{"nodes": [{"key": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "Rahadi0816", "x": 338.25318174306653, "y": 852.4398620867157, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 33.1323, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 2, "degree": 8}, "_id": "2068823920720142727", "id": "Rahadi0816", "source": "retweet-000002", "content": "menentukan:\n- Pelemahan rupiah.\n- Penurunan pasar saham.\n- Capital flight.\n- Perlambatan pertumbuhan ekonomi.\nJika terjadi,…", "post_id": "2068823920720142727"}}, {"key": "Rahadi240987455", "attributes": {"label": "Rahadi240987455", "x": 61.335200979479644, "y": 925.2670167510836, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068698785828819145", "id": "Rahadi240987455", "source": "retweet-000002", "content": "menentukan:\n- Pelemahan rupiah.\n- Penurunan pasar saham.\n- Capital flight.\n- Perlambatan pertumbuhan ekonomi.\nJika terjadi,…", "post_id": "2068698785828819145"}}, {"key": "satunusa185593", "attributes": {"label": "satunusa185593", "x": 49.519954020355584, "y": 485.3906123842637, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068700003938574842", "id": "satunusa185593", "source": "retweet-000002", "content": "menentukan:\n- Pelemahan rupiah.\n- Penurunan pasar saham.\n- Capital flight.\n- Perlambatan pertumbuhan ekonomi.\nJika terjadi,…", "post_id": "2068700003938574842"}}, {"key": "AzmiFaiqoh", "attributes": {"label": "AzmiFaiqoh", "x": 616.2771168466619, "y": 747.8675867543441, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2063071128516796915", "id": "AzmiFaiqoh", "source": "tweet-000004", "content": "Menkeu terus denial soal semua indikator ekonomi kita jeblok dgn dalih fundamental ekonomi Indo bagus. Padahal IHSG aja masih bergantung modal asing, pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi domestik bkn krna aktivitas perdagangan antar negara yg mutual. Investor kabur dll.", "post_id": "2063071128516796915"}}, {"key": "yayaggp", "attributes": {"label": "yayaggp", "x": 314.86053091476396, "y": 341.24870214478796, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.6744, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2063071128516796915", "id": "yayaggp", "source": "tweet-000004", "content": "Menkeu terus denial soal semua indikator ekonomi kita jeblok dgn dalih fundamental ekonomi Indo bagus. Padahal IHSG aja masih bergantung modal asing, pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi domestik bkn krna aktivitas perdagangan antar negara yg mutual. Investor kabur dll.", "post_id": "2063071128516796915"}}, {"key": "hrdbacot", "attributes": {"label": "hrdbacot", "x": 331.63442858203973, "y": 928.8466160421575, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.6744, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2063071128516796915", "id": "hrdbacot", "source": "tweet-000004", "content": "Menkeu terus denial soal semua indikator ekonomi kita jeblok dgn dalih fundamental ekonomi Indo bagus. Padahal IHSG aja masih bergantung modal asing, pertumbuhan ekonomi ditopang konsumsi domestik bkn krna aktivitas perdagangan antar negara yg mutual. Investor kabur dll.", "post_id": "2063071128516796915"}}, {"key": "__RismaWidiono_", "attributes": {"label": "__RismaWidiono_", "x": 206.03761291452494, "y": 336.55885547810294, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "1577959118710923265", "id": "__RismaWidiono_", "source": "tweet-000004", "content": "Gubernur  terus menggenjot pertumbuhan ekonomi di Jateng melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) & Penanaman Modal Asing (PMA) alias investasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendatangkan investasi ke Jateng dari berbagai sektor, khususya kawasan industri. https://t.co/Ls4sE9ogRD", "post_id": "1577959118710923265"}}, {"key": "ganjarpranowo", "attributes": {"label": "ganjarpranowo", "x": 666.9716689281804, "y": 462.509368918643, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1577959118710923265", "id": "ganjarpranowo", "source": "tweet-000004", "content": "Gubernur  terus menggenjot pertumbuhan ekonomi di Jateng melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) & Penanaman Modal Asing (PMA) alias investasi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendatangkan investasi ke Jateng dari berbagai sektor, khususya kawasan industri. https://t.co/Ls4sE9ogRD", "post_id": "1577959118710923265"}}, {"key": "_fadln", "attributes": {"label": "_fadln", "x": 731.3627121084583, "y": 176.39891111787708, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2064626721983492154", "id": "_fadln", "source": "tweet-000004", "content": "Niatnya mau nyajiin pertumbuhan ekonomi 8%, tapi yg mateng duluan malah kecemasan investor luar negeri. Hukum alam modal asing itu simpel: mereka suka stabilitas yang membosankan, bukan kejutan yang bikin jantungan.", "post_id": "2064626721983492154"}}, {"key": "TxtdariHI", "attributes": {"label": "TxtdariHI", "x": 976.5504190355056, "y": 829.110110707539, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2064626721983492154", "id": "TxtdariHI", "source": "tweet-000004", "content": "Niatnya mau nyajiin pertumbuhan ekonomi 8%, tapi yg mateng duluan malah kecemasan investor luar negeri. Hukum alam modal asing itu simpel: mereka suka stabilitas yang membosankan, bukan kejutan yang bikin jantungan.", "post_id": "2064626721983492154"}}, {"key": "p0congg", "attributes": {"label": "p0congg", "x": 908.0562781793449, "y": 685.5267479917173, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2069198314374103319", "id": "p0congg", "source": "tweet-000004", "content": "Buset mainnya pertumbuhan ekonomi nih, 02 voters ya bang wkwk \n\nJokowi meskipun pertumbuhan stuck di 5%, tapi Jokowi gak ngecheat dengan MBG, Pertumbuhan ekonomi kok melejit gara gara gov spending wkwk.\n\nApa dana inflow 60 T ? Bukannya 100 hari pertama dana outflow 31 T bang wkwk", "post_id": "2069198314374103319"}}, {"key": "ramzanrachmat", "attributes": {"label": "ramzanrachmat", "x": 45.13916319267164, "y": 292.0557312279933, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.6744, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069198314374103319", "id": "ramzanrachmat", "source": "tweet-000004", "content": "Buset mainnya pertumbuhan ekonomi nih, 02 voters ya bang wkwk \n\nJokowi meskipun pertumbuhan stuck di 5%, tapi Jokowi gak ngecheat dengan MBG, Pertumbuhan ekonomi kok melejit gara gara gov spending wkwk.\n\nApa dana inflow 60 T ? Bukannya 100 hari pertama dana outflow 31 T bang wkwk", "post_id": "2069198314374103319"}}, {"key": "radjathaher", "attributes": {"label": "radjathaher", "x": 620.1138625235624, "y": 961.2313745650056, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.6744, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069198314374103319", "id": "radjathaher", "source": "tweet-000004", "content": "Buset mainnya pertumbuhan ekonomi nih, 02 voters ya bang wkwk \n\nJokowi meskipun pertumbuhan stuck di 5%, tapi Jokowi gak ngecheat dengan MBG, Pertumbuhan ekonomi kok melejit gara gara gov spending wkwk.\n\nApa dana inflow 60 T ? Bukannya 100 hari pertama dana outflow 31 T bang wkwk", "post_id": "2069198314374103319"}}, {"key": "ekbisbanten", "attributes": {"label": "ekbisbanten", "x": 280.4966195355716, "y": 924.0099890595261, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 17.9093, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3912493921411007791_16114438269", "id": "ekbisbanten", "source": "instagram-000001", "content": "Infografis: 10 Investor Raksasa Kabupaten Serang Triwulan I 2026\n\nKabupaten Serang membukukan realisasi investasi signifikan pada Triwulan I 2026 yang masih didominasi sektor kimia, petrokimia, dan manufaktur. PT Chandra Asri Pacific tercatat sebagai investor terbesar dengan nilai Rp4,64 triliun, diikuti sejumlah perusahaan penanaman modal asing dan domestik lainnya. Capaian ini menunjukkan penguatan aktivitas investasi di kawasan industri Serang sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Banten.\n\nSelengkapnya artikel ini telah tayang klik di bawah ini 👇👇 \n\nhttps://ekbisbanten.com/berita/infografis-10-investor-raksasa-kabupaten-serang-triwulan-i-2026/\n\nFollow dan dukung terus update berita, bisnis, ekonomi, hingga info terkini dari kami \n\nInstagram & TikTok :  \nFacebook & YouTube : Ekbis Banten \n\nJangan sampai ketinggalan informasi penting seputar Banten.\n\n#ekbisbanten #InvestasiSerang #ChandraAsri #KabupatenSerang #EkonomiBanten", "post_id": "3912493921411007791_16114438269"}}, {"key": "swamediainc", "attributes": {"label": "swamediainc", "x": 398.21670879975136, "y": 73.95072937189107, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 68.6517, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3909967106100467095_282076797", "id": "swamediainc", "source": "instagram-000001", "content": "Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,1–5,3%, dengan permintaan domestik tetap menjadi penggerak utama. Pada kuartal I 2026, PDB Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan, tertinggi sejak kuartal III 2022, didorong oleh konsumsi rumah tangga, percepatan belanja pemerintah, dan investasi yang masih resilien. Namun secara kuartalan ekonomi masih terkontraksi 0,77% akibat faktor musiman seperti Ramadan, Idulfitri, dan basis pembanding yang rendah.\n\nChief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut konsumsi rumah tangga tumbuh menjadi 5,52% dan belanja pemerintah melonjak 21,31% berkat percepatan realisasi fiskal serta program prioritas seperti MBG. Sementara itu, investasi tetap tumbuh meski melambat, dan ekspor hanya naik tipis di tengah ketidakpastian global akibat perang dagang dan konflik geopolitik. Secara sektoral, akomodasi serta makanan-minuman mencatat pertumbuhan tertinggi, sedangkan manufaktur dan pertambangan mengalami perlambatan.\n\nMeski kinerja ekonomi dinilai positif, PIER menilai kualitas pertumbuhan masih perlu diperkuat karena belum sepenuhnya ditopang investasi swasta yang berkelanjutan. Tekanan terlihat dari pelemahan manufaktur, kehati-hatian perekrutan tenaga kerja, arus keluar modal asing, serta risiko pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi. Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, daya beli masyarakat, investasi produktif, serta penciptaan lapangan kerja formal.\n\nBerita selengkapnya dan informasi bisnis lainnya, baca https://swagroup.id/bankpermata\n\n………………………………………………………………………………………………\n\nUntuk Berita dan informasi ekonomi bisnis terkini, silakan kunjungi www.swa.co.id\n\nJangan lupa follow, like and tag  di IG, Tiktok, Linkedin, X, dan Youtube\n\n#PermataBank\n#SWAMediaInc\n#SWAOnline\n#BacaSWAaja", "post_id": "3909967106100467095_282076797"}}, {"key": "idntimes.video", "attributes": {"label": "idntimes.video", "x": 898.0238625290468, "y": 482.1986951693231, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 0, "out_degree": 9, "degree": 9}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "idntimes.video", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes", "attributes": {"label": "IDNTimes", "x": 90.3570135643248, "y": 576.5449253342857, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "IDNTimes", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Korea", "attributes": {"label": "IDNTimes.Korea", "x": 987.5715879225352, "y": 642.2526354377028, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "IDNTimes.Korea", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Community", "attributes": {"label": "IDNTimes.Community", "x": 906.3815841863467, "y": 68.80585800548877, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "IDNTimes.Community", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "IDNTimes.Hype", "attributes": {"label": "IDNTimes.Hype", "x": 550.3659117263555, "y": 436.90830559916213, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "IDNTimes.Hype", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "Duniaku_com", "attributes": {"label": "Duniaku_com", "x": 258.49337446513596, "y": 455.53991264298764, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "Duniaku_com", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "Popbela_com", "attributes": {"label": "Popbela_com", "x": 669.1914033364741, "y": 745.3113291301725, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "Popbela_com", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "Popbela.Beauty", "attributes": {"label": "Popbela.Beauty", "x": 617.8801400444098, "y": 191.2435598415335, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "Popbela.Beauty", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "Popmama_com", "attributes": {"label": "Popmama_com", "x": 436.0879619336373, "y": 724.2028276312512, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "Popmama_com", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "Yummy.idn", "attributes": {"label": "Yummy.idn", "x": 519.0155753879231, "y": 547.5646036261876, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 11.2704, "eigenvector": 100.