{"nodes": [{"key": "boreochoco", "attributes": {"label": "boreochoco", "x": 379.4764548549396, "y": 826.4247693727672, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051314212505604474", "id": "boreochoco", "source": "tweet-000004", "content": "Sentimen dollar? Kemarin dollar melemah harusnya, idealnya rupiah menguat. Tapi apa? Malah rupiah ikut anjlok. Nyalahin apalagi? MSCI? LOL MSCI udah dari bulan apa anjir, ini ATL Rupiah di bulan apa, joko sembung bawa golok", "post_id": "2051314212505604474"}}, {"key": "suhendardadang3", "attributes": {"label": "suhendardadang3", "x": 875.644007914151, "y": 231.10182972191407, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 51.5371, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051314212505604474", "id": "suhendardadang3", "source": "tweet-000004", "content": "Sentimen dollar? Kemarin dollar melemah harusnya, idealnya rupiah menguat. Tapi apa? Malah rupiah ikut anjlok. Nyalahin apalagi? MSCI? LOL MSCI udah dari bulan apa anjir, ini ATL Rupiah di bulan apa, joko sembung bawa golok", "post_id": "2051314212505604474"}}, {"key": "doktermarket", "attributes": {"label": "doktermarket", "x": 690.3949421825133, "y": 348.38099387230056, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 51.5371, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051314212505604474", "id": "doktermarket", "source": "tweet-000004", "content": "Sentimen dollar? Kemarin dollar melemah harusnya, idealnya rupiah menguat. Tapi apa? Malah rupiah ikut anjlok. Nyalahin apalagi? MSCI? LOL MSCI udah dari bulan apa anjir, ini ATL Rupiah di bulan apa, joko sembung bawa golok", "post_id": "2051314212505604474"}}, {"key": "Sega_seth", "attributes": {"label": "Sega_seth", "x": 990.4220731013362, "y": 488.3126451333443, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051685286950982007", "id": "Sega_seth", "source": "tweet-000004", "content": "Masalah dollar ni masalah kepercayaan, investor/rakyat nilai outlook indonesia negatif makanya jual rupiah beli dollar, makanya dollar naik ihsg menkonfirmasi dengan nyungsep belasan % karena outflow besar2an", "post_id": "2051685286950982007"}}, {"key": "BosPurwa", "attributes": {"label": "BosPurwa", "x": 539.3215212606843, "y": 452.91632337988233, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051685286950982007", "id": "BosPurwa", "source": "tweet-000004", "content": "Masalah dollar ni masalah kepercayaan, investor/rakyat nilai outlook indonesia negatif makanya jual rupiah beli dollar, makanya dollar naik ihsg menkonfirmasi dengan nyungsep belasan % karena outflow besar2an", "post_id": "2051685286950982007"}}, {"key": "grok", "attributes": {"label": "grok", "x": 161.60587112812019, "y": 290.1549747911095, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051611666916188543", "id": "grok", "source": "tweet-000004", "content": "Tidak, itu tidak benar. \n\nJustru sebaliknya: saat krisis 1998, rupiah sudah anjlok ke Rp16.800 per USD di akhir masa Soeharto. BJ Habibie (1998-1999) berhasil memperkuat rupiah hingga Rp6.550 per USD lewat reformasi perbankan, independensi BI, dan pemulihan kepercayaan investor.", "post_id": "2051611666916188543"}}, {"key": "joosimns", "attributes": {"label": "joosimns", "x": 781.1800893924886, "y": 426.8816347244242, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 51.5371, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051611666916188543", "id": "joosimns", "source": "tweet-000004", "content": "Tidak, itu tidak benar. \n\nJustru sebaliknya: saat krisis 1998, rupiah sudah anjlok ke Rp16.800 per USD di akhir masa Soeharto. BJ Habibie (1998-1999) berhasil memperkuat rupiah hingga Rp6.550 per USD lewat reformasi perbankan, independensi BI, dan pemulihan kepercayaan investor.", "post_id": "2051611666916188543"}}, {"key": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "kalistohenituse", "x": 378.1450324649229, "y": 231.73399841589472, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 51.5371, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051611666916188543", "id": "kalistohenituse", "source": "tweet-000004", "content": "Tidak, itu tidak benar. \n\nJustru sebaliknya: saat krisis 1998, rupiah sudah anjlok ke Rp16.800 per USD di akhir masa Soeharto. BJ Habibie (1998-1999) berhasil memperkuat rupiah hingga Rp6.550 per USD lewat reformasi perbankan, independensi BI, dan pemulihan kepercayaan investor.", "post_id": "2051611666916188543"}}, {"key": "OptikCitra3", "attributes": {"label": "OptikCitra3", "x": 792.6162707569149, "y": 923.2294058049418, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051567728071413849", "id": "OptikCitra3", "source": "tweet-000004", "content": "Beda kertas dengan real \nDaya beli turun,semua barang naik,rupiah anjlok,9 bahan pokok termasuk beras juga naik, pasar lesu dan kepercayaan publik turun derastis.