{"nodes": [{"key": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "keuangannews_id", "x": 228.290376219188, "y": 923.1830305218235, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 21.4403, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 3, "degree": 5}, "_id": "2043648441017078205", "id": "keuangannews_id", "source": "retweet-000002", "content": "BTN Bangun Loan Factory, Siapkan Mesin Pertumbuhan Kredit yang Lebih Cepat dan Terkendali https://t.co/HafzNukw8t lewa…", "post_id": "2043648441017078205"}}, {"key": "yantomutsu", "attributes": {"label": "yantomutsu", "x": 809.7638271805139, "y": 413.1269463566688, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2044199233566454268", "id": "yantomutsu", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi berawal dari ini semua diharapkan indeks PMI dan pertumbuhan kredit juga meningkat karena hal ini akan menjadi cerminan investasi meningkat", "post_id": "2044199233566454268"}}, {"key": "abu_waras", "attributes": {"label": "abu_waras", "x": 522.5657955740248, "y": 829.5702511750428, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2044199233566454268", "id": "abu_waras", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi berawal dari ini semua diharapkan indeks PMI dan pertumbuhan kredit juga meningkat karena hal ini akan menjadi cerminan investasi meningkat", "post_id": "2044199233566454268"}}, {"key": "keuangan", "attributes": {"label": "keuangan", "x": 24.124393659173627, "y": 311.8948576257191, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 21.4403, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043621346618622190", "id": "keuangan", "source": "tweet-000004", "content": "BTN Bangun Loan Factory, Siapkan Mesin Pertumbuhan Kredit yang Lebih Cepat dan Terkendali https://t.co/HafzNukw8t lewat  News https://t.co/Chg2AdCkGz", "post_id": "2043621346618622190"}}, {"key": "grok", "attributes": {"label": "grok", "x": 53.48046065230327, "y": 421.19122466979707, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "1966267850165027003", "id": "grok", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "r1dayat", "attributes": {"label": "r1dayat", "x": 612.0168594027853, "y": 738.0023011166279, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "r1dayat", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "arda_odang17", "attributes": {"label": "arda_odang17", "x": 383.123014648455, "y": 454.7957395634927, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "arda_odang17", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "mochmasykur12", "attributes": {"label": "mochmasykur12", "x": 668.8208040125118, "y": 396.97839033300653, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "mochmasykur12", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "icibosadd", "attributes": {"label": "icibosadd", "x": 77.48793230824269, "y": 228.59278436491314, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "icibosadd", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "wooriinim", "attributes": {"label": "wooriinim", "x": 15.382963046059682, "y": 717.0318035867547, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2041814361791197674", "id": "wooriinim", "source": "tweet-000004", "content": "hhmmm... \"gk wajib, tergantung manajemen resiko bank\" ada lagi \"mencapai pertumbuhan kredit\" \n\nklo \"gk wajib\" boleh lah ada statement d POJK klo bank berhak menolak pengajuan jika terdapat bla bla bla bla, kredit tumbuh tpi pada kolek 5 sih gimana bank mau sehat 😒😒", "post_id": "2041814361791197674"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 38.364702713180264, "y": 313.52182402530093, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2041814361791197674", "id": "kompascom", "source": "tweet-000004", "content": "hhmmm... \"gk wajib, tergantung manajemen resiko bank\" ada lagi \"mencapai pertumbuhan kredit\" \n\nklo \"gk wajib\" boleh lah ada statement d POJK klo bank berhak menolak pengajuan jika terdapat bla bla bla bla, kredit tumbuh tpi pada kolek 5 sih gimana bank mau sehat 😒😒", "post_id": "2041814361791197674"}}, {"key": "tenderterbatas", "attributes": {"label": "tenderterbatas", "x": 518.1385605131486, "y": 145.52025102570275, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2041906177639170482", "id": "tenderterbatas", "source": "tweet-000004", "content": "Iya, dulu sampai ada TP-PKLN ya (Tim Pengendali Pinjaman Komersil Luar Negeri) ya \n\nTp, dulu PKLN ini jadi masif bukankah karena intermediasi bank saat itu sdh mandeg ya? Apalagi di bbrp bank BUMN yg sampai tidak ada pengucuran kredit baru. Sdgkn, pasar modal blm semarak skrg.", "post_id": "2041906177639170482"}}, {"key": "ChatibBasri", "attributes": {"label": "ChatibBasri", "x": 120.21927327947913, "y": 834.7913014965077, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2041906177639170482", "id": "ChatibBasri", "source": "tweet-000004", "content": "Iya, dulu sampai ada TP-PKLN ya (Tim Pengendali Pinjaman Komersil Luar Negeri) ya \n\nTp, dulu PKLN ini jadi masif bukankah karena intermediasi bank saat itu sdh mandeg ya? Apalagi di bbrp bank BUMN yg sampai tidak ada pengucuran kredit baru. Sdgkn, pasar modal blm semarak skrg.", "post_id": "2041906177639170482"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 669.1067931263545, "y": 418.7128173117074, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 17.9016, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 6, "degree": 12}, "_id": "3870845045860229022_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "Bank Indonesia telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial sebesar Rp427,1 triliun hingga Maret 2026 untuk mendorong pertumbuhan kredit, khususnya ke sektor prioritas seperti pangan, industri, hilirisasi, dan perumahan 🏗️🌾\n\nKebijakan ini juga diarahkan agar suku bunga kredit turun, sehingga transmisi ke sektor riil lebih cepat. Bank BUMN menjadi penerima terbesar, diikuti bank swasta nasional 📈\n\nSumber: Katadata.co.id, 8 April 2026\n\nGabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp).\n\n#bi #likuiditas #kredit #ekonomi #perbankan #investasi #saham #trading #mancingsaham", "post_id": "3870845045860229022_52512310886"}}, {"key": "kontannews", "attributes": {"label": "kontannews", "x": 146.9357916520907, "y": 994.8366116119269, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3855347711785202132_1740350316", "id": "kontannews", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, inovasi layanan keuangan menjadi kunci untuk menangkap peluang baru. Bank Raya terus memperkuat transformasinya sebagai bank digital dengan menghadirkan berbagai strategi jitu, mulai dari pengembangan fitur pembayaran digital, solusi keuangan praktis bagi pelaku usaha, hingga peningkatan keamanan dan pengalaman transaksi nasabah.\n\nDidukung sinergi kuat dalam ekosistem BRI Group, Bank Raya berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit digital, peningkatan rasio CASA, serta jumlah pengguna aplikasi yang telah menembus lebih dari 1 juta. Melalui fitur seperti Saku Bisnis dan Saku Bareng, Bank Raya membantu nasabah mengelola keuangan lebih mudah, real-time, dan tanpa biaya admin.\nKomitmen ini menegaskan langkah Bank Raya dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisinya sebagai bank digital terpercaya yang siap tumbuh bersama masyarakat di era ekonomi digital. \n\n#Kontan\n#BankRaya\n \nContent partnership with", "post_id": "3855347711785202132_1740350316"}}, {"key": "bankraya", "attributes": {"label": "bankraya", "x": 317.74310555713646, "y": 626.0085765598848, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3855347711785202132_1740350316", "id": "bankraya", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, inovasi layanan keuangan menjadi kunci untuk menangkap peluang baru. Bank Raya terus memperkuat transformasinya sebagai bank digital dengan menghadirkan berbagai strategi jitu, mulai dari pengembangan fitur pembayaran digital, solusi keuangan praktis bagi pelaku usaha, hingga peningkatan keamanan dan pengalaman transaksi nasabah.\n\nDidukung sinergi kuat dalam ekosistem BRI Group, Bank Raya berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit digital, peningkatan rasio CASA, serta jumlah pengguna aplikasi yang telah menembus lebih dari 1 juta. Melalui fitur seperti Saku Bisnis dan Saku Bareng, Bank Raya membantu nasabah mengelola keuangan lebih mudah, real-time, dan tanpa biaya admin.\nKomitmen ini menegaskan langkah Bank Raya dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus memperkuat posisinya sebagai bank digital terpercaya yang siap tumbuh bersama masyarakat di era ekonomi digital. \n\n#Kontan\n#BankRaya\n \nContent partnership with", "post_id": "3855347711785202132_1740350316"}}, {"key": "kompastv", "attributes": {"label": "kompastv", "x": 533.6357643303132, "y": 257.91049232069406, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3861353303494532555_447262394", "id": "kompastv", "source": "instagram-000001", "content": "Kinerja BSI  makin kinclong di awal 2026 ditopang fungsi intermediasi yang baik antara dana dan pembiayaan,penguatan kapasitas dan kapabilitas IT serta fokus pada dukungan program Pemerintah yakni Bulion Bank dan juga penyaluran pembiayaan yang sehat dan sustain.\n\nSecara umum, kinerja BSI (unaudited)per Februari 2026 solid sehingga mampu membukukan laba Rp1,36 Triliun naik 17% YoY. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,76% (YoY) menjadi Rp366 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 16,06% (YoY) menjadi Rp154 triliun, yang mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah. Pembiayaan tumbuh 14,32% menjadi Rp323 triliun secara YoY, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen konsumer, khususnya bisnis emas. \n\nPerseroan optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2026, didukung oleh penguatan ekosistem syariah, transformasi digital, serta pengembangan bisnis emas sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan. #Ad", "post_id": "3861353303494532555_447262394"}}, {"key": "banksyariahindonesia", "attributes": {"label": "banksyariahindonesia", "x": 53.82915327583859, "y": 931.8586445441737, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3861353303494532555_447262394", "id": "banksyariahindonesia", "source": "instagram-000001", "content": "Kinerja BSI  makin kinclong di awal 2026 ditopang fungsi intermediasi yang baik antara dana dan pembiayaan,penguatan kapasitas dan kapabilitas IT serta fokus pada dukungan program Pemerintah yakni Bulion Bank dan juga penyaluran pembiayaan yang sehat dan sustain.\n\nSecara umum, kinerja BSI (unaudited)per Februari 2026 solid sehingga mampu membukukan laba Rp1,36 Triliun naik 17% YoY. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 14,76% (YoY) menjadi Rp366 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 16,06% (YoY) menjadi Rp154 triliun, yang mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan syariah. Pembiayaan tumbuh 14,32% menjadi Rp323 triliun secara YoY, dengan kontribusi terbesar berasal dari segmen konsumer, khususnya bisnis emas. \n\nPerseroan optimistis dapat menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan sepanjang 2026, didukung oleh penguatan ekosistem syariah, transformasi digital, serta pengembangan bisnis emas sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan. #Ad", "post_id": "3861353303494532555_447262394"}}, {"key": "swamediainc", "attributes": {"label": "swamediainc", "x": 199.18261536093695, "y": 390.61217461652575, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 102.4357, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3835758532495488341_282076797", "id": "swamediainc", "source": "instagram-000001", "content": "PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) melaporkan kinerja 2025 yang solid, dengan mayoritas indikator tumbuh dua digit dan melampaui pertumbuhan industri bank syariah. Laba bersih 2025 tercatat Rp7,57 triliun, naik 8,02% dibanding 2024, ditopang fungsi intermediasi, pendanaan yang kuat, dan penyaluran pembiayaan yang dinilai sehat serta tepat sasaran.