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916886049691584245_2089700769", "id": "Yummy.idn", "source": "instagram-000001", "content": "Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027\n\nJakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.\n\n\"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS,\" ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026)\nFaktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.\n\n\"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah,\" jelasnya.\n\nSelain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.\n\nBaca selengkapnya di www.idntimes.com\n\nReporter : Triyan Pangastuti\nEditor : Mikho Fridolin Siahaan\n\nIDN Times - Download IDN App di Google Play Store & App Store\nIkuti terus perkembangannya hanya di IDN Times, ya.\n\nArtikel IDN Times sekarang bisa dibaca di IDN App, lho, download sekarang di Google Play Store & App Store!\nTemukan info TERBARU lainnya:         \n\n#IDNTimes #SuaraMillenial #GenZMemilih #Rupiah #DolarAS #Ekonomi", "post_id": "3916886049691584245_2089700769"}}, {"key": "benkemashurie", "attributes": {"label": "benkemashurie", "x": 225.85252527315737, "y": 851.9344864104157, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7640107250501029128", "id": "benkemashurie", "source": "tiktok-000001", "content": "Di bawah langit Jakarta yang kerap diselimuti ketidakpastian ekonomi dan hukum, sebuah eksperimen politik terbesar di Asia Tenggara sedang berlangsung. Ketika Jenderal (Purn.)  Subianto resmi menduduki kursi kepresidenan, dunia barat, yang diwakili oleh koridor jurnalisme tajam #London  melalui #theeconomist , segera membunyikan alarm tanda bahaya. ​Bagi majalah ekonomi berusia satu abad lebih tersebut, kepemimpinan #prabowo  dipandang seperti membaca sebuah manual lama. Kombinasi mengkhawatirkan antara nasionalisme ekonomi yang proteksionis dan insting otoriter yg berakar dr era Orba. ​Tp, apakah kecemasan London mencerminkan realitas di lapangan, ataukah ini sekadar kepanikan khas liberalisme Barat yang cenderung tidak selalu benar membaca arah bahtera Nusantara? Yg pasti ​The Economist tidak pernah ragu menaruh skeptisisme mereka di atas meja. Inti dari kritik mereka terhadap presiden kedelapan Indonesia ini bermuara pada dua poros. Yaitu pemborosan fiskal yang membahayakan dan pengerutan ruang demokrasi (democrative backsliding). ​Secara ekonomi, London memandang target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Prabowo sebagai ambisi yang dipaksakan. Proyek mercusuar seperti Program Makan Bergizi Gratis untuk puluhan juta anak, restrukturisasi kabinet raksasa (Kabinet Merah Putih), hingga pembentukan sovereign wealth fund raksasa Danantara dinilai Barat sebagai langkah statisme. Di mana negara terlalu mendominasi pasar dan berisiko membebani APBN secara ugal-ugalan. Di sisi lain, dari lensa politik, rekam jejak militer Prabowo dan retorika anti-neoliberalismenya membangkitkan hantu masa lalu. The Economist khawatir bahwa konsolidasi kekuatan politik yang merangkul hampir seluruh partai oposisi ke dalam koalisi pemerintah akan membunuh fungsi kontrol parlemen, melahirkan kembali sentralisme kekuasaan yang dulu diperjuangkan untuk runtuh pada tahun 1998. ​Jika kita mengesampingkan analisa The Economist dan melihat data empiris, lanskap yang terlihat justru jauh lebih berwarna. ​The Economist meramalkan guncangan ekonomi, tetapi data makroekonomi menunjukkan mesin domestik Indonesia justru cukup tangguh bertahan dari ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi kuartal awal berada di kisaran solid 5,1% hingga 5,5%. ​Kebijakan hilirisasi sumber daya alam, yang awalnya dikritik Barat sebagai langkah proteksionis, terbukti terus mendatangkan Penanaman Modal Asing (PMA) yang kini melampaui investasi domestik. Sementara itu, super-holding Danantara yang dikhawatirkan mengaburkan batasan korporasi negara, diproyeksikan mulai menyetor dividen masif bagi kas negara. ​Benarkah Prabowo terlalu otoriter? Karakter kepemimpinan Prabowo memang tegas, paternalistik, dan kerap meledak-ledak saat mengkritik sistem kapitalisme global. Di berbagai podium, ia secara terbuka menyebut ekonomi trickle-down effect ala neoliberal sebagai mitos abadi. Buktinya, \"Sudah 200 tahun dan tidak ada satu tetes pun yang menetes ke bawah.\" ​Namun, alih-alih memerintah dengan tangan besi yang represif, pendekatan kekuasaan yang digunakannya lebih condong pada inklusivitas elite. Mengadopsi taktik pendahulunya, Joko Widodo, Prabowo merangkul lawan politiknya ke dalam lingkaran kekuasaan. Bagi Barat, ini adalah \"pembunuhan oposisi\". Namun bagi stabilitas domestik, ini adalah cara khas Indonesia meredam riak politik demi menjamin kepastian investasi. ​Ketidakcocokan mendasar antara analisis The Economist dan realitas Indonesia terletak pada perbedaan cara pandang tentang apa yang mendesak bagi sebuah negara berkembang. ​Bagi pengamat di London, indikator kesuksesan sebuah bangsa diukur dari kepatuhan mutlak pada aturan main demokrasi formal dan pasar bebas tanpa batas. Namun bagi jutaan pemilih di akar rumput #indonesia , stabilitas harga bahan pokok, pemangkasan angka stunting anak, lapangan kerja formal, dan kehadiran nyata negara dalam urusan perut jauh lebih konkret daripada perdebatan teoritis mengenai kebebasan sipil liberal.", "post_id": "7640107250501029128"}}, {"key": "Prabowo", "attributes": {"label": "Prabowo", "x": 661.5588397036062, "y": 907.1214365717711, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7640107250501029128", "id": "Prabowo", "source": "tiktok-000001", "content": "Di bawah langit Jakarta yang kerap diselimuti ketidakpastian ekonomi dan hukum, sebuah eksperimen politik terbesar di Asia Tenggara sedang berlangsung. Ketika Jenderal (Purn.)  Subianto resmi menduduki kursi kepresidenan, dunia barat, yang diwakili oleh koridor jurnalisme tajam #London  melalui #theeconomist , segera membunyikan alarm tanda bahaya. ​Bagi majalah ekonomi berusia satu abad lebih tersebut, kepemimpinan #prabowo  dipandang seperti membaca sebuah manual lama. Kombinasi mengkhawatirkan antara nasionalisme ekonomi yang proteksionis dan insting otoriter yg berakar dr era Orba. ​Tp, apakah kecemasan London mencerminkan realitas di lapangan, ataukah ini sekadar kepanikan khas liberalisme Barat yang cenderung tidak selalu benar membaca arah bahtera Nusantara? Yg pasti ​The Economist tidak pernah ragu menaruh skeptisisme mereka di atas meja. Inti dari kritik mereka terhadap presiden kedelapan Indonesia ini bermuara pada dua poros. Yaitu pemborosan fiskal yang membahayakan dan pengerutan ruang demokrasi (democrative backsliding). ​Secara ekonomi, London memandang target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan Prabowo sebagai ambisi yang dipaksakan. Proyek mercusuar seperti Program Makan Bergizi Gratis untuk puluhan juta anak, restrukturisasi kabinet raksasa (Kabinet Merah Putih), hingga pembentukan sovereign wealth fund raksasa Danantara dinilai Barat sebagai langkah statisme. Di mana negara terlalu mendominasi pasar dan berisiko membebani APBN secara ugal-ugalan. Di sisi lain, dari lensa politik, rekam jejak militer Prabowo dan retorika anti-neoliberalismenya membangkitkan hantu masa lalu. The Economist khawatir bahwa konsolidasi kekuatan politik yang merangkul hampir seluruh partai oposisi ke dalam koalisi pemerintah akan membunuh fungsi kontrol parlemen, melahirkan kembali sentralisme kekuasaan yang dulu diperjuangkan untuk runtuh pada tahun 1998. ​Jika kita mengesampingkan analisa The Economist dan melihat data empiris, lanskap yang terlihat justru jauh lebih berwarna. ​The Economist meramalkan guncangan ekonomi, tetapi data makroekonomi menunjukkan mesin domestik Indonesia justru cukup tangguh bertahan dari ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi kuartal awal berada di kisaran solid 5,1% hingga 5,5%. ​Kebijakan hilirisasi sumber daya alam, yang awalnya dikritik Barat sebagai langkah proteksionis, terbukti terus mendatangkan Penanaman Modal Asing (PMA) yang kini melampaui investasi domestik. Sementara itu, super-holding Danantara yang dikhawatirkan mengaburkan batasan korporasi negara, diproyeksikan mulai menyetor dividen masif bagi kas negara. ​Benarkah Prabowo terlalu otoriter? Karakter kepemimpinan Prabowo memang tegas, paternalistik, dan kerap meledak-ledak saat mengkritik sistem kapitalisme global. Di berbagai podium, ia secara terbuka menyebut ekonomi trickle-down effect ala neoliberal sebagai mitos abadi. Buktinya, \"Sudah 200 tahun dan tidak ada satu tetes pun yang menetes ke bawah.\" ​Namun, alih-alih memerintah dengan tangan besi yang represif, pendekatan kekuasaan yang digunakannya lebih condong pada inklusivitas elite. Mengadopsi taktik pendahulunya, Joko Widodo, Prabowo merangkul lawan politiknya ke dalam lingkaran kekuasaan. Bagi Barat, ini adalah \"pembunuhan oposisi\". Namun bagi stabilitas domestik, ini adalah cara khas Indonesia meredam riak politik demi menjamin kepastian investasi. ​Ketidakcocokan mendasar antara analisis The Economist dan realitas Indonesia terletak pada perbedaan cara pandang tentang apa yang mendesak bagi sebuah negara berkembang. ​Bagi pengamat di London, indikator kesuksesan sebuah bangsa diukur dari kepatuhan mutlak pada aturan main demokrasi formal dan pasar bebas tanpa batas. Namun bagi jutaan pemilih di akar rumput #indonesia , stabilitas harga bahan pokok, pemangkasan angka stunting anak, lapangan kerja formal, dan kehadiran nyata negara dalam urusan perut jauh lebih konkret daripada perdebatan teoritis mengenai kebebasan sipil liberal.", "post_id": "7640107250501029128"}}, {"key": "xinayel", "attributes": {"label": "xinayel", "x": 981.2521412312992, "y": 824.1957533553162, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 68.6517, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7641606791079464199", "id": "xinayel", "source": "tiktok-000001", "content": "tengah ketidakpastian pasar global dan keperkasaan dolar AS yang sempat menekan mata uang Garuda dalam beberapa waktu terakhir, Bank Indonesia tetap optimis bahwa nilai tukar rupiah akan segera kembali bergerak stabil. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa keyakinan ini bukan tanpa alasan, sebab kondisi ekonomi domestik saat ini masih terhitung sangat kuat. Ketahanan ekonomi nasional tersebut ditopang secara solid oleh angka inflasi yang tetap terkendali, aliran masuk modal asing yang konsisten, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan tetap positif. Demi memperkuat benteng pertahanan rupiah dan menjaga kepercayaan pasar, Bank Indonesia berkomitmen penuh untuk terus melakukan berbagai langkah stabilisasi yang agresif dan terukur, mulai dari intervensi langsung di pasar hingga penguatan strategi moneter yang dinamis. ‎Follow kali  ‎ ‎#xinayel #EchoingTheYouth #fyp #viral", "post_id": "7641606791079464199"}}, {"key": "fadhnet.id", "attributes": {"label": "fadhnet.id", "x": 718.8455384176079, "y": 621.642436491446, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7649372996297100551", "id": "fadhnet.