{"nodes": [{"key": "kayaknya_kenal", "attributes": {"label": "kayaknya_kenal", "x": 38.04897237780869, "y": 800.8961840722473, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 51.5848, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "2051977979132354813", "id": "kayaknya_kenal", "source": "retweet-000002", "content": "tanggal 8 dividen ADRO & BBRI\nsekaligus ex date BMRI.\nsetelah itu udahlah cash out dari pasar ini dulu,\nmisalnya.. 🙁 ht…", "post_id": "2051977979132354813"}}, {"key": "Ciput84725571", "attributes": {"label": "Ciput84725571", "x": 739.5929394278263, "y": 615.7206385048154, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 29.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051993141264466276", "id": "Ciput84725571", "source": "retweet-000002", "content": "Airlangga Jelaskan Nilai Rupiah Melemah Akibat Faktor Musim Haji dan Pembayaran Dividen Menteri Koordinator Bidang Perekonom…", "post_id": "2051993141264466276"}}, {"key": "Bisniscom", "attributes": {"label": "Bisniscom", "x": 50.42910463313666, "y": 106.35649902508948, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 42.2672, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2051993141264466276", "id": "Bisniscom", "source": "retweet-000002", "content": "Airlangga Jelaskan Nilai Rupiah Melemah Akibat Faktor Musim Haji dan Pembayaran Dividen Menteri Koordinator Bidang Perekonom…", "post_id": "2051993141264466276"}}, {"key": "esmilocincau", "attributes": {"label": "esmilocincau", "x": 883.2351141665195, "y": 190.11827139442016, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 29.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2052050929084747908", "id": "esmilocincau", "source": "tweet-000004", "content": "Ga usah wkwk naik kalo mw dividen doang itupun ga seberapa kecuali tiba2 ada kasus kek covid lagi. Mending ptba atau adro", "post_id": "2052050929084747908"}}, {"key": "Saham_fess", "attributes": {"label": "Saham_fess", "x": 656.6956619470582, "y": 450.2691793889163, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 54.8733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052050929084747908", "id": "Saham_fess", "source": "tweet-000004", "content": "Ga usah wkwk naik kalo mw dividen doang itupun ga seberapa kecuali tiba2 ada kasus kek covid lagi. Mending ptba atau adro", "post_id": "2052050929084747908"}}, {"key": "Fallenworld28", "attributes": {"label": "Fallenworld28", "x": 846.2874898038231, "y": 109.72699839328325, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 29.6612, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2052067652798124114", "id": "Fallenworld28", "source": "tweet-000004", "content": "ikutin yg top dividen aja kak. kan ada listnya tuh di bibit. tapi diversifikasi. jangan ambil 1 type. misal minyak bumi dan gas ada adro itmg ptba. pilih 1 aja. konsumer ada roti sido arna. q saranin sido yg lebih ramah buat mental. terus ambil powr yg stabil juga. 3 ini aja dlu", "post_id": "2052067652798124114"}}, {"key": "iridescentsnows", "attributes": {"label": "iridescentsnows", "x": 723.9627921946578, "y": 209.72315797927087, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.2672, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052067652798124114", "id": "iridescentsnows", "source": "tweet-000004", "content": "ikutin yg top dividen aja kak. kan ada listnya tuh di bibit. tapi diversifikasi. jangan ambil 1 type. misal minyak bumi dan gas ada adro itmg ptba. pilih 1 aja. konsumer ada roti sido arna. q saranin sido yg lebih ramah buat mental. terus ambil powr yg stabil juga. 3 ini aja dlu", "post_id": "2052067652798124114"}}, {"key": "christianvctrs", "attributes": {"label": "christianvctrs", "x": 620.1893427437541, "y": 103.6263209707765, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 