\n\nPer Desember 2025, pembiayaan BSI mencapai Rp318,84 triliun (naik 14,49%), dengan outstanding Rp285,70 triliun atau sekitar 90% disalurkan ke segmen UMKM, mikro, konsumer, komersial (pendidikan dan kesehatan), serta ASN dan BUMN. Kualitas pembiayaan terjaga dengan NPF gross 1,81% dan NPF nett 0,47%, yang dikaitkan dengan pengelolaan risiko berbasis segmentasi dan disiplin pemantauan industri. Dari sisi pendanaan, DPK tumbuh 16,20% menjadi Rp380 triliun, didominasi CASA 61,62% atau Rp234 triliun; total aset naik 11,64% menjadi Rp456 triliun.\n\nUntuk berita selengkapnya dan informasi bisnis lainnya, baca https://swagroup.id/bris\n\n………………………………………………………………………………………………\n\nUntuk Berita dan informasi ekonomi bisnis terkini, silakan kunjungi www.swa.co.id\n\nJangan lupa follow, like and tag  di IG, Tiktok, Linkedin, X, dan Youtube", "post_id": "3835758532495488341_282076797"}}, {"key": "hannyukas", "attributes": {"label": "hannyukas", "x": 159.77092650315717, "y": 773.7315032319453, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "7620669736552074517", "id": "hannyukas", "source": "tiktok-000001", "content": "Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mengelola dana komersial seperti tabungan, pembiayaan, dan investasi.  Padahal, dalam kerangka sistem keuangan syariah di Indonesia, bank syariah juga memiliki peran dalam dana sosial keagamaan, termasuk wakaf uang. Simak penjelasan di atas! #SikapiUangmu #OJK #Wakaf #GERAKSyariah2026 #BergerakBersamaKeuanganSyariah", "post_id": "7620669736552074517"}}, {"key": "ojkindonesia", "attributes": {"label": "ojkindonesia", "x": 145.09354474207535, "y": 762.8651477987303, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7620669736552074517", "id": "ojkindonesia", "source": "tiktok-000001", "content": "Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mengelola dana komersial seperti tabungan, pembiayaan, dan investasi.  Padahal, dalam kerangka sistem keuangan syariah di Indonesia, bank syariah juga memiliki peran dalam dana sosial keagamaan, termasuk wakaf uang. Simak penjelasan di atas! #SikapiUangmu #OJK #Wakaf #GERAKSyariah2026 #BergerakBersamaKeuanganSyariah", "post_id": "7620669736552074517"}}, {"key": "sikapiuangmu", "attributes": {"label": "sikapiuangmu", "x": 400.8567443237725, "y": 392.290647692953, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7620669736552074517", "id": "sikapiuangmu", "source": "tiktok-000001", "content": "Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mengelola dana komersial seperti tabungan, pembiayaan, dan investasi.  Padahal, dalam kerangka sistem keuangan syariah di Indonesia, bank syariah juga memiliki peran dalam dana sosial keagamaan, termasuk wakaf uang. Simak penjelasan di atas! #SikapiUangmu #OJK #Wakaf #GERAKSyariah2026 #BergerakBersamaKeuanganSyariah", "post_id": "7620669736552074517"}}, {"key": "satgas_pasti", "attributes": {"label": "satgas_pasti", "x": 198.20019586703108, "y": 77.05669320017972, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7620669736552074517", "id": "satgas_pasti", "source": "tiktok-000001", "content": "Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mengelola dana komersial seperti tabungan, pembiayaan, dan investasi.  Padahal, dalam kerangka sistem keuangan syariah di Indonesia, bank syariah juga memiliki peran dalam dana sosial keagamaan, termasuk wakaf uang. Simak penjelasan di atas! #SikapiUangmu #OJK #Wakaf #GERAKSyariah2026 #BergerakBersamaKeuanganSyariah", "post_id": "7620669736552074517"}}, {"key": "kontak157", "attributes": {"label": "kontak157", "x": 992.721262085262, "y": 921.7788913126444, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6307, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7620669736552074517", "id": "kontak157", "source": "tiktok-000001", "content": "Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa bank syariah hanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mengelola dana komersial seperti tabungan, pembiayaan, dan investasi.  Padahal, dalam kerangka sistem keuangan syariah di Indonesia, bank syariah juga memiliki peran dalam dana sosial keagamaan, termasuk wakaf uang. Simak penjelasan di atas! #SikapiUangmu #OJK #Wakaf #GERAKSyariah2026 #BergerakBersamaKeuanganSyariah", "post_id": "7620669736552074517"}}, {"key": "visi.bisnis", "attributes": {"label": "visi.bisnis", "x": 439.91245610496077, "y": 77.98917995998723, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7619492375785655572", "id": "visi.bisnis", "source": "tiktok-000001", "content": "Jujur, BRI tahun ini adalah yang paling 'sakit' di antara 4 bank besar: pertumbuhan kredit melambat (5.1%), CKPN naik tinggi. Tapi game changernya ada di 2026: (1) Likuiditas stimulus pemerintah (Pak Purba) yang efek multiplierenya baru kerasa di Q2/Q3 2026, dan (2) Tren suku bunga turun yang akan sangat menguntungkan bank dengan CASA rendah seperti BRI. Ini tentang melihat melampaui kinerja kuartalan dan mengidentifikasi faktor transformasi di depan. Analisis forward-looking oleh  Untuk research mendalam, kunjungi www.rivankurniawan.com. Menurutmu, apakah BRI bisa bangkit? #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay BZ-2025-RK77", "post_id": "7619492375785655572"}}, {"key": "rivan.kurniawan.", "attributes": {"label": "rivan.kurniawan.", "x": 598.9453019407781, "y": 62.34602074023521, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7619492375785655572", "id": "rivan.kurniawan.", "source": "tiktok-000001", "content": "Jujur, BRI tahun ini adalah yang paling 'sakit' di antara 4 bank besar: pertumbuhan kredit melambat (5.1%), CKPN naik tinggi. Tapi game changernya ada di 2026: (1) Likuiditas stimulus pemerintah (Pak Purba) yang efek multiplierenya baru kerasa di Q2/Q3 2026, dan (2) Tren suku bunga turun yang akan sangat menguntungkan bank dengan CASA rendah seperti BRI. Ini tentang melihat melampaui kinerja kuartalan dan mengidentifikasi faktor transformasi di depan. Analisis forward-looking oleh  Untuk research mendalam, kunjungi www.rivankurniawan.com. Menurutmu, apakah BRI bisa bangkit? #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay BZ-2025-RK77", "post_id": "7619492375785655572"}}, {"key": "pusatclipss.id", "attributes": {"label": "pusatclipss.id", "x": 839.8732850743891, "y": 11.348076567512688, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7627360734971727124", "id": "pusatclipss.