{"nodes": [{"key": "arifin34533", "attributes": {"label": "arifin34533", "x": 872.2973812719681, "y": 886.0987172247343, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2067033419092238627", "id": "arifin34533", "source": "retweet-000002", "content": "Daya Beli Tertekan, Ekonom Kompak Minta Pemerintah Revisi Batas PTKP - Ikatan Konsultan Pajak Indonesia \nhttps://t.co/oWLLFo…", "post_id": "2067033419092238627"}}, {"key": "hansssolo", "attributes": {"label": "hansssolo", "x": 837.71581138835, "y": 204.9849616508238, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2067033419092238627", "id": "hansssolo", "source": "retweet-000002", "content": "Daya Beli Tertekan, Ekonom Kompak Minta Pemerintah Revisi Batas PTKP - Ikatan Konsultan Pajak Indonesia \nhttps://t.co/oWLLFo…", "post_id": "2067033419092238627"}}, {"key": "Focus_Learningg", "attributes": {"label": "Focus_Learningg", "x": 825.0190787626867, "y": 291.5323009155495, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2064535566260240473", "id": "Focus_Learningg", "source": "tweet-000004", "content": "bang mo nanya dong, kemaren kan purbaya mindahin 200T duit SAL tuh ke himbara, apa likuiditas perbankan masih seret kalaupun dh gitu, terus kata ekonom jg justru sebenarnya bank di indo lagi kelebihan dana karena yg pinjam buat usaha dll kurang, yg bener mana ya", "post_id": "2064535566260240473"}}, {"key": "tsetiady", "attributes": {"label": "tsetiady", "x": 469.35738404866254, "y": 130.0367323968552, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064535566260240473", "id": "tsetiady", "source": "tweet-000004", "content": "bang mo nanya dong, kemaren kan purbaya mindahin 200T duit SAL tuh ke himbara, apa likuiditas perbankan masih seret kalaupun dh gitu, terus kata ekonom jg justru sebenarnya bank di indo lagi kelebihan dana karena yg pinjam buat usaha dll kurang, yg bener mana ya", "post_id": "2064535566260240473"}}, {"key": "Saham_fess", "attributes": {"label": "Saham_fess", "x": 444.46262457378174, "y": 541.44846410804, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064535566260240473", "id": "Saham_fess", "source": "tweet-000004", "content": "bang mo nanya dong, kemaren kan purbaya mindahin 200T duit SAL tuh ke himbara, apa likuiditas perbankan masih seret kalaupun dh gitu, terus kata ekonom jg justru sebenarnya bank di indo lagi kelebihan dana karena yg pinjam buat usaha dll kurang, yg bener mana ya", "post_id": "2064535566260240473"}}, {"key": "abulmuzaffar10", "attributes": {"label": "abulmuzaffar10", "x": 623.9384590678187, "y": 301.5051572979549, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2059475966444044467", "id": "abulmuzaffar10", "source": "tweet-000004", "content": "Sudah gw bahas di postingan gw sebelumnya..\n\nJumlah hewan yang dikurbankan setiap tahun berkaitan dan mungkin dipengaruhi daya beli masyarakat.\n\nIni contohnya di desa nenek mas  \n\nPertama kalinya satu kampung ga berqurban gara2 ekonomi.\n\nTinggal para ekonom", "post_id": "2059475966444044467"}}, {"key": "hanifproduktif", "attributes": {"label": "hanifproduktif", "x": 203.59963333468468, "y": 781.0482948388835, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2059475966444044467", "id": "hanifproduktif", "source": "tweet-000004", "content": "Sudah gw bahas di postingan gw sebelumnya..\n\nJumlah hewan yang dikurbankan setiap tahun berkaitan dan mungkin dipengaruhi daya beli masyarakat.\n\nIni contohnya di desa nenek mas  \n\nPertama kalinya satu kampung ga berqurban gara2 ekonomi.\n\nTinggal para ekonom", "post_id": "2059475966444044467"}}, {"key": "Fri_beyou6", "attributes": {"label": "Fri_beyou6", "x": 88.77307434238301, "y": 574.7192751768093, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2064073961504473465", "id": "Fri_beyou6", "source": "tweet-000004", "content": "Soal pajak naik 20,7%: iya bener. TAPI PPN & PPnBM naik 57,7% artinya rakyat belanja lebih mahal. Bukan karena ekonomi makin maju. Itu ada Ekonom yg bilang ini 'kemenangan administrasi, bukan kemenangan daya beli'. \nHiks hiks hiks.. PPN sekarang naik gak bilang-bilang😭😭", "post_id": "2064073961504473465"}}, {"key": "ramzanrachmat", "attributes": {"label": "ramzanrachmat", "x": 22.85839353473229, "y": 879.2771136742037, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064073961504473465", "id": "ramzanrachmat", "source": "tweet-000004", "content": "Soal pajak naik 20,7%: iya bener. TAPI PPN & PPnBM naik 57,7% artinya rakyat belanja lebih mahal. Bukan karena ekonomi makin maju. Itu ada Ekonom yg bilang ini 'kemenangan administrasi, bukan kemenangan daya beli'. \nHiks hiks hiks.. PPN sekarang naik gak bilang-bilang😭😭", "post_id": "2064073961504473465"}}, {"key": "erlanishere", "attributes": {"label": "erlanishere", "x": 408.80752957113, "y": 498.53236881157216, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064073961504473465", "id": "erlanishere", "source": "tweet-000004", "content": "Soal pajak naik 20,7%: iya bener. TAPI PPN & PPnBM naik 57,7% artinya rakyat belanja lebih mahal. Bukan karena ekonomi makin maju. Itu ada Ekonom yg bilang ini 'kemenangan administrasi, bukan kemenangan daya beli'. \nHiks hiks hiks.. PPN sekarang naik gak bilang-bilang😭😭", "post_id": "2064073961504473465"}}, {"key": "kompastv", "attributes": {"label": "kompastv", "x": 446.978921947341, "y": 8.130523733763106, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 9.6412, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 3, "degree": 9}, "_id": "3918331444087021906_447262394", "id": "kompastv", "source": "instagram-000001", "content": "Adisty Larasati () berbincang bersama Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno () dan Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Askar () untuk mengupas dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli masyarakat, kondisi kelas menengah yang semakin rentan, hingga langkah yang perlu diambil pemerintah agar jutaan keluarga tidak semakin terjepit.\n\nBenarkah kelas menengah sedang menghadapi ancaman \"turun kelas\"? Seberapa besar dampak kenaikan BBM terhadap ekonomi rumah tangga? Dan apakah masih ada harapan bagi kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia?\n\nSaksikan selengkapnya hanya di #OnPointKompasTV hanya di Youtube KompasTV\n\n▶️ https://youtu.be/ToZ9girn2f0", "post_id": "3918331444087021906_447262394"}}, {"key": "adisty.larasati", "attributes": {"label": "adisty.larasati", "x": 784.3900734922164, "y": 931.6028482759353, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.1766, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3918331444087021906_447262394", "id": "adisty.larasati", "source": "instagram-000001", "content": "Adisty Larasati () berbincang bersama Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno () dan Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Askar () untuk mengupas dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli masyarakat, kondisi kelas menengah yang semakin rentan, hingga langkah yang perlu diambil pemerintah agar jutaan keluarga tidak semakin terjepit.\n\nBenarkah kelas menengah sedang menghadapi ancaman \"turun kelas\"? Seberapa besar dampak kenaikan BBM terhadap ekonomi rumah tangga? Dan apakah masih ada harapan bagi kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia?\n\nSaksikan selengkapnya hanya di #OnPointKompasTV hanya di Youtube KompasTV\n\n▶️ https://youtu.be/ToZ9girn2f0", "post_id": "3918331444087021906_447262394"}}, {"key": "eddy_soeparno", "attributes": {"label": "eddy_soeparno", "x": 879.8261760881463, "y": 215.29219432524437, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.1766, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3918331444087021906_447262394", "id": "eddy_soeparno", "source": "instagram-000001", "content": "Adisty Larasati () berbincang bersama Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno () dan Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Askar () untuk mengupas dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli masyarakat, kondisi kelas menengah yang semakin rentan, hingga langkah yang perlu diambil pemerintah agar jutaan keluarga tidak semakin terjepit.\n\nBenarkah kelas menengah sedang menghadapi ancaman \"turun kelas\"? Seberapa besar dampak kenaikan BBM terhadap ekonomi rumah tangga? Dan apakah masih ada harapan bagi kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia?\n\nSaksikan selengkapnya hanya di #OnPointKompasTV hanya di Youtube KompasTV\n\n▶️ https://youtu.be/ToZ9girn2f0", "post_id": "3918331444087021906_447262394"}}, {"key": "mediaaskar", "attributes": {"label": "mediaaskar", "x": 981.926494002205, "y": 983.2706374094168, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.1766, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3918331444087021906_447262394", "id": "mediaaskar", "source": "instagram-000001", "content": "Adisty Larasati () berbincang bersama Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno () dan Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Askar () untuk mengupas dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli masyarakat, kondisi kelas menengah yang semakin rentan, hingga langkah yang perlu diambil pemerintah agar jutaan keluarga tidak semakin terjepit.\n\nBenarkah kelas menengah sedang menghadapi ancaman \"turun kelas\"? Seberapa besar dampak kenaikan BBM terhadap ekonomi rumah tangga? Dan apakah masih ada harapan bagi kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia?\n\nSaksikan selengkapnya hanya di #OnPointKompasTV hanya di Youtube KompasTV\n\n▶️ https://youtu.be/ToZ9girn2f0", "post_id": "3918331444087021906_447262394"}}, {"key": "frisca_clarissa", "attributes": {"label": "frisca_clarissa", "x": 538.9056924556091, "y": 952.7668099749912, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3917878827099707757_181255003", "id": "frisca_clarissa", "source": "instagram-000001", "content": "“Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini adalah memang konsekuensi logis dari kenaikan biaya pasokan ya akibat melemahnya nilai tukar rupiah, masih tinggi harga energi global,”\n\nUjar Ekonom INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mengenai kenaikkan harga BBM non-subsidi sebesar 30% pada Rabu (10/6).\n\nMenurut Rizal, penyesuaian harga tersebut merupakan hal yang logis melihat kondisi global saat ini, seperti melemahnya rupiah dan tingginya harga energi global. Meski demikian, Rizal tidak memungkiri bahwa penyesuaian tersebut tidak ideal di tengah ekonomi dan daya beli masyarakat yang melemah.\n\nSementara itu, Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan bahwa pemerintah telah memikirkan dan mempersiapkan sebelum memutuskan kenaikan ini. Bambang juga menyebut bahwa pemerintah mampu menyediakan stok pertalite untuk memenuhi permintaan seandainya terjadi shifting.\n\nLengkapnya Youtube  “[FULL] DPR dan Ekonom INDEF Buka Suara soal Harga Pertamax Naik 30 Persen | SAPA MALAM”\n\n#BBM #Pertamax #BBMNaik #KompasTV #FocusonFrisca", "post_id": "3917878827099707757_181255003"}}, {"key": "KompasTV", "attributes": {"label": "KompasTV", "x": 699.2352056725294, "y": 324.8032968593898, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3917878827099707757_181255003", "id": "KompasTV", "source": "instagram-000001", "content": "“Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini adalah memang konsekuensi logis dari kenaikan biaya pasokan ya akibat melemahnya nilai tukar rupiah, masih tinggi harga energi global,”\n\nUjar Ekonom INDEF, M. Rizal Taufikurahman, mengenai kenaikkan harga BBM non-subsidi sebesar 30% pada Rabu (10/6).\n\nMenurut Rizal, penyesuaian harga tersebut merupakan hal yang logis melihat kondisi global saat ini, seperti melemahnya rupiah dan tingginya harga energi global. Meski demikian, Rizal tidak memungkiri bahwa penyesuaian tersebut tidak ideal di tengah ekonomi dan daya beli masyarakat yang melemah.\n\nSementara itu, Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya mengatakan bahwa pemerintah telah memikirkan dan mempersiapkan sebelum memutuskan kenaikan ini. Bambang juga menyebut bahwa pemerintah mampu menyediakan stok pertalite untuk memenuhi permintaan seandainya terjadi shifting.\n\nLengkapnya Youtube  “[FULL] DPR dan Ekonom INDEF Buka Suara soal Harga Pertamax Naik 30 Persen | SAPA MALAM”\n\n#BBM #Pertamax #BBMNaik #KompasTV #FocusonFrisca", "post_id": "3917878827099707757_181255003"}}, {"key": "indonesiago.id", "attributes": {"label": "indonesiago.id", "x": 786.7447372663305, "y": 543.6935213803429, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3917874405238057394_7030352582", "id": "indonesiago.id", "source": "instagram-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar rupiah kerap memunculkan kekhawatiran akan terulangnya krisis 1998. Namun, ekonom Chatib Basri  menilai kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan saat krisis moneter hampir tiga dekade lalu.\n\nMenurutnya, sistem nilai tukar yang lebih fleksibel membuat perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang lebih baik. Tantangan utama justru berada pada kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah yang rentan terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok akibat pelemahan rupiah.\n\nKarena itu, fokus kebijakan perlu diarahkan pada penguatan perlindungan sosial dan menjaga daya beli masyarakat. Chatib juga menilai risiko resesi masih dapat dihindari selama pemerintah mengambil langkah fiskal yang tepat dan selektif.\n\n#Indonesiagoid #BergerakBerdampak #SetahunBerdampak #BeritaTerkini #InformasiPublik", "post_id": "3917874405238057394_7030352582"}}, {"key": "chatibbasri", "attributes": {"label": "chatibbasri", "x": 429.28645990468084, "y": 578.4454770972274, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3917874405238057394_7030352582", "id": "chatibbasri", "source": "instagram-000001", "content": "Pelemahan nilai tukar rupiah kerap memunculkan kekhawatiran akan terulangnya krisis 1998. Namun, ekonom Chatib Basri  menilai kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan saat krisis moneter hampir tiga dekade lalu.\n\nMenurutnya, sistem nilai tukar yang lebih fleksibel membuat perekonomian Indonesia memiliki daya tahan yang lebih baik. Tantangan utama justru berada pada kelompok masyarakat berpendapatan menengah bawah yang rentan terdampak kenaikan harga kebutuhan pokok akibat pelemahan rupiah.\n\nKarena itu, fokus kebijakan perlu diarahkan pada penguatan perlindungan sosial dan menjaga daya beli masyarakat. Chatib juga menilai risiko resesi masih dapat dihindari selama pemerintah mengambil langkah fiskal yang tepat dan selektif.\n\n#Indonesiagoid #BergerakBerdampak #SetahunBerdampak #BeritaTerkini #InformasiPublik", "post_id": "3917874405238057394_7030352582"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 302.1504553315788, "y": 401.96402882173356, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 14.6868, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3922755728394447205_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "🚀 BI-Rate Naik Jadi 5,75%, BI Perkuat Pertahanan Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global\nby  Academy\n\nHalo Sobat Cuan!\nBank Indonesia (BI) kembali mengambil langkah tegas dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18 Juni 2026.\n\n📌 Detail Kebijakan BI\n✅ BI-Rate naik dari 5,50% menjadi 5,75%\n✅ Deposit Facility naik menjadi 4,75%\n✅ Lending Facility naik menjadi 6,25%\n✅ Fokus utama menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi\n\nBI menegaskan langkah ini bersifat antisipatif untuk menghadapi berbagai risiko global yang masih membayangi pasar keuangan.\n\n📊 Kondisi Rupiah Masih Menjadi Perhatian\nHingga pertengahan Juni 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp17.873 per dolar AS.\n\nSecara year-to-date, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 6,61%, sehingga stabilisasi kurs menjadi salah satu prioritas utama Bank Indonesia.\n\nDi sisi lain, BI tetap optimistis pertumbuhan ekonomi nasional masih berada dalam kisaran 4,9%–5,7% sepanjang 2026.\n\n🏦 Pandangan Para Ekonom\nBeberapa ekonom menilai keputusan BI cukup tepat dalam kondisi saat ini:\n▪️ Ekonom BCA menilai BI perlu menjaga daya saing instrumen keuangan domestik di tengah kenaikan imbal hasil global.\n▪️ Ekonom Bank Danamon melihat kenaikan suku bunga dapat meningkatkan minat investor asing terhadap aset Indonesia.\n▪️ Permata Bank menilai peluang kenaikan lanjutan masih terbuka apabila tekanan eksternal dan kebijakan The Fed tetap ketat.\n\n📈 Sektor yang Berpotensi Diuntungkan\nDalam lingkungan suku bunga yang lebih tinggi, beberapa sektor berpotensi memperoleh manfaat:\n✅ Perbankan besar (BBCA, BMRI, BBRI, BBNI)\n✅ Emiten yang memiliki likuiditas kuat\n✅ Saham blue chip yang menjadi tujuan utama dana asing\n\n📌 Gabung di  Community untuk mendapatkan update market, analisis saham pilihan, edukasi investasi, dan diskusi eksklusif bersama investor serta trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp).\n\n#BIRate #BankIndonesia #SukuBunga #Rupiah #IHSG", "post_id": "3922755728394447205_52512310886"}}, {"key": "bemfisipuns", "attributes": {"label": "bemfisipuns", "x": 481.9027208372135, "y": 508.4425543230521, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7237, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 4, "degree": 7}, "_id": "3914887038625783853_2392341839", "id": "bemfisipuns", "source": "instagram-000001", "content": "Menuju Indonesia Emas 2045 atau Kembali ke 1998? 📉\n\nKetika kurs USD/IDR menyentuh Rp18.044, angka ini bukan lagi sekadar data ekonom, melainkan alarm keras bagi tata kelola negara. Pelemahan rupiah hingga 11% dalam setahun terakhir langsung memukul dapur ibu rumah tangga, mencekik biaya produksi UMKM, dan menggerus daya beli kelas menengah yang paling rentan tanpa jaring pengaman sosial.\n\nAkar masalahnya ada pada struktur ekonomi kita yang dangkal akibat terlalu nyaman mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi, diperparah beban utang negara tahun 2026 yang mencapai Rp1.430 triliun. Memang kondisi kita hari ini tidak seburuk krisis 1998 karena cadangan devisa jauh lebih kuat, namun dalih tersebut tidak boleh dijadikan tameng pemerintah untuk denial terhadap realitas tingginya biaya hidup warga.\n\nKita tidak bisa terus mengandalkan intervensi moneter yang bersifat sementara. Saatnya menuntut langkah konkret: transparansi fiskal atas melesetnya asumsi APBN, perlindungan daya beli rakyat, serta pengalihan anggaran dari proyek mercusuar ke sektor produktif seperti UMKM dan industri padat karya. Rupiah adalah barometer kepercayaan, dan memulihkannya butuh kemauan politik yang nyata, bukan sekadar jaminan retoris!\n\nGeser slide untuk analisis detailnya! 