{"nodes": [{"key": "andi_achilles", "attributes": {"label": "andi_achilles", "x": 497.92459770879236, "y": 323.4329390008817, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2069688178077020310", "id": "andi_achilles", "source": "retweet-000002", "content": "Suku bunga BI rate naik tapi IHSG dan rupiah tetap ambruk dan melemah. Bukan malah menjaga stabilitas rupiah mala…", "post_id": "2069688178077020310"}}, {"key": "Maikel_USMC", "attributes": {"label": "Maikel_USMC", "x": 42.608137394383405, "y": 769.9262926709275, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 12.9428, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 1, "degree": 3}, "_id": "2069688178077020310", "id": "Maikel_USMC", "source": "retweet-000002", "content": "Suku bunga BI rate naik tapi IHSG dan rupiah tetap ambruk dan melemah. Bukan malah menjaga stabilitas rupiah mala…", "post_id": "2069688178077020310"}}, {"key": "TirtoID", "attributes": {"label": "TirtoID", "x": 130.19059862864034, "y": 54.35607104149109, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 23.9442, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2069688178077020310", "id": "TirtoID", "source": "retweet-000002", "content": "Suku bunga BI rate naik tapi IHSG dan rupiah tetap ambruk dan melemah. Bukan malah menjaga stabilitas rupiah mala…", "post_id": "2069688178077020310"}}, {"key": "Kertaaslusuh", "attributes": {"label": "Kertaaslusuh", "x": 224.92430967978737, "y": 815.4777682356485, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2065870589659893807", "id": "Kertaaslusuh", "source": "tweet-000004", "content": "BI juga naikin suku bunga kok, supaya jaga stabilitas rupiah biar ga kena inflasi.", "post_id": "2065870589659893807"}}, {"key": "KapudS640", "attributes": {"label": "KapudS640", "x": 863.6744052112966, "y": 264.5882376572122, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2065870589659893807", "id": "KapudS640", "source": "tweet-000004", "content": "BI juga naikin suku bunga kok, supaya jaga stabilitas rupiah biar ga kena inflasi.", "post_id": "2065870589659893807"}}, {"key": "potatomax_", "attributes": {"label": "potatomax_", "x": 687.6910099349006, "y": 473.04353462552206, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068641602151883006", "id": "potatomax_", "source": "tweet-000004", "content": "prabowo minta himbara jgn naikin bunga kredit katanya beban rakyat. pdhal BI naikin suku bunga acuan 100bps dlm sebulan. stabilitas rupiah penting tp ongkosnya jgn ditimpain ke kelas menengah mulu.", "post_id": "2068641602151883006"}}, {"key": "direktoridosen", "attributes": {"label": "direktoridosen", "x": 448.56934595986064, "y": 40.32253042247946, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068641602151883006", "id": "direktoridosen", "source": "tweet-000004", "content": "prabowo minta himbara jgn naikin bunga kredit katanya beban rakyat. pdhal BI naikin suku bunga acuan 100bps dlm sebulan. stabilitas rupiah penting tp ongkosnya jgn ditimpain ke kelas menengah mulu.", "post_id": "2068641602151883006"}}, {"key": "1M_pertama", "attributes": {"label": "1M_pertama", "x": 852.4143537943669, "y": 412.2123982730142, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2065713933051441156", "id": "1M_pertama", "source": "tweet-000004", "content": "Menkeu pegang fiskal: APBN, pajak, belanja negara.\nBI pegang moneter: suku bunga, inflasi, stabilitas rupiah.\n\nDua-duanya harus sinkron. Kalau malah tarik-tarikan, pasar baca sinyalnya: arah ekonomi belum solid.\n\nYang bahaya bukan cuma siapa diganti, tapi gimana eksekusinya. Kalo", "post_id": "2065713933051441156"}}, {"key": "tempodotco", "attributes": {"label": "tempodotco", "x": 593.7042433805974, "y": 709.8501092241064, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2065713933051441156", "id": "tempodotco", "source": "tweet-000004", "content": "Menkeu pegang fiskal: APBN, pajak, belanja negara.\nBI pegang moneter: suku bunga, inflasi, stabilitas rupiah.\n\nDua-duanya harus sinkron. Kalau malah tarik-tarikan, pasar baca sinyalnya: arah ekonomi belum solid.\n\nYang bahaya bukan cuma siapa diganti, tapi gimana eksekusinya. Kalo", "post_id": "2065713933051441156"}}, {"key": "NusBhisma", "attributes": {"label": "NusBhisma", "x": 472.08264128822884, "y": 959.5259402307287, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2065741193523458183", "id": "NusBhisma", "source": "tweet-000004", "content": "Kenaikan BI-Rate ke 5,5% memberikan tekanan riil jangka pendek pada UMKM melalui kenaikan biaya pinjaman, perlambatan ekspansi, dan penurunan daya beli konsumen, meski stabilitas rupiah dan inflasi yang terjaga dapat menjadi penyeimbang jika didukung program stimulus pemerintah.", "post_id": "2065741193523458183"}}, {"key": "akuntandigital", "attributes": {"label": "akuntandigital", "x": 610.4829482158455, "y": 537.9813338596831, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.3715, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2065741193523458183", "id": "akuntandigital", "source": "tweet-000004", "content": "Kenaikan BI-Rate ke 5,5% memberikan tekanan riil jangka pendek pada UMKM melalui kenaikan biaya pinjaman, perlambatan ekspansi, dan penurunan daya beli konsumen, meski stabilitas rupiah dan inflasi yang terjaga dapat menjadi penyeimbang jika didukung program stimulus pemerintah.", "post_id": "2065741193523458183"}}, {"key": "anneserlo", "attributes": {"label": "anneserlo", "x": 985.0791327591853, "y": 113.47171844171733, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.3715, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2065741193523458183", "id": "anneserlo", "source": "tweet-000004", "content": "Kenaikan BI-Rate ke 5,5% memberikan tekanan riil jangka pendek pada UMKM melalui kenaikan biaya pinjaman, perlambatan ekspansi, dan penurunan daya beli konsumen, meski stabilitas rupiah dan inflasi yang terjaga dapat menjadi penyeimbang jika didukung program stimulus pemerintah.", "post_id": "2065741193523458183"}}, {"key": "satria_ris8", "attributes": {"label": "satria_ris8", "x": 627.2811115681923, "y": 385.7863345497696, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2055040297357476054", "id": "satria_ris8", "source": "tweet-000004", "content": "Secara makroekonomi, stabilitas Rupiah saat ini dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global, tidak bisa diselesaikan secara instan hanya dengan menurunkan harga komoditas domestik.", "post_id": "2055040297357476054"}}, {"key": "zakiberkata", "attributes": {"label": "zakiberkata", "x": 723.9685406506757, "y": 118.7443109461298, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2055040297357476054", "id": "zakiberkata", "source": "tweet-000004", "content": "Secara makroekonomi, stabilitas Rupiah saat ini dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga The Fed dan ketidakpastian geopolitik global, tidak bisa diselesaikan secara instan hanya dengan menurunkan harga komoditas domestik.", "post_id": "2055040297357476054"}}, {"key": "palipurlarade", "attributes": {"label": "palipurlarade", "x": 211.150315143812, "y": 636.0856179270539, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2064320885209842171", "id": "palipurlarade", "source": "tweet-000004", "content": "Kalau benar ini, berarti BI sedang menunjukkan bahwa stabilitas rupiah sekarang jadi prioritas utama, sampai rela melakukan kenaikan suku bunga di luar jadwal normal menjadi 5,50% untuk menahan tekanan pada nilai tukar dan menjaga inflasi tetap terkendali.", "post_id": "2064320885209842171"}}, {"key": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "BigAlphaID", "x": 524.2201970249419, "y": 156.68344031149982, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.9428, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2064320885209842171", "id": "BigAlphaID", "source": "tweet-000004", "content": "Kalau benar ini, berarti BI sedang menunjukkan bahwa stabilitas rupiah sekarang jadi prioritas utama, sampai rela melakukan kenaikan suku bunga di luar jadwal normal menjadi 5,50% untuk menahan tekanan pada nilai tukar dan menjaga inflasi tetap terkendali.", "post_id": "2064320885209842171"}}, {"key": "hanifproduktif", "attributes": {"label": "hanifproduktif", "x": 961.4233305857925, "y": 694.9535085458308, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.9428, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064324056921326054", "id": "hanifproduktif", "source": "tweet-000004", "content": "Ringkasnya, kenaikan suku bunga BI adalah trade-off: BI mencoba