{"nodes": [{"key": "laflagasyndere", "attributes": {"label": "laflagasyndere", "x": 184.151706145107, "y": 214.71874916819755, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069434345946075384", "id": "laflagasyndere", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069434345946075384"}}, {"key": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "TradingDiary2", "x": 509.4011774263104, "y": 456.0152719275754, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 92.3345, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 14, "out_degree": 0, "degree": 14}, "_id": "2069434345946075384", "id": "TradingDiary2", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069434345946075384"}}, {"key": "vebxk", "attributes": {"label": "vebxk", "x": 394.1210436930187, "y": 259.44663664962707, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069463157844881796", "id": "vebxk", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069463157844881796"}}, {"key": "ucup_Uhuy15", "attributes": {"label": "ucup_Uhuy15", "x": 684.0345671580662, "y": 264.5344866354905, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069516519026159862", "id": "ucup_Uhuy15", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069516519026159862"}}, {"key": "SponsmanAcc", "attributes": {"label": "SponsmanAcc", "x": 789.4054386115965, "y": 368.3160095245107, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069423962552234178", "id": "SponsmanAcc", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069423962552234178"}}, {"key": "Yudi_snare", "attributes": {"label": "Yudi_snare", "x": 95.23128806294345, "y": 718.853704519279, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069482246596440069", "id": "Yudi_snare", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069482246596440069"}}, {"key": "ZefersonQ", "attributes": {"label": "ZefersonQ", "x": 762.8050928533527, "y": 951.4824883080586, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069432046364361155", "id": "ZefersonQ", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069432046364361155"}}, {"key": "teguhsutrisno92", "attributes": {"label": "teguhsutrisno92", "x": 866.0488454716491, "y": 619.3025496138818, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 125.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069453125455675609", "id": "teguhsutrisno92", "source": "retweet-000002", "content": "Indeks Saham korsel kospi sempat kena halt karena sempat turun hampir 10% asing net sell 2.8 trilyun won sekitar 30 tril…", "post_id": "2069453125455675609"}}, {"key": "Addsmann", "attributes": {"label": "Addsmann", "x": 831.0422505721797, "y": 888.559754288933, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069779243974967700", "id": "Addsmann", "source": "tweet-000004", "content": "sebenarnya kalau begini terus yang dirugikan adalah dana pensiun, asuransi, reksadana saham, dan segala bentuk instrumen keuangan, baik domestik maupun asing yang diinvestasikan dalam saham maupun indeks kelompok saham di Bursa Efek Indonesia.", "post_id": "2069779243974967700"}}, {"key": "ferrykoto", "attributes": {"label": "ferrykoto", "x": 70.04470942927942, "y": 153.12668638144265, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.9733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069779243974967700", "id": "ferrykoto", "source": "tweet-000004", "content": "sebenarnya kalau begini terus yang dirugikan adalah dana pensiun, asuransi, reksadana saham, dan segala bentuk instrumen keuangan, baik domestik maupun asing yang diinvestasikan dalam saham maupun indeks kelompok saham di Bursa Efek Indonesia.", "post_id": "2069779243974967700"}}, {"key": "desmondwira", "attributes": {"label": "desmondwira", "x": 78.6828328442073, "y": 201.34293776012868, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069629997531484561", "id": "desmondwira", "source": "tweet-000004", "content": "Komposisi kepemilikan aset di pasar modal Indonesia didominasi oleh investor domestik, yaitu sebesar 62,77%, sementara investor asing memegang 37,23% dari total aset yang ada. Data 2025\n\nData pasar modal ya, bukan khusus pasar saham", "post_id": "2069629997531484561"}}, {"key": "dulhomot", "attributes": {"label": "dulhomot", "x": 90.26937027780669, "y": 571.6982159281329, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.9733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069629997531484561", "id": "dulhomot", "source": "tweet-000004", "content": "Komposisi kepemilikan aset di pasar modal Indonesia didominasi oleh investor domestik, yaitu sebesar 62,77%, sementara investor asing memegang 37,23% dari total aset yang ada. Data 2025\n\nData pasar modal ya, bukan khusus pasar saham", "post_id": "2069629997531484561"}}, {"key": "FiksiBerfakta", "attributes": {"label": "FiksiBerfakta", "x": 202.0765943979329, "y": 672.388380277484, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069586042102136912", "id": "FiksiBerfakta", "source": "tweet-000004", "content": "Emng ga bisa langsung bng, pemerintah Tiongkok batasi uang asing keluar-masuk demi menjaga mata uang mereka...