👉\n➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖\nKementerian Kajian Aksi dan Propaganda\nBEM FISIP UNS 2026\n➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖\nX : \nIG : \nTiktok : \nYoutube : \nEmail : bem.fisip.uns.ac.id", "post_id": "3914887038625783853_2392341839"}}, {"key": "bemfisip_uns", "attributes": {"label": "bemfisip_uns", "x": 875.6511313122659, "y": 356.21897612157596, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7237, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3914887038625783853_2392341839", "id": "bemfisip_uns", "source": "instagram-000001", "content": "Menuju Indonesia Emas 2045 atau Kembali ke 1998? 📉\n\nKetika kurs USD/IDR menyentuh Rp18.044, angka ini bukan lagi sekadar data ekonom, melainkan alarm keras bagi tata kelola negara. Pelemahan rupiah hingga 11% dalam setahun terakhir langsung memukul dapur ibu rumah tangga, mencekik biaya produksi UMKM, dan menggerus daya beli kelas menengah yang paling rentan tanpa jaring pengaman sosial.\n\nAkar masalahnya ada pada struktur ekonomi kita yang dangkal akibat terlalu nyaman mengekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi, diperparah beban utang negara tahun 2026 yang mencapai Rp1.430 triliun. Memang kondisi kita hari ini tidak seburuk krisis 1998 karena cadangan devisa jauh lebih kuat, namun dalih tersebut tidak boleh dijadikan tameng pemerintah untuk denial terhadap realitas tingginya biaya hidup warga.\n\nKita tidak bisa terus mengandalkan intervensi moneter yang bersifat sementara. Saatnya menuntut langkah konkret: transparansi fiskal atas melesetnya asumsi APBN, perlindungan daya beli rakyat, serta pengalihan anggaran dari proyek mercusuar ke sektor produktif seperti UMKM dan industri padat karya. Rupiah adalah barometer kepercayaan, dan memulihkannya butuh kemauan politik yang nyata, bukan sekadar jaminan retoris!\n\nGeser slide untuk analisis detailnya! 👉\n➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖\nKementerian Kajian Aksi dan Propaganda\nBEM FISIP UNS 2026\n➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖\nX : \nIG : \nTiktok : \nYoutube : \nEmail : bem.fisip.uns.ac.id", "post_id": "3914887038625783853_2392341839"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 612.559203369294, "y": 400.9679932138145, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 104.1526, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 1, "degree": 3}, "_id": "3919221498103967305_3310659452", "id": "idx_channel", "source": "instagram-000001", "content": "Rentetan kebijakan yang dieksekusi Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah dalam beberapa waktu terakhir dinilai berhasil meredam dampak spiral psikologis pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sinergi bauran moneter yang berani tersebut mendapat apresiasi positif karena mampu memanfaatkan celah dinamika global untuk memperkuat otot ekonomi domestik.\n\nEkonom Bright Institute Yanuar Rizky memandang langkah agresif BI menaikkan suku bunga acuan secara paralel dengan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) merupakan strategi yang tepat untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bank sentral dinilai cerdik dalam memancing masuknya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus menyerap likuiditas guna menstabilkan pasar uang.\n\n\"Dari sisi trading strategi (in short run) mencegah dampak spiral psikologis terus melemahnya rupiah, saya pikir kita harus punya kawan bersama, langkah agresif BI patut kita apresiasi, termasuk celah yang dimanfaatkan terkait The Fed yang terus mendorong USD melemah terhadap Yuan (rezim devisa control China), di saat USD index didorong volatile menguat terhadap mata uang dunia yang menganut devisa bebas, termasuk Indonesia,\" kata Yanuar dalam analisisnya, dikutip Sabtu (13/6/2026).\n\nMenurutnya, optimisme pasar jangka pendek ini kian solid berkat respons rasional dari pihak pemerintah di sektor riil. Kelenturan sikap pemerintah yang bersedia membuka ruang titik temu (win-win solution) dengan pelaku pasar ekspor dan meredam ketegangan dagang, khususnya dengan China sebagai negara mitra pemesan komoditas terbesar Indonesia, turut diapresiasi.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/economics/langkah-agresif-bi-dan-respons-rasional-pemerintah-dinilai-sukses-jinakkan-pasar-uang \n\nAtau klik link di Bio \n\nFoto: Istimewa\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #BankIndonesia #rupiah #sukubunga", "post_id": "3919221498103967305_3310659452"}}, {"key": "inilah_com", "attributes": {"label": "inilah_com", "x": 714.5529998755638, "y": 636.347338427235, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0008, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3912607760956784798_6164435775", "id": "inilah_com", "source": "instagram-000001", "content": "Dipo Satria Ramli, Ekonom dari Core Indonesia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tim ekonomi kabinet, termasuk membuka opsi reshuffle. \n\nLangkah ini dinilai penting untuk menunjukkan bahwa pemerintah peka terhadap berbagai tantangan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat, mulai dari pelemahan rupiah, daya beli yang tertekan, hingga kepercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.\n\nSimak selengkapnya di podcast jurnalisik bersama Host  dan Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli. \n\n#Reshuffle #Purbaya #RupiahMelemah #Ekonomi #inilahNews", "post_id": "3912607760956784798_6164435775"}}, {"key": "dillahantika", "attributes": {"label": "dillahantika", "x": 751.6475435726037, "y": 746.2381016309307, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 25.8519, "eigenvector": 0.0009, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "3912607760956784798_6164435775", "id": "dillahantika", "source": "instagram-000001", "content": "Dipo Satria Ramli, Ekonom dari Core Indonesia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tim ekonomi kabinet, termasuk membuka opsi reshuffle. \n\nLangkah ini dinilai penting untuk menunjukkan bahwa pemerintah peka terhadap berbagai tantangan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat, mulai dari pelemahan rupiah, daya beli yang tertekan, hingga kepercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.\n\nSimak selengkapnya di podcast jurnalisik bersama Host  dan Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli. \n\n#Reshuffle #Purbaya #RupiahMelemah #Ekonomi #inilahNews", "post_id": "3912607760956784798_6164435775"}}, {"key": "abi.dzar_alghifary", "attributes": {"label": "abi.dzar_alghifary", "x": 827.1897187417968, "y": 826.3073989872448, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3912280422957112198_2207014794", "id": "abi.dzar_alghifary", "source": "instagram-000001", "content": "Video lama ekonom senior Faisal Basri kembali ramai dibahas netizen 👀\nSekitar dua tahun lalu, Faisal sempat memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi serius pada 2026. Salah satu prediksinya adalah nilai tukar rupiah yang bisa menyentuh kisaran Rp18.000 hingga Rp19.000 per dolar AS.\n\nSaat itu, pernyataan tersebut dianggap terlalu pesimis oleh sebagian orang. Namun kini, setelah rupiah dikabarkan menembus level Rp18.000 per dolar AS dan IHSG sempat mengalami tekanan, banyak yang kembali mengingat peringatan tersebut.\n\nFaisal juga pernah menyinggung soal melemahnya daya beli masyarakat, tekanan terhadap kelas menengah, hingga kondisi politik yang dapat memengaruhi kepercayaan pasar.\n\nNetizen: yang bikin merinding bukan prediksinya, tapi karena videonya direkam bertahun-tahun lalu.\n\nYouTube/Teater Utan Kayu\n\nVia :", "post_id": "3912280422957112198_2207014794"}}, {"key": "voxtrenid", "attributes": {"label": "voxtrenid", "x": 226.82678892027386, "y": 646.9708659611781, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3912280422957112198_2207014794", "id": "voxtrenid", "source": "instagram-000001", "content": "Video lama ekonom senior Faisal Basri kembali ramai dibahas netizen 👀\nSekitar dua tahun lalu, Faisal sempat memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi serius pada 2026. Salah satu prediksinya adalah nilai tukar rupiah yang bisa menyentuh kisaran Rp18.000 hingga Rp19.000 per dolar AS.\n\nSaat itu, pernyataan tersebut dianggap terlalu pesimis oleh sebagian orang. Namun kini, setelah rupiah dikabarkan menembus level Rp18.000 per dolar AS dan IHSG sempat mengalami tekanan, banyak yang kembali mengingat peringatan tersebut.\n\nFaisal juga pernah menyinggung soal melemahnya daya beli masyarakat, tekanan terhadap kelas menengah, hingga kondisi politik yang dapat memengaruhi kepercayaan pasar.\n\nNetizen: yang bikin merinding bukan prediksinya, tapi karena videonya direkam bertahun-tahun lalu.\n\nYouTube/Teater Utan Kayu\n\nVia :", "post_id": "3912280422957112198_2207014794"}}, {"key": "sudut_aceh", "attributes": {"label": "sudut_aceh", "x": 877.6825838616385, "y": 723.0512258590289, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 56.2988, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3912844076567446891_73622012859", "id": "sudut_aceh", "source": "instagram-000001", "content": "Dua tahun lalu, ekonom senior Indonesia, Faisal Basri, pernah menyampaikan proyeksi yang saat itu dianggap terlalu pesimistis oleh sebagian kalangan. Namun pada 5 Juni 2026, nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, sebuah angka yang pernah ia prediksi akan terjadi jika berbagai persoalan struktural ekonomi tidak segera dibenahi. ￼\n\nPelemahan rupiah bukan sekadar persoalan kurs. Dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari kenaikan harga barang impor, tekanan terhadap dunia usaha, hingga menurunnya daya beli masyarakat. Kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung konsumsi domestik pun ikut merasakan tekanan yang semakin nyata. ￼\n\nDi tengah situasi tersebut, dinamika politik nasional juga menjadi sorotan. Hubungan yang disebut-sebut tidak lagi seharmonis dulu antara Presiden Prabowo Subianto dan Joko Widodo turut memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik mengenai arah kebijakan ekonomi dan stabilitas investasi di Indonesia.\n\nMeski demikian, para pengamat menilai pemulihan nilai tukar rupiah masih sangat bergantung pada sejumlah faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Intervensi Bank Indonesia, arus investasi asing, kondisi geopolitik global, hingga kebijakan fiskal pemerintah akan menjadi penentu utama apakah rupiah mampu kembali menguat dalam waktu dekat. ￼\n\nKini pertanyaannya bukan lagi apakah prediksi Faisal Basri terbukti atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: mampukah Indonesia membalikkan keadaan dan mengembalikan kepercayaan pasar sebelum tekanan ekonomi semakin dirasakan masyarakat luas?\n\nBagikan ke temanmu agar ikut tahu perkembangan Aceh hari ini.\nFollow  untuk update terpercaya lainnya.\n\n#FYP\n#FYPIndonesia\n#ExploreAceh\n#BandaAceh\n#sudutaceh", "post_id": "3912844076567446891_73622012859"}}, {"key": "inilahcom", "attributes": {"label": "inilahcom", "x": 890.6066822972756, "y": 230.76345018855827, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0004, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7647785878630272277", "id": "inilahcom", "source": "tiktok-000001", "content": "Dipo Satria Ramli, Ekonom dari Core Indonesia menilai pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tim ekonomi kabinet, termasuk membuka opsi reshuffle.  Langkah ini dinilai penting untuk menunjukkan bahwa pemerintah peka terhadap berbagai tantangan ekonomi yang sedang dirasakan masyarakat, mulai dari pelemahan rupiah, daya beli yang tertekan, hingga kepercayaan publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Simak selengkapnya di podcast jurnalisik bersama Host  dan Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli.  #Reshuffle #Purbaya #RupiahMelemah #Ekonomi #Inilahnews", "post_id": "7647785878630272277"}}, {"key": "ceefem", "attributes": {"label": "ceefem", "x": 211.32069258898477, "y": 673.5347334232405, "size": 3.01, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.1491, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7645088780893949191", "id": "ceefem", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat.  ‎ ‎Sumber: TWS News ‎ ‎  ‎#kontencom #kontencomxtws #rupiah #inflasi  ‎#fyp ‎", "post_id": "7645088780893949191"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 373.94796216397253, "y": 396.1240637298001, "size": 3.02, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 37.1575, "eigenvector": 0.1844, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "7645088780893949191", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat.  ‎ ‎Sumber: TWS News ‎ ‎  ‎#kontencom #kontencomxtws #rupiah #inflasi  ‎#fyp ‎", "post_id": "7645088780893949191"}}, {"key": "clipss.capital", "attributes": {"label": "clipss.capital", "x": 237.45852033207416, "y": 980.1996009860487, "size": 3.01, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.1491, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7644854960957558036", "id": "clipss.capital", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. ​Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. ​Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat. Sumber : TWS News   Instagram :  #kontencom  #kontencomxtws #fyp #rupiah", "post_id": "7644854960957558036"}}, {"key": "superclips.id02", "attributes": {"label": "superclips.id02", "x": 715.9562674402258, "y": 872.4788567979072, "size": 3.01, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.1491, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7645940242704387335", "id": "superclips.id02", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat   #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7645940242704387335"}}, {"key": "graham_di_caprio", "attributes": {"label": "graham_di_caprio", "x": 831.5932724978576, "y": 913.0329970952691, "size": 3.01, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.1491, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7644859696645410065", "id": "graham_di_caprio", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat. Sumber:TWS News #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7644859696645410065"}}, {"key": "mindsetgrowthastronacci", "attributes": {"label": "mindsetgrowthastronacci", "x": 463.372927594504, "y": 742.4100245129875, "size": 3.02, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.1844, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7644873036201577748", "id": "mindsetgrowthastronacci", "source": "tiktok-000001", "content": "RUPIAH KEMBALI SEMPAT MELEMAH SENTUH DI 17.900 PER DOLLAR.  Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat. ⚠️ DISCLAIMER Konten ini bersifat edukasi dan analisis, bukan ajakan untuk membeli atau menjual instrumen keuangan tertentu. Selalu gunakan risk management dan sesuaikan dengan profil risiko masing-masing. 🔔 Jangan lupa Like, follow , dan aktifkan notifikasi agar tidak ketinggalan update market terbaru Sc ; TWS Newss     #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7644873036201577748"}}, {"key": "konten.com", "attributes": {"label": "konten.com", "x": 12.41767486120693, "y": 372.9902591367943, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0435, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644873036201577748", "id": "konten.com", "source": "tiktok-000001", "content": "RUPIAH KEMBALI SEMPAT MELEMAH SENTUH DI 17.900 PER DOLLAR.  Rupiah di pasar offshore hampir tembus Rp17.900 per Dolar AS pada Rabu malam (27/5), saat pasar Indonesia libur Idul Adha. Mata uang Garuda jadi yang paling tertekan di kawasan Asia, sementara Yuan Offshore, Yen Jepang, dan Dolar Singapura justru relatif stabil. Sepanjang Mei 2026, Rupiah sudah melemah sekitar 2,3% dan jadi mata uang terlemah Asia. Pelemahan ini dipicu kombinasi tiga faktor utama. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dan ekonom CELIOS Bhima Yudhistira sebut: ketidakpastian regulasi ekspor SDA satu pintu, kekhawatiran pelebaran defisit fiskal APBN, dan rebalancing MSCI yang depak banyak saham Indonesia bikin investor asing kabur. Ditambah lagi, harga minyak yang naik gara-gara perang Iran-AS memperkuat Dolar AS secara global. BI udah naikkan suku bunga 50 bps ke 5,25%, tapi tekanan ke Rupiah belum reda. Dampaknya ke kamu nyata. Barang import bakal makin mahal: HP, laptop, skincare, bahkan BBM (karena impor crude oil). Inflasi domestik berpotensi naik dan daya beli Rupiah makin tergerus. Buat kamu yang punya cicilan KPR atau pinjaman dalam Dolar, bebannya bakal makin berat. ⚠️ DISCLAIMER Konten ini bersifat edukasi dan analisis, bukan ajakan untuk membeli atau menjual instrumen keuangan tertentu. Selalu gunakan risk management dan sesuaikan dengan profil risiko masing-masing. 🔔 Jangan lupa Like, follow , dan aktifkan notifikasi agar tidak ketinggalan update market terbaru Sc ; TWS Newss     #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7644873036201577748"}}, {"key": "noel_samo.ht", "attributes": {"label": "noel_samo.ht", "x": 642.6802961876352, "y": 622.2694043344035, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7643062216345881876", "id": "noel_samo.ht", "source": "tiktok-000001", "content": "Disclaimer: Sumber data dari Youtube dan Jurnal   “Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% di 2026.” Kelihatannya bagus. Tapi pertanyaan pentingnya: kenapa rakyat justru merasa hidup makin berat? Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti ekonomi sehat. Hari ini, rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar, IHSG turun lebih dari 22%, kelas menengah menyusut jutaan orang, dan manufaktur mulai masuk zona kontraksi. Artinya ada sesuatu yang tidak beres di fondasi ekonomi kita. Masalah utamanya ada di produktivitas. Indonesia sekarang membutuhkan modal yang sangat besar hanya untuk menghasilkan pertumbuhan kecil. Dalam ekonomi, ini terlihat dari ICOR yang sudah mencapai 6,33 — jauh lebih buruk dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Sederhananya: kita makin boros untuk tumbuh. Di sisi lain, pertumbuhan saat ini banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus fiskal. Jadi angka ekonomi terlihat naik, tetapi sektor riil belum benar-benar kuat. Inilah kenapa muncul fenomena: “PDB tumbuh, tapi daya beli melemah.” Tekanan global juga memperparah keadaan. Harga minyak naik akibat konflik Timur Tengah, sementara suku bunga Amerika tetap tinggi. Akibatnya rupiah tertekan dan arus modal asing mulai keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko masuk ke jebakan pertumbuhan semu: ekonomi terlihat tumbuh di data, tetapi masyarakat tidak benar-benar merasakan kesejahteraan. Karena itu, solusi jangka panjangnya bukan sekadar menambah utang atau stimulus, tetapi memperbaiki produktivitas, memperkuat industri, dan membangun ekonomi yang benar-benar efisien. Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka tinggi, tapi soal seberapa kuat fondasi di bawahnya.", "post_id": "7643062216345881876"}}, {"key": "irwandiferry", "attributes": {"label": "irwandiferry", "x": 286.0775229844903, "y": 643.8811801917476, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7643062216345881876", "id": "irwandiferry", "source": "tiktok-000001", "content": "Disclaimer: Sumber data dari Youtube dan Jurnal   “Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% di 2026.” Kelihatannya bagus. Tapi pertanyaan pentingnya: kenapa rakyat justru merasa hidup makin berat? Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti ekonomi sehat. Hari ini, rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar, IHSG turun lebih dari 22%, kelas menengah menyusut jutaan orang, dan manufaktur mulai masuk zona kontraksi. Artinya ada sesuatu yang tidak beres di fondasi ekonomi kita. Masalah utamanya ada di produktivitas. Indonesia sekarang membutuhkan modal yang sangat besar hanya untuk menghasilkan pertumbuhan kecil. Dalam ekonomi, ini terlihat dari ICOR yang sudah mencapai 6,33 — jauh lebih buruk dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Sederhananya: kita makin boros untuk tumbuh. Di sisi lain, pertumbuhan saat ini banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus fiskal. Jadi angka ekonomi terlihat naik, tetapi sektor riil belum benar-benar kuat. Inilah kenapa muncul fenomena: “PDB tumbuh, tapi daya beli melemah.” Tekanan global juga memperparah keadaan. Harga minyak naik akibat konflik Timur Tengah, sementara suku bunga Amerika tetap tinggi. Akibatnya rupiah tertekan dan arus modal asing mulai keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko masuk ke jebakan pertumbuhan semu: ekonomi terlihat tumbuh di data, tetapi masyarakat tidak benar-benar merasakan kesejahteraan. Karena itu, solusi jangka panjangnya bukan sekadar menambah utang atau stimulus, tetapi memperbaiki produktivitas, memperkuat industri, dan membangun ekonomi yang benar-benar efisien. Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka tinggi, tapi soal seberapa kuat fondasi di bawahnya.", "post_id": "7643062216345881876"}}, {"key": "IDXChannelcom", "attributes": {"label": "IDXChannelcom", "x": 445.7430203540292, "y": 811.9292078238326, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "432781620563594_1492977079292775", "id": "IDXChannelcom", "source": "facebook-000001", "content": "Rentetan kebijakan yang dieksekusi Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah dalam beberapa waktu terakhir dinilai berhasil meredam dampak spiral psikologis pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sinergi bauran moneter yang berani tersebut mendapat apresiasi positif karena mampu memanfaatkan celah dinamika global untuk memperkuat otot ekonomi domestik.\n\nEkonom Bright Institute Yanuar Rizky memandang langkah agresif BI menaikkan suku bunga acuan secara paralel dengan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) merupakan strategi yang tepat untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Bank sentral dinilai cerdik dalam memancing masuknya aliran modal asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus menyerap likuiditas guna menstabilkan pasar uang.\n\n\"Dari sisi trading strategi (in short run) mencegah dampak spiral psikologis terus melemahnya rupiah, saya pikir kita harus punya kawan bersama, langkah agresif BI patut kita apresiasi, termasuk celah yang dimanfaatkan terkait The Fed yang terus mendorong USD melemah terhadap Yuan (rezim devisa control China), di saat USD index didorong volatile menguat terhadap mata uang dunia yang menganut devisa bebas, termasuk Indonesia,\" kata Yanuar dalam analisisnya, dikutip Sabtu (13/6/2026).\n\nMenurutnya, optimisme pasar jangka pendek ini kian solid berkat respons rasional dari pihak pemerintah di sektor riil. Kelenturan sikap pemerintah yang bersedia membuka ruang titik temu (win-win solution) dengan pelaku pasar ekspor dan meredam ketegangan dagang, khususnya dengan China sebagai negara mitra pemesan komoditas terbesar Indonesia, turut diapresiasi.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/economics/langkah-agresif-bi-dan-respons-rasional-pemerintah-dinilai-sukses-jinakkan-pasar-uang \n\nAtau klik link di Bio \n\nFoto: Istimewa\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #BankIndonesia #rupiah #sukubunga", "post_id": "432781620563594_1492977079292775"}}, {"key": "@officialokezone", "attributes": {"label": "@officialokezone", "x": 106.7940852132444, "y": 415.78418453854925, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "IRYnoO9GsO0", "id": "@officialokezone", "source": "youtube-000001", "content": "Ada Apa dengan Ekonomi Indonesia? | 29/05\n\nAda Apa dengan Ekonomi Indonesia?\n\nNilai tukar rupiah bergejolak, daya beli masyarakat jadi sorotan, PHK terjadi di berbagai sektor, sementara harga kebutuhan terus menjadi perhatian publik. Banyak yang mulai bertanya: sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja atau tidak? \n\nDi tengah berbagai dinamika global dan tekanan dalam negeri, bagaimana arah ekonomi Indonesia ke depan? \n\nDalam episode terbaru The Daily Buzz, kami menghadirkan:\n\nNailul Huda (Ekonom Celios)\n\nApakah ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja?\nAtau justru masih cukup kuat menghadapi badai global? \n\nSimak analisis lengkapnya hanya di The Daily Buzz Podcast. \n\nYuk Subscribe:    /   \nWa Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va5J...\nFacebook  :   / okezonecom  \nInstagram :   / okezonecom  \nTwitter :   / okezonenews  \n\n#Ekonomi #Purbaya #Rupiah", "post_id": "IRYnoO9GsO0"}}, {"key": "officialokezone", "attributes": {"label": "officialokezone", "x": 531.5596313260718, "y": 494.9949674738723, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "IRYnoO9GsO0", "id": "officialokezone", "source": "youtube-000001", "content": "Ada Apa dengan Ekonomi Indonesia? | 29/05\n\nAda Apa dengan Ekonomi Indonesia?\n\nNilai tukar rupiah bergejolak, daya beli masyarakat jadi sorotan, PHK terjadi di berbagai sektor, sementara harga kebutuhan terus menjadi perhatian publik. Banyak yang mulai bertanya: sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia sedang baik-baik saja atau tidak? \n\nDi tengah berbagai dinamika global dan tekanan dalam negeri, bagaimana arah ekonomi Indonesia ke depan? \n\nDalam episode terbaru The Daily Buzz, kami menghadirkan:\n\nNailul Huda (Ekonom Celios)\n\nApakah ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja?\nAtau justru masih cukup kuat menghadapi badai global? \n\nSimak analisis lengkapnya hanya di The Daily Buzz Podcast. \n\nYuk Subscribe:    /   \nWa Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va5J...\nFacebook  :   / okezonecom  \nInstagram :   / okezonecom  \nTwitter :   / okezonenews  \n\n#Ekonomi #Purbaya #Rupiah", "post_id": "IRYnoO9GsO0"}}, {"key": "@inilah_com", "attributes": {"label": "@inilah_com", "x": 321.61717847996283, "y": 548.7430296239621, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0008, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "cVRkFWE5zws", "id": "@inilah_com", "source": "youtube-000001", "content": "EKONOM SEBUT HARUS RESHUFFLE MENTERI JIKA EKONOMI MAU EKONOMI TUMBUH, KABINET HARUS BERBENAH!\n\nPertumbuhan ekonomi Indonesia disebut mencapai 5,61 persen. Pemerintah melihat angka ini sebagai sinyal positif di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan rupiah.\n\nNamun sejumlah pengamat menilai pertumbuhan tersebut belum benar-benar dirasakan secara merata oleh masyarakat bawah. Menurut mereka, dampak pertumbuhan ekonomi saat ini justru lebih banyak dinikmati kelompok menengah atas dan kelas atas, sementara daya beli rakyat kecil masih tertekan.\n\nDi sisi lain, pelemahan rupiah yang terus terjadi membuat publik mulai mempertanyakan efektivitas kebijakan ekonomi pemerintah. Bahkan muncul dorongan agar dilakukan evaluasi besar hingga reshuffle terhadap tim ekonomi kabinet agar kebijakan yang diambil lebih sesuai dengan kondisi nyata masyarakat.\n\nTak hanya itu, pembentukan PT Danantara SumberDaya Indonesia (DSI) juga menuai perdebatan. Sebagian pihak menilai langkah tersebut belum tepat dilakukan di tengah kondisi ekonomi dan krisis kepercayaan publik saat ini.\n\nSimak selengkapnya di podcast jurnalisik bersama Host  dan Ekonom Core Indonesia, Dipo Satria Ramli.\n———————\n\nWebsite: https://www.inilah.com/ \nInstagram:   / inilah_com  \nX:   / inilahdotcom   \nFacebook:   / inilahmedia   \nYouTube:    /   \nTikTok:   / inilah_com  \n\n#Rupiah #Prabowo #ReshuffleKabinet #DSI #Danantara #TitikTengah #TitikCerah #Inilahcom", "post_id": "cVRkFWE5zws"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 370.04227198845484, "y": 154.9746691445004, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 0, "out_degree": 21, "degree": 21}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 731.3497689657714, "y": 221.58307910689433, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 735.7726287970718, "y": 585.891983894003, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 555.346321877409, "y": 971.3403624282068, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 81.15360908586489, "y": 190.96451357252863, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 552.2419457129453, "y": 8.53874307722946, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 862.6139506894011, "y": 57.75907570400995, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.7867, "eigenvector": 142.7126, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "PUtH5_zi5gQ", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "PMI Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansi di Mei 2026 | MARKET REVIEW\n\nPMI Manufaktur Indonesia kembali mencatatkan ekspansi pada Mei 2026 dan menjadi sinyal penting bagi arah pemulihan sektor industri nasional. Namun, di tengah tantangan perlambatan ekonomi global, tekanan perdagangan internasional, serta dinamika daya beli domestik, seberapa kuat momentum ini dapat bertahan? Apakah dunia usaha semakin optimistis atau masih menghadapi berbagai hambatan? Simak ulasan dan analisis mendalam bersama Bob Azam, Wakil Ketua Umum GPEI, dan Lana Soelistianingsih, Ekonom Universitas Indonesia, dalam Market Review.\n\nPembicara:\nBob Azam - Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI)\nLana Soelistianingsih - Ekonom Universitas Indonesia\n\n#manufaktur #marketreview \n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "PUtH5_zi5gQ"}}, {"key": "@ResearchNewsAndAnalysis", "attributes": {"label": "@ResearchNewsAndAnalysis", "x": 189.87073483241846, "y": 869.8545750311354, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "QJ3KH9LK4OM", "id": "@ResearchNewsAndAnalysis", "source": "youtube-000001", "content": "TARIF VS. STANDAR HIDUP: BAGAIMANA WARGA NEPAL BIASA MENANGGUNG BEBANNYA\n\nBerita dan Analisis Riset:\nKenaikan tarif dan biaya impor meningkatkan tekanan pada keluarga biasa di seluruh Nepal, memaksa banyak rumah tangga untuk mengurangi pengeluaran untuk makanan, bahan bakar, perawatan kesehatan, dan pendidikan. Para ekonom memperingatkan bahwa meskipun tarif dapat melindungi beberapa industri, beban sebenarnya sering kali ditanggung oleh konsumen berpenghasilan rendah dan menengah yang menghadapi inflasi, penurunan daya beli, dan penurunan standar hidup.\n\n#Nepal #IndiaNepal #Tarif #Inflasi #BiayaHidup #EkonomiNepal #HargaMakanan #HargaBahanBakar #StandarHidup #KrisisEkonomi #AnggaranRumahTangga #Konsumen #KelasMenengah #Kemiskinan #KetahananPangan #Kesehatan #Pendidikan #TekananEkonomi #KebijakanPerdagangan #Impor #PerdaganganPerbatasan #AsiaSelatan #DampakEkonomi #KenaikanHarga #KehidupanSehari-hari #TantanganEkonomi #InflasiRitel #InflasiBahanBakar #InflasiPangan #RantaiPasokan #TekananKeuangan #PerangDagang #BiayaImpor #KebijakanPublik #DebatEkonomi #PerdaganganRegional #BeritaAsiaSelatan #BeritaBisnis #BeritaTerkini #BeritaDunia #AnalisisEkonomi #DayaBeli #BebanKonsumen #PengeluaranKeluarga #TekananEkonomi #HargaPasar #HubunganPerdagangan #RealitasEkonomi #KrisisInflasi #BeritaNepal\n\n#RNA #BeritaDanAnalisisRiset #BeritaPertahanan #KeamananNasional #Geopolitik #KebijakanLuarNegeri #UrusanGlobal #TeknologiMiliter #IndustriPertahanan #Perang #UrusanStrategis #KeamananInternal #Taktis #BeritaTerkini #PembaruanPertahanan #BeritaDunia #BeritaIndia\n\nTentang saluran ini: RNA adalah platform digital khusus yang didedikasikan untuk menyediakan liputan yang tepat waktu, akurat, dan mendalam tentang pertahanan, urusan strategis, dan keamanan nasional. Dengan berita komprehensif, analisis ahli, konten multimedia, dan opini yang terinformasi, RNA berfungsi sebagai sumber tepercaya bagi para pembuat kebijakan, profesional militer, akademisi, pemangku kepentingan industri, dan penggemar strategi. Pendekatan editorial kami menggabungkan jurnalisme yang ketat dengan keahlian domain yang mendalam, memastikan konten yang bernuansa, kredibel, dan berpengaruh.\n\nBerlangganan saluran ini: https://youtube.com/", "post_id": "QJ3KH9LK4OM"}}, {"key": "ResearchNewsAndA...", "attributes": {"label": "ResearchNewsAndA...", "x": 22.44628529535464, "y": 68.93313896270314, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "QJ3KH9LK4OM", "id": "ResearchNewsAndA...", "source": "youtube-000001", "content": "TARIF VS. STANDAR HIDUP: BAGAIMANA WARGA NEPAL BIASA MENANGGUNG BEBANNYA\n\nBerita dan Analisis Riset:\nKenaikan tarif dan biaya impor meningkatkan tekanan pada keluarga biasa di seluruh Nepal, memaksa banyak rumah tangga untuk mengurangi pengeluaran untuk makanan, bahan bakar, perawatan kesehatan, dan pendidikan. Para ekonom memperingatkan bahwa meskipun tarif dapat melindungi beberapa industri, beban sebenarnya sering kali ditanggung oleh konsumen berpenghasilan rendah dan menengah yang menghadapi inflasi, penurunan daya beli, dan penurunan standar hidup.\n\n#Nepal #IndiaNepal #Tarif #Inflasi #BiayaHidup #EkonomiNepal #HargaMakanan #HargaBahanBakar #StandarHidup #KrisisEkonomi #AnggaranRumahTangga #Konsumen #KelasMenengah #Kemiskinan #KetahananPangan #Kesehatan #Pendidikan #TekananEkonomi #KebijakanPerdagangan #Impor #PerdaganganPerbatasan #AsiaSelatan #DampakEkonomi #KenaikanHarga #KehidupanSehari-hari #TantanganEkonomi #InflasiRitel #InflasiBahanBakar #InflasiPangan #RantaiPasokan #TekananKeuangan #PerangDagang #BiayaImpor #KebijakanPublik #DebatEkonomi #PerdaganganRegional #BeritaAsiaSelatan #BeritaBisnis #BeritaTerkini #BeritaDunia #AnalisisEkonomi #DayaBeli #BebanKonsumen #PengeluaranKeluarga #TekananEkonomi #HargaPasar #HubunganPerdagangan #RealitasEkonomi #KrisisInflasi #BeritaNepal\n\n#RNA #BeritaDanAnalisisRiset #BeritaPertahanan #KeamananNasional #Geopolitik #KebijakanLuarNegeri #UrusanGlobal #TeknologiMiliter #IndustriPertahanan #Perang #UrusanStrategis #KeamananInternal #Taktis #BeritaTerkini #PembaruanPertahanan #BeritaDunia #BeritaIndia\n\nTentang saluran ini: RNA adalah platform digital khusus yang didedikasikan untuk menyediakan liputan yang tepat waktu, akurat, dan mendalam tentang pertahanan, urusan strategis, dan keamanan nasional. Dengan berita komprehensif, analisis ahli, konten multimedia, dan opini yang terinformasi, RNA berfungsi sebagai sumber tepercaya bagi para pembuat kebijakan, profesional militer, akademisi, pemangku kepentingan industri, dan penggemar strategi. Pendekatan editorial kami menggabungkan jurnalisme yang ketat dengan keahlian domain yang mendalam, memastikan konten yang bernuansa, kredibel, dan berpengaruh.\n\nBerlangganan saluran ini: https://youtube.com/", "post_id": "QJ3KH9LK4OM"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "attributes": {"label": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "x": 437.88037298704194, "y": 173.6177134042033, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "j9LCUBYJAnI", "id": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "youtube-000001", "content": "BI RATE NAIK 50 BPS! Tapi Kenapa Pasar Obligasi Kita Malah Terancam?\n\nBank Indonesia (BI) resmi mengambil langkah agresif dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25%! Langkah pre-emptive ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan dolar AS yang kian kuat.\n\nNamun, apakah kebijakan ini sepenuhnya aman? Para ekonom justru mengingatkan adanya ancaman baru di struktur pasar uang domestik. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai terlalu menarik hingga menyedot likuiditas dari pasar obligasi jangka panjang (SBN). Jika kondisi ini dibiarkan, yield curve akan tertekan dan pembiayaan pembangunan nasional bisa terganggu!\n\nSimak analisis kritis selengkapnya mengenai dampak kenaikan suku bunga BI, nasib pasar obligasi negara, hingga pentingnya sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam video ini.\n\nVideo Editor: Rifqi Rahmandika\n\n#koranjakarta #news #BankIndonesia #BIRate #PasarObligasi #SukuBungaBI #Rupiah #EkonomiIndonesia #SBN #SRBI #Kemenkeu #Investasi #BeritaEkonomi #Macroeconomics #YouTubeSEO\n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "j9LCUBYJAnI"}}, {"key": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "koranjakarta...", "x": 562.0240308645273, "y": 983.794065636716, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "j9LCUBYJAnI", "id": "koranjakarta...", "source": "youtube-000001", "content": "BI RATE NAIK 50 BPS! Tapi Kenapa Pasar Obligasi Kita Malah Terancam?\n\nBank Indonesia (BI) resmi mengambil langkah agresif dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25%! Langkah pre-emptive ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan dolar AS yang kian kuat.\n\nNamun, apakah kebijakan ini sepenuhnya aman? Para ekonom justru mengingatkan adanya ancaman baru di struktur pasar uang domestik. Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai terlalu menarik hingga menyedot likuiditas dari pasar obligasi jangka panjang (SBN). Jika kondisi ini dibiarkan, yield curve akan tertekan dan pembiayaan pembangunan nasional bisa terganggu!\n\nSimak analisis kritis selengkapnya mengenai dampak kenaikan suku bunga BI, nasib pasar obligasi negara, hingga pentingnya sinergi antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam video ini.