42.2672, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2052067652798124114", "id": "christianvctrs", "source": "tweet-000004", "content": "ikutin yg top dividen aja kak. kan ada listnya tuh di bibit. tapi diversifikasi. jangan ambil 1 type. misal minyak bumi dan gas ada adro itmg ptba. pilih 1 aja. konsumer ada roti sido arna. q saranin sido yg lebih ramah buat mental. terus ambil powr yg stabil juga. 3 ini aja dlu", "post_id": "2052067652798124114"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "bloombergtechnoz", "x": 958.6333248523747, "y": 252.285017439959, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 197.7407, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3890729588817971950_51748745734", "id": "bloombergtechnoz", "source": "instagram-000001", "content": "Gubernur BI Perry Warjiyo bertemu Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (5/5/2026) dan menjelaskan pelemahan rupiah dipicu faktor global seperti kenaikan suku bunga AS, tingginya harga minyak, serta penguatan dolar yang mendorong arus modal keluar, meski secara fundamental masih kuat.\n\nSepanjang tahun ini, rupiah sudah terdepresiasi 4,2%, mata uang dengan kinerja terburuk ke tiga di Asia. Perry menambahkan, tekanan juga datang dari faktor musiman domestik seperti kebutuhan dolar untuk dividen, pembayaran utang, dan naik haji.\n\nKlik link di bio untuk detail informasi selengkapnya. Jangan lupa follow  untuk berita dan data menarik lainnya.\n\n#Rupiah #NilaiTukarRupiah #BloombergTechnoz", "post_id": "3890729588817971950_51748745734"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 272.15722550379195, "y": 584.3497641410561, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 197.7407, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3890384454627779999_297782118", "id": "kompascom", "source": "instagram-000001", "content": "(Berita selengkapnya cek IG Stories )\n\nMenteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa meyakini,  perbaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang sedang anjlok bukanlah hal sulit.\n\n\"Kalau saya pikir sih gini, dengan fondasi ekonomi yang bagus, enggak terlalu sulit memperbaiki nilai tukar,\" ujar Purbaya di Istana, Jakarta, Selasa (5/5/2026).\n\n\"Tapi itu bukan kerjaan saya, kerjaan bank sentral,\" imbuh dia.\n\nSebelumnya, rupiah turun 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.424 per dollar Amerika Serikat, Selasa (5/5/2026).\n\nMenteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami banyak negara seiring penguatan dollar AS.\n\nMenurut dia, pelemahan rupiah saat ini juga dipengaruhi faktor musiman, terutama meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang musim ibadah haji serta pembayaran dividen pada kuartal kedua.\n\nPenulis: Adhyasta Dirgantara\nEditor: Ardito Ramadhan \n\n~J #Purbaya #Rupiah #Ekonomi", "post_id": "3890384454627779999_297782118"}}, {"key": "nuonlinenews", "attributes": {"label": "nuonlinenews", "x": 126.72507739575155, "y": 50.87738398839492, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 197.7407, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3890928907477707330_66210213616", "id": "nuonlinenews", "source": "instagram-000001", "content": "Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh faktor global. \n\nIa menambahkan, tekanan jangka pendek juga dipicu faktor musiman, seperti kebutuhan devisa untuk repatriasi dividen, pembayaran utang, serta kebutuhan jemaah haji yang meningkatkan permintaan dolar. \n\nHal itu disampaikan Perry saat bertemu dalam Rapat Terbatas (Ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri lainnya di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa (5/6/2026).