{"nodes": [{"key": "Maikel_USMC", "attributes": {"label": "Maikel_USMC", "x": 553.7515798424832, "y": 687.8923751701201, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069685778243109023", "id": "Maikel_USMC", "source": "tweet-000004", "content": "Suku bunga BI rate naik tapi IHSG dan rupiah tetap ambruk dan melemah. Bukan malah menjaga stabilitas rupiah malah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena naiknya suku bunga.", "post_id": "2069685778243109023"}}, {"key": "TirtoID", "attributes": {"label": "TirtoID", "x": 375.33654553392705, "y": 58.115475772318234, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069685778243109023", "id": "TirtoID", "source": "tweet-000004", "content": "Suku bunga BI rate naik tapi IHSG dan rupiah tetap ambruk dan melemah. Bukan malah menjaga stabilitas rupiah malah menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena naiknya suku bunga.", "post_id": "2069685778243109023"}}, {"key": "rangkutifuat", "attributes": {"label": "rangkutifuat", "x": 582.4130645634566, "y": 581.0041784556114, "size": 6.31, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 39.7584, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2069672425000943857", "id": "rangkutifuat", "source": "tweet-000004", "content": "Luar biasa argumentasi Fatimah, tepat, logik dan yg disampaikan kenyataan yg terjadi.\n\nPemerintahan pak Presiden   segeralah berbenah.\n\nAda sitaan mafia 300 Trilyun, mana? Yg terjadi defisit melebar, Rupiah anjlok, utang melonjak dan korupsi merajalela.", "post_id": "2069672425000943857"}}, {"key": "tansuuuw", "attributes": {"label": "tansuuuw", "x": 213.18275645080098, "y": 911.0944981523218, "size": 5.79, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.7825, "eigenvector": 33.4503, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069672425000943857", "id": "tansuuuw", "source": "tweet-000004", "content": "Luar biasa argumentasi Fatimah, tepat, logik dan yg disampaikan kenyataan yg terjadi.\n\nPemerintahan pak Presiden   segeralah berbenah.\n\nAda sitaan mafia 300 Trilyun, mana? Yg terjadi defisit melebar, Rupiah anjlok, utang melonjak dan korupsi merajalela.", "post_id": "2069672425000943857"}}, {"key": "prabowo", "attributes": {"label": "prabowo", "x": 900.0422811882052, "y": 283.44687921171607, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.291, "eigenvector": 143.9291, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2069672425000943857", "id": "prabowo", "source": "tweet-000004", "content": "Luar biasa argumentasi Fatimah, tepat, logik dan yg disampaikan kenyataan yg terjadi.\n\nPemerintahan pak Presiden   segeralah berbenah.\n\nAda sitaan mafia 300 Trilyun, mana? Yg terjadi defisit melebar, Rupiah anjlok, utang melonjak dan korupsi merajalela.", "post_id": "2069672425000943857"}}, {"key": "Gerindra", "attributes": {"label": "Gerindra", "x": 585.1135175502918, "y": 10.536605067211656, "size": 5.79, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.7825, "eigenvector": 33.4503, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069672425000943857", "id": "Gerindra", "source": "tweet-000004", "content": "Luar biasa argumentasi Fatimah, tepat, logik dan yg disampaikan kenyataan yg terjadi.\n\nPemerintahan pak Presiden   segeralah berbenah.\n\nAda sitaan mafia 300 Trilyun, mana? Yg terjadi defisit melebar, Rupiah anjlok, utang melonjak dan korupsi merajalela.", "post_id": "2069672425000943857"}}, {"key": "Kinkin18051341", "attributes": {"label": "Kinkin18051341", "x": 237.5514404642033, "y": 542.2632692989076, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069710968079487065", "id": "Kinkin18051341", "source": "tweet-000004", "content": "Bukti APBN/APBD digunakan mendukung misi PKI mensukseskan WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI dll https://t.co/ITSFFJfinG", "post_id": "2069710968079487065"}}, {"key": "ch_chotimah2", "attributes": {"label": "ch_chotimah2", "x": 771.2510981113076, "y": 754.5808349065555, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.291, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069710968079487065", "id": "ch_chotimah2", "source": "tweet-000004", "content": "Bukti APBN/APBD digunakan mendukung misi PKI mensukseskan WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI dll https://t.co/ITSFFJfinG", "post_id": "2069710968079487065"}}, {"key": "WijayaSuyatmi", "attributes": {"label": "WijayaSuyatmi", "x": 21.068024748820413, "y": 139.56976090828266, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069586668496257246", "id": "WijayaSuyatmi", "source": "tweet-000004", "content": "Presidennya keluar negeri puluhan kali itu juga penyebab anggaran negara keluar ya Pak? Bapak bikin APBN boncos .... rakyat nggak percaya lagi sama Presidennya, apalagi