\n\nVideo Editor: Rifqi Rahmandika\n\n#koranjakarta #news #BankIndonesia #BIRate #PasarObligasi #SukuBungaBI #Rupiah #EkonomiIndonesia #SBN #SRBI #Kemenkeu #Investasi #BeritaEkonomi #Macroeconomics #YouTubeSEO\n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "j9LCUBYJAnI"}}, {"key": "@realtordotcom", "attributes": {"label": "@realtordotcom", "x": 576.8684342472573, "y": 472.5040670247708, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "vrXmtIFo5f4", "id": "@realtordotcom", "source": "youtube-000001", "content": "Persediaan Meningkat, Harga Turun, dan Penjual Mulai Menyesuaikan Diri\n\nVideo pembaruan dari tim ekonomi Realtor.com® memberi Anda informasi ekonomi dan real estat yang relevan yang perlu Anda ketahui setiap minggu, setiap hari Jumat, untuk menavigasi pasar perumahan sebagai pembeli rumah, penjual rumah, atau profesional industri.\n\nUntuk minggu yang berakhir pada 29 Mei, Ekonom Senior Anthony Smith menggantikan Kepala Ekonom Danielle Hale. Ia membahas suku bunga tetap 30 tahun Freddie Mac, yang naik hanya 2 basis poin menjadi 6,53%, dengan detail lebih lanjut tersedia dalam video pembaruan suku bunga hipotek mingguan bersama rekannya Jake Krimmel.\n\nAnthony juga membahas Indeks S&P Costality Case-Shiller, yang menunjukkan pertumbuhan harga rumah nasional hampir stagnan hingga Maret, dengan lebih dari setengah dari 20 wilayah metropolitan yang dipantau mencatat penurunan tahunan untuk bulan ke-10 berturut-turut.\n\nKemudian, ia membahas penjualan rumah baru pada bulan April dari Ekonom Senior Joel Berner, yang menunjukkan penurunan tajam sebesar 6,2% dari bulan ke bulan dan 11,3% dari tahun ke tahun, dengan pasokan bulanan meningkat menjadi 9,4. Anthony juga menyoroti data perumahan mingguan terbaru dari Realtor.com dari Ekonom Senior Hannah Jones, yang menunjukkan inventaris aktif naik 2,2% dari tahun ke tahun dan harga permintaan turun 2,4%, penurunan selama 19 minggu berturut-turut, dengan penjual semakin realistis dalam menetapkan harga sejak awal.\n\nBeralih ke riset dari kolega Jiayi Xu, Anthony membahas permintaan internasional pada Q1 2026, dengan Kanada tetap menjadi sumber lalu lintas utama sebesar 37,8% dan Los Angeles terus kehilangan pangsa pasar di kalangan pembeli global. Ia juga menyoroti riset baru Jiayi tentang efek kekayaan AI di perumahan Bay Area, yang menemukan bahwa peristiwa likuiditas ekuitas AI mendorong perkiraan tambahan uang muka sebesar $198.000 untuk rumah mewah tingkat pemula di Bay Area dibandingkan dengan pasar seperti Miami, Austin, dan New York.\n\n\nAkhirnya, Anthony menutup seri tiga bagiannya tentang Kemewahan Lembah Hudson, yang mencakup perumahan komuter di Westchester, tempat peristirahatan di pegunungan Catskill, dan properti berkuda di Kabupaten Dutchess. Delapan dari sepuluh kabupaten di lembah tersebut melampaui pertumbuhan harga mewah nasional sejak tahun 2019, dengan Ulster dan Greene hampir tiga kali lipat dari tingkat nasional.\n\nTemukan semua detailnya, termasuk laporan lengkap dan data perumahan kami yang dapat diunduh di realtor.com/research. Anda juga dapat mengikuti kami di X (sebelumnya Twitter) untuk pembaruan waktu nyata. Dan Instagram  untuk grafik.\n\nLaporan dan artikel yang dirujuk:\nVideo minggu ini https://www.realtor.com/research/vide...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Lower Hudson https://www.realtor.com/research/lowe...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Mid-Hudson https://www.realtor.com/research/mid-...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Upper Hudson https://www.realtor.com/research/uppe...\n\nPermintaan Internasional Kuartal 1 2026 https://www.realtor.com/research/q1-2...\n\nEfek Kekayaan AI di Perumahan Bay Area https://www.realtor.com/research/ai-h...\n\nKomentar tentang Indeks Harga Rumah Case-Shiller – Maret 2026 https://www.realtor.com/research/case...\n\nKomentar tentang Penjualan Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nKomentar tentang Konstruksi Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nTren Pasar Perumahan Mingguan – Minggu 16 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/week...\n\nKomentar tentang Suku Bunga Hipotek – 21 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/fred...\n\n--\nTONTON SELANJUTNYA Membangun warisan dimulai dengan strategi yang tepat. Tonton video terbaru kami: Aturan Baru Kekayaan Antargenerasi:    • The American Housing Dream Is 10 Years Beh...  \n\nSUMBER DAYA & DATA\n📈 Laporan Perumahan Terperinci: https://www.realtor.com/research/\n📊 Data Perumahan Gratis: https://www.realtor.com/research/data\n🏠 Temukan rumah Anda berikutnya: https://www.realtor.com\n📱 Unduh aplikasi seluler kami: https://www.realtor.com/mobile\n\nBERGABUNGLAH DENGAN KOMUNITAS - Ikuti kami di:\nFacebook: /realtor.com\nInstagram: /realtordotcom\nTikTok: /realtor.com\nThreads: https://www.threads.net/\nX: /realtordotcom\nPinterest: /realtordotcom\n\n#realtor #realestate", "post_id": "vrXmtIFo5f4"}}, {"key": "realtordotcomecon", "attributes": {"label": "realtordotcomecon", "x": 858.2483530495592, "y": 736.5991879374153, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "vrXmtIFo5f4", "id": "realtordotcomecon", "source": "youtube-000001", "content": "Persediaan Meningkat, Harga Turun, dan Penjual Mulai Menyesuaikan Diri\n\nVideo pembaruan dari tim ekonomi Realtor.com® memberi Anda informasi ekonomi dan real estat yang relevan yang perlu Anda ketahui setiap minggu, setiap hari Jumat, untuk menavigasi pasar perumahan sebagai pembeli rumah, penjual rumah, atau profesional industri.\n\nUntuk minggu yang berakhir pada 29 Mei, Ekonom Senior Anthony Smith menggantikan Kepala Ekonom Danielle Hale. Ia membahas suku bunga tetap 30 tahun Freddie Mac, yang naik hanya 2 basis poin menjadi 6,53%, dengan detail lebih lanjut tersedia dalam video pembaruan suku bunga hipotek mingguan bersama rekannya Jake Krimmel.\n\nAnthony juga membahas Indeks S&P Costality Case-Shiller, yang menunjukkan pertumbuhan harga rumah nasional hampir stagnan hingga Maret, dengan lebih dari setengah dari 20 wilayah metropolitan yang dipantau mencatat penurunan tahunan untuk bulan ke-10 berturut-turut.\n\nKemudian, ia membahas penjualan rumah baru pada bulan April dari Ekonom Senior Joel Berner, yang menunjukkan penurunan tajam sebesar 6,2% dari bulan ke bulan dan 11,3% dari tahun ke tahun, dengan pasokan bulanan meningkat menjadi 9,4. Anthony juga menyoroti data perumahan mingguan terbaru dari Realtor.com dari Ekonom Senior Hannah Jones, yang menunjukkan inventaris aktif naik 2,2% dari tahun ke tahun dan harga permintaan turun 2,4%, penurunan selama 19 minggu berturut-turut, dengan penjual semakin realistis dalam menetapkan harga sejak awal.\n\nBeralih ke riset dari kolega Jiayi Xu, Anthony membahas permintaan internasional pada Q1 2026, dengan Kanada tetap menjadi sumber lalu lintas utama sebesar 37,8% dan Los Angeles terus kehilangan pangsa pasar di kalangan pembeli global. Ia juga menyoroti riset baru Jiayi tentang efek kekayaan AI di perumahan Bay Area, yang menemukan bahwa peristiwa likuiditas ekuitas AI mendorong perkiraan tambahan uang muka sebesar $198.000 untuk rumah mewah tingkat pemula di Bay Area dibandingkan dengan pasar seperti Miami, Austin, dan New York.\n\n\nAkhirnya, Anthony menutup seri tiga bagiannya tentang Kemewahan Lembah Hudson, yang mencakup perumahan komuter di Westchester, tempat peristirahatan di pegunungan Catskill, dan properti berkuda di Kabupaten Dutchess. Delapan dari sepuluh kabupaten di lembah tersebut melampaui pertumbuhan harga mewah nasional sejak tahun 2019, dengan Ulster dan Greene hampir tiga kali lipat dari tingkat nasional.\n\nTemukan semua detailnya, termasuk laporan lengkap dan data perumahan kami yang dapat diunduh di realtor.com/research. Anda juga dapat mengikuti kami di X (sebelumnya Twitter) untuk pembaruan waktu nyata. Dan Instagram  untuk grafik.\n\nLaporan dan artikel yang dirujuk:\nVideo minggu ini https://www.realtor.com/research/vide...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Lower Hudson https://www.realtor.com/research/lowe...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Mid-Hudson https://www.realtor.com/research/mid-...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Upper Hudson https://www.realtor.com/research/uppe...\n\nPermintaan Internasional Kuartal 1 2026 https://www.realtor.com/research/q1-2...\n\nEfek Kekayaan AI di Perumahan Bay Area https://www.realtor.com/research/ai-h...\n\nKomentar tentang Indeks Harga Rumah Case-Shiller – Maret 2026 https://www.realtor.com/research/case...\n\nKomentar tentang Penjualan Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nKomentar tentang Konstruksi Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nTren Pasar Perumahan Mingguan – Minggu 16 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/week...\n\nKomentar tentang Suku Bunga Hipotek – 21 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/fred...\n\n--\nTONTON SELANJUTNYA Membangun warisan dimulai dengan strategi yang tepat. Tonton video terbaru kami: Aturan Baru Kekayaan Antargenerasi:    • The American Housing Dream Is 10 Years Beh...  \n\nSUMBER DAYA & DATA\n📈 Laporan Perumahan Terperinci: https://www.realtor.com/research/\n📊 Data Perumahan Gratis: https://www.realtor.com/research/data\n🏠 Temukan rumah Anda berikutnya: https://www.realtor.com\n📱 Unduh aplikasi seluler kami: https://www.realtor.com/mobile\n\nBERGABUNGLAH DENGAN KOMUNITAS - Ikuti kami di:\nFacebook: /realtor.com\nInstagram: /realtordotcom\nTikTok: /realtor.com\nThreads: https://www.threads.net/\nX: /realtordotcom\nPinterest: /realtordotcom\n\n#realtor #realestate", "post_id": "vrXmtIFo5f4"}}, {"key": "realtordotcom", "attributes": {"label": "realtordotcom", "x": 991.2408358146287, "y": 612.3493533754425, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "vrXmtIFo5f4", "id": "realtordotcom", "source": "youtube-000001", "content": "Persediaan Meningkat, Harga Turun, dan Penjual Mulai Menyesuaikan Diri\n\nVideo pembaruan dari tim ekonomi Realtor.com® memberi Anda informasi ekonomi dan real estat yang relevan yang perlu Anda ketahui setiap minggu, setiap hari Jumat, untuk menavigasi pasar perumahan sebagai pembeli rumah, penjual rumah, atau profesional industri.\n\nUntuk minggu yang berakhir pada 29 Mei, Ekonom Senior Anthony Smith menggantikan Kepala Ekonom Danielle Hale. Ia membahas suku bunga tetap 30 tahun Freddie Mac, yang naik hanya 2 basis poin menjadi 6,53%, dengan detail lebih lanjut tersedia dalam video pembaruan suku bunga hipotek mingguan bersama rekannya Jake Krimmel.\n\nAnthony juga membahas Indeks S&P Costality Case-Shiller, yang menunjukkan pertumbuhan harga rumah nasional hampir stagnan hingga Maret, dengan lebih dari setengah dari 20 wilayah metropolitan yang dipantau mencatat penurunan tahunan untuk bulan ke-10 berturut-turut.\n\nKemudian, ia membahas penjualan rumah baru pada bulan April dari Ekonom Senior Joel Berner, yang menunjukkan penurunan tajam sebesar 6,2% dari bulan ke bulan dan 11,3% dari tahun ke tahun, dengan pasokan bulanan meningkat menjadi 9,4. Anthony juga menyoroti data perumahan mingguan terbaru dari Realtor.com dari Ekonom Senior Hannah Jones, yang menunjukkan inventaris aktif naik 2,2% dari tahun ke tahun dan harga permintaan turun 2,4%, penurunan selama 19 minggu berturut-turut, dengan penjual semakin realistis dalam menetapkan harga sejak awal.\n\nBeralih ke riset dari kolega Jiayi Xu, Anthony membahas permintaan internasional pada Q1 2026, dengan Kanada tetap menjadi sumber lalu lintas utama sebesar 37,8% dan Los Angeles terus kehilangan pangsa pasar di kalangan pembeli global. Ia juga menyoroti riset baru Jiayi tentang efek kekayaan AI di perumahan Bay Area, yang menemukan bahwa peristiwa likuiditas ekuitas AI mendorong perkiraan tambahan uang muka sebesar $198.000 untuk rumah mewah tingkat pemula di Bay Area dibandingkan dengan pasar seperti Miami, Austin, dan New York.\n\n\nAkhirnya, Anthony menutup seri tiga bagiannya tentang Kemewahan Lembah Hudson, yang mencakup perumahan komuter di Westchester, tempat peristirahatan di pegunungan Catskill, dan properti berkuda di Kabupaten Dutchess. Delapan dari sepuluh kabupaten di lembah tersebut melampaui pertumbuhan harga mewah nasional sejak tahun 2019, dengan Ulster dan Greene hampir tiga kali lipat dari tingkat nasional.\n\nTemukan semua detailnya, termasuk laporan lengkap dan data perumahan kami yang dapat diunduh di realtor.com/research. Anda juga dapat mengikuti kami di X (sebelumnya Twitter) untuk pembaruan waktu nyata. Dan Instagram  untuk grafik.\n\nLaporan dan artikel yang dirujuk:\nVideo minggu ini https://www.realtor.com/research/vide...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Lower Hudson https://www.realtor.com/research/lowe...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Mid-Hudson https://www.realtor.com/research/mid-...\n\nKemewahan Lembah Hudson: Upper Hudson https://www.realtor.com/research/uppe...\n\nPermintaan Internasional Kuartal 1 2026 https://www.realtor.com/research/q1-2...\n\nEfek Kekayaan AI di Perumahan Bay Area https://www.realtor.com/research/ai-h...\n\nKomentar tentang Indeks Harga Rumah Case-Shiller – Maret 2026 https://www.realtor.com/research/case...\n\nKomentar tentang Penjualan Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nKomentar tentang Konstruksi Rumah Baru – April 2026 https://www.realtor.com/research/new-...\n\nTren Pasar Perumahan Mingguan – Minggu 16 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/week...\n\nKomentar tentang Suku Bunga Hipotek – 21 Mei 2026 https://www.realtor.com/research/fred...\n\n--\nTONTON SELANJUTNYA Membangun warisan dimulai dengan strategi yang tepat. Tonton video terbaru kami: Aturan Baru Kekayaan Antargenerasi:    • The American Housing Dream Is 10 Years Beh...  \n\nSUMBER DAYA & DATA\n📈 Laporan Perumahan Terperinci: https://www.realtor.com/research/\n📊 Data Perumahan Gratis: https://www.realtor.com/research/data\n🏠 Temukan rumah Anda berikutnya: https://www.realtor.com\n📱 Unduh aplikasi seluler kami: https://www.realtor.com/mobile\n\nBERGABUNGLAH DENGAN KOMUNITAS - Ikuti kami di:\nFacebook: /realtor.com\nInstagram: /realtordotcom\nTikTok: /realtor.com\nThreads: https://www.threads.net/\nX: /realtordotcom\nPinterest: /realtordotcom\n\n#realtor #realestate", "post_id": "vrXmtIFo5f4"}}, {"key": "@sb30official", "attributes": {"label": "@sb30official", "x": 954.6313902433877, "y": 116.20060489063732, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7tuaLOz_gMs", "id": "@sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "KRISIS 2026: UANG SUSAH, TAPI KOK MALL TETAP RAMAI? (Pertanda Resesi = Lipstick Effect)\n\n00:00 Hook: Anomali Ekonomi 2026—Daya Beli Turun Tapi Pusat Perbelanjaan Tetap Antre?\n\n00:44 Fenomena Aneh di Lapangan: Dari Antrean Labubu, Boba, hingga Tiket Konser yang Ludes\n\n02:14 Paradoks Sosmed vs Realita: Apakah yang Krisis Hanya Pemerintah atau Masyarakatnya?\n\n03:05 Mengenal Lipstick Effect: Teori Ekonomi Abad Lalu yang Terbukti Kembali Hari Ini\n\n04:18 Mekanisme Pelarian Anggaran: Batal Beli Rumah, Akhirnya Dialihkan ke Kemewahan Kecil\n\n05:18 Konsep Affordable Luxuries: Mengapa Olahraga Lari dan Kopi Rp25 Ribu Kini Jadi Pilihan\n\n06:17 Sejarah Lipstick Effect: Belajar dari Tragedi 9/11 hingga Era Great Depression 1930\n\n07:17 Sisi Psikologis Konsumen: Membeli Perasaan dan Dopamin Instan di Tengah Tekanan Hidup\n\n07:48 Karakteristik Pasar Indonesia: Dominasi Generasi Muda, FOMO, dan Kekuatan Viral Media Sosial\n\n08:16 Data Industri Kedai Kopi Kekinian: Pasar Raksasa Rp4,8 Triliun dan Tren Kopi Tiam\n\n08:54 Pandangan Ekonom UGM: Ritual Sosial Nongkrong Sebagai Tombol Istirahat dari Krisis\n\n09:35 Pergeseran Anggaran Rumah Tangga: Data LPEM FEB UI Menunjukkan Penurunan Sektor Elektronik & Baju\n\n10:11 Pilihan Sadar Konsumen Modern: Rela Tidak Ganti HP Baru Demi Investasi Penampilan ke Salon\n\n11:06 Kuliner Viral & Blind Box: Berburu Pengakuan Sosial Lewat Konten Media Sosial\n\n11:34 Implikasi Nyata: Menangkap Peluang Bisnis Sektor Defensif yang Tahan Krisis\n\n12:10 Sisi Gelap Finansial: Ledakan Kredit Mikro dan Fenomena Iklan Paylater yang Membodohkan\n\n12:46 Bahaya Doom Spending: Menyerah pada Masa Depan Keuangan Demi Kebahagiaan Semu\n\n14:22 Peringatan Keras dari CORE Indonesia: Antrean Panjang Bukan Tanda Ekonomi Sedang Kuat!\n\n15:07 Kesimpulan: Fenomena Lipstick Effect Sebagai Cermin Jujur Kondisi Psikologis Masyarakat\n\n15:40 Closing: Pilihan di Tangan Anda, Menjadi Pebisnis Jeli atau Konsumen Impulsif?\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "7tuaLOz_gMs"}}, {"key": "sb30official", "attributes": {"label": "sb30official", "x": 201.61897233989635, "y": 810.5737023923992, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "7tuaLOz_gMs", "id": "sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "KRISIS 2026: UANG SUSAH, TAPI KOK MALL TETAP RAMAI? (Pertanda Resesi = Lipstick Effect)\n\n00:00 Hook: Anomali Ekonomi 2026—Daya Beli Turun Tapi Pusat Perbelanjaan Tetap Antre?\n\n00:44 Fenomena Aneh di Lapangan: Dari Antrean Labubu, Boba, hingga Tiket Konser yang Ludes\n\n02:14 Paradoks Sosmed vs Realita: Apakah yang Krisis Hanya Pemerintah atau Masyarakatnya?\n\n03:05 Mengenal Lipstick Effect: Teori Ekonomi Abad Lalu yang Terbukti Kembali Hari Ini\n\n04:18 Mekanisme Pelarian Anggaran: Batal Beli Rumah, Akhirnya Dialihkan ke Kemewahan Kecil\n\n05:18 Konsep Affordable Luxuries: Mengapa Olahraga Lari dan Kopi Rp25 Ribu Kini Jadi Pilihan\n\n06:17 Sejarah Lipstick Effect: Belajar dari Tragedi 9/11 hingga Era Great Depression 1930\n\n07:17 Sisi Psikologis Konsumen: Membeli Perasaan dan Dopamin Instan di Tengah Tekanan Hidup\n\n07:48 Karakteristik Pasar Indonesia: Dominasi Generasi Muda, FOMO, dan Kekuatan Viral Media Sosial\n\n08:16 Data Industri Kedai Kopi Kekinian: Pasar Raksasa Rp4,8 Triliun dan Tren Kopi Tiam\n\n08:54 Pandangan Ekonom UGM: Ritual Sosial Nongkrong Sebagai Tombol Istirahat dari Krisis\n\n09:35 Pergeseran Anggaran Rumah Tangga: Data LPEM FEB UI Menunjukkan Penurunan Sektor Elektronik & Baju\n\n10:11 Pilihan Sadar Konsumen Modern: Rela Tidak Ganti HP Baru Demi Investasi Penampilan ke Salon\n\n11:06 Kuliner Viral & Blind Box: Berburu Pengakuan Sosial Lewat Konten Media Sosial\n\n11:34 Implikasi Nyata: Menangkap Peluang Bisnis Sektor Defensif yang Tahan Krisis\n\n12:10 Sisi Gelap Finansial: Ledakan Kredit Mikro dan Fenomena Iklan Paylater yang Membodohkan\n\n12:46 Bahaya Doom Spending: Menyerah pada Masa Depan Keuangan Demi Kebahagiaan Semu\n\n14:22 Peringatan Keras dari CORE Indonesia: Antrean Panjang Bukan Tanda Ekonomi Sedang Kuat!\n\n15:07 Kesimpulan: Fenomena Lipstick Effect Sebagai Cermin Jujur Kondisi Psikologis Masyarakat\n\n15:40 Closing: Pilihan di Tangan Anda, Menjadi Pebisnis Jeli atau Konsumen Impulsif?\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "7tuaLOz_gMs"}}, {"key": "@kompastvmedan", "attributes": {"label": "@kompastvmedan", "x": 343.0162946294665, "y": 813.4662759999777, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 5, "degree": 5}, "_id": "1FoTQh0Ik5A", "id": "@kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah, BI Imbau Warga Tak Panic Buying Dolar AS\n\nKOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.