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Lagi lirik saham bank buat dividen atau investasi jangka panjang? Jangan cuma lihat nama besarnya aja! Di video ini, Pak Rivan Kurniawan spill angka ideal buat 'Capital Adequacy Ratio' (CAR) dan berapa pertumbuhan kredit yang sehat biar modal bank gak gampang amblas. Penting banget buat cek 'Loan Growth' dan komposisi dana murahnya! Cek checklist-nya sampai habis ya! #rivankurniawan #portoantibadai #valueinvesting #sahamvalueplay    BZ-2026-3D064A", "post_id": "7627360734971727124"}}, {"key": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "rivan.kurniawan", "x": 525.9728013558785, "y": 696.0823703689853, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7627360734971727124", "id": "rivan.kurniawan", "source": "tiktok-000001", "content": "Lagi lirik saham bank buat dividen atau investasi jangka panjang? Jangan cuma lihat nama besarnya aja! Di video ini, Pak Rivan Kurniawan spill angka ideal buat 'Capital Adequacy Ratio' (CAR) dan berapa pertumbuhan kredit yang sehat biar modal bank gak gampang amblas. Penting banget buat cek 'Loan Growth' dan komposisi dana murahnya! Cek checklist-nya sampai habis ya! #rivankurniawan #portoantibadai #valueinvesting #sahamvalueplay    BZ-2026-3D064A", "post_id": "7627360734971727124"}}, {"key": "indoposco.id", "attributes": {"label": "indoposco.id", "x": 776.9321654545636, "y": 401.0181459142301, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7610901602278378770", "id": "indoposco.id", "source": "tiktok-000001", "content": "PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)  Tabungan Negara mencatat lonjakan laba bersih signifikan pada Januari 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis 24 Februari 2026, laba bersih BTN mencapai Rp230 miliar, melonjak sekitar 578% dibandingkan Januari tahun lalu sebesar Rp34 miliar. Kinerja ini ditopang kenaikan pendapatan bunga 17,08% yoy serta penurunan beban bunga 14,53% yoy, sehingga Net Interest Income (NII) BBTN melesat 79,46% yoy. Dari sisi intermediasi, DPK tumbuh 11,52% yoy menjadi Rp362,77 triliun dan kredit naik 9,30% yoy menjadi Rp341,45 triliun. Total aset pun meningkat 12,26% yoy menjadi Rp448,34 triliun. Direktur Utama Nixon LP Napitupulu optimistis laba bersih 2026 bisa tumbuh hingga 22%, didorong ekspansi beyond KPR, penguatan superapps, dan transformasi bisnis. Laba bersih BTN Januari 2026 tembus Rp230 miliar, melonjak 578% yoy 🚀 NII naik 79,46%, DPK dan kredit ikut tumbuh solid. BTN optimistis laba 2026 bisa naik hingga 22%! 💪📈 #indoposco #bankbtn #infoterkini #foryou", "post_id": "7610901602278378770"}}, {"key": "Bank", "attributes": {"label": "Bank", "x": 484.23141165009866, "y": 801.0902652612898, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7610901602278378770", "id": "Bank", "source": "tiktok-000001", "content": "PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN)  Tabungan Negara mencatat lonjakan laba bersih signifikan pada Januari 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis 24 Februari 2026, laba bersih BTN mencapai Rp230 miliar, melonjak sekitar 578% dibandingkan Januari tahun lalu sebesar Rp34 miliar. Kinerja ini ditopang kenaikan pendapatan bunga 17,08% yoy serta penurunan beban bunga 14,53% yoy, sehingga Net Interest Income (NII) BBTN melesat 79,46% yoy. Dari sisi intermediasi, DPK tumbuh 11,52% yoy menjadi Rp362,77 triliun dan kredit naik 9,30% yoy menjadi Rp341,45 triliun. Total aset pun meningkat 12,26% yoy menjadi Rp448,34 triliun. Direktur Utama Nixon LP Napitupulu optimistis laba bersih 2026 bisa tumbuh hingga 22%, didorong ekspansi beyond KPR, penguatan superapps, dan transformasi bisnis. Laba bersih BTN Januari 2026 tembus Rp230 miliar, melonjak 578% yoy 🚀 NII naik 79,46%, DPK dan kredit ikut tumbuh solid. BTN optimistis laba 2026 bisa naik hingga 22%! 💪📈 #indoposco #bankbtn #infoterkini #foryou", "post_id": "7610901602278378770"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 621.4081704498059, "y": 864.5247750422596, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 387.95744818416756, "y": 444.7862228623981, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "attributes": {"label": "@BloombergPodcasts", "x": 792.019675421898, "y": 603.1098262673805, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "qg25xuc6k_s", "id": "@BloombergPodcasts", "source": "youtube-000001", "content": "Kredit Swasta Mengalami 'Masalah Pertumbuhan,' Kata Co-CEO SLR Capital Partners, Gross\n\nMichael Gross, salah satu pendiri SLR Capital Partners, mengatakan tekanan pada perusahaan pengembangan bisnis merupakan bagian dari \"masa-masa sulit\" pertumbuhan kredit swasta.\n\nJPMorgan Chase & Co. membatasi beberapa pinjaman kepada dana kredit swasta setelah menurunkan nilai pinjaman dalam portofolio mereka. Pada saat yang sama, BDC — yang memberikan pinjaman langsung kepada perusahaan menengah — mengalami peningkatan permintaan penarikan dana di tengah kekhawatiran akan kerugian terkait dengan eksposur yang terlalu besar terhadap perusahaan perangkat lunak yang terganggu oleh AI. Selain ekuitas dari mitra terbatas dan investor publik, dana kredit swasta bergantung pada bank untuk pendanaan. Mereka juga mengumpulkan utang di pasar obligasi peringkat investasi. Gelombang penarikan dana yang meningkat telah mendorong Moody's Ratings untuk merevisi prospeknya untuk kendaraan investasi kredit swasta menjadi negatif, setelah mempertahankan peringkat stabil selama lebih dari dua tahun.