{"nodes": [{"key": "shythappenss", "attributes": {"label": "shythappenss", "x": 799.9677045115326, "y": 94.94082552931538, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2070105237797634240", "id": "shythappenss", "source": "tweet-000004", "content": "Pegang stablecoin rupiah, resikonya udah kena inflasi, depeg, exploit. Manfaat minim, Rugi ditanggung user😹", "post_id": "2070105237797634240"}}, {"key": "iniheksa", "attributes": {"label": "iniheksa", "x": 302.1926757361656, "y": 432.99205265330255, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2070105237797634240", "id": "iniheksa", "source": "tweet-000004", "content": "Pegang stablecoin rupiah, resikonya udah kena inflasi, depeg, exploit. Manfaat minim, Rugi ditanggung user😹", "post_id": "2070105237797634240"}}, {"key": "tsumitobachi_", "attributes": {"label": "tsumitobachi_", "x": 352.7438532808567, "y": 381.1393599595991, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2070180625307627668", "id": "tsumitobachi_", "source": "tweet-000004", "content": "Nder, kalau bisa lebih spesifik doanya, gaji 10 juta di saat ekonomi baik2 saja dan ada penurunan inflasi dari tahun ini. Soalnya kalo gaji 10 juta tapi rupiah melemah dan inflasi tinggi ya tetep gede sih nominalnya, cuman jdi cepet abis aja.", "post_id": "2070180625307627668"}}, {"key": "Baeby_Doun", "attributes": {"label": "Baeby_Doun", "x": 671.1016267480018, "y": 720.4372753272035, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2070180625307627668", "id": "Baeby_Doun", "source": "tweet-000004", "content": "Nder, kalau bisa lebih spesifik doanya, gaji 10 juta di saat ekonomi baik2 saja dan ada penurunan inflasi dari tahun ini. Soalnya kalo gaji 10 juta tapi rupiah melemah dan inflasi tinggi ya tetep gede sih nominalnya, cuman jdi cepet abis aja.", "post_id": "2070180625307627668"}}, {"key": "CulesWarrior", "attributes": {"label": "CulesWarrior", "x": 220.76251011304905, "y": 970.1306903798933, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2070013529193947191", "id": "CulesWarrior", "source": "tweet-000004", "content": "Negara lain: Ngerem belanja demi jinakkin inflasi. \nIndonesia: Malah ngegas belanja jor-joran.\n\nHukum ekonominya gak bisa bohong; anggaran bakal tekor, Rupiah makin megap-megap, dan investor asing bakal mutusin buat 'skip' investasi di sini.", "post_id": "2070013529193947191"}}, {"key": "insidefolkative", "attributes": {"label": "insidefolkative", "x": 857.8206236499235, "y": 623.803281213416, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2070013529193947191", "id": "insidefolkative", "source": "tweet-000004", "content": "Negara lain: Ngerem belanja demi jinakkin inflasi. \nIndonesia: Malah ngegas belanja jor-joran.\n\nHukum ekonominya gak bisa bohong; anggaran bakal tekor, Rupiah makin megap-megap, dan investor asing bakal mutusin buat 'skip' investasi di sini.", "post_id": "2070013529193947191"}}, {"key": "omkumkum", "attributes": {"label": "omkumkum", "x": 605.9889271692962, "y": 992.368850696734, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2070065419696865354", "id": "omkumkum", "source": "tweet-000004", "content": "Semua harus digital baik sistem termasuk uang nya yang mengalir ke Desa, bukan uang rupiah lagi.\n\n3 (Tiga) Sumber Dana Selain Utang Luar Negeri untuk Mengatasi Defisit APBN\nAugust 31, 2025\nhttps://t.co/s5cEe2CJP6\n\nDANA DESA berupa “E-Money Khusus” dalam Sitem “Closed Loop https://t.co/gAPE3ruVrv", "post_id": "2070065419696865354"}}, {"key": "Hidupsebagai62", "attributes": {"label": "Hidupsebagai62", "x": 48.960897238112146, "y": 181.62356005891843, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2070065419696865354", "id": "Hidupsebagai62", "source": "tweet-000004", "content": "Semua harus digital baik sistem termasuk uang nya yang mengalir ke Desa, bukan uang rupiah lagi.