{"nodes": [{"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 167.23067912407575, "y": 341.0058188875443, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 107.1074, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3917907629464965255_3310659452", "id": "idx_channel", "source": "instagram-000001", "content": "Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali menjadi sorotan. Mata uang Garuda saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi faktor eksternal, kebijakan moneter Federal Reserve yang belum sepenuhnya melunak, penguatan indeks dolar AS akibat divergensi pertumbuhan ekonomi global, hingga dinamika arus modal keluar dari pasar negara berkembang. \n\nDi pasar domestik, kondisi ini membuat investor untuk memikirkan ulang eksposur mata uang dalam portofolio mereka. Diversifikasi valuta tidak lagi identik dengan panic buying dolar di tengah gejolak kurs. Semakin banyak investor yang mempertimbangkan eksposur terhadap mata uang asing sebagai bagian integral dari perencanaan keuangan jangka menengah dan panjang, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan finansial terkait dolar AS.\n\nSalah satu cara yang dapat dipertimbangkan investor untuk memperoleh eksposur tersebut adalah melalui instrumen investasi berbasis dolar yang dikelola secara profesional. Pendekatan ini memungkinkan investor memperoleh akses terhadap aset berdenominasi dolar AS tanpa harus melakukan pengelolaan investasi secara langsung.\n\nKepala Divisi Corporate Secretary & Communication PT BRI Manajemen Investasi (BRI-MI), Bagus Setyawan menilai volatilitas nilai tukar tidak selalu harus dipandang sebagai risiko. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum bagi investor untuk mengevaluasi kembali alokasi aset yang dimiliki.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/market-news/bri-mi-tawarkan-reksa-dana-berbasis-dolar-as-di-tengah-volatilitas-nilai-tukar\n\nAtau klik link di bio \n\nFoto: Ist\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #reksadana #BRI #dolarAS", "post_id": "3917907629464965255_3310659452"}}, {"key": "beldocuan", "attributes": {"label": "beldocuan", "x": 577.1662505538205, "y": 642.0700633093473, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "3916317238747790632_77879013289", "id": "beldocuan", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah gelombang pesimisme global terhadap pasar keuangan domestik, Chief Executive Officer (CEO) CIMB Group Holdings Bhd., Novan Amirudin, justru menyuarakan pandangan yang berlawanan (contrarian). Dalam wawancaranya dengan Bloomberg TV di Kuala Lumpur (10/6/2026), Novan menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi investor jangka panjang untuk menaruh modalnya di Indonesia, meskipun kepercayaan pasar terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang berada di titik nadir.\n\nOptimisme raksasa perbankan Malaysia ini muncul di tengah kejatuhan indeks acuan pasar modal Indonesia. Sepanjang tahun 2026, Rupiah telah ambruk lebih dari 8% terhadap Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi dalam sekitar 35%. Pasar global tercatat melakukan aksi jual masif karena mengkhawatirkan risiko fiskal dari kebijakan populis kabinet Presiden Prabowo Subianto, terutama membengkaknya subsidi energi akibat konflik Timur Tengah. Namun bagi CIMB, penurunan valuasi aset di Indonesia saat ini justru membuka peluang besar untuk melakukan penetrasi dan ekspansi bisnis yang lebih murah.\n\nMelalui anak usahanya, PT Bank CIMB Niaga Tbk ($BNGA), CIMB Group dilaporkan tengah aktif berburu peluang merger dan akuisisi (M&A) di Indonesia untuk memperkuat portofolio bisnisnya, khususnya pada sektor wealth management dan segmen ritel khusus. Komitmen serupa juga ditegaskan oleh kompetitor senegaranya, Maybank Group, yang menyatakan bahwa operasi mereka di Indonesia tetap akan menjadi kontributor pertumbuhan penting dalam jangka menengah hingga panjang. Sikap agresif perbankan Malaysia ini menjadi sinyal bahwa di balik volatilitas makro yang mencekam, nilai fundamental korporasi di Indonesia dinilai sudah sangat murah untuk mulai diakumulasi oleh smart money global.\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\nCIMBGroup #BNGA #CIMBNiaga #IHSG #Saham", "post_id": "3916317238747790632_77879013289"}}, {"key": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "BELDOCUAN", "x": 281.35908565169086, "y": 982.6458286393516, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 20.6186, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3916317238747790632_77879013289", "id": "BELDOCUAN", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah gelombang pesimisme global terhadap pasar keuangan domestik, Chief Executive Officer (CEO) CIMB Group Holdings Bhd., Novan Amirudin, justru menyuarakan pandangan yang berlawanan (contrarian). Dalam wawancaranya dengan Bloomberg TV di Kuala Lumpur (10/6/2026), Novan menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi investor jangka panjang untuk menaruh modalnya di Indonesia, meskipun kepercayaan pasar terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang berada di titik nadir.\n\nOptimisme raksasa perbankan Malaysia ini muncul di tengah kejatuhan indeks acuan pasar modal Indonesia. Sepanjang tahun 2026, Rupiah telah ambruk lebih dari 8% terhadap Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi dalam sekitar 35%. Pasar global tercatat melakukan aksi jual masif karena mengkhawatirkan risiko fiskal dari kebijakan populis kabinet Presiden Prabowo Subianto, terutama membengkaknya subsidi energi akibat konflik Timur Tengah. Namun bagi CIMB, penurunan valuasi aset di Indonesia saat ini justru membuka peluang besar untuk melakukan penetrasi dan ekspansi bisnis yang lebih murah.\n\nMelalui anak usahanya, PT Bank CIMB Niaga Tbk ($BNGA), CIMB Group dilaporkan tengah aktif berburu peluang merger dan akuisisi (M&A) di Indonesia untuk memperkuat portofolio bisnisnya, khususnya pada sektor wealth management dan segmen ritel khusus. Komitmen serupa juga ditegaskan oleh kompetitor senegaranya, Maybank Group, yang menyatakan bahwa operasi mereka di Indonesia tetap akan menjadi kontributor pertumbuhan penting dalam jangka menengah hingga panjang. Sikap agresif perbankan Malaysia ini menjadi sinyal bahwa di balik volatilitas makro yang mencekam, nilai fundamental korporasi di Indonesia dinilai sudah sangat murah untuk mulai diakumulasi oleh smart money global.\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\nCIMBGroup #BNGA #CIMBNiaga #IHSG #Saham", "post_id": "3916317238747790632_77879013289"}}, {"key": "beldocuanfreeforum", "attributes": {"label": "beldocuanfreeforum", "x": 843.5245306287484, "y": 225.13962366830108, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 20.6186, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916317238747790632_77879013289", "id": "beldocuanfreeforum", "source": "instagram-000001", "content": "Di tengah gelombang pesimisme global terhadap pasar keuangan domestik, Chief Executive Officer (CEO) CIMB Group Holdings Bhd., Novan Amirudin, justru menyuarakan pandangan yang berlawanan (contrarian). Dalam wawancaranya dengan Bloomberg TV di Kuala Lumpur (10/6/2026), Novan menegaskan bahwa kondisi saat ini merupakan waktu yang sangat tepat bagi investor jangka panjang untuk menaruh modalnya di Indonesia, meskipun kepercayaan pasar terhadap ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini sedang berada di titik nadir.