\n\nSolusinya lewat ADR di bursa AS atau saham di Bursa Hong Kong (HKEX).\n\nApp yang dipake:\n1. Tiger Brokers / Moomoo: Paling gampang dicoba, aksesnya lengkap (bisa AS &", "post_id": "2069586042102136912"}}, {"key": "bobizhar64", "attributes": {"label": "bobizhar64", "x": 434.57362420632785, "y": 926.7778743220198, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069586042102136912", "id": "bobizhar64", "source": "tweet-000004", "content": "Emng ga bisa langsung bng, pemerintah Tiongkok batasi uang asing keluar-masuk demi menjaga mata uang mereka...\n\nSolusinya lewat ADR di bursa AS atau saham di Bursa Hong Kong (HKEX).\n\nApp yang dipake:\n1. Tiger Brokers / Moomoo: Paling gampang dicoba, aksesnya lengkap (bisa AS &", "post_id": "2069586042102136912"}}, {"key": "mr_wayan", "attributes": {"label": "mr_wayan", "x": 585.7939772213422, "y": 240.63318234592745, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069586490238419168", "id": "mr_wayan", "source": "tweet-000004", "content": "Ga bisa langsung bng, pemerintah Tiongkok batasi uang asing keluar-masuk demi menjaga mata uang mereka...  \n\nSolusinya lewat ADR di bursa AS atau saham di Bursa Hong Kong (HKEX).  \n\nApp yang dipake: \n1. Tiger Brokers / Moomoo: Paling gampang dicoba, aksesnya lengkap (bisa AS &", "post_id": "2069586490238419168"}}, {"key": "nexorynstock.id", "attributes": {"label": "nexorynstock.id", "x": 675.0960149092758, "y": 447.33748978246933, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3925494412931760021_56817126886", "id": "nexorynstock.id", "source": "instagram-000001", "content": "🌐 BEI Telusuri Catatan MSCI soal Ketersediaan Bahasa Inggris di Pasar Modal\n\nBursa Efek Indonesia (BEI) tengah menelusuri catatan dari MSCI yang menyoroti ketersediaan informasi pasar modal Indonesia dalam bahasa Inggris. Isu ini menjadi perhatian karena akses informasi yang jelas dan mudah dipahami merupakan salah satu faktor penting bagi investor global.\n\nMSCI menilai masih terdapat beberapa aspek keterbukaan informasi yang perlu ditingkatkan agar investor asing dapat mengakses informasi emiten dan pasar Indonesia dengan lebih mudah. Menanggapi hal tersebut, BEI akan melakukan klarifikasi dan evaluasi lebih lanjut terkait catatan yang diberikan.\n\n📌 Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan status sebagai Emerging Market dalam penilaian MSCI. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki daya tarik di mata investor global.\n\n💡 Yang perlu diperhatikan investor:\n• Transparansi informasi pasar\n• Arus dana investor asing\n• Kepercayaan investor global\n• Perkembangan regulasi pasar modal\n\nMenurut kamu, apakah peningkatan layanan informasi berbahasa Inggris dapat membuat pasar saham Indonesia lebih menarik bagi investor asing?\n\n👇 Tulis pendapatmu di kolom komentar!\n\n—\n📊 Follow  untuk update pasar modal, berita saham, analisis, dan insight investasi setiap hari.\n\n#IHSG #BEI #MSCI #PasarModal #SahamIndonesia #Investasi #StockMarket #InvestorSaham #TradingSaham #BursaEfekIndonesia #FinancialNews #MarketUpdate #NexorynStock #InvestasiIndonesia #SahamHariIni", "post_id": "3925494412931760021_56817126886"}}, {"key": "nexorynstock", "attributes": {"label": "nexorynstock", "x": 485.15745728549456, "y": 201.2664481879255, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 42.9733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3925494412931760021_56817126886", "id": "nexorynstock", "source": "instagram-000001", "content": "🌐 BEI Telusuri Catatan MSCI soal Ketersediaan Bahasa Inggris di Pasar Modal\n\nBursa Efek Indonesia (BEI) tengah menelusuri catatan dari MSCI yang menyoroti ketersediaan informasi pasar modal Indonesia dalam bahasa Inggris. Isu ini menjadi perhatian karena akses informasi yang jelas dan mudah dipahami merupakan salah satu faktor penting bagi investor global.\n\nMSCI menilai masih terdapat beberapa aspek keterbukaan informasi yang perlu ditingkatkan agar investor asing dapat mengakses informasi emiten dan pasar Indonesia dengan lebih mudah. Menanggapi hal tersebut, BEI akan melakukan klarifikasi dan evaluasi lebih lanjut terkait catatan yang diberikan.\n\n📌 Meski demikian, Indonesia masih mempertahankan status sebagai Emerging Market dalam penilaian MSCI. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki daya tarik di mata investor global.\n\n💡 Yang perlu diperhatikan investor:\n• Transparansi informasi pasar\n• Arus dana investor asing\n• Kepercayaan investor global\n• Perkembangan regulasi pasar modal\n\nMenurut kamu, apakah peningkatan layanan informasi berbahasa Inggris dapat membuat pasar saham Indonesia lebih menarik bagi investor asing?\n\n👇 Tulis pendapatmu di kolom komentar!