{"nodes": [{"key": "elison.parsaulian", "attributes": {"label": "elison.parsaulian", "x": 869.4649942398843, "y": 550.7088370057282, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 212.7659, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7643106572247256327", "id": "elison.parsaulian", "source": "tiktok-000001", "content": "Isu Kebocoran 890.000 Akses hingga 4,9 Juta Data Nasabah di Mobile Banking, BCA Beri Respon    Publik dan para nasabah Bank Central Asia (BCA) dikejutkan dengan beredarnya kabar mengenai dugaan kebocoran data pengguna layanan mobile banking di jaringan gelap atau dark web.  Isu ini mencuat setelah akun media sosial X, , pada Kamis, 21 Mei 2026, membagikan tangkapan layar sebuah forum yang memuat tawaran kumpulan data berjudul ‘BCA Mobile Bank Access & Database’.   Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa pihak yang menawarkan mengaku memiliki akses sebanyak 890.000 akun serta data basis data sebesar 4,9 juta entri yang diklaim milik nasabah BCA.  Data tersebut disebut memuat informasi pribadi, data perbankan, hingga kolom internal. Meski demikian, pengunggah juga menegaskan bahwa klaim tersebut belum terverifikasi kebenarannya dan masih berupa dugaan yang perlu pengecekan lebih lanjut.   Berisiko Digunakan Untuk Penipuan   Istilah 'akses' dalam dunia keamanan siber umumnya merujuk pada kredensial masuk, kendali akun, atau perangkat yang terinfeksi.  Jika data tersebut benar adanya, risiko yang mengintai cukup besar, mulai dari pengambilalihan akun, penipuan digital, serangan pertukaran kartu SIM, hingga modus phising dan rekayasa sosial.   Indonesia sendiri dinilai menjadi sasaran empuk kejahatan siber karena tingginya tingkat adopsi layanan keuangan digital. Respons Pihak BCA   Merespons kekhawatiran tersebut, BCA melalui EVP Komunikasi Perusahaan, Hera F. Haryn, telah melakukan investigasi menyeluruh dan memastikan bahwa tidak ada satu pun data nasabah yang bocor dari sistem perseroan.  Ia menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar dan mengimbau para nasabah untuk tidak panik, karena keamanan data mereka tetap terjamin.*** #Bocor #Data #Nasabah #MobileBanking  #BCA", "post_id": "7643106572247256327"}}, {"key": "DailyDarkWeb", "attributes": {"label": "DailyDarkWeb", "x": 698.9637149619078, "y": 572.190227438826, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 574.4682, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "7643106572247256327", "id": "DailyDarkWeb", "source": "tiktok-000001", "content": "Isu Kebocoran 890.000 Akses hingga 4,9 Juta Data Nasabah di Mobile Banking, BCA Beri Respon    Publik dan para nasabah Bank Central Asia (BCA) dikejutkan dengan beredarnya kabar mengenai dugaan kebocoran data pengguna layanan mobile banking di jaringan gelap atau dark web.  Isu ini mencuat setelah akun media sosial X, , pada Kamis, 21 Mei 2026, membagikan tangkapan layar sebuah forum yang memuat tawaran kumpulan data berjudul ‘BCA Mobile Bank Access & Database’.   Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa pihak yang menawarkan mengaku memiliki akses sebanyak 890.000 akun serta data basis data sebesar 4,9 juta entri yang diklaim milik nasabah BCA.  Data tersebut disebut memuat informasi pribadi, data perbankan, hingga kolom internal. Meski demikian, pengunggah juga menegaskan bahwa klaim tersebut belum terverifikasi kebenarannya dan masih berupa dugaan yang perlu pengecekan lebih lanjut.   Berisiko Digunakan Untuk Penipuan   Istilah 'akses' dalam dunia keamanan siber umumnya merujuk pada kredensial masuk, kendali akun, atau perangkat yang terinfeksi.  Jika data tersebut benar adanya, risiko yang mengintai cukup besar, mulai dari pengambilalihan akun, penipuan digital, serangan pertukaran kartu SIM, hingga modus phising dan rekayasa sosial.   Indonesia sendiri dinilai menjadi sasaran empuk kejahatan siber karena tingginya tingkat adopsi layanan keuangan digital. Respons Pihak BCA   Merespons kekhawatiran tersebut, BCA melalui EVP Komunikasi Perusahaan, Hera F. Haryn, telah melakukan investigasi menyeluruh dan memastikan bahwa tidak ada satu pun data nasabah yang bocor dari sistem perseroan.  Ia menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar dan mengimbau para nasabah untuk tidak panik, karena keamanan data mereka tetap terjamin.*** #Bocor #Data #Nasabah #MobileBanking  #BCA", "post_id": "7643106572247256327"}}, {"key": "ruangharian", "attributes": {"label": "ruangharian", "x": 208.3820216701271, "y": 875.0791333895883, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 212.7659, "eigenvector": 333.3333, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7643105062968954120", "id": "ruangharian", "source": "tiktok-000001", "content": "Isu Kebocoran 890.000 Akses hingga 4,9 Juta Data Nasabah di Mobile Banking, BCA Beri Respon    Publik dan para nasabah Bank Central Asia (BCA) dikejutkan dengan beredarnya kabar mengenai dugaan kebocoran data pengguna layanan mobile banking di jaringan gelap atau dark web.  Isu ini mencuat setelah akun media sosial X, , pada Kamis, 21 Mei 2026, membagikan tangkapan layar sebuah forum yang memuat tawaran kumpulan data berjudul ‘BCA Mobile Bank Access & Database’.   Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa pihak yang menawarkan mengaku memiliki akses sebanyak 890.000 akun serta data basis data sebesar 4,9 juta entri yang diklaim milik nasabah BCA.  Data tersebut disebut memuat informasi pribadi, data perbankan, hingga kolom internal. Meski demikian, pengunggah juga menegaskan bahwa klaim tersebut belum terverifikasi kebenarannya dan masih berupa dugaan yang perlu pengecekan lebih lanjut.   Berisiko Digunakan Untuk Penipuan   Istilah 'akses' dalam dunia keamanan siber umumnya merujuk pada kredensial masuk, kendali akun, atau perangkat yang terinfeksi.  Jika data tersebut benar adanya, risiko yang mengintai cukup besar, mulai dari pengambilalihan akun, penipuan digital, serangan pertukaran kartu SIM, hingga modus phising dan rekayasa sosial.   Indonesia sendiri dinilai menjadi sasaran empuk kejahatan siber karena tingginya tingkat adopsi layanan keuangan digital. Respons Pihak BCA   Merespons kekhawatiran tersebut, BCA melalui EVP Komunikasi Perusahaan, Hera F. Haryn, telah melakukan investigasi menyeluruh dan memastikan bahwa tidak ada satu pun data nasabah yang bocor dari sistem perseroan.  Ia menegaskan bahwa informasi yang beredar tersebut tidak benar dan mengimbau para nasabah untuk tidak panik, karena keamanan data mereka tetap terjamin.*** #Bocor #Data #Nasabah #MobileBanking  #BCA", "post_id": "7643105062968954120"}}], "edges": [{"key": "elison.parsaulian", "source": "elison.parsaulian", "target": "DailyDarkWeb", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "ruangharian", "source": "ruangharian", "target": "DailyDarkWeb", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}]}