\n\n3 (Tiga) Sumber Dana Selain Utang Luar Negeri untuk Mengatasi Defisit APBN\nAugust 31, 2025\nhttps://t.co/s5cEe2CJP6\n\nDANA DESA berupa “E-Money Khusus” dalam Sitem “Closed Loop https://t.co/gAPE3ruVrv", "post_id": "2070065419696865354"}}, {"key": "albarmerik27", "attributes": {"label": "albarmerik27", "x": 227.36788121990458, "y": 164.8616532253556, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069984160115257609", "id": "albarmerik27", "source": "tweet-000004", "content": "goblok MBG itu akar masalah defisit apbn soalnya emg dr awal jadi lahan basah. klo MBG bubar jd bisa dialihkan yg lebih bermanfaat kek contohnya buat gaji guru tadi. ITU baru salah satunya. kalo lu bs mikir secara terstruktur ke depan harusnya sisanya ga perlu gw jelasin lagi ya", "post_id": "2069984160115257609"}}, {"key": "djoniecash2", "attributes": {"label": "djoniecash2", "x": 990.0695662934459, "y": 2.1136282327153255, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069984160115257609", "id": "djoniecash2", "source": "tweet-000004", "content": "goblok MBG itu akar masalah defisit apbn soalnya emg dr awal jadi lahan basah. klo MBG bubar jd bisa dialihkan yg lebih bermanfaat kek contohnya buat gaji guru tadi. ITU baru salah satunya. kalo lu bs mikir secara terstruktur ke depan harusnya sisanya ga perlu gw jelasin lagi ya", "post_id": "2069984160115257609"}}, {"key": "muriclips18", "attributes": {"label": "muriclips18", "x": 442.6565576375614, "y": 174.3476858491999, "size": 9.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7655297164263820562", "id": "muriclips18", "source": "tiktok-000001", "content": "Banyak orang merasa aman karena saldonya utuh. Padahal, rupiah yang menyentuh Rp18.000 bikin daya beli lo anjlok tanpa disadari. Ini kesalahan fatal yang sering dianggap remeh. Uang lo tidak hilang, tapi nilainya habis dimakan krisis. Ada 3 fakta ngeri yang banyak orang tidak sadar: 1. Nilai menyusut 20%: Secara purchasing power, uang 6 juta lo itu kenyataannya cuma bernilai 4,8 juta. 2. Inflasi impor meroket: Indonesia negara net importir, bahan pokok naik tapi bos lo gak akan mau naikin gaji lo. 3. Jebakan kenyamanan: Bertahan di satu sumber income saat krisis adalah cara paling cepat menuju kemiskinan absolut. Jangan mau ditipu oleh angka di layar ATM. Saatnya bangun side hustle dan kuasai high income skill sebelum terlambat. Gaji lo sekarang berapa, masih merasa aman di era krisis ini? Tulis di kolom komentar!  A | Cryptopreneur 🚀💰 #stevenanderson #andersonsteven #stevenandersoncrypto #cryptoclass #andersonnstevenxgcpk1", "post_id": "7655297164263820562"}}, {"key": "Steven", "attributes": {"label": "Steven", "x": 668.2019013750465, "y": 693.4145744956078, "size": 9.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655297164263820562", "id": "Steven", "source": "tiktok-000001", "content": "Banyak orang merasa aman karena saldonya utuh. Padahal, rupiah yang menyentuh Rp18.000 bikin daya beli lo anjlok tanpa disadari. Ini kesalahan fatal yang sering dianggap remeh. Uang lo tidak hilang, tapi nilainya habis dimakan krisis. Ada 3 fakta ngeri yang banyak orang tidak sadar: 1. Nilai menyusut 20%: Secara purchasing power, uang 6 juta lo itu kenyataannya cuma bernilai 4,8 juta. 2. Inflasi impor meroket: Indonesia negara net importir, bahan pokok naik tapi bos lo gak akan mau naikin gaji lo. 3. Jebakan kenyamanan: Bertahan di satu sumber income saat krisis adalah cara paling cepat menuju kemiskinan absolut. Jangan mau ditipu oleh angka di layar ATM. Saatnya bangun side hustle dan kuasai high income skill sebelum terlambat. Gaji lo sekarang berapa, masih merasa aman di era krisis ini? Tulis di kolom komentar!  