\n\n—\n📊 Follow  untuk update pasar modal, berita saham, analisis, dan insight investasi setiap hari.\n\n#IHSG #BEI #MSCI #PasarModal #SahamIndonesia #Investasi #StockMarket #InvestorSaham #TradingSaham #BursaEfekIndonesia #FinancialNews #MarketUpdate #NexorynStock #InvestasiIndonesia #SahamHariIni", "post_id": "3925494412931760021_56817126886"}}, {"key": "hariankompas", "attributes": {"label": "hariankompas", "x": 867.186359113086, "y": 677.9778111247723, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3926463187386226956_1537212147", "id": "hariankompas", "source": "instagram-000001", "content": "Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Kabar terbaru dari lembaga penyedia indeks saham global MSCI dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai meningkatkan kekhawatiran investor pada pasar saham RI.\n\nIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di level 6.128, terus tertekan sepanjang hari perdagangan. Setelah ditutup melemah signifikan sebesar -99 poin atau -1,62 persen ke level 6.002 di penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG terus merosot hingga menyentuh level 5.900 jelang penutupan pasar. Nilai kapitalisasi pasar pun menyusut hingga Rp 10.400 triliun dari nilai di pembukaan pasar sebesar Rp 10.600 triliun.\n\nSeluruh sektor saham mengalami pelemahan dengan sektor bahan baku dan energi paling dalam turun sekitar 5 persen sampai sekitar pukul 15.00 WIB.\n\nPengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, kepada Kompas, menilai, pelemahan ini dipicu oleh faktor psikologis pasar terhadap stabilitas mata uang dan minimnya daya tarik baru investor asing untuk masuk ke pasar modal.\n\n“Kondisi ini ada hubungannya dengan respons pasar terhadap kembali melemahnya rupiah yang mendekati level 18.000, yang dinilai sebagai indikator kegagalan menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya.\n\nBaca selengkapnya dalam “IHSG Anjlok 3 Persen, Tekanan Rupiah dan MSCI Diduga Jadi Penyebab” oleh Erika Kurnia () di Harian Kompas (Kompas.id). Klik tautan di profil \n\n#Kompas61 #IHSG\n#MerawatMasaDepan", "post_id": "3926463187386226956_1537212147"}}, {"key": "erikaparamisora", "attributes": {"label": "erikaparamisora", "x": 956.1684591549492, "y": 490.03137191449565, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3926463187386226956_1537212147", "id": "erikaparamisora", "source": "instagram-000001", "content": "Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Kabar terbaru dari lembaga penyedia indeks saham global MSCI dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai meningkatkan kekhawatiran investor pada pasar saham RI.\n\nIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di level 6.128, terus tertekan sepanjang hari perdagangan. Setelah ditutup melemah signifikan sebesar -99 poin atau -1,62 persen ke level 6.002 di penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG terus merosot hingga menyentuh level 5.900 jelang penutupan pasar. Nilai kapitalisasi pasar pun menyusut hingga Rp 10.400 triliun dari nilai di pembukaan pasar sebesar Rp 10.600 triliun.\n\nSeluruh sektor saham mengalami pelemahan dengan sektor bahan baku dan energi paling dalam turun sekitar 5 persen sampai sekitar pukul 15.00 WIB.\n\nPengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, kepada Kompas, menilai, pelemahan ini dipicu oleh faktor psikologis pasar terhadap stabilitas mata uang dan minimnya daya tarik baru investor asing untuk masuk ke pasar modal.\n\n“Kondisi ini ada hubungannya dengan respons pasar terhadap kembali melemahnya rupiah yang mendekati level 18.000, yang dinilai sebagai indikator kegagalan menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya.\n\nBaca selengkapnya dalam “IHSG Anjlok 3 Persen, Tekanan Rupiah dan MSCI Diduga Jadi Penyebab” oleh Erika Kurnia () di Harian Kompas (Kompas.id). Klik tautan di profil \n\n#Kompas61 #IHSG\n#MerawatMasaDepan", "post_id": "3926463187386226956_1537212147"}}, {"key": "hariankompas.", "attributes": {"label": "hariankompas.", "x": 39.59031886183417, "y": 876.1303517564897, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3926463187386226956_1537212147", "id": "hariankompas.", "source": "instagram-000001", "content": "Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (24/6/2026). Kabar terbaru dari lembaga penyedia indeks saham global MSCI dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai meningkatkan kekhawatiran investor pada pasar saham RI.\n\nIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka di level 6.128, terus tertekan sepanjang hari perdagangan. Setelah ditutup melemah signifikan sebesar -99 poin atau -1,62 persen ke level 6.002 di penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG terus merosot hingga menyentuh level 5.900 jelang penutupan pasar. Nilai kapitalisasi pasar pun menyusut hingga Rp 10.400 triliun dari nilai di pembukaan pasar sebesar Rp 10.600 triliun.