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Membalas   1. Kampanye Media untuk Menciptakan Kepanikan: Media terkemuka seperti The Straits Times secara agresif menyoroti narasi \"Sell Indonesia\" dan mengaitkannya dengan situasi politik dalam negeri. Tujuannya disinyalir untuk membangun persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang tidak aman bagi investor asing. 2. Memicu Aliran Modal Keluar (Capital Outflow) ke Singapura: Sentimen negatif yang disebarkan membuat para fund manager panik dan melakukan aksi jual (sell-off) terhadap Rupiah dan saham Indonesia. Akibatnya, aliran dana besar-besaran tersebut justru berpindah dan mengalir masuk untuk menguntungkan pasar Singapura. 3. Indikasi Geopolitik Sebagai Perpanjangan Tangan Global: Muncul dugaan kuat bahwa langkah ini bukan sekadar urusan ekonomi biasa, melainkan strategi geopolitik global di mana Singapura diduga menjadi \"cangkang\" atau instrumen kekuatan barat untuk meredam sekaligus melemahkan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian kuat. #gemagoeyardi #astronacci #pusatklip #gemaxgcpk21 #prabowo", "post_id": "7649372996297100551"}}, {"key": "rayd.sky", "attributes": {"label": "rayd.sky", "x": 589.3750798860672, "y": 969.3946468370906, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7649372996297100551", "id": "rayd.sky", "source": "tiktok-000001", "content": "Membalas   1. Kampanye Media untuk Menciptakan Kepanikan: Media terkemuka seperti The Straits Times secara agresif menyoroti narasi \"Sell Indonesia\" dan mengaitkannya dengan situasi politik dalam negeri. Tujuannya disinyalir untuk membangun persepsi bahwa Indonesia adalah negara yang tidak aman bagi investor asing. 2. Memicu Aliran Modal Keluar (Capital Outflow) ke Singapura: Sentimen negatif yang disebarkan membuat para fund manager panik dan melakukan aksi jual (sell-off) terhadap Rupiah dan saham Indonesia. Akibatnya, aliran dana besar-besaran tersebut justru berpindah dan mengalir masuk untuk menguntungkan pasar Singapura. 3. Indikasi Geopolitik Sebagai Perpanjangan Tangan Global: Muncul dugaan kuat bahwa langkah ini bukan sekadar urusan ekonomi biasa, melainkan strategi geopolitik global di mana Singapura diduga menjadi \"cangkang\" atau instrumen kekuatan barat untuk meredam sekaligus melemahkan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian kuat. #gemagoeyardi #astronacci #pusatklip #gemaxgcpk21 #prabowo", "post_id": "7649372996297100551"}}, {"key": "noel_samo.ht", "attributes": {"label": "noel_samo.ht", "x": 823.5104901561094, "y": 487.76819883325174, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7643062216345881876", "id": "noel_samo.ht", "source": "tiktok-000001", "content": "Disclaimer: Sumber data dari Youtube dan Jurnal   “Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% di 2026.” Kelihatannya bagus. Tapi pertanyaan pentingnya: kenapa rakyat justru merasa hidup makin berat? Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti ekonomi sehat. Hari ini, rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar, IHSG turun lebih dari 22%, kelas menengah menyusut jutaan orang, dan manufaktur mulai masuk zona kontraksi. Artinya ada sesuatu yang tidak beres di fondasi ekonomi kita. Masalah utamanya ada di produktivitas. Indonesia sekarang membutuhkan modal yang sangat besar hanya untuk menghasilkan pertumbuhan kecil. Dalam ekonomi, ini terlihat dari ICOR yang sudah mencapai 6,33 — jauh lebih buruk dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Sederhananya: kita makin boros untuk tumbuh. Di sisi lain, pertumbuhan saat ini banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus fiskal. Jadi angka ekonomi terlihat naik, tetapi sektor riil belum benar-benar kuat. Inilah kenapa muncul fenomena: “PDB tumbuh, tapi daya beli melemah.” Tekanan global juga memperparah keadaan. Harga minyak naik akibat konflik Timur Tengah, sementara suku bunga Amerika tetap tinggi. Akibatnya rupiah tertekan dan arus modal asing mulai keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko masuk ke jebakan pertumbuhan semu: ekonomi terlihat tumbuh di data, tetapi masyarakat tidak benar-benar merasakan kesejahteraan. Karena itu, solusi jangka panjangnya bukan sekadar menambah utang atau stimulus, tetapi memperbaiki produktivitas, memperkuat industri, dan membangun ekonomi yang benar-benar efisien. Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka tinggi, tapi soal seberapa kuat fondasi di bawahnya.", "post_id": "7643062216345881876"}}, {"key": "irwandiferry", "attributes": {"label": "irwandiferry", "x": 398.47822594704184, "y": 426.2009388870257, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7643062216345881876", "id": "irwandiferry", "source": "tiktok-000001", "content": "Disclaimer: Sumber data dari Youtube dan Jurnal   “Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% di 2026.” Kelihatannya bagus. Tapi pertanyaan pentingnya: kenapa rakyat justru merasa hidup makin berat? Karena pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti ekonomi sehat. Hari ini, rupiah melemah ke Rp17 ribu per dolar, IHSG turun lebih dari 22%, kelas menengah menyusut jutaan orang, dan manufaktur mulai masuk zona kontraksi. Artinya ada sesuatu yang tidak beres di fondasi ekonomi kita. Masalah utamanya ada di produktivitas. Indonesia sekarang membutuhkan modal yang sangat besar hanya untuk menghasilkan pertumbuhan kecil. Dalam ekonomi, ini terlihat dari ICOR yang sudah mencapai 6,33 — jauh lebih buruk dibanding negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Sederhananya: kita makin boros untuk tumbuh. Di sisi lain, pertumbuhan saat ini banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan stimulus fiskal. Jadi angka ekonomi terlihat naik, tetapi sektor riil belum benar-benar kuat. Inilah kenapa muncul fenomena: “PDB tumbuh, tapi daya beli melemah.” Tekanan global juga memperparah keadaan. Harga minyak naik akibat konflik Timur Tengah, sementara suku bunga Amerika tetap tinggi. Akibatnya rupiah tertekan dan arus modal asing mulai keluar dari pasar berkembang seperti Indonesia. Kalau kondisi ini terus dibiarkan, Indonesia berisiko masuk ke jebakan pertumbuhan semu: ekonomi terlihat tumbuh di data, tetapi masyarakat tidak benar-benar merasakan kesejahteraan. Karena itu, solusi jangka panjangnya bukan sekadar menambah utang atau stimulus, tetapi memperbaiki produktivitas, memperkuat industri, dan membangun ekonomi yang benar-benar efisien. Sebab ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka tinggi, tapi soal seberapa kuat fondasi di bawahnya.", "post_id": "7643062216345881876"}}, {"key": "@BennixInvestasi", "attributes": {"label": "@BennixInvestasi", "x": 676.862265501925, "y": 166.5838010621704, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "mTbslvke8Ls", "id": "@BennixInvestasi", "source": "youtube-000001", "content": "Benix: Krisis Pasar dan Prediksi BCA: Cek Fakta\n\nTeks yang diberikan berisi transkrip dari *saluran YouTube Bennix**, di mana sang kreator menyatakan bahwa peringatannya sebelumnya mengenai **kehancuran pasar* telah terbukti benar. Ia menyoroti penurunan harga yang signifikan di *Bursa Efek Indonesia (IHSG)* dan bank-bank swasta besar seperti *BBCA**, dan menghubungkan penurunan ini dengan **arus keluar modal asing* yang besar. Pembicara mengkritik investor dan akademisi lokal yang tetap optimis selama tren kenaikan sebelumnya, dengan mengklaim bahwa mereka gagal memperkirakan dampak *tekanan suku bunga global**. Ia berpendapat bahwa meskipun keuntungan perusahaan tetap tinggi, **dilema kebijakan moneter* dan suku bunga pinjaman yang tinggi menghambat pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam. Pada akhirnya, sumber tersebut berfungsi sebagai alat promosi untuk *sekolah investasi* miliknya, yang menjanjikan untuk mengajari para pengikutnya cara menghadapi ketidakstabilan keuangan yang diprediksinya akan terjadi pada tahun 2026.\n\n\nReferensi dari chanel YouTube Bennix :\n‎   /   \n‎", "post_id": "mTbslvke8Ls"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 103.83167325010245, "y": 852.5523960630478, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "mTbslvke8Ls", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "Benix: Krisis Pasar dan Prediksi BCA: Cek Fakta\n\nTeks yang diberikan berisi transkrip dari *saluran YouTube Bennix**, di mana sang kreator menyatakan bahwa peringatannya sebelumnya mengenai **kehancuran pasar* telah terbukti benar. Ia menyoroti penurunan harga yang signifikan di *Bursa Efek Indonesia (IHSG)* dan bank-bank swasta besar seperti *BBCA**, dan menghubungkan penurunan ini dengan **arus keluar modal asing* yang besar. Pembicara mengkritik investor dan akademisi lokal yang tetap optimis selama tren kenaikan sebelumnya, dengan mengklaim bahwa mereka gagal memperkirakan dampak *tekanan suku bunga global**. Ia berpendapat bahwa meskipun keuntungan perusahaan tetap tinggi, **dilema kebijakan moneter* dan suku bunga pinjaman yang tinggi menghambat pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam. Pada akhirnya, sumber tersebut berfungsi sebagai alat promosi untuk *sekolah investasi* miliknya, yang menjanjikan untuk mengajari para pengikutnya cara menghadapi ketidakstabilan keuangan yang diprediksinya akan terjadi pada tahun 2026.\n\n\nReferensi dari chanel YouTube Bennix :\n‎   /   \n‎", "post_id": "mTbslvke8Ls"}}, {"key": "@Sulselsatu", "attributes": {"label": "@Sulselsatu", "x": 178.78171748090566, "y": 332.432235956722, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "tWuoapPFujg", "id": "@Sulselsatu", "source": "youtube-000001", "content": "DPR, BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Jaga Stabilitas Rupiah\n\nDPR, Bank Indonesia dan pemerintah sepakat memperkuat koordinasi fiskal dan moneter.\n\nLangkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.\n\nWakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pertemuan membahas perkembangan ekonomi nasional.\n\nMenurutnya, kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan selaras menghadapi tantangan ekonomi.\n\nSementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan fokus utama adalah menjaga stabilitas rupiah.\n\nBI dan pemerintah sepakat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.\n\nLangkah itu diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia.\n\nDi sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi APBN saat ini tetap kuat.\n\nMenurutnya, sinergi fiskal dan moneter akan membuat kebijakan ekonomi lebih efektif.\n-------------------------------------------------------\nAyo Klik Subscribe Channel Youtube Sulselsatu.com\n   /   \nVideo terkini dan terbaru..\n------------------------------\nSound:  berlisensi Creative Commons Attribution (https://creativecommons.org/licenses/...)\n\nDisclaimer: \nThe images or videos on this channel sometimes come from various other media sources. Copyright is fully held by the source. If there is a problem with this, you can contact us here\n\nFor copyright matters please contact us at: \nPT. LATAMA MEDIA SATU \nNo Telepone: (0411) 467 4269\n-----------------------------", "post_id": "tWuoapPFujg"}}, {"key": "sulselsatu", "attributes": {"label": "sulselsatu", "x": 896.5527147374638, "y": 281.79863146254513, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "tWuoapPFujg", "id": "sulselsatu", "source": "youtube-000001", "content": "DPR, BI dan Pemerintah Perkuat Koordinasi Jaga Stabilitas Rupiah\n\nDPR, Bank Indonesia dan pemerintah sepakat memperkuat koordinasi fiskal dan moneter.