Physics L...  \nAnda mungkin menyukai ini: \"Sinyal dari Fajar Kosmik yang Tidak Dapat Dicocokkan oleh Kosmologi\" —    • A Signal From Cosmic Dawn That Cosmology C...  \n\n00:00 Kurva Rotasi dan Gugus Peluru\n06:20 Ketegangan Hubble dan S8\n10:35 Fitur-Fitur Aneh CMB\n14:28 Krisis Tiga Galaksi Kerdil\n16:53 Masalah Litium Primordial\n18:52 Kelebihan Positron dan Sinar Gamma\n20:52 Energi Gelap dan Konstanta Kosmologis\n25:04 Galaksi JWST yang Belum Dewasa\n27:17 Anomali Struktur Skala Besar\n32:55 ISW Null dan Birefringensi Kosmik\n37:07 Sinyal EDGES 21-cm\n38:42 Baryon yang Hilang dan Anomali BAO\n42:38 Bobot Kumulatif Anomali", "post_id": "vf2G0RwttFQ"}}, {"key": "voyagethroughspace", "attributes": {"label": "voyagethroughspace", "x": 609.655950473312, "y": 489.03577757508634, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 75.4589, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "vf2G0RwttFQ", "id": "voyagethroughspace", "source": "youtube-000001", "content": "20 Petunjuk Kosmik yang Mengguncang Model Standar Kosmologi\n\nKurva rotasi galaksi adalah tanda jelas pertama bahwa alam semesta tidak mengikuti harapan paling sederhana kita. Sejak saat itu, pengamatan demi pengamatan mulai menekan batas-batas kosmologi modern.\n\nBuku \"20 Anomalies That Keep Cosmologists Rethinking the Standard Model\" menelusuri tekanan tersebut secara berurutan: kurva rotasi galaksi datar, Gugus Peluru, ketegangan Hubble, ketidaksesuaian S8, ketidakaturan CMB seperti Bintik Dingin dan keselarasan sumbu, masalah galaksi kerdil, perbedaan litium-7, sinyal materi gelap yang diperdebatkan, percepatan kosmik, dan masalah konstanta kosmologi. Kemudian berlanjut ke bukti yang lebih baru dari JWST, struktur kuasar skala besar, keselarasan putaran galaksi, bias ganda kosmik, sinyal EDGES 21-cm, baryon yang hilang, dan retakan halus dalam pengukuran BAO dan ISW. Kerangka kerja yang diteliti adalah Lambda-CDM, yang dibangun dari relativitas umum, materi gelap, energi gelap, nukleosintesis, dan data presisi dari Planck, DES, KiDS, Fermi-LAT, dan survei supernova sejak tahun 1998. Hasilnya bukanlah penolakan terhadap gambaran standar kosmologi, tetapi penjelasan terukur tentang di mana data masih belum terpecahkan.\n\n#RuangAngkasa #Kosmologi #MateriGelap #TeganganHubble #CMB #JWST #LambdaCDM #Astrofisika\n\nTetap terhubung. Berlangganan.    /   \nLanjutkan penjelajahan 👇\nAnda mungkin menyukai ini: \"Sebelum Ledakan Besar, Fisika Berhenti Berbicara\" —    • Before the BIG BANG, Physics Stops Speaking  \nAnda mungkin menyukai ini: \"Sebuah Galaksi Tampak Terbentuk Terlalu Awal untuk Kosmos\" —    • A Galaxy Looked Settled Far Too Early for ...  \nAnda mungkin menyukai ini: \"15 Kebetulan Kosmik yang Membuat Fisika Tampak Teratur dengan Cermat\" —    • 15 Cosmic Coincidences That Make Physics L...  \nAnda mungkin menyukai ini: \"Sinyal dari Fajar Kosmik yang Tidak Dapat Dicocokkan oleh Kosmologi\" —    • A Signal From Cosmic Dawn That Cosmology C...  \n\n00:00 Kurva Rotasi dan Gugus Peluru\n06:20 Ketegangan Hubble dan S8\n10:35 Fitur-Fitur Aneh CMB\n14:28 Krisis Tiga Galaksi Kerdil\n16:53 Masalah Litium Primordial\n18:52 Kelebihan Positron dan Sinar Gamma\n20:52 Energi Gelap dan Konstanta Kosmologis\n25:04 Galaksi JWST yang Belum Dewasa\n27:17 Anomali Struktur Skala Besar\n32:55 ISW Null dan Birefringensi Kosmik\n37:07 Sinyal EDGES 21-cm\n38:42 Baryon yang Hilang dan Anomali BAO\n42:38 Bobot Kumulatif Anomali", "post_id": "vf2G0RwttFQ"}}, {"key": "@ChinaLivingLegends", "attributes": {"label": "@ChinaLivingLegends", "x": 285.94489511785383, "y": 982.9857533118197, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.7886, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "PWCJ_h37UPc", "id": "@ChinaLivingLegends", "source": "youtube-000001", "content": "Pria Asing yang Memodernisasi Ekonomi Tiongkok\n\nPada akhir Dinasti Qing, sistem keuangan kekaisaran Tiongkok mengalami salah satu transformasi terpenting dalam sejarahnya.\n\nDi pusat perubahan ini adalah Layanan Bea Cukai Maritim, sebuah lembaga yang sebagian besar dikelola selama beberapa dekade oleh pejabat Inggris, Robert Hart.\n\nMelalui audit yang ketat, reformasi administrasi, dan disiplin birokrasi ala Barat, Kantor Bea Cukai menjadi jauh lebih efisien daripada lembaga pajak tradisional.\n\nPendapatannya akhirnya melampaui pajak tanah, menjadi tulang punggung keuangan negara Qing selama perang dan pemberontakan internal.\n\nVideo ini mengeksplorasi bagaimana sistem fiskal Tiongkok bergeser dari fondasi agraris ke struktur komersial yang terhubung secara global—dan mengapa tekanan asing memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi tersebut.\n\nApakah ini awal dari sistem ekonomi modern Tiongkok, atau adaptasi paksa di bawah pengaruh eksternal?\n\nBerikut adalah penanda waktu bab YouTube berdasarkan transkrip yang diberikan:\n\n00:00:07 Pendahuluan: Skenario yang Tidak Masuk Akal tentang Kontrol IRS Asing\n00:02:26 Kelangsungan Hidup: Evolusi Keuangan Dinasti Qing\n00:02:55 Kantor Bea Cukai: \"Katup\" Kekaisaran\n00:03:26 Robert Hart: Tokoh Asing Terkemuka di Bea Cukai Tiongkok\n00:04:30 Pertumbuhan Pendapatan: Dari 4 Juta menjadi 40 Juta Tael\n00:06:28 Bagaimana Hart Melindungi Bea Cukai dari Korupsi\n00:07:33 Merekayasa Tembok Api: Memisahkan Politik dan Uang\n00:08:46 Standardisasi Akuntansi: Sistem Referensi Silang\n00:09:33 Menemukan Kembali Kompensasi: Memperbaiki \"Tekanan\" Struktural\n00:10:46 Pergeseran Meritokratis: Pendidikan Lebih Penting daripada Puisi\n00:11:33 \"Yes Minister\" Dinamika: Politisi vs. Profesional\n00:12:13 Pergeseran Global: Perdagangan Industri vs. Kebiasaan Tradisional\n00:13:33 Mengalahkan Monopoli Lokal dengan Rantai Pasokan Global\n00:15:13 Membalikkan Kekuasaan: Memajaki Konglomerat Alih-alih Petani\n00:16:33 Titik Balik Eksistensial: Meninggalkan Pajak Agraria\n00:17:56 Ganti Rugi Perang dan Perangkap Deflasi Tersembunyi\n00:19:33 Pemberontakan Taiping: Memutus Mesin Ekonomi Kekaisaran\n00:21:56 Plester yang Gagal: Menjual Gelar dan Merendahkan Nilai Mata Uang\n00:24:06 Pergeseran Permanen: Pajak Transit Darat dan Pungutan Modern\n00:25:23 Pertumbuhan yang Mengejutkan: Peningkatan Pendapatan 800% pada tahun 1910\n00:26:06 Teori Toynbee: \"Goldilocks\" Zona Krisis\n00:28:13 Memikirkan Kembali Tekanan \"Moderat\" dalam Kelangsungan Hidup Eksistensial\n00:29:16 Stimulus: Bagaimana Tekanan Eksternal Memaksa Modernisasi\n00:30:33 Pemikiran Akhir: Biaya Tersembunyi dari Bantuan Keuangan\n👍 DUKUNG SALURAN INI https://buymeacoffee.com/slding\nWise 👉https://wise.com/pay/me/siland10?utm_...\nJika film dokumenter ini membantu Anda memahami sejarah dan ekonomi Tiongkok,\nAnda dapat mendukung saluran ini dengan harga secangkir kopi setiap bulan.