\n\nSeluruh sektor saham mengalami pelemahan dengan sektor bahan baku dan energi paling dalam turun sekitar 5 persen sampai sekitar pukul 15.00 WIB.\n\nPengamat Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, kepada Kompas, menilai, pelemahan ini dipicu oleh faktor psikologis pasar terhadap stabilitas mata uang dan minimnya daya tarik baru investor asing untuk masuk ke pasar modal.\n\n“Kondisi ini ada hubungannya dengan respons pasar terhadap kembali melemahnya rupiah yang mendekati level 18.000, yang dinilai sebagai indikator kegagalan menjaga stabilitas nilai tukar,” ujarnya.\n\nBaca selengkapnya dalam “IHSG Anjlok 3 Persen, Tekanan Rupiah dan MSCI Diduga Jadi Penyebab” oleh Erika Kurnia () di Harian Kompas (Kompas.id). Klik tautan di profil \n\n#Kompas61 #IHSG\n#MerawatMasaDepan", "post_id": "3926463187386226956_1537212147"}}, {"key": "cryptomine25", "attributes": {"label": "cryptomine25", "x": 181.51314352110882, "y": 701.3354077193877, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7596160330154233106", "id": "cryptomine25", "source": "tiktok-000001", "content": "Mulai 1 Februari 2026, otoritas pasar modal Arab Saudi (Capital Market Authority - CMA) akan menerapkan aturan baru yang sangat liberal untuk menarik lebih banyak modal global. Berikut adalah poin-poin utama perubahannya: 1. Penghapusan Status \"Qualified Foreign Investor\" (QFI) Sebelumnya, hanya investor institusi besar dengan kriteria ketat (seperti memiliki aset minimal tertentu) yang boleh berinvestasi langsung di bursa saham Saudi (Tadawul). Mulai bulan depan, syarat ini dihapus. Semua kategori investor asing kini bisa masuk langsung. 2. Kepemilikan Saham Langsung Investor asing kini diberikan hak untuk memiliki saham secara langsung di Pasar Utama (Main Market). Sebelumnya, banyak investor non-residen harus menggunakan mekanisme swap (perjanjian pertukaran) yang lebih rumit untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tanpa memiliki asetnya secara fisik. 3. Tujuan Kebijakan Baru Langkah strategis ini adalah bagian dari Vision 2030 yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk: • Meningkatkan likuiditas pasar modal Saudi yang nilainya mencapai triliunan dolar. • Mendiversifikasi ekonomi agar tidak hanya bergantung pada minyak. • Mempermudah proses investasi bagi individu maupun institusi dari seluruh dunia. Perlu diperhatikan: Meskipun akses dibuka lebar, Arab Saudi tetap menerapkan batas kepemilikan asing agregat (total akumulasi investor asing dalam satu perusahaan) yang biasanya dipatok maksimal 49%, guna menjaga kontrol domestik pada sektor-sektor strategis. Apakah Anda sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi di sana? sumber :  #crypto #news #cryptowave", "post_id": "7596160330154233106"}}, {"key": "CryptoWave", "attributes": {"label": "CryptoWave", "x": 202.03635088925554, "y": 522.1344478109809, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 42.9733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7596160330154233106", "id": "CryptoWave", "source": "tiktok-000001", "content": "Mulai 1 Februari 2026, otoritas pasar modal Arab Saudi (Capital Market Authority - CMA) akan menerapkan aturan baru yang sangat liberal untuk menarik lebih banyak modal global. Berikut adalah poin-poin utama perubahannya: 1. Penghapusan Status \"Qualified Foreign Investor\" (QFI) Sebelumnya, hanya investor institusi besar dengan kriteria ketat (seperti memiliki aset minimal tertentu) yang boleh berinvestasi langsung di bursa saham Saudi (Tadawul). Mulai bulan depan, syarat ini dihapus. Semua kategori investor asing kini bisa masuk langsung. 2. Kepemilikan Saham Langsung Investor asing kini diberikan hak untuk memiliki saham secara langsung di Pasar Utama (Main Market). Sebelumnya, banyak investor non-residen harus menggunakan mekanisme swap (perjanjian pertukaran) yang lebih rumit untuk mendapatkan keuntungan ekonomi tanpa memiliki asetnya secara fisik. 3. Tujuan Kebijakan Baru Langkah strategis ini adalah bagian dari Vision 2030 yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk: • Meningkatkan likuiditas pasar modal Saudi yang nilainya mencapai triliunan dolar. • Mendiversifikasi ekonomi agar tidak hanya bergantung pada minyak. • Mempermudah proses investasi bagi individu maupun institusi dari seluruh dunia. Perlu diperhatikan: Meskipun akses dibuka lebar, Arab Saudi tetap menerapkan batas kepemilikan asing agregat (total akumulasi investor asing dalam satu perusahaan) yang biasanya dipatok maksimal 49%, guna menjaga kontrol domestik pada sektor-sektor strategis. Apakah Anda sedang mempertimbangkan untuk berinvestasi di sana? sumber :  #crypto #news #cryptowave", "post_id": "7596160330154233106"}}, {"key": "aboutinvesment", "attributes": {"label": "aboutinvesment", "x": 715.2956209867951, "y": 118.11654070621613, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7653059231939038482", "id": "aboutinvesment", "source": "tiktok-000001", "content": "Ko Michael Yeoh menjelaskan bahwa kenaikan ekstrem pada yield jangka pendek ini menandakan terjadinya aksi jual massal (flow buangan) oleh investor asing. Fenomena kurva terbalik ini menjadi cerminan bahwa investor merasa khawatir (worry) terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, sehingga mereka mengalihkan asetnya ke jangka panjang. ​Ingat, di Indonesia, pasar obligasi (bonds) dan pasar saham selalu bergerak searah. Jika bonds diobral, pasar saham pun akan ikut tertekan. ​Bagaimana strategi alokasi aset Anda menghadapi situasi makro seperti ini?