\n\nOptimisme raksasa perbankan Malaysia ini muncul di tengah kejatuhan indeks acuan pasar modal Indonesia. Sepanjang tahun 2026, Rupiah telah ambruk lebih dari 8% terhadap Dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi dalam sekitar 35%. Pasar global tercatat melakukan aksi jual masif karena mengkhawatirkan risiko fiskal dari kebijakan populis kabinet Presiden Prabowo Subianto, terutama membengkaknya subsidi energi akibat konflik Timur Tengah. Namun bagi CIMB, penurunan valuasi aset di Indonesia saat ini justru membuka peluang besar untuk melakukan penetrasi dan ekspansi bisnis yang lebih murah.\n\nMelalui anak usahanya, PT Bank CIMB Niaga Tbk ($BNGA), CIMB Group dilaporkan tengah aktif berburu peluang merger dan akuisisi (M&A) di Indonesia untuk memperkuat portofolio bisnisnya, khususnya pada sektor wealth management dan segmen ritel khusus. Komitmen serupa juga ditegaskan oleh kompetitor senegaranya, Maybank Group, yang menyatakan bahwa operasi mereka di Indonesia tetap akan menjadi kontributor pertumbuhan penting dalam jangka menengah hingga panjang. Sikap agresif perbankan Malaysia ini menjadi sinyal bahwa di balik volatilitas makro yang mencekam, nilai fundamental korporasi di Indonesia dinilai sudah sangat murah untuk mulai diakumulasi oleh smart money global.\n-\nFollow TikTok \nInstagram \nTelegram \nbiar nggak ketinggalan update saham harian, serta buat diskusi & cari insight bareng komunitas cuan\n-\nCIMBGroup #BNGA #CIMBNiaga #IHSG #Saham", "post_id": "3916317238747790632_77879013289"}}, {"key": "rri_sintang", "attributes": {"label": "rri_sintang", "x": 823.6352312250656, "y": 748.1241925277483, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3911323129305711932_5724644776", "id": "rri_sintang", "source": "instagram-000001", "content": "#Repost  \n——\nBank Indonesia (BI) menyatakan siap mengerahkan seluruh instrumen moneter yang tersedia guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang belakangan ini mengalami tekanan signifikan terhadap Dolar AS.\n\nLangkah ini diambil untuk memastikan pasar tetap kondusif, meminimalkan volatilitas, serta menjaga keyakinan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. BI menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar melalui intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)\n\nKlik rri.co.id untuk informasi lebih lanjut. Dengarkan siaran RRI dan dapatkan berita terkini melalui aplikasi RRI Digital di App Store dan Google Play.\n\n#RRI #RRIPrograma3 #Rupiah #Dolar BankIndonesia", "post_id": "3911323129305711932_5724644776"}}, {"key": "rriprograma3", "attributes": {"label": "rriprograma3", "x": 335.97935884598763, "y": 491.93059853565956, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3911323129305711932_5724644776", "id": "rriprograma3", "source": "instagram-000001", "content": "#Repost  \n——\nBank Indonesia (BI) menyatakan siap mengerahkan seluruh instrumen moneter yang tersedia guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang belakangan ini mengalami tekanan signifikan terhadap Dolar AS.\n\nLangkah ini diambil untuk memastikan pasar tetap kondusif, meminimalkan volatilitas, serta menjaga keyakinan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. BI menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar melalui intervensi di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)\n\nKlik rri.co.id untuk informasi lebih lanjut. Dengarkan siaran RRI dan dapatkan berita terkini melalui aplikasi RRI Digital di App Store dan Google Play.\n\n#RRI #RRIPrograma3 #Rupiah #Dolar BankIndonesia", "post_id": "3911323129305711932_5724644776"}}, {"key": "financialclub11", "attributes": {"label": "financialclub11", "x": 79.67130129972155, "y": 294.17698835593444, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7647424658303618311", "id": "financialclub11", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah yang melemah hingga Rp18.000 per dolar AS membuat harga Bitcoin semakin mahal bagi investor Indonesia. Dengan asumsi harga Bitcoin tetap di US$65.000, nilainya naik dari sekitar Rp975 juta saat kurs Rp15.000 menjadi Rp1,17 miliar pada kurs Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memberi tekanan tambahan bagi investor baru karena selain menghadapi volatilitas Bitcoin, mereka juga terdampak pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya akumulasi aset. Meski pembelian dilakukan dalam rupiah melalui exchange lokal, harga Bitcoin tetap mengacu pada dolar AS secara global. Sebaliknya, pelemahan rupiah menguntungkan investor yang sudah lama memegang Bitcoin. Nilai portofolio mereka dalam rupiah meningkat, didorong oleh kenaikan harga Bitcoin dalam jangka panjang serta melemahnya nilai tukar rupiah. sc   #akademicrypto #bitcoin #rupiah #indonesia", "post_id": "7647424658303618311"}}, {"key": "akademicryptocom", "attributes": {"label": "akademicryptocom", "x": 881.9933104459185, "y": 490.04610674970786, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7647424658303618311", "id": "akademicryptocom", "source": "tiktok-000001", "content": "Rupiah yang melemah hingga Rp18.000 per dolar AS membuat harga Bitcoin semakin mahal bagi investor Indonesia. Dengan asumsi harga Bitcoin tetap di US$65.000, nilainya naik dari sekitar Rp975 juta saat kurs Rp15.000 menjadi Rp1,17 miliar pada kurs Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memberi tekanan tambahan bagi investor baru karena selain menghadapi volatilitas Bitcoin, mereka juga terdampak pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya akumulasi aset. Meski pembelian dilakukan dalam rupiah melalui exchange lokal, harga Bitcoin tetap mengacu pada dolar AS secara global. Sebaliknya, pelemahan rupiah menguntungkan investor yang sudah lama memegang Bitcoin. Nilai portofolio mereka dalam rupiah meningkat, didorong oleh kenaikan harga Bitcoin dalam jangka panjang serta melemahnya nilai tukar rupiah. sc   #akademicrypto #bitcoin #rupiah #indonesia", "post_id": "7647424658303618311"}}, {"key": "syahputra_247", "attributes": {"label": "syahputra_247", "x": 938.9122488006183, "y": 118.31952364550102, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7645606668818156820", "id": "syahputra_247", "source": "tiktok-000001", "content": "Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) sempat menyentuh rekor intraday terendah baru di kisaran Rp17.882 per dolar AS, dengan penutupan harian berada di level Rp17.670 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh berbagai faktor tekanan global dan domestik. [1, 2] Berikut adalah rangkuman situasi terkini pelemahan rupiah: Penyebab Utama Pelemahan Rupiah Sentimen Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah (konflik AS-Iran) dan Eropa Timur memicu ketidakpastian global, sehingga investor memburu dolar AS sebagai aset safe haven. [1, 2, 3, 4] Kekuatan Indeks Dolar (DXY): Indeks dolar AS terus mengalami penguatan secara global di tengah risiko inflasi yang membayangi ekonomi Amerika Serikat. [1] Faktor Domestik & Arus Kas Keluar: Tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan, utang luar negeri jatuh tempo, dan kebutuhan impor (terutama minyak) membebani cadangan devisa. [1] Kekhawatiran Defisit Neraca: Adanya rekam jejak defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran yang membebani neraca eksternal Indonesia. [1, 2, 3] Langkah Antisipasi & Dampak Intervensi Bank Indonesia: Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar dan langkah stabilisasi untuk menahan volatilitas nilai tukar lebih lanjut menggunakan cadangan devisa. [1] Dampak Sektor Riil: Pelemahan ini memberikan tantangan bagi industri manufaktur di dalam negeri akibat tingginya biaya impor bahan baku. [1] \"Sumber: TWS News\"   #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7645606668818156820"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 593.6818983712367, "y": 232.0822904873554, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 138.9748, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 9, "out_degree": 0, "degree": 9}, "_id": "7645606668818156820", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) sempat menyentuh rekor intraday terendah baru di kisaran Rp17.882 per dolar AS, dengan penutupan harian berada di level Rp17.670 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh berbagai faktor tekanan global dan domestik. [1, 2] Berikut adalah rangkuman situasi terkini pelemahan rupiah: Penyebab Utama Pelemahan Rupiah Sentimen Geopolitik: Ketegangan di Timur Tengah (konflik AS-Iran) dan Eropa Timur memicu ketidakpastian global, sehingga investor memburu dolar AS sebagai aset safe haven. [1, 2, 3, 4] Kekuatan Indeks Dolar (DXY): Indeks dolar AS terus mengalami penguatan secara global di tengah risiko inflasi yang membayangi ekonomi Amerika Serikat. [1] Faktor Domestik & Arus Kas Keluar: Tingginya permintaan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan, utang luar negeri jatuh tempo, dan kebutuhan impor (terutama minyak) membebani cadangan devisa. [1] Kekhawatiran Defisit Neraca: Adanya rekam jejak defisit transaksi berjalan dan defisit anggaran yang membebani neraca eksternal Indonesia. [1, 2, 3] Langkah Antisipasi & Dampak Intervensi Bank Indonesia: Bank Indonesia terus melakukan intervensi pasar dan langkah stabilisasi untuk menahan volatilitas nilai tukar lebih lanjut menggunakan cadangan devisa. [1] Dampak Sektor Riil: Pelemahan ini memberikan tantangan bagi industri manufaktur di dalam negeri akibat tingginya biaya impor bahan baku. [1] \"Sumber: TWS News\"   #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7645606668818156820"}}, {"key": "moon.clipers", "attributes": {"label": "moon.clipers", "x": 727.8902611118006, "y": 297.5668339399763, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7647086599980748050", "id": "moon.clipers", "source": "tiktok-000001", "content": "Pasar keuangan dalam negeri tengah menghadapi tekanan hebat. Berdasarkan data pergerakan nilai tukar terbaru, mata uang Rupiah dilaporkan terus melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.912 per Dolar AS, memicu volatilitas yang membuat sejumlah perbankan mulai melakukan transaksi jual di atas level psikologis Rp18.000/USD. ​Sentimen Pasar Global: Penurunan tajam nilai tukar ini menandai salah satu rekor historis terendah baru bagi mata uang domestik. Di saat yang bersamaan, dinamika pasar aset digital global juga memperlihatkan koreksi, di mana instrumen mata uang kripto utama seperti Bitcoin dilaporkan bergerak turun mendekati level $65.000 per koin. ​Kombinasi tekanan makroekonomi ini memicu perhatian serius dari otoritas moneter serta pelaku pasar investasi dalam memitigasi risiko kelanjutan depresiasi nilai tukar. ​Bagaimana analisis Anda mengenai langkah strategis yang harus diambil Bank Indonesia untuk menstabilkan kembali nilai tukar? Tulis opini Anda di kolom komentar. 👇 Sumber : TWS News   ​#EkonomiMakro #kontencom #kontencomxtws  #RupiahMelemah #KursDolar", "post_id": "7647086599980748050"}}, {"key": "fallclips2", "attributes": {"label": "fallclips2", "x": 639.7885149998694, "y": 76.40364967106406, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7648966679245901064", "id": "fallclips2", "source": "tiktok-000001", "content": "🚨 RUPIAH KEMBALI TERTEKAN, MENYENTUH LEVEL TERENDAH BARU! 🚨 Nilai tukar Rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level Rp18.200 per dolar AS, mencatatkan rekor pelemahan terbaru yang memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya tekanan eksternal maupun internal yang sedang dihadapi perekonomian Indonesia. Pelemahan Rupiah bukan hanya sekadar angka di layar. Dampaknya dapat dirasakan di berbagai sektor, mulai dari kenaikan biaya impor, harga bahan baku yang lebih mahal, hingga potensi peningkatan harga barang dan jasa di dalam negeri. Bagi para investor dan trader, kondisi seperti ini sering kali menciptakan volatilitas tinggi yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan bijak dalam mengambil keputusan keuangan. Diversifikasi aset, pengelolaan risiko yang baik, serta terus mengikuti perkembangan ekonomi global menjadi langkah yang semakin relevan saat ini. 📉 Rupiah melemah. 📈 Pasar bergerak cepat. 🎯 Strategi dan manajemen risiko menjadi kunci. Bagaimana menurut kalian? Apakah pelemahan Rupiah ini hanya sementara atau berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan?  #kontencom #kontencomxtws #pasarkeuangan #MoneyManagement #Rupiah", "post_id": "7648966679245901064"}}, {"key": "wann_tws", "attributes": {"label": "wann_tws", "x": 108.04909071709045, "y": 789.6302334353985, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7647125163237985544", "id": "wann_tws", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 INDONESIA MULAI LEPAS DARI DOMINASI DOLAR AS? 🇮🇩 Nilai tukar Rupiah belakangan ini terus mengalami tekanan berat. Namun, pemerintah tidak tinggal diam. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) di bawah arahan Pak Purbaya disinyalir tengah menyiapkan strategi besar untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap mata uang Dollar Amerika Serikat (AS). Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas volatilitas global yang sempat membuat Rupiah terpuruk. Sebagai solusinya, Indonesia mulai melirik diversifikasi kerja sama keuangan internasional dengan memanfaatkan mata uang alternatif lain seperti Yen (Jepang), Renminbi (China), hingga Dollar Australia. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat stabilitas moneter dalam negeri dan menjaga daya beli masyarakat tanpa harus terus-menerus “didikte” oleh kebijakan bank sentral AS. 👀 Gimana menurut kamu? Apakah langkah melepas ketergantungan dari Dollar AS ini adalah keputusan yang tepat untuk masa depan ekonomi kita? Tulis pendapatmu di kolom komentar! 👇 Sumber:Tws News   #kontencomxtws  #kontencom", "post_id": "7647125163237985544"}}, {"key": "user485991268", "attributes": {"label": "user485991268", "x": 553.8466083656658, "y": 973.3680384690937, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7647421224410189076", "id": "user485991268", "source": "tiktok-000001", "content": "penjelasan: Secara umum, narasi keperkasaan atau penyehatan Rupiah di pertengahan tahun 2026 didorong oleh beberapa faktor kunci berikut: 1. Kebijakan Moneter dan Stabilisasi Bank Indonesia (BI) Bank Indonesia memiliki komitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari volatilitas global. Langkah \"mendorong sehat\" ini diimplementasikan melalui beberapa instrumen: Intervensi Pasar: BI secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Optimasi SRBI & SVBI: Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) terbukti efektif menarik aliran modal asing (capital inflow) masuk ke pasar keuangan domestik, yang secara langsung memperkuat otot Rupiah. 