A | Cryptopreneur 🚀💰 #stevenanderson #andersonsteven #stevenandersoncrypto #cryptoclass #andersonnstevenxgcpk1", "post_id": "7655297164263820562"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "attributes": {"label": "@KompasTVSukabumi", "x": 998.1996743099725, "y": 737.475981294843, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "@KompasTVSukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}, {"key": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "ktvsukabumi", "x": 234.42759107648115, "y": 929.2012294363104, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "ktvsukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}, {"key": "@A.I.IndiaEntertainmentchannel", "attributes": {"label": "@A.I.IndiaEntertainmentchannel", "x": 850.8291159616662, "y": 954.067317052951, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 43.8596, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "aJLk6axnwvo", "id": "@A.I.IndiaEntertainmentchannel", "source": "youtube-000001", "content": "Rupee di Bawah Tekanan - Mengapa Mata Uang India Jatuh pada 2026 dan Apa yang Akan Terjadi Selanj...\n\n\nAIE Finance and World News 2026\nDipresentasikan oleh Harsh, podcaster AI dari AIE.\n\nAIE Music LLC, Cincinnati, AS bertanggung jawab atas keakuratan dan nilai faktual konten ini.\n\nMengapa Rupee India melemah secara dramatis pada tahun 2026? Apakah itu hanya karena dolar AS yang kuat, atau ada cerita yang jauh lebih besar di balik penurunan mata uang tersebut?\n\nDalam episode ini, kita akan melihat secara seimbang dan berdasarkan data kekuatan-kekuatan yang mendorong Rupee India ke titik terendah multi-tahun terhadap mata uang global utama. Kita akan meneliti dampak dari kenaikan harga minyak, ketegangan geopolitik di Asia Barat, arus keluar investor asing, tarif perdagangan AS, defisit perdagangan yang melebar, perbedaan suku bunga antara Federal Reserve AS dan Reserve Bank of India, dan kekuatan dolar AS secara lebih luas.\n\nKita juga akan mengeksplorasi bagaimana pelemahan rupee memengaruhi konsumen sehari-hari melalui inflasi, harga bahan bakar, barang impor, biaya perjalanan, dan pendidikan di luar negeri. Pada saat yang sama, kita membahas potensi manfaat bagi eksportir India, sektor TI, pengiriman uang, dan daya saing jangka panjang.\n\nDengan mengacu pada riset ekonomi, data bank sentral, dan analisis pasar, video ini menjelaskan risiko utama, peluang, dan skenario masa depan yang dihadapi ekonomi India dan rupee di tahun-tahun mendatang.\n\nBaik Anda seorang investor, mahasiswa, pemilik bisnis, pembuat kebijakan, atau sekadar tertarik pada ekonomi global, episode ini memberikan penjelasan yang jelas dan mudah dipahami tentang salah satu kisah keuangan terpenting tahun 2026.\n\n📊 Topik yang Dibahas:\n\nMengapa Rupee India jatuh pada tahun 2026\nHarga minyak dan depresiasi mata uang\nArus keluar investor asing (FPI)\nKebijakan Federal Reserve AS vs RBI\nTarif AS dan ekspor India\nDefisit perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan\nInflasi dan dampaknya terhadap konsumen\nIntervensi RBI dan cadangan devisa\nPrakiraan masa depan untuk USD-INR\nSkenario bullish, dasar, dan bearish\n\n#IndianRupee #INR #RupeeCrisis #IndianEconomy #USDINR #CurrencyMarkets #Economics #Finance #GlobalEconomy #India2026 #Inflation #OilPrices #RBI #FederalReserve #StockMarket #Investing #EconomicAnalysis #DefisitPerdagangan #DefisitNeracaTransaksi #Forex #ValutaAsing", "post_id": "aJLk6axnwvo"}}, {"key": "A.I.IndiaEntertainmentchannel", "attributes": {"label": "A.I.IndiaEntertainmentchannel", "x": 1.6789478263365964, "y": 472.37531418378285, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 81.1404, "eigenvector": 62.5, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "aJLk6axnwvo", "id": "A.I.IndiaEntertainmentchannel", "source": "youtube-000001", "content": "Rupee di Bawah Tekanan - Mengapa Mata Uang India Jatuh pada 2026 dan Apa yang Akan Terjadi Selanj...