menukar sedikit pertumbuhan ekonomi hari ini dengan stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar yang lebih baik, sehingga pihak yang bergantung pada kredit cenderung dirugikan sementara pihak yang menyimpan dana atau", "post_id": "2064324056921326054"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "attributes": {"label": "Bocil_kriptoo", "x": 358.45338652050583, "y": 382.0594263924769, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "2060683605207343260", "id": "Bocil_kriptoo", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 311.6408416206483, "y": 245.1118453101173, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 15.8003, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2060683605207343260", "id": "bank_indonesia", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "Bornu15", "attributes": {"label": "Bornu15", "x": 136.01908592989963, "y": 351.2231321579332, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2060683605207343260", "id": "Bornu15", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "Junazxx_", "attributes": {"label": "Junazxx_", "x": 697.6160528884255, "y": 580.6201394919367, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2060683605207343260", "id": "Junazxx_", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "sudhsnz", "attributes": {"label": "sudhsnz", "x": 200.80562060669317, "y": 172.73689946281735, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2060683605207343260", "id": "sudhsnz", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "0xkaizora", "attributes": {"label": "0xkaizora", "x": 395.96601796048003, "y": 150.03909774646317, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2060683605207343260", "id": "0xkaizora", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "butterflsies", "attributes": {"label": "butterflsies", "x": 962.870344245944, "y": 700.5583715788902, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2060683605207343260", "id": "butterflsies", "source": "tweet-000004", "content": "5,25% dong!\nDari 4,75% (Oktober 2025) dinaikkan 50 basis poin di RDG Mei 2026.\nSemoga kenaikan ini efektif jaga stabilitas Rupiah dan inflasi. Gaspol BI! \n#BIskuit", "post_id": "2060683605207343260"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "bloombergtechnoz", "x": 840.5684331429879, "y": 726.8014346355068, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 17.5396, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3915500707085036099_51748745734", "id": "bloombergtechnoz", "source": "instagram-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) di luar jadwal RDG bulanan pada 9 Juni 2026. \n\nKeputusan dilakukan untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah gejolak pasar, menjaga inflasi, serta meningkatkan daya tarik modal asing ke Indonesia. Rupiah bergerak usai keputusan mengejutkan tersebut, naik 0,48% menjadi Rp18.090/US$ hingga pukul 12:48 WIB.\n\nKlik link di bio untuk detail informasi selengkapnya. Jangan lupa follow  untuk berita dan data menarik lainnya.\n\n#bankindonesia #sukubunga #birate #bloombergtechnoz", "post_id": "3915500707085036099_51748745734"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 819.8103113983448, "y": 510.8947590657016, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 20.0801, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 13, "out_degree": 12, "degree": 25}, "_id": "3922308635460680294_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "Bank Indonesia kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada RDG 18 Juni 2026. Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,75%, sementara Lending Facility menjadi 6,25%.\n\nLangkah ini diambil untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global, mengendalikan inflasi agar tetap di kisaran 2,5±1%, serta meningkatkan daya tarik aset domestik. Hingga 18 Juni 2026, rupiah tercatat melemah 6,61% secara year-to-date ke level Rp17.873 per dolar AS. 💵\n\nSumber: katadata.co.id, 18 Juni 2026\n\nGabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp). 🚀\n\n#BIRate #BankIndonesia #Rupiah #SukuBunga #TheFed #Inflasi #EkonomiIndonesia #PasarModal #mancingsaham", "post_id": "3922308635460680294_52512310886"}}, {"key": "ahquote", "attributes": {"label": "ahquote", "x": 384.07155533480676, "y": 777.6347848609735, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3916418351535176636_39518500122", "id": "ahquote", "source": "instagram-000001", "content": "Di 10 beberapa hari terakhir, berbagai kebijakan dan perkembangan ekonomi di Indonesia menjadi perhatian publik. Mulai dari pengesahan revisi UU Polri, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, hingga kekhawatiran terkait kondisi keuangan BPJS Kesehatan. Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga BBM nonsubsidi serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Gimana menurut kalian?🤔\n\n[📸: ]", "post_id": "3916418351535176636_39518500122"}}, {"key": "alivikry", "attributes": {"label": "alivikry", "x": 106.18138505152818, "y": 249.59203699594713, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916418351535176636_39518500122", "id": "alivikry", "source": "instagram-000001", "content": "Di 10 beberapa hari terakhir, berbagai kebijakan dan perkembangan ekonomi di Indonesia menjadi perhatian publik. Mulai dari pengesahan revisi UU Polri, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah, hingga kekhawatiran terkait kondisi keuangan BPJS Kesehatan. Di saat yang sama, masyarakat juga menghadapi kenaikan harga BBM nonsubsidi serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Gimana menurut kalian?🤔\n\n[📸: ]", "post_id": "3916418351535176636_39518500122"}}, {"key": "infotibanjaran.id", "attributes": {"label": "infotibanjaran.id", "x": 570.0017161977262, "y": 116.09788446780078, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3922805836196036079_45016844333", "id": "infotibanjaran.id", "source": "instagram-000001", "content": "Suku bunga acuan atau rate kembali menyita perhatian publik seiring langkah Bank Indonesia (BI) menaikkannya di tengah tren pelemahan rupiah, ketidakpastian ekonomi global, dan upaya menjaga stabilitas nasional\n\nPada Selasa (9/6/2026), BI rate naik sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Pada saat yang sama, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50% dan suku bunga lending facility meningkat 25 basis poin menjadi 6,25%.\n\nBank Indonesia menjelaskan kebijakan tersebut merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.\n\nSelain itu, kebijakan ini juga bersifat preemptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1%.\n\nKenaikan suku bunga juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil aset keuangan domestik sehingga dapat menarik kembali aliran investasi portofolio asing ke Indonesia.\n\nLangkah tersebut dilakukan hanya beberapa minggu setelah Bank Indonesia sebelumnya menaikkan rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026.\n\nKebijakan yang relatif agresif ini menunjukkan keseriusan bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah yang mengalami tekanan cukup besar sepanjang tahun berjalan.\n\nKenaikan BI rate selalu berimbas pada dompet masyarakat, mulai dari membengkaknya tagihan cicilan kredit dan bunga kredit pemilikan rumah (KPR), hingga potensi kenaikan bunga deposito. Perubahan-perubahan ini secara akumulatif langsung memengaruhi stabilitas kondisi keuangan rumah tangga.\n-", "post_id": "3922805836196036079_45016844333"}}, {"key": "voktis.id", "attributes": {"label": "voktis.id", "x": 955.4508762038946, "y": 537.1902174286456, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3922805836196036079_45016844333", "id": "voktis.id", "source": "instagram-000001", "content": "Suku bunga acuan atau rate kembali menyita perhatian publik seiring langkah Bank Indonesia (BI) menaikkannya di tengah tren pelemahan rupiah, ketidakpastian ekonomi global, dan upaya menjaga stabilitas nasional\n\nPada Selasa (9/6/2026), BI rate naik sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Pada saat yang sama, suku bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 4,50% dan suku bunga lending facility meningkat 25 basis poin menjadi 6,25%.\n\nBank Indonesia menjelaskan kebijakan tersebut merupakan langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global akibat konflik di Timur Tengah.\n\nSelain itu, kebijakan ini juga bersifat preemptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1%.