{"nodes": [{"key": "akutemaram", "attributes": {"label": "akutemaram", "x": 38.02773348499322, "y": 733.4660215202041, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2061034716548239757", "id": "akutemaram", "source": "tweet-000004", "content": "Saya pilih Ngontrak walau berat tapi dosa riba lebih berat. \n\nUntuk memastikan KPR bebas riba, bisa memanfaatkan program KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang disalurkan melalui perbankan syariah (seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) atau BTN Syariah).", "post_id": "2061034716548239757"}}, {"key": "choiisanf", "attributes": {"label": "choiisanf", "x": 913.47179309618, "y": 79.07811324272839, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2061034716548239757", "id": "choiisanf", "source": "tweet-000004", "content": "Saya pilih Ngontrak walau berat tapi dosa riba lebih berat. \n\nUntuk memastikan KPR bebas riba, bisa memanfaatkan program KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang disalurkan melalui perbankan syariah (seperti Bank Syariah Indonesia (BSI) atau BTN Syariah).", "post_id": "2061034716548239757"}}, {"key": "reformasi.co.id", "attributes": {"label": "reformasi.co.id", "x": 220.8977896893146, "y": 424.90023332362637, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7550565660712078597", "id": "reformasi.co.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah menempatkan dana negara sebesar Rp200 triliun dalam bentuk deposito di lima bank pelat merah tanpa memberikan arahan khusus terkait penyalurannya. Kebijakan ini, menurutnya, dimaksudkan agar para direktur utama bank terdorong mencari peluang investasi yang produktif. “Para direktur bank itu orang-orang pintar. Selama ini mereka malas saja dan cenderung bermain aman, hanya menaruh dana di tempat yang minim risiko tapi tetap menghasilkan keuntungan besar. Dengan adanya dana Rp200 triliun ini, mereka dipaksa berpikir lebih jauh,” ujar Purbaya usai rapat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kantor DJP, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Ia menambahkan, mekanisme berbasis pasar (market based) akan membuat bank-bank tersebut berlomba mencari proyek yang memberikan imbal hasil tinggi sekaligus aman. Dampaknya, lanjut Purbaya, akan terlihat pada sisi permintaan dan penawaran di pasar keuangan. Dengan likuiditas yang meningkat, suku bunga pinjaman diharapkan menurun, sehingga masyarakat lebih berani mengajukan kredit. “Jika permintaan dan penawaran tumbuh bersamaan tanpa menimbulkan overheating, maka injeksi dana ini akan menggerakkan perekonomian,” kata Purbaya. Menurut dia, skema deposito tersebut pada dasarnya merupakan instrumen kebijakan moneter. Pemerintah tetap memperoleh bunga dari penempatan dana itu, sehingga bank tidak bisa membiarkannya mengendap tanpa dimanfaatkan. “Saya paksa sistem bekerja. Kalau dana ini tidak dipakai, bank tetap harus membayar bunga kepada pemerintah,” tegasnya. Kebijakan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 276 Tahun 2025 mengenai penempatan uang negara untuk mendukung program pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Imbal hasil yang diberikan ditetapkan sebesar 80,476 persen dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Dengan BI rate berada di level 5 persen, pemerintah akan memperoleh bunga sekitar 4 persen dari dana deposito tersebut. Lima bank penerima dana pemerintah adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Rinciannya, BRI, BNI, dan Mandiri masing-masing menerima Rp55 triliun, BTN memperoleh Rp25 triliun, sedangkan BSI mendapatkan Rp10 triliun.", "post_id": "7550565660712078597"}}, {"key": "viamedianetwork", "attributes": {"label": "viamedianetwork", "x": 902.6911406414113, "y": 