investor asing... itu kan penyebab rupiah melemah... menurut logika saya", "post_id": "2069586668496257246"}}, {"key": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "kalistohenituse", "x": 49.46435671311045, "y": 212.4211636938431, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069586668496257246", "id": "kalistohenituse", "source": "tweet-000004", "content": "Presidennya keluar negeri puluhan kali itu juga penyebab anggaran negara keluar ya Pak? Bapak bikin APBN boncos .... rakyat nggak percaya lagi sama Presidennya, apalagi investor asing... itu kan penyebab rupiah melemah... menurut logika saya", "post_id": "2069586668496257246"}}, {"key": "renanurfiana4", "attributes": {"label": "renanurfiana4", "x": 215.98878809396427, "y": 894.2735775730141, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069793759362179342", "id": "renanurfiana4", "source": "tweet-000004", "content": "50 tahun Belanda + 3,5 tahun Jepang: masih bisa merdeka. 1,5 tahun Prabowo: rupiah ambruk ke 18.000/USD, investor kabur, mahasiswa turun ke jalan teriak \"menuju bangkrut\". \nMakan siang gratis + intervensi gila malah bikin defisit membengkak, bukan pertumbuhan sehat", "post_id": "2069793759362179342"}}, {"key": "qutiews", "attributes": {"label": "qutiews", "x": 213.06489277284024, "y": 779.8734678025282, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069793759362179342", "id": "qutiews", "source": "tweet-000004", "content": "50 tahun Belanda + 3,5 tahun Jepang: masih bisa merdeka. 1,5 tahun Prabowo: rupiah ambruk ke 18.000/USD, investor kabur, mahasiswa turun ke jalan teriak \"menuju bangkrut\". \nMakan siang gratis + intervensi gila malah bikin defisit membengkak, bukan pertumbuhan sehat", "post_id": "2069793759362179342"}}, {"key": "AirinDatangLagi", "attributes": {"label": "AirinDatangLagi", "x": 680.8686329196825, "y": 893.2968526815249, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.291, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069615643717173400", "id": "AirinDatangLagi", "source": "tweet-000004", "content": "Sengaja biar APBN hancur demi cita PKI mensukseskan WNA tikus Tiongkok yang bebas mencuri tambang emas nikel dll ribuan trilyun rupiah per tahun satu dekade lalu berlanjut tanpa pajak dpt fee dilanjutkan memiskinkan pengusaha KADIN HIPMI apindo dll https://t.co/763ZV3O5ol", "post_id": "2069615643717173400"}}, {"key": "wahyu_djanti88", "attributes": {"label": "wahyu_djanti88", "x": 528.0238367040565, "y": 247.83305006927625, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069647861047050339", "id": "wahyu_djanti88", "source": "tweet-000004", "content": "Mo seberapapun hasil jualan SDA masuk ke negara. Kl pengeluarannya utk mega program MBG KDMP sehari pk uang triyunan..tetap sj APBN tekor. Saat jatuh tempo bayar hutang luar negri pk dollar...olenglah nilai rupiah. \nLebih besar pasak drpd tiang. Ambruk!", "post_id": "2069647861047050339"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 343.46992070768357, "y": 286.85159751154856, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069647861047050339", "id": "kompascom", "source": "tweet-000004", "content": "Mo seberapapun hasil jualan SDA masuk ke negara. Kl pengeluarannya utk mega program MBG KDMP sehari pk uang triyunan..tetap sj APBN tekor. Saat jatuh tempo bayar hutang luar negri pk dollar...olenglah nilai rupiah. \nLebih besar pasak drpd tiang. Ambruk!", "post_id": "2069647861047050339"}}, {"key": "phb_1024", "attributes": {"label": "phb_1024", "x": 952.1228188083365, "y": 960.387965085163, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069690935118823773", "id": "phb_1024", "source": "tweet-000004", "content": "Pak Prabowo, kita semua udah tau kok siapa yang bayar demo bayaran. Yang mahasiswa demo murni tuntut harga BBM naik, rupiah ambruk, & MBG boros APBN. Yang bayar orang-orang pro pemerintah malah ketahuan sendiri sama anak-anak kampus 🤭  \n\nKapan transparansi & bukti konkretnya", "post_id": "2069690935118823773"}}, {"key": "Jakartalk", "attributes": {"label": "Jakartalk", "x": 228.6986474403848, "y": 1.8004203373351846, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069690935118823773", "id": "Jakartalk", "source": "tweet-000004", "content": "Pak Prabowo, kita semua udah tau kok siapa yang bayar demo bayaran. Yang mahasiswa demo murni tuntut harga BBM naik, rupiah ambruk, & MBG boros APBN. Yang bayar orang-orang pro pemerintah malah ketahuan sendiri sama anak-anak kampus 🤭  \n\nKapan transparansi & bukti konkretnya", "post_id": "2069690935118823773"}}, {"key": "harristurino", "attributes": {"label": "harristurino", "x": 321.797102554739, "y": 746.4126120785847, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 0, "out_degree": 7, "degree": 