\n\nLangkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.\n\nWakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pertemuan membahas perkembangan ekonomi nasional.\n\nMenurutnya, kebijakan fiskal dan moneter harus berjalan selaras menghadapi tantangan ekonomi.\n\nSementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan fokus utama adalah menjaga stabilitas rupiah.\n\nBI dan pemerintah sepakat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik.\n\nLangkah itu diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing ke Indonesia.\n\nDi sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi APBN saat ini tetap kuat.\n\nMenurutnya, sinergi fiskal dan moneter akan membuat kebijakan ekonomi lebih efektif.\n-------------------------------------------------------\nAyo Klik Subscribe Channel Youtube Sulselsatu.com\n   /   \nVideo terkini dan terbaru..\n------------------------------\nSound:  berlisensi Creative Commons Attribution (https://creativecommons.org/licenses/...)\n\nDisclaimer: \nThe images or videos on this channel sometimes come from various other media sources. Copyright is fully held by the source. If there is a problem with this, you can contact us here\n\nFor copyright matters please contact us at: \nPT. LATAMA MEDIA SATU \nNo Telepone: (0411) 467 4269\n-----------------------------", "post_id": "tWuoapPFujg"}}, {"key": "@sb30official", "attributes": {"label": "@sb30official", "x": 775.2590494256526, "y": 494.1951179813404, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "vXpodBCJn9E", "id": "@sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "Kenapa Thailand Keburu Sekarat Sebelum Kaya? (Pelajaran Pahit Untuk Indonesia)\n\n00:00 Hook: Statement Bank Dunia dan Lampu Kuning Krisis Global untuk ASEAN.\n\n00:41 Perbandingan Historis: Kontras Pertumbuhan Ekonomi Thailand vs Indonesia dan Vietnam.\n\n01:36 Serangan Jantung vs Kematian Perlahan: Perbedaan Mendasar Krisis 1997 dan Kelelahan Struktural 2026.\n\n02:12 Tiga Bom Waktu: Utang Rumah Tangga, Kutukan Demografi, dan Instabilitas Politik Thailand.\n\n02:53 Konsumsi Domestik Lumpuh: Mengupas Laporan Resmi Tingginya Rasio Utang Terhadap PDB.\n\n03:35 Distorsi Data Keuangan: Realita Angka Kredit Macet (NPL) Tersembunyi di Luar Sistem Bank.\n\n04:35 Tragedi Finansial Pemuda: Ledakan Utang Kartu Kredit Konsumtif dan Gaya Hidup Digital.\n\n05:24 Bom Waktu Kedua: Menghadapi Fase \"Complete Aged Society\" Sesuai Standar PBB.\n\n05:55 Fenomena Tua Sebelum Kaya: Krisis Jaminan Sosial dan Rendahnya Tunjangan Lansia Thailand.\n\n07:30 Realita Pahit Usia Senja: Alasan Mengapa 46 Persen Lansia Terpaksa Terus Bekerja Fisik.\n\n08:01 Bom Waktu Ketiga: Kronik Instabilitas Politik dan Ketidakpastian Hukum Penanaman Modal.\n\n08:51 Pelarian Modal Asing: Koreksi Masif Set Index Bursa Saham Akibat Eksodus Investor.\n\n09:39 Pergeseran Kekuatan Regional: Mengapa Pariwisata dan Industri Manufaktur Thailand Direbut Vietnam.\n\n10:26 Eksodus Industri: Strategi Vietnam Membangun Infrastruktur untuk Menarik Raksasa Teknologi Dunia.\n\n11:00 Refleksi untuk Indonesia: Memanfaatkan Jendela Peluang Bonus Demografi yang Terbatas.\n\n11:59 Warning Pertama: Jebakan Hilirisasi Nikel dan Risiko Perubahan Tren Teknologi Baterai Global.\n\n12:45 Naik Kelas Industri: Tantangan Mengubah Level Smelting Menjadi Manufaktur Sel Baterai Mandiri.\n\n13:21 Warning Kedua: Borok Pariwisata Lokal, Praktis Monopoli, dan Intimidasi Transportasi Online.\n\n14:09 Tuntutan Wisatawan Era Digital: Standar Global untuk Transparansi Harga, Keamanan, dan Efisiensi.\n\n15:08 Solusi Finansial Pribadi: Pentingnya Mengelola Rasio Utang dan Menghindari Jebakan Pinjol.\n\n15:49 Investasi Leher ke Atas: Membangun Kapasitas Diri dan Nilai Tambah Bisnis Menghadapi Disrupsi.\n\n16:46 Penutup: Opini Publik Mengenai Masa Depan Indonesia dan Salam Hebat Luar Biasa.\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "vXpodBCJn9E"}}, {"key": "sb30official", "attributes": {"label": "sb30official", "x": 556.7503425112445, "y": 634.598579068725, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "vXpodBCJn9E", "id": "sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "Kenapa Thailand Keburu Sekarat Sebelum Kaya? (Pelajaran Pahit Untuk Indonesia)\n\n00:00 Hook: Statement Bank Dunia dan Lampu Kuning Krisis Global untuk ASEAN.\n\n00:41 Perbandingan Historis: Kontras Pertumbuhan Ekonomi Thailand vs Indonesia dan Vietnam.\n\n01:36 Serangan Jantung vs Kematian Perlahan: Perbedaan Mendasar Krisis 1997 dan Kelelahan Struktural 2026.\n\n02:12 Tiga Bom Waktu: Utang Rumah Tangga, Kutukan Demografi, dan Instabilitas Politik Thailand.\n\n02:53 Konsumsi Domestik Lumpuh: Mengupas Laporan Resmi Tingginya Rasio Utang Terhadap PDB.\n\n03:35 Distorsi Data Keuangan: Realita Angka Kredit Macet (NPL) Tersembunyi di Luar Sistem Bank.\n\n04:35 Tragedi Finansial Pemuda: Ledakan Utang Kartu Kredit Konsumtif dan Gaya Hidup Digital.\n\n05:24 Bom Waktu Kedua: Menghadapi Fase \"Complete Aged Society\" Sesuai Standar PBB.\n\n05:55 Fenomena Tua Sebelum Kaya: Krisis Jaminan Sosial dan Rendahnya Tunjangan Lansia Thailand.\n\n07:30 Realita Pahit Usia Senja: Alasan Mengapa 46 Persen Lansia Terpaksa Terus Bekerja Fisik.\n\n08:01 Bom Waktu Ketiga: Kronik Instabilitas Politik dan Ketidakpastian Hukum Penanaman Modal.\n\n08:51 Pelarian Modal Asing: Koreksi Masif Set Index Bursa Saham Akibat Eksodus Investor.\n\n09:39 Pergeseran Kekuatan Regional: Mengapa Pariwisata dan Industri Manufaktur Thailand Direbut Vietnam.\n\n10:26 Eksodus Industri: Strategi Vietnam Membangun Infrastruktur untuk Menarik Raksasa Teknologi Dunia.\n\n11:00 Refleksi untuk Indonesia: Memanfaatkan Jendela Peluang Bonus Demografi yang Terbatas.\n\n11:59 Warning Pertama: Jebakan Hilirisasi Nikel dan Risiko Perubahan Tren Teknologi Baterai Global.\n\n12:45 Naik Kelas Industri: Tantangan Mengubah Level Smelting Menjadi Manufaktur Sel Baterai Mandiri.\n\n13:21 Warning Kedua: Borok Pariwisata Lokal, Praktis Monopoli, dan Intimidasi Transportasi Online.\n\n14:09 Tuntutan Wisatawan Era Digital: Standar Global untuk Transparansi Harga, Keamanan, dan Efisiensi.\n\n15:08 Solusi Finansial Pribadi: Pentingnya Mengelola Rasio Utang dan Menghindari Jebakan Pinjol.\n\n15:49 Investasi Leher ke Atas: Membangun Kapasitas Diri dan Nilai Tambah Bisnis Menghadapi Disrupsi.\n\n16:46 Penutup: Opini Publik Mengenai Masa Depan Indonesia dan Salam Hebat Luar Biasa.\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "vXpodBCJn9E"}}, {"key": "@kompastv", "attributes": {"label": "@kompastv", "x": 891.8920196926565, "y": 388.6201460622192, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "6RN0sYVrKCE", "id": "@kompastv", "source": "youtube-000001", "content": "Perry Warjiyo Ungkap Dua Langkah BI dan Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah\n\nJAKARTA, KOMPASTV - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi.\n\n\"Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat erat, bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,\" kata Perry, Sabtu (6/6/2026). \n\nIa menjelaskan terdapat dua langkah utama yang disepakati pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas rupiah.\n\nLangkah pertama adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar arus modal asing kembali masuk ke Indonesia. \n\nLangkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. \n\n\"Dengan demikian operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung,\" kata Perry.\n\nSahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan \ninformasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!\nProduser: Yuilyana \nThumbnail Editor: Lintang\n#menkeupurbaya #dpr #gubernurbi\n\nSahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV\n\nJangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.\n\nSubscribe channel youtube KompasTV serta aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV. \n\nSahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui:\n\nwebsite www.kompas.tv\n\nFacebook:   / kompastv   \n\nInstagram:   / kompastv   \n\nX: https://x.com/KompasTV\n\nThread: https://www.threads.com/ \nTikTok:   / kompastv.indonesia", "post_id": "6RN0sYVrKCE"}}, {"key": "kompastv", "attributes": {"label": "kompastv", "x": 468.1920489360948, "y": 993.3968886656529, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 14.6744, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "6RN0sYVrKCE", "id": "kompastv", "source": "youtube-000001", "content": "Perry Warjiyo Ungkap Dua Langkah BI dan Pemerintah Jaga Stabilitas Rupiah\n\nJAKARTA, KOMPASTV - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi.\n\n\"Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat erat, bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,\" kata Perry, Sabtu (6/6/2026). \n\nIa menjelaskan terdapat dua langkah utama yang disepakati pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas rupiah.\n\nLangkah pertama adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar arus modal asing kembali masuk ke Indonesia. \n\nLangkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. \n\n\"Dengan demikian operasi moneter tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung,\" kata Perry.\n\nSahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan \ninformasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!\nProduser: Yuilyana \nThumbnail Editor: Lintang\n#menkeupurbaya #dpr #gubernurbi\n\nSahabat KompasTV, yuk gabung Membership dan dapatkan akses ke konten eksklusif! Klik tombol Join di sini: https://bit.ly/JoinMembershipKompasTV\n\nJangan lewatkan live streaming KompasTV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live. Agar tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia.\n\nSubscribe channel youtube KompasTV serta aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru dari KompasTV. \n\nSahabat KompasTV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui:\n\nwebsite www.kompas.tv\n\nFacebook:   / kompastv   \n\nInstagram:   / kompastv   \n\nX: https://x.com/KompasTV\n\nThread: https://www.threads.com/ \nTikTok:   / kompastv.indonesia", "post_id": "6RN0sYVrKCE"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 624.9617582484527, "y": 340.3158690884631, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 21, "degree": 21}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 692.6517637893019, "y": 4.148659419660361, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 740.031116752942, "y": 526.7797946298023, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 14.61185074802751, "y": 490.64439860147513, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 562.7843592280195, "y": 572.5326145179466, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 20.146939023914847, "y": 272.68055875023055, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 47.84939790225573, "y": 954.1663248598371, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.7147, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "qE5ngVpdJBU", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah | IDXC UPDATE\n\nBank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas ekonomi dan meredam tekanan terhadap rupiah di tengah kuatnya dolar AS. BI menilai kenaikan suku bunga diperlukan untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, di tengah tingginya kebutuhan dolar dan ketidakpastian global akibat geopolitik serta potensi pengetatan kebijakan moneter AS. Meski rupiah tertekan, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen dan tingkat keyakinan konsumen yang terus meningkat.