{"nodes": [{"key": "black_k00k33", "attributes": {"label": "black_k00k33", "x": 369.34153397617496, "y": 826.3890126984585, "size": 7.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 128.3484, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051139422650065074", "id": "black_k00k33", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051139422650065074"}}, {"key": "RagilSemar", "attributes": {"label": "RagilSemar", "x": 143.0179351906974, "y": 204.24093472580307, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 222.6482, "eigenvector": 358.2574, "in_degree": 12, "out_degree": 2, "degree": 14}, "_id": "2051139422650065074", "id": "RagilSemar", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051139422650065074"}}, {"key": "guan6566", "attributes": {"label": "guan6566", "x": 99.19445456798248, "y": 204.85668816068514, "size": 7.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 128.3484, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051157495129985314", "id": "guan6566", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051157495129985314"}}, {"key": "beautydyah", "attributes": {"label": "beautydyah", "x": 62.41647496960534, "y": 686.1644564149505, "size": 7.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 128.3484, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051136102749417487", "id": "beautydyah", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051136102749417487"}}, {"key": "DarthConscious", "attributes": {"label": "DarthConscious", "x": 458.1349794816488, "y": 348.1713702972951, "size": 7.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 128.3484, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051188971594735934", "id": "DarthConscious", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051188971594735934"}}, {"key": "abah_iman_", "attributes": {"label": "abah_iman_", "x": 437.2187733827312, "y": 779.9895926525777, "size": 7.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 128.3484, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051197152769278047", "id": "abah_iman_", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051197152769278047"}}, {"key": "nido_alfonso", "attributes": {"label": "nido_alfonso", "x": 506.50428993567334, "y": 715.2154207500561, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2050823975106998278", "id": "nido_alfonso", "source": "tweet-000004", "content": "Dengan kurs 17 ribu, lumayan dapat 5,1 M rupiah.. bisa semuanya itu…", "post_id": "2050823975106998278"}}, {"key": "glimmerxy", "attributes": {"label": "glimmerxy", "x": 769.955712655259, "y": 523.0337950307403, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 75.7893, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050823975106998278", "id": "glimmerxy", "source": "tweet-000004", "content": "Dengan kurs 17 ribu, lumayan dapat 5,1 M rupiah.. bisa semuanya itu…", "post_id": "2050823975106998278"}}, {"key": "RWati65", "attributes": {"label": "RWati65", "x": 725.5033897048809, "y": 902.4773775068303, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "2050945928782287212", "id": "RWati65", "source": "tweet-000004", "content": "Prestasi Luar biasa bikin dolar ke titik 17 ribu >\n\nItulah hasil Kerja dari era  dan trs berlanjut di era  \n\nByk bacot doang Para Pejabatnya, tuh lihat dampaknya, nilai Rupiah menurun\n\nMakanya jadi Pemimpin itu harus Baik dan Bijaksana, Istiqomah", "post_id": "2050945928782287212"}}, {"key": "denni_sauya", "attributes": {"label": "denni_sauya", "x": 506.8192991977911, "y": 440.64303747353694, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.6727, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050945928782287212", "id": "denni_sauya", "source": "tweet-000004", "content": "Prestasi Luar biasa bikin dolar ke titik 17 ribu >\n\nItulah hasil Kerja dari era  dan trs berlanjut di era  \n\nByk bacot doang Para Pejabatnya, tuh lihat dampaknya, nilai Rupiah menurun\n\nMakanya jadi Pemimpin itu harus Baik dan Bijaksana, Istiqomah", "post_id": "2050945928782287212"}}, {"key": "Buntat313", "attributes": {"label": "Buntat313", "x": 475.6419361574724, "y": 421.0242208407274, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.6727, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050945928782287212", "id": "Buntat313", "source": "tweet-000004", "content": "Prestasi Luar biasa bikin dolar ke titik 17 ribu >\n\nItulah hasil Kerja dari era  dan trs berlanjut di era  \n\nByk bacot doang Para Pejabatnya, tuh lihat dampaknya, nilai Rupiah menurun\n\nMakanya jadi Pemimpin itu harus Baik dan