2. Ekspektasi Arah Kebijakan Bank Sentral Global (The Fed) Faktor eksternal selalu memegang peranan besar terhadap fluktuasi Rupiah. Memasuki pertengahan tahun 2026, arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diharapkan sudah lebih stabil atau bahkan mulai melonggar (dovish) dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika inflasi AS mereda dan The Fed menurunkan suku bunga, indeks Dolar AS (DXY) akan melemah. Pelemahan Dolar AS ini secara otomatis memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk Rupiah, untuk bergerak menguat atau \"sehat\". 3. Kebijakan Hilirisasi dan Neraca Perdagangan Dari sisi fundamental dalam negeri, program hilirisasi komoditas (seperti nikel, tembaga, dan bauksit) serta upaya peningkatan nilai tambah ekspor terus memperkuat struktur neraca perdagangan Indonesia. Ekspor produk olahan bernilai tinggi menghasilkan devisa yang lebih stabil dan kuat. Cadangan devisa (Cadef) Indonesia yang tetap terjaga tinggi bertindak sebagai benteng pertahanan utama untuk meredam guncangan eksternal. 4. Siklus Kuartalan (Faktor Musiman Juni) Secara musiman (seasonality), bulan Mei dan Juni sering kali menjadi periode di mana tekanan terhadap Rupiah mulai mereda setelah melewati fase pembayaran dividen kepada investor asing dan pelunasan utang luar negeri yang biasanya memuncak di April-Mei. Memasuki pertengahan Juni, tekanan korporasi untuk memburu Dolar AS umumnya mulai berkurang, sehingga Rupiah berpeluang kembali ke area konsolidasi yang lebih sehat. Sumber: TWS News ig :  #kontencom #kontencomxtws #providusinsight", "post_id": "7647421224410189076"}}, {"key": "infoenergi.id", "attributes": {"label": "infoenergi.id", "x": 75.2353787359954, "y": 750.950680401036, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7522801673786395909", "id": "infoenergi.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Lonjakan subsidi listrik pada 2023 menjadi perhatian utama pemerintah. Kementerian ESDM mencatat kenaikan ini melampaui batas yang telah ditetapkan dalam APBN, dipicu oleh volatilitas harga bahan bakar fosil dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menambah beban impor. “Pemerintah perlu mencari keseimbangan antara menjaga anggaran dan melindungi masyarakat. Penyesuaian tarif hanya akan dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar perwakilan Kementerian ESDM dalam keterangannya. Sebagai solusi jangka panjang, pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan air terus didorong demi menciptakan sistem energi nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mandiri. #InfoEnergi #SubsidiListrik #EnergiTerbarukan   Indonesia", "post_id": "7522801673786395909"}}, {"key": "xvg.id", "attributes": {"label": "xvg.id", "x": 275.8872404550061, "y": 529.3806553061486, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.8947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7522801673786395909", "id": "xvg.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Lonjakan subsidi listrik pada 2023 menjadi perhatian utama pemerintah. Kementerian ESDM mencatat kenaikan ini melampaui batas yang telah ditetapkan dalam APBN, dipicu oleh volatilitas harga bahan bakar fosil dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menambah beban impor. “Pemerintah perlu mencari keseimbangan antara menjaga anggaran dan melindungi masyarakat. Penyesuaian tarif hanya akan dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar perwakilan Kementerian ESDM dalam keterangannya. Sebagai solusi jangka panjang, pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan air terus didorong demi menciptakan sistem energi nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mandiri. #InfoEnergi #SubsidiListrik #EnergiTerbarukan   Indonesia", "post_id": "7522801673786395909"}}, {"key": "VOX", "attributes": {"label": "VOX", "x": 68.25203465228869, "y": 975.1079182995322, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.8947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7522801673786395909", "id": "VOX", "source": "tiktok-000001", "content": "Lonjakan subsidi listrik pada 2023 menjadi perhatian utama pemerintah. Kementerian ESDM mencatat kenaikan ini melampaui batas yang telah ditetapkan dalam APBN, dipicu oleh volatilitas harga bahan bakar fosil dan pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menambah beban impor. “Pemerintah perlu mencari keseimbangan antara menjaga anggaran dan melindungi masyarakat. Penyesuaian tarif hanya akan dilakukan dengan sangat hati-hati,” ujar perwakilan Kementerian ESDM dalam keterangannya. Sebagai solusi jangka panjang, pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan air terus didorong demi menciptakan sistem energi nasional yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mandiri. #InfoEnergi #SubsidiListrik #EnergiTerbarukan   Indonesia", "post_id": "7522801673786395909"}}, {"key": "rel_tws", "attributes": {"label": "rel_tws", "x": 392.75571993261246, "y": 736.55771965424, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7646629504827411732", "id": "rel_tws", "source": "tiktok-000001", "content": "KEMENKEU GANTI STRATEGI, RI MULAI LEPAS DARI DOLAR AS! tradewithsuli Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangaroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif. Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish). Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portofolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah. SUMBER:TWS   #news #trending #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7646629504827411732"}}, {"key": "twsmotionnews", "attributes": {"label": "twsmotionnews", "x": 120.3177819508522, "y": 547.1008256856923, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7646711612115635476", "id": "twsmotionnews", "source": "tiktok-000001", "content": "Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif. Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish). Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portfolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah. sumber: TWS News    #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7646711612115635476"}}, {"key": "graham_di_caprio", "attributes": {"label": "graham_di_caprio", "x": 423.2263669209497, "y": 388.9693696203608, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7646319047281265936", "id": "graham_di_caprio", "source": "tiktok-000001", "content": "Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif. Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish). Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portfolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah. Sumber:TWS News #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7646319047281265936"}}, {"key": "kyy.news", "attributes": {"label": "kyy.news", "x": 336.9836512432245, "y": 493.08995940430447, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7646407162121571592", "id": "kyy.news", "source": "tiktok-000001", "content": "Pemerintah Indonesia mulai gerak konkret atasi tekanan kurs di tengah dolar AS yang sempat tembus Rp17.900 pada Jumat (29/5/2026). Detik Finance melaporkan pada Minggu (31/5/2026) Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung membuka jurus baru Kemenkeu dalam Kuliah Umum di Institut Pertanian Bogor: terbitkan surat utang dengan mata uang non-USD. Strategi pembiayaan ini fokus ke Samurai bonds (denominasi Yen Jepang), Dim Sum bonds (Renminbi China), dan Kangoroo bonds (Dolar Australia). Tujuannya jelas: kurangi ketergantungan RI terhadap dolar AS sekaligus dapat tingkat bunga yang lebih kompetitif.  Juda Agung paparkan tiga strategi fiskal utama yang diterapkan pemerintah secara konsisten: pertama, pengendalian belanja negara (jaga BBM subsidi tidak naik, efisiensi program MBG dengan pengurangan hari Sabtu, fokus belanja produktif untuk pertumbuhan & lapangan kerja). Kedua, optimalisasi penerimaan negara lewat momentum kenaikan harga komoditas plus implementasi sistem Coretax untuk perpajakan. Ketiga, strategi pembiayaan non-USD yang udah disebutkan. Buat masyarakat & investor Indonesia, ada beberapa hal yang patut dicermati dengan kritis. Pertama, strategi diversifikasi mata uang utang ini sebenarnya udah lazim dipakai negara emerging market lain (Brazil, India, Filipina). Kalau eksekusinya bagus, RI bisa kurangi exposure ke volatilitas USD. Tapi efektivitasnya tergantung volume & timing penerbitan. Kedua, performa ekonomi RI Q1 2026 menurut Kemenkeu: pertumbuhan 5,61%, inflasi terjaga 2,42%, defisit fiskal 0,64% (April), plus yield SBN terjaga. Angka ini relatif kuat di tengah tekanan global (perang Iran, inflasi AS 3,8%, BOK hawkish).  Ketiga, buat investor: pantau penerbitan SBN/SBSN dalam beberapa minggu ke depan, plus saham bank besar (BMRI, BBRI, BBNI, BBCA) yang punya treasury operations. Diversifikasi portfolio pakai sebagian instrumen non-USD bisa jadi hedging natural. Pantau katalis: implementasi DSI 1 Juni, keputusan FOMC bulan depan, plus pergerakan Yen & Renminbi terhadap rupiah.  SUMBER :TWS News   #kontencom #kontencomxtws #ekonomi", "post_id": "7646407162121571592"}}, {"key": "folknomic", "attributes": {"label": "folknomic", "x": 559.5332164199239, "y": 646.6444707127686, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomic", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}, {"key": "folknomics", "attributes": {"label": "folknomics", "x": 780.7060856018845, "y": 662.6395701501739, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomics", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}, {"key": "the.indonesia.post", "attributes": {"label": "the.indonesia.post", "x": 968.1458607674035, "y": 174.57007001071767, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7653727519434116373", "id": "the.indonesia.post", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 Menilik Proyeksi Ekonomi Klasik : Menguji Validitas Prediksi Almarhum Faisal Basri Soal Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS 💸 Peredaran kembali cuplikan video lawas berisi proyeksi ekonomi dari almarhum ekonom senior Faisal Basri mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS memicu perdebatan sengit di ruang siber, sebuah analisis makroekonomi yang menuntut validasi data riil berimbang agar tidak melahirkan kepanikan spekulatif di tingkat domestik. 📄 Berdasarkan data manifes kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis resmi oleh  pada Juni 2026, nilai tukar mata uang domestik faktualnya masih berfluktuasi dinamis di kisaran angka Rp16.200 hingga Rp16.450 per dolar AS akibat tekanan sentimen suku bunga global The Fed. 📋 Rekam jejak digital mencatat bahwa analisis kritis yang dilontarkan sang ekonom dua tahun lalu merupakan sebuah pemodelan risiko fiskal bersyarat jika pemerintah tidak taktis memitigasi pembengkakan utang luar negeri serta defisit neraca berjalan, sehingga klaim sepihak netizen yang menyebut prediksi angka ekstrem tersebut telah sepenuhnya menjadi kenyataan di pasar spot saat ini terbukti tidak akurat secara statistik. 🔍 Munculnya kembali narasi proyeksi ekonomi masa lalu di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini berdampak pada krusialnya penyajian edukasi literasi keuangan yang obyektif bagi masyarakat bawah. ✨  Peringatan dini dari para akademisi independen wajib dijadikan instrumen evaluasi berharga bagi tata kelola fiskal , namun di sisi lain, publik siber dituntut bergerak taktis menyaring arus informasi agar tidak mudah termakan framing disinformasi potongan video pendek yang mengaburkan data fundamental riil ketahanan moneter nasional. 🎯 Apa langkah paling efektif yang harus diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah saat ini?🤔 Sosial Media : MZF #TheIndonesiaPost #AnalisisRupiah #FaisalBasri #KursBankIndonesia #EkonomiNasional", "post_id": "7653727519434116373"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 177.88694787667603, "y": 186.8799939672574, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.8947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653727519434116373", "id": "bank_indonesia", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 Menilik Proyeksi Ekonomi Klasik : Menguji Validitas Prediksi Almarhum Faisal Basri Soal Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS 💸 Peredaran kembali cuplikan video lawas berisi proyeksi ekonomi dari almarhum ekonom senior Faisal Basri mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS memicu perdebatan sengit di ruang siber, sebuah analisis makroekonomi yang menuntut validasi data riil berimbang agar tidak melahirkan kepanikan spekulatif di tingkat domestik. 📄 Berdasarkan data manifes kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis resmi oleh  pada Juni 2026, nilai tukar mata uang domestik faktualnya masih berfluktuasi dinamis di kisaran angka Rp16.200 hingga Rp16.450 per dolar AS akibat tekanan sentimen suku bunga global The Fed. 📋 Rekam jejak digital mencatat bahwa analisis kritis yang dilontarkan sang ekonom dua tahun lalu merupakan sebuah pemodelan risiko fiskal bersyarat jika pemerintah tidak taktis memitigasi pembengkakan utang luar negeri serta defisit neraca berjalan, sehingga klaim sepihak netizen yang menyebut prediksi angka ekstrem tersebut telah sepenuhnya menjadi kenyataan di pasar spot saat ini terbukti tidak akurat secara statistik. 🔍 Munculnya kembali narasi proyeksi ekonomi masa lalu di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini berdampak pada krusialnya penyajian edukasi literasi keuangan yang obyektif bagi masyarakat bawah. ✨  Peringatan dini dari para akademisi independen wajib dijadikan instrumen evaluasi berharga bagi tata kelola fiskal , namun di sisi lain, publik siber dituntut bergerak taktis menyaring arus informasi agar tidak mudah termakan framing disinformasi potongan video pendek yang mengaburkan data fundamental riil ketahanan moneter nasional. 🎯 Apa langkah paling efektif yang harus diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah saat ini?🤔 Sosial Media : MZF #TheIndonesiaPost #AnalisisRupiah #FaisalBasri #KursBankIndonesia #EkonomiNasional", "post_id": "7653727519434116373"}}, {"key": "kemenkeuri", "attributes": {"label": "kemenkeuri", "x": 150.76231327773192, "y": 595.668271388103, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.8947, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653727519434116373", "id": "kemenkeuri", "source": "tiktok-000001", "content": "📉 Menilik Proyeksi Ekonomi Klasik : Menguji Validitas Prediksi Almarhum Faisal Basri Soal Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS 💸 Peredaran kembali cuplikan video lawas berisi proyeksi ekonomi dari almarhum ekonom senior Faisal Basri mengenai potensi pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS memicu perdebatan sengit di ruang siber, sebuah analisis makroekonomi yang menuntut validasi data riil berimbang agar tidak melahirkan kepanikan spekulatif di tingkat domestik. 