\n\natau 👇🏻\n   /   \nTersedia di Amazon (Kindle / KU), 👉https://amzn.to/4uz90yg dan juga sebagai PDF untuk akses langsung jika Anda lebih suka membaca di luar Kindle.\n\n👇🏻\nhttps://buymeacoffee.com/slding/e/542542\n📚 Video ini sepenuhnya berdasarkan sumber sejarah berbahasa Mandarin.\n🧠 Semua riset, pembacaan, dan penulisan naskah dilakukan oleh  dalam bahasa Mandarin.\n\n🤖 Alat AI modern (Notion, Xmind, NotebookLM, terjemahan, suara) digunakan semata-mata untuk produktivitas — wawasan dan narasi sepenuhnya dikurasi oleh manusia.\n\n🔒 © Semua hak dilindungi undang-undang. Harap jangan mengunggah ulang atau menggunakan kembali konten ini tanpa izin. #SejarahTiongkok\n#AkhirDinasti Qing\n#SejarahEkonomi\n#DokumenterSejarah\n#Modernisasi", "post_id": "PWCJ_h37UPc"}}, {"key": "chinalivinglegends", "attributes": {"label": "chinalivinglegends", "x": 181.16650769981578, "y": 285.91610151205657, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.1237, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "PWCJ_h37UPc", "id": "chinalivinglegends", "source": "youtube-000001", "content": "Pria Asing yang Memodernisasi Ekonomi Tiongkok\n\nPada akhir Dinasti Qing, sistem keuangan kekaisaran Tiongkok mengalami salah satu transformasi terpenting dalam sejarahnya.\n\nDi pusat perubahan ini adalah Layanan Bea Cukai Maritim, sebuah lembaga yang sebagian besar dikelola selama beberapa dekade oleh pejabat Inggris, Robert Hart.\n\nMelalui audit yang ketat, reformasi administrasi, dan disiplin birokrasi ala Barat, Kantor Bea Cukai menjadi jauh lebih efisien daripada lembaga pajak tradisional.\n\nPendapatannya akhirnya melampaui pajak tanah, menjadi tulang punggung keuangan negara Qing selama perang dan pemberontakan internal.\n\nVideo ini mengeksplorasi bagaimana sistem fiskal Tiongkok bergeser dari fondasi agraris ke struktur komersial yang terhubung secara global—dan mengapa tekanan asing memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi tersebut.\n\nApakah ini awal dari sistem ekonomi modern Tiongkok, atau adaptasi paksa di bawah pengaruh eksternal?\n\nBerikut adalah penanda waktu bab YouTube berdasarkan transkrip yang diberikan:\n\n00:00:07 Pendahuluan: Skenario yang Tidak Masuk Akal tentang Kontrol IRS Asing\n00:02:26 Kelangsungan Hidup: Evolusi Keuangan Dinasti Qing\n00:02:55 Kantor Bea Cukai: \"Katup\" Kekaisaran\n00:03:26 Robert Hart: Tokoh Asing Terkemuka di Bea Cukai Tiongkok\n00:04:30 Pertumbuhan Pendapatan: Dari 4 Juta menjadi 40 Juta Tael\n00:06:28 Bagaimana Hart Melindungi Bea Cukai dari Korupsi\n00:07:33 Merekayasa Tembok Api: Memisahkan Politik dan Uang\n00:08:46 Standardisasi Akuntansi: Sistem Referensi Silang\n00:09:33 Menemukan Kembali Kompensasi: Memperbaiki \"Tekanan\" Struktural\n00:10:46 Pergeseran Meritokratis: Pendidikan Lebih Penting daripada Puisi\n00:11:33 \"Yes Minister\" Dinamika: Politisi vs. Profesional\n00:12:13 Pergeseran Global: Perdagangan Industri vs. Kebiasaan Tradisional\n00:13:33 Mengalahkan Monopoli Lokal dengan Rantai Pasokan Global\n00:15:13 Membalikkan Kekuasaan: Memajaki Konglomerat Alih-alih Petani\n00:16:33 Titik Balik Eksistensial: Meninggalkan Pajak Agraria\n00:17:56 Ganti Rugi Perang dan Perangkap Deflasi Tersembunyi\n00:19:33 Pemberontakan Taiping: Memutus Mesin Ekonomi Kekaisaran\n00:21:56 Plester yang Gagal: Menjual Gelar dan Merendahkan Nilai Mata Uang\n00:24:06 