\n\nDirektur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.\n\nBank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.\n\nMenurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.\n\nSebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.\n\n#rupiah #dolaras #bankindonesia\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "1FoTQh0Ik5A"}}, {"key": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "kompastvmedan", "x": 43.39900376331851, "y": 408.40774976339344, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8805, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "1FoTQh0Ik5A", "id": "kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah, BI Imbau Warga Tak Panic Buying Dolar AS\n\nKOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.\n\nDirektur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.\n\nBank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.\n\nMenurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.\n\nSebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.\n\n#rupiah #dolaras #bankindonesia\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "1FoTQh0Ik5A"}}, {"key": "@ElliottWaveOptions", "attributes": {"label": "@ElliottWaveOptions", "x": 200.67358701147464, "y": 976.9501241791385, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "AAxYCwaSUJA", "id": "@ElliottWaveOptions", "source": "youtube-000001", "content": "Baru Permulaan Masalah Besar bagi Saham? | Analisis Teknikal Elliott Wave S&P500 VIX\n\nAnalisis gelombang Elliott terus menunjukkan pasar yang secara teknis masih utuh, tetapi aksi jual tajam minggu ini meningkatkan risiko penurunan lebih lanjut jika level support kunci gagal di awal minggu depan. S&P kembali menembus level penting 750 dengan volume yang lebih tinggi dari rata-rata, yang menjadi kekhawatiran karena tekanan jual lebih kuat daripada hari-hari pembelian baru-baru ini tetapi tidak cukup ekstrem untuk secara jelas menunjukkan kapitulasi. Area 730 sekarang menjadi level pertama yang perlu diperhatikan, dengan 715 menjadi lebih penting jika penurunan berlanjut. Meskipun pergerakan pasar terasa buruk, pola indeks yang lebih luas belum mengalami kerusakan teknis besar, dan struktur rata-rata pergerakan 10 hari/30 hari tetap konstruktif untuk saat ini.\n\n:: Cara Berlangganan TRADEFINDER LIVE! Secara Gratis ::\n\n------------------------------------------------------------------------------------\nMenjadi Anggota Tradefinder GRATIS menggunakan tautan di bawah ini.\n\nSebagai pelanggan, Anda akan menonton siaran langsung saat Rob menemukan peluang perdagangan baru setiap minggu.\n\n► Tautan Pendaftaran: https://ewotrader.com/tradefinder/\n\n:: Berlangganan Saluran HUBB untuk Pembaruan Langsung dan Tanya Jawab ::\n---------------------------------------------------------------------------------------------------\nUntuk berpartisipasi dalam Tanya Jawab dengan Rob Roy, bergabunglah dengan kami di saluran YouTube HUBB. Klik tautan di bawah ini sekarang untuk berlangganan secara gratis.\n\n► Tautan Pendaftaran:    /   \n\n:: Bagian dalam Video Ini ::\n\n------------------------------------------------------------------------------------\n00:00 - Pendahuluan\n00:21 - Pembaruan Pasar AS\n00:55 - Pratinjau Penguasaan Gelombang Elliott!\n\n02:07 - SPY\n03:44 - TLT\n04:36 - TNX\n05:30 - Laporan Pekerjaan AS\n06:18 - SHY\n07:48 - SPX & Fase Makro\n08:47 - SPX & Likuiditas Fed\n09:38 - SPX & Kondisi Keuangan\n10:16 - Dolar AS\n11:16 - DIA\n12:14 - QQQ\n13:07 - IWM\n14:11 - GLD\n15:27 - SLV\n16:36 - BITB\n17:34 - ETHW\n18:36 - USO\n19:45 - UNG\n20:26 - SMH\n22:24 - XLV\n22:49 - APP\n23:43 - RDW\n25:04 - CCL\n26:11 - NVDA\n27:04 - TSLA\n\n:: Untuk menerima PEMBERITAHUAN PERDAGANGAN untuk strategi kami, lihat tautan di bawah ini ::\n------------------------------------------------------------------------------------------------\n► Strategi Volatilitas EWO https://ewotrader.com/the-volatility-...\n► Strategi Impuls EWO https://ewotrader.com/the-impulse-str...\n► Strategi Waktu EWO https://ewotrader.com/the-time-strategy/\n\n:: Tautan Lain untuk Mengikuti Kami::\n--------------------------------------------\n► Instagram:   / elliottwaveoptions  \n► Facebook:   / elliottwaveoptions  \n► LinkedIn:   / elliott-wave-options  \n► Twitter:   / ewotrader  \n► Situs Web: http://www.ewotrader.com\n\nPasar obligasi merupakan penyebab utama di balik pelemahan pasar saham. TLT berbalik turun setelah mengalami retracement ke area Fibonacci kunci, sementara suku bunga bergerak lebih tinggi di seluruh kurva. Laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan mendorong harapan penurunan suku bunga lebih jauh ke latar belakang dan membawa perhatian baru pada kemungkinan bahwa Fed mungkin tetap fokus pada inflasi, terutama dengan harga energi yang masih menjadi perhatian. Kurva imbal hasil yang datar, kenaikan suku bunga jangka pendek, dan tekanan pada SHY semuanya menunjukkan pasar obligasi yang perlu dipantau dengan cermat oleh para trader saham.\n\nGambaran makro tetap beragam. Data fase makro HUBB terus menunjukkan pembacaan ekspansi dan kontraksi yang bergerak berdekatan, yang mendukung gagasan pasar yang menguntungkan bagi pemilih saham daripada reli yang luas dan mudah. ​​Likuiditas Fed juga bergerak lebih rendah minggu ini, menambah hambatan lain di samping suku bunga yang lebih tinggi, kekhawatiran inflasi, dan tekanan pada kripto, logam, dan saham.\n\nDolar juga menguat seiring dengan kenaikan suku bunga, dan itu tetap menjadi masalah potensial menjelang siklus pendapatan berikutnya. Dolar yang lebih kuat dapat menekan perusahaan multinasional melalui efek translasi mata uang, yang mungkin menjadi penjelasan berulang jika pendapatan mengecewakan.\n\n\nDi antara indeks utama, DIA, QQQ, dan IWM tetap berada dalam struktur gelombang tiga Elliott, sementara SPY masih menjadi pengecualian dalam gelombang empat. Dow dan saham-saham berkapitalisasi kecil mundur mendekati rata-rata pergerakan utama tanpa mematahkan polanya, sementara QQQ mendekati pengujian penting di dekat area 700.\n\nEmas, perak, dan kripto semuanya berada di bawah tekanan karena likuiditas mengetat dan ekspektasi suku bunga meningkat. GLD perlu bertahan di sekitar 400, SLV perlu bertahan di dekat 60, dan ETF terkait Bitcoin dan Ethereum berisiko mengalami penurunan lebih lanjut jika dukungan saat ini gagal. Energi tetap menjadi risiko utama lainnya, dengan cadan...", "post_id": "AAxYCwaSUJA"}}, {"key": "hubb_financial", "attributes": {"label": "hubb_financial", "x": 235.69174620083712, "y": 870.4448926641844, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "AAxYCwaSUJA", "id": "hubb_financial", "source": "youtube-000001", "content": "Baru Permulaan Masalah Besar bagi Saham? | Analisis Teknikal Elliott Wave S&P500 VIX\n\nAnalisis gelombang Elliott terus menunjukkan pasar yang secara teknis masih utuh, tetapi aksi jual tajam minggu ini meningkatkan risiko penurunan lebih lanjut jika level support kunci gagal di awal minggu depan. S&P kembali menembus level penting 750 dengan volume yang lebih tinggi dari rata-rata, yang menjadi kekhawatiran karena tekanan jual lebih kuat daripada hari-hari pembelian baru-baru ini tetapi tidak cukup ekstrem untuk secara jelas menunjukkan kapitulasi. Area 730 sekarang menjadi level pertama yang perlu diperhatikan, dengan 715 menjadi lebih penting jika penurunan berlanjut. Meskipun pergerakan pasar terasa buruk, pola indeks yang lebih luas belum mengalami kerusakan teknis besar, dan struktur rata-rata pergerakan 10 hari/30 hari tetap konstruktif untuk saat ini.\n\n:: Cara Berlangganan TRADEFINDER LIVE! Secara Gratis ::\n\n------------------------------------------------------------------------------------\nMenjadi Anggota Tradefinder GRATIS menggunakan tautan di bawah ini.\n\nSebagai pelanggan, Anda akan menonton siaran langsung saat Rob menemukan peluang perdagangan baru setiap minggu.\n\n► Tautan Pendaftaran: https://ewotrader.com/tradefinder/\n\n:: Berlangganan Saluran HUBB untuk Pembaruan Langsung dan Tanya Jawab ::\n---------------------------------------------------------------------------------------------------\nUntuk berpartisipasi dalam Tanya Jawab dengan Rob Roy, bergabunglah dengan kami di saluran YouTube HUBB. Klik tautan di bawah ini sekarang untuk berlangganan secara gratis.\n\n► Tautan Pendaftaran:    /   \n\n:: Bagian dalam Video Ini ::\n\n------------------------------------------------------------------------------------\n00:00 - Pendahuluan\n00:21 - Pembaruan Pasar AS\n00:55 - Pratinjau Penguasaan Gelombang Elliott!\n\n02:07 - SPY\n03:44 - TLT\n04:36 - TNX\n05:30 - Laporan Pekerjaan AS\n06:18 - SHY\n07:48 - SPX & Fase Makro\n08:47 - SPX & Likuiditas Fed\n09:38 - SPX & Kondisi Keuangan\n10:16 - Dolar AS\n11:16 - DIA\n12:14 - QQQ\n13:07 - IWM\n14:11 - GLD\n15:27 - SLV\n16:36 - BITB\n17:34 - ETHW\n18:36 - USO\n19:45 - UNG\n20:26 - SMH\n22:24 - XLV\n22:49 - APP\n23:43 - RDW\n25:04 - CCL\n26:11 - NVDA\n27:04 - TSLA\n\n:: Untuk menerima PEMBERITAHUAN PERDAGANGAN untuk strategi kami, lihat tautan di bawah ini ::\n------------------------------------------------------------------------------------------------\n► Strategi Volatilitas EWO https://ewotrader.com/the-volatility-...\n► Strategi Impuls EWO https://ewotrader.com/the-impulse-str...\n► Strategi Waktu EWO https://ewotrader.com/the-time-strategy/\n\n:: Tautan Lain untuk Mengikuti Kami::\n--------------------------------------------\n► Instagram:   / elliottwaveoptions  \n► Facebook:   / elliottwaveoptions  \n► LinkedIn:   / elliott-wave-options  \n► Twitter:   / ewotrader  \n► Situs Web: http://www.ewotrader.com\n\nPasar obligasi merupakan penyebab utama di balik pelemahan pasar saham. TLT berbalik turun setelah mengalami retracement ke area Fibonacci kunci, sementara suku bunga bergerak lebih tinggi di seluruh kurva. Laporan pekerjaan yang lebih kuat dari perkiraan mendorong harapan penurunan suku bunga lebih jauh ke latar belakang dan membawa perhatian baru pada kemungkinan bahwa Fed mungkin tetap fokus pada inflasi, terutama dengan harga energi yang masih menjadi perhatian. Kurva imbal hasil yang datar, kenaikan suku bunga jangka pendek, dan tekanan pada SHY semuanya menunjukkan pasar obligasi yang perlu dipantau dengan cermat oleh para trader saham.\n\nGambaran makro tetap beragam. Data fase makro HUBB terus menunjukkan pembacaan ekspansi dan kontraksi yang bergerak berdekatan, yang mendukung gagasan pasar yang menguntungkan bagi pemilih saham daripada reli yang luas dan mudah. ​​Likuiditas Fed juga bergerak lebih rendah minggu ini, menambah hambatan lain di samping suku bunga yang lebih tinggi, kekhawatiran inflasi, dan tekanan pada kripto, logam, dan saham.\n\nDolar juga menguat seiring dengan kenaikan suku bunga, dan itu tetap menjadi masalah potensial menjelang siklus pendapatan berikutnya. Dolar yang lebih kuat dapat menekan perusahaan multinasional melalui efek translasi mata uang, yang mungkin menjadi penjelasan berulang jika pendapatan mengecewakan.\n\n\nDi antara indeks utama, DIA, QQQ, dan IWM tetap berada dalam struktur gelombang tiga Elliott, sementara SPY masih menjadi pengecualian dalam gelombang empat. Dow dan saham-saham berkapitalisasi kecil mundur mendekati rata-rata pergerakan utama tanpa mematahkan polanya, sementara QQQ mendekati pengujian penting di dekat area 700.\n\nEmas, perak, dan kripto semuanya berada di bawah tekanan karena likuiditas mengetat dan ekspektasi suku bunga meningkat. GLD perlu bertahan di sekitar 400, SLV perlu bertahan di dekat 60, dan ETF terkait Bitcoin dan Ethereum berisiko mengalami penurunan lebih lanjut jika dukungan saat ini gagal. Energi tetap menjadi risiko utama lainnya, dengan cadan...", "post_id": "AAxYCwaSUJA"}}, {"key": "@thecore_in", "attributes": {"label": "@thecore_in", "x": 990.6187339981058, "y": 355.07365350783624, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "v6fkRyKyg4c", "id": "@thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Apakah India Mengirim Sinyal yang Salah kepada Investor Global | Govindraj Ethiraj | The Core Report\n\nPada Episode 883 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Prasanna Tantri, Profesor Madya Keuangan dan Direktur Eksekutif - Pusat Keuangan Analitis (CAF) di ISB serta Yogesh Rawat, Kepala Bagian Bisnis - Pinjaman Mahasiswa Internasional di Avanse financial services.\n\nLihat pelacak Pendapatan Langsung kami: https://earnings.thecore.in/\n\nCATATAN ACARA\n(00:00) Pandangan Kami\n(05:00) Mengapa SIP Anda menurunkan nilai rupee terhadap dolar\n(06:14) Pasar India diperkirakan akan dibuka lebih kuat berdasarkan laporan kesepakatan Iran-AS.\n(07:12) Delegasi bisnis beranggotakan 150 orang beserta menteri perdagangan akan mendarat di Kanada.\n(08:35) Kenaikan suku bunga tampaknya akan segera terjadi. Tetapi bagaimana dengan waktunya?\n\n(19:50) Bagaimana mahasiswa India yang akan belajar di luar negeri menyesuaikan pilihan mereka karena rezim visa yang lebih ketat dan depresiasi rupee\n\nInformasi Tambahan:\n\nRupee India mendekati 100 terhadap dolar AS, FPI telah menarik hampir $50 miliar dari ekuitas India, dan FDI bersih ke India telah melambat tajam.\n\nPada saat yang sama, India dilaporkan berkomitmen untuk membeli barang-barang energi, teknologi, dan pertanian AS senilai $500 miliar selama lima tahun. Ketika India membutuhkan modal asing, teknologi, dan bisnis global untuk berinvestasi di sini, mengapa India memberikan sinyal pengeluaran keluar yang begitu besar?\n\nEkonom Sajid Chinoy berpendapat bahwa FDI bersih India, yang pernah sekitar 1,5% dari PDB, hampir mengering sejak 2024 dan tetap terkait dengan kondisi keuangan global seperti imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sementara itu, Vietnam terus menarik FDI yang kuat.\n\nLogika perdagangan India-AS telah berubah setelah putusan Mahkamah Agung AS tentang tarif timbal balik dan langkah menuju tarif seragam 10%. Jika India tetap mendapatkan perlakuan tarif yang sama, lalu apa sebenarnya yang dibeli dengan $500 miliar itu?\n\nIndia membutuhkan arus masuk modal, investasi asing langsung (FDI) yang lebih kuat, investasi manufaktur, transfer teknologi, dan pertumbuhan domestik. Bertindak sebagai pelanggan Amerika senilai setengah triliun dolar mungkin tidak akan menguntungkan kepentingan ekonomi India.\n\nSIP, Pasar, Perdagangan dengan Kanada:\n\nInvestasi bulanan Anda ke reksa dana mungkin telah membantu menyediakan likuiditas bagi investor asing untuk keluar dari saham India sejak September 2024.\n\nCatatan Jefferies mengatakan tekanan terhadap rupee India bukan terutama berasal dari defisit transaksi berjalan, tetapi dari arus modal yang lemah. Arus keluar ekuitas sekitar $78 miliar selama dua tahun diserap oleh arus domestik yang kuat, memberikan investor asing jalan keluar yang mudah dari pasar India yang mahal.\n\nRupee pulih setelah intervensi RBI, sementara Nifty & Sensex ditutup lebih tinggi. Pasar mungkin akan dibuka lebih kuat karena harapan kesepakatan perdamaian Iran-AS, mengurangi tekanan pada minyak, rupee, dan sentimen.\n\nIndia juga berupaya membangun kembali momentum perdagangan dengan Kanada karena kedua negara bertujuan untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi sekitar $50 miliar selama lima tahun.\n\nGelombang panas mendorong permintaan listrik di atas 270 GW, menyebabkan pemadaman listrik di pusat-pusat seperti Chennai.\n\nBagaimana Seharusnya Inflasi India Ditangani?\n\nDengan harga minyak dan risiko energi yang meningkat, inflasi kembali menjadi fokus. Para ekonom mengamati apakah RBI dapat menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dari suku bunga repo saat ini sebesar 5,25%.\n\nTetapi apakah kenaikan suku bunga merupakan respons yang tepat terhadap guncangan harga minyak? Govindraj Ethiraj berbicara dengan Prasanna Tantri dari Indian School of Business tentang apakah kerangka kerja target inflasi India terlalu kaku.\n\nMengapa Mahasiswa India Belajar di Luar Negeri Lebih Sedikit?\n\nJumlah mahasiswa India yang belajar di luar negeri menurun karena aturan visa diperketat di Kanada, AS, Australia, dan Inggris.\n\nNilai tukar rupee yang lebih lemah mendekati 96 terhadap dolar membuat pendidikan di luar negeri lebih mahal bagi keluarga India. Govindraj Ethiraj berbicara dengan Yogesh Rawat dari Avanse Financial Services tentang bagaimana permintaan pinjaman pendidikan, orang tua, dan mahasiswa berubah.\n\nNilai tukar rupee India mendekati 100, arus keluar FPI, FDI yang lemah, perdagangan India-AS, debat kenaikan suku bunga RBI, risiko inflasi, dan pilihan mahasiswa India untuk belajar di Jerman, Jepang, dan Dubai menimbulkan satu pertanyaan besar. Apakah India mengirimkan sinyal yang salah kepada investor dan keluarga global? Saksikan Govindraj Ethiraj di The Core Report untuk berita bisnis yang tajam, pasar, manufaktur, dan analisis ekonomi.\n\n#EkonomiIndia #Rupee #RBI #FDI #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Co...", "post_id": "v6fkRyKyg4c"}}, {"key": "thecore_in", "attributes": {"label": "thecore_in", "x": 994.4276388108469, "y": 210.75234320180058, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8376, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "v6fkRyKyg4c", "id": "thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Apakah India Mengirim Sinyal yang Salah kepada Investor Global | Govindraj Ethiraj | The Core Report\n\nPada Episode 883 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Prasanna Tantri, Profesor Madya Keuangan dan Direktur Eksekutif - Pusat Keuangan Analitis (CAF) di ISB serta Yogesh Rawat, Kepala Bagian Bisnis - Pinjaman Mahasiswa Internasional di Avanse financial services.\n\nLihat pelacak Pendapatan Langsung kami: https://earnings.thecore.in/\n\nCATATAN ACARA\n(00:00) Pandangan Kami\n(05:00) Mengapa SIP Anda menurunkan nilai rupee terhadap dolar\n(06:14) Pasar India diperkirakan akan dibuka lebih kuat berdasarkan laporan kesepakatan Iran-AS.\n(07:12) Delegasi bisnis beranggotakan 150 orang beserta menteri perdagangan akan mendarat di Kanada.\n(08:35) Kenaikan suku bunga tampaknya akan segera terjadi. Tetapi bagaimana dengan waktunya?\n\n(19:50) Bagaimana mahasiswa India yang akan belajar di luar negeri menyesuaikan pilihan mereka karena rezim visa yang lebih ketat dan depresiasi rupee\n\nInformasi Tambahan:\n\nRupee India mendekati 100 terhadap dolar AS, FPI telah menarik hampir $50 miliar dari ekuitas India, dan FDI bersih ke India telah melambat tajam.