Bijaksana, Istiqomah", "post_id": "2050945928782287212"}}, {"key": "jokowi", "attributes": {"label": "jokowi", "x": 351.70281692267594, "y": 396.7026778164415, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.6727, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050945928782287212", "id": "jokowi", "source": "tweet-000004", "content": "Prestasi Luar biasa bikin dolar ke titik 17 ribu >\n\nItulah hasil Kerja dari era  dan trs berlanjut di era  \n\nByk bacot doang Para Pejabatnya, tuh lihat dampaknya, nilai Rupiah menurun\n\nMakanya jadi Pemimpin itu harus Baik dan Bijaksana, Istiqomah", "post_id": "2050945928782287212"}}, {"key": "prabowo", "attributes": {"label": "prabowo", "x": 234.71082712758417, "y": 923.4105264855767, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.6727, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050945928782287212", "id": "prabowo", "source": "tweet-000004", "content": "Prestasi Luar biasa bikin dolar ke titik 17 ribu >\n\nItulah hasil Kerja dari era  dan trs berlanjut di era  \n\nByk bacot doang Para Pejabatnya, tuh lihat dampaknya, nilai Rupiah menurun\n\nMakanya jadi Pemimpin itu harus Baik dan Bijaksana, Istiqomah", "post_id": "2050945928782287212"}}, {"key": "hariankompas", "attributes": {"label": "hariankompas", "x": 488.8128710906823, "y": 188.8910976721191, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3889445428417243229_1537212147", "id": "hariankompas", "source": "instagram-000001", "content": "Awal Januari 1998, rupiah seperti kehilangan jangkar. Dari sekitar Rp 2.450 per dolar AS pada Juli 1997, ia amblas, menyentuh Rp 17.000. Di balik angka itu ada perusahaan tutup, pekerja pulang tanpa kepastian. Ada dapur mendadak sunyi.\n\nPada 23 Februari 1998, di Bundaran Hotel Indonesia, sekelompok perempuan berdiri, membawa kegelisahan yang sederhana: harga susu yang melonjak. Tapi, justru di situlah krisis menemukan wajahnya, bukan dalam grafik. Melainkan dalam antrean, dalam kecemasan. Inflasi mencapai 77 persen. Ekonomi Indonesia runtuh. Mahasiswa turun ke jalan.\n\nMereka yang melewati 1998 tahu, itu tak sekadar krisis ekonomi. Peristiwa itu menjadi luka, tersimpan dalam ingatan kolektif. Mungkin karena itu, di Indonesia, nilai tukar tak pernah hanya angka, tetapi seperti detak jantung: sedikit bergejolak, ingatan lama bangkit. Setiap kali rupiah melemah, bayang-bayang Krisis Keuangan Asia 1998 kembali hadir, di pasar, di percakapan—dan mungkin—memengaruhi keputusan.\n\nRupiah, Risiko, dan Ingatan 1998\nOpini 4 Mei 2026\n\nDitulis oleh Muhamad Chatib Basri () \nVisiting Scholar Center for International Development Harvard University\n\n#HarianKompas #Kompasid #OpiniKompas #Ekonomi", "post_id": "3889445428417243229_1537212147"}}, {"key": "chatibbasri", "attributes": {"label": "chatibbasri", "x": 982.5991107280814, "y": 656.5210432977206, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 58.3782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3889445428417243229_1537212147", "id": "chatibbasri", "source": "instagram-000001", "content": "Awal Januari 1998, rupiah seperti kehilangan jangkar. Dari sekitar Rp 2.450 per dolar AS pada Juli 1997, ia amblas, menyentuh Rp 17.000. Di balik angka itu ada perusahaan tutup, pekerja pulang tanpa kepastian. Ada dapur mendadak sunyi.\n\nPada 23 Februari 1998, di Bundaran Hotel Indonesia, sekelompok perempuan berdiri, membawa kegelisahan yang sederhana: harga susu yang melonjak. Tapi, justru di situlah krisis menemukan wajahnya, bukan dalam grafik. Melainkan dalam antrean, dalam kecemasan. Inflasi mencapai 77 persen. Ekonomi Indonesia runtuh. Mahasiswa turun ke jalan.\n\nMereka yang melewati 1998 tahu, itu tak sekadar krisis ekonomi. Peristiwa itu menjadi luka, tersimpan dalam ingatan kolektif. Mungkin karena itu, di Indonesia, nilai tukar tak pernah hanya angka, tetapi seperti detak jantung: sedikit bergejolak, ingatan lama bangkit. Setiap kali rupiah melemah, bayang-bayang Krisis Keuangan Asia 1998 kembali hadir, di pasar, di percakapan—dan mungkin—memengaruhi keputusan.