\n\n“Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu, harga minyak yang tinggi. Dua, suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi. Yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47 persen. Demikian juga dolar yang menguat,” katanya dalam siniar Sekretariat Presiden yang dikutip NU Online, Rabu (6/5/2026). \n\nPerry mengungkapkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat, ditandai dengan pertumbuhan yang mencapai 5,61 persen, inflasi yang rendah, pertumbuhan kredit yang tinggi, serta cadangan devisa yang solid. \n\n\"Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” ujarnya.\n\nSelengkapnya: https://www.nu.or.id/nasional/bi-siapkan-antisipasi-setelah-rupiah-melemah-akibat-faktor-global-dan-permintaan-dolar-jemaah-haji-epCuj\n\n——————————————————\nBaca berita lainnya di www.nu.or.id\nFollow \n\n#nuonlinenewsmei2026 #rupiah #bankindonesia #rupiahmelemah #ekonomi", "post_id": "3890928907477707330_66210213616"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 741.506002675289, "y": 173.03515214119702, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "ZSAa-Pb4PFk", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "PDB 5,61% Q1 2026 Tapi Rupiah Anjlok Kelas Menengah Tercekik Asing Kabur!\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! 💡 Di video kali ini, kita akan membongkar habis-habisan kejutan data makroekonomi terbaru yang sedang menjadi perbincangan panas di kalangan investor.\n\n00:00 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia \npada Kuartal I 2026 sukses mencetak rekor pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (YoY), melampaui target APBN yang hanya 5,4% dan menjadi angka tertinggi sejak kuartal ketiga 2022. Namun, tahukah Anda bahwa bagi investor pasar modal, angka gemilang ini justru menyalakan sinyal alarm bahaya? 🚨\n\n07:54 Doping Fiskal Q1 2026\nMengapa Angka 5,61% Adalah Ilusi \"Doping Fiskal\"? Di balik angka impresif tersebut, mesin penggerak utamanya bukanlah investasi asing atau ekspor, melainkan Konsumsi Pemerintah yang meroket tajam hingga 21,81% YoY. Pertumbuhan ini sangat artifisial, didorong oleh fiscal sugar rush atau \"doping fiskal\" melalui pencairan Tunjangan Hari Raya (Gaji ke-14) aparatur negara yang lebih awal serta guyuran dana untuk program populis Makan Bergizi Gratis (MBG). Uang kaget ini memicu multiplier effect jangka pendek yang membuat sektor perhotelan dan restoran meledak 13,14%. Namun, ini hanyalah kosmetik yang menutupi luka struktural perekonomian kita.\n\n16:15 Bedah Kualitas PDB Q1 2026\n\n24:01 Sisi Gelap PDB Q1 2026\nSisi Gelap: K-Shaped Recovery dan Tercekiknya Kelas Menengah Jangan tertipu oleh tingginya konsumsi domestik. Analisis mendalam menunjukkan kita sedang mengalami K-Shaped Recovery. Sektor padat karya seperti manufaktur tekstil dan garmen justru berdarah-darah, memicu ancaman gelombang PHK diam-diam (silent layoffs). Lebih parah lagi, kelas menengah swasta kini terjebak dalam Middle-Class Squeeze, di mana gaji stagnan tetapi pengeluaran membengkak akibat inflasi pangan dan imported inflation. Banyak yang terpaksa memakan tabungan atau berutang via Pinjol dan Paylater untuk bertahan hidup.\n\n32:06 Strategi Makro Q1 2026\nBadai Geopolitik, Pendarahan Rupiah, dan Pelarian Modal Asing Kita sedang menari di atas tali! Tingginya konsumsi dalam negeri membuat impor barang modal dan konsumsi melesat 7,2%, sementara kinerja ekspor kita malah terkontraksi minus 25% YoY. Di saat bersamaan, eskalasi konflik geopolitik AS dan Iran di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melambung tinggi. Efek dominonya? Kebutuhan Dolar AS untuk tagihan migas membengkak, memicu pelarian modal asing (capital flight) besar-besaran, hingga Rupiah sempat hancur menyentuh level All-Time Low di atas Rp17.420 per Dolar AS.\n\nBank Indonesia bahkan harus \"membakar\" cadangan devisa hingga US$8,4 miliar di Kuartal I dan menerbitkan SRBI dengan imbal hasil tinggi (6,5% - 7%) untuk menahan nilai tukar. Akibatnya, terjadi Crowding Out Effect yang menyedot likuiditas pasar saham, membuat saham-saham big caps perbankan mengalami tekanan jual masif.\n\n38:27 Prospek Ekonomi Pasca Q1 2026\nPanduan Strategi Saham Pasca-Kuartal I 2026 dari Wawasan Cerdas Kuartal depan, bensin musiman (THR) akan habis dan ekonomi diproyeksikan soft landing ke level 5,0% - 5,2%. Apa strategi terbaik untuk portofolio Anda?\nHindari Sektor Sensitif Suku Bunga: Sektor properti dan otomotif akan sangat tertekan oleh tingginya biaya pinjaman.\n\nRotasi ke Sektor Defensif & Ekspor: Lirik emiten berorientasi ekspor yang diuntungkan oleh kuatnya Dolar AS, atau consumer goods lokal yang diuntungkan oleh kebijakan pembatasan impor (Lartas) dari pemerintah.\n\nCermati Aksi Korporasi & Dividen Jumbo: Perhatikan katalis spesifik seperti akuisisi ritel HSBC oleh Bank OCBC NISP ($NISP), masuknya modal Danantara ke saham GOTO, hingga pemulihan operasional di TPIA dan grup Merdeka (MDKA). Amankan cash Anda dengan memburu saham pembagi dividen tinggi (dividend yield) seperti $JPFA, $SSMS, dan $TUGU.\n\nBagaimana pandangan Anda? Apakah PDB 5,61% ini murni tanda ekonomi bangkit atau sekadar ilusi sementara? Tulis pendapat kalian di kolom komentar! 👇\n\n🔔 Jangan lupa SUBSCRIBE ke Wawasan Cerdas, LIKE, dan SHARE video ini agar Anda tidak ketinggalan analisis makroekonomi dan strategi investasi saham paling tajam di Indonesia!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\nKumpulan Hashtag (Optimal untuk YouTube)\n#WawasanCerdas #IHSG2026 #PDBIndonesia #InvestasiSaham #KrisisRupiah #Makroekonomi #StrategiSaham #DopingFiskal #PeluangInvestasi #SahamDividen #AnalisisEkonomi #BankIndonesia #SahamGOTO #BursaEfekIndonesia #SahamCuan #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "ZSAa-Pb4PFk"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 355.36310064839114, "y": 837.797457000787, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.8733, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "ZSAa-Pb4PFk", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "PDB 5,61% Q1 2026 Tapi Rupiah Anjlok Kelas Menengah Tercekik Asing Kabur!\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! 💡 Di video kali ini, kita akan membongkar habis-habisan kejutan data makroekonomi terbaru yang sedang menjadi perbincangan panas di kalangan investor.\n\n00:00 Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia \npada Kuartal I 2026 sukses mencetak rekor pertumbuhan sebesar 5,61% secara tahunan (YoY), melampaui target APBN yang hanya 5,4% dan menjadi angka tertinggi sejak kuartal ketiga 2022. Namun, tahukah Anda bahwa bagi investor pasar modal, angka gemilang ini justru menyalakan sinyal alarm bahaya? 🚨\n\n07:54 Doping Fiskal Q1 2026\nMengapa Angka 5,61% Adalah Ilusi \"Doping Fiskal\"? Di balik angka impresif tersebut, mesin penggerak utamanya bukanlah investasi asing atau ekspor, melainkan Konsumsi Pemerintah yang meroket tajam hingga 21,81% YoY. Pertumbuhan ini sangat artifisial, didorong oleh fiscal sugar rush atau \"doping fiskal\" melalui pencairan Tunjangan Hari Raya (Gaji ke-14) aparatur negara yang lebih awal serta guyuran dana untuk program populis Makan Bergizi Gratis (MBG). Uang kaget ini memicu multiplier effect jangka pendek yang membuat sektor perhotelan dan restoran meledak 13,14%. Namun, ini hanyalah kosmetik yang menutupi luka struktural perekonomian kita.\n\n16:15 Bedah Kualitas PDB Q1 2026\n\n24:01 Sisi Gelap PDB Q1 2026\nSisi Gelap: K-Shaped Recovery dan Tercekiknya Kelas Menengah Jangan tertipu oleh tingginya konsumsi domestik. Analisis mendalam menunjukkan kita sedang mengalami K-Shaped Recovery. Sektor padat karya seperti manufaktur tekstil dan garmen justru berdarah-darah, memicu ancaman gelombang PHK diam-diam (silent layoffs). Lebih parah lagi, kelas menengah swasta kini terjebak dalam Middle-Class Squeeze, di mana gaji stagnan tetapi pengeluaran membengkak akibat inflasi pangan dan imported inflation. Banyak yang terpaksa memakan tabungan atau berutang via Pinjol dan Paylater untuk bertahan hidup.