\nLalu apa yang membuat pertumbuhan ekonomi naik jadi 5,61% ?", "post_id": "2051567728071413849"}}, {"key": "Fahrihamzah", "attributes": {"label": "Fahrihamzah", "x": 225.4425085629912, "y": 902.2026719578095, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051567728071413849", "id": "Fahrihamzah", "source": "tweet-000004", "content": "Beda kertas dengan real \nDaya beli turun,semua barang naik,rupiah anjlok,9 bahan pokok termasuk beras juga naik, pasar lesu dan kepercayaan publik turun derastis.\nLalu apa yang membuat pertumbuhan ekonomi naik jadi 5,61% ?", "post_id": "2051567728071413849"}}, {"key": "Rahmah0845", "attributes": {"label": "Rahmah0845", "x": 741.3770248331157, "y": 237.17295005731555, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051582236194185666", "id": "Rahmah0845", "source": "tweet-000004", "content": "Percuma BI intervensi kalo akar permasalahannya ada di kebijakan fiskal. Kurs Rupiah tergantung pada kepercayaan investor. Investor melihat Indonesia high risk utk menanamkan modal, maka pada tarik duit keluar. Mending investasi di negara yg lebih stabil mata uangnya.", "post_id": "2051582236194185666"}}, {"key": "PaltiHutabarat", "attributes": {"label": "PaltiHutabarat", "x": 610.4926453452683, "y": 891.8374901972196, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051582236194185666", "id": "PaltiHutabarat", "source": "tweet-000004", "content": "Percuma BI intervensi kalo akar permasalahannya ada di kebijakan fiskal. Kurs Rupiah tergantung pada kepercayaan investor. Investor melihat Indonesia high risk utk menanamkan modal, maka pada tarik duit keluar. Mending investasi di negara yg lebih stabil mata uangnya.", "post_id": "2051582236194185666"}}, {"key": "neeurosxience", "attributes": {"label": "neeurosxience", "x": 199.83804791252635, "y": 393.3184421859912, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051284193582457325", "id": "neeurosxience", "source": "tweet-000004", "content": "banyak faktornya, ekspor ke luar lebih kecil daripada impor kita, rendahnya kepercayaan asing buat naruh uang mereka di berbagai lini perekonomian di Indonesia, banyaknya uang rupiah beredar di pasaran, etc. \n\nbanyak kalau dikulik, I have predicted it might worsely sunk to 18.000", "post_id": "2051284193582457325"}}, {"key": "soeyoudieee", "attributes": {"label": "soeyoudieee", "x": 391.9727423204824, "y": 897.9793883867166, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051284193582457325", "id": "soeyoudieee", "source": "tweet-000004", "content": "banyak faktornya, ekspor ke luar lebih kecil daripada impor kita, rendahnya kepercayaan asing buat naruh uang mereka di berbagai lini perekonomian di Indonesia, banyaknya uang rupiah beredar di pasaran, etc. \n\nbanyak kalau dikulik, I have predicted it might worsely sunk to 18.000", "post_id": "2051284193582457325"}}, {"key": "irhamshlaw", "attributes": {"label": "irhamshlaw", "x": 64.9464335190303, "y": 666.5863848592649, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7636212038825561351", "id": "irhamshlaw", "source": "tiktok-000001", "content": "#CapCut Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Senin (4/5/2026). Rupiah turun 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.394 per USD. Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen global, terutama geopolitik masih memberikan tekanan terhadap mata uang. “Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya akan memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz,” tulis Ibrahim dalam risetnya. Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk. Baca selengkapnya di https://www.idxchannel.com/market-news/rupiah-hari-ini-ditutup-melemah-ke-level-rp17394-per-usd Atau klik link di bio  #rupiah #ekonomiindonesia #beritatiktok #fyp", "post_id": "7636212038825561351"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 759.0225123764975, "y": 454.523959148446, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7636212038825561351", "id": "idx_channel", "source": "tiktok-000001", "content": "#CapCut Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada Senin (4/5/2026). Rupiah turun 57 poin atau 0,33 persen ke level Rp17.394 per USD. Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen global, terutama geopolitik masih memberikan tekanan terhadap mata uang. “Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pihaknya akan memulai upaya membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz,” tulis Ibrahim dalam risetnya. Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk. Baca selengkapnya di https://www.idxchannel.com/market-news/rupiah-hari-ini-ditutup-melemah-ke-level-rp17394-per-usd Atau klik link di bio  #rupiah #ekonomiindonesia #beritatiktok #fyp", "post_id": "7636212038825561351"}}, {"key": "shenzhen_1999", "attributes": {"label": "shenzhen_1999", "x": 505.2778690925633, "y": 538.7973853905017, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635996012863180053", "id": "shenzhen_1999", "source": "tiktok-000001", "content": "Nilai tukar rupiah kembali melemah dan kini telah menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang domestik di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang masih dominan, didorong oleh kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Di sisi lain, tekanan eksternal seperti kenaikan harga energi global dan ketegangan geopolitik turut memperburuk sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar domestik. Bank Indonesia sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas serta penguatan kebijakan moneter. #cryptowave  #bismillahfyp #fyppppppppppppppppppppppp", "post_id": "7635996012863180053"}}, {"key": "CryptoWave", "attributes": {"label": "CryptoWave", "x": 597.0401335858583, "y": 464.78488369425787, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635996012863180053", "id": "CryptoWave", "source": "tiktok-000001", "content": "Nilai tukar rupiah kembali melemah dan kini telah menembus level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan ini menandai tekanan lanjutan terhadap mata uang domestik di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu. Pergerakan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang masih dominan, didorong oleh kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Di sisi lain, tekanan eksternal seperti kenaikan harga energi global dan ketegangan geopolitik turut memperburuk sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar domestik. Bank Indonesia sebelumnya telah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valas serta penguatan kebijakan moneter. #cryptowave  #bismillahfyp #fyppppppppppppppppppppppp", "post_id": "7635996012863180053"}}, {"key": "amingandul06", "attributes": {"label": "amingandul06", "x": 257.0942780048202, "y": 194.2040080566695, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 36.1664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul06", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "amingandul", "attributes": {"label": "amingandul", "x": 268.99871782182794, "y": 838.4860095494773, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 66.9078, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}], "edges": [{"key": "boreochoco", "source": "boreochoco", "target": "suhendardadang3", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "boreochoco", "source": "boreochoco", "target": "doktermarket", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Sega_seth", "source": "Sega_seth", "target": "BosPurwa", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "joosimns", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "OptikCitra3", "source": "OptikCitra3", "target": "Fahrihamzah", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Rahmah0845", "source": "Rahmah0845", "target": "PaltiHutabarat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "neeurosxience", "source": "neeurosxience", "target": "soeyoudieee", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "irhamshlaw", "source": "irhamshlaw", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "shenzhen_1999", "source": "shenzhen_1999", "target": "CryptoWave", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "amingandul06", "source": "amingandul06", "target": "amingandul", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}]}