\n\nKenaikan suku bunga juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil aset keuangan domestik sehingga dapat menarik kembali aliran investasi portofolio asing ke Indonesia.\n\nLangkah tersebut dilakukan hanya beberapa minggu setelah Bank Indonesia sebelumnya menaikkan rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% pada Mei 2026.\n\nKebijakan yang relatif agresif ini menunjukkan keseriusan bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah yang mengalami tekanan cukup besar sepanjang tahun berjalan.\n\nKenaikan BI rate selalu berimbas pada dompet masyarakat, mulai dari membengkaknya tagihan cicilan kredit dan bunga kredit pemilikan rumah (KPR), hingga potensi kenaikan bunga deposito. Perubahan-perubahan ini secara akumulatif langsung memengaruhi stabilitas kondisi keuangan rumah tangga.\n-", "post_id": "3922805836196036079_45016844333"}}, {"key": "idntimes.video", "attributes": {"label": "idntimes.video", "x": 785.1210924815896, "y": 230.92795757169526, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 9, "degree": 9}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "idntimes.video", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes", "attributes": {"label": "IDNTimes", "x": 119.6590000655957, "y": 311.67233578115383, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "IDNTimes", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Korea", "attributes": {"label": "IDNTimes.Korea", "x": 114.21746613714734, "y": 266.630195729019, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "IDNTimes.Korea", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Community", "attributes": {"label": "IDNTimes.Community", "x": 20.46967223506424, "y": 730.058117024424, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "IDNTimes.Community", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Hype", "attributes": {"label": "IDNTimes.Hype", "x": 688.3857177935961, "y": 876.5662981603124, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "IDNTimes.Hype", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "Duniaku_com", "attributes": {"label": "Duniaku_com", "x": 106.82792993354306, "y": 196.8805157227953, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "Duniaku_com", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "Popbela_com", "attributes": {"label": "Popbela_com", "x": 94.96301333524127, "y": 899.6258483047204, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "Popbela_com", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "Popbela.Beauty", "attributes": {"label": "Popbela.Beauty", "x": 291.8928209975047, "y": 35.65904618454052, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "Popbela.Beauty", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "Popmama_com", "attributes": {"label": "Popmama_com", "x": 442.8830124137679, "y": 585.4939827232085, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "Popmama_com", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "Yummy.idn", "attributes": {"label": "Yummy.idn", "x": 241.39746790850637, "y": 561.1676237668837, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.0378, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916867687951963342_2089700769", "id": "Yummy.idn", "source": "instagram-000001", "content": "BI Ungkap 7 Langkah Jaga Rupiah, Intervensi Besar Digencarkan\n\nJakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global dan tren kenaikan suku bunga di berbagai negara.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, bank sentral akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, intervensi pasar, hingga pengawasan transaksi valuta asing (valas). Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.\n\nLangkah pertama dilakukan melalui intervensi agresif di pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.\n\n\"Kami melakukan intervensi dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dari gejolak global,\" ujar Perry dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI, Rabu (10/6/2026).\n\nBerdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.944 per dolar AS atau naik 0,63 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.\n\nMeski turun dari posisi April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS, level tersebut masih setara lebih dari enam bulan kebutuhan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\n\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS", "post_id": "3916867687951963342_2089700769"}}, {"key": "harristurino", "attributes": {"label": "harristurino", "x": 62.281255963909096, "y": 298.7117263711324, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "7644833362003135765", "id": "harristurino", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "Telinga", "attributes": {"label": "Telinga", "x": 794.6269515884987, "y": 435.3774759451916, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "Telinga", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "moncongpublik", "attributes": {"label": "moncongpublik", "x": 218.76487404524758, "y": 101.03275648418419, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "moncongpublik", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "Banteng", "attributes": {"label": "Banteng", "x": 324.2655851726336, "y": 251.01894903440558, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "Banteng", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "Gen", "attributes": {"label": "Gen", "x": 814.9113913214145, "y": 162.71264486643267, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "Gen", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "PDI", "attributes": {"label": "PDI", "x": 728.4084068556328, "y": 772.6873179005356, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "PDI", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "Gesuri.id", "attributes": {"label": "Gesuri.id", "x": 913.8224529769464, "y": 304.86687119063873, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 11.514, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644833362003135765", "id": "Gesuri.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Harris Turino, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak selalu bisa diatasi hanya dengan menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, Bank Indonesia perlu memahami sumber tekanan di pasar valuta asing, terutama yang berasal dari pasar offshore melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF). Pasar offshore merupakan transaksi rupiah yang dilakukan di luar negeri dan banyak dipengaruhi aktivitas investor global serta hedge fund. Dalam kondisi tertentu, intervensi langsung menggunakan cadangan devisa dinilai kurang efektif apabila tekanan berasal dari arus modal spekulatif yang nilainya sangat besar. Karena itu, BI perlu mengombinasikan berbagai instrumen seperti intervensi pasar, DNDF, penguatan likuiditas dolar untuk sektor riil, hingga menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang kredibel. Stabilitas rupiah bukan hanya soal suku bunga, tetapi juga soal ketepatan strategi menghadapi dinamika pasar global. #rupiah #bankindonesia #harristurino #dprri #fraksipdiperjuangan Anggota   Senayan  Banteng  Perjuangan Jateng", "post_id": "7644833362003135765"}}, {"key": "clipper.digital.id", "attributes": {"label": "clipper.digital.id", "x": 619.494530804035, "y": 379.3104552025335, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7648605301561675015", "id": "clipper.digital.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Purbaya Yudhi Sadewa (LPS) dan Perry Warjiyo (BI) baru aja menyepakati sinergi kuat untuk menjaga stabilitas mata uang kita tercinta. ​Nggak tanggung-tanggung, ada 2 JURUS TERBARU yang disiapkan pemerintah demi menahan guncangan eksternal global terhadap Rupiah. ​Kenapa kolaborasi BI & LPS ini penting banget buat kita? 1️⃣ Menjaga Kepercayaan Pasar: Kolaborasi ini bikin investor asing gak gampang kabur dan tetap percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia. 2️⃣ Stabilisasi Likuiditas Perbankan: Biar perbankan dalam negeri tetap kokoh menopang kredit dan suku bunga gak langsung meroket tajam. ​Intinya, pemerintah lagi pasang badan nih biar efek domino pelemahan kurs gak sampai bikin harga barang-barang di pasar melonjak drastis.  ​Pembahasan detail mengenai isi dari 2 jurus tersebut bisa kamu cek langsung di slide berikutnya ya! 