\n\nEksodus yang terus berlanjut dari instrumen investasi non-perdagangan, yang mencakup 60% aset sektor ini, dan tingginya leverage pada rekan-rekan mereka yang diperdagangkan secara publik merupakan pendorong utama revisi peringkat kredit, menurut sebuah laporan pada hari Selasa. \"Kekuatan disruptif\" yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan diperkirakan akan memperburuk kekhawatiran kelompok ini dan menempatkannya \"dalam posisi bertahan\" di tahun mendatang, tulis analis Moody's.\n\nPembalikan mendadak pada kuartal pertama memicu arus keluar bersih pertama kalinya untuk sektor ini, kata Moody's. Sebelum kemajuan kecerdasan buatan membunyikan alarm tentang daya tahan sekuritas perangkat lunak, instrumen investasi tersebut telah mengalami arus masuk bersih yang kuat hingga kuartal ketiga tahun 2025.\nBagi perusahaan pengembangan bisnis non-perdagangan, ini adalah \"dinamika yang tidak menguntungkan yang kemungkinan tidak akan berbalik\" pada tahun 2026, kata Moody's. Penarikan dana baru-baru ini telah memaksa beberapa dana untuk memberlakukan batasan pada permintaan penarikan dan mengancam akan menciptakan gelombang investor yang mencoba keluar dari posisi mereka. Baca Selengkapnya: BDC Blue Owl Menerapkan Batasan Setelah Menghadapi Permintaan Keluar dari 41% dan 22% Investor\n“Pembatasan jumlah investor dan berita utama tentang penarikan dana yang tinggi dapat mendorong investor lain untuk melakukan penarikan dana,” tulis para penulis laporan, yang dipimpin oleh Clay Montgomery, wakil presiden di tim kredit swasta Moody’s Ratings.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "qg25xuc6k_s"}}, {"key": "markets", "attributes": {"label": "markets", "x": 394.65278896909473, "y": 275.3950589072034, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8959, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "qg25xuc6k_s", "id": "markets", "source": "youtube-000001", "content": "Kredit Swasta Mengalami 'Masalah Pertumbuhan,' Kata Co-CEO SLR Capital Partners, Gross\n\nMichael Gross, salah satu pendiri SLR Capital Partners, mengatakan tekanan pada perusahaan pengembangan bisnis merupakan bagian dari \"masa-masa sulit\" pertumbuhan kredit swasta.\n\nJPMorgan Chase & Co. membatasi beberapa pinjaman kepada dana kredit swasta setelah menurunkan nilai pinjaman dalam portofolio mereka. Pada saat yang sama, BDC — yang memberikan pinjaman langsung kepada perusahaan menengah — mengalami peningkatan permintaan penarikan dana di tengah kekhawatiran akan kerugian terkait dengan eksposur yang terlalu besar terhadap perusahaan perangkat lunak yang terganggu oleh AI. Selain ekuitas dari mitra terbatas dan investor publik, dana kredit swasta bergantung pada bank untuk pendanaan. Mereka juga mengumpulkan utang di pasar obligasi peringkat investasi. Gelombang penarikan dana yang meningkat telah mendorong Moody's Ratings untuk merevisi prospeknya untuk kendaraan investasi kredit swasta menjadi negatif, setelah mempertahankan peringkat stabil selama lebih dari dua tahun.\n\nEksodus yang terus berlanjut dari instrumen investasi non-perdagangan, yang mencakup 60% aset sektor ini, dan tingginya leverage pada rekan-rekan mereka yang diperdagangkan secara publik merupakan pendorong utama revisi peringkat kredit, menurut sebuah laporan pada hari Selasa. \"Kekuatan disruptif\" yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan diperkirakan akan memperburuk kekhawatiran kelompok ini dan menempatkannya \"dalam posisi bertahan\" di tahun mendatang, tulis analis Moody's.\n\nPembalikan mendadak pada kuartal pertama memicu arus keluar bersih pertama kalinya untuk sektor ini, kata Moody's. Sebelum kemajuan kecerdasan buatan membunyikan alarm tentang daya tahan sekuritas perangkat lunak, instrumen investasi tersebut telah mengalami arus masuk bersih yang kuat hingga kuartal ketiga tahun 2025.\nBagi perusahaan pengembangan bisnis non-perdagangan, ini adalah \"dinamika yang tidak menguntungkan yang kemungkinan tidak akan berbalik\" pada tahun 2026, kata Moody's. Penarikan dana baru-baru ini telah memaksa beberapa dana untuk memberlakukan batasan pada permintaan penarikan dan mengancam akan menciptakan gelombang investor yang mencoba keluar dari posisi mereka. Baca Selengkapnya: BDC Blue Owl Menerapkan Batasan Setelah Menghadapi Permintaan Keluar dari 41% dan 22% Investor\n“Pembatasan jumlah investor dan berita utama tentang penarikan dana yang tinggi dapat mendorong investor lain untuk melakukan penarikan dana,” tulis para penulis laporan, yang dipimpin oleh Clay Montgomery, wakil presiden di tim kredit swasta Moody’s Ratings.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "qg25xuc6k_s"}}, {"key": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "bloombergquicktake", "x": 970.0881841487823, "y": 343.40183876693277, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8959, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "qg25xuc6k_s", "id": "bloombergquicktake", "source": "youtube-000001", "content": "Kredit Swasta Mengalami 'Masalah Pertumbuhan,' Kata Co-CEO SLR Capital Partners, Gross\n\nMichael Gross, salah satu pendiri SLR Capital Partners, mengatakan tekanan pada perusahaan pengembangan bisnis merupakan bagian dari \"masa-masa sulit\" pertumbuhan kredit swasta.\n\nJPMorgan Chase & Co. membatasi beberapa pinjaman kepada dana kredit swasta setelah menurunkan nilai pinjaman dalam portofolio mereka. Pada saat yang sama, BDC — yang memberikan pinjaman langsung kepada perusahaan menengah — mengalami peningkatan permintaan penarikan dana di tengah kekhawatiran akan kerugian terkait dengan eksposur yang terlalu besar terhadap perusahaan perangkat lunak yang terganggu oleh AI. Selain ekuitas dari mitra terbatas dan investor publik, dana kredit swasta bergantung pada bank untuk pendanaan. Mereka juga mengumpulkan utang di pasar obligasi peringkat investasi. Gelombang penarikan dana yang meningkat telah mendorong Moody's Ratings untuk merevisi prospeknya untuk kendaraan investasi kredit swasta menjadi negatif, setelah mempertahankan peringkat stabil selama lebih dari dua tahun.\n\nEksodus yang terus berlanjut dari instrumen investasi non-perdagangan, yang mencakup 60% aset sektor ini, dan tingginya leverage pada rekan-rekan mereka yang diperdagangkan secara publik merupakan pendorong utama revisi peringkat kredit, menurut sebuah laporan pada hari Selasa. \"Kekuatan disruptif\" yang dihadirkan oleh kecerdasan buatan diperkirakan akan memperburuk kekhawatiran kelompok ini dan menempatkannya \"dalam posisi bertahan\" di tahun mendatang, tulis analis Moody's.\n\nPembalikan mendadak pada kuartal pertama memicu arus keluar bersih pertama kalinya untuk sektor ini, kata Moody's. Sebelum kemajuan kecerdasan buatan membunyikan alarm tentang daya tahan sekuritas perangkat lunak, instrumen investasi tersebut telah mengalami arus masuk bersih yang kuat hingga kuartal ketiga tahun 2025.\nBagi perusahaan pengembangan bisnis non-perdagangan, ini adalah \"dinamika yang tidak menguntungkan yang kemungkinan tidak akan berbalik\" pada tahun 2026, kata Moody's. Penarikan dana baru-baru ini telah memaksa beberapa dana untuk memberlakukan batasan pada permintaan penarikan dan mengancam akan menciptakan gelombang investor yang mencoba keluar dari posisi mereka. Baca Selengkapnya: BDC Blue Owl Menerapkan Batasan Setelah Menghadapi Permintaan Keluar dari 41% dan 22% Investor\n“Pembatasan jumlah investor dan berita utama tentang penarikan dana yang tinggi dapat mendorong investor lain untuk melakukan penarikan dana,” tulis para penulis laporan, yang dipimpin oleh Clay Montgomery, wakil presiden di tim kredit swasta Moody’s Ratings.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "qg25xuc6k_s"}}, {"key": "@RedaksiNewsATV", "attributes": {"label": "@RedaksiNewsATV", "x": 472.4606394079829, "y": 619.0008988181827, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "g22-gAoc8bA", "id": "@RedaksiNewsATV", "source": "youtube-000001", "content": "STABILITAS SEKTOR JASA KEUANGAN DI WILAYAH OJK MALANG TETAP TERJAGA HINGGA JANUARI | ATV MALANG RAYA\n\nOTORITAS JASA KEUANGAN WULAYAH MALANG MERILIS  STABILITAS SEKTOR JASA KEUANGAN DI WILAYAH MALANG RAYA HINGGA JANUARI 2026 MASIH TERJAGA DENGAN BAIK. KONDISI INI DITUNJUKKAN DARI KINERJA INTERMEDIASI PERBANKAN YANG TETAP TUMBUH POSITIF SERTA KUALITAS KREDIT YANG RELATIF TERJAGA DI TENGAH DINAMIKA PEREKONOMIAN GLOBAL.\n\n#AgropolitanNews #KotaWisataBatu #InformasiMalangRaya\nWebsite : www.agropolitan.tv\n\nEmail : redaksiagropolitannews\n\nInstagram : \n  / agropolitan_news  \n\nTiktok : \nhttps://vt.tiktok.com/ZSdA2242A/\n\nSnack Video :", "post_id": "g22-gAoc8bA"}}, {"key": "agropolitan_news", "attributes": {"label": "agropolitan_news", "x": 199.32983768748036, "y": 557.571523925476, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.7191, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "g22-gAoc8bA", "id": "agropolitan_news", "source": "youtube-000001", "content": "STABILITAS SEKTOR JASA KEUANGAN DI WILAYAH OJK MALANG TETAP TERJAGA HINGGA JANUARI | ATV MALANG RAYA\n\nOTORITAS JASA KEUANGAN WULAYAH MALANG MERILIS  STABILITAS SEKTOR JASA KEUANGAN DI WILAYAH MALANG RAYA HINGGA JANUARI 2026 MASIH TERJAGA DENGAN BAIK. KONDISI INI DITUNJUKKAN DARI KINERJA INTERMEDIASI PERBANKAN YANG TETAP TUMBUH POSITIF SERTA KUALITAS KREDIT YANG RELATIF TERJAGA DI TENGAH DINAMIKA PEREKONOMIAN GLOBAL.\n\n#AgropolitanNews #KotaWisataBatu #InformasiMalangRaya\nWebsite : www.agropolitan.tv\n\nEmail : redaksiagropolitannews\n\nInstagram : \n  / agropolitan_news  \n\nTiktok : \nhttps://vt.tiktok.com/ZSdA2242A/\n\nSnack Video :", "post_id": "g22-gAoc8bA"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 141.85301083046187, "y": 514.6298693882909, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "sUJwPslw37o", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "PONDASI EKONOMI DOMESTIK JADI PENENTU NILAI TUKAR RUPIAH MENGUAT\n\nIDXCHANNEL - Bank Indonesia tetap akan menguasai pergerakan rupiah ditengah masih berlangsungnya ketidakpastian global, faktor pondasi ekonomi domestik seperti inflasi rendah hingga pertumbuhan yang stabil diharapkan menjadi peningkat trend penguatan rupiah yang dalam sepekan terjadi.\n\nDeputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menjelaskan gambaran ekonomi domestik sudah mulai positif diantaranya inflasi tetap rendah, pertumbuhan ekonomi 5,2% hingga pertumbuhan kredit yang mampu tumbuh 12%, namun Dody juga menjelaskan penguatan rupiah akan tergantung dari gambaran eksternal kedepan.  \n\nFollow Instagram IDXCHANNEL", "post_id": "sUJwPslw37o"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 799.3840448200294, "y": 288.8303015981833, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "sUJwPslw37o", "id": "idx_channel", "source": "youtube-000001", "content": "PONDASI EKONOMI DOMESTIK JADI PENENTU NILAI TUKAR RUPIAH MENGUAT\n\nIDXCHANNEL - Bank Indonesia tetap akan menguasai pergerakan rupiah ditengah masih berlangsungnya ketidakpastian global, faktor pondasi ekonomi domestik seperti inflasi rendah hingga pertumbuhan yang stabil diharapkan menjadi peningkat trend penguatan rupiah yang dalam sepekan terjadi.\n\nDeputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menjelaskan gambaran ekonomi domestik sudah mulai positif diantaranya inflasi tetap rendah, pertumbuhan ekonomi 5,2% hingga pertumbuhan kredit yang mampu tumbuh 12%, namun Dody juga menjelaskan penguatan rupiah akan tergantung dari gambaran eksternal kedepan.  \n\nFollow Instagram IDXCHANNEL", "post_id": "sUJwPslw37o"}}, {"key": "@KompasTVJawaBarat", "attributes": {"label": "@KompasTVJawaBarat", "x": 563.123489594211, "y": 259.433611113179, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "r2COWJv3SIM", "id": "@KompasTVJawaBarat", "source": "youtube-000001", "content": "Dorong Kredit, BI Perkuat Insentif Likuiditas Bank\n\n#bankindonesia #insentif #sukubunga \n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.\n\nSelain mempertahankan suku bunga di rapat dewan Gubenur Juli kemarin, Bank Indonesia juga memperkuat stimulus kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit, pembiayaan perbankan, melalui implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).