7}, "_id": "7652504884503219476", "id": "harristurino", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "Telinga", "attributes": {"label": "Telinga", "x": 400.0864814085991, "y": 637.5530426550607, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7652504884503219476", "id": "Telinga", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "moncongpublik", "attributes": {"label": "moncongpublik", "x": 65.72320753989247, "y": 908.8776270460211, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7652504884503219476", "id": "moncongpublik", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "Banteng", "attributes": {"label": "Banteng", "x": 136.53130588598995, "y": 693.6031346247836, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7652504884503219476", "id": "Banteng", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "PDI", "attributes": {"label": "PDI", "x": 560.2673686602154, "y": 691.3974450493465, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "7652504884503219476", "id": "PDI", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "Gen", "attributes": {"label": "Gen", "x": 105.15281737337313, "y": 924.6243170389514, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7652504884503219476", "id": "Gen", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "Gesuri.id", "attributes": {"label": "Gesuri.id", "x": 461.24437821400187, "y": 448.6284797101479, "size": 3.78, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 27.7729, "eigenvector": 9.3864, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7652504884503219476", "id": "Gesuri.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Mentari bahkan belum benar-benar terbit ketika perjalanan ini harus dimulai. Udara masih dingin, jalanan masih lengang, tetapi agenda sudah memanggil sejak dini hari. Staf pendamping saya bahkan sudah lebih dulu meluncur kemarin menggunakan kendaraan darat, sementara saya memilih kereta api subuh, sekadar mencuri sedikit waktu untuk memejamkan mata di tengah padatnya ritme pekan ini. Memang luar biasa padat. Dalam beberapa hari terakhir, rapat demi rapat berlangsung nyaris tanpa jeda. Pembahasan siklus anggaran di DPR RI sering kali baru selesai mendekati tengah malam, bahkan kadang melewati pergantian hari. Ada seorang teman yang berseloroh kepada saya, “Mas Harris Turino itu anggota Dewan apa kerja rodi sih? Berangkat pagi, pulang hampir pagi terus selama seminggu ini.” Saya hanya tertawa. Tetapi memang begitulah kenyataannya. Salah satu tugas utama DPR RI adalah memastikan setiap anggaran negara disusun dengan tepat, diawasi dengan benar, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dalam masa pembahasan anggaran, semuanya berpacu dengan waktu. Setiap angka dalam APBN bukan sekadar deretan nominal di atas kertas, melainkan amanat rakyat yang harus dipertanggungjawabkan. Di balik setiap rupiah, ada harapan petani, ada kebutuhan nelayan, ada masa depan pendidikan anak-anak, ada pelayanan kesehatan masyarakat kecil yang tidak boleh diabaikan. Lelah tentu ada. Kita ini manusia biasa. Kurang tidur, suara mulai serak, badan pegal karena duduk berjam-jam dalam rapat panjang, itu semua bagian dari konsekuensi tugas. Tetapi amanat konstitusi tidak boleh dijalani dengan keluh kesah. Amanat rakyat harus dilaksanakan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan semangat yang tetap menyala. Sebab jabatan bukan sekadar tentang popularitas atau tepuk tangan, melainkan tentang seberapa besar keberadaan kita bisa memberi arti bagi kehidupan orang lain. Dan pagi ini, perjalanan berlanjut ke Fakultas Hukum Universitas Panca Sakti Tegal. Kita akan berdiskusi tentang tema yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini, “Pinjaman Daring: Penyelamat atau Petaka.” Di satu sisi, pinjaman daring bisa menjadi jalan keluar sementara bagi mereka yang produktif, disiplin, dan memahami risiko. Namun di sisi lain, bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif tanpa perhitungan, pinjaman daring dapat berubah menjadi lingkaran utang yang menghancurkan masa depan. Karena itu, literasi keuangan menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi harus diiringi kedewasaan dalam mengambil keputusan. Jangan sampai kemudahan sesaat justru melahirkan penderitaan panjang. Negara boleh menghadirkan regulasi, lembaga keuangan boleh menawarkan akses, tetapi pada akhirnya yang menentukan adalah kesadaran dan kecerdasan kita dalam mengelola kehidupan. Sampai jumpa pagi ini, teman-teman mahasiswa. Semoga diskusi kita bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga  Anggota   Senayan  Perjuangan Jateng  Perjuangan  Banteng  membangun kesadaran bahwa masa depan tidak boleh digadaikan hanya demi memenuhi keinginan sesaat.", "post_id": "7652504884503219476"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 791.8744534213355, "y": 811.6696075073417, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "NQMO4fZyl70", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Sampai Kapan Subsidi BBM Bisa Bertahan di Tengah Naiknya Harga BBM dan Rupiah Melemah?