🧐 ​👇 Gimana menurut kamu? Apakah kebijakan ini bakal efektif bikin Rupiah perkasa lagi? Tulis opini kamu di kolom komentar! #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7648605301561675015"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 495.29246308506237, "y": 761.1118320831852, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 40.089, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "7648605301561675015", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "Purbaya Yudhi Sadewa (LPS) dan Perry Warjiyo (BI) baru aja menyepakati sinergi kuat untuk menjaga stabilitas mata uang kita tercinta. ​Nggak tanggung-tanggung, ada 2 JURUS TERBARU yang disiapkan pemerintah demi menahan guncangan eksternal global terhadap Rupiah. ​Kenapa kolaborasi BI & LPS ini penting banget buat kita? 1️⃣ Menjaga Kepercayaan Pasar: Kolaborasi ini bikin investor asing gak gampang kabur dan tetap percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia. 2️⃣ Stabilisasi Likuiditas Perbankan: Biar perbankan dalam negeri tetap kokoh menopang kredit dan suku bunga gak langsung meroket tajam. ​Intinya, pemerintah lagi pasang badan nih biar efek domino pelemahan kurs gak sampai bikin harga barang-barang di pasar melonjak drastis.  ​Pembahasan detail mengenai isi dari 2 jurus tersebut bisa kamu cek langsung di slide berikutnya ya! 🧐 ​👇 Gimana menurut kamu? Apakah kebijakan ini bakal efektif bikin Rupiah perkasa lagi? Tulis opini kamu di kolom komentar! #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7648605301561675015"}}, {"key": "Kontencom", "attributes": {"label": "Kontencom", "x": 422.8162092125565, "y": 140.3453386569631, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 14.3715, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7648605301561675015", "id": "Kontencom", "source": "tiktok-000001", "content": "Purbaya Yudhi Sadewa (LPS) dan Perry Warjiyo (BI) baru aja menyepakati sinergi kuat untuk menjaga stabilitas mata uang kita tercinta. ​Nggak tanggung-tanggung, ada 2 JURUS TERBARU yang disiapkan pemerintah demi menahan guncangan eksternal global terhadap Rupiah. ​Kenapa kolaborasi BI & LPS ini penting banget buat kita? 1️⃣ Menjaga Kepercayaan Pasar: Kolaborasi ini bikin investor asing gak gampang kabur dan tetap percaya dengan fundamental ekonomi Indonesia. 2️⃣ Stabilisasi Likuiditas Perbankan: Biar perbankan dalam negeri tetap kokoh menopang kredit dan suku bunga gak langsung meroket tajam. ​Intinya, pemerintah lagi pasang badan nih biar efek domino pelemahan kurs gak sampai bikin harga barang-barang di pasar melonjak drastis.  ​Pembahasan detail mengenai isi dari 2 jurus tersebut bisa kamu cek langsung di slide berikutnya ya! 🧐 ​👇 Gimana menurut kamu? Apakah kebijakan ini bakal efektif bikin Rupiah perkasa lagi? Tulis opini kamu di kolom komentar! #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7648605301561675015"}}, {"key": "user485991268", "attributes": {"label": "user485991268", "x": 251.7887852307825, "y": 255.2452591777935, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7647390997931920660", "id": "user485991268", "source": "tiktok-000001", "content": "penjelasan. Secara garis besar, pergerakan nilai tukar Rupiah sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal (global) dan internal (domestik). Berikut adalah penjelasan mengenai faktor-faktor utama yang biasanya menjadi pemicu fluktuasi tajam atau pelemahan Rupiah ke level psikologis yang rendah: 1. Faktor Eksternal (Tekanan Global) Faktor di luar kendali pemerintah Indonesia sering kali menjadi motor utama pelemahan mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Rupiah. Kebijakan Suku Bunga Bank Sentral AS (The Fed): Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama (higher for longer) atau bahkan menaikkannya, daya tarik mata uang Dolar AS akan meningkat tajam. Investor global cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang dan memindahkannya kembali ke AS (capital outflow), yang memicu kelangkaan Dolar di dalam negeri dan melemahkan Rupiah. Sentimen Risk-Off dan Ketegangan Geopolitik: Konflik geopolitik (seperti di Timur Tengah atau Ukraina) sering kali membuat investor panik. Dalam situasi ketidakpastian, investor akan memburu aset aman (safe-haven assets) seperti Dolar AS dan emas, sehingga mata uang selain Dolar otomatis tertekan. Perlambatan Ekonomi China: Sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, kesehatan ekonomi China sangat memengaruhi permintaan komoditas kita. Jika ekonomi China melambat, ekspor Indonesia bisa turun, yang berdampak pada berkurangnya pasokan Dolar masuk ke tanah air. 2. Faktor Internal (Sentimen Domestik) Kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri turut menentukan seberapa kuat Rupiah mampu menahan gempuran sentimen global. Defisit Transaksi Berjalan (Current Account Deficit): Jika nilai impor Indonesia lebih besar daripada nilai ekspor, atau terjadi pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen yang masif oleh perusahaan asing, permintaan terhadap Dolar AS di dalam negeri akan melonjak. Persepsi Risiko Pasar Terhadap Kebijakan Fiskal: Pelaku pasar dan investor asing sangat mencermati arah kebijakan anggaran pemerintah (APBN), rasio utang negara, serta keberlanjutan program-program ekonomi. Jika ada kekhawatiran bahwa anggaran akan membengkak atau tidak dikelola dengan hati-hati, investor cenderung mengambil sikap wait-and-see atau keluar dari pasar keuangan Indonesia. Inflasi Domestik: Jika tingkat inflasi di Indonesia meningkat secara tidak terkendali, daya beli Rupiah akan turun secara riil, yang secara tidak langsung memberikan tekanan depresiasi terhadap nilai tukar. 3. Langkah Mitigasi (Peran Bank Indonesia) Level Rp18.000 merupakan angka psikologis yang sangat diperhatikan. Perlu diingat bahwa Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam dan memiliki berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas Rupiah agar tidak melemah terlalu liar (undervalued): Intervensi Triple Intervention: BI secara rutin melakukan intervensi di pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), dan pasar Surat Berharga Negara (SBN) untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan valas. Kenaikan Suku Bunga (BI-Rate): Jika diperlukan, BI dapat menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga daya tarik investasi aset Rupiah (seperti SRBI atau SBN) agar investor asing tetap bertahan. Pengelolaan Cadangan Devisa: BI menggunakan cadangan devisa sebagai \"bantalan\" untuk melakukan stabilisasi nilai tukar di kala tekanan pasar sedang memuncak Sumber: TWS News ig:  #kontencom #kontencomxtws #providusinsight", "post_id": "7647390997931920660"}}, {"key": "media.clips02", "attributes": {"label": "media.clips02", "x": 320.9056427990594, "y": 69.99316089580698, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7644065867751312647", "id": "media.clips02", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Setelah Bank Indonesia bikin kejutan dengan naikkan suku bunga 50 basis poin ke 5,25%, Gubernur BI Perry Warjiyo langsung beberkan 5 jurus strategis untuk pastikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Perry menegaskan walaupun Bl fokus pada stabilitas rupiah, bukan berarti pertumbuhan ekonomi diabaikan. Kombinasi ini disebut bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif. ‎ ‎Jurus pertama, BI banjirin likuiditas ke bank dengan beli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sampai 19 Mei 2026, BI sudah gelontorkan Rp140,57 triliun untuk beli SBN. Kedua, Bl guyur Rp424,7 triliun lewat insentif likuiditas makroprudensial (KLM) ke bank-bank rajin yang mau salurin kredit ke sektor produktif. Ketiga, BI tegas larang bank naikkan bunga kredit walaupun BI Rate naik, supaya KPR dan kredit motor masyarakat tetap terjangkau. Keempat, jaga duit beredar (M0) tumbuh di 14,1% YoY supaya likuiditas tetap melimpah. Kelima, BI permudah sistem pembayaran digital seperti QRIS dan transfer untuk dukung aktivitas bisnis. ‎ ‎Buat masyarakat Indonesia, kombinasi BI naikkan bunga tapi tetap jaga ekonomi tumbuh ini sebenarnya kabar yang seimbang. Sisi positifnya, walaupun BI Rate naik ke 5,25%, bunga KPR dan kredit motor seharusnya tetap stabil karena bank dilarang naikkan bunga pinjaman. Bunga deposito tetap menarik (untung penabung), tapi cicilan KPR floating tidak ikut melonjak (bagus buat yang punya utang rumah). Buat investor saham, bank Himbara seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN dapat alokasi KLM terbesar Rp214,2 triliun dan patut dipantau. Sektor strategis yang dapat penyaluran kredit lebih murah seperti UMKM, perumahan, dan otomotif berpotensi dapat angin segar. Tapi sukses-tidaknya kebijakan ini sangat tergantung apakah bank-bank benar-benar salurkan