Pergeseran Permanen: Pajak Transit Darat dan Pungutan Modern\n00:25:23 Pertumbuhan yang Mengejutkan: Peningkatan Pendapatan 800% pada tahun 1910\n00:26:06 Teori Toynbee: \"Goldilocks\" Zona Krisis\n00:28:13 Memikirkan Kembali Tekanan \"Moderat\" dalam Kelangsungan Hidup Eksistensial\n00:29:16 Stimulus: Bagaimana Tekanan Eksternal Memaksa Modernisasi\n00:30:33 Pemikiran Akhir: Biaya Tersembunyi dari Bantuan Keuangan\n👍 DUKUNG SALURAN INI https://buymeacoffee.com/slding\nWise 👉https://wise.com/pay/me/siland10?utm_...\nJika film dokumenter ini membantu Anda memahami sejarah dan ekonomi Tiongkok,\nAnda dapat mendukung saluran ini dengan harga secangkir kopi setiap bulan.\n\natau 👇🏻\n   /   \nTersedia di Amazon (Kindle / KU), 👉https://amzn.to/4uz90yg dan juga sebagai PDF untuk akses langsung jika Anda lebih suka membaca di luar Kindle.\n\n👇🏻\nhttps://buymeacoffee.com/slding/e/542542\n📚 Video ini sepenuhnya berdasarkan sumber sejarah berbahasa Mandarin.\n🧠 Semua riset, pembacaan, dan penulisan naskah dilakukan oleh  dalam bahasa Mandarin.\n\n🤖 Alat AI modern (Notion, Xmind, NotebookLM, terjemahan, suara) digunakan semata-mata untuk produktivitas — wawasan dan narasi sepenuhnya dikurasi oleh manusia.\n\n🔒 © Semua hak dilindungi undang-undang. Harap jangan mengunggah ulang atau menggunakan kembali konten ini tanpa izin. #SejarahTiongkok\n#AkhirDinasti Qing\n#SejarahEkonomi\n#DokumenterSejarah\n#Modernisasi", "post_id": "PWCJ_h37UPc"}}, {"key": "ChinaLivingLegends", "attributes": {"label": "ChinaLivingLegends", "x": 807.6755266182666, "y": 837.6932016792298, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.1237, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "PWCJ_h37UPc", "id": "ChinaLivingLegends", "source": "youtube-000001", "content": "Pria Asing yang Memodernisasi Ekonomi Tiongkok\n\nPada akhir Dinasti Qing, sistem keuangan kekaisaran Tiongkok mengalami salah satu transformasi terpenting dalam sejarahnya.\n\nDi pusat perubahan ini adalah Layanan Bea Cukai Maritim, sebuah lembaga yang sebagian besar dikelola selama beberapa dekade oleh pejabat Inggris, Robert Hart.\n\nMelalui audit yang ketat, reformasi administrasi, dan disiplin birokrasi ala Barat, Kantor Bea Cukai menjadi jauh lebih efisien daripada lembaga pajak tradisional.\n\nPendapatannya akhirnya melampaui pajak tanah, menjadi tulang punggung keuangan negara Qing selama perang dan pemberontakan internal.\n\nVideo ini mengeksplorasi bagaimana sistem fiskal Tiongkok bergeser dari fondasi agraris ke struktur komersial yang terhubung secara global—dan mengapa tekanan asing memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi tersebut.\n\nApakah ini awal dari sistem ekonomi modern Tiongkok, atau adaptasi paksa di bawah pengaruh eksternal?\n\nBerikut adalah penanda waktu bab YouTube berdasarkan transkrip yang diberikan:\n\n00:00:07 Pendahuluan: Skenario yang Tidak Masuk Akal tentang Kontrol IRS Asing\n00:02:26 Kelangsungan Hidup: Evolusi Keuangan Dinasti Qing\n00:02:55 Kantor Bea Cukai: \"Katup\" Kekaisaran\n00:03:26 Robert Hart: Tokoh Asing Terkemuka di Bea Cukai Tiongkok\n00:04:30 Pertumbuhan Pendapatan: Dari 4 Juta menjadi 40 Juta Tael\n00:06:28 Bagaimana Hart Melindungi Bea Cukai dari Korupsi\n00:07:33 Merekayasa Tembok Api: Memisahkan Politik dan Uang\n00:08:46 Standardisasi Akuntansi: Sistem Referensi Silang\n00:09:33 Menemukan Kembali