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "qE5ngVpdJBU"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 481.6969982420194, "y": 326.6771572376076, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "O1UEEhBeeaE", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "Bedah Analisis Ferry Irwandi tentang Ekonomi Indonesia 2026! Fakta & Ilusi Ekonomi Indonesia\n\n🔗 SUMBER ANALISIS & REFERENSI: Narasi dan data di dalam video ini diadaptasi dari bedah dokumen Analisis Makroekonomi Indonesia 2026 oleh Ferry Irwandi. Tonton video sumber selengkapnya di sini:    • Analisis dan Solusi Ekonomi Indonesia 2026  \n\nSelamat datang di channel Wawasan Cerdas! Di video kali ini, kita akan membongkar tuntas realitas mengerikan di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini sering dibanggakan. Benarkah ekonomi kita sedang baik-baik saja? Atau kita sebenarnya sedang berada di dalam ilusi \"Pertumbuhan Semu\" (Potemkin Growth) yang perlahan-lahan menghancurkan fundamental negara?\n\nKita akan membedah secara mendalam krisis makroekonomi yang mengguncang Indonesia, mulai dari pelemahan ekstrem nilai tukar Rupiah yang menembus rekor terlemahnya di Rp17.645 per Dolar AS, anjloknya cadangan devisa, hingga fenomena arus modal keluar (capital outflow) yang masif. Namun, tahukah kamu bahwa ini BUKANLAH krisis sistemik atau perbankan seperti tragedi tahun 1998?\n\nAncaman yang jauh lebih mematikan dan bersifat laten sedang mengintai kita: \"Middle-Income Trap\" (Jebakan Kelas Menengah)! Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah kehilangan lebih dari 10,6 juta penduduk kelas menengah secara struktural. Hal ini dipicu oleh inefisiensi investasi yang parah dengan tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) mencapai 6,33, yang artinya kita butuh modal Rp6,33 hanya untuk menghasilkan Rp1 output baru. Akibatnya, sektor manufaktur terkontraksi dan memicu gelombang PHK massal di berbagai daerah.\n\nLayaknya analogi \"Katak dalam Panci Rebusan\" (Boiling Frog), masyarakat dan birokrasi kita perlahan-lahan dimatikan oleh stagnasi ekonomi tanpa kita sadari, karena kita selalu berpikir bahwa fundamental kita kuat. Padahal, air rebusan itu adalah deindustrialisasi dan inefisiensi yang terus dipanaskan sejak 2019!\n\nDi video edukasi ini, Wawasan Cerdas juga akan mengkritisi berbagai kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. Kita akan membahas:\nPemborosan APBN untuk subsidi energi (deadweight loss) dan mengapa transisi ke Direct Benefit Transfer (DBT) atau subsidi tunai langsung memiliki risiko memicu ledakan inflasi (Cost-Push Inflation) jika tidak dieksekusi dengan perhitungan stress test yang matang.\n\nPolemik dan evaluasi program raksasa triliunan rupiah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menguras ruang fiskal negara.\n\nRisiko nyata dari pengetatan suku bunga global, konflik geopolitik Timur Tengah, dan dampaknya pada mahalnya biaya hidup (inflasi pangan/logistik) di Indonesia.\n\nApakah Bank Indonesia dan pemerintah mampu melakukan reformasi struktural yang radikal? Atau kita justru harus mengorbankan impian menjadi negara maju di visi Indonesia Emas 2045? Tonton video ini sampai habis untuk mengetahui skenario perekonomian ke depan dan bagaimana dampaknya terhadap dompet serta masa depanmu!\n\n🗣️ BAGAIMANA PENDAPATMU? Apakah kamu merasakan daya beli yang semakin menurun atau sulitnya mencari pekerjaan saat ini? Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar di bawah! Mari berdiskusi dengan cerdas.\n\n00:06 Kondisi Krisis Mei 2026\n11:09 Faktor Resiko Utama\n19:46 Diagnosis Sektor Riil dan Moneter\n29:01 Skenario Ekonomi 2026\n38:26 Analisis Wawasan Cerdas\n\n👍 JANGAN LUPA DUKUNG CHANNEL INI! Jika informasi ini bermanfaat dan membuka wawasanmu, pastikan untuk menekan tombol LIKE, SHARE video ini ke teman atau grup keluargamu, dan klik SUBSCRIBE agar tidak ketinggalan analisis mendalam dari Wawasan Cerdas selanjutnya!\n\n#WawasanCerdas #KrisisEkonomi #EkonomiIndonesia #MiddleIncomeTrap #KelasMenengah #RupiahAnjlok #PHKMassal #Makroekonomi #Inflasi #SubsidiBBM #Investasi #KebijakanPemerintah #IndonesiaEmas2045 #KrisisMataUang #BeritaEkonomi #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "O1UEEhBeeaE"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 76.21078857705166, "y": 868.478714427094, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "O1UEEhBeeaE", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "Bedah Analisis Ferry Irwandi tentang Ekonomi Indonesia 2026! Fakta & Ilusi Ekonomi Indonesia\n\n🔗 SUMBER ANALISIS & REFERENSI: Narasi dan data di dalam video ini diadaptasi dari bedah dokumen Analisis Makroekonomi Indonesia 2026 oleh Ferry Irwandi. Tonton video sumber selengkapnya di sini:    • Analisis dan Solusi Ekonomi Indonesia 2026  \n\nSelamat datang di channel Wawasan Cerdas! Di video kali ini, kita akan membongkar tuntas realitas mengerikan di balik angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selama ini sering dibanggakan. Benarkah ekonomi kita sedang baik-baik saja? Atau kita sebenarnya sedang berada di dalam ilusi \"Pertumbuhan Semu\" (Potemkin Growth) yang perlahan-lahan menghancurkan fundamental negara?\n\nKita akan membedah secara mendalam krisis makroekonomi yang mengguncang Indonesia, mulai dari pelemahan ekstrem nilai tukar Rupiah yang menembus rekor terlemahnya di Rp17.645 per Dolar AS, anjloknya cadangan devisa, hingga fenomena arus modal keluar (capital outflow) yang masif. Namun, tahukah kamu bahwa ini BUKANLAH krisis sistemik atau perbankan seperti tragedi tahun 1998?\n\nAncaman yang jauh lebih mematikan dan bersifat laten sedang mengintai kita: \"Middle-Income Trap\" (Jebakan Kelas Menengah)! Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah kehilangan lebih dari 10,6 juta penduduk kelas menengah secara struktural. Hal ini dipicu oleh inefisiensi investasi yang parah dengan tingginya angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR) mencapai 6,33, yang artinya kita butuh modal Rp6,33 hanya untuk menghasilkan Rp1 output baru. Akibatnya, sektor manufaktur terkontraksi dan memicu gelombang PHK massal di berbagai daerah.\n\nLayaknya analogi \"Katak dalam Panci Rebusan\" (Boiling Frog), masyarakat dan birokrasi kita perlahan-lahan dimatikan oleh stagnasi ekonomi tanpa kita sadari, karena kita selalu berpikir bahwa fundamental kita kuat. Padahal, air rebusan itu adalah deindustrialisasi dan inefisiensi yang terus dipanaskan sejak 2019!\n\nDi video edukasi ini, Wawasan Cerdas juga akan mengkritisi berbagai kebijakan fiskal dan moneter pemerintah. Kita akan membahas:\nPemborosan APBN untuk subsidi energi (deadweight loss) dan mengapa transisi ke Direct Benefit Transfer (DBT) atau subsidi tunai langsung memiliki risiko memicu ledakan inflasi (Cost-Push Inflation) jika tidak dieksekusi dengan perhitungan stress test yang matang.\n\nPolemik dan evaluasi program raksasa triliunan rupiah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menguras ruang fiskal negara.\n\nRisiko nyata dari pengetatan suku bunga global, konflik geopolitik Timur Tengah, dan dampaknya pada mahalnya biaya hidup (inflasi pangan/logistik) di Indonesia.\n\nApakah Bank Indonesia dan pemerintah mampu melakukan reformasi struktural yang radikal? Atau kita justru harus mengorbankan impian menjadi negara maju di visi Indonesia Emas 2045? Tonton video ini sampai habis untuk mengetahui skenario perekonomian ke depan dan bagaimana dampaknya terhadap dompet serta masa depanmu!\n\n🗣️ BAGAIMANA PENDAPATMU? Apakah kamu merasakan daya beli yang semakin menurun atau sulitnya mencari pekerjaan saat ini? Coba ceritakan pengalamanmu di kolom komentar di bawah! Mari berdiskusi dengan cerdas.\n\n00:06 Kondisi Krisis Mei 2026\n11:09 Faktor Resiko Utama\n19:46 Diagnosis Sektor Riil dan Moneter\n29:01 Skenario Ekonomi 2026\n38:26 Analisis Wawasan Cerdas\n\n👍 JANGAN LUPA DUKUNG CHANNEL INI! Jika informasi ini bermanfaat dan membuka wawasanmu, pastikan untuk menekan tombol LIKE, SHARE video ini ke teman atau grup keluargamu, dan klik SUBSCRIBE agar tidak ketinggalan analisis mendalam dari Wawasan Cerdas selanjutnya!\n\n#WawasanCerdas #KrisisEkonomi #EkonomiIndonesia #MiddleIncomeTrap #KelasMenengah #RupiahAnjlok #PHKMassal #Makroekonomi #Inflasi #SubsidiBBM #Investasi #KebijakanPemerintah #IndonesiaEmas2045 #KrisisMataUang #BeritaEkonomi #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "O1UEEhBeeaE"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "attributes": {"label": "@NDTVProfitIndia", "x": 423.60429095414963, "y": 925.6923251899726, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "CJOD7qoR-1Y", "id": "@NDTVProfitIndia", "source": "youtube-000001", "content": "Bisakah India Menangani Meningkatnya Kepemilikan FII? | Menkeu Nirmala Sitharaman Mengenai Modal ...\n\nPertumbuhan ekonomi India yang luar biasa telah menarik investasi asing besar-besaran, tetapi apakah meningkatnya kepemilikan FII (Foreign Institutional Investors) menjadi tantangan baru bagi para pembuat kebijakan?\n\nBerbicara tentang masalah ini, Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman menjelaskan bagaimana investor asing sekarang memegang saham India senilai hampir $900 miliar, sementara cadangan devisa India berada di sekitar $700-800 miliar. Ia menguraikan strategi pemerintah untuk menarik modal asing yang lebih stabil, memperdalam pasar obligasi, dan mendukung bank dan BUMN dalam mengumpulkan dana di luar negeri.\n\nSaksikan diskusi lengkap tentang arus modal asing, peran RBI, stabilitas pasar, cadangan devisa, dan apa artinya bagi investor dan pasar keuangan India.\n\n\n#NirmalaSitharaman #FII #InvestorAsing #PasarIndia #PasarSaham #EkonomiIndia #RBI #Sensex #Nifty #CadanganForex #BeritaPasar #Investasi #Keuangan #ndtvprofit\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "CJOD7qoR-1Y"}}, {"key": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "ndtvprofitindia", "x": 21.21189615301877, "y": 467.55070537151676, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "CJOD7qoR-1Y", "id": "ndtvprofitindia", "source": "youtube-000001", "content": "Bisakah India Menangani Meningkatnya Kepemilikan FII? | Menkeu Nirmala Sitharaman Mengenai Modal ...\n\nPertumbuhan ekonomi India yang luar biasa telah menarik investasi asing besar-besaran, tetapi apakah meningkatnya kepemilikan FII (Foreign Institutional Investors) menjadi tantangan baru bagi para pembuat kebijakan?\n\nBerbicara tentang masalah ini, Menteri Keuangan Nirmala Sitharaman menjelaskan bagaimana investor asing sekarang memegang saham India senilai hampir $900 miliar, sementara cadangan devisa India berada di sekitar $700-800 miliar. Ia menguraikan strategi pemerintah untuk menarik modal asing yang lebih stabil, memperdalam pasar obligasi, dan mendukung bank dan BUMN dalam mengumpulkan dana di luar negeri.\n\nSaksikan diskusi lengkap tentang arus modal asing, peran RBI, stabilitas pasar, cadangan devisa, dan apa artinya bagi investor dan pasar keuangan India.\n\n\n#NirmalaSitharaman #FII #InvestorAsing #PasarIndia #PasarSaham #EkonomiIndia #RBI #Sensex #Nifty #CadanganForex #BeritaPasar #Investasi #Keuangan #ndtvprofit\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "CJOD7qoR-1Y"}}, {"key": "@tuturmediadigital", "attributes": {"label": "@tuturmediadigital", "x": 719.0220136784574, "y": 764.5718975170636, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "hp4KM_VwEOE", "id": "@tuturmediadigital", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Tertekan, Gubernur BI Ungkap 2 Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah\n\nTUTUR.co.id - Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan bertahan di atas level Rp18.000 per dolar AS. Merespons kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan dua strategi utama yang disepakati bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional.\n\nLangkah pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar Indonesia. Sementara langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Menurut Perry, sinergi BI dan pemerintah akan terus diperkuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #BankIndonesia #BI #KursDolar #NilaiTukarRupiah #EkonomiIndonesia #PasarKeuangan #ModalAsing #Investasi #APBN #KebijakanMoneter #KebijakanFiskal #BeritaEkonomi #tuturmediadigital #tututv\n\n\n\n===\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Tutur Media Digital:\n\nInstagram:   / tuturmediadigital  \nTikTok:   / tuturmediadigital  \nX: https://x.com/tuturmedia\nYoutube:    /   \nFacebook: https://www.facebook.com/share/17m5ob...", "post_id": "hp4KM_VwEOE"}}, {"key": "tuturtvmedia", "attributes": {"label": "tuturtvmedia", "x": 375.2759405653791, "y": 507.7958311022909, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "hp4KM_VwEOE", "id": "tuturtvmedia", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Tertekan, Gubernur BI Ungkap 2 Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah\n\nTUTUR.co.id - Nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan dan bertahan di atas level Rp18.000 per dolar AS. Merespons kondisi tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan dua strategi utama yang disepakati bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional.\n\nLangkah pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik guna menarik kembali aliran modal asing ke pasar Indonesia. Sementara langkah kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan melalui penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Menurut Perry, sinergi BI dan pemerintah akan terus diperkuat untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global sekaligus menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #BankIndonesia #BI #KursDolar #NilaiTukarRupiah #EkonomiIndonesia #PasarKeuangan #ModalAsing #Investasi #APBN #KebijakanMoneter #KebijakanFiskal #BeritaEkonomi #tuturmediadigital #tututv\n\n\n\n===\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Tutur Media Digital:\n\nInstagram:   / tuturmediadigital  \nTikTok:   / tuturmediadigital  \nX: https://x.com/tuturmedia\nYoutube:    /   \nFacebook: https://www.facebook.com/share/17m5ob...", "post_id": "hp4KM_VwEOE"}}, {"key": "@JCCNetwork", "attributes": {"label": "@JCCNetwork", "x": 547.2843630957785, "y": 908.3070701503302, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "oszbmfq3yck", "id": "@JCCNetwork", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur BI Beberkan Faktor Penguat Rupiah, Target 2027 di Kisaran Rp16.800–Rp17.500\n\n‪‬ Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 dan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh membaiknya ekonomi global, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.\nSelain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI juga memperkirakan inflasi 2027 tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, seiring pertumbuhan ekonomi yang solid dan masuknya lebih banyak modal asing ke Indonesia.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "oszbmfq3yck"}}, {"key": "JCCNetwork", "attributes": {"label": "JCCNetwork", "x": 52.03408261992659, "y": 130.14415083608844, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.4862, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "oszbmfq3yck", "id": "JCCNetwork", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur BI Beberkan Faktor Penguat Rupiah, Target 2027 di Kisaran Rp16.800–Rp17.500\n\n‪‬ Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 dan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh membaiknya ekonomi global, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.\nSelain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI juga memperkirakan inflasi 2027 tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, seiring pertumbuhan ekonomi yang solid dan masuknya lebih banyak modal asing ke Indonesia.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "oszbmfq3yck"}}, {"key": "jccbetwork.id", "attributes": {"label": "jccbetwork.id", "x": 298.5865641477133, "y": 304.08003646889847, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.4862, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "oszbmfq3yck", "id": "jccbetwork.id", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur BI Beberkan Faktor Penguat Rupiah, Target 2027 di Kisaran Rp16.800–Rp17.500\n\n‪‬ Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 dan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh membaiknya ekonomi global, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.\nSelain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI juga memperkirakan inflasi 2027 tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, seiring pertumbuhan ekonomi yang solid dan masuknya lebih banyak modal asing ke Indonesia.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "oszbmfq3yck"}}, {"key": "jcc_network", "attributes": {"label": "jcc_network", "x": 246.27942703603023, "y": 511.1340045691869, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.4862, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "oszbmfq3yck", "id": "jcc_network", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur BI Beberkan Faktor Penguat Rupiah, Target 2027 di Kisaran Rp16.800–Rp17.500\n\n‪‬ Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 dan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh membaiknya ekonomi global, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.\nSelain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI juga memperkirakan inflasi 2027 tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, seiring pertumbuhan ekonomi yang solid dan masuknya lebih banyak modal asing ke Indonesia.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "oszbmfq3yck"}}, {"key": "jccnetwork.id", "attributes": {"label": "jccnetwork.id", "x": 766.9579167899442, "y": 443.69693626435844, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.4862, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "oszbmfq3yck", "id": "jccnetwork.id", "source": "youtube-000001", "content": "Gubernur BI Beberkan Faktor Penguat Rupiah, Target 2027 di Kisaran Rp16.800–Rp17.500\n\n‪‬ Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, optimistis nilai tukar rupiah akan menguat pada 2027 dan bergerak di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Proyeksi ini didukung oleh membaiknya ekonomi global, kuatnya fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia, serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.\nSelain menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar valas, BI juga memperkirakan inflasi 2027 tetap terkendali di kisaran 2,5% ±1%, seiring pertumbuhan ekonomi yang solid dan masuknya lebih banyak modal asing ke Indonesia.\n\n#Rupiah #PerryWarjiyo #JCCNetwork\n\nYouTube channel resmi JCC Network menjadi bagian PT Sejahtera Jaringan Media (SJM). Dibawakan langsung oleh host terpercaya dan kredibel, topik-topik politik, hukum, sosial, religi dan isu-isu aktual lainnya dikemas lewat kemasan yang tidak sekadar menghibur, namun juga insightful.\n\nKlik, follow, dan subscribe website & medsos kami 👇🏻\n\nWebsite: https://jccnetwork.id/\nFacebook: JCC Network \nInstagram: \nTwitter: \nTikTok: \nYouTube: JCC Network\n\n#jccnetwork #ProOtonomi #podcast #contentcreator #youtuber", "post_id": "oszbmfq3yck"}}, {"key": "@thecore_in", "attributes": {"label": "@thecore_in", "x": 472.88273063481677, "y": 918.0864039845762, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "LPAHq0Cjhgk", "id": "@thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Ledakan Obligasi India Sinyalkan Kepercayaan Baru di Pasar | Govindraj Ethiraj | The Core Report\n\nPada Episode 903 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Pratik Shah, Partner dan Pemimpin Nasional, Layanan Keuangan di EY India, dalam cuplikan dari Edisi Khusus kami.\n\nCATATAN ACARA:\n(00:00) Berita Hari Ini\n(01:09) Lebih Banyak Pengembalian Modal Asing Karena Dana Global Membeli Obligasi India Seiring Sinyal Makro Melunak\n(04:41) India Mengekspor Lebih Banyak ke Negara Lain daripada AS Dibandingkan Periode Pra-Tarif\n(06:57) Raksasa Baja Mengatakan India Adalah Peluang Investasi Besar Berikutnya\n(08:18) India Bisa Menghadapi Masalah Kelebihan Simpanan NRI\n(11:31) Kerugian Kumulatif pada Bensin, Solar, dan LPG Selama Maret hingga Mei 2026 Diperkirakan Sekitar Rs 1 Lakh Crore, Kata Crisil\n(12:31) Mengapa Hanya 25% Pengguna India yang Menilai Pengalaman Perbankan Mereka Baik\n\nPasar, Minyak, Rupee, dan Emas:\n\nDana global kembali membeli obligasi India karena pengembalian modal asing dan sinyal makro mereda. Sebuah laporan Bloomberg menyatakan bahwa investor asing membeli obligasi India yang memenuhi syarat indeks senilai lebih dari $1,5 miliar dalam satu hari, pembelian satu hari terbesar yang pernah ada. Penurunan harga minyak mentah, penguatan rupee, dan kepercayaan pasar yang pulih membentuk prospek ekonomi India, sementara emas, perak, dan ekspor tetap menjadi fokus. Diversifikasi ekspor India juga tetap menjadi kunci.\n\nAkankah Perusahaan Baja Besar Berinvestasi Lebih Banyak di India daripada di China?\n\nRaksasa pertambangan global BHP dan Rio Tinto melihat India sebagai pasar pertumbuhan baja besar berikutnya. Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi China, dorongan infrastruktur India, urbanisasi, dan target produksi baja sebesar 500 juta ton pada tahun 2047 dapat menjadikannya peluang investasi utama. Bagi pemasok bijih besi global, permintaan baja India kini menjadi tema jangka panjang yang penting.\n\nApa Saja Pandangan Terbaru tentang Skema FCNR Baru?\n\nLangkah-langkah FCNR baru RBI untuk menarik deposito dolar NRI dapat membawa arus masuk mata uang asing yang besar ke India. Axis Bank memperkirakan arus masuk antara $50 miliar dan $190 miliar, sementara para ekonom memperingatkan tentang biaya lindung nilai, risiko moral, dan tekanan pada neraca RBI. Perdebatan yang muncul adalah apakah ini manajemen likuiditas yang cerdas atau solusi jangka pendek untuk kecemasan valuta asing.\n\nBerapa Kerugian Pendapatan India untuk Bensin, Solar, dan LNG dari Maret hingga Mei?\n\nCrisil memperkirakan kerugian pendapatan kumulatif untuk bensin, solar, dan LPG selama Maret hingga Mei 2026 sekitar Rs 1 lakh crore. Harga minyak mentah yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan pada margin pemasaran bahan bakar India, inflasi, dan tagihan impor energi. Namun, pasar minyak mentah dan LNG mungkin masih membutuhkan waktu untuk sepenuhnya normal.\n\nApa Temuan Laporan EY Terbaru tentang Layanan Pelanggan Perbankan?\n\nLaporan EY menyatakan bahwa hanya satu dari empat pelanggan perbankan India yang menilai pengalaman keseluruhan mereka sebagai sangat baik. Govindraj Ethiraj berbicara dengan Pratik Shah tentang mengapa bank-bank India masih kesulitan dengan pengalaman pelanggan, penyelesaian sengketa, empati, chatbot, layanan berbasis AI, dan perbankan yang dipersonalisasi. Aplikasi perbankan mungkin lebih cepat, tetapi kepercayaan dan layanan tetap menentukan apakah pelanggan akan tetap setia. Percakapan ini juga membahas mengapa bank perlu beralih dari penjualan produk ke nilai seumur hidup pelanggan.\n\nBagaimana Foxcorp Memperluas Kehadiran Streaming-nya?\n\nFoxcorp membeli Roku dalam langkah besar di bidang streaming, memberikannya posisi yang lebih kuat di smart TV, streaming yang didukung iklan, dan media digital global. Kesepakatan ini dapat membantu Fox bersaing lebih keras di bidang streaming, TV terhubung, berita, olahraga, dan periklanan digital.\n\nMengapa Inggris Melarang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun?\n\nPemerintah Inggris telah mengumumkan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, yang mencakup platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, Snapchat, Facebook, dan X. Langkah ini bertujuan untuk keselamatan anak secara online dan dapat membentuk kembali cara pemerintah mengatur media sosial dan perusahaan teknologi besar seiring meningkatnya pengawasan global.