KLM ke sektor produktif, bukan cuma tahan likuiditas. ‎ Sumber: TWS News   #kontencom #kontenckmxtws", "post_id": "7644065867751312647"}}, {"key": "reyy16_8", "attributes": {"label": "reyy16_8", "x": 777.1486382620475, "y": 121.56820758020304, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7644017205604109575", "id": "reyy16_8", "source": "tiktok-000001", "content": "Setelah Bank Indonesia bikin kejutan dengan naikkan suku bunga 50 basis poin ke 5,25% kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo langsung beberkan 5 jurus strategis untuk pastikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh. Perry menegaskan walaupun BI fokus pada stabilitas rupiah, bukan berarti pertumbuhan ekonomi diabaikan. Kombinasi ini disebut bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif. Jurus pertama, BI banjirin likuiditas ke bank dengan beli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Sampai 19 Mei 2026, BI sudah gelontorkan Rp140,57 triliun untuk beli SBN. Kedua, BI guyur Rp424,7 triliun lewat insentif likuiditas makroprudensial (KLM) ke bank-bank rajin yang mau salurin kredit ke sektor produktif. Ketiga, BI tegas larang bank naikkan bunga kredit walaupun BI Rate naik, supaya KPR dan kredit motor masyarakat tetap terjangkau. Keempat, jaga duit beredar (M0) tumbuh di 14,1% YoY supaya likuiditas tetap melimpah. Kelima, BI permudah sistem pembayaran digital seperti QRIS dan transfer untuk dukung aktivitas bisnis. Buat masyarakat Indonesia, kombinasi BI naikkan bunga tapi tetap jaga ekonomi tumbuh ini sebenarnya kabar yang seimbang. Sisi positifnya, walaupun BI Rate naik ke 5,25%, bunga KPR dan kredit motor seharusnya tetap stabil karena bank dilarang naikkan bunga pinjaman. Bunga deposito tetap menarik (untung penabung), tapi cicilan KPR floating tidak ikut melonjak (bagus buat yang punya utang rumah). Buat investor saham, bank Himbara seperti BBRI, BMRI, BBNI, BBTN dapat alokasi KLM terbesar Rp214,2 triliun dan patut dipantau. Sektor strategis yang dapat penyaluran kredit lebih murah seperti UMKM, perumahan, dan otomotif berpotensi dapat angin segar. Tapi sukses-tidaknya kebijakan ini sangat tergantung apakah bank-bank benar-benar salurkan KLM ke sektor produktif, bukan cuma tahan likuiditas. Sumber: TWS News\" #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7644017205604109575"}}, {"key": "netnews.id0", "attributes": {"label": "netnews.id0", "x": 346.32400336397086, "y": 23.113274318548925, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7644524991396023573", "id": "netnews.id0", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah Tembus Rp17.812! Kenapa BI Rate Naik Tapi Rupiah Masih Lemah? \"Kabar terbaru, hari ini Rabu 27 Mei 2026, nilai tukar rupiah terpantau berada di angka Rp17.812 per dolar AS. Banyak yang bertanya, kenapa BI sudah naikin suku bunga tapi rupiah belum juga stabil?\" \"Secara teori, suku bunga tinggi harusnya narik investor masuk, tapi kenyataannya ini bukan obat ajaib. Ada faktor global yang jauh lebih dominan saat ini.\" \"Ada 3 alasan utama kenapa rupiah masih tertekan:  1. **Dominasi Dolar AS:** Kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi bikin investor lebih milih 'lari' ke aset aman atau *safe haven* seperti dolar AS.  2. **Ketidakpastian Global:** Sentimen risiko dunia akibat geopolitik bikin pasar finansial cenderung menghindari aset negara berkembang.  3. **Permintaan Valas Tinggi:** Kebutuhan korporasi dalam negeri akan dolar AS untuk bayar utang luar negeri dan dividen masih sangat besar, sementara stok dolarnya terbatas.\" **(Scene 4: Penutup/Kesimpulan)** \"Jadi, kenaikan BI Rate bukan satu-satunya penentu. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada dinamika pasar global dan fundamental ekonomi kita sendiri. Apakah menurut kalian angka ini bakal terus naik atau mulai melandai? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya!\" \"Jangan lupa *follow*  untuk update ekonomi harian kalian!\" #netnewsid #Fyp #2026 #beritatiktok #indonesia", "post_id": "7644524991396023573"}}, {"key": "Netnews", "attributes": {"label": "Netnews", "x": 424.9879445556529, "y": 428.5858669052035, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7644524991396023573", "id": "Netnews", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah Tembus Rp17.812! Kenapa BI Rate Naik Tapi Rupiah Masih Lemah? \"Kabar terbaru, hari ini Rabu 27 Mei 2026, nilai tukar rupiah terpantau berada di angka Rp17.812 per dolar AS. Banyak yang bertanya, kenapa BI sudah naikin suku bunga tapi rupiah belum juga stabil?\" \"Secara teori, suku bunga tinggi harusnya narik investor masuk, tapi kenyataannya ini bukan obat ajaib. Ada faktor global yang jauh lebih dominan saat ini.\" \"Ada 3 alasan utama kenapa rupiah masih tertekan:  1. **Dominasi Dolar AS:** Kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi bikin investor lebih milih 'lari' ke aset aman atau *safe haven* seperti dolar AS.  2. **Ketidakpastian Global:** Sentimen risiko dunia akibat geopolitik bikin pasar finansial cenderung menghindari aset negara berkembang.  3. **Permintaan Valas Tinggi:** Kebutuhan korporasi dalam negeri akan dolar AS untuk bayar utang luar negeri dan dividen masih sangat besar, sementara stok dolarnya terbatas.\" **(Scene 4: Penutup/Kesimpulan)** \"Jadi, kenaikan BI Rate bukan satu-satunya penentu. Stabilitas rupiah sangat bergantung pada dinamika pasar global dan fundamental ekonomi kita sendiri. Apakah menurut kalian angka ini bakal terus naik atau mulai melandai? Tulis pendapat kalian di kolom komentar ya!\" \"Jangan lupa *follow*  untuk update ekonomi harian kalian!\" #netnewsid #Fyp #2026 #beritatiktok #indonesia", "post_id": "7644524991396023573"}}, {"key": "mancingsaham.id", "attributes": {"label": "mancingsaham.id", "x": 473.15140678579723, "y": 239.05202427264038, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7650542958080494868", "id": "mancingsaham.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menyebut investor asing mulai kembali menempatkan dana di Indonesia setelah BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Kenaikan imbal hasil SRBI dan SBN dinilai berhasil meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik bagi investor global. 📈 Masuknya kembali modal asing turut mendukung penguatan rupiah yang kini kembali berada di bawah level Rp18.000 per dolar AS. BI juga menegaskan akan terus menjaga stabilitas rupiah dan daya tarik pasar keuangan domestik melalui berbagai langkah kebijakan.  Sumber: katadata.co.id, 12 Juni 2026 Gabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📊 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp). #saham #sahamindonesia #investasi #fyp #mancingsaham", "post_id": "7650542958080494868"}}, {"key": "folknomic", "attributes": {"label": "folknomic", "x": 488.60295504353155, "y": 287.45341760041197, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomic", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}, {"key": "folknomics", "attributes": {"label": "folknomics", "x": 64.75467936053691, "y": 269.25942628184595, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomics", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}, {"key": "the.indonesia.post", "attributes": {"label": "the.indonesia.post", "x": 353.9288030902015, "y": 658.9161938322742, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7653727519434116373", "id": "the.indonesia.post", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 Menilik Proyeksi Ekonomi Klasik : Menguji Validitas Prediksi Almarhum Faisal Basri Soal Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS 💸 Peredaran kembali cuplikan video lawas berisi proyeksi ekonomi dari almarhum ekonom senior Faisal Basri mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS memicu perdebatan sengit di ruang siber, sebuah analisis makroekonomi yang menuntut validasi data riil berimbang agar tidak melahirkan kepanikan spekulatif di tingkat domestik. 📄 Berdasarkan data manifes kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis resmi oleh  pada Juni 2026, nilai tukar mata uang domestik faktualnya masih berfluktuasi dinamis di kisaran angka Rp16.200 hingga Rp16.450 per dolar AS akibat tekanan sentimen suku bunga global The Fed. 📋 Rekam jejak digital mencatat bahwa analisis kritis yang dilontarkan sang ekonom dua tahun lalu merupakan sebuah pemodelan risiko fiskal bersyarat jika pemerintah tidak taktis memitigasi pembengkakan utang luar negeri serta defisit neraca berjalan, sehingga klaim sepihak netizen yang menyebut prediksi angka ekstrem tersebut telah sepenuhnya menjadi kenyataan di pasar spot saat ini terbukti tidak akurat secara statistik. 