158.1272443885906, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7550565660712078597", "id": "viamedianetwork", "source": "tiktok-000001", "content": "Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah menempatkan dana negara sebesar Rp200 triliun dalam bentuk deposito di lima bank pelat merah tanpa memberikan arahan khusus terkait penyalurannya. Kebijakan ini, menurutnya, dimaksudkan agar para direktur utama bank terdorong mencari peluang investasi yang produktif. “Para direktur bank itu orang-orang pintar. Selama ini mereka malas saja dan cenderung bermain aman, hanya menaruh dana di tempat yang minim risiko tapi tetap menghasilkan keuntungan besar. Dengan adanya dana Rp200 triliun ini, mereka dipaksa berpikir lebih jauh,” ujar Purbaya usai rapat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kantor DJP, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025). Ia menambahkan, mekanisme berbasis pasar (market based) akan membuat bank-bank tersebut berlomba mencari proyek yang memberikan imbal hasil tinggi sekaligus aman. Dampaknya, lanjut Purbaya, akan terlihat pada sisi permintaan dan penawaran di pasar keuangan. Dengan likuiditas yang meningkat, suku bunga pinjaman diharapkan menurun, sehingga masyarakat lebih berani mengajukan kredit. “Jika permintaan dan penawaran tumbuh bersamaan tanpa menimbulkan overheating, maka injeksi dana ini akan menggerakkan perekonomian,” kata Purbaya. Menurut dia, skema deposito tersebut pada dasarnya merupakan instrumen kebijakan moneter. Pemerintah tetap memperoleh bunga dari penempatan dana itu, sehingga bank tidak bisa membiarkannya mengendap tanpa dimanfaatkan. “Saya paksa sistem bekerja. Kalau dana ini tidak dipakai, bank tetap harus membayar bunga kepada pemerintah,” tegasnya. Kebijakan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 276 Tahun 2025 mengenai penempatan uang negara untuk mendukung program pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Imbal hasil yang diberikan ditetapkan sebesar 80,476 persen dari suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Dengan BI rate berada di level 5 persen, pemerintah akan memperoleh bunga sekitar 4 persen dari dana deposito tersebut. Lima bank penerima dana pemerintah adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Rinciannya, BRI, BNI, dan Mandiri masing-masing menerima Rp55 triliun, BTN memperoleh Rp25 triliun, sedangkan BSI mendapatkan Rp10 triliun.", "post_id": "7550565660712078597"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 857.0757242071555, "y": 281.6475170727478, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 116.959, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "PBTIgs5lTTw", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "Asing Bilang\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! Di tengah layar portofolio yang memerah dan kepanikan pasar akhir-akhir ini, apakah Indonesia benar-benar sedang menuju jurang resesi? Atau, jangan-jangan kita sedang dipermainkan oleh ilusi narasi dan rekayasa likuiditas kelas wahid?\n\n00:06 Anatomi Propaganda #SellIndonesia\n07:36 Bukan Resesi, Hanya Krisis Kepercayaan\n17:27 Mengapa Fundamental Indonesia Mustahil Tumbang\n24:46 Mengapa Bertahan di Indonesia Adalah Pilihan Tepat\n\nBelakangan ini, media finansial global kompak menyuarakan narasi #SellIndonesia seiring dengan derasnya arus dana asing yang keluar dari bursa saham domestik. Namun, jangan terburu-buru panik! Di liga institusi raksasa, berita hanyalah lagging indicator yang memotret aksi jual yang sebenarnya sudah selesai terjadi. Narasi makro yang menakutkan ini sengaja diamplifikasi untuk menciptakan \"rekayasa likuiditas\". Tujuannya? Memicu kepanikan ritel agar melakukan cut loss berjamaah, sehingga institusi asing bisa menyerap kembali saham-saham blue chip berfundamental bagus di harga diskon yang sangat murah. Saham perbankan raksasa dan energi sering menjadi korban salah harga (mispricing) ini, padahal mereka terus mencetak rekor laba.