\n\nSaksikan The Core Report bersama Govindraj Ethiraj untuk mendapatkan informasi terkini tentang obligasi India, kepercayaan pasar yang baru, modal asing, ekonomi India, minyak mentah, rupee, emas, ekspor, investasi baja, deposito NRI, FCNR, pengalaman pelanggan perbankan & bisnis global. Ikuti sinyal-sinyal yang membentuk pasar, kebijakan & kisah pertumbuhan India.\n\n#IndiaBonds #IndianEconomy #StockMarketNews #GovindrajEthiraj #TheCoreReport\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan...", "post_id": "LPAHq0Cjhgk"}}, {"key": "thecore_in", "attributes": {"label": "thecore_in", "x": 857.2293908845929, "y": 522.5089949684799, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "LPAHq0Cjhgk", "id": "thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Ledakan Obligasi India Sinyalkan Kepercayaan Baru di Pasar | Govindraj Ethiraj | The Core Report\n\nPada Episode 903 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Pratik Shah, Partner dan Pemimpin Nasional, Layanan Keuangan di EY India, dalam cuplikan dari Edisi Khusus kami.\n\nCATATAN ACARA:\n(00:00) Berita Hari Ini\n(01:09) Lebih Banyak Pengembalian Modal Asing Karena Dana Global Membeli Obligasi India Seiring Sinyal Makro Melunak\n(04:41) India Mengekspor Lebih Banyak ke Negara Lain daripada AS Dibandingkan Periode Pra-Tarif\n(06:57) Raksasa Baja Mengatakan India Adalah Peluang Investasi Besar Berikutnya\n(08:18) India Bisa Menghadapi Masalah Kelebihan Simpanan NRI\n(11:31) Kerugian Kumulatif pada Bensin, Solar, dan LPG Selama Maret hingga Mei 2026 Diperkirakan Sekitar Rs 1 Lakh Crore, Kata Crisil\n(12:31) Mengapa Hanya 25% Pengguna India yang Menilai Pengalaman Perbankan Mereka Baik\n\nPasar, Minyak, Rupee, dan Emas:\n\nDana global kembali membeli obligasi India karena pengembalian modal asing dan sinyal makro mereda. Sebuah laporan Bloomberg menyatakan bahwa investor asing membeli obligasi India yang memenuhi syarat indeks senilai lebih dari $1,5 miliar dalam satu hari, pembelian satu hari terbesar yang pernah ada. Penurunan harga minyak mentah, penguatan rupee, dan kepercayaan pasar yang pulih membentuk prospek ekonomi India, sementara emas, perak, dan ekspor tetap menjadi fokus. Diversifikasi ekspor India juga tetap menjadi kunci.\n\nAkankah Perusahaan Baja Besar Berinvestasi Lebih Banyak di India daripada di China?\n\nRaksasa pertambangan global BHP dan Rio Tinto melihat India sebagai pasar pertumbuhan baja besar berikutnya. Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi China, dorongan infrastruktur India, urbanisasi, dan target produksi baja sebesar 500 juta ton pada tahun 2047 dapat menjadikannya peluang investasi utama. Bagi pemasok bijih besi global, permintaan baja India kini menjadi tema jangka panjang yang penting.\n\nApa Saja Pandangan Terbaru tentang Skema FCNR Baru?\n\nLangkah-langkah FCNR baru RBI untuk menarik deposito dolar NRI dapat membawa arus masuk mata uang asing yang besar ke India. Axis Bank memperkirakan arus masuk antara $50 miliar dan $190 miliar, sementara para ekonom memperingatkan tentang biaya lindung nilai, risiko moral, dan tekanan pada neraca RBI. Perdebatan yang muncul adalah apakah ini manajemen likuiditas yang cerdas atau solusi jangka pendek untuk kecemasan valuta asing.\n\nBerapa Kerugian Pendapatan India untuk Bensin, Solar, dan LNG dari Maret hingga Mei?\n\nCrisil memperkirakan kerugian pendapatan kumulatif untuk bensin, solar, dan LPG selama Maret hingga Mei 2026 sekitar Rs 1 lakh crore. Harga minyak mentah yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan pada margin pemasaran bahan bakar India, inflasi, dan tagihan impor energi. Namun, pasar minyak mentah dan LNG mungkin masih membutuhkan waktu untuk sepenuhnya normal.\n\nApa Temuan Laporan EY Terbaru tentang Layanan Pelanggan Perbankan?\n\nLaporan EY menyatakan bahwa hanya satu dari empat pelanggan perbankan India yang menilai pengalaman keseluruhan mereka sebagai sangat baik. Govindraj Ethiraj berbicara dengan Pratik Shah tentang mengapa bank-bank India masih kesulitan dengan pengalaman pelanggan, penyelesaian sengketa, empati, chatbot, layanan berbasis AI, dan perbankan yang dipersonalisasi. Aplikasi perbankan mungkin lebih cepat, tetapi kepercayaan dan layanan tetap menentukan apakah pelanggan akan tetap setia. Percakapan ini juga membahas mengapa bank perlu beralih dari penjualan produk ke nilai seumur hidup pelanggan.\n\nBagaimana Foxcorp Memperluas Kehadiran Streaming-nya?\n\nFoxcorp membeli Roku dalam langkah besar di bidang streaming, memberikannya posisi yang lebih kuat di smart TV, streaming yang didukung iklan, dan media digital global. Kesepakatan ini dapat membantu Fox bersaing lebih keras di bidang streaming, TV terhubung, berita, olahraga, dan periklanan digital.\n\nMengapa Inggris Melarang Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun?\n\nPemerintah Inggris telah mengumumkan larangan media sosial untuk anak di bawah 16 tahun, yang mencakup platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, Snapchat, Facebook, dan X. Langkah ini bertujuan untuk keselamatan anak secara online dan dapat membentuk kembali cara pemerintah mengatur media sosial dan perusahaan teknologi besar seiring meningkatnya pengawasan global.\n\nSaksikan The Core Report bersama Govindraj Ethiraj untuk mendapatkan informasi terkini tentang obligasi India, kepercayaan pasar yang baru, modal asing, ekonomi India, minyak mentah, rupee, emas, ekspor, investasi baja, deposito NRI, FCNR, pengalaman pelanggan perbankan & bisnis global. Ikuti sinyal-sinyal yang membentuk pasar, kebijakan & kisah pertumbuhan India.\n\n#IndiaBonds #IndianEconomy #StockMarketNews #GovindrajEthiraj #TheCoreReport\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan...", "post_id": "LPAHq0Cjhgk"}}, {"key": "@TrendLabID", "attributes": {"label": "@TrendLabID", "x": 143.97858444488398, "y": 12.022553822575555, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "-zxGTpjlCF8", "id": "@TrendLabID", "source": "youtube-000001", "content": "Efisiensi Pelabuhan 2026: Strategi Digitalisasi Koridor Barat Memangkas Biaya Manifes\n\nEfisiensi Pelabuhan 2026: Strategi Digitalisasi Koridor Barat Memangkas Biaya Manifes | Laporan Intelijen Data ‪‬ \nPoros maritim Koridor Barat Indonesia tengah mengalami rekonfigurasi struktural melalui digitalisasi sistem manifes pelabuhan transisi 2026. Langkah strategis ini bukan sekadar pemangkasan birokrasi operasional, melainkan sebuah desain besar restrukturisasi manajemen aset logistik nasional. Integrasi layanan pelabuhan dari Selat Malaka, Belawan, hingga Tanjung Priok memicu pergeseran masif dalam kalkulasi investasi daerah dan arus kas korporasi multinasional. Penurunan biaya logistik yang ditargetkan mencapai 14 persen menjadi katalis utama bagi percepatan pertumbuhan ekonomi makro di wilayah barat, sekaligus menguji ketahanan regulasi publik dalam menghadapi disrupsi teknologi pelabuhan pintar (smart port system).\n\nDi balik narasi efisiensi operasional, terdapat dinamika power mapping yang sangat kompleks di antara para pemegang kebijakan publik dan konglomerasi logistik nasional. Posisi strategis KDM (Kamar Dagang dan Manifestasi) berada di titik episentrum pusaran ini. Langkah digitalisasi koridor barat memaksa terjadinya konsolidasi kapital yang masif, di mana aktor-aktor industri tradisional dipaksa beradaptasi atau tereliminasi oleh sistem yang terintegrasi secara terpusat. Analisis taktis menunjukkan bahwa penguasaan atas sirkulasi data manifes digital ini setara dengan penguasaan atas jalur urat nadi komersial nasional. KDM secara cerdik memosisikan diri sebagai jembatan regulasi, mengamankan kepentingan investasi domestik di tengah penetrasi modal asing yang mencoba mengeksploitasi anomali kebijakan transisi.\n\nModernisasi infrastruktur digital ini didanai melalui skema integrasi kebijakan anggaran yang melibatkan kemitraan pemerintah dan badan usaha (KPBU) serta optimalisasi alokasi APBN sektor perhubungan. Efisiensi biaya manifes secara langsung mengubah proyeksi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan retribusi daerah. Pendekatan analitis terhadap struktur biaya kepelabuhanan menunjukkan bahwa otomatisasi data mampu mengeliminasi friksi finansial yang selama ini membebani neraca perdagangan regional. Bagi para pelaku pasar modal dan manajemen investasi, transformasi ini memberikan sinyal hijau terhadap emiten sektor logistik, pelayaran, dan manajemen rantai pasok (supply chain management) yang mengadopsi kepatuhan regulasi secara penuh.\n\nKeberhasilan digitalisasi Koridor Barat ini menjadi fondasi krusial bagi proyeksi stabilitas nasional menjelang suksesi politik 2029. Peta geopolitik domestik akan sangat dipengaruhi oleh daerah mana yang paling cepat mengintegrasikan sistem logistik mereka dengan jaringan global. Ketahanan ekonomi nasional menghadapi tantangan global hanya bisa dicapai jika pelabuhan utama berfungsi tanpa anomali teknis. KDM, melalui penguatan jaringan logistik di Koridor Barat, sedang membangun legitimasi ekonomi jangka panjang yang akan menjadi pilar stabilitas politik, memastikan transisi kekuasaan di masa depan berjalan di atas landasan pertumbuhan ekonomi yang solid, terukur, dan kebal terhadap guncangan eksternal.\n\nStamptime:\n00:00 - Master Idea: Stopper Koridor Barat 2026\n01:30 - Analisis Struktur Biaya Manifes Pelabuhan\n03:00 - Anatomi Digitalisasi: Mengapa Koridor Barat Menjadi Prioritas\n04:30 - Power Mapping: Posisi KDM di Pusat Konsolidasi Kapital\n06:00 - Integrasi Kebijakan Anggaran & Pembiayaan Infrastruktur\n07:30 - Menakar Anomali Kebijakan dalam Masa Transisi Sistem\n09:00 - Dampak Makro: Sinyal Investasi Daerah & Manajemen Aset\n10:30 - Peta Geopolitik Maritim: Selat Malaka hingga Tanjung Priok\n12:00 - Taktis KDM: Mengamankan Arus Logistik Jangka Panjang\n13:30 - Proyeksi Stabilitas Nasional Menuju Suksesi 2029\n\n#KDM #KamarDagang #KementerianPerhubungan #BUMNLogistik #OtoritasPelabuhan #EkonomiMakro #KonsolidasiKapital #DigitalisasiPelabuhan #EfisiensiLogistik #InvestasiDaerah #StabilitasNasional2029 #Geopolitik2026 #RegulasiPublik #InfrastrukturBarat #ManajemenAset\n---------------------------------------------------------------------------------------------------------\nAlgorithmc Integrity & Research Protocol:\nAnalisis & Riset: Team Trend Lab Indonesia\nMetodologi: Analisis Sentimen Digital & Social Media Mapping 2026\nSumber Data: Google Trends, Metadata Analysis, & Public Interaction Tracking\n\nEducation Shield (Disclaimer):\nVideo di channel ini diproduksi eksklusif untuk tujuan edukasi, analisis sosiologi mendalam, serta riset media digital. Trend Lab Indonesia beroperasi sebagai laboratorium data independen dan TIDAK BERAFILIASI dengan entitas politik, partai, atau tokoh publik manapun. Kami menggunakan pendekatan Data Science untuk membedah fenomena sosiopsikologi di Indonesia secara netral dan ilmiah.", "post_id": "-zxGTpjlCF8"}}, {"key": "TrendLabID", "attributes": {"label": "TrendLabID", "x": 513.3538163639942, "y": 493.44830508725903, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "-zxGTpjlCF8", "id": "TrendLabID", "source": "youtube-000001", "content": "Efisiensi Pelabuhan 2026: Strategi Digitalisasi Koridor Barat Memangkas Biaya Manifes\n\nEfisiensi Pelabuhan 2026: Strategi Digitalisasi Koridor Barat Memangkas Biaya Manifes | Laporan Intelijen Data ‪‬ \nPoros maritim Koridor Barat Indonesia tengah mengalami rekonfigurasi struktural melalui digitalisasi sistem manifes pelabuhan transisi 2026. Langkah strategis ini bukan sekadar pemangkasan birokrasi operasional, melainkan sebuah desain besar restrukturisasi manajemen aset logistik nasional. Integrasi layanan pelabuhan dari Selat Malaka, Belawan, hingga Tanjung Priok memicu pergeseran masif dalam kalkulasi investasi daerah dan arus kas korporasi multinasional. Penurunan biaya logistik yang ditargetkan mencapai 14 persen menjadi katalis utama bagi percepatan pertumbuhan ekonomi makro di wilayah barat, sekaligus menguji ketahanan regulasi publik dalam menghadapi disrupsi teknologi pelabuhan pintar (smart port system).