Kompensasi: Memperbaiki \"Tekanan\" Struktural\n00:10:46 Pergeseran Meritokratis: Pendidikan Lebih Penting daripada Puisi\n00:11:33 \"Yes Minister\" Dinamika: Politisi vs. Profesional\n00:12:13 Pergeseran Global: Perdagangan Industri vs. Kebiasaan Tradisional\n00:13:33 Mengalahkan Monopoli Lokal dengan Rantai Pasokan Global\n00:15:13 Membalikkan Kekuasaan: Memajaki Konglomerat Alih-alih Petani\n00:16:33 Titik Balik Eksistensial: Meninggalkan Pajak Agraria\n00:17:56 Ganti Rugi Perang dan Perangkap Deflasi Tersembunyi\n00:19:33 Pemberontakan Taiping: Memutus Mesin Ekonomi Kekaisaran\n00:21:56 Plester yang Gagal: Menjual Gelar dan Merendahkan Nilai Mata Uang\n00:24:06 Pergeseran Permanen: Pajak Transit Darat dan Pungutan Modern\n00:25:23 Pertumbuhan yang Mengejutkan: Peningkatan Pendapatan 800% pada tahun 1910\n00:26:06 Teori Toynbee: \"Goldilocks\" Zona Krisis\n00:28:13 Memikirkan Kembali Tekanan \"Moderat\" dalam Kelangsungan Hidup Eksistensial\n00:29:16 Stimulus: Bagaimana Tekanan Eksternal Memaksa Modernisasi\n00:30:33 Pemikiran Akhir: Biaya Tersembunyi dari Bantuan Keuangan\n👍 DUKUNG SALURAN INI https://buymeacoffee.com/slding\nWise 👉https://wise.com/pay/me/siland10?utm_...\nJika film dokumenter ini membantu Anda memahami sejarah dan ekonomi Tiongkok,\nAnda dapat mendukung saluran ini dengan harga secangkir kopi setiap bulan.\n\natau 👇🏻\n   /   \nTersedia di Amazon (Kindle / KU), 👉https://amzn.to/4uz90yg dan juga sebagai PDF untuk akses langsung jika Anda lebih suka membaca di luar Kindle.\n\n👇🏻\nhttps://buymeacoffee.com/slding/e/542542\n📚 Video ini sepenuhnya berdasarkan sumber sejarah berbahasa Mandarin.\n🧠 Semua riset, pembacaan, dan penulisan naskah dilakukan oleh  dalam bahasa Mandarin.\n\n🤖 Alat AI modern (Notion, Xmind, NotebookLM, terjemahan, suara) digunakan semata-mata untuk produktivitas — wawasan dan narasi sepenuhnya dikurasi oleh manusia.\n\n🔒 © Semua hak dilindungi undang-undang. Harap jangan mengunggah ulang atau menggunakan kembali konten ini tanpa izin. #SejarahTiongkok\n#AkhirDinasti Qing\n#SejarahEkonomi\n#DokumenterSejarah\n#Modernisasi", "post_id": "PWCJ_h37UPc"}}], "edges": [{"key": "iwanpiliang7", "source": "iwanpiliang7", "target": "steve_hanke", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "iwanpiliang7", "source": "iwanpiliang7", "target": "steve_hanke", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "AlhamadKim37129", "source": "AlhamadKim37129", "target": "steve_hanke", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "udanudinudan", "source": "udanudinudan", "target": "99propaganda", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "66320242220", "source": "66320242220", "target": "ruangpikirr.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "vinelsapri_", "source": "vinelsapri_", "target": "cnbcindonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "source": "@OpenDialogueByAxis", "target": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@VoyageThroughSpace", "source": "@VoyageThroughSpace", "target": "voyagethroughspace", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ChinaLivingLegends", "source": "@ChinaLivingLegends", "target": "chinalivinglegends", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ChinaLivingLegends", "source": "@ChinaLivingLegends", "target": "ChinaLivingLegends", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}