📄 Berdasarkan data manifes kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis resmi oleh  pada Juni 2026, nilai tukar mata uang domestik faktualnya masih berfluktuasi dinamis di kisaran angka Rp16.200 hingga Rp16.450 per dolar AS akibat tekanan sentimen suku bunga global The Fed. 📋 Rekam jejak digital mencatat bahwa analisis kritis yang dilontarkan sang ekonom dua tahun lalu merupakan sebuah pemodelan risiko fiskal bersyarat jika pemerintah tidak taktis memitigasi pembengkakan utang luar negeri serta defisit neraca berjalan, sehingga klaim sepihak netizen yang menyebut prediksi angka ekstrem tersebut telah sepenuhnya menjadi kenyataan di pasar spot saat ini terbukti tidak akurat secara statistik. 🔍 Munculnya kembali narasi proyeksi ekonomi masa lalu di tengah volatilitas pasar keuangan saat ini berdampak pada krusialnya penyajian edukasi literasi keuangan yang obyektif bagi masyarakat bawah. ✨  Peringatan dini dari para akademisi independen wajib dijadikan instrumen evaluasi berharga bagi tata kelola fiskal , namun di sisi lain, publik siber dituntut bergerak taktis menyaring arus informasi agar tidak mudah termakan framing disinformasi potongan video pendek yang mengaburkan data fundamental riil ketahanan moneter nasional. 🎯 Apa langkah paling efektif yang harus diambil Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas Rupiah saat ini?🤔 Sosial Media : MZF #TheIndonesiaPost #AnalisisRupiah #FaisalBasri #KursBankIndonesia #EkonomiNasional", "post_id": "7653727519434116373"}}, {"key": "indonesia_biru", "attributes": {"label": "indonesia_biru", "x": 959.6415642463359, "y": 469.52134217515453, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7651559575027502357", "id": "indonesia_biru", "source": "tiktok-000001", "content": "Rencana kebijakan tapering dari The Fed pada tahun 2013 sempat memicu arus modal keluar (capital outflow) besar-besaran yang memukul mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, Bank Indonesia mencatat Rupiah merosot tajam hingga 20,8% sepanjang tahun tersebut hingga menyentuh level Rp12.170 per dolar AS. Gejolak ini kian diperparah oleh tantangan domestik yang kompleks, mulai dari defisit transaksi berjalan yang membengkak akibat tingginya impor minyak dan subsidi BBM, hingga menurunnya kepercayaan para investor global. Menghadapi situasi kritis tersebut, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Bank Indonesia langsung bergerak cepat mengombinasikan kebijakan fiskal dan moneter yang agresif. Langkah nyata mulai dari menaikkan BI Rate, melakukan intervensi pasar menggunakan cadangan devisa, hingga merilis empat paket kebijakan ekonomi terbukti ampuh meredam volatilitas pasar. Respons yang realistis tanpa sekadar retorika ini dinilai sukses memenangkan kembali kepercayaan pasar dalam menghadapi era \"normal baru\" ekonomi saat itu. Video:   #fyp #trending #viral #fypシ #beritaterkini #beritaterbaru #prabowo #prabowosubianto #gibranrakabuming #gibran #indonesiabiru #ahy #sby #partaidemokrat", "post_id": "7651559575027502357"}}, {"key": "bigalphaid", "attributes": {"label": "bigalphaid", "x": 87.74291426240066, "y": 919.328068946966, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7651559575027502357", "id": "bigalphaid", "source": "tiktok-000001", "content": "Rencana kebijakan tapering dari The Fed pada tahun 2013 sempat memicu arus modal keluar (capital outflow) besar-besaran yang memukul mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, Bank Indonesia mencatat Rupiah merosot tajam hingga 20,8% sepanjang tahun tersebut hingga menyentuh level Rp12.170 per dolar AS. Gejolak ini kian diperparah oleh tantangan domestik yang kompleks, mulai dari defisit transaksi berjalan yang membengkak akibat tingginya impor minyak dan subsidi BBM, hingga menurunnya kepercayaan para investor global. Menghadapi situasi kritis tersebut, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Bank Indonesia langsung bergerak cepat mengombinasikan kebijakan fiskal dan moneter yang agresif. Langkah nyata mulai dari menaikkan BI Rate, melakukan intervensi pasar menggunakan cadangan devisa, hingga merilis empat paket kebijakan ekonomi terbukti ampuh meredam volatilitas pasar. Respons yang realistis tanpa sekadar retorika ini dinilai sukses memenangkan kembali kepercayaan pasar dalam menghadapi era \"normal baru\" ekonomi saat itu. Video:   #fyp #trending #viral #fypシ #beritaterkini #beritaterbaru #prabowo #prabowosubianto #gibranrakabuming #gibran #indonesiabiru #ahy #sby #partaidemokrat", "post_id": "7651559575027502357"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 33.417815400246575, "y": 408.1629868144901, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "uQtNLBB2wlQ", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "JANGAN PANIK JUAL SAHAM! Siklus Uang Global & Peluang Emas IHSG! WAWASAN CERDAS\n\n00:06 Misteri 15 Juni 2026\n07:46 Menavigasi Gejolak Energi Global, Manuver \"Panda Bonds\", dan Rotasi Sektoral IHSG\n14:38 Membongkar Ilusi Turun Kasta \"Frontier Market\"\n22:44 Membaca Arah Arus Uang\n30:00 KESIMPULAN AKHIR\n\nPernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya triliunan Rupiah dana asing saat IHSG tiba-tiba memerah parah? Apakah fundamental ekonomi Indonesia sedang hancur, atau kita hanya sedang terjebak dalam ilusi dari sebuah siklus likuiditas raksasa? Selamat datang di Wawasan Cerdas! Di video kali ini, kita akan membedah secara tuntas dan logis mengapa penurunan pasar saham seringkali bukanlah kiamat finansial, melainkan \"Fase Sedotan Likuiditas Global\" yang diatur oleh Smart Money.\n\nBanyak investor ritel panik dan termakan narasi ketakutan (FUD) yang menyebutkan bahwa IHSG akan turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Mari kita luruskan faktanya: narasi tersebut adalah FUD kualitas rendah! Syarat sebuah negara bertahan di Emerging Market MSCI bergantung pada likuiditas, kapitalisasi, dan stabilitas fundamental, di mana Indonesia memiliki cadangan devisa dan perbankan Big 4 yang bernilai ribuan triliun. Bursa kita terlalu besar untuk dibuang ke Frontier Market.\n\nLalu, apa \"monster\" sebenarnya yang membuat saham-saham raksasa kita digebuk asing? Jawabannya ada pada dua hal: Siklus Likuiditas Wall Street dan Rebalancing MSCI. Saat terjadi hajatan besar atau tren masif di bursa global (seperti mega IPO), para Fund Manager dunia wajib menarik dana dari pasar berkembang (termasuk IHSG) untuk ikut berpesta. Selain itu, jika negara tetangga seperti Vietnam mengalami kenaikan bobot di indeks MSCI, secara matematis (pro-rata), manajer investasi global yang menggunakan robot algoritma wajib menjual sebagian saham perusahaan Indonesia untuk menyesuaikan porsi portofolio mereka. Mereka menjual saham perbankan raksasa kita bukan karena fundamentalnya buruk, melainkan murni urusan administratif indeks dan butuh uang tunai cepat!\n\nNamun, di setiap kepanikan selalu ada peluang emas. Di sinilah letak perpindahan kekayaan dari mereka yang tidak sabar kepada mereka yang mengerti peta makroekonomi. Ketika masa penjatahan (allotment) dan refund IPO global selesai, triliunan \"uang kembalian\" akan kembali cair. Para Fund Manager benci dengan uang tunai yang menganggur (Fenomena Cash Drag), apalagi menjelang deadline Window Dressing kuartal kedua, sehingga uang tersebut akan kembali membanjiri bursa negara berkembang yang valuasinya sedang murah.