\n\nDi balik narasi efisiensi operasional, terdapat dinamika power mapping yang sangat kompleks di antara para pemegang kebijakan publik dan konglomerasi logistik nasional. Posisi strategis KDM (Kamar Dagang dan Manifestasi) berada di titik episentrum pusaran ini. Langkah digitalisasi koridor barat memaksa terjadinya konsolidasi kapital yang masif, di mana aktor-aktor industri tradisional dipaksa beradaptasi atau tereliminasi oleh sistem yang terintegrasi secara terpusat. Analisis taktis menunjukkan bahwa penguasaan atas sirkulasi data manifes digital ini setara dengan penguasaan atas jalur urat nadi komersial nasional. KDM secara cerdik memosisikan diri sebagai jembatan regulasi, mengamankan kepentingan investasi domestik di tengah penetrasi modal asing yang mencoba mengeksploitasi anomali kebijakan transisi.\n\nModernisasi infrastruktur digital ini didanai melalui skema integrasi kebijakan anggaran yang melibatkan kemitraan pemerintah dan badan usaha (KPBU) serta optimalisasi alokasi APBN sektor perhubungan. Efisiensi biaya manifes secara langsung mengubah proyeksi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dan retribusi daerah. Pendekatan analitis terhadap struktur biaya kepelabuhanan menunjukkan bahwa otomatisasi data mampu mengeliminasi friksi finansial yang selama ini membebani neraca perdagangan regional. Bagi para pelaku pasar modal dan manajemen investasi, transformasi ini memberikan sinyal hijau terhadap emiten sektor logistik, pelayaran, dan manajemen rantai pasok (supply chain management) yang mengadopsi kepatuhan regulasi secara penuh.\n\nKeberhasilan digitalisasi Koridor Barat ini menjadi fondasi krusial bagi proyeksi stabilitas nasional menjelang suksesi politik 2029. Peta geopolitik domestik akan sangat dipengaruhi oleh daerah mana yang paling cepat mengintegrasikan sistem logistik mereka dengan jaringan global. Ketahanan ekonomi nasional menghadapi tantangan global hanya bisa dicapai jika pelabuhan utama berfungsi tanpa anomali teknis. KDM, melalui penguatan jaringan logistik di Koridor Barat, sedang membangun legitimasi ekonomi jangka panjang yang akan menjadi pilar stabilitas politik, memastikan transisi kekuasaan di masa depan berjalan di atas landasan pertumbuhan ekonomi yang solid, terukur, dan kebal terhadap guncangan eksternal.\n\nStamptime:\n00:00 - Master Idea: Stopper Koridor Barat 2026\n01:30 - Analisis Struktur Biaya Manifes Pelabuhan\n03:00 - Anatomi Digitalisasi: Mengapa Koridor Barat Menjadi Prioritas\n04:30 - Power Mapping: Posisi KDM di Pusat Konsolidasi Kapital\n06:00 - Integrasi Kebijakan Anggaran & Pembiayaan Infrastruktur\n07:30 - Menakar Anomali Kebijakan dalam Masa Transisi Sistem\n09:00 - Dampak Makro: Sinyal Investasi Daerah & Manajemen Aset\n10:30 - Peta Geopolitik Maritim: Selat Malaka hingga Tanjung Priok\n12:00 - Taktis KDM: Mengamankan Arus Logistik Jangka Panjang\n13:30 - Proyeksi Stabilitas Nasional Menuju Suksesi 2029\n\n#KDM #KamarDagang #KementerianPerhubungan #BUMNLogistik #OtoritasPelabuhan #EkonomiMakro #KonsolidasiKapital #DigitalisasiPelabuhan #EfisiensiLogistik #InvestasiDaerah #StabilitasNasional2029 #Geopolitik2026 #RegulasiPublik #InfrastrukturBarat #ManajemenAset\n---------------------------------------------------------------------------------------------------------\nAlgorithmc Integrity & Research Protocol:\nAnalisis & Riset: Team Trend Lab Indonesia\nMetodologi: Analisis Sentimen Digital & Social Media Mapping 2026\nSumber Data: Google Trends, Metadata Analysis, & Public Interaction Tracking\n\nEducation Shield (Disclaimer):\nVideo di channel ini diproduksi eksklusif untuk tujuan edukasi, analisis sosiologi mendalam, serta riset media digital. Trend Lab Indonesia beroperasi sebagai laboratorium data independen dan TIDAK BERAFILIASI dengan entitas politik, partai, atau tokoh publik manapun. Kami menggunakan pendekatan Data Science untuk membedah fenomena sosiopsikologi di Indonesia secara netral dan ilmiah.", "post_id": "-zxGTpjlCF8"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "attributes": {"label": "@OpenDialogueByAxis", "x": 109.04549889259086, "y": 953.2600291897902, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "@OpenDialogueByAxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "opendialoguebyaxis", "x": 847.1938147120716, "y": 971.7802027257717, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "opendialoguebyaxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "@BRICSbusiness", "attributes": {"label": "@BRICSbusiness", "x": 282.4823826771533, "y": 643.692841034916, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.2979, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "9GaYLesuEMc", "id": "@BRICSbusiness", "source": "youtube-000001", "content": "Taruhan Besar Uzbekistan: Mengapa Mereka Memilih Bank BRICS Dibandingkan IMF\n\nMengapa Uzbekistan memilih Bank Pembangunan Baru (NDB) daripada IMF? Dalam analisis mendalam oleh BRICS Business ini, kami menganalisis taruhan besar Uzbekistan pada ekosistem keuangan BRICS dan apa artinya bagi masa depan geopolitik Asia Tengah. Seiring dunia bergeser menuju dunia multipolar, masuknya Uzbekistan ke NDB menandai momen penting dalam penataan ulang keuangan global. Kami mengeksplorasi \"Konsensus Wall Street\" versus alternatif BRICS, melihat bagaimana strategi de-dolarisasi Uzbekistan membentuk kembali perdagangan regional.\n\nVideo ini menguraikan tujuan kedaulatan ekonomi spesifik Uzbekistan pada tahun 2025 dan mengapa perdebatan bank BRICS vs IMF lebih dari sekadar pilihan pemberi pinjaman—ini adalah pilihan keselarasan politik masa depan. Kami meneliti pendekatan unik NDB terhadap pinjaman mata uang lokal dan bagaimana hal itu memberdayakan gerakan keuangan Global Selatan. Dengan bergabung dalam ekspansi BRICS, Uzbekistan memposisikan dirinya di jantung era ekonomi baru, memprioritaskan kedaulatan keuangan daripada struktur utang tradisional yang dipimpin Barat. Dari koridor Tashkent hingga kantor pusat NDB di Shanghai, temukan bagaimana langkah ini menandakan tren de-dolarisasi yang lebih luas dan penurunan keuangan global unipolar.\n\nMeskipun kami memberikan tinjauan komprehensif tentang hubungan Uzbekistan dengan BRICS dan NDB, video ini tidak memberikan audit teknis atas perjanjian pinjaman NDB tertentu atau neraca proyek individual. Kami berfokus pada geopolitik tingkat tinggi dan kedaulatan ekonomi Global Selatan, daripada memberikan nasihat keuangan atau prediksi pasar saham untuk ekonomi Uzbekistan tahun 2025. Ini bukan sejarah lengkap IMF; sebaliknya, ini adalah analisis terfokus tentang persaingan bank BRICS vs IMF di Asia Tengah. Kami tidak membahas aliansi militer atau pergeseran partai politik internal Uzbekistan, dengan tetap memfokuskan perhatian pada penataan ulang keuangan, perdagangan, dan multipolaritas keuangan global.\n\nTerakhir, meskipun kami membahas de-dolarisasi, ini bukan tutorial tentang mata uang kripto atau aset digital, tetapi analisis tren de-dolarisasi tingkat negara Uzbekistan dalam kerangka ekspansi BRICS. Tetap ikuti BRICS Business oleh Think BRICS untuk informasi lebih lanjut tentang pergeseran kekuatan Global Selatan.\n\n00:00 – Uzbekistan Bergabung dengan Bank Pembangunan Baru BRICS\n01:36 – Perbedaan NDB dengan IMF & Bank Dunia\n03:00 – Konsensus Wall Street: Risiko Tersembunyi yang Dijelaskan\n04:08 – Realita Batasan Pinjaman Mata Uang Lokal\n05:27 – Studi Kasus: Mengapa Mesir Masih Bergantung pada IMF\n06:27 – Netralitas Kazakhstan: Memilih untuk Tidak Bergabung dengan BRICS\n07:03 – Reformasi Ekonomi & Strategi Kelayakan Kredit Uzbekistan\n07:38 – Dua Jalur: Kebijakan Industri vs. Modal Asing\n08:42 – Kesenjangan Transparansi: Isu Akuntabilitas NDB\n10:11 – Strategi Geopolitik Multi-Vektor Uzbekistan\n10:48 – mBridge & Masa Depan Sistem Pembayaran BRICS\n11:31 – Apakah NDB Merupakan Alternatif Sejati untuk Global Selatan?\n\n#Uzbekistan #Geopolitik #DeDolarisasi #GlobalSelatan #NDB #DuniaMultipolar\n\n🗣 Berlangganan: https://www.youtube.com/\n===========\nBRICS Business menyajikan analisis pasar berdasarkan data dan riset publik. Bukan nasihat keuangan. Verifikasi secara independen. Materi berlisensi komersial digunakan.", "post_id": "9GaYLesuEMc"}}, {"key": "BRICSbusines...", "attributes": {"label": "BRICSbusines...", "x": 823.8952898832754, "y": 944.5666947466964, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "9GaYLesuEMc", "id": "BRICSbusines...", "source": "youtube-000001", "content": "Taruhan Besar Uzbekistan: Mengapa Mereka Memilih Bank BRICS Dibandingkan IMF\n\nMengapa Uzbekistan memilih Bank Pembangunan Baru (NDB) daripada IMF? Dalam analisis mendalam oleh BRICS Business ini, kami menganalisis taruhan besar Uzbekistan pada ekosistem keuangan BRICS dan apa artinya bagi masa depan geopolitik Asia Tengah. Seiring dunia bergeser menuju dunia multipolar, masuknya Uzbekistan ke NDB menandai momen penting dalam penataan ulang keuangan global. Kami mengeksplorasi \"Konsensus Wall Street\" versus alternatif BRICS, melihat bagaimana strategi de-dolarisasi Uzbekistan membentuk kembali perdagangan regional.\n\nVideo ini menguraikan tujuan kedaulatan ekonomi spesifik Uzbekistan pada tahun 2025 dan mengapa perdebatan bank BRICS vs IMF lebih dari sekadar pilihan pemberi pinjaman—ini adalah pilihan keselarasan politik masa depan. Kami meneliti pendekatan unik NDB terhadap pinjaman mata uang lokal dan bagaimana hal itu memberdayakan gerakan keuangan Global Selatan. Dengan bergabung dalam ekspansi BRICS, Uzbekistan memposisikan dirinya di jantung era ekonomi baru, memprioritaskan kedaulatan keuangan daripada struktur utang tradisional yang dipimpin Barat. Dari koridor Tashkent hingga kantor pusat NDB di Shanghai, temukan bagaimana langkah ini menandakan tren de-dolarisasi yang lebih luas dan penurunan keuangan global unipolar.\n\nMeskipun kami memberikan tinjauan komprehensif tentang hubungan Uzbekistan dengan BRICS dan NDB, video ini tidak memberikan audit teknis atas perjanjian pinjaman NDB tertentu atau neraca proyek individual. Kami berfokus pada geopolitik tingkat tinggi dan kedaulatan ekonomi Global Selatan, daripada memberikan nasihat keuangan atau prediksi pasar saham untuk ekonomi Uzbekistan tahun 2025. Ini bukan sejarah lengkap IMF; sebaliknya, ini adalah analisis terfokus tentang persaingan bank BRICS vs IMF di Asia Tengah. Kami tidak membahas aliansi militer atau pergeseran partai politik internal Uzbekistan, dengan tetap memfokuskan perhatian pada penataan ulang keuangan, perdagangan, dan multipolaritas keuangan global.\n\nTerakhir, meskipun kami membahas de-dolarisasi, ini bukan tutorial tentang mata uang kripto atau aset digital, tetapi analisis tren de-dolarisasi tingkat negara Uzbekistan dalam kerangka ekspansi BRICS. Tetap ikuti BRICS Business oleh Think BRICS untuk informasi lebih lanjut tentang pergeseran kekuatan Global Selatan.\n\n00:00 – Uzbekistan Bergabung dengan Bank Pembangunan Baru BRICS\n01:36 – Perbedaan NDB dengan IMF & Bank Dunia\n03:00 – Konsensus Wall Street: Risiko Tersembunyi yang Dijelaskan\n04:08 – Realita Batasan Pinjaman Mata Uang Lokal\n05:27 – Studi Kasus: Mengapa Mesir Masih Bergantung pada IMF\n06:27 – Netralitas Kazakhstan: Memilih untuk Tidak Bergabung dengan BRICS\n07:03 – Reformasi Ekonomi & Strategi Kelayakan Kredit Uzbekistan\n07:38 – Dua Jalur: Kebijakan Industri vs. Modal Asing\n08:42 – Kesenjangan Transparansi: Isu Akuntabilitas NDB\n10:11 – Strategi Geopolitik Multi-Vektor Uzbekistan\n10:48 – mBridge & Masa Depan Sistem Pