{"nodes": [{"key": "txtpersahaman", "attributes": {"label": "txtpersahaman", "x": 141.05433346537154, "y": 403.3882636641222, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 43.6498, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 0, "out_degree": 13, "degree": 13}, "_id": "2062050045915279705", "id": "txtpersahaman", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062050045915279705"}}, {"key": "txtdrbekasi", "attributes": {"label": "txtdrbekasi", "x": 228.63411567234482, "y": 80.53666240684554, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062050045915279705", "id": "txtdrbekasi", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062050045915279705"}}, {"key": "idextratime", "attributes": {"label": "idextratime", "x": 298.8597910570912, "y": 344.6658894806678, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2062073886108512295", "id": "idextratime", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062073886108512295"}}, {"key": "Strawberrygyz", "attributes": {"label": "Strawberrygyz", "x": 650.8619962999179, "y": 415.42695953860766, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062074455967633595", "id": "Strawberrygyz", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062074455967633595"}}, {"key": "txtdrimedia", "attributes": {"label": "txtdrimedia", "x": 725.9167833241878, "y": 439.1354880914321, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062074202128056512", "id": "txtdrimedia", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062074202128056512"}}, {"key": "Gendoet3G", "attributes": {"label": "Gendoet3G", "x": 241.84903701403425, "y": 822.9983694201923, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062048806624178194", "id": "Gendoet3G", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062048806624178194"}}, {"key": "insidefolkative", "attributes": {"label": "insidefolkative", "x": 997.5661285918418, "y": 529.0286732550436, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062049714208645365", "id": "insidefolkative", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062049714208645365"}}, {"key": "jellypastaa", "attributes": {"label": "jellypastaa", "x": 957.3144247233924, "y": 900.0645339441661, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062310076359270477", "id": "jellypastaa", "source": "tweet-000004", "content": "Hem jadi teringat\nMau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia", "post_id": "2062310076359270477"}}, {"key": "SeekHustle", "attributes": {"label": "SeekHustle", "x": 17.916320717878186, "y": 566.8907194882098, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062313727798768006", "id": "SeekHustle", "source": "tweet-000004", "content": "hm\nMau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062313727798768006"}}, {"key": "MiskinTV_", "attributes": {"label": "MiskinTV_", "x": 617.8990196877476, "y": 942.9330005253341, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062320587998163264", "id": "MiskinTV_", "source": "tweet-000004", "content": "gapapa min\nMau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih", "post_id": "2062320587998163264"}}, {"key": "valenttt____", "attributes": {"label": "valenttt____", "x": 644.2078479762914, "y": 408.25389875397855, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062048831517364481", "id": "valenttt____", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062048831517364481"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 518.8203258524485, "y": 72.86209385854414, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062048831517364481", "id": "bank_indonesia", "source": "tweet-000004", "content": "Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062048831517364481"}}, {"key": "Hidupsebagai62", "attributes": {"label": "Hidupsebagai62", "x": 122.33500073655601, "y": 659.2109467201009, "size": 15.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.5038, "eigenvector": 76.9231, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2062314088609575350", "id": "Hidupsebagai62", "source": "tweet-000004", "content": "bukannya Mau Dollar ke 17.000 Rupiah, Mau 20.000, Mau 30.000, Jangan Khawatir, Indonesia Aman Kok\n\n\"Rupiah begini, rupiah begini, apa? Eh, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan? Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke.", "post_id": "2062314088609575350"}}, {"key": "hariankompas", "attributes": {"label": "hariankompas", "x": 379.3279730325956, "y": 805.224134150319, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 43.6498, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3922063519494768532_1537212147", "id": "hariankompas", "source": "instagram-000001", "content": "Indonesia berkomitmen menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada 2045. Estimasi penulis menunjukkan rentang pendapatan per kapita pada 2045 antara 15.000 dolar AS hingga 30.000 dolar AS apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5-8 persen.\n\nRentang pendapatan per kapita per tahun untuk kelas menengah adalah yang terpanjang. Nilai rentang meningkat mengikuti laju inflasi. Untuk saat ini, menurut Bank Dunia, kelas menengah berada dalam dua kategori. Pertama, menengah bawah dalam rentang 1.136-4.495 dolar AS dan menengah atas dalam rentang 4.496-13.935 dolar AS. Pendapatan per kapita di bawah 1.136 dolar AS masuk kategori rendah, sedangkan di atas 13.935 dolar AS masuk kategori tinggi. Panjangnya klasifikasi kelas menengah membuat kemungkinan sebuah negara berada lama di dalam kategori kelas menengah, sangat besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah ”jebakan kelas menengah” atau middle income trap (MIT).\n\nAda empat variabel yang harus dijaga oleh setiap negara yang ingin lolos dari jebakan MIT: pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar. Saat kondisi ekonomi normal, output tumbuh positif dan nilai tukar bersifat stabil. Depresiasi mata uang domestik tidak akan menurunkan pendapatan per kapita. Namun, jika nilai tukar terus mengalami depresiasi, output akan cenderung turun karena biaya produksi meningkat sehingga menurunkan pendapatan per kapita. Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian bahan mentah, bahan baku, dan mesin-mesin berasal dari impor. Fenomena ini disebut imported inflation.\n\nMenjadi Negara Industri Maju dan Peran Nilai Tukar\nOpini 18 Juni 2026\n\nDitulis oleh Kiki Verico ()\nDosen Ekonomi Internasional dan Wakil Dekan FEB UI\n\n#Opini #Kompas61 #MerawatMasaDepan", "post_id": "3922063519494768532_1537212147"}}, {"key": "kiver_2021", "attributes": {"label": "kiver_2021", "x": 187.9584011494646, "y": 281.6204486178186, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 62.201, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3922063519494768532_1537212147", "id": "kiver_2021", "source": "instagram-000001", "content": "Indonesia berkomitmen menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada 2045. Estimasi penulis menunjukkan rentang pendapatan per kapita pada 2045 antara 15.000 dolar AS hingga 30.000 dolar AS apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5-8 persen.\n\nRentang pendapatan per kapita per tahun untuk kelas menengah adalah yang terpanjang. Nilai rentang meningkat mengikuti laju inflasi. Untuk saat ini, menurut Bank Dunia, kelas menengah berada dalam dua kategori. Pertama, menengah bawah dalam rentang 1.136-4.495 dolar AS dan menengah atas dalam rentang 4.496-13.935 dolar AS. Pendapatan per kapita di bawah 1.136 dolar AS masuk kategori rendah, sedangkan di atas 13.935 dolar AS masuk kategori tinggi. Panjangnya klasifikasi kelas menengah membuat kemungkinan sebuah negara berada lama di dalam kategori kelas menengah, sangat besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah ”jebakan kelas menengah” atau middle income trap (MIT).\n\nAda empat variabel yang harus dijaga oleh setiap negara yang ingin lolos dari jebakan MIT: pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar. Saat kondisi ekonomi normal, output tumbuh positif dan nilai tukar bersifat stabil. Depresiasi mata uang domestik tidak akan menurunkan pendapatan per kapita. Namun, jika nilai tukar terus mengalami depresiasi, output akan cenderung turun karena biaya produksi meningkat sehingga menurunkan pendapatan per kapita. Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian bahan mentah, bahan baku, dan mesin-mesin berasal dari impor. Fenomena ini disebut imported inflation.\n\nMenjadi Negara Industri Maju dan Peran Nilai Tukar\nOpini 18 Juni 2026\n\nDitulis oleh Kiki Verico ()\nDosen Ekonomi Internasional dan Wakil Dekan FEB UI\n\n#Opini #Kompas61 #MerawatMasaDepan", "post_id": "3922063519494768532_1537212147"}}, {"key": "hariankompas.", "attributes": {"label": "hariankompas.", "x": 643.7264048106712, "y": 264.62859851089115, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 62.201, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916788620711595792_1537212147", "id": "hariankompas.", "source": "instagram-000001", "content": "Serentetan tekanan ekonomi mengimpit masyarakat kelas menengah. Sehari setelah kenaikan suku bunga acuan, warga dihadapkan pada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax yang melambung 32 persen mulai Rabu (10/6/2026).\n\nHarga Pertamax melonjak dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara harga Pertamax Green 95 meroket, dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.\n\nCorporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun menyatakan, kenaikan harga BBM nonsubsidi itu mengikuti regulasi yang berlaku. Keputusan ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.\n\n”Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah,” ujar Roberth secara tertulis.\n\nSebelumnya, depresiasi nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran level Rp 18.200 per dolar AS telah memicu kebijakan suku bunga. Bank Indonesia (BI) kembali mengerek naik suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Selasa (9/6).\n\nBaca selengkapnya dalam “Badai Ekonomi Kelas Menengah” di Harian Kompas (Kompas.id). Klik tautan di profil \n\n#Ekonomi #Kompasid #Kompas61 #MerawatMasaDepan", "post_id": "3916788620711595792_1537212147"}}, {"key": "karirgram", "attributes": {"label": "karirgram", "x": 651.4087339246605, "y": 762.2010574237374, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 43.6498, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3907741108672945712_4375881195", "id": "karirgram", "source": "instagram-000001", "content": "Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan terdapat potensi tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja akibat meningkatnya tekanan terhadap dunia usaha pada kuartal II 2026.\n\nTekanan tersebut dipicu kenaikan biaya impor bahan baku, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga hambatan distribusi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Manufaktur menjadi sektor paling rentan terhadap PHK.\n\nHal ini tercantum dalam publikasi berjudul 'Badai PHK (Belum) Berlalu' yang ditulis oleh Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah.\n\n\"Akan ada potensi tambahan PHK sebanyak 15,3 - 20,3 ribu pekerja. PHK terbesar kemungkinan akan terjadi di sektor manufaktur dengan jumlah kurang lebih mencapai 8,7 - 12,1 ribu pekerja, sektor jasa 3,3 - 4,5 ribu pekerja, dan di sektor pertanian mencapai 3,3 - 3,6 ribu pekerja,\" tulis CORE dalam laporannya, dikutip Jumat (29/5/2026).\n\nEstimasi tersebut dihitung mengacu pada Tabel Input-Output 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). CORE menggunakan berbagai asumsi mulai dari gangguan di Selat Hormuz hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS.\n\n\"Kami menggunakan Tabel Input-Output tahun 2020 yang dirilis oleh BPS untuk mengestimasi potensi penurunan serapan tenaga kerja di tengah kenaikan biaya impor bahan baku yang tengah dihadapi oleh perusahaan manufaktur,\" jelas CORE.\n\n\"Dengan asumsi hambatan di Selat Hormuz masih akan terjadi dalam 2 - 3 bulan ke depan, perusahaan akan menghadapi kelangkaan bahan baku. Nilai tukar terus merosot melebihi Rp 17.400,\" sambungnya.\n\nDalam skenario sedang, perusahaan manufaktur yang menghadapi kenaikan harga bahan baku di atas 1,5% diperkirakan memangkas output sebesar 0,1%. Sedangkan pada skenario buruk, pemangkasan output dapat mencapai 0,15%.\n\nCORE juga mengingatkan tambahan PHK berpotensi memperbesar jumlah pekerja informal di Indonesia. Per Februari 2026, jumlah tenaga kerja informal telah mencapai 87,74 juta jiwa atau sekitar 59,42% dari total tenaga kerja aktif nasional.\n\nSumber: detikFinance \n\n•• Untuk informasi motivasi dan Lowongan Kerja lainnya Follow  \n\n#KarirGram #berita #Kerja #PHK", "post_id": "3907741108672945712_4375881195"}}, {"key": "KarirGram", "attributes": {"label": "KarirGram", "x": 219.127852310673, "y": 113.99111282272567, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 62.201, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3907741108672945712_4375881195", "id": "KarirGram", "source": "instagram-000001", "content": "Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan terdapat potensi tambahan pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 15,3 ribu hingga 20,3 ribu pekerja akibat meningkatnya tekanan terhadap dunia usaha pada kuartal II 2026.\n\nTekanan tersebut dipicu kenaikan biaya impor bahan baku, depresiasi nilai tukar rupiah, hingga hambatan distribusi global akibat konflik di kawasan Timur Tengah. Manufaktur menjadi sektor paling rentan terhadap PHK.\n\nHal ini tercantum dalam publikasi berjudul 'Badai PHK (Belum) Berlalu' yang ditulis oleh Yusuf Rendy Manilet, Azhar Syahida, Dwi Setyorini, dan Lailatun Nikmah.\n\n\"Akan ada potensi tambahan PHK sebanyak 15,3 - 20,3 ribu pekerja. PHK terbesar kemungkinan akan terjadi di sektor manufaktur dengan jumlah kurang lebih mencapai 8,7 - 12,1 ribu pekerja, sektor jasa 3,3 - 4,5 ribu pekerja, dan di sektor pertanian mencapai 3,3 - 3,6 ribu pekerja,\" tulis CORE dalam laporannya, dikutip Jumat (29/5/2026).\n\nEstimasi tersebut dihitung mengacu pada Tabel Input-Output 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). CORE menggunakan berbagai asumsi mulai dari gangguan di Selat Hormuz hingga pelemahan rupiah terhadap dolar AS.\n\n\"Kami menggunakan Tabel Input-Output tahun 2020 yang dirilis oleh BPS untuk mengestimasi potensi penurunan serapan tenaga kerja di tengah kenaikan biaya impor bahan baku yang tengah dihadapi oleh perusahaan manufaktur,\" jelas CORE.\n\n\"Dengan asumsi hambatan di Selat Hormuz masih akan terjadi dalam 2 - 3 bulan ke depan, perusahaan akan menghadapi kelangkaan bahan baku. Nilai tukar terus merosot melebihi Rp 17.400,\" sambungnya.