\n\nDi video ini, Wawasan Cerdas juga membahas anatomi rotasi sektoral yang wajib Anda pahami untuk mencari saham yang salah harga (mispriced). Mulai dari saham Perbankan Big 4 (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) yang menjadi \"pintu gerbang\" pertama masuknya kembali dana asing, hingga emiten Energi dan Batu Bara (seperti ITMG, ADRO, ADMR) yang menjadi benteng pertahanan dividen terbaik di tengah gejolak rantai pasok energi global. Kita juga akan mengupas efek manuver pemerintah dengan \"Panda Bonds\" untuk melawan hegemoni Dolar AS.\n\nPenurunan saham-saham penopang IHSG saat ini bukanlah cerminan kebangkrutan ekonomi, melainkan krisis likuiditas temporer. Tugas kita sebagai investor cerdas bukan ikut-ikutan panik atau cut loss di harga dasar. Tugas kita adalah membaca big picture, menjaga cash, dan melakukan bottom fishing bersama institusi domestik.\n\nTonton video ini sampai habis agar Anda tidak lagi terjebak jebakan bandar dan volatilitas indeks! Jangan lupa klik tombol LIKE, SUBSCRIBE ke channel Wawasan Cerdas, dan bagikan video ini ke grup investasi Anda agar semakin banyak ritel yang teredukasi!\n\n\n#IHSG #Saham #InvestasiSaham #WawasanCerdas #SmartMoney #BelajarSaham #BursaEfekIndonesia #SahamBank #SahamBatuBara #DividenSaham #AnalisaSaham #TradingSaham #Investasi #CuanSaham #Keuangan #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "uQtNLBB2wlQ"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 647.878003408155, "y": 993.4582573044137, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "uQtNLBB2wlQ", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "JANGAN PANIK JUAL SAHAM! Siklus Uang Global & Peluang Emas IHSG! WAWASAN CERDAS\n\n00:06 Misteri 15 Juni 2026\n07:46 Menavigasi Gejolak Energi Global, Manuver \"Panda Bonds\", dan Rotasi Sektoral IHSG\n14:38 Membongkar Ilusi Turun Kasta \"Frontier Market\"\n22:44 Membaca Arah Arus Uang\n30:00 KESIMPULAN AKHIR\n\nPernahkah Anda bertanya-tanya, ke mana perginya triliunan Rupiah dana asing saat IHSG tiba-tiba memerah parah? Apakah fundamental ekonomi Indonesia sedang hancur, atau kita hanya sedang terjebak dalam ilusi dari sebuah siklus likuiditas raksasa? Selamat datang di Wawasan Cerdas! Di video kali ini, kita akan membedah secara tuntas dan logis mengapa penurunan pasar saham seringkali bukanlah kiamat finansial, melainkan \"Fase Sedotan Likuiditas Global\" yang diatur oleh Smart Money.\n\nBanyak investor ritel panik dan termakan narasi ketakutan (FUD) yang menyebutkan bahwa IHSG akan turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Mari kita luruskan faktanya: narasi tersebut adalah FUD kualitas rendah! Syarat sebuah negara bertahan di Emerging Market MSCI bergantung pada likuiditas, kapitalisasi, dan stabilitas fundamental, di mana Indonesia memiliki cadangan devisa dan perbankan Big 4 yang bernilai ribuan triliun. Bursa kita terlalu besar untuk dibuang ke Frontier Market.\n\nLalu, apa \"monster\" sebenarnya yang membuat saham-saham raksasa kita digebuk asing? Jawabannya ada pada dua hal: Siklus Likuiditas Wall Street dan Rebalancing MSCI. Saat terjadi hajatan besar atau tren masif di bursa global (seperti mega IPO), para Fund Manager dunia wajib menarik dana dari pasar berkembang (termasuk IHSG) untuk ikut berpesta. Selain itu, jika negara tetangga seperti Vietnam mengalami kenaikan bobot di indeks MSCI, secara matematis (pro-rata), manajer investasi global yang menggunakan robot algoritma wajib menjual sebagian saham perusahaan Indonesia untuk menyesuaikan porsi portofolio mereka. Mereka menjual saham perbankan raksasa kita bukan karena fundamentalnya buruk, melainkan murni urusan administratif indeks dan butuh uang tunai cepat!\n\nNamun, di setiap kepanikan selalu ada peluang emas. Di sinilah letak perpindahan kekayaan dari mereka yang tidak sabar kepada mereka yang mengerti peta makroekonomi. Ketika masa penjatahan (allotment) dan refund IPO global selesai, triliunan \"uang kembalian\" akan kembali cair. Para Fund Manager benci dengan uang tunai yang menganggur (Fenomena Cash Drag), apalagi menjelang deadline Window Dressing kuartal kedua, sehingga uang tersebut akan kembali membanjiri bursa negara berkembang yang valuasinya sedang murah.\n\nDi video ini, Wawasan Cerdas juga membahas anatomi rotasi sektoral yang wajib Anda pahami untuk mencari saham yang salah harga (mispriced). Mulai dari saham Perbankan Big 4 (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI) yang menjadi \"pintu gerbang\" pertama masuknya kembali dana asing, hingga emiten Energi dan Batu Bara (seperti ITMG, ADRO, ADMR) yang menjadi benteng pertahanan dividen terbaik di tengah gejolak rantai pasok energi global. Kita juga akan mengupas efek manuver pemerintah dengan \"Panda Bonds\" untuk melawan hegemoni Dolar AS.\n\nPenurunan saham-saham penopang IHSG saat ini bukanlah cerminan kebangkrutan ekonomi, melainkan krisis likuiditas temporer. Tugas kita sebagai investor cerdas bukan ikut-ikutan panik atau cut loss di harga dasar. Tugas kita adalah membaca big picture, menjaga cash, dan melakukan bottom fishing bersama institusi domestik.\n\nTonton video ini sampai habis agar Anda tidak lagi terjebak jebakan bandar dan volatilitas indeks! Jangan lupa klik tombol LIKE, SUBSCRIBE ke channel Wawasan Cerdas, dan bagikan video ini ke grup investasi Anda agar semakin banyak ritel yang teredukasi!\n\n\n#IHSG #Saham #InvestasiSaham #WawasanCerdas #SmartMoney #BelajarSaham #BursaEfekIndonesia #SahamBank #SahamBatuBara #DividenSaham #AnalisaSaham #TradingSaham #Investasi #CuanSaham #Keuangan #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "uQtNLBB2wlQ"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 401.6022204731858, "y": 557.0361892184732, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 48.41287990419008, "y": 583.5652303673074, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.3425, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 199.53181909571217, "y": 414.3606873709306, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.3425, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 303.98351716696493, "y": 632.6366974664257, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.3425, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 684.1177519043488, "y": 504.90695175135716, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.3425, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 39.00799005284439, "y": 740.6418574384239, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.3425, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "GdCMfKuLIrs", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "BI Minta Masyarakat Tak Panic Buying Dolar AS, Ini Alasannya | MILENOMICS\n\nBank Indonesia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memborong dolar Amerika Serikat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Otoritas moneter menilai perilaku panic buying di pasar valuta asing justru dapat memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan domestik.\n\nBank Indonesia menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional masih relatif terjaga meski rupiah mengalami tekanan akibat sentimen global seperti penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, hingga ketidakpastian geopolitik dunia.