\n\nRupiah, Risiko, dan Ingatan 1998\nOpini 4 Mei 2026\n\nDitulis oleh Muhamad Chatib Basri () \nVisiting Scholar Center for International Development Harvard University\n\n#HarianKompas #Kompasid #OpiniKompas #Ekonomi", "post_id": "3889445428417243229_1537212147"}}, {"key": "voidfolk.media", "attributes": {"label": "voidfolk.media", "x": 185.50354768677624, "y": 741.7220608446875, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 40.9672, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635901599671405842", "id": "voidfolk.media", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Waktu ditanya wartawan soal kondisi Rupiah yang makin melemah sampai ke angka 17 ribu, jawaban Pak Purbaya yang bilang \"nggak tahu\" dan malah menyarankan buat tanya langsung ke bank sentral itu jujur agak mengkhawatirkan ya. Statement kayak gitu secara nggak langsung ngasih gambaran kalau Bank Indonesia sebagai bank sentral dan kementerian terkait itu kayak nggak jalan selaras atau nggak \"duduk bareng\" buat bahas isu krusial ini. Padahal di tengah situasi ekonomi yang lagi gojang-ganjing, kita butuh banget sinergi yang solid di antara mereka. ‎ ‎Kesan yang muncul ke publik jadi seolah-olah ada gap komunikasi yang besar, di mana masing-masing pihak kayak jalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang satu suara. Harusnya sebagai pemegang otoritas kebijakan, mereka bisa lebih kompak dan sinkron dalam menyampaikan narasi ke masyarakat, bukan malah lempar-lemparan tanggung jawab kayak gitu. Kalau komunikasinya aja nggak satu frekuensi, ya wajar kalau publik jadi ragu apakah mereka benar-benar punya strategi yang matang buat stabilin nilai tukar mata uang kita atau nggak. ‎Speaker:   ‎#gemagoeyardi #astronacci ‎#komunitasclipping #astroxkc8 ‎", "post_id": "7635901599671405842"}}, {"key": "gemagoeyardi", "attributes": {"label": "gemagoeyardi", "x": 444.23056492988445, "y": 62.645390260677615, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 75.7893, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635901599671405842", "id": "gemagoeyardi", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Waktu ditanya wartawan soal kondisi Rupiah yang makin melemah sampai ke angka 17 ribu, jawaban Pak Purbaya yang bilang \"nggak tahu\" dan malah menyarankan buat tanya langsung ke bank sentral itu jujur agak mengkhawatirkan ya. Statement kayak gitu secara nggak langsung ngasih gambaran kalau Bank Indonesia sebagai bank sentral dan kementerian terkait itu kayak nggak jalan selaras atau nggak \"duduk bareng\" buat bahas isu krusial ini. Padahal di tengah situasi ekonomi yang lagi gojang-ganjing, kita butuh banget sinergi yang solid di antara mereka. ‎ ‎Kesan yang muncul ke publik jadi seolah-olah ada gap komunikasi yang besar, di mana masing-masing pihak kayak jalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang satu suara. Harusnya sebagai pemegang otoritas kebijakan, mereka bisa lebih kompak dan sinkron dalam menyampaikan narasi ke masyarakat, bukan malah lempar-lemparan tanggung jawab kayak gitu. Kalau komunikasinya aja nggak satu frekuensi, ya wajar kalau publik jadi ragu apakah mereka benar-benar punya strategi yang matang buat stabilin nilai tukar mata uang kita atau nggak. ‎Speaker:   ‎#gemagoeyardi #astronacci ‎#komunitasclipping #astroxkc8 ‎", "post_id": "7635901599671405842"}}], "edges": [{"key": "black_k00k33", "source": "black_k00k33", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "black_k00k33", "source": "black_k00k33", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "guan6566", "source": "guan6566", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "guan6566", "source": "guan6566", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "beautydyah", "source": "beautydyah", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "beautydyah", "source": "beautydyah", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "DarthConscious", "source": "DarthConscious", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "DarthConscious", "source": "DarthConscious", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "RagilSemar", "source": "RagilSemar", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "RagilSemar", "source": "RagilSemar", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "abah_iman_", "source": "abah_iman_", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "abah_iman_", "source": "abah_iman_", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "nido_alfonso", "source": "nido_alfonso", "target": "glimmerxy", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RWati65", "source": "RWati65", "target": "denni_sauya", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RWati65", "source": "RWati65", "target": "Buntat313", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RWati65", "source": "RWati65", "target": "jokowi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RWati65", "source": "RWati65", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "chatibbasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "voidfolk.media", "source": "voidfolk.media", "target": "gemagoeyardi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "chatibbasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}]}