🔍 Munculnya kembali narasi proyeksi ekonomi masa lalu di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini berdampak pada krusialnya penyajian edukasi literasi keuangan yang obyektif bagi masyarakat bawah. ✨  Peringatan dini dari para akademisi independen wajib dijadikan instrumen evaluasi berharga bagi tata kelola fiskal , namun di sisi lain, publik siber dituntut bergerak taktis menyaring arus informasi agar tidak mudah termakan framing disinformasi potongan video pendek yang mengaburkan data fundamental riil ketahanan moneter nasional. 🎯 Apa langkah paling efektif yang harus diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah saat ini?🤔 Sosial Media : MZF #TheIndonesiaPost #AnalisisRupiah #FaisalBasri #KursBankIndonesia #EkonomiNasional", "post_id": "7653727519434116373"}}, {"key": "kemenkeuri", "attributes": {"label": "kemenkeuri", "x": 764.3528102376782, "y": 387.33882248523145, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 14.3715, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653727519434116373", "id": "kemenkeuri", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 Menilik Proyeksi Ekonomi Klasik : Menguji Validitas Prediksi Almarhum Faisal Basri Soal Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS 💸 Peredaran kembali cuplikan video lawas berisi proyeksi ekonomi dari almarhum ekonom senior Faisal Basri mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS memicu perdebatan sengit di ruang siber, sebuah analisis makroekonomi yang menuntut validasi data riil berimbang agar tidak melahirkan kepanikan spekulatif di tingkat domestik. 📄 Berdasarkan data manifes kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis resmi oleh  pada Juni 2026, nilai tukar mata uang domestik faktualnya masih berfluktuasi dinamis di kisaran angka Rp16.200 hingga Rp16.450 per dolar AS akibat tekanan sentimen suku bunga global The Fed. 📋 Rekam jejak digital mencatat bahwa analisis kritis yang dilontarkan sang ekonom dua tahun lalu merupakan sebuah pemodelan risiko fiskal bersyarat jika pemerintah tidak taktis memitigasi pembengkakan utang luar negeri serta defisit neraca berjalan, sehingga klaim sepihak netizen yang menyebut prediksi angka ekstrem tersebut telah sepenuhnya menjadi kenyataan di pasar spot saat ini terbukti tidak akurat secara statistik. 🔍 Munculnya kembali narasi proyeksi ekonomi masa lalu di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini berdampak pada krusialnya penyajian edukasi literasi keuangan yang obyektif bagi masyarakat bawah. ✨  Peringatan dini dari para akademisi independen wajib dijadikan instrumen evaluasi berharga bagi tata kelola fiskal , namun di sisi lain, publik siber dituntut bergerak taktis menyaring arus informasi agar tidak mudah termakan framing disinformasi potongan video pendek yang mengaburkan data fundamental riil ketahanan moneter nasional. 🎯 Apa langkah paling efektif yang harus diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah saat ini?🤔 Sosial Media : MZF #TheIndonesiaPost #AnalisisRupiah #FaisalBasri #KursBankIndonesia #EkonomiNasional", "post_id": "7653727519434116373"}}, {"key": "@JCCNetwork", "attributes": {"label": "@JCCNetwork", "x": 402.6376435019887, "y": 188.26385684619805, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "d4NQCAz6MmU", "id": "@JCCNetwork", "source": "youtube-000001", "content": "Said Abdullah Dorong Pemulihan ke Rp17.500 per Dolar AS dalam 3 Pekan\n\n‪‬ Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah bersyukur rupiah mulai menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Dari level Rp18.190 per dolar AS, rupiah menguat hingga ditutup di kisaran Rp18.050 per dolar AS. Said berharap sinergi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat terus memperkuat nilai tukar rupiah, dengan target kembali ke level Rp17.500 per dolar AS dalam tiga minggu ke depan. Kenaikan suku bunga BI juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik aliran investasi asing di tengah gejolak ekonomi global.\n\n#Rupiah #SaidAbdullah #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "d4NQCAz6MmU"}}, {"key": "JCCNetwork", "attributes": {"label": "JCCNetwork", "x": 560.2662662871653, "y": 66.81694528742466, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.2284, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "d4NQCAz6MmU", "id": "JCCNetwork", "source": "youtube-000001", "content": "Said Abdullah Dorong Pemulihan ke Rp17.500 per Dolar AS dalam 3 Pekan\n\n‪‬ Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah bersyukur rupiah mulai menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Dari level Rp18.190 per dolar AS, rupiah menguat hingga ditutup di kisaran Rp18.050 per dolar AS. Said berharap sinergi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat terus memperkuat nilai tukar rupiah, dengan target kembali ke level Rp17.500 per dolar AS dalam tiga minggu ke depan. Kenaikan suku bunga BI juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik aliran investasi asing di tengah gejolak ekonomi global.\n\n#Rupiah #SaidAbdullah #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "d4NQCAz6MmU"}}, {"key": "jccbetwork.id", "attributes": {"label": "jccbetwork.id", "x": 277.1308714391686, "y": 370.7151195282216, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.2284, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "d4NQCAz6MmU", "id": "jccbetwork.id", "source": "youtube-000001", "content": "Said Abdullah Dorong Pemulihan ke Rp17.500 per Dolar AS dalam 3 Pekan\n\n‪‬ Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah bersyukur rupiah mulai menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Dari level Rp18.190 per dolar AS, rupiah menguat hingga ditutup di kisaran Rp18.050 per dolar AS. Said berharap sinergi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat terus memperkuat nilai tukar rupiah, dengan target kembali ke level Rp17.500 per dolar AS dalam tiga minggu ke depan. Kenaikan suku bunga BI juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik aliran investasi asing di tengah gejolak ekonomi global.\n\n#Rupiah #SaidAbdullah #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "d4NQCAz6MmU"}}, {"key": "jcc_network", "attributes": {"label": "jcc_network", "x": 3.1132342521612566, "y": 570.3763025798357, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.2284, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "d4NQCAz6MmU", "id": "jcc_network", "source": "youtube-000001", "content": "Said Abdullah Dorong Pemulihan ke Rp17.500 per Dolar AS dalam 3 Pekan\n\n‪‬ Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah bersyukur rupiah mulai menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Dari level Rp18.190 per dolar AS, rupiah menguat hingga ditutup di kisaran Rp18.050 per dolar AS. Said berharap sinergi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat terus memperkuat nilai tukar rupiah, dengan target kembali ke level Rp17.500 per dolar AS dalam tiga minggu ke depan. Kenaikan suku bunga BI juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik aliran investasi asing di tengah gejolak ekonomi global.\n\n#Rupiah #SaidAbdullah #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "d4NQCAz6MmU"}}, {"key": "jccnetwork.id", "attributes": {"label": "jccnetwork.id", "x": 673.502296380583, "y": 366.24644762813176, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.2284, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "d4NQCAz6MmU", "id": "jccnetwork.id", "source": "youtube-000001", "content": "Said Abdullah Dorong Pemulihan ke Rp17.500 per Dolar AS dalam 3 Pekan\n\n‪‬ Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah bersyukur rupiah mulai menguat setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Dari level Rp18.190 per dolar AS, rupiah menguat hingga ditutup di kisaran Rp18.050 per dolar AS. Said berharap sinergi kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dapat terus memperkuat nilai tukar rupiah, dengan target kembali ke level Rp17.500 per dolar AS dalam tiga minggu ke depan. Kenaikan suku bunga BI juga ditujukan untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan menarik aliran investasi asing di tengah gejolak ekonomi global.