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "GdCMfKuLIrs"}}, {"key": "@BennixInvestasi", "attributes": {"label": "@BennixInvestasi", "x": 850.2071682288876, "y": 102.78017371942927, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "KAajE99kMig", "id": "@BennixInvestasi", "source": "youtube-000001", "content": "Menavigasi Krisis Rupiah dan Munculnya Obligasi Panda\n\nTranskrip YouTube ini menyajikan analisis kritis tentang *devaluasi signifikan Rupiah Indonesia* dan seruan yang muncul akibatnya agar *Gubernur Bank Indonesia mengundurkan diri**. Pembicara berpendapat bahwa **ketergantungan besar negara pada impor* untuk barang-barang kebutuhan pokok dan *utang besar dalam denominasi dolar AS* adalah pendorong utama ketidakstabilan ekonomi ini. Untuk mengatasi hal ini, sumber tersebut menyarankan pergeseran agresif menuju *industri berorientasi ekspor* dan penerapan strategi *substitusi impor* untuk mempertahankan kekayaan domestik. Lebih lanjut, pembuat video menganjurkan *de-dolarisasi* melalui penerbitan *\"Obligasi Panda\"* dalam Yuan Tiongkok untuk mendiversifikasi utang dan mengurangi kerentanan terhadap pengaruh keuangan Amerika. Terakhir, video tersebut mempromosikan *kelas master pasar saham* yang dirancang untuk membantu investor memperoleh keuntungan dari volatilitas pasar dan mengidentifikasi perusahaan yang berkembang meskipun mata uang melemah.\n\nReferensi dari chanel YouTube Bennix :\n‎   /", "post_id": "KAajE99kMig"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 482.53338713336944, "y": 570.8861521568223, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "KAajE99kMig", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "Menavigasi Krisis Rupiah dan Munculnya Obligasi Panda\n\nTranskrip YouTube ini menyajikan analisis kritis tentang *devaluasi signifikan Rupiah Indonesia* dan seruan yang muncul akibatnya agar *Gubernur Bank Indonesia mengundurkan diri**. Pembicara berpendapat bahwa **ketergantungan besar negara pada impor* untuk barang-barang kebutuhan pokok dan *utang besar dalam denominasi dolar AS* adalah pendorong utama ketidakstabilan ekonomi ini. Untuk mengatasi hal ini, sumber tersebut menyarankan pergeseran agresif menuju *industri berorientasi ekspor* dan penerapan strategi *substitusi impor* untuk mempertahankan kekayaan domestik. Lebih lanjut, pembuat video menganjurkan *de-dolarisasi* melalui penerbitan *\"Obligasi Panda\"* dalam Yuan Tiongkok untuk mendiversifikasi utang dan mengurangi kerentanan terhadap pengaruh keuangan Amerika. Terakhir, video tersebut mempromosikan *kelas master pasar saham* yang dirancang untuk membantu investor memperoleh keuntungan dari volatilitas pasar dan mengidentifikasi perusahaan yang berkembang meskipun mata uang melemah.\n\nReferensi dari chanel YouTube Bennix :\n‎   /", "post_id": "KAajE99kMig"}}, {"key": "@kompastvmedan", "attributes": {"label": "@kompastvmedan", "x": 152.2684721707782, "y": 362.490552882621, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 16.0664, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "1FoTQh0Ik5A", "id": "@kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah, BI Imbau Warga Tak Panic Buying Dolar AS\n\nKOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.\n\nDirektur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.\n\nBank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.\n\nMenurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.\n\nSebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.\n\n#rupiah #dolaras #bankindonesia\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "1FoTQh0Ik5A"}}, {"key": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "kompastvmedan", "x": 351.96687753732823, "y": 147.14688130125452, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 29.7229, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1FoTQh0Ik5A", "id": "kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah, BI Imbau Warga Tak Panic Buying Dolar AS\n\nKOMPAS.TV - Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying atau memborong dolar Amerika Serikat. Tindakan panic buying dinilai berpotensi memperparah volatilitas rupiah.\n\nDirektur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A. Cussoy Intama, membandingkan panic buying dolar Amerika Serikat yang terjadi saat ini dengan panic buying pangan saat pandemi Covid-19.\n\nBank Indonesia meminta masyarakat membeli dolar Amerika Serikat hanya saat dibutuhkan. Meski demikian, BI memastikan kondisi likuiditas dolar Amerika Serikat di dalam negeri tetap aman. Pasokan valas untuk memenuhi kebutuhan money changer atau Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing (KUPVA) masih sangat memadai.\n\nMenurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, rupiah yang terus melemah ke level terendah sepanjang sejarah disebabkan meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri. Kenaikan permintaan dolar terjadi memasuki musim pembayaran dividen perusahaan dan penyelenggaraan ibadah haji.\n\nSebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons rupiah yang terus melemah hingga menembus level di atas Rp17.800 per dolar AS. Meski rupiah terus mengalami tekanan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ke depan rupiah bakal tetap terkendali.\n\n#rupiah #dolaras #bankindonesia\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "1FoTQh0Ik5A"}}], "edges": [{"key": "idx_channel", "source": "idx_channel", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "beldocuan", "source": "beldocuan", "target": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "beldocuan", "source": "beldocuan", "target": "BELDOCUAN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "beldocuan", "source": "beldocuan", "target": "beldocuanfreeforum", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "rri_sintang", "source": "rri_sintang", "target": "rriprograma3", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "financialclub11", "source": "financialclub11", "target": "akademicryptocom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "syahputra_247", "source": "syahputra_247", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "moon.clipers", "source": "moon.clipers", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "fallclips2", "source": "fallclips2", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "wann_tws", "source": "wann_tws", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "user485991268", "source": "user485991268", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "infoenergi.id", "source": "infoenergi.id", "target": "xvg.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "infoenergi.id", "source": "infoenergi.id", "target": "VOX", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "rel_tws", "source": "rel_tws", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "twsmotionnews", "source": "twsmotionnews", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "graham_di_caprio", "source": "graham_di_caprio", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "kyy.news", "source": "kyy.news", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "folknomic", "source": "folknomic", "target": "folknomics", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "the.indonesia.post", "source": "the.indonesia.post", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "the.indonesia.post", "source": "the.indonesia.post", "target": "kemenkeuri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "indonesia_biru", "source": "indonesia_biru", "target": "bigalphaid", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BennixInvestasi", "source": "@BennixInvestasi", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}