\n\nSecara makroekonomi, fakta datanya tak terbantahkan: Indonesia tidak sedang mengalami krisis, apalagi resesi. Fundamental ekonomi kita sangat tangguh dengan pertumbuhan PDB stabil di atas 5%, yang kebal sentimen eksternal karena lebih dari 50% ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Laju inflasi kita juga sangat jinak di bawah 3%, membuktikan keberhasilan koordinasi otoritas fiskal dan moneter. Jika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi, itu bukanlah sinyal kepanikan, melainkan manuver pertahanan presisi untuk melindungi nilai tukar Rupiah dari imported inflation.\n\nLantas, apa yang membuat publik pesimis? Yang terjadi saat ini murni adalah Krisis Kepercayaan (Crisis of Confidence), bukan krisis ekonomi riil. Krisis ini berakar dari trauma masa lalu atas inefisiensi program raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kawasan Daulat Pangan Maju (KDMP). Diperparah lagi, kebijakan strategis seperti Ekspor 1 Pintu disambut dengan skeptisisme tinggi dan manipulasi sentimen yang hiperbolis. Penolakan masif ini nyatanya sering ditunggangi oleh barisan pencari rente (rent-seekers) dan calo birokrasi yang merasa \"ladang\" keuntungannya terancam hilang. Solusi tunggal untuk meredam ini hanyalah lewat transparansi absolut melalui audit digital dan pengawasan terbuka dari pemerintah.\n\nBagi pemikir rasional di Wawasan Cerdas, bertahan di Indonesia adalah keputusan investasi yang paling masuk akal. Rasa frustrasi terhadap birokrasi dan volatilitas pasar sejatinya hanyalah \"biaya sewa\" atau risk premium yang lumrah di negara berkembang yang sedang bertransisi. Jangan lupakan nilai intrinsik tanah air ini, tempat di mana karier dan finansial kita bertumbuh dari resiliensi perputaran ekonomi lokal. Mari kita ubah mindset investasi kita menjadi tesis lintas generasi. Kita bertahan dan membangun hari ini sebagai bentuk altruisme rasional—sebuah kepuasan batin agar generasi masa depan mewarisi ekosistem negara yang efisien, kuat, dan bermartabat.\n\nKekayaan tidak diciptakan dengan mengikuti tajuk berita yang menakutkan, melainkan dengan membeli ketakutan orang lain di harga diskon paling rasional.\n\n💡 Dukung terus literasi finansial yang cerdas dan objektif! Jangan lupa tekan tombol LIKE, berikan pendapat Anda di kolom KOMENTAR, dan SUBSCRIBE channel Wawasan Cerdas agar tidak ketinggalan analisis mendalam lainnya. Bagikan video ini ke teman dan keluarga agar mereka tidak ikut terjebak kepanikan pasar!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #EkonomiIndonesia #InvestasiSaham #ResesiEkonomi #SellIndonesia #IHSG #SahamPemula #LiterasiKeuangan #KrisisKepercayaan #PDBIndonesia #MakroEkonomi #StrategiInvestasi #KrisisEkonomi #PeluangSaham #InvestorRasional #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "PBTIgs5lTTw"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 273.4894139761662, "y": 658.3075332345659, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 216.3743, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "PBTIgs5lTTw", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "Asing Bilang\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! Di tengah layar portofolio yang memerah dan kepanikan pasar akhir-akhir ini, apakah Indonesia benar-benar sedang menuju jurang resesi? Atau, jangan-jangan kita sedang dipermainkan oleh ilusi narasi dan rekayasa likuiditas kelas wahid?