{"nodes": [{"key": "Carang_TV", "attributes": {"label": "Carang_TV", "x": 942.143082603861, "y": 929.973726681295, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 54.4713, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069977683283607581", "id": "Carang_TV", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah Melemah ke Rp17.967 per Dolar AS\n\n#Rupiah #Melemah #Dolar #AS #Berita #Info\n\nhttps://t.co/g1zkE8US74", "post_id": "2069977683283607581"}}, {"key": "dms_ambon", "attributes": {"label": "dms_ambon", "x": 77.9263950973309, "y": 96.431268268934, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 77.6216, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2069977683283607581", "id": "dms_ambon", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah Melemah ke Rp17.967 per Dolar AS\n\n#Rupiah #Melemah #Dolar #AS #Berita #Info\n\nhttps://t.co/g1zkE8US74", "post_id": "2069977683283607581"}}, {"key": "Alfa_Rohadi", "attributes": {"label": "Alfa_Rohadi", "x": 126.40877607958112, "y": 115.22842373833042, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 54.4713, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2069657295282487509", "id": "Alfa_Rohadi", "source": "retweet-000002", "content": "MSCI Pertahankan Status Indonesia, Rupiah Justru Melemah ke Rp17.954 per Dolar https://t.co/eCm1TrSM8p lewat …", "post_id": "2069657295282487509"}}, {"key": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "keuangannews_id", "x": 202.32155128300423, "y": 242.4687518201033, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 69.9048, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2069657295282487509", "id": "keuangannews_id", "source": "retweet-000002", "content": "MSCI Pertahankan Status Indonesia, Rupiah Justru Melemah ke Rp17.954 per Dolar https://t.co/eCm1TrSM8p lewat …", "post_id": "2069657295282487509"}}, {"key": "Keuangan", "attributes": {"label": "Keuangan", "x": 510.3862930406182, "y": 15.202390711644863, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 69.9048, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069657295282487509", "id": "Keuangan", "source": "retweet-000002", "content": "MSCI Pertahankan Status Indonesia, Rupiah Justru Melemah ke Rp17.954 per Dolar https://t.co/eCm1TrSM8p lewat …", "post_id": "2069657295282487509"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "bloombergtechnoz", "x": 652.0353665877647, "y": 728.8482926586504, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 363.1396, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3927011601178735059_51748745734", "id": "bloombergtechnoz", "source": "instagram-000001", "content": "Rupiah melemah 0,12% ke Rp17.965/US$ pada perdagangan Kamis pagi (25/6/2026). Pelemahan dipicu penguatan dolar AS di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun.\n\nDari domestik, sentimen negatif datang dari penundaan keputusan MSCI terkait status pasar Indonesia yang memicu tekanan di pasar keuangan. Sementara itu, IHSG berbalik menguat 0,84% ke level 5.933 pada pukul 09.15 WIB setelah sempat bergerak fluktuatif di awal perdagangan.\n\nKlik link di bio untuk detail informasi selengkapnya. Jangan lupa follow  untuk berita dan data menarik lainnya.\n\n#rupiah #dolar #ihsg #saham #bloombergtechnoz", "post_id": "3927011601178735059_51748745734"}}, {"key": "clipp880", "attributes": {"label": "clipp880", "x": 15.267136907057054, "y": 261.0090760809527, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 54.4713, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7655286081704725781", "id": "clipp880", "source": "tiktok-000001", "content": "TITIK KRITIS! 📉 Rupiah Tertekan Konflik Global, Level Rp18.000 per Dolar AS Sudah di Depan Mata! 💸🌍 ​Kondisi pasar finansial dalam negeri lagi mengalami ketegangan serius, guys. Berdasarkan data perdagangan hari Kamis (25/6), nilai tukar Rupiah diproyeksikan bakal bergerak melemah di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.020 per Dolar AS. Jika tren negatif ini terus berlanjut, mata uang kita dipastikan bakal menembus level psikologis baru di angka Rp18.000! ​Biar paham situasinya, ini dia dalang di balik pelemahan dan harapan penyelamatnya: ​💥 Faktor Eksternal (Biang Kerok): Pelemahan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini bikin investor global panik dan ramai-ramai memburu Dolar AS sebagai aset aman (safe haven), walhasil mata uang negara berkembang seperti Rupiah jadi kena imbasnya. ​🛡️ Stimulus Rp26,34 Triliun: Untungnya, pasar domestik masih dapet angin segar. Pemerintah dilaporkan sudah menyiapkan dana stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk memperkuat pondasi ekonomi dalam negeri. ​⏳ Keputusan Krusial MSCI: Kabar baik lainnya, MSCI memutuskan untuk menunda evaluasi pasar Indonesia hingga November 2026. Langkah penundaan ini dinilai sangat membantu dalam menjaga stabilitas dan tingkat kepercayaan investor global terhadap pasar kita. ​Kesimpulannya? Meskipun tekanan eksternal dari konflik luar negeri lagi kuat-kuatnya, kombinasi stimulus pemerintah dan keputusan MSCI diharapkan bisa jadi benteng pertahanan biar Rupiah gak makin ambles lebih dalam lagi. ​Rupiah tertekan konflik geopolitik luar negeri hingga bayang-bayang Rp18.000 mulai nyata... Menurut kalian, apakah dana stimulus Rp26,34 triliun dari pemerintah ini bakal cukup ampuh buat nahan gempuran dolar? Tulis analisis kalian di bawah! 