\n\n#Rupiah #SaidAbdullah #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "d4NQCAz6MmU"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 330.6445114290574, "y": 254.2901527052186, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 0, "out_degree": 13, "degree": 13}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 106.08431752010705, "y": 237.09581495131792, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 33.52321839573025, "y": 953.3734246459934, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 20, "out_degree": 0, "degree": 20}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 437.35450660198927, "y": 539.3086789429365, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 225.84006561210103, "y": 863.4391366246998, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 335.68830987683594, "y": 561.2163346825196, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "bCa3qqeanrQ", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | MILENOMICS\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "bCa3qqeanrQ"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 725.3261888190874, "y": 260.57054256986066, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 0, "out_degree": 56, "degree": 56}, "_id": "EsniTHDbpQQ", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | IDXC UPDATE\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\n#idxcupdate  #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "EsniTHDbpQQ"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 510.51922547019524, "y": 491.48185921975363, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.8978, "eigenvector": 124.9999, "in_degree": 9, "out_degree": 0, "degree": 9}, "_id": "EsniTHDbpQQ", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "BI Kerek Suku Bunga di Luar Jadwal Demi Rupiah, Analis Ingatkan Pelajaran dari 2018 | IDXC UPDATE\n\nKeputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler dinilai sebagai langkah darurat untuk menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut disertai berbagai instrumen pendukung guna menarik aliran dana asing, memperkuat nilai tukar, serta menjaga likuiditas perbankan di tengah meningkatnya tekanan eksternal.\n\n#idxcupdate  #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "EsniTHDbpQQ"}}, {"key": "@metrotvjatim", "attributes": {"label": "@metrotvjatim", "x": 482.0259350899597, "y": 708.5142925436362, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "gxWZpjhbHsA", "id": "@metrotvjatim", "source": "youtube-000001", "content": "TOP ECONOMY - PESAN PENTING NAKHODA TIM EKONOMI\n\nMETRO TV JATIM,  Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto membahas dampak potensi perdamaian Amerika Serikat dan Iran terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Perdamaian dinilai dapat memperbaiki rantai pasok global dan menurunkan tekanan harga energi yang selama ini dipengaruhi ketegangan geopolitik.\n\nNamun, efeknya tidak langsung karena masih ada fase ketidakpastian dalam distribusi dan kontrak dagang global. Dampak ke Indonesia lebih banyak terasa pada harga minyak, inflasi, serta keputusan investasi yang masih cenderung wait and see.\n\nDari sisi pasar keuangan, pembahasan juga menyoroti kondisi Bursa Efek Indonesia yang masih berada dalam kategori emerging market menurut Morgan Stanley Capital International, serta dinamika aliran modal dan kebijakan short selling.\n\nPemerintah juga menekankan penguatan daya beli masyarakat melalui bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan, sementara kebijakan moneter oleh Bank Indonesia terus diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui penyesuaian suku bunga.\n\nDi sisi kawasan, ASEAN disebut tetap menjadi wilayah yang relatif stabil dan menarik bagi investasi global. Sementara itu, proses aksesi Indonesia menuju OECD juga terus berjalan sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi di level global.\n\n#EkonomiIndonesia #AirlanggaHartarto #OECD #ASEAN #BankIndonesia #PasarModal #EkonomiGlobal #BeritaEkonomi #TopEkonomi\n-----------------------------------------------------------------------\nFollow juga sosmed kami untuk mendapatkan update informasi  terkini!\n\nWebsite: https://www.metrotvnews.com/\nFacebook:   / metrotv  \nInstagram:   / metrotv  \nTwitter:   / metro_tv  \nTikTok:   / metro_tv  \n\nInstagram: \nTwitter: \nYoutube : metrotv jatim\nTikTok : \n\n#jawatimur #metrotvjatim #metrotv", "post_id": "gxWZpjhbHsA"}}, {"key": "metrotv_jatim", "attributes": {"label": "metrotv_jatim", "x": 406.5518824495079, "y": 447.62306713936863, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.9428, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "gxWZpjhbHsA", "id": "metrotv_jatim", "source": "youtube-000001", "content": "TOP ECONOMY - PESAN PENTING NAKHODA TIM EKONOMI\n\nMETRO TV JATIM,  Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto membahas dampak potensi perdamaian Amerika Serikat dan Iran terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Perdamaian dinilai dapat memperbaiki rantai pasok global dan menurunkan tekanan harga energi yang selama ini dipengaruhi ketegangan geopolitik.\n\nNamun, efeknya tidak langsung karena masih ada fase ketidakpastian dalam distribusi dan kontrak dagang global. Dampak ke Indonesia lebih banyak terasa pada harga minyak, inflasi, serta keputusan investasi yang masih cenderung wait and see.\n\nDari sisi pasar keuangan, pembahasan juga menyoroti kondisi Bursa Efek Indonesia yang masih berada dalam kategori emerging market menurut Morgan Stanley Capital International, serta dinamika aliran modal dan kebijakan short selling.\n\nPemerintah juga menekankan penguatan daya beli masyarakat melalui bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan, sementara kebijakan moneter oleh Bank Indonesia terus diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui penyesuaian suku bunga.\n\nDi sisi kawasan, ASEAN disebut tetap menjadi wilayah yang relatif stabil dan menarik bagi investasi global. Sementara itu, proses aksesi Indonesia menuju OECD juga terus berjalan sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi di level global.\n\n#EkonomiIndonesia #AirlanggaHartarto #OECD #ASEAN #BankIndonesia #PasarModal #EkonomiGlobal #BeritaEkonomi #TopEkonomi\n-----------------------------------------------------------------------\nFollow juga sosmed kami untuk mendapatkan update informasi  terkini!\n\nWebsite: https://www.metrotvnews.com/\nFacebook:   / metrotv  \nInstagram:   / metrotv  \nTwitter:   / metro_tv  \nTikTok:   / metro_tv  \n\nInstagram: \nTwitter: \nYoutube : metrotv jatim\nTikTok : \n\n#jawatimur #metrotvjatim #metrotv", "post_id": "gxWZpjhbHsA"}}, {"key": "metro_tv_jatim", "attributes": {"label": "metro_tv_jatim", "x": 488.5205909080472, "y": 457.6998374951999, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.9428, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "gxWZpjhbHsA", "id": "metro_tv_jatim", "source": "youtube-000001", "content": "TOP ECONOMY - PESAN PENTING NAKHODA TIM EKONOMI\n\nMETRO TV JATIM,  Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto membahas dampak potensi perdamaian Amerika Serikat dan Iran terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Perdamaian dinilai dapat memperbaiki rantai pasok global dan menurunkan tekanan harga energi yang selama ini dipengaruhi ketegangan geopolitik.\n\nNamun, efeknya tidak langsung karena masih ada fase ketidakpastian dalam distribusi dan kontrak dagang global. Dampak ke Indonesia lebih banyak terasa pada harga minyak, inflasi, serta keputusan investasi yang masih cenderung wait and see.\n\nDari sisi pasar keuangan, pembahasan juga menyoroti kondisi Bursa Efek Indonesia yang masih berada dalam kategori emerging market menurut Morgan Stanley Capital International, serta dinamika aliran modal dan kebijakan short selling.\n\nPemerintah juga menekankan penguatan daya beli masyarakat melalui bantuan sosial dan stabilisasi harga pangan, sementara kebijakan moneter oleh Bank Indonesia terus diarahkan untuk menjaga stabilitas rupiah melalui penyesuaian suku bunga.\n\nDi sisi kawasan, ASEAN disebut tetap menjadi wilayah yang relatif stabil dan menarik bagi investasi global. Sementara itu, proses aksesi Indonesia menuju OECD juga terus berjalan sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi di level global.\n\n#EkonomiIndonesia #AirlanggaHartarto #OECD #ASEAN #BankIndonesia #PasarModal #EkonomiGlobal #BeritaEkonomi #TopEkonomi\n-----------------------------------------------------------------------\nFollow juga sosmed kami untuk mendapatkan update informasi  terkini!