{"nodes": [{"key": "bluebearys_", "attributes": {"label": "bluebearys_", "x": 417.8486044076276, "y": 264.4345457803465, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051495625863418083", "id": "bluebearys_", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051495625863418083"}}, {"key": "NyemilQ", "attributes": {"label": "NyemilQ", "x": 169.92785816786437, "y": 619.4738080157399, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 92.5504, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "2051495625863418083", "id": "NyemilQ", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051495625863418083"}}, {"key": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "MurtadhaOne1", "x": 635.2118947091576, "y": 596.8660663873848, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 92.5504, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "2051495625863418083", "id": "MurtadhaOne1", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051495625863418083"}}, {"key": "belummandipagi", "attributes": {"label": "belummandipagi", "x": 657.6200431788541, "y": 703.1966202426346, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051512502840918146", "id": "belummandipagi", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051512502840918146"}}, {"key": "NaonNaomi", "attributes": {"label": "NaonNaomi", "x": 309.468678231681, "y": 270.3664738866418, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051644361746850207", "id": "NaonNaomi", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051644361746850207"}}, {"key": "archerust", "attributes": {"label": "archerust", "x": 822.639143836182, "y": 285.4011024581282, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051672911451488480", "id": "archerust", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051672911451488480"}}, {"key": "aaacelll", "attributes": {"label": "aaacelll", "x": 41.042296478729035, "y": 406.5026127094199, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 142.8571, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051552536323350839", "id": "aaacelll", "source": "retweet-000002", "content": "Mungkin bakalan ada statemen dari gendut, \"Rupiah melemah tapi fundamental negara kita masih kuat, daya beli mas…", "post_id": "2051552536323350839"}}, {"key": "doimucenah", "attributes": {"label": "doimucenah", "x": 955.194796502498, "y": 460.2168310163319, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051573256826835317", "id": "doimucenah", "source": "tweet-000004", "content": "Pasti. Begitu rupiah melemah, efeknya langsung berantai \n\nharga impor naik, biaya produksi ikut naik, ujungnya harga ke konsumen juga naik.  \n\nKalau udah gitu, daya beli turun, bisnis ikut kena, dan bisa lanjut ke perlambatan ekonomi.", "post_id": "2051573256826835317"}}, {"key": "scroopnoopers", "attributes": {"label": "scroopnoopers", "x": 302.42209804070706, "y": 890.8751919297938, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 70.8489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051573256826835317", "id": "scroopnoopers", "source": "tweet-000004", "content": "Pasti. Begitu rupiah melemah, efeknya langsung berantai \n\nharga impor naik, biaya produksi ikut naik, ujungnya harga ke konsumen juga naik.  \n\nKalau udah gitu, daya beli turun, bisnis ikut kena, dan bisa lanjut ke perlambatan ekonomi.", "post_id": "2051573256826835317"}}, {"key": "ikur12_iwan", "attributes": {"label": "ikur12_iwan", "x": 892.664236965092, "y": 522.3610935545961, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 7, "degree": 7}, "_id": "2051698539726840320", "id": "ikur12_iwan", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "ongen_id", "attributes": {"label": "ongen_id", "x": 841.3572676537176, "y": 161.39161957376936, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2051698539726840320", "id": "ongen_id", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "saiful_mujani", "attributes": {"label": "saiful_mujani", "x": 441.55809495765044, "y": 577.1340114149558, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051698539726840320", "id": "saiful_mujani", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "feriamsari", "attributes": {"label": "feriamsari", "x": 931.9406673957044, "y": 215.1456402355566, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051698539726840320", "id": "feriamsari", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "msaid_didu", "attributes": {"label": "msaid_didu", "x": 598.4606691901627, "y": 303.85973898832475, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051698539726840320", "id": "msaid_didu", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "islah_bahrawi", "attributes": {"label": "islah_bahrawi", "x": 23.48256009966354, "y": 967.5719694592668, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051698539726840320", "id": "islah_bahrawi", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "GunRomli", "attributes": {"label": "GunRomli", "x": 371.90069981731256, "y": 396.2586489203441, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051698539726840320", "id": "GunRomli", "source": "tweet-000004", "content": "quarter 1 tertolong konsumsi bulan puasa dul!\n\nkalo mmg pertumbuhan 5%, apa itu pertumbuhan yg merata atau cm karena parameter tertentu saja di catat meningkat? sementara pengangguran semakin meningkat, daya beli menurun dsb\n\nngen ngen..\nbelom lagi di Q2 rupiah melemah", "post_id": "2051698539726840320"}}, {"key": "amingandul06", "attributes": {"label": "amingandul06", "x": 189.30410139519503, "y": 130.10047381612299, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul06", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "amingandul", "attributes": {"label": "amingandul", "x": 857.5862872537294, "y": 378.2807297766888, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 70.8489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "@kronologifakta", "attributes": {"label": "@kronologifakta", "x": 365.93523952177367, "y": 732.4055665612256, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 38.2967, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "YDZcULfjXKY", "id": "@kronologifakta", "source": "youtube-000001", "content": "GAWAT SERIUS! RUPIAH AMBRUK 21 RIBU BERARTI APA UNTUK ANDA?