👇💬 Sumber:Tws News  #kontencom #kontencomxtws #rupiah #dolar #indonesia", "post_id": "7655286081704725781"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 52.66011913350466, "y": 588.5197975246473, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 100.7719, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7655286081704725781", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "TITIK KRITIS! 📉 Rupiah Tertekan Konflik Global, Level Rp18.000 per Dolar AS Sudah di Depan Mata! 💸🌍 ​Kondisi pasar finansial dalam negeri lagi mengalami ketegangan serius, guys. Berdasarkan data perdagangan hari Kamis (25/6), nilai tukar Rupiah diproyeksikan bakal bergerak melemah di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.020 per Dolar AS. Jika tren negatif ini terus berlanjut, mata uang kita dipastikan bakal menembus level psikologis baru di angka Rp18.000! ​Biar paham situasinya, ini dia dalang di balik pelemahan dan harapan penyelamatnya: ​💥 Faktor Eksternal (Biang Kerok): Pelemahan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini bikin investor global panik dan ramai-ramai memburu Dolar AS sebagai aset aman (safe haven), walhasil mata uang negara berkembang seperti Rupiah jadi kena imbasnya. ​🛡️ Stimulus Rp26,34 Triliun: Untungnya, pasar domestik masih dapet angin segar. Pemerintah dilaporkan sudah menyiapkan dana stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun untuk memperkuat pondasi ekonomi dalam negeri. ​⏳ Keputusan Krusial MSCI: Kabar baik lainnya, MSCI memutuskan untuk menunda evaluasi pasar Indonesia hingga November 2026. Langkah penundaan ini dinilai sangat membantu dalam menjaga stabilitas dan tingkat kepercayaan investor global terhadap pasar kita. ​Kesimpulannya? Meskipun tekanan eksternal dari konflik luar negeri lagi kuat-kuatnya, kombinasi stimulus pemerintah dan keputusan MSCI diharapkan bisa jadi benteng pertahanan biar Rupiah gak makin ambles lebih dalam lagi. ​Rupiah tertekan konflik geopolitik luar negeri hingga bayang-bayang Rp18.000 mulai nyata... Menurut kalian, apakah dana stimulus Rp26,34 triliun dari pemerintah ini bakal cukup ampuh buat nahan gempuran dolar? Tulis analisis kalian di bawah! 👇💬 Sumber:Tws News  #kontencom #kontencomxtws #rupiah #dolar #indonesia", "post_id": "7655286081704725781"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "attributes": {"label": "@KompasTVSukabumi", "x": 424.21921139040467, "y": 352.7981150956081, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.4713, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "@KompasTVSukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}, {"key": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "ktvsukabumi", "x": 215.5740207802719, "y": 880.5129776765897, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 100.7719, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Q3uRJhRnUXc", "id": "ktvsukabumi", "source": "youtube-000001", "content": "Jaga Rupiah dan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan BI Rate Jadi 5,75 Persen\n\nBANDUNG, KOMPAS.TV - Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Juni 2026 menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran yang ditetapkan pemerintah.\n\nDalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 1718 Juni 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Pada saat yang sama, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility meningkat menjadi 6,50 persen.\n\nBank Indonesia menjelaskan, langkah tersebut merupakan kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah serta sebagai langkah pre-emptive guna menjaga inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,51 persen.\n\nDi sisi lain, nilai tukar rupiah tercatat mengalami penguatan. Per 17 Juni 2026, rupiah berada di level Rp17.730 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,76 persen dibandingkan posisi akhir Mei 2026.\n\nPenguatan rupiah didukung berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia, termasuk peningkatan intensitas intervensi di pasar valuta asing melalui pasar NDF luar negeri (offshore), transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.\n\nSelain itu, Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah melalui sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna memitigasi dampak ketidakpastian global, termasuk pengaruh konflik di Timur Tengah terhadap perekonomian nasional.\n\nSinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendorong pembiayaan yang mendukung program prioritas pemerintah.\n\nSahabat Kompas TV Sukabumi! Jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Sukabumi, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.\n\nSosial Media Kompas TV Sukabumi:\nYouTube :    / kompastvsukabumi  \nInstagram :   / kompastvsukabumi  \nFacebook :   / redaksikompastvsukabumi  \nTwitter : \nTikTok :   / kompastvsukabumi", "post_id": "Q3uRJhRnUXc"}}], "edges": [{"key": "Carang_TV", "source": "Carang_TV", "target": "dms_ambon", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Carang_TV", "source": "Carang_TV", "target": "dms_ambon", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Alfa_Rohadi", "source": "Alfa_Rohadi", "target": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Alfa_Rohadi", "source": "Alfa_Rohadi", "target": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Alfa_Rohadi", "source": "Alfa_Rohadi", "target": "Keuangan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "source": "bloombergtechnoz", "target": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "clipp880", "source": "clipp880", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@KompasTVSukabumi", "source": "@KompasTVSukabumi", "target": "ktvsukabumi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}