\n\nWebsite: https://www.metrotvnews.com/\nFacebook:   / metrotv  \nInstagram:   / metrotv  \nTwitter:   / metro_tv  \nTikTok:   / metro_tv  \n\nInstagram: \nTwitter: \nYoutube : metrotv jatim\nTikTok : \n\n#jawatimur #metrotvjatim #metrotv", "post_id": "gxWZpjhbHsA"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "attributes": {"label": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "x": 992.4042745404563, "y": 116.87548123783165, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.0853, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "_WGo1IQIA08", "id": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "youtube-000001", "content": "Intervensi BI Gagal Total?! Terbongkar Penyebab Rupiah Hancur ke 18.000!\n\nRupiah melemah tembus 18.000 per dollar AS! Mengapa intervensi pasar Bank Indonesia belum mampu menyelamatkan nilai tukar rupiah dan mengatasi akar persoalan ekonomi nasional? \n\nDalam video ini, kita membedah analisis kritis dari pengamat kebijakan publik dan ekonom mengenai penyebab kurs rupiah hari ini hancur ke level Rp18.000. Apakah kebijakan moneter seperti intervensi valas dan kenaikan suku bunga BI rate sudah kehilangan efektivitasnya? Mengapa kredibilitas fiskal, pengelolaan APBN, dan risiko pembiayaan program pemerintah kini menjadi sorotan tajam pelaku pasar global?\n\nSimak evaluasi mendalam mengenai pentingnya disiplin fiskal, menjaga independensi bank sentral dari skema burden sharing, serta langkah strategis jangka panjang untuk menguatkan stabilitas rupiah secara berkelanjutan.\n\nApakah strategi Bank Indonesia saat ini sudah tepat atau pemerintah harus segera merombak total kebijakan ekonomi mereka? Tulis opini kritis Anda di kolom komentar!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #kursrupiah  #rupiahmelemah  #bankindonesia  #ekonominasional  #krisisekonomi  #kebijakanfiskal  #apbn  #FiskalMoneter #beritaterkini  #Rupiah18000\n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "_WGo1IQIA08"}}, {"key": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "koranjakarta...", "x": 902.9644403704775, "y": 784.5372367062928, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6578, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "_WGo1IQIA08", "id": "koranjakarta...", "source": "youtube-000001", "content": "Intervensi BI Gagal Total?! Terbongkar Penyebab Rupiah Hancur ke 18.000!\n\nRupiah melemah tembus 18.000 per dollar AS! Mengapa intervensi pasar Bank Indonesia belum mampu menyelamatkan nilai tukar rupiah dan mengatasi akar persoalan ekonomi nasional? \n\nDalam video ini, kita membedah analisis kritis dari pengamat kebijakan publik dan ekonom mengenai penyebab kurs rupiah hari ini hancur ke level Rp18.000. Apakah kebijakan moneter seperti intervensi valas dan kenaikan suku bunga BI rate sudah kehilangan efektivitasnya? Mengapa kredibilitas fiskal, pengelolaan APBN, dan risiko pembiayaan program pemerintah kini menjadi sorotan tajam pelaku pasar global?\n\nSimak evaluasi mendalam mengenai pentingnya disiplin fiskal, menjaga independensi bank sentral dari skema burden sharing, serta langkah strategis jangka panjang untuk menguatkan stabilitas rupiah secara berkelanjutan.\n\nApakah strategi Bank Indonesia saat ini sudah tepat atau pemerintah harus segera merombak total kebijakan ekonomi mereka? Tulis opini kritis Anda di kolom komentar!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #kursrupiah  #rupiahmelemah  #bankindonesia  #ekonominasional  #krisisekonomi  #kebijakanfiskal  #apbn  #FiskalMoneter #beritaterkini  #Rupiah18000\n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "_WGo1IQIA08"}}], "edges": [{"key": "andi_achilles", "source": "andi_achilles", "target": "Maikel_USMC", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "andi_achilles", "source": "andi_achilles", "target": "Maikel_USMC", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "andi_achilles", "source": "andi_achilles", "target": "TirtoID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Kertaaslusuh", "source": "Kertaaslusuh", "target": "KapudS640", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Maikel_USMC", "source": "Maikel_USMC", "target": "TirtoID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "potatomax_", "source": "potatomax_", "target": "direktoridosen", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "1M_pertama", "source": "1M_pertama", "target": "tempodotco", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "NusBhisma", "source": "NusBhisma", "target": "akuntandigital", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "NusBhisma", "source": "NusBhisma", "target": "anneserlo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "satria_ris8", "source": "satria_ris8", "target": "zakiberkata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "palipurlarade", "source": "palipurlarade", "target": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "palipurlarade", "source": "palipurlarade", "target": "BigAlphaID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "palipurlarade", "source": "palipurlarade", "target": "hanifproduktif", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "Bornu15", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "Junazxx_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "sudhsnz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "0xkaizora", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bocil_kriptoo", "source": "Bocil_kriptoo", "target": "butterflsies", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "source": "bloombergtechnoz", "target": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "ahquote", "source": "ahquote", "target": "alivikry", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bloombergtechnoz", "source": "bloombergtechnoz", "target": "bloombergtechnoz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "infotibanjaran.id", "source": "infotibanjaran.id", "target": "voktis.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Korea", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Community", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Hype", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Duniaku_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popbela_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popbela.Beauty", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popmama_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Yummy.idn", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Telinga", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "moncongpublik", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Banteng", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Gen", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "PDI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "harristurino", "source": "harristurino", "target": "Gesuri.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "clipper.digital.id", "source": "clipper.digital.id", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "clipper.digital.id", "source": "clipper.digital.id", "target": "Kontencom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "user485991268", "source": "user485991268", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "media.clips02", "source": "media.clips02", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "reyy16_8", "source": "reyy16_8", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "netnews.id0", "source": "netnews.id0", "target": "Netnews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "mancingsaham.id", "source": "mancingsaham.id", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "folknomic", "source": "folknomic", "target": "folknomics", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "the.indonesia.post", "source": "the.indonesia.post", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "the.indonesia.post", "source": "the.indonesia.post", "target": "kemenkeuri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "JCCNetwork", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jccbetwork.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jcc_network", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jccnetwork.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@metrotvjatim", "source": "@metrotvjatim", "target": "metrotv_jatim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@metrotvjatim", "source": "@metrotvjatim", "target": "metro_tv_jatim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@metrotvjatim", "source": "@metrotvjatim", "target": "metrotv_jatim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}