\n\nPada saat yang sama, India dilaporkan berkomitmen untuk membeli barang-barang energi, teknologi, dan pertanian AS senilai $500 miliar selama lima tahun. Ketika India membutuhkan modal asing, teknologi, dan bisnis global untuk berinvestasi di sini, mengapa India memberikan sinyal pengeluaran keluar yang begitu besar?\n\nEkonom Sajid Chinoy berpendapat bahwa FDI bersih India, yang pernah sekitar 1,5% dari PDB, hampir mengering sejak 2024 dan tetap terkait dengan kondisi keuangan global seperti imbal hasil obligasi pemerintah AS. Sementara itu, Vietnam terus menarik FDI yang kuat.\n\nLogika perdagangan India-AS telah berubah setelah putusan Mahkamah Agung AS tentang tarif timbal balik dan langkah menuju tarif seragam 10%. Jika India tetap mendapatkan perlakuan tarif yang sama, lalu apa sebenarnya yang dibeli dengan $500 miliar itu?\n\nIndia membutuhkan arus masuk modal, investasi asing langsung (FDI) yang lebih kuat, investasi manufaktur, transfer teknologi, dan pertumbuhan domestik. Bertindak sebagai pelanggan Amerika senilai setengah triliun dolar mungkin tidak akan menguntungkan kepentingan ekonomi India.\n\nSIP, Pasar, Perdagangan dengan Kanada:\n\nInvestasi bulanan Anda ke reksa dana mungkin telah membantu menyediakan likuiditas bagi investor asing untuk keluar dari saham India sejak September 2024.\n\nCatatan Jefferies mengatakan tekanan terhadap rupee India bukan terutama berasal dari defisit transaksi berjalan, tetapi dari arus modal yang lemah. Arus keluar ekuitas sekitar $78 miliar selama dua tahun diserap oleh arus domestik yang kuat, memberikan investor asing jalan keluar yang mudah dari pasar India yang mahal.\n\nRupee pulih setelah intervensi RBI, sementara Nifty & Sensex ditutup lebih tinggi. Pasar mungkin akan dibuka lebih kuat karena harapan kesepakatan perdamaian Iran-AS, mengurangi tekanan pada minyak, rupee, dan sentimen.\n\nIndia juga berupaya membangun kembali momentum perdagangan dengan Kanada karena kedua negara bertujuan untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi sekitar $50 miliar selama lima tahun.\n\nGelombang panas mendorong permintaan listrik di atas 270 GW, menyebabkan pemadaman listrik di pusat-pusat seperti Chennai.\n\nBagaimana Seharusnya Inflasi India Ditangani?\n\nDengan harga minyak dan risiko energi yang meningkat, inflasi kembali menjadi fokus. Para ekonom mengamati apakah RBI dapat menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dari suku bunga repo saat ini sebesar 5,25%.\n\nTetapi apakah kenaikan suku bunga merupakan respons yang tepat terhadap guncangan harga minyak? Govindraj Ethiraj berbicara dengan Prasanna Tantri dari Indian School of Business tentang apakah kerangka kerja target inflasi India terlalu kaku.\n\nMengapa Mahasiswa India Belajar di Luar Negeri Lebih Sedikit?\n\nJumlah mahasiswa India yang belajar di luar negeri menurun karena aturan visa diperketat di Kanada, AS, Australia, dan Inggris.\n\nNilai tukar rupee yang lebih lemah mendekati 96 terhadap dolar membuat pendidikan di luar negeri lebih mahal bagi keluarga India. Govindraj Ethiraj berbicara dengan Yogesh Rawat dari Avanse Financial Services tentang bagaimana permintaan pinjaman pendidikan, orang tua, dan mahasiswa berubah.\n\nNilai tukar rupee India mendekati 100, arus keluar FPI, FDI yang lemah, perdagangan India-AS, debat kenaikan suku bunga RBI, risiko inflasi, dan pilihan mahasiswa India untuk belajar di Jerman, Jepang, dan Dubai menimbulkan satu pertanyaan besar. Apakah India mengirimkan sinyal yang salah kepada investor dan keluarga global? Saksikan Govindraj Ethiraj di The Core Report untuk berita bisnis yang tajam, pasar, manufaktur, dan analisis ekonomi.\n\n#EkonomiIndia #Rupee #RBI #FDI #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Co...", "post_id": "v6fkRyKyg4c"}}, {"key": "@KamalTalks79", "attributes": {"label": "@KamalTalks79", "x": 200.7864996717067, "y": 729.5488730606379, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "iTDUWH_nViw", "id": "@KamalTalks79", "source": "youtube-000001", "content": "Peringatan PSX 🚨 Pembalikan Pasar di 175K | Kebijakan SBP & Guncangan Harga Bahan Bakar | Dampak ...\n\nRingkasan Mingguan PSX | Pasar Mencapai 175K – Apa Selanjutnya? | Kebijakan SBP & Dampak Guncangan Harga Bahan Bakar\n\nDalam analisis PSX minggu ini, kami membahas:\nKenaikan harga bahan bakar yang masif dan dampaknya terhadap ekonomi\nEkspektasi Kebijakan Moneter SBP (Tetap atau Naik?)\nProspek teknis KSE-100 setelah penolakan dari 175K\nPemulihan pasar yang kuat setelah sesi bearish\nLevel support & resistance kunci untuk minggu depan\nDampak dividen NBP terhadap likuiditas pasar\nVolume tinggi dan peran saham penny\nSaham dengan dividen tertinggi di PSX\nPemicu global: Pembicaraan AS-Iran & peran Pakistan\n📊 Level Kunci yang Perlu Diperhatikan:\nSupport: 165K – 167K\nResistance: 174K – 182K\n📈 Wawasan Pasar: Terlepas dari volatilitas, pembelian yang kuat di level yang lebih rendah menunjukkan akumulasi. Namun, risiko makro dan perkembangan global tetap penting untuk arah minggu depan.\n\n💡 Penafian:\n\"Video ini semata-mata untuk tujuan pendidikan dan memberikan informasi, dan tidak dimaksudkan untuk memberikan nasihat apa pun. Informasi yang dibagikan hanyalah pandangan pribadi. Di mana pun nama saham/reksa dana disebutkan, ini hanya untuk tujuan pendidikan dan informasi. Pasar saham dan investasi bisa berisiko, mohon minta nasihat profesional sebelum mengambil keputusan apa pun.\"\n\nShakil Anwer Kamal adalah seorang\n\"Ekonom dan Pakar Pasar Modal dengan Pengalaman Mengajar yang Luas di bidang Ekonomi dan Manajemen Keuangan; Berdedikasi untuk Menjembatani Dunia Akademik dan Wawasan Keuangan Dunia Nyata, Juga Kontributor Digital Futuristik tentang Tren Ekonomi.\"\n\nPelajari perdagangan pasar saham bersama Shakil Anwer Kamal dan daftarkan diri Anda di sesi berikutnya.\n\nEmail: economist.shakil\n\nSilakan berlangganan saluran YouTube ini:\n   /   \n\nDan terhubung dengan Bapak Shakil Anwer Kamal di media sosial:\nTwitter: shakil_ak\nLinkedIn:\n  / shakil-anwer-kamal-23243633  \nFacebook:\n  / shakilanwerkamal  \n\nDan bergabunglah dengan grup WhatsApp premium kami untuk pembaruan harian: https://chat.whatsapp.com/FAMk1jnxW4s...\n\n#shakilanwerkamal\n#pakistanstockexchangenews #kse #pakistanstockexchange #pakistanstockmarket #stockmarket #pakistan #companyresults #cashdividend #financialresults #newsupdates #stock #Mari #dividen #alfaadhi #dividen #sahamdividen #psx #indeks #mmfinancialspakistan #sahampakistan #cryptoworld #investasipasarsaham #pendidikanpasarsaham #pendidikankeuangan #nasdaq #sharebazar #heatmap #nasdaqfutures #nasdaqtrading #sazew #cryptoworldevolution\n\nPrediksi pasar saham untuk hari Senin\nAnalisis pasar saham untuk besok\nAnalisis grafik pasar saham hari ini\nAnalisis PSX hari ini\nTrading untuk pemula di Pakistan\nCara membeli saham di Pakistan\nPasar saham untuk pemula di Pakistan\nCara menganalisis pasar saham\nInvestasi di Pakistan\nUsaha kecil di Pakistan\nMengapa Pakistan penting bagi dunia\nCara mempelajari pergerakan harga di pasar saham\nCara menghasilkan uang di Pakistan\nAnalisis saham Mari Petroleum\nCara menganalisis perusahaan untuk investasi\nHarga pasar Pakistan hari ini\nPasar saham Pakistan hari ini\nAnalisis teknikal pasar\nTips pasar saham terbaik.\n\nPasar saham Pakistan, pasar saham Pakistan untuk pemula, pasar saham Pakistan hari ini, pembaruan pasar saham Pakistan, kursus pasar saham Pakistan, analisis pasar saham Pakistan, perdagangan pasar saham Pakistan, aplikasi pasar saham Pakistan, berita pasar saham Pakistan hari ini, berita pasar saham Pakistan\nBisnis terbaik di Pakistan\nSaham menguntungkan untuk dibeli hari ini\nPengetahuan dasar tentang pasar saham\nEkonomi Pakistan", "post_id": "iTDUWH_nViw"}}, {"key": "kamaltalks79", "attributes": {"label": "kamaltalks79", "x": 430.76012293147625, "y": 891.3521376696294, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iTDUWH_nViw", "id": "kamaltalks79", "source": "youtube-000001", "content": "Peringatan PSX 🚨 Pembalikan Pasar di 175K | Kebijakan SBP & Guncangan Harga Bahan Bakar | Dampak ...\n\nRingkasan Mingguan PSX | Pasar Mencapai 175K – Apa Selanjutnya? | Kebijakan SBP & Dampak Guncangan Harga Bahan Bakar\n\nDalam analisis PSX minggu ini, kami membahas:\nKenaikan harga bahan bakar yang masif dan dampaknya terhadap ekonomi\nEkspektasi Kebijakan Moneter SBP (Tetap atau Naik?)\nProspek teknis KSE-100 setelah penolakan dari 175K\nPemulihan pasar yang kuat setelah sesi bearish\nLevel support & resistance kunci untuk minggu depan\nDampak dividen NBP terhadap likuiditas pasar\nVolume tinggi dan peran saham penny\nSaham dengan dividen tertinggi di PSX\nPemicu global: Pembicaraan AS-Iran & peran Pakistan\n📊 Level Kunci yang Perlu Diperhatikan:\nSupport: 165K – 167K\nResistance: 174K – 182K\n📈 Wawasan Pasar: Terlepas dari volatilitas, pembelian yang kuat di level yang lebih rendah menunjukkan akumulasi. Namun, risiko makro dan perkembangan global tetap penting untuk arah minggu depan.\n\n💡 Penafian:\n\"Video ini semata-mata untuk tujuan pendidikan dan memberikan informasi, dan tidak dimaksudkan untuk memberikan nasihat apa pun. Informasi yang dibagikan hanyalah pandangan pribadi. Di mana pun nama saham/reksa dana disebutkan, ini hanya untuk tujuan pendidikan dan informasi. Pasar saham dan investasi bisa berisiko, mohon minta nasihat profesional sebelum mengambil keputusan apa pun.\"\n\nShakil Anwer Kamal adalah seorang\n\"Ekonom dan Pakar Pasar Modal dengan Pengalaman Mengajar yang Luas di bidang Ekonomi dan Manajemen Keuangan; Berdedikasi untuk Menjembatani Dunia Akademik dan Wawasan Keuangan Dunia Nyata, Juga Kontributor Digital Futuristik tentang Tren Ekonomi.\"\n\nPelajari perdagangan pasar saham bersama Shakil Anwer Kamal dan daftarkan diri Anda di sesi berikutnya.\n\nEmail: economist.shakil\n\nSilakan berlangganan saluran YouTube ini:\n   /   \n\nDan terhubung dengan Bapak Shakil Anwer Kamal di media sosial:\nTwitter: shakil_ak\nLinkedIn:\n  / shakil-anwer-kamal-23243633  \nFacebook:\n  / shakilanwerkamal  \n\nDan bergabunglah dengan grup WhatsApp premium kami untuk pembaruan harian: https://chat.whatsapp.com/FAMk1jnxW4s...\n\n#shakilanwerkamal\n#pakistanstockexchangenews #kse #pakistanstockexchange #pakistanstockmarket #stockmarket #pakistan #companyresults #cashdividend #financialresults #newsupdates #stock #Mari #dividen #alfaadhi #dividen #sahamdividen #psx #indeks #mmfinancialspakistan #sahampakistan #cryptoworld #investasipasarsaham #pendidikanpasarsaham #pendidikankeuangan #nasdaq #sharebazar #heatmap #nasdaqfutures #nasdaqtrading #sazew #cryptoworldevolution\n\nPrediksi pasar saham untuk hari Senin\nAnalisis pasar saham untuk besok\nAnalisis grafik pasar saham hari ini\nAnalisis PSX hari ini\nTrading untuk pemula di Pakistan\nCara membeli saham di Pakistan\nPasar saham untuk pemula di Pakistan\nCara menganalisis pasar saham\nInvestasi di Pakistan\nUsaha kecil di Pakistan\nMengapa Pakistan penting bagi dunia\nCara mempelajari pergerakan harga di pasar saham\nCara menghasilkan uang di Pakistan\nAnalisis saham Mari Petroleum\nCara menganalisis perusahaan untuk investasi\nHarga pasar Pakistan hari ini\nPasar saham Pakistan hari ini\nAnalisis teknikal pasar\nTips pasar saham terbaik.\n\nPasar saham Pakistan, pasar saham Pakistan untuk pemula, pasar saham Pakistan hari ini, pembaruan pasar saham Pakistan, kursus pasar saham Pakistan, analisis pasar saham Pakistan, perdagangan pasar saham Pakistan, aplikasi pasar saham Pakistan, berita pasar saham Pakistan hari ini, berita pasar saham Pakistan\nBisnis terbaik di Pakistan\nSaham menguntungkan untuk dibeli hari ini\nPengetahuan dasar tentang pasar saham\nEkonomi Pakistan", "post_id": "iTDUWH_nViw"}}, {"key": "@BullionInvestors", "attributes": {"label": "@BullionInvestors", "x": 566.6697913825473, "y": 480.49721562296963, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "cssX7hWOuWM", "id": "@BullionInvestors", "source": "youtube-000001", "content": "EMAS $3500 ATAU $20 RIBU? Anda Hanya Punya Waktu Beberapa Hari untuk Bersiap Menghadapi Apa yang ...\n\nPembicara, Gareth Soloway, seorang pedagang pasar veteran, analis teknikal, dan Kepala Strategi Pasar di Verified Investing, percaya bahwa tren jangka panjang perak tetap bullish, tetapi memperingatkan bahwa setelah reli kuat menuju $100 perak, pasar dapat mengalami koreksi yang dalam sebagai bagian dari siklus normal. Gareth menyarankan bahwa jika level support kunci gagal, perak dapat sementara jatuh kembali ke kisaran $50 sebelum akhirnya pulih kembali. Pada saat yang sama, Peter Schiff, seorang ekonom Amerika, komentator keuangan, dan pendiri Euro Pacific Asset Management, tetap lebih optimis tentang emas, dengan alasan bahwa emas kemungkinan akan mempertahankan daya beli secara lebih efektif dalam jangka panjang. Menggunakan perbandingan historis, Peter menjelaskan bahwa sementara uang tunai terus kehilangan nilainya karena inflasi, emas berpotensi naik hingga $20.000 selama dekade berikutnya, secara signifikan meningkatkan kekayaan riil bagi pemegang jangka panjang.\n\n------------------------------------\nSumber:\n   • Japan Dumps $29.6B US Treasuries as $1.2T ...   \n \n   • GOLD Could Climb to $20,000 Over The Next ...   \n \n------------------------------------\nSelamat datang di Bullion Investors – Tempat Logam Mulia Bertemu Kekuatan!\nEmas dan perak memasuki fase kritis seiring dengan perubahan sistem keuangan global. Dalam video ini, kami menguraikan perkiraan harga emas dan prediksi harga perak untuk tahun 2026, menganalisis bagaimana ekspansi BRICS dan de-dolarisasi memengaruhi dolar AS, dan menjelaskan mengapa bank sentral secara agresif membeli emas.\nKarena inflasi, utang, dan tekanan suku bunga terus melemahkan ekonomi AS, investor beralih ke logam mulia sebagai lindung nilai yang aman. Kami juga membahas manipulasi perak COMEX, kesenjangan yang semakin besar antara emas kertas dan emas fisik, dan apa artinya bagi investor jangka panjang.\n\nAkankah dolar AS kehilangan dominasinya? Bisakah emas mencapai rekor tertinggi baru? Apakah perak masih undervalued menjelang tahun 2026? Video ini memberikan analisis makroekonomi, tren pasar, dan proyeksi harga realistis yang Anda butuhkan untuk memahami masa depan emas dan perak.\n\n📅 Video baru diunggah setiap hari – Tetap konsisten, tetap terinformasi.\n🔔 Berlangganan sekarang dan bergabunglah dengan komunitas global tempat nilai bertemu wawasan dan setiap investor dapat berpikir dan bertindak seperti seorang profesional.\n\n------------------------------------\n#garethsoloway #peterschiff #gold #goldpriceprediction #silverprice #silverpriceupdate #silverburst #silverpriceanalisis #silverprices #silverpriceforecast #silverpriceprediction #silverprice2026 #silverpricetoday #silverprediction #silveranalisis #silverstacking #preciousmetals #preciousmetalprice #preciousmetalsmarket #preciousmetalsinvestment #preciousmetalschannel #preciousmetal #preciousmetalsmarket #goldprice #goldpriceprediction #goldpricetoday #goldpricetodaypergram #goldpriceupdate#bullioninvestors\n\nMenampilkan wawasan dari para pemimpin pasar seperti:\n#AndySchectman #DavidHunter #DavidMorgan #RobertKiyosaki #GeraldCelente #PeterSchiff #AndrewMaguire #AlasdairMacLeod #RafiFarber #MarioInnecco #KitcoNews #WarrenBuffett #GarethSoloway\n------------------------------------\n👉 PENAFIAN KEUANGAN\nSaluran ini membagikan konten edukatif dan komentar ahli tentang logam mulia. Kami tidak memberikan nasihat keuangan. Selalu konsultasikan dengan penasihat berlisensi dan lakukan riset Anda sendiri sebelum membuat keputusan keuangan.\n🎥 PENAFIAN HAK CIPTA PENGGUNAAN WAJAR\nBagian 107 Undang-Undang Hak Cipta tahun 1976 mengizinkan \"penggunaan wajar\" untuk hal-hal seperti penelitian, pengajaran, beasiswa, pelaporan berita, kritik, dan komentar. Penggunaan yang mungkin melanggar hukum tetapi diizinkan berdasarkan undang-undang hak cipta dikenal sebagai penggunaan wajar. Tujuan pribadi, pendidikan, atau nirlaba memiringkan timbangan ke arah penggunaan wajar.\n\n1) Karya asli tidak terpengaruh secara negatif oleh video ini. (Bahkan, itu akan menguntungkan mereka.)\n2) Video ini juga berfungsi sebagai alat instruksional dan motivasi. (Tujuan Pembelajaran)\n3) Sifatnya tidak transformatif.\n4) Jika diperlukan, kami hanya menggunakan cuplikan singkat dari video untuk menyampaikan poin-poin kami.\n5) Untuk memperjelas, kami tidak bermaksud melanggar hak pemilik hak cipta.\n6) Hanya untuk tujuan penelitian, peninjauan, dan pembelajaran yang semuanya tercakup dalam hukum \"Penggunaan Wajar\" yang dilakukan dengan konten tersebut.\n7) Cuplikan video: perjanjian lisensi digunakan untuk semua cuplikan video.\n8) Analisis: Bagan dan grafik yang digunakan dalam video berasal dari sumber otentik seperti Tradingview, Kitco, Tradingeconomics: tidak diedit atau dibuat sendiri.\n9) Video mencakup analisis pasar yang dijelaskan menggunakan narasi yang dihasilkan AI.\n10) Perlu diingat bahwa video ini berisi pernyataan yang berorientasi ke masa depan. Ini bukan fakta sejarah, melainkan prediksi berdasarkan asumsi. Hasil aktual mungkin ...", "post_id": "cssX7hWOuWM"}}, {"key": "itmtrading", "attributes": {"label": "itmtrading", "x": 65.40038363271783, "y": 323.8199840265613, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "cssX7hWOuWM", "id": "itmtrading", "source": "youtube-000001", "content": "EMAS $3500 ATAU $20 RIBU? Anda Hanya Punya Waktu Beberapa Hari untuk Bersiap Menghadapi Apa yang ...\n\nPembicara, Gareth Soloway, seorang pedagang pasar veteran, analis teknikal, dan Kepala Strategi Pasar di Verified Investing, percaya bahwa tren jangka panjang perak tetap bullish, tetapi memperingatkan bahwa setelah reli kuat menuju $100 perak, pasar dapat mengalami koreksi yang dalam sebagai bagian dari siklus normal. Gareth menyarankan bahwa jika level support kunci gagal, perak dapat sementara jatuh kembali ke kisaran $50 sebelum akhirnya pulih kembali. Pada saat yang sama, Peter Schiff, seorang ekonom Amerika, komentator keuangan, dan pendiri Euro Pacific Asset Management, tetap lebih optimis tentang emas, dengan alasan bahwa emas kemungkinan akan mempertahankan daya beli secara lebih efektif dalam jangka panjang. Menggunakan perbandingan historis, Peter menjelaskan bahwa sementara uang tunai terus kehilangan nilainya karena inflasi, emas berpotensi naik hingga $20.000 selama dekade berikutnya, secara signifikan meningkatkan kekayaan riil bagi pemegang jangka panjang.\n\n------------------------------------\nSumber:\n   • Japan Dumps $29.6B US Treasuries as $1.2T ...   \n \n   • GOLD Could Climb to $20,000 Over The Next ...   \n \n------------------------------------\nSelamat datang di Bullion Investors – Tempat Logam Mulia Bertemu Kekuatan!