\n\n32:06 Strategi Makro Q1 2026\nBadai Geopolitik, Pendarahan Rupiah, dan Pelarian Modal Asing Kita sedang menari di atas tali! Tingginya konsumsi dalam negeri membuat impor barang modal dan konsumsi melesat 7,2%, sementara kinerja ekspor kita malah terkontraksi minus 25% YoY. Di saat bersamaan, eskalasi konflik geopolitik AS dan Iran di Selat Hormuz membuat harga minyak dunia melambung tinggi. Efek dominonya? Kebutuhan Dolar AS untuk tagihan migas membengkak, memicu pelarian modal asing (capital flight) besar-besaran, hingga Rupiah sempat hancur menyentuh level All-Time Low di atas Rp17.420 per Dolar AS.\n\nBank Indonesia bahkan harus \"membakar\" cadangan devisa hingga US$8,4 miliar di Kuartal I dan menerbitkan SRBI dengan imbal hasil tinggi (6,5% - 7%) untuk menahan nilai tukar. Akibatnya, terjadi Crowding Out Effect yang menyedot likuiditas pasar saham, membuat saham-saham big caps perbankan mengalami tekanan jual masif.\n\n38:27 Prospek Ekonomi Pasca Q1 2026\nPanduan Strategi Saham Pasca-Kuartal I 2026 dari Wawasan Cerdas Kuartal depan, bensin musiman (THR) akan habis dan ekonomi diproyeksikan soft landing ke level 5,0% - 5,2%. Apa strategi terbaik untuk portofolio Anda?\nHindari Sektor Sensitif Suku Bunga: Sektor properti dan otomotif akan sangat tertekan oleh tingginya biaya pinjaman.\n\nRotasi ke Sektor Defensif & Ekspor: Lirik emiten berorientasi ekspor yang diuntungkan oleh kuatnya Dolar AS, atau consumer goods lokal yang diuntungkan oleh kebijakan pembatasan impor (Lartas) dari pemerintah.\n\nCermati Aksi Korporasi & Dividen Jumbo: Perhatikan katalis spesifik seperti akuisisi ritel HSBC oleh Bank OCBC NISP ($NISP), masuknya modal Danantara ke saham GOTO, hingga pemulihan operasional di TPIA dan grup Merdeka (MDKA). Amankan cash Anda dengan memburu saham pembagi dividen tinggi (dividend yield) seperti $JPFA, $SSMS, dan $TUGU.\n\nBagaimana pandangan Anda? Apakah PDB 5,61% ini murni tanda ekonomi bangkit atau sekadar ilusi sementara? Tulis pendapat kalian di kolom komentar! 👇\n\n🔔 Jangan lupa SUBSCRIBE ke Wawasan Cerdas, LIKE, dan SHARE video ini agar Anda tidak ketinggalan analisis makroekonomi dan strategi investasi saham paling tajam di Indonesia!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\nKumpulan Hashtag (Optimal untuk YouTube)\n#WawasanCerdas #IHSG2026 #PDBIndonesia #InvestasiSaham #KrisisRupiah #Makroekonomi #StrategiSaham #DopingFiskal #PeluangInvestasi #SahamDividen #AnalisisEkonomi #BankIndonesia #SahamGOTO #BursaEfekIndonesia #SahamCuan #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "ZSAa-Pb4PFk"}}], "edges": [{"key": "kayaknya_kenal", "source": "kayaknya_kenal", "target": "kayaknya_kenal", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "kayaknya_kenal", "source": "kayaknya_kenal", "target": "kayaknya_kenal", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Ciput84725571", "source": "Ciput84725571", "target": "Bisniscom", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Ciput84725571", "source": "Ciput84725571", "target": "Bisniscom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "esmilocincau", "source": "esmilocincau", "target": "Saham_fess", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Fallenworld28", "source": "Fallenworld28", "target": "iridescentsnows", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Fallenworld28", "source": "Fallenworld28", "target": "christianvctrs", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "source": "bloombergtechnoz", "target": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "kompascom", "source": "kompascom", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "nuonlinenews", "source": "nuonlinenews", "target": "nuonlinenews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}