\n\n00:06 Anatomi Propaganda #SellIndonesia\n07:36 Bukan Resesi, Hanya Krisis Kepercayaan\n17:27 Mengapa Fundamental Indonesia Mustahil Tumbang\n24:46 Mengapa Bertahan di Indonesia Adalah Pilihan Tepat\n\nBelakangan ini, media finansial global kompak menyuarakan narasi #SellIndonesia seiring dengan derasnya arus dana asing yang keluar dari bursa saham domestik. Namun, jangan terburu-buru panik! Di liga institusi raksasa, berita hanyalah lagging indicator yang memotret aksi jual yang sebenarnya sudah selesai terjadi. Narasi makro yang menakutkan ini sengaja diamplifikasi untuk menciptakan \"rekayasa likuiditas\". Tujuannya? Memicu kepanikan ritel agar melakukan cut loss berjamaah, sehingga institusi asing bisa menyerap kembali saham-saham blue chip berfundamental bagus di harga diskon yang sangat murah. Saham perbankan raksasa dan energi sering menjadi korban salah harga (mispricing) ini, padahal mereka terus mencetak rekor laba.\n\nSecara makroekonomi, fakta datanya tak terbantahkan: Indonesia tidak sedang mengalami krisis, apalagi resesi. Fundamental ekonomi kita sangat tangguh dengan pertumbuhan PDB stabil di atas 5%, yang kebal sentimen eksternal karena lebih dari 50% ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Laju inflasi kita juga sangat jinak di bawah 3%, membuktikan keberhasilan koordinasi otoritas fiskal dan moneter. Jika Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi, itu bukanlah sinyal kepanikan, melainkan manuver pertahanan presisi untuk melindungi nilai tukar Rupiah dari imported inflation.\n\nLantas, apa yang membuat publik pesimis? Yang terjadi saat ini murni adalah Krisis Kepercayaan (Crisis of Confidence), bukan krisis ekonomi riil. Krisis ini berakar dari trauma masa lalu atas inefisiensi program raksasa seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kawasan Daulat Pangan Maju (KDMP). Diperparah lagi, kebijakan strategis seperti Ekspor 1 Pintu disambut dengan skeptisisme tinggi dan manipulasi sentimen yang hiperbolis. Penolakan masif ini nyatanya sering ditunggangi oleh barisan pencari rente (rent-seekers) dan calo birokrasi yang merasa \"ladang\" keuntungannya terancam hilang. Solusi tunggal untuk meredam ini hanyalah lewat transparansi absolut melalui audit digital dan pengawasan terbuka dari pemerintah.\n\nBagi pemikir rasional di Wawasan Cerdas, bertahan di Indonesia adalah keputusan investasi yang paling masuk akal. Rasa frustrasi terhadap birokrasi dan volatilitas pasar sejatinya hanyalah \"biaya sewa\" atau risk premium yang lumrah di negara berkembang yang sedang bertransisi. Jangan lupakan nilai intrinsik tanah air ini, tempat di mana karier dan finansial kita bertumbuh dari resiliensi perputaran ekonomi lokal. Mari kita ubah mindset investasi kita menjadi tesis lintas generasi. Kita bertahan dan membangun hari ini sebagai bentuk altruisme rasional—sebuah kepuasan batin agar generasi masa depan mewarisi ekosistem negara yang efisien, kuat, dan bermartabat.\n\nKekayaan tidak diciptakan dengan mengikuti tajuk berita yang menakutkan, melainkan dengan membeli ketakutan orang lain di harga diskon paling rasional.\n\n💡 Dukung terus literasi finansial yang cerdas dan objektif! Jangan lupa tekan tombol LIKE, berikan pendapat Anda di kolom KOMENTAR, dan SUBSCRIBE channel Wawasan Cerdas agar tidak ketinggalan analisis mendalam lainnya. Bagikan video ini ke teman dan keluarga agar mereka tidak ikut terjebak kepanikan pasar!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #EkonomiIndonesia #InvestasiSaham #ResesiEkonomi #SellIndonesia #IHSG #SahamPemula #LiterasiKeuangan #KrisisKepercayaan #PDBIndonesia #MakroEkonomi #StrategiInvestasi #KrisisEkonomi #PeluangSaham #InvestorRasional #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "PBTIgs5lTTw"}}], "edges": [{"key": "akutemaram", "source": "akutemaram", "target": "choiisanf", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "reformasi.co.id", "source": "reformasi.co.id", "target": "viamedianetwork", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}