\n\nSumber ini memaparkan potensi krisis ekonomi di Indonesia yang dipicu oleh ancaman pelemahan nilai tukar rupiah hingga angka 21.000 per dolar. Penurunan nilai mata uang tersebut diprediksi akan *melambungkan harga barang impor, meningkatkan beban utang luar negeri secara drastis, serta menekan *daya beli masyarakat yang sudah mulai melemah.\n\nSituasi sulit ini diperkirakan dapat memicu gelombang PHK massal di berbagai sektor industri dan memaksa pemerintah mengambil kebijakan ekstrem seperti pencabutan subsidi. Selain faktor eksternal seperti *konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, sumber ini menyoroti ketidaksiapan dana cadangan serta risiko ketidakstabilan sosial-politik.\n\nSebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan untuk segera menyiapkan dana darurat serta mengalihkan aset ke dalam bentuk emas atau perak. Secara keseluruhan, narasi ini berfungsi sebagai pengingat kritis agar individu dan negara bersiap menghadapi kemungkinan tekanan finansial yang lebih berat di masa depan.\n\nSetiap kejadian punya cerita, setiap fakta punya rahasia. Kronologi Fakta hadir untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi secara kronologis dan tajam.\nmengupas tentang sejarah, berita terbaru, investigasi, dan edukasi.\n\nDirangkum ulang dari sumber terpercaya.\nSubscribe ‪‬ untuk update informasi faktual setiap hari!\n#politik #geopolitik #ekonomidunia #investigasikriminal #investigasimendalam #investigasi #kronologi #sejarah #edukasisejarah #faktamenarik #faktasejarah #faktaberita #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritadunia #sejarahdunia #educationworld #kronologifakta #infosejarah #infofakta #infokriminal #kejadiannyata", "post_id": "YDZcULfjXKY"}}, {"key": "kronologifakta", "attributes": {"label": "kronologifakta", "x": 440.0584897304798, "y": 276.4952899627874, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 70.8489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "YDZcULfjXKY", "id": "kronologifakta", "source": "youtube-000001", "content": "GAWAT SERIUS! RUPIAH AMBRUK 21 RIBU BERARTI APA UNTUK ANDA?\n\nSumber ini memaparkan potensi krisis ekonomi di Indonesia yang dipicu oleh ancaman pelemahan nilai tukar rupiah hingga angka 21.000 per dolar. Penurunan nilai mata uang tersebut diprediksi akan *melambungkan harga barang impor, meningkatkan beban utang luar negeri secara drastis, serta menekan *daya beli masyarakat yang sudah mulai melemah.\n\nSituasi sulit ini diperkirakan dapat memicu gelombang PHK massal di berbagai sektor industri dan memaksa pemerintah mengambil kebijakan ekstrem seperti pencabutan subsidi. Selain faktor eksternal seperti *konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, sumber ini menyoroti ketidaksiapan dana cadangan serta risiko ketidakstabilan sosial-politik.\n\nSebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan untuk segera menyiapkan dana darurat serta mengalihkan aset ke dalam bentuk emas atau perak. Secara keseluruhan, narasi ini berfungsi sebagai pengingat kritis agar individu dan negara bersiap menghadapi kemungkinan tekanan finansial yang lebih berat di masa depan.\n\nSetiap kejadian punya cerita, setiap fakta punya rahasia. Kronologi Fakta hadir untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi secara kronologis dan tajam.\nmengupas tentang sejarah, berita terbaru, investigasi, dan edukasi.\n\nDirangkum ulang dari sumber terpercaya.\nSubscribe ‪‬ untuk update informasi faktual setiap hari!\n#politik #geopolitik #ekonomidunia #investigasikriminal #investigasimendalam #investigasi #kronologi #sejarah #edukasisejarah #faktamenarik #faktasejarah #faktaberita #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritadunia #sejarahdunia #educationworld #kronologifakta #infosejarah #infofakta #infokriminal #kejadiannyata", "post_id": "YDZcULfjXKY"}}], "edges": [{"key": "bluebearys_", "source": "bluebearys_", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "bluebearys_", "source": "bluebearys_", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "bluebearys_", "source": "bluebearys_", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "belummandipagi", "source": "belummandipagi", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "belummandipagi", "source": "belummandipagi", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "belummandipagi", "source": "belummandipagi", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "NaonNaomi", "source": "NaonNaomi", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "NaonNaomi", "source": "NaonNaomi", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "NaonNaomi", "source": "NaonNaomi", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "archerust", "source": "archerust", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "archerust", "source": "archerust", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "archerust", "source": "archerust", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "aaacelll", "source": "aaacelll", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "aaacelll", "source": "aaacelll", "target": "NyemilQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "aaacelll", "source": "aaacelll", "target": "MurtadhaOne1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "doimucenah", "source": "doimucenah", "target": "scroopnoopers", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "ongen_id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "saiful_mujani", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "feriamsari", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "msaid_didu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "islah_bahrawi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "GunRomli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ikur12_iwan", "source": "ikur12_iwan", "target": "ongen_id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "amingandul06", "source": "amingandul06", "target": "amingandul", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@kronologifakta", "source": "@kronologifakta", "target": "kronologifakta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}