\nEmas dan perak memasuki fase kritis seiring dengan perubahan sistem keuangan global. Dalam video ini, kami menguraikan perkiraan harga emas dan prediksi harga perak untuk tahun 2026, menganalisis bagaimana ekspansi BRICS dan de-dolarisasi memengaruhi dolar AS, dan menjelaskan mengapa bank sentral secara agresif membeli emas.\nKarena inflasi, utang, dan tekanan suku bunga terus melemahkan ekonomi AS, investor beralih ke logam mulia sebagai lindung nilai yang aman. Kami juga membahas manipulasi perak COMEX, kesenjangan yang semakin besar antara emas kertas dan emas fisik, dan apa artinya bagi investor jangka panjang.\n\nAkankah dolar AS kehilangan dominasinya? Bisakah emas mencapai rekor tertinggi baru? Apakah perak masih undervalued menjelang tahun 2026? Video ini memberikan analisis makroekonomi, tren pasar, dan proyeksi harga realistis yang Anda butuhkan untuk memahami masa depan emas dan perak.\n\n📅 Video baru diunggah setiap hari – Tetap konsisten, tetap terinformasi.\n🔔 Berlangganan sekarang dan bergabunglah dengan komunitas global tempat nilai bertemu wawasan dan setiap investor dapat berpikir dan bertindak seperti seorang profesional.\n\n------------------------------------\n#garethsoloway #peterschiff #gold #goldpriceprediction #silverprice #silverpriceupdate #silverburst #silverpriceanalisis #silverprices #silverpriceforecast #silverpriceprediction #silverprice2026 #silverpricetoday #silverprediction #silveranalisis #silverstacking #preciousmetals #preciousmetalprice #preciousmetalsmarket #preciousmetalsinvestment #preciousmetalschannel #preciousmetal #preciousmetalsmarket #goldprice #goldpriceprediction #goldpricetoday #goldpricetodaypergram #goldpriceupdate#bullioninvestors\n\nMenampilkan wawasan dari para pemimpin pasar seperti:\n#AndySchectman #DavidHunter #DavidMorgan #RobertKiyosaki #GeraldCelente #PeterSchiff #AndrewMaguire #AlasdairMacLeod #RafiFarber #MarioInnecco #KitcoNews #WarrenBuffett #GarethSoloway\n------------------------------------\n👉 PENAFIAN KEUANGAN\nSaluran ini membagikan konten edukatif dan komentar ahli tentang logam mulia. Kami tidak memberikan nasihat keuangan. Selalu konsultasikan dengan penasihat berlisensi dan lakukan riset Anda sendiri sebelum membuat keputusan keuangan.\n🎥 PENAFIAN HAK CIPTA PENGGUNAAN WAJAR\nBagian 107 Undang-Undang Hak Cipta tahun 1976 mengizinkan \"penggunaan wajar\" untuk hal-hal seperti penelitian, pengajaran, beasiswa, pelaporan berita, kritik, dan komentar. Penggunaan yang mungkin melanggar hukum tetapi diizinkan berdasarkan undang-undang hak cipta dikenal sebagai penggunaan wajar. Tujuan pribadi, pendidikan, atau nirlaba memiringkan timbangan ke arah penggunaan wajar.\n\n1) Karya asli tidak terpengaruh secara negatif oleh video ini. (Bahkan, itu akan menguntungkan mereka.)\n2) Video ini juga berfungsi sebagai alat instruksional dan motivasi. (Tujuan Pembelajaran)\n3) Sifatnya tidak transformatif.\n4) Jika diperlukan, kami hanya menggunakan cuplikan singkat dari video untuk menyampaikan poin-poin kami.\n5) Untuk memperjelas, kami tidak bermaksud melanggar hak pemilik hak cipta.\n6) Hanya untuk tujuan penelitian, peninjauan, dan pembelajaran yang semuanya tercakup dalam hukum \"Penggunaan Wajar\" yang dilakukan dengan konten tersebut.\n7) Cuplikan video: perjanjian lisensi digunakan untuk semua cuplikan video.\n8) Analisis: Bagan dan grafik yang digunakan dalam video berasal dari sumber otentik seperti Tradingview, Kitco, Tradingeconomics: tidak diedit atau dibuat sendiri.\n9) Video mencakup analisis pasar yang dijelaskan menggunakan narasi yang dihasilkan AI.\n10) Perlu diingat bahwa video ini berisi pernyataan yang berorientasi ke masa depan. Ini bukan fakta sejarah, melainkan prediksi berdasarkan asumsi. Hasil aktual mungkin ...", "post_id": "cssX7hWOuWM"}}, {"key": "vricmedia", "attributes": {"label": "vricmedia", "x": 717.8567317528162, "y": 191.23749465215724, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "cssX7hWOuWM", "id": "vricmedia", "source": "youtube-000001", "content": "EMAS $3500 ATAU $20 RIBU? Anda Hanya Punya Waktu Beberapa Hari untuk Bersiap Menghadapi Apa yang ...\n\nPembicara, Gareth Soloway, seorang pedagang pasar veteran, analis teknikal, dan Kepala Strategi Pasar di Verified Investing, percaya bahwa tren jangka panjang perak tetap bullish, tetapi memperingatkan bahwa setelah reli kuat menuju $100 perak, pasar dapat mengalami koreksi yang dalam sebagai bagian dari siklus normal. Gareth menyarankan bahwa jika level support kunci gagal, perak dapat sementara jatuh kembali ke kisaran $50 sebelum akhirnya pulih kembali. Pada saat yang sama, Peter Schiff, seorang ekonom Amerika, komentator keuangan, dan pendiri Euro Pacific Asset Management, tetap lebih optimis tentang emas, dengan alasan bahwa emas kemungkinan akan mempertahankan daya beli secara lebih efektif dalam jangka panjang. Menggunakan perbandingan historis, Peter menjelaskan bahwa sementara uang tunai terus kehilangan nilainya karena inflasi, emas berpotensi naik hingga $20.000 selama dekade berikutnya, secara signifikan meningkatkan kekayaan riil bagi pemegang jangka panjang.\n\n------------------------------------\nSumber:\n   • Japan Dumps $29.6B US Treasuries as $1.2T ...   \n \n   • GOLD Could Climb to $20,000 Over The Next ...   \n \n------------------------------------\nSelamat datang di Bullion Investors – Tempat Logam Mulia Bertemu Kekuatan!\nEmas dan perak memasuki fase kritis seiring dengan perubahan sistem keuangan global. Dalam video ini, kami menguraikan perkiraan harga emas dan prediksi harga perak untuk tahun 2026, menganalisis bagaimana ekspansi BRICS dan de-dolarisasi memengaruhi dolar AS, dan menjelaskan mengapa bank sentral secara agresif membeli emas.\nKarena inflasi, utang, dan tekanan suku bunga terus melemahkan ekonomi AS, investor beralih ke logam mulia sebagai lindung nilai yang aman. Kami juga membahas manipulasi perak COMEX, kesenjangan yang semakin besar antara emas kertas dan emas fisik, dan apa artinya bagi investor jangka panjang.\n\nAkankah dolar AS kehilangan dominasinya? Bisakah emas mencapai rekor tertinggi baru? Apakah perak masih undervalued menjelang tahun 2026? Video ini memberikan analisis makroekonomi, tren pasar, dan proyeksi harga realistis yang Anda butuhkan untuk memahami masa depan emas dan perak.\n\n📅 Video baru diunggah setiap hari – Tetap konsisten, tetap terinformasi.\n🔔 Berlangganan sekarang dan bergabunglah dengan komunitas global tempat nilai bertemu wawasan dan setiap investor dapat berpikir dan bertindak seperti seorang profesional.\n\n------------------------------------\n#garethsoloway #peterschiff #gold #goldpriceprediction #silverprice #silverpriceupdate #silverburst #silverpriceanalisis #silverprices #silverpriceforecast #silverpriceprediction #silverprice2026 #silverpricetoday #silverprediction #silveranalisis #silverstacking #preciousmetals #preciousmetalprice #preciousmetalsmarket #preciousmetalsinvestment #preciousmetalschannel #preciousmetal #preciousmetalsmarket #goldprice #goldpriceprediction #goldpricetoday #goldpricetodaypergram #goldpriceupdate#bullioninvestors\n\nMenampilkan wawasan dari para pemimpin pasar seperti:\n#AndySchectman #DavidHunter #DavidMorgan #RobertKiyosaki #GeraldCelente #PeterSchiff #AndrewMaguire #AlasdairMacLeod #RafiFarber #MarioInnecco #KitcoNews #WarrenBuffett #GarethSoloway\n------------------------------------\n👉 PENAFIAN KEUANGAN\nSaluran ini membagikan konten edukatif dan komentar ahli tentang logam mulia. Kami tidak memberikan nasihat keuangan. Selalu konsultasikan dengan penasihat berlisensi dan lakukan riset Anda sendiri sebelum membuat keputusan keuangan.\n🎥 PENAFIAN HAK CIPTA PENGGUNAAN WAJAR\nBagian 107 Undang-Undang Hak Cipta tahun 1976 mengizinkan \"penggunaan wajar\" untuk hal-hal seperti penelitian, pengajaran, beasiswa, pelaporan berita, kritik, dan komentar. Penggunaan yang mungkin melanggar hukum tetapi diizinkan berdasarkan undang-undang hak cipta dikenal sebagai penggunaan wajar. Tujuan pribadi, pendidikan, atau nirlaba memiringkan timbangan ke arah penggunaan wajar.\n\n1) Karya asli tidak terpengaruh secara negatif oleh video ini. (Bahkan, itu akan menguntungkan mereka.)\n2) Video ini juga berfungsi sebagai alat instruksional dan motivasi. (Tujuan Pembelajaran)\n3) Sifatnya tidak transformatif.\n4) Jika diperlukan, kami hanya menggunakan cuplikan singkat dari video untuk menyampaikan poin-poin kami.\n5) Untuk memperjelas, kami tidak bermaksud melanggar hak pemilik hak cipta.\n6) Hanya untuk tujuan penelitian, peninjauan, dan pembelajaran yang semuanya tercakup dalam hukum \"Penggunaan Wajar\" yang dilakukan dengan konten tersebut.\n7) Cuplikan video: perjanjian lisensi digunakan untuk semua cuplikan video.\n8) Analisis: Bagan dan grafik yang digunakan dalam video berasal dari sumber otentik seperti Tradingview, Kitco, Tradingeconomics: tidak diedit atau dibuat sendiri.\n9) Video mencakup analisis pasar yang dijelaskan menggunakan narasi yang dihasilkan AI.\n10) Perlu diingat bahwa video ini berisi pernyataan yang berorientasi ke masa depan. Ini bukan fakta sejarah, melainkan prediksi berdasarkan asumsi. Hasil aktual mungkin ...", "post_id": "cssX7hWOuWM"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "attributes": {"label": "@KompasTVDewata", "x": 837.0962900515101, "y": 963.7936377088715, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "AekKR7hMe8Y", "id": "@KompasTVDewata", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 dinilai bakal menekan daya beli masyarakat kelas menengah.\n\nSelain itu, konsumen Pertamax kini mulai bergeser ke Pertalite. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Lalu, apa yang harus disiapkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah agar tidak terus menurun?\n\nSimak dialognya bersama Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli.\n\n#pertamax #pertalite #bbm\nTerima kasih sudah menonton!\n\nJangan lewatkan berita dan inspirasi terkini dari Pulau Dewata. Dukung kami dengan LIKE, berikan pandangan Anda di KOMENTAR, BAGIKAN kepada kerabat Anda, dan pastikan Anda SUBSCRIBE untuk mendapatkan notifikasi video terbaru.\n\n🔔 Jangan Lupa Nyalakan Lonceng Notifikasi! 🔔\n\nKompasTV Dewata Official Channel.\nInspirasi Bali. Berita Terpercaya.\n\nTonton Kami Langsung di TV:\nSetiap hari pukul 05.30 WITA - 08.00 WITA\n\nJelajahi Konten Kami:\n\n🎥 VIDEO TERBARU:    /   \n\n✅ SUBSCRIBE SEKARANG:    /   \n\nIkuti Kami di Media Sosial:\n\nFacebook:   / kompastvdewata  \n\nInstagram:   / kompastvbalidewata", "post_id": "AekKR7hMe8Y"}}, {"key": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "kompastvdewata", "x": 886.397725606247, "y": 388.8152343495923, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.6412, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "AekKR7hMe8Y", "id": "kompastvdewata", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Kebijakan pemerintah menaikkan harga Pertamax 92 dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 dinilai bakal menekan daya beli masyarakat kelas menengah.\n\nSelain itu, konsumen Pertamax kini mulai bergeser ke Pertalite. Kondisi ini berpotensi menambah beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah. Lalu, apa yang harus disiapkan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah agar tidak terus menurun?\n\nSimak dialognya bersama Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli.\n\n#pertamax #pertalite #bbm\nTerima kasih sudah menonton!\n\nJangan lewatkan berita dan inspirasi terkini dari Pulau Dewata. Dukung kami dengan LIKE, berikan pandangan Anda di KOMENTAR, BAGIKAN kepada kerabat Anda, dan pastikan Anda SUBSCRIBE untuk mendapatkan notifikasi video terbaru.\n\n🔔 Jangan Lupa Nyalakan Lonceng Notifikasi! 🔔\n\nKompasTV Dewata Official Channel.\nInspirasi Bali. Berita Terpercaya.\n\nTonton Kami Langsung di TV:\nSetiap hari pukul 05.30 WITA - 08.00 WITA\n\nJelajahi Konten Kami:\n\n🎥 VIDEO TERBARU:    /   \n\n✅ SUBSCRIBE SEKARANG:    /   \n\nIkuti Kami di Media Sosial:\n\nFacebook:   / kompastvdewata  \n\nInstagram:   / kompastvbalidewata", "post_id": "AekKR7hMe8Y"}}, {"key": "@kompastv", "attributes": {"label": "@kompastv", "x": 245.68892769093677, "y": 274.19929367342877, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "tTYh3_AjLp8", "id": "@kompastv", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] DPR dan Ekonom Respons Harga Pertamax Naik, Jadi Tekanan Terbesar Kelas Menengah?\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Kenaikan harga Pertamax yang mencapai hampir Rp4.000 per liter diprotes para pengguna kendaraan. Sejumlah warga memutuskan kembali beralih ke Pertalite karena tingginya harga Pertamax.\n\nSejumlah mahasiswa HMI menolak kenaikan harga BBM non-subsidi di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat.\n\nAksi unjuk rasa sempat berlangsung ricuh. Massa mahasiswa terlibat saling dorong dengan polisi yang hendak membubarkan aksi tersebut.\n\nMassa menolak kenaikan harga BBM Pertamax yang dinilai terlalu mahal dan akan berimbas pada melemahnya daya beli masyarakat.\n\nAkibat kenaikan harga BBM non-subsidi, sejumlah pengendara mencari cara untuk tetap menjaga daya beli.\n\nSebagian pengendara motor yang selama ini menggunakan Pertamax memilih beralih ke Pertalite. Namun, ada pula yang memilih bertahan menggunakan Pertamax karena tidak memiliki pilihan lain.\n\nKetua Komisi XI DPR Fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun, menilai kenaikan harga Pertamax dipastikan memberikan tekanan terhadap inflasi, meski besarannya masih dalam tahap penghitungan.\n\nMisbakhun mengatakan pemerintah tengah menyiapkan skema stimulus untuk mengantisipasi dampak kenaikan tersebut.\n\nSementara itu, Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menilai kenaikan harga BBM jenis Pertamax akan sangat berdampak pada menurunnya daya beli kelompok masyarakat kelas menengah.\n\nPadahal, kelas menengah menjadi salah satu faktor penting pertumbuhan ekonomi karena menyumbang konsumsi rumah tangga terbesar.\n\nPertamina Patra Niaga menaikkan harga BBM jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter.\n\nLantas, stimulus apa yang bisa diberikan pemerintah kepada warga kelas menengah untuk menjaga daya beli?\n\nKita bahas bersama Ekonom Profesor Ferry Felatuhihin dan Anggota Komisi XII DPR Fraksi Gerindra, Ramson Siagian.\n\nContent Creator: Shinta Millenia\n\n#bbm #pertamax #pertamina #ekonomi #bbmnonsubsidi \n\nSahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV\n\nJangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.\n\nSubscribe channel youtube KompasTV serta aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV. \n\nSahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui:\n\nwebsite www.kompas.tv\n\nFacebook:   / kompastv   \n\nInstagram:   / kompastv   \n\nX: https://x.com/KompasTV\n\nThread: https://www.threads.com/ \nTikTok:   / kompastv.indonesia", "post_id": "tTYh3_AjLp8"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 37.63287876221033, "y": 711.7805121915975, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "gLDwxvICwGE", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Daya Beli Kelas Menengah Tergerus: Ancaman Nyata bagi Ekonomi Nasional\n\nKABARBURSA.COM — Kelas menengah Indonesia dinilai menghadapi tekanan yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, bunga kredit, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Data BPS mencatat jumlah kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 47 juta orang dalam lima tahun terakhir, padahal kelompok ini menyumbang lebih dari 81 persen total konsumsi nasional. Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan bahwa pelemahan daya beli kelas menengah berpotensi memicu efek domino: menekan UMKM, meningkatkan kredit bermasalah, hingga mengurangi penerimaan pajak negara. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi publik dan pembuat kebijakan bahwa stabilitas konsumsi kelas menengah adalah fondasi ketahanan ekonomi Indonesia. Jangan lewatkan analisis lengkapnya — subscribe dan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#kelasmenegah #dayabeli #ekonomiindonesia #bps #upnveteranjakarta #konsumsinasional #pertumbuhanekonomi #umkm #kreditbermasalah #kebijakan ekonomi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "gLDwxvICwGE"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 25.85343494136716, "y": 194.91426635105157, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.034, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "gLDwxvICwGE", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Daya Beli Kelas Menengah Tergerus: Ancaman Nyata bagi Ekonomi Nasional\n\nKABARBURSA.COM — Kelas menengah Indonesia dinilai menghadapi tekanan yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, bunga kredit, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Data BPS mencatat jumlah kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 47 juta orang dalam lima tahun terakhir, padahal kelompok ini menyumbang lebih dari 81 persen total konsumsi nasional. Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan bahwa pelemahan daya beli kelas menengah berpotensi memicu efek domino: menekan UMKM, meningkatkan kredit bermasalah, hingga mengurangi penerimaan pajak negara. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi publik dan pembuat kebijakan bahwa stabilitas konsumsi kelas menengah adalah fondasi ketahanan ekonomi Indonesia. Jangan lewatkan analisis lengkapnya — subscribe dan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#kelasmenegah #dayabeli #ekonomiindonesia #bps #upnveteranjakarta #konsumsinasional #pertumbuhanekonomi #umkm #kreditbermasalah #kebijakan ekonomi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "gLDwxvICwGE"}}, {"key": "@garudatv.official", "attributes": {"label": "@garudatv.official", "x": 164.60953535187505, "y": 865.363571054519, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "fkG0uCPTLtE", "id": "@garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Bahas Strategi Pertumbuhan Ekonomi RI, Sufmi Dasco Buka Suara Soal Rapat Istana Bersama DEN\n\nGarudaTV - Menatap arah kebijakan ekonomi nasional, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad tanggapi pertemuan tertutup di Istana Merdeka! 💼🇮🇩🏛️\n\nWakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, memberikan tanggapan resmi mengenai pertemuan strategis yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan ekonom senior Chatib Basri di Istana Merdeka. Rapat mendalam tersebut menjadi sorotan karena melibatkan para tokoh kunci penentu arah kebijakan dan stabilitas moneter tanah air.\n\nDalam pernyataannya, Sufmi Dasco menilai pertemuan tersebut merupakan bagian dari langkah proaktif pemerintah dalam menyerap berbagai masukan komprehensif dari para pakar lintas sektor. Fokus utama pembahasan mengarah pada perumusan strategi jangka panjang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika dan tantangan global yang tidak menentu.