\n\nKABARBURSA.COM — Menjelang pembahasan RAPBN 2027, pemerintah kembali dihadapkan pada dilema subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan tekanan terhadap rupiah. Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi subsidi energi pada 2024 mencapai Rp177,6 triliun, angka yang menjaga daya beli masyarakat namun juga mempersempit ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat beban subsidi otomatis membesar setiap kali harga minyak dunia naik dan rupiah melemah.\n\nIsu ini penting bagi publik karena menyangkut langsung biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, dan kesehatan APBN jangka panjang. Saksikan ulasan lengkapnya, dan jangan lupa subscribe serta tulis pendapatmu di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#subsidibbm #rapbn2027 #subsidienergi #hargabbm #apbn #fiskalindonesia #kementeriankeuangan #ekonomiindonesia #rupiah #hargaminyakdunia #kebijakanenergi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "NQMO4fZyl70"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 31.917739015733247, "y": 491.1821446630402, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.8164, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NQMO4fZyl70", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Sampai Kapan Subsidi BBM Bisa Bertahan di Tengah Naiknya Harga BBM dan Rupiah Melemah?\n\nKABARBURSA.COM — Menjelang pembahasan RAPBN 2027, pemerintah kembali dihadapkan pada dilema subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak dunia dan tekanan terhadap rupiah. Data Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi subsidi energi pada 2024 mencapai Rp177,6 triliun, angka yang menjaga daya beli masyarakat namun juga mempersempit ruang fiskal untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Ketergantungan Indonesia pada impor energi membuat beban subsidi otomatis membesar setiap kali harga minyak dunia naik dan rupiah melemah.\n\nIsu ini penting bagi publik karena menyangkut langsung biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, dan kesehatan APBN jangka panjang. Saksikan ulasan lengkapnya, dan jangan lupa subscribe serta tulis pendapatmu di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#subsidibbm #rapbn2027 #subsidienergi #hargabbm #apbn #fiskalindonesia #kementeriankeuangan #ekonomiindonesia #rupiah #hargaminyakdunia #kebijakanenergi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "NQMO4fZyl70"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "attributes": {"label": "@TheIndonesiaPost", "x": 125.52024145462748, "y": 722.3177165313081, "size": 13.95, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7656, "eigenvector": 131.3129, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "@TheIndonesiaPost", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}, {"key": "NataliusPigai2", "attributes": {"label": "NataliusPigai2", "x": 512.7539203801821, "y": 255.09918912927031, "size": 12.21, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.2741, "eigenvector": 110.4788, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "NataliusPigai2", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}, {"key": "dpr_ri", "attributes": {"label": "dpr_ri", "x": 539.9975303739474, "y": 814.02102654116, "size": 12.21, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.2741, "eigenvector": 110.4788, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "dpr_ri", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}, {"key": "KomnasHAM", "attributes": {"label": "KomnasHAM", "x": 723.5993563786395, "y": 808.624803323558, "size": 12.21, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.2741, "eigenvector": 110.4788, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "KomnasHAM", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}, {"key": "DivHumas_Polri.", "attributes": {"label": "DivHumas_Polri.", "x": 411.26540459742967, "y": 339.2780847684186, "size": 12.21, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.2741, "eigenvector": 110.4788, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "DivHumas_Polri.", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}, {"key": "KemenkeuRI", "attributes": {"label": "KemenkeuRI", "x": 300.55262879079214, "y": 247.35588457829917, "size": 12.21, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.2741, "eigenvector": 110.4788, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "wdDLqdHbpCg", "id": "KemenkeuRI", "source": "youtube-000001", "content": "With a Rp4 Trillion Human Rights Budget Amidst Calls for Efficiency, Will the Indonesian House o...