\n\n\nAIE Finance and World News 2026\nDipresentasikan oleh Harsh, podcaster AI dari AIE.\n\nAIE Music LLC, Cincinnati, AS bertanggung jawab atas keakuratan dan nilai faktual konten ini.\n\nMengapa Rupee India melemah secara dramatis pada tahun 2026? Apakah itu hanya karena dolar AS yang kuat, atau ada cerita yang jauh lebih besar di balik penurunan mata uang tersebut?\n\nDalam episode ini, kita akan melihat secara seimbang dan berdasarkan data kekuatan-kekuatan yang mendorong Rupee India ke titik terendah multi-tahun terhadap mata uang global utama. Kita akan meneliti dampak dari kenaikan harga minyak, ketegangan geopolitik di Asia Barat, arus keluar investor asing, tarif perdagangan AS, defisit perdagangan yang melebar, perbedaan suku bunga antara Federal Reserve AS dan Reserve Bank of India, dan kekuatan dolar AS secara lebih luas.\n\nKita juga akan mengeksplorasi bagaimana pelemahan rupee memengaruhi konsumen sehari-hari melalui inflasi, harga bahan bakar, barang impor, biaya perjalanan, dan pendidikan di luar negeri. Pada saat yang sama, kita membahas potensi manfaat bagi eksportir India, sektor TI, pengiriman uang, dan daya saing jangka panjang.\n\nDengan mengacu pada riset ekonomi, data bank sentral, dan analisis pasar, video ini menjelaskan risiko utama, peluang, dan skenario masa depan yang dihadapi ekonomi India dan rupee di tahun-tahun mendatang.\n\nBaik Anda seorang investor, mahasiswa, pemilik bisnis, pembuat kebijakan, atau sekadar tertarik pada ekonomi global, episode ini memberikan penjelasan yang jelas dan mudah dipahami tentang salah satu kisah keuangan terpenting tahun 2026.\n\n📊 Topik yang Dibahas:\n\nMengapa Rupee India jatuh pada tahun 2026\nHarga minyak dan depresiasi mata uang\nArus keluar investor asing (FPI)\nKebijakan Federal Reserve AS vs RBI\nTarif AS dan ekspor India\nDefisit perdagangan dan defisit neraca transaksi berjalan\nInflasi dan dampaknya terhadap konsumen\nIntervensi RBI dan cadangan devisa\nPrakiraan masa depan untuk USD-INR\nSkenario bullish, dasar, dan bearish\n\n#IndianRupee #INR #RupeeCrisis #IndianEconomy #USDINR #CurrencyMarkets #Economics #Finance #GlobalEconomy #India2026 #Inflation #OilPrices #RBI #FederalReserve #StockMarket #Investing #EconomicAnalysis #DefisitPerdagangan #DefisitNeracaTransaksi #Forex #ValutaAsing", "post_id": "aJLk6axnwvo"}}], "edges": [{"key": "shythappenss", "source": "shythappenss", "target": "iniheksa", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "tsumitobachi_", "source": "tsumitobachi_", "target": "Baeby_Doun", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "CulesWarrior", "source": "CulesWarrior", "target": "insidefolkative", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "omkumkum", "source": "omkumkum", "target": "Hidupsebagai62", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "albarmerik27", "source": "albarmerik27", "target": "djoniecash2", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "muriclips18", "source": "muriclips18", "target": "Steven", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "source": "@KompasTVSukabumi", "target": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@A.I.IndiaEntertainmentchannel", "source": "@A.I.IndiaEntertainmentchannel", "target": "A.I.IndiaEntertainmentchannel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}