\n\nApa saja fokus dari kebijakan ini?.\n\nUntuk lebih tahu berita terupdate seputar Jawa Barat, bisa klink link di bawah:\nIG: https:  / kompastvjabar  \nYoutube:    /   \nTwitter:   / kompastv_jabar  \nFacebook:   / kompastvjawabarat  \nTikTok:   / kompastvjabar", "post_id": "r2COWJv3SIM"}}, {"key": "kompastvjawabarat", "attributes": {"label": "kompastvjawabarat", "x": 385.5394516967022, "y": 879.8477152700449, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "r2COWJv3SIM", "id": "kompastvjawabarat", "source": "youtube-000001", "content": "Dorong Kredit, BI Perkuat Insentif Likuiditas Bank\n\n#bankindonesia #insentif #sukubunga \n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Bank Indonesia terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan.\n\nSelain mempertahankan suku bunga di rapat dewan Gubenur Juli kemarin, Bank Indonesia juga memperkuat stimulus kebijakan makroprudensial untuk mendorong pertumbuhan kredit, pembiayaan perbankan, melalui implementasi kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM).\n\nApa saja fokus dari kebijakan ini?.\n\nUntuk lebih tahu berita terupdate seputar Jawa Barat, bisa klink link di bawah:\nIG: https:  / kompastvjabar  \nYoutube:    /   \nTwitter:   / kompastv_jabar  \nFacebook:   / kompastvjawabarat  \nTikTok:   / kompastvjabar", "post_id": "r2COWJv3SIM"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 544.1255659164003, "y": 580.1225629851675, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "Ev2dMFAXr9w", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE DELAY] Bank Indonesia Catat Insentif Likuiditas Rp427,1 T, Himbara Jadi Penggerak\n\nKABARBURSA.COM — Bank BUMN menjadi penyerap terbesar insentif likuiditas makroprudensial (KLM) Bank Indonesia yang telah mencapai Rp427,1 triliun hingga awal Maret 2026. Dari total tersebut, Rp225,6 triliun dimanfaatkan oleh Himbara untuk mendorong penyaluran kredit ke berbagai sektor prioritas. Kebijakan ini menunjukkan upaya BI dalam menjaga pertumbuhan kredit dan mendukung sektor riil seperti pertanian, industri, hingga UMKM.\n\nLangkah ini penting karena berdampak langsung pada akses pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#klmbi #bankbumen #bankindonesia #himbara #kreditperbankan #likuiditas #ekonomiindonesia #umkm #sektorriil #kebijakanmoneter #perbankanindonesia #bisnisindonesia", "post_id": "Ev2dMFAXr9w"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 944.7861695214325, "y": 457.00049254199416, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8959, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "Ev2dMFAXr9w", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE DELAY] Bank Indonesia Catat Insentif Likuiditas Rp427,1 T, Himbara Jadi Penggerak\n\nKABARBURSA.COM — Bank BUMN menjadi penyerap terbesar insentif likuiditas makroprudensial (KLM) Bank Indonesia yang telah mencapai Rp427,1 triliun hingga awal Maret 2026. Dari total tersebut, Rp225,6 triliun dimanfaatkan oleh Himbara untuk mendorong penyaluran kredit ke berbagai sektor prioritas. Kebijakan ini menunjukkan upaya BI dalam menjaga pertumbuhan kredit dan mendukung sektor riil seperti pertanian, industri, hingga UMKM.\n\nLangkah ini penting karena berdampak langsung pada akses pembiayaan masyarakat dan pelaku usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#klmbi #bankbumen #bankindonesia #himbara #kreditperbankan #likuiditas #ekonomiindonesia #umkm #sektorriil #kebijakanmoneter #perbankanindonesia #bisnisindonesia", "post_id": "Ev2dMFAXr9w"}}, {"key": "@VideoTribunPontianak", "attributes": {"label": "@VideoTribunPontianak", "x": 183.65381268874881, "y": 689.0933265638205, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3655, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Jwssa8PHJIs", "id": "@VideoTribunPontianak", "source": "youtube-000001", "content": "PURBAYA MULAI LIHAT TANDA-TANDA EKONOMI RI BAKAL LARI KENCANG❗\n\nMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai melihat sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih cepat dalam waktu dekat. Ia menilai, langkah pemerintah menempatkan dana menganggur di Bank Indonesia (BI) ke lima bank milik negara mulai menunjukkan hasil.\n\nSebagai informasi, sejak 12 September 2025, pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun di lima bank milik negara. Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing mendapat alokasi Rp 55 triliun, BTN Rp 25 triliun, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Rp 10 triliun.\n\nPurbaya mengatakan, efek pertama terlihat dari makin cepatnya pertumbuhan kredit di perbankan itu. Salah satu yang telah ia saksikan ialah peningkatan kredit Bank Mandiri yang telah mencapai 11% dari sebelumnya hanya kisaran 8%.\n\n\"Jadi ada pick up kan ke atas, sudah naik. Itu bagus,\" kata Purbaya di kantornya, Jakarta, dikutip Minggu 12 Oktober 2025. Efek kedua yang telah dirasakan perekonomian Indonesia, ia sebut terlihat dari peningkatan sangat cepat peredaran uang primer atau M0. Pertumbuhan uang primer ia sebut telah mencapai 13% dari sebelumnya bahkan stagnan di kisaran 0%.\n\n\"Dan tinggal tunggu waktu saja ekonomi secara keseluruhan akan semakin cepat,\" tegas Purbaya. Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer atau M0 adjusted per September 2025 mencapai Rp 2.152,4 triliun.\n\nSebagai catatan, uang primer atau base money atau uang dasar adalah uang yang dirilis oleh bank sentral, meliputi uang kartal (koin dan uang kertas) yang beredar di masyarakat dan cadangan bank, yakni simpanan bank umum di bank sentral. Fungsi utamanya base money adalah sebagai dasar atau fondasi untuk penciptaan bentuk uang lain di perekonomian.\n\n#purbayayudhisadewa #menkeu #ekonomiindonesia #bankindonesia #uang #cepat #viral #purbaya \n\nSimak berita selengkapnya di https://www.cnbcindonesia.com/market/...\nSimak Video Viral lainnya    / tribunsingkawang1  \n\nProgram: -\nHost: -\nEditor Video: Heru\nUploader: -\n\n‎Ikuti saluran Tribun Pontianak di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLd...\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nFollow us:\n\nInstagram:   / tribunpontianak  \nFacebook:   / tribunpontianakinteraktif  \nTwitter:   / tribunpontianak  \nTikTok: tiktok.com/\n\nTerima Kasih Telah Subscribe, Like, dan comment konten-konten menarik dari Kami.", "post_id": "Jwssa8PHJIs"}}, {"key": "tribunpontianak", "attributes": {"label": "tribunpontianak", "x": 348.26214320685835, "y": 569.7494957264033, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 28.4263, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Jwssa8PHJIs", "id": "tribunpontianak", "source": "youtube-000001", "content": "PURBAYA MULAI LIHAT TANDA-TANDA EKONOMI RI BAKAL LARI KENCANG❗\n\nMenteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai melihat sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih cepat dalam waktu dekat. Ia menilai, langkah pemerintah menempatkan dana menganggur di Bank Indonesia (BI) ke lima bank milik negara mulai menunjukkan hasil.\n\nSebagai informasi, sejak 12 September 2025, pemerintah telah menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun di lima bank milik negara. Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing mendapat alokasi Rp 55 triliun, BTN Rp 25 triliun, dan Bank Syariah Indonesia (BSI) Rp 10 triliun.\n\nPurbaya mengatakan, efek pertama terlihat dari makin cepatnya pertumbuhan kredit di perbankan itu. Salah satu yang telah ia saksikan ialah peningkatan kredit Bank Mandiri yang telah mencapai 11% dari sebelumnya hanya kisaran 8%.\n\n\"Jadi ada pick up kan ke atas, sudah naik. Itu bagus,\" kata Purbaya di kantornya, Jakarta, dikutip Minggu 12 Oktober 2025. Efek kedua yang telah dirasakan perekonomian Indonesia, ia sebut terlihat dari peningkatan sangat cepat peredaran uang primer atau M0. Pertumbuhan uang primer ia sebut telah mencapai 13% dari sebelumnya bahkan stagnan di kisaran 0%.\n\n\"Dan tinggal tunggu waktu saja ekonomi secara keseluruhan akan semakin cepat,\" tegas Purbaya. Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer atau M0 adjusted per September 2025 mencapai Rp 2.152,4 triliun.\n\nSebagai catatan, uang primer atau base money atau uang dasar adalah uang yang dirilis oleh bank sentral, meliputi uang kartal (koin dan uang kertas) yang beredar di masyarakat dan cadangan bank, yakni simpanan bank umum di bank sentral. Fungsi utamanya base money adalah sebagai dasar atau fondasi untuk penciptaan bentuk uang lain di perekonomian.\n\n#purbayayudhisadewa #menkeu #ekonomiindonesia #bankindonesia #uang #cepat #viral #purbaya \n\nSimak berita selengkapnya di https://www.cnbcindonesia.com/market/...\nSimak Video Viral lainnya    / tribunsingkawang1  \n\nProgram: -\nHost: -\nEditor Video: Heru\nUploader: -\n\n‎Ikuti saluran Tribun Pontianak di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLd...\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nFollow us:\n\nInstagram:   / tribunpontianak  \nFacebook:   / tribunpontianakinteraktif  \nTwitter:   / tribunpontianak  \nTikTok: tiktok.com/\n\nTerima Kasih Telah Subscribe, Like, dan comment konten-konten menarik dari Kami.", "post_id": "Jwssa8PHJIs"}}], "edges": [{"key": "keuangannews_id", "source": "keuangannews_id", "target": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "keuangannews_id", "source": "keuangannews_id", "target": "keuangannews_id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "yantomutsu", "source": "yantomutsu", "target": "abu_waras", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "keuangannews_id", "source": "keuangannews_id", "target": "keuangan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "r1dayat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "arda_odang17", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "mochmasykur12", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "icibosadd", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "wooriinim", "source": "wooriinim", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "tenderterbatas", "source": "tenderterbatas", "target": "ChatibBasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "kontannews", "source": "kontannews", "target": "bankraya", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "kompastv", "source": "kompastv", "target": "banksyariahindonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "swamediainc", "source": "swamediainc", "target": "swamediainc", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "hannyukas", "source": "hannyukas", "target": "ojkindonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "hannyukas", "source": "hannyukas", "target": "sikapiuangmu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "hannyukas", "source": "hannyukas", "target": "satgas_pasti", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "hannyukas", "source": "hannyukas", "target": "kontak157", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "visi.bisnis", "source": "visi.bisnis", "target": "rivan.kurniawan.", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "pusatclipss.id", "source": "pusatclipss.id", "target": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "indoposco.id", "source": "indoposco.id", "target": "Bank", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "markets", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@RedaksiNewsATV", "source": "@RedaksiNewsATV", "target": "agropolitan_news", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@RedaksiNewsATV", "source": "@RedaksiNewsATV", "target": "agropolitan_news", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@RedaksiNewsATV", "source": "@RedaksiNewsATV", "target": "agropolitan_news", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVJawaBarat", "source": "@KompasTVJawaBarat", "target": "kompastvjawabarat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@VideoTribunPontianak", "source": "@VideoTribunPontianak", "target": "tribunpontianak", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}