\n\n🏛️ Anggaran HAM Melesat Jadi Rp4 Triliun di Tengah Efisiensi Fiskal, Akankah DPR RI Meloloskan Permintaan Kontroversial Natalius Pigai? ⚖️💰\n\nUsulan kenaikan anggaran drastis sebesar Rp4 triliun yang diajukan oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memicu perdebatan sengit di parlemen, mengingat pengajuan tersebut dilakukan di tengah kebijakan pengetatan ikat pinggang dan efisiensi APBN yang sedang digalakkan pemerintah. 📊\n\nDalam forum rapat kerja bersama parlemen, Menteri HAM  memaparkan bahwa lonjakan anggaran dari puluhan miliar menjadi triliunan rupiah tersebut sangat krusial untuk membangun infrastruktur kesadaran HAM hingga ke tingkat desa serta memperkuat pengawasan siber perlindungan warga. 🏢\n\nNamun, komisi terkait di  langsung memberikan respons kritis dengan mengingatkan bahwa setiap sen pengeluaran negara harus berbasis pada skala prioritas dan output yang terukur secara empiris. 📉\n\nAnggota legislatif menekankan bahwa di tengah situasi ekonomi yang dinamis, seluruh kementerian di bawah arahan Presiden  dituntut untuk menahan diri dari ego sektoral peninggkatan pagu anggaran, serta fokus pada optimalisasi program yang menyentuh langsung daya beli dan kesejahteraan sosial masyarakat bawah. 💸\n\nDi sisi lain, perdebatan ini mendorong perlunya audit awal yang transparan mengenai cetak biru (blueprint) kerja Kementerian HAM agar anggaran yang diusulkan tidak tumpang tindih dengan fungsi  atau lembaga penegak hukum lainnya seperti  📜 \n\nPengamat kebijakan publik menilai bahwa tuntutan parlemen agar kementerian melakukan restrukturisasi program kerja adalah langkah checks and balances yang sangat sehat demi menjaga marwah tata kelola keuangan negara. 🏛️ \nKoordinasi ketat bersama  menjadi kunci mutlak bagi kepemimpinan baru ini untuk membuktikan bahwa visi besar penegakan hak asasi di Indonesia bisa dicapai melalui kreativitas regulasi dan efisiensi birokrasi, bukan sekadar bertumpu pada besaran nominal dana yang membebani kas negara. 🇮🇩\n\nDampaknya, ketegasan DPR RI dalam menyisir usulan anggaran Rp4 triliun ini akan memaksa Kementerian HAM untuk merancang ulang program kerja yang lebih realistis guna menghindari penolakan total pada sidang paripurna APBN mendatang. ⚠️\n\nMenurut analisis kritis Anda, apakah pengajuan anggaran Rp4 triliun oleh Menteri HAM Natalius Pigai ini realistis untuk mempercepat penegakan hak asasi di Indonesia, ataukah tuntutan DPR untuk efisiensi jauh lebih mendesak di tengah situasi ekonomi saat ini? Tuliskan opini cerdas dan argumen logis Anda di kolom komentar!🤔\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost \n#AnggaranKementerianHAM\n#NataliusPigai\n#DPRRI\n#Anggaran4Triliun\n#EfisiensiAPBN\n#KebijakanPublik\n#HakAsasiManusia\n#BeritaPolitik\n#KementerianKeuangan\n#UpdateParlemen", "post_id": "wdDLqdHbpCg"}}], "edges": [{"key": "Maikel_USMC", "source": "Maikel_USMC", "target": "TirtoID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "rangkutifuat", "source": "rangkutifuat", "target": "tansuuuw", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "rangkutifuat", "source": "rangkutifuat", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "rangkutifuat", "source": "rangkutifuat", "target": "Gerindra", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Kinkin18051341", "source": "Kinkin18051341", "target": "ch_chotimah2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "WijayaSuyatmi", "source": "WijayaSuyatmi", "target": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "renanurfiana4", "source": "renanurfiana4", "target": "qutiews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Kinkin18051341", "source": "Kinkin18051341", "target": "AirinDatangLagi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "wahyu_djanti88", "source": "wahyu_djanti88", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "phb_1024", "source": "phb_1024", "target": "Jakartalk", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Telinga", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "moncongpublik", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Banteng", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "PDI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "PDI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Gen", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Gesuri.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "NataliusPigai2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "dpr_ri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "KomnasHAM", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "DivHumas_Polri.", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "KemenkeuRI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}