\n\nKehadiran jajaran dewan pakar ekonomi ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan fiskal yang adaptif, ramah investasi, sekaligus mampu memperkuat daya beli masyarakat di akar rumput. Simak pemaparan dan tanggapan lengkap dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam tayangan berikut! 👇\n\n#SufmiDascoAhmad #PresidenPrabowo #LuhutBinsarPandjaitan #ChatibBasri #DewanEkonomiNasional #EkonomiIndonesia #DPRRI #KebijakanEkonomi #IstanaMerdeka #PolitikEkonomi #GarudaTV #breakingnews \n\n\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\n🔴 Subscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \n🔴  Follow our Official TikTok   / garudatvnews  \n🔴 Like our Official Facebook   / garudatv.official  \n🔴 Follow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "fkG0uCPTLtE"}}, {"key": "garudatv.official", "attributes": {"label": "garudatv.official", "x": 285.4673231741518, "y": 633.4671587591052, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "fkG0uCPTLtE", "id": "garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Bahas Strategi Pertumbuhan Ekonomi RI, Sufmi Dasco Buka Suara Soal Rapat Istana Bersama DEN\n\nGarudaTV - Menatap arah kebijakan ekonomi nasional, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad tanggapi pertemuan tertutup di Istana Merdeka! 💼🇮🇩🏛️\n\nWakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, memberikan tanggapan resmi mengenai pertemuan strategis yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto bersama Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan ekonom senior Chatib Basri di Istana Merdeka. Rapat mendalam tersebut menjadi sorotan karena melibatkan para tokoh kunci penentu arah kebijakan dan stabilitas moneter tanah air.\n\nDalam pernyataannya, Sufmi Dasco menilai pertemuan tersebut merupakan bagian dari langkah proaktif pemerintah dalam menyerap berbagai masukan komprehensif dari para pakar lintas sektor. Fokus utama pembahasan mengarah pada perumusan strategi jangka panjang untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika dan tantangan global yang tidak menentu.\n\nKehadiran jajaran dewan pakar ekonomi ini diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan fiskal yang adaptif, ramah investasi, sekaligus mampu memperkuat daya beli masyarakat di akar rumput. Simak pemaparan dan tanggapan lengkap dari Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam tayangan berikut! 👇\n\n#SufmiDascoAhmad #PresidenPrabowo #LuhutBinsarPandjaitan #ChatibBasri #DewanEkonomiNasional #EkonomiIndonesia #DPRRI #KebijakanEkonomi #IstanaMerdeka #PolitikEkonomi #GarudaTV #breakingnews \n\n\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\n🔴 Subscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \n🔴  Follow our Official TikTok   / garudatvnews  \n🔴 Like our Official Facebook   / garudatv.official  \n🔴 Follow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "fkG0uCPTLtE"}}, {"key": "@nadlancapitalgroup", "attributes": {"label": "@nadlancapitalgroup", "x": 759.3509397400433, "y": 490.50630878205214, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.4449, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "FEyXPpx0T0o", "id": "@nadlancapitalgroup", "source": "youtube-000001", "content": "The Fed di Bawah Kevin Warsh: Apa Artinya Suku Bunga Stabil bagi Keuangan Anda\n\nApa Arti Ketua Fed Baru bagi Suku Bunga Hipotek, Kartu Kredit, dan Dompet Anda\nAda wajah baru yang memimpin Federal Reserve, dan banyak orang Amerika bertanya-tanya satu hal: Akankah ini akhirnya mengarah pada penurunan suku bunga?\nKevin Warsh mengambil peran sebagai ketua Fed pada saat ekonomi mengirimkan sinyal yang beragam. Inflasi telah mereda dari puncaknya, tetapi masih berada di atas zona nyaman Fed. Pasar kerja tetap kuat, harga energi terus meningkat, dan ketidakpastian global terus membayangi prospek.\nKarena semua itu, pasar keuangan mengharapkan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan terbarunya.\nBagi konsumen, itu berarti biaya pinjaman kemungkinan akan tetap relatif tinggi untuk saat ini.\nFederal Reserve tidak secara langsung menetapkan suku bunga hipotek, tetapi keputusannya memengaruhi seluruh sistem keuangan. Kartu kredit, pinjaman ekuitas rumah, pinjaman mobil, rekening tabungan, dan bahkan suku bunga hipotek semuanya dapat dipengaruhi oleh kebijakan Fed.\nSalah satu area yang perlu diperhatikan di bawah kepemimpinan Warsh adalah bagaimana Fed mengukur inflasi.\n\nSelain laporan inflasi tradisional, Warsh telah berbicara tentang memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang disebut ukuran inflasi \"rata-rata terpangkas\". Ukuran ini dirancang untuk menyaring fluktuasi harga yang luar biasa besar dan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tren inflasi jangka panjang.\nIdenya sederhana: jangan bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga sementara, tetapi fokuslah pada apa yang terjadi di seluruh perekonomian yang lebih luas.\nTentu saja, tidak semua orang setuju bahwa itu adalah pendekatan terbaik, dan para ekonom terus memperdebatkan ukuran inflasi mana yang memberikan gambaran paling akurat.\nBagi pembeli rumah, pertanyaan yang lebih besar adalah apa arti semua ini bagi suku bunga hipotek.\nJika suku bunga tetap tinggi, meminjam uang untuk membeli rumah bisa tetap mahal. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan pembayaran hipotek bulanan dan mengurangi daya beli, sehingga keterjangkauan menjadi tantangan bagi banyak keluarga.\nPemilik rumah dengan hipotek suku bunga variabel atau mereka yang mempertimbangkan pinjaman ekuitas rumah mungkin juga terus menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi.\nPengguna kartu kredit juga harus memperhatikan. Suku bunga kartu kredit cenderung merespons dengan cepat terhadap kebijakan Federal Reserve, yang berarti menanggung saldo bisa tetap mahal jika suku bunga tidak turun. Namun ada beberapa kabar baik.\nSuku bunga yang lebih tinggi tidak selalu buruk bagi semua orang. Penabung dapat terus memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi pada rekening tabungan, sertifikat deposito, dana pasar uang, dan investasi tunai lainnya dibandingkan beberapa tahun yang lalu.\nEkonomi itu sendiri menciptakan pengalaman yang sangat berbeda bagi rumah tangga yang berbeda.\nBeberapa keluarga dengan pendapatan stabil dan tabungan yang sehat mendapat manfaat dari imbal hasil investasi yang lebih tinggi, sementara yang lain berjuang dengan kenaikan biaya perumahan, bahan makanan, energi, dan pengeluaran sehari-hari.\nKe depan, Federal Reserve akan mengamati dengan cermat inflasi, data ketenagakerjaan, pengeluaran konsumen, dan peristiwa global sebelum mengambil langkah selanjutnya.\nJika inflasi terus membaik, penurunan suku bunga pada akhirnya mungkin terjadi. Tetapi jika harga tetap tinggi, para pembuat kebijakan mungkin memutuskan untuk mempertahankan suku bunga yang tinggi lebih lama dari yang diinginkan banyak orang.\nBagi konsumen, para ahli keuangan mengatakan strategi terbaik adalah fokus pada hal-hal yang dapat Anda kendalikan. Bangun tabungan darurat, lunasi utang berbunga tinggi, pertahankan kredit yang baik, dan cari opsi pembiayaan terbaik dengan cermat saat meminjam uang.\n\nTerima kasih telah menonton, dan tetap ikuti terus pembaruan tentang ekonomi, suku bunga hipotek, dan pasar perumahan.\n\nLanjutkan membaca di situs kami:\n\nhttps://www.forumnadlanusa.com/2026/0...\n\n#FederalReserve #SukuBunga #SukuBungaHipotek #Ekonomi #KeuanganPribadi\n\n📊 Berlangganan untuk Pembaruan Mingguan tentang Hipotek & Pasar\nKami menguraikan tren suku bunga hipotek, data inflasi, pembaruan perumahan, dan berita ekonomi yang didukung oleh angka-angka nyata.\n\n🔔 Mulai Di Sini\n📞 Panggilan Strategi Investor Gratis\n👉 https://calendly.com/contact-nadlanca...\n📝 Ajukan Permohonan — Satu Permohonan •🔍 Jika Anda ingin mendapatkan hipotek terbaik di AS untuk Warga Negara Asing dan Amerika, dan ingin menjalankan lelang antara lebih dari 3.000 pemberi pinjaman 👉https://nadlancapitalgroup.com/apply/\n\n📲 Ikuti Nadlan Capital Group\nLinkedIn:   / forum-real-estate-usa  \nInstagram:   / forumrealestateusa  \nTikTok:  \nFacebook:   / 769142779829550  \n\n⚖️ Kepatuhan\nLiorLustig, CEO Nadl...", "post_id": "FEyXPpx0T0o"}}, {"key": "nadlancapital", "attributes": {"label": "nadlancapital", "x": 223.65374239594792, "y": 724.5933587557497, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.623, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "FEyXPpx0T0o", "id": "nadlancapital", "source": "youtube-000001", "content": "The Fed di Bawah Kevin Warsh: Apa Artinya Suku Bunga Stabil bagi Keuangan Anda\n\nApa Arti Ketua Fed Baru bagi Suku Bunga Hipotek, Kartu Kredit, dan Dompet Anda\nAda wajah baru yang memimpin Federal Reserve, dan banyak orang Amerika bertanya-tanya satu hal: Akankah ini akhirnya mengarah pada penurunan suku bunga?\nKevin Warsh mengambil peran sebagai ketua Fed pada saat ekonomi mengirimkan sinyal yang beragam. Inflasi telah mereda dari puncaknya, tetapi masih berada di atas zona nyaman Fed. Pasar kerja tetap kuat, harga energi terus meningkat, dan ketidakpastian global terus membayangi prospek.\nKarena semua itu, pasar keuangan mengharapkan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan terbarunya.\nBagi konsumen, itu berarti biaya pinjaman kemungkinan akan tetap relatif tinggi untuk saat ini.\nFederal Reserve tidak secara langsung menetapkan suku bunga hipotek, tetapi keputusannya memengaruhi seluruh sistem keuangan. Kartu kredit, pinjaman ekuitas rumah, pinjaman mobil, rekening tabungan, dan bahkan suku bunga hipotek semuanya dapat dipengaruhi oleh kebijakan Fed.\nSalah satu area yang perlu diperhatikan di bawah kepemimpinan Warsh adalah bagaimana Fed mengukur inflasi.\n\nSelain laporan inflasi tradisional, Warsh telah berbicara tentang memberikan perhatian lebih pada sesuatu yang disebut ukuran inflasi \"rata-rata terpangkas\". Ukuran ini dirancang untuk menyaring fluktuasi harga yang luar biasa besar dan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tren inflasi jangka panjang.\nIdenya sederhana: jangan bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga sementara, tetapi fokuslah pada apa yang terjadi di seluruh perekonomian yang lebih luas.\nTentu saja, tidak semua orang setuju bahwa itu adalah pendekatan terbaik, dan para ekonom terus memperdebatkan ukuran inflasi mana yang memberikan gambaran paling akurat.\nBagi pembeli rumah, pertanyaan yang lebih besar adalah apa arti semua ini bagi suku bunga hipotek.\nJika suku bunga tetap tinggi, meminjam uang untuk membeli rumah bisa tetap mahal. Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan pembayaran hipotek bulanan dan mengurangi daya beli, sehingga keterjangkauan menjadi tantangan bagi banyak keluarga.\nPemilik rumah dengan hipotek suku bunga variabel atau mereka yang mempertimbangkan pinjaman ekuitas rumah mungkin juga terus menghadapi biaya pinjaman yang lebih tinggi.\nPengguna kartu kredit juga harus memperhatikan. Suku bunga kartu kredit cenderung merespons dengan cepat terhadap kebijakan Federal Reserve, yang berarti menanggung saldo bisa tetap mahal jika suku bunga tidak turun. Namun ada beberapa kabar baik.\nSuku bunga yang lebih tinggi tidak selalu buruk bagi semua orang. Penabung dapat terus memperoleh imbal hasil yang lebih tinggi pada rekening tabungan, sertifikat deposito, dana pasar uang, dan investasi tunai lainnya dibandingkan beberapa tahun yang lalu.\nEkonomi itu sendiri menciptakan pengalaman yang sangat berbeda bagi rumah tangga yang berbeda.\nBeberapa keluarga dengan pendapatan stabil dan tabungan yang sehat mendapat manfaat dari imbal hasil investasi yang lebih tinggi, sementara yang lain berjuang dengan kenaikan biaya perumahan, bahan makanan, energi, dan pengeluaran sehari-hari.\nKe depan, Federal Reserve akan mengamati dengan cermat inflasi, data ketenagakerjaan, pengeluaran konsumen, dan peristiwa global sebelum mengambil langkah selanjutnya.\nJika inflasi terus membaik, penurunan suku bunga pada akhirnya mungkin terjadi. Tetapi jika harga tetap tinggi, para pembuat kebijakan mungkin memutuskan untuk mempertahankan suku bunga yang tinggi lebih lama dari yang diinginkan banyak orang.\nBagi konsumen, para ahli keuangan mengatakan strategi terbaik adalah fokus pada hal-hal yang dapat Anda kendalikan. Bangun tabungan darurat, lunasi utang berbunga tinggi, pertahankan kredit yang baik, dan cari opsi pembiayaan terbaik dengan cermat saat meminjam uang.\n\nTerima kasih telah menonton, dan tetap ikuti terus pembaruan tentang ekonomi, suku bunga hipotek, dan pasar perumahan.\n\nLanjutkan membaca di situs kami:\n\nhttps://www.forumnadlanusa.com/2026/0...\n\n#FederalReserve #SukuBunga #SukuBungaHipotek #Ekonomi #KeuanganPribadi\n\n📊 Berlangganan untuk Pembaruan Mingguan tentang Hipotek & Pasar\nKami menguraikan tren suku bunga hipotek, data inflasi, pembaruan perumahan, dan berita ekonomi yang didukung oleh angka-angka nyata.\n\n🔔 Mulai Di Sini\n📞 Panggilan Strategi Investor Gratis\n👉 https://calendly.com/contact-nadlanca...\n📝 Ajukan Permohonan — Satu Permohonan •🔍 Jika Anda ingin mendapatkan hipotek terbaik di AS untuk Warga Negara Asing dan Amerika, dan ingin menjalankan lelang antara lebih dari 3.000 pemberi pinjaman 👉https://nadlancapitalgroup.com/apply/\n\n📲 Ikuti Nadlan Capital Group\nLinkedIn:   / forum-real-estate-usa  \nInstagram:   / forumrealestateusa  \nTikTok:  \nFacebook:   / 769142779829550  \n\n⚖️ Kepatuhan\nLiorLustig, CEO Nadl...", "post_id": "FEyXPpx0T0o"}}], "edges": [{"key": "arifin34533", "source": "arifin34533", "target": "hansssolo", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "arifin34533", "source": "arifin34533", "target": "hansssolo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Focus_Learningg", "source": "Focus_Learningg", "target": "tsetiady", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Focus_Learningg", "source": "Focus_Learningg", "target": "Saham_fess", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "abulmuzaffar10", "source": "abulmuzaffar10", "target": "hanifproduktif", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Fri_beyou6", "source": "Fri_beyou6", "target": "ramzanrachmat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Fri_beyou6", "source": "Fri_beyou6", "target": "erlanishere", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "kompastv", "source": "kompastv", "target": "adisty.larasati", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "kompastv", "source": "kompastv", "target": "eddy_soeparno", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "kompastv", "source": "kompastv", "target": "mediaaskar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "frisca_clarissa", "source": "frisca_clarissa", "target": "KompasTV", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "indonesiago.id", "source": "indonesiago.id", "target": "chatibbasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bemfisipuns", "source": "bemfisipuns", "target": "bemfisipuns", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bemfisipuns", "source": "bemfisipuns", "target": "bemfisipuns", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bemfisipuns", "source": "bemfisipuns", "target": "bemfisipuns", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bemfisipuns", "source": "bemfisipuns", "target": "bemfisip_uns", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idx_channel", "source": "idx_channel", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "inilah_com", "source": "inilah_com", "target": "dillahantika", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "abi.dzar_alghifary", "source": "abi.dzar_alghifary", "target": "voxtrenid", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "sudut_aceh", "source": "sudut_aceh", "target": "sudut_aceh", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "inilahcom", "source": "inilahcom", "target": "dillahantika", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "ceefem", "source": "ceefem", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "clipss.capital", "source": "clipss.capital", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "clipss.capital", "source": "clipss.capital", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "superclips.id02", "source": "superclips.id02", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "graham_di_caprio", "source": "graham_di_caprio", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "inilahcom", "source": "inilahcom", "target": "dillahantika", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "mindsetgrowthastronacci", "source": "mindsetgrowthastronacci", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "mindsetgrowthastronacci", "source": "mindsetgrowthastronacci", "target": "konten.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "noel_samo.ht", "source": "noel_samo.ht", "target": "irwandiferry", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "IDXChannelcom", "source": "IDXChannelcom", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@officialokezone", "source": "@officialokezone", "target": "officialokezone", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@inilah_com", "source": "@inilah_com", "target": "dillahantika", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@inilah_com", "source": "@inilah_com", "target": "inilah_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ResearchNewsAndAnalysis", "source": "@ResearchNewsAndAnalysis", "target": "ResearchNewsAndA...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@realtordotcom", "source": "@realtordotcom", "target": "realtordotcomecon", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@realtordotcom", "source": "@realtordotcom", "target": "realtordotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ElliottWaveOptions", "source": "@ElliottWaveOptions", "target": "hubb_financial", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KamalTalks79", "source": "@KamalTalks79", "target": "kamaltalks79", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BullionInvestors", "source": "@BullionInvestors", "target": "itmtrading", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BullionInvestors", "source": "@BullionInvestors", "target": "vricmedia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@garudatv.official", "source": "@garudatv.official", "target": "garudatv.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@nadlancapitalgroup", "source": "@nadlancapitalgroup", "target": "nadlancapital", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}