👉 Source:YT Liputan6  Yeoh official   #clipperhub #MichaelYeoh #clipMYch #bonds #invertedyieldcurve", "post_id": "7653059231939038482"}}, {"key": "Michael", "attributes": {"label": "Michael", "x": 60.24608999664105, "y": 492.9674689733233, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653059231939038482", "id": "Michael", "source": "tiktok-000001", "content": "Ko Michael Yeoh menjelaskan bahwa kenaikan ekstrem pada yield jangka pendek ini menandakan terjadinya aksi jual massal (flow buangan) oleh investor asing. Fenomena kurva terbalik ini menjadi cerminan bahwa investor merasa khawatir (worry) terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, sehingga mereka mengalihkan asetnya ke jangka panjang. ​Ingat, di Indonesia, pasar obligasi (bonds) dan pasar saham selalu bergerak searah. Jika bonds diobral, pasar saham pun akan ikut tertekan. ​Bagaimana strategi alokasi aset Anda menghadapi situasi makro seperti ini?👉 Source:YT Liputan6  Yeoh official   #clipperhub #MichaelYeoh #clipMYch #bonds #invertedyieldcurve", "post_id": "7653059231939038482"}}, {"key": "clipperhub.id", "attributes": {"label": "clipperhub.id", "x": 237.30733945042482, "y": 533.8583911518067, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653059231939038482", "id": "clipperhub.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Ko Michael Yeoh menjelaskan bahwa kenaikan ekstrem pada yield jangka pendek ini menandakan terjadinya aksi jual massal (flow buangan) oleh investor asing. Fenomena kurva terbalik ini menjadi cerminan bahwa investor merasa khawatir (worry) terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, sehingga mereka mengalihkan asetnya ke jangka panjang. ​Ingat, di Indonesia, pasar obligasi (bonds) dan pasar saham selalu bergerak searah. Jika bonds diobral, pasar saham pun akan ikut tertekan. ​Bagaimana strategi alokasi aset Anda menghadapi situasi makro seperti ini?👉 Source:YT Liputan6  Yeoh official   #clipperhub #MichaelYeoh #clipMYch #bonds #invertedyieldcurve", "post_id": "7653059231939038482"}}, {"key": "@ETNow", "attributes": {"label": "@ETNow", "x": 729.165837544687, "y": 444.4736668570426, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "uknUrua5AXA", "id": "@ETNow", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur RBI Angkat Bicara Soal Rupiah, Guncangan Minyak & Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga | Waw...\n\nGubernur RBI Sanjay Malhotra bergabung dengan ET Now untuk percakapan eksklusif tentang prospek ekonomi India di tengah ketidakpastian global, volatilitas minyak mentah, risiko inflasi, dan arah suku bunga di masa depan.\n\nMulai dari pergerakan rupee dan arus masuk asing hingga deposito FCNR, inklusi indeks obligasi, belanja modal swasta, rupee digital, AI di perbankan, dan perlindungan konsumen, Gubernur berbagi wawasan penting tentang bagaimana Bank Sentral India (RBI) menavigasi dunia yang berubah dengan cepat.\n\nAkankah RBI menaikkan suku bunga lagi? Apakah rupee berada di bawah tekanan? Seberapa tangguh ekonomi India dibandingkan dengan krisis masa lalu? Saksikan diskusi komprehensif ini untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan bagi pasar, bisnis, NRI, dan investor.\n\nKendalikan uang Anda dengan kondisi ekonomi saat ini.\n\n#etnow #beritabisnis #gubernurrbi #sanjaymalhotra #rbi #rupee #ekonomiindia #inflasi #sukubunga #pasarsaham\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "uknUrua5AXA"}}, {"key": "etnow", "attributes": {"label": "etnow", "x": 865.75894137396, "y": 24.720095421353783, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "uknUrua5AXA", "id": "etnow", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur RBI Angkat Bicara Soal Rupiah, Guncangan Minyak & Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga | Waw...\n\nGubernur RBI Sanjay Malhotra bergabung dengan ET Now untuk percakapan eksklusif tentang prospek ekonomi India di tengah ketidakpastian global, volatilitas minyak mentah, risiko inflasi, dan arah suku bunga di masa depan.\n\nMulai dari pergerakan rupee dan arus masuk asing hingga deposito FCNR, inklusi indeks obligasi, belanja modal swasta, rupee digital, AI di perbankan, dan perlindungan konsumen, Gubernur berbagi wawasan penting tentang bagaimana Bank Sentral India (RBI) menavigasi dunia yang berubah dengan cepat.\n\nAkankah RBI menaikkan suku bunga lagi? Apakah rupee berada di bawah tekanan? Seberapa tangguh ekonomi India dibandingkan dengan krisis masa lalu? Saksikan diskusi komprehensif ini untuk memahami apa yang akan terjadi di masa depan bagi pasar, bisnis, NRI, dan investor.\n\nKendalikan uang Anda dengan kondisi ekonomi saat ini.\n\n#etnow #beritabisnis #gubernurrbi #sanjaymalhotra #rbi #rupee #ekonomiindia #inflasi #sukubunga #pasarsaham\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "uknUrua5AXA"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "attributes": {"label": "@NDTVProfitIndia", "x": 481.3252876493154, "y": 90.92390902926928, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "hmP4hakOexQ", "id": "@NDTVProfitIndia", "source": "youtube-000001", "content": "Salah Satu Investasi Asing Terbesar di Perbankan India Segera Terjadi? Eksklusif Kesepakatan Emir...\n\nPerkembangan besar di sektor perbankan mungkin akan terjadi hari ini. Sumber-sumber mengindikasikan bahwa Komite Kabinet Bidang Ekonomi mungkin akan membahas transaksi Emirates NBD-RBL Bank yang diusulkan, sebuah kesepakatan yang melibatkan suntikan modal yang signifikan dan akuisisi saham mayoritas. Apa artinya ini bagi RBL Bank dan sektor perbankan secara lebih luas?\n\nSaksikan laporan eksklusif ini untuk semua detailnya!\n\n#RBLBank\n#EmiratesNBD\n#SektorPerbankan\n#SahamBank\n#FDI\n#PerbankanIndia\n#PasarSahamIndia\n#PasarSaham\n#BeritaBisnis\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "hmP4hakOexQ"}}, {"key": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "ndtvprofitindia", "x": 766.9759240578426, "y": 228.08770558640833, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 42.9733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "hmP4hakOexQ", "id": "ndtvprofitindia", "source": "youtube-000001", "content": "Salah Satu Investasi Asing Terbesar di Perbankan India Segera Terjadi? Eksklusif Kesepakatan Emir...\n\nPerkembangan besar di sektor perbankan mungkin akan terjadi hari ini. Sumber-sumber mengindikasikan bahwa Komite Kabinet Bidang Ekonomi mungkin akan membahas transaksi Emirates NBD-RBL Bank yang diusulkan, sebuah kesepakatan yang melibatkan suntikan modal yang signifikan dan akuisisi saham mayoritas. Apa artinya ini bagi RBL Bank dan sektor perbankan secara lebih luas?\n\nSaksikan laporan eksklusif ini untuk semua detailnya!\n\n#RBLBank\n#EmiratesNBD\n#SektorPerbankan\n#SahamBank\n#FDI\n#PerbankanIndia\n#PasarSahamIndia\n#PasarSaham\n#BeritaBisnis\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "hmP4hakOexQ"}}, {"key": "@Talkback_ID", "attributes": {"label": "@Talkback_ID", "x": 816.6006154014309, "y": 57.47721975757791, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 23.2288, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "QJiWBiEEpPA", "id": "@Talkback_ID", "source": "youtube-000001", "content": "Asing Nggak Benar-Benar Kabur? Aria Santoso: Ada Taktik Advanced yang Ritel Belum Paham | Talkback\n\nDi kala pasar modal Indonesia dipenuhi oleh extreme fear dan noise digital yang luar biasa membingungkan, sering kali investor ritel dibuat bingung akan fakta atau hoax belaka. Di  episode TalkBack kali ini, Aria Santoso (President Director CSA Institute & Pemegang CFTe) hadir untuk membongkar jeroan teknikal bursa kita dan melakukan debunking atas segala rumor serta hoax yang sengaja disebar untuk memperbesar ketakutan ritel. Mulai dari skenario worst case vs bullish IHSG, rumor penarikan total dana asing, maraknya oknum yang jualan teori palsu demi exit liquidity, hingga isu Indonesia turun kelas ke Frontier Market.\n\nTonton video ini sampai habis agar kamu ngga lagi menjadi weak hands yang gampang digebrak oleh manipulasi psikologis pasar!\n\n01:23 Opening & Perkenalan Aria Santoso\n01:58 Sentimen Damai Iran & AS di Mata Market\n04:11 Perbedaan Krisis '98, 2008, Pandemi, dan Market 2026\n07:06 Pantulan IHSG Terkini: Apakah Akan Sustain?\n08:48 Variabel Utama Penyebab IHSG Drop Signifikan\n09:53 Level Support Krusial dan Psikologis IHSG (6.000 vs 5.000)\n11:10 Faktor Penggerak IHSG Kembali Tembus Angka 6.000\n11:53 Respons Pemerintah Terhadap Kepanikan Pelemahan Rupiah\n13:43 Prediksi IHSG Akhir Tahun (Skenario Bear, Base, & Bullish)\n16:02 Potensi Bubble AI & Dampak Krisis Global ke Indonesia\n18:06 Tanggapan Tentang Regulasi Pasar Modal Pemerintah\n19:45 Mitos atau Fakta: Dana Asing Benar-Benar Kabur dari Saham RI?\n26:24 Strategi Tekanan Institusi/Negara Asing Terhadap Market Indo\n28:47 Benarkah Pelemahan Rupiah Merupakan Strategi Negara?\n31:09 Isu Penurunan Level RI dari Emerging Market ke Frontier\n32:35 Cara Mengontrol Emosi dan Kepanikan (Fear) di Market\n35:09 Fenomena Hoaks, Pom-pom, dan Jebakan Exit Liquidity\n38:45 Salah Kaprah Retail Membaca Indikator Overbought & Oversold\n40:26 Tips Memilih Sumber Belajar Saham yang Tepat\n43:36 3 Indikator Teknikal Klasik yang Sulit Dimanipulasi (Volume, Price Action, Relative Strength)\n46:26 On The Mind On The Mic: Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Dini\n48:46 Closing\n\nNarasumber: Aria Santoso ()\n\nDukung terus Talkback dengan cara: \n✅ Subscribe Channel Talkback\n✅ Like, Comment, dan Share video ini ke teman investor lainnya!