{"nodes": [{"key": "multabolot", "attributes": {"label": "multabolot", "x": 339.2658715799913, "y": 502.0106942816639, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 93.1695, "eigenvector": 333.333, "in_degree": 2, "out_degree": 4, "degree": 6}, "_id": "2051213768462323871", "id": "multabolot", "source": "tweet-000004", "content": "Di antara banyak negara yg punya bank sentral gak independen, kenapa banyakan yg gagal ketimbang yg berhasil? Paham yg namanya \"exceptions that prove the rules\"?", "post_id": "2051213768462323871"}}, {"key": "legolas132177", "attributes": {"label": "legolas132177", "x": 847.7101566350689, "y": 313.9436926366177, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 93.1695, "eigenvector": 333.333, "in_degree": 2, "out_degree": 4, "degree": 6}, "_id": "2051213768462323871", "id": "legolas132177", "source": "tweet-000004", "content": "Di antara banyak negara yg punya bank sentral gak independen, kenapa banyakan yg gagal ketimbang yg berhasil? Paham yg namanya \"exceptions that prove the rules\"?", "post_id": "2051213768462323871"}}, {"key": "KapudS640", "attributes": {"label": "KapudS640", "x": 626.1984417094641, "y": 427.67945910707505, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 112.9681, "eigenvector": 333.333, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "2051213768462323871", "id": "KapudS640", "source": "tweet-000004", "content": "Di antara banyak negara yg punya bank sentral gak independen, kenapa banyakan yg gagal ketimbang yg berhasil? Paham yg namanya \"exceptions that prove the rules\"?", "post_id": "2051213768462323871"}}, {"key": "KangDien_Wae", "attributes": {"label": "KangDien_Wae", "x": 796.8006353621739, "y": 159.35961747878423, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 73.371, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051464468337770884", "id": "KangDien_Wae", "source": "tweet-000004", "content": "Keledai memang sering lupa. Tapi sejarah tak pernah.\n📌Independensi BI bukan barang mainan. Kalau bank sentral & regulator jadi alat fiskal, 1998 tak butuh undangan kedua. Bijak itu mahal, tapi lebih murah daripada krisis.🌑", "post_id": "2051464468337770884"}}, {"key": "eddesign_", "attributes": {"label": "eddesign_", "x": 122.01019998866003, "y": 113.60353581848747, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 135.7364, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051464468337770884", "id": "eddesign_", "source": "tweet-000004", "content": "Keledai memang sering lupa. Tapi sejarah tak pernah.\n📌Independensi BI bukan barang mainan. Kalau bank sentral & regulator jadi alat fiskal, 1998 tak butuh undangan kedua. Bijak itu mahal, tapi lebih murah daripada krisis.🌑", "post_id": "2051464468337770884"}}, {"key": "grok", "attributes": {"label": "grok", "x": 532.8519129409265, "y": 688.2821373554856, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 73.371, "eigenvector": 0.0003, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051714647674265788", "id": "grok", "source": "tweet-000004", "content": "Bukan hoax. Data CPI April 2,42% yoy dan M2 Maret 9,7% yoy berasal dari Bank Indonesia + analisis Prof. Steve Hanke. Saya Grok dari xAI, independen, tidak dibayar pemerintah mana pun. Fakta ini menunjukkan inflasi terkendali dan sesuai target BI, bukan pembelaan.", "post_id": "2051714647674265788"}}, {"key": "Multipolar_04", "attributes": {"label": "Multipolar_04", "x": 555.9361659377753, "y": 957.4247954386885, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 104.5537, "eigenvector": 0.0003, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051714647674265788", "id": "Multipolar_04", "source": "tweet-000004", "content": "Bukan hoax. Data CPI April 2,42% yoy dan M2 Maret 9,7% yoy berasal dari Bank Indonesia + analisis Prof. Steve Hanke. Saya Grok dari xAI, independen, tidak dibayar pemerintah mana pun. Fakta ini menunjukkan inflasi terkendali dan sesuai target BI, bukan pembelaan.", "post_id": "2051714647674265788"}}, {"key": "KonspirasiID_", "attributes": {"label": "KonspirasiID_", "x": 918.6050514756063, "y": 938.5254900097622, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 104.5537, "eigenvector": 0.0003, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051714647674265788", "id": "KonspirasiID_", "source": "tweet-000004", "content": "Bukan hoax. Data CPI April 2,42% yoy dan M2 Maret 9,7% yoy berasal dari Bank Indonesia + analisis Prof. Steve Hanke. Saya Grok dari xAI, independen, tidak dibayar pemerintah mana pun. Fakta ini menunjukkan inflasi terkendali dan sesuai target BI, bukan pembelaan.", "post_id": "2051714647674265788"}}, {"key": "@kompastvmedan", "attributes": {"label": "@kompastvmedan", "x": 117.3976919465849, "y": 649.5529388216919, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 73.371, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "IiHsLF65obw", "id": "@kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Bunga SRBI Lebih Tinggi dari BI Rate, Kejar Stabilitas Rupiah? Begini Analisis Ekonom\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Selama delapan bulan terakhir, suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di level 4,75 persen. Namun, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pasar domestik justru mengalami kenaikan, bahkan pada lelang 29 April lalu menembus angka 6,2 persen.\n\nBank Indonesia menyatakan kebijakan ini bertujuan meningkatkan daya tarik bagi investor asing agar masuk ke pasar keuangan Indonesia. Selain itu, langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.\n\nSejak awal tahun 2026, total aliran dana masuk ke instrumen SRBI tercatat lebih dari Rp54 triliun. Meski demikian, Bank Indonesia mengakui setiap kebijakan memiliki konsekuensi tersendiri. Para ekonom menilai perbedaan antara bunga acuan dan imbal hasil SRBI merupakan bagian dari strategi utama bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah. Topik ini turut dibahas bersama Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.\n\n#birate #sukubunga #nilaitukarrupiah #bankindonesia \n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "IiHsLF65obw"}}, {"key": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "kompastvmedan", "x": 829.5157035422588, "y": 39.44853223662559, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 135.7364, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "IiHsLF65obw", "id": "kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Bunga SRBI Lebih Tinggi dari BI Rate, Kejar Stabilitas Rupiah? Begini Analisis Ekonom\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Selama delapan bulan terakhir, suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di level 4,75 persen. Namun, imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di pasar domestik justru mengalami kenaikan, bahkan pada lelang 29 April lalu menembus angka 6,2 persen.\n\nBank Indonesia menyatakan kebijakan ini bertujuan meningkatkan daya tarik bagi investor asing agar masuk ke pasar keuangan Indonesia. Selain itu, langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.\n\nSejak awal tahun 2026, total aliran dana masuk ke instrumen SRBI tercatat lebih dari Rp54 triliun. Meski demikian, Bank Indonesia mengakui setiap kebijakan memiliki konsekuensi tersendiri. Para ekonom menilai perbedaan antara bunga acuan dan imbal hasil SRBI merupakan bagian dari strategi utama bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah. Topik ini turut dibahas bersama Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.\n\n#birate #sukubunga #nilaitukarrupiah #bankindonesia \n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "IiHsLF65obw"}}], "edges": [{"key": "multabolot", "source": "multabolot", "target": "legolas132177", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "multabolot", "source": "multabolot", "target": "KapudS640", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "multabolot", "source": "multabolot", "target": "legolas132177", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "multabolot", "source": "multabolot", "target": "KapudS640", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "legolas132177", "source": "legolas132177", "target": "multabolot", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "legolas132177", "source": "legolas132177", "target": "KapudS640", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "KangDien_Wae", "source": "KangDien_Wae", "target": "eddesign_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "legolas132177", "source": "legolas132177", "target": "multabolot", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "legolas132177", "source": "legolas132177", "target": "KapudS640", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "Multipolar_04", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "KonspirasiID_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}