{"nodes": [{"key": "konohaberjuang", "attributes": {"label": "konohaberjuang", "x": 313.64165324635593, "y": 277.0444020711682, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051820678782054690", "id": "konohaberjuang", "source": "tweet-000004", "content": "Korupsi gila2an jarang ada proses tegas, uang hanya berputar deras di kalangan elit, MBG menguras APBN gila2an, daya beli turun drastis, tukar rupiah thd dolar lemah banget. Hanya saja disuguhi pertumbuhan ekonomi 5,6% sudah sombong amat ini? Hahahaha", "post_id": "2051820678782054690"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 526.2242726161454, "y": 972.5407115666324, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051820678782054690", "id": "kompascom", "source": "tweet-000004", "content": "Korupsi gila2an jarang ada proses tegas, uang hanya berputar deras di kalangan elit, MBG menguras APBN gila2an, daya beli turun drastis, tukar rupiah thd dolar lemah banget. Hanya saja disuguhi pertumbuhan ekonomi 5,6% sudah sombong amat ini? Hahahaha", "post_id": "2051820678782054690"}}, {"key": "amingandul06", "attributes": {"label": "amingandul06", "x": 486.81878448851046, "y": 697.7521366556076, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul06", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "amingandul", "attributes": {"label": "amingandul", "x": 727.4318358688816, "y": 657.3023631253308, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "@garudatv.official", "attributes": {"label": "@garudatv.official", "x": 419.3113090781593, "y": 234.52889715581094, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "iOGSNiFlrUU", "id": "@garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Menkeu Paparkan Kondisi APBN, Pemerintah Perkuat Kebijakan Fiskal untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi\n\nGarudaTV - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 menunjukkan tren positif, ditandai dengan penerimaan negara yang melampaui target awal. Kondisi ini memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk menjaga momentum belanja, khususnya pada sektor perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur.\n\nKementerian Keuangan melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencatat pertumbuhan penerimaan negara ditopang oleh kinerja perpajakan serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang relatif stabil. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap terjaga di tengah dinamika global.\n\nDi sisi belanja, pemerintah tetap mempertahankan pendekatan ekspansif namun terarah. Program perlindungan sosial menjadi prioritas utama, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat rentan. Bantuan sosial, subsidi energi, serta program perlindungan lainnya terus digelontorkan guna meredam dampak kenaikan harga di sejumlah sektor.\n\nSelain itu, belanja negara juga diarahkan untuk mendukung proyek infrastruktur strategis. Investasi pada sektor ini dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan konektivitas antarwilayah.\n\nPemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara belanja produktif dan stabilitas fiskal. Dengan penerimaan yang tumbuh, defisit anggaran diharapkan tetap terkendali sesuai target yang telah ditetapkan.\n\nMeski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai, seperti ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan terhadap subsidi energi. Oleh karena itu, pengelolaan APBN yang adaptif dan prudent tetap menjadi kunci.\n\nKe depan, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kualitas belanja agar lebih tepat sasaran, sekaligus memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.\n\n#apbn2026  #ekonomiindonesia   #kementeriankeuangan  #BelanjaNegara #PerlindunganSosial #infrastruktur  #fiskal   #garudatv  #laporan8 \n\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\nSubscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \nFollow our Official TikTok   / garudatv.official  \nLike our Official Facebook   / garudatv.official  \nFollow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "iOGSNiFlrUU"}}, {"key": "garudatv.official", "attributes": {"label": "garudatv.official", "x": 154.35891405181056, "y": 293.98915492167487, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iOGSNiFlrUU", "id": "garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Menkeu Paparkan Kondisi APBN, Pemerintah Perkuat Kebijakan Fiskal untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi\n\nGarudaTV - Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga April 2026 menunjukkan tren positif, ditandai dengan penerimaan negara yang melampaui target awal. Kondisi ini memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk menjaga momentum belanja, khususnya pada sektor perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur.\n\nKementerian Keuangan melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia mencatat pertumbuhan penerimaan negara ditopang oleh kinerja perpajakan serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang relatif stabil. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap terjaga di tengah dinamika global.\n\nDi sisi belanja, pemerintah tetap mempertahankan pendekatan ekspansif namun terarah. Program perlindungan sosial menjadi prioritas utama, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat rentan. Bantuan sosial, subsidi energi, serta program perlindungan lainnya terus digelontorkan guna meredam dampak kenaikan harga di sejumlah sektor.\n\nSelain itu, belanja negara juga diarahkan untuk mendukung proyek infrastruktur strategis. Investasi pada sektor ini dinilai penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi jangka panjang, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan konektivitas antarwilayah.\n\nPemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara belanja produktif dan stabilitas fiskal. Dengan penerimaan yang tumbuh, defisit anggaran diharapkan tetap terkendali sesuai target yang telah ditetapkan.\n\nMeski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai, seperti ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, serta tekanan terhadap subsidi energi. Oleh karena itu, pengelolaan APBN yang adaptif dan prudent tetap menjadi kunci.\n\nKe depan, pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kualitas belanja agar lebih tepat sasaran, sekaligus memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.\n\n#apbn2026  #ekonomiindonesia   #kementeriankeuangan  #BelanjaNegara #PerlindunganSosial #infrastruktur  #fiskal   #garudatv  #laporan8 \n\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\nSubscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \nFollow our Official TikTok   / garudatv.official  \nLike our Official Facebook   / garudatv.official  \nFollow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "iOGSNiFlrUU"}}], "edges": [{"key": "konohaberjuang", "source": "konohaberjuang", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "amingandul06", "source": "amingandul06", "target": "amingandul", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@garudatv.official", "source": "@garudatv.official", "target": "garudatv.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}