\n\nHost:\nArdina Glenda ()\n\nCollaboration: \nWA 08222 06 99930 (Management)\n\nFinancial Disclaimer:\nKonten ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi semata, bukan merupakan perintah jual atau beli instrumen keuangan apa pun. Investasi saham memiliki risiko. Pastikan Anda melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan finansial.\n\n#Talkback #Saham #AriaSantoso #CSAInstitute #MSCI #Investasi #Trading #IHSG", "post_id": "QJiWBiEEpPA"}}, {"key": "ariasantoso", "attributes": {"label": "ariasantoso", "x": 494.1247225555625, "y": 487.4195166462837, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "QJiWBiEEpPA", "id": "ariasantoso", "source": "youtube-000001", "content": "Asing Nggak Benar-Benar Kabur? Aria Santoso: Ada Taktik Advanced yang Ritel Belum Paham | Talkback\n\nDi kala pasar modal Indonesia dipenuhi oleh extreme fear dan noise digital yang luar biasa membingungkan, sering kali investor ritel dibuat bingung akan fakta atau hoax belaka. Di  episode TalkBack kali ini, Aria Santoso (President Director CSA Institute & Pemegang CFTe) hadir untuk membongkar jeroan teknikal bursa kita dan melakukan debunking atas segala rumor serta hoax yang sengaja disebar untuk memperbesar ketakutan ritel. Mulai dari skenario worst case vs bullish IHSG, rumor penarikan total dana asing, maraknya oknum yang jualan teori palsu demi exit liquidity, hingga isu Indonesia turun kelas ke Frontier Market.\n\nTonton video ini sampai habis agar kamu ngga lagi menjadi weak hands yang gampang digebrak oleh manipulasi psikologis pasar!\n\n01:23 Opening & Perkenalan Aria Santoso\n01:58 Sentimen Damai Iran & AS di Mata Market\n04:11 Perbedaan Krisis '98, 2008, Pandemi, dan Market 2026\n07:06 Pantulan IHSG Terkini: Apakah Akan Sustain?\n08:48 Variabel Utama Penyebab IHSG Drop Signifikan\n09:53 Level Support Krusial dan Psikologis IHSG (6.000 vs 5.000)\n11:10 Faktor Penggerak IHSG Kembali Tembus Angka 6.000\n11:53 Respons Pemerintah Terhadap Kepanikan Pelemahan Rupiah\n13:43 Prediksi IHSG Akhir Tahun (Skenario Bear, Base, & Bullish)\n16:02 Potensi Bubble AI & Dampak Krisis Global ke Indonesia\n18:06 Tanggapan Tentang Regulasi Pasar Modal Pemerintah\n19:45 Mitos atau Fakta: Dana Asing Benar-Benar Kabur dari Saham RI?\n26:24 Strategi Tekanan Institusi/Negara Asing Terhadap Market Indo\n28:47 Benarkah Pelemahan Rupiah Merupakan Strategi Negara?\n31:09 Isu Penurunan Level RI dari Emerging Market ke Frontier\n32:35 Cara Mengontrol Emosi dan Kepanikan (Fear) di Market\n35:09 Fenomena Hoaks, Pom-pom, dan Jebakan Exit Liquidity\n38:45 Salah Kaprah Retail Membaca Indikator Overbought & Oversold\n40:26 Tips Memilih Sumber Belajar Saham yang Tepat\n43:36 3 Indikator Teknikal Klasik yang Sulit Dimanipulasi (Volume, Price Action, Relative Strength)\n46:26 On The Mind On The Mic: Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Dini\n48:46 Closing\n\nNarasumber: Aria Santoso ()\n\nDukung terus Talkback dengan cara: \n✅ Subscribe Channel Talkback\n✅ Like, Comment, dan Share video ini ke teman investor lainnya!\n\nHost:\nArdina Glenda ()\n\nCollaboration: \nWA 08222 06 99930 (Management)\n\nFinancial Disclaimer:\nKonten ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi semata, bukan merupakan perintah jual atau beli instrumen keuangan apa pun. Investasi saham memiliki risiko. Pastikan Anda melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan finansial.\n\n#Talkback #Saham #AriaSantoso #CSAInstitute #MSCI #Investasi #Trading #IHSG", "post_id": "QJiWBiEEpPA"}}, {"key": "ardinaglenda", "attributes": {"label": "ardinaglenda", "x": 441.39047224124516, "y": 665.4248137265304, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 33.101, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "QJiWBiEEpPA", "id": "ardinaglenda", "source": "youtube-000001", "content": "Asing Nggak Benar-Benar Kabur? Aria Santoso: Ada Taktik Advanced yang Ritel Belum Paham | Talkback\n\nDi kala pasar modal Indonesia dipenuhi oleh extreme fear dan noise digital yang luar biasa membingungkan, sering kali investor ritel dibuat bingung akan fakta atau hoax belaka. Di  episode TalkBack kali ini, Aria Santoso (President Director CSA Institute & Pemegang CFTe) hadir untuk membongkar jeroan teknikal bursa kita dan melakukan debunking atas segala rumor serta hoax yang sengaja disebar untuk memperbesar ketakutan ritel. Mulai dari skenario worst case vs bullish IHSG, rumor penarikan total dana asing, maraknya oknum yang jualan teori palsu demi exit liquidity, hingga isu Indonesia turun kelas ke Frontier Market.\n\nTonton video ini sampai habis agar kamu ngga lagi menjadi weak hands yang gampang digebrak oleh manipulasi psikologis pasar!\n\n01:23 Opening & Perkenalan Aria Santoso\n01:58 Sentimen Damai Iran & AS di Mata Market\n04:11 Perbedaan Krisis '98, 2008, Pandemi, dan Market 2026\n07:06 Pantulan IHSG Terkini: Apakah Akan Sustain?\n08:48 Variabel Utama Penyebab IHSG Drop Signifikan\n09:53 Level Support Krusial dan Psikologis IHSG (6.000 vs 5.000)\n11:10 Faktor Penggerak IHSG Kembali Tembus Angka 6.000\n11:53 Respons Pemerintah Terhadap Kepanikan Pelemahan Rupiah\n13:43 Prediksi IHSG Akhir Tahun (Skenario Bear, Base, & Bullish)\n16:02 Potensi Bubble AI & Dampak Krisis Global ke Indonesia\n18:06 Tanggapan Tentang Regulasi Pasar Modal Pemerintah\n19:45 Mitos atau Fakta: Dana Asing Benar-Benar Kabur dari Saham RI?\n26:24 Strategi Tekanan Institusi/Negara Asing Terhadap Market Indo\n28:47 Benarkah Pelemahan Rupiah Merupakan Strategi Negara?\n31:09 Isu Penurunan Level RI dari Emerging Market ke Frontier\n32:35 Cara Mengontrol Emosi dan Kepanikan (Fear) di Market\n35:09 Fenomena Hoaks, Pom-pom, dan Jebakan Exit Liquidity\n38:45 Salah Kaprah Retail Membaca Indikator Overbought & Oversold\n40:26 Tips Memilih Sumber Belajar Saham yang Tepat\n43:36 3 Indikator Teknikal Klasik yang Sulit Dimanipulasi (Volume, Price Action, Relative Strength)\n46:26 On The Mind On The Mic: Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Dini\n48:46 Closing\n\nNarasumber: Aria Santoso ()\n\nDukung terus Talkback dengan cara: \n✅ Subscribe Channel Talkback\n✅ Like, Comment, dan Share video ini ke teman investor lainnya!\n\nHost:\nArdina Glenda ()\n\nCollaboration: \nWA 08222 06 99930 (Management)\n\nFinancial Disclaimer:\nKonten ini dibuat untuk tujuan edukasi dan informasi semata, bukan merupakan perintah jual atau beli instrumen keuangan apa pun. Investasi saham memiliki risiko. Pastikan Anda melakukan riset mandiri (Do Your Own Research) sebelum mengambil keputusan finansial.\n\n#Talkback #Saham #AriaSantoso #CSAInstitute #MSCI #Investasi #Trading #IHSG", "post_id": "QJiWBiEEpPA"}}], "edges": [{"key": "laflagasyndere", "source": "laflagasyndere", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "laflagasyndere", "source": "laflagasyndere", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "vebxk", "source": "vebxk", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "vebxk", "source": "vebxk", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "ucup_Uhuy15", "source": "ucup_Uhuy15", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "ucup_Uhuy15", "source": "ucup_Uhuy15", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "SponsmanAcc", "source": "SponsmanAcc", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "SponsmanAcc", "source": "SponsmanAcc", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Yudi_snare", "source": "Yudi_snare", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Yudi_snare", "source": "Yudi_snare", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "ZefersonQ", "source": "ZefersonQ", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "ZefersonQ", "source": "ZefersonQ", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "teguhsutrisno92", "source": "teguhsutrisno92", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "teguhsutrisno92", "source": "teguhsutrisno92", "target": "TradingDiary2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Addsmann", "source": "Addsmann", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "desmondwira", "source": "desmondwira", "target": "dulhomot", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "FiksiBerfakta", "source": "FiksiBerfakta", "target": "bobizhar64", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "FiksiBerfakta", "source": "FiksiBerfakta", "target": "mr_wayan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "nexorynstock.id", "source": "nexorynstock.id", "target": "nexorynstock", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "erikaparamisora", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "hariankompas.", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "cryptomine25", "source": "cryptomine25", "target": "CryptoWave", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "aboutinvesment", "source": "aboutinvesment", "target": "Michael", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "aboutinvesment", "source": "aboutinvesment", "target": "clipperhub.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@ETNow", "source": "@ETNow", "target": "etnow", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "source": "@NDTVProfitIndia", "target": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Talkback_ID", "source": "@Talkback_ID", "target": "ariasantoso", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Talkback_ID", "source": "@Talkback_ID", "target": "ardinaglenda", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ETNow", "source": "@ETNow", "target": "etnow", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}