\n\nDalam skenario sedang, perusahaan manufaktur yang menghadapi kenaikan harga bahan baku di atas 1,5% diperkirakan memangkas output sebesar 0,1%. Sedangkan pada skenario buruk, pemangkasan output dapat mencapai 0,15%.\n\nCORE juga mengingatkan tambahan PHK berpotensi memperbesar jumlah pekerja informal di Indonesia. Per Februari 2026, jumlah tenaga kerja informal telah mencapai 87,74 juta jiwa atau sekitar 59,42% dari total tenaga kerja aktif nasional.\n\nSumber: detikFinance \n\n•• Untuk informasi motivasi dan Lowongan Kerja lainnya Follow  \n\n#KarirGram #berita #Kerja #PHK", "post_id": "3907741108672945712_4375881195"}}, {"key": "clippertws", "attributes": {"label": "clippertws", "x": 836.2285772774295, "y": 477.3374522229802, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.6498, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7644399098866453768", "id": "clippertws", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan rupiah bukan cuma soal harga barang impor naik, tapi langsung memangkas laba emiten besar di BEI. PT Mayora Indah (MYOR) kehilangan laba sebelum pajak Rp42,99 miliar setiap rupiah melemah 1 persen ke dolar AS, melansir Bloomberg Technoz. Asumsi kurs MYOR di laporan Q1-2026 masih Rp16.993, sementara rupiah hari ini sudah Rp17.623, sudah depresiasi 1,03 persen. Artinya MYOR secara real-time sudah kehilangan sekitar Rp44 miliar. Penyebabnya, bahan baku menyumbang 80,50 persen dari total beban produksi MYOR. PT XLSmart (EXCL) bisa kehilangan Rp41,27 miliar saat rupiah melemah 5 persen, walaupun tidak punya utang dolar sama sekali. Sumber kerugiannya dari capex peralatan jaringan yang dibeli dari ZTE dan Huawei dalam denominasi dolar. PT Indosat (ISAT) paling sensitif: kehilangan Rp14,73 miliar cuma dari pelemahan 0,28 persen. Pola yang sama berulang di semua emiten besar. Selama rantai pasok dan teknologi masih bergantung pada impor, eksposur ke dolar tidak akan hilang. Rupiah hari ini di Rp17.623, level terlemah sepanjang sejarah, dan IHSG sudah turun hampir 4 persen, terlemah di Asia. Sumber : TWS News #kontencomxtws #kontencom #bitcoin #crypto #viral", "post_id": "7644399098866453768"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 103.4582692732532, "y": 994.1589269631531, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 80.7521, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644399098866453768", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan rupiah bukan cuma soal harga barang impor naik, tapi langsung memangkas laba emiten besar di BEI. PT Mayora Indah (MYOR) kehilangan laba sebelum pajak Rp42,99 miliar setiap rupiah melemah 1 persen ke dolar AS, melansir Bloomberg Technoz. Asumsi kurs MYOR di laporan Q1-2026 masih Rp16.993, sementara rupiah hari ini sudah Rp17.623, sudah depresiasi 1,03 persen. Artinya MYOR secara real-time sudah kehilangan sekitar Rp44 miliar. Penyebabnya, bahan baku menyumbang 80,50 persen dari total beban produksi MYOR. PT XLSmart (EXCL) bisa kehilangan Rp41,27 miliar saat rupiah melemah 5 persen, walaupun tidak punya utang dolar sama sekali. Sumber kerugiannya dari capex peralatan jaringan yang dibeli dari ZTE dan Huawei dalam denominasi dolar. PT Indosat (ISAT) paling sensitif: kehilangan Rp14,73 miliar cuma dari pelemahan 0,28 persen. Pola yang sama berulang di semua emiten besar. Selama rantai pasok dan teknologi masih bergantung pada impor, eksposur ke dolar tidak akan hilang. Rupiah hari ini di Rp17.623, level terlemah sepanjang sejarah, dan IHSG sudah turun hampir 4 persen, terlemah di Asia. Sumber : TWS News #kontencomxtws #kontencom #bitcoin #crypto #viral", "post_id": "7644399098866453768"}}], "edges": [{"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "txtdrbekasi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "idextratime", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "Strawberrygyz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "txtdrimedia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "Gendoet3G", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "idextratime", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "insidefolkative", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "jellypastaa", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "SeekHustle", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "MiskinTV_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "valenttt____", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "txtpersahaman", "source": "txtpersahaman", "target": "Hidupsebagai62", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "kiver_2021", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "hariankompas.", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "karirgram", "source": "karirgram", "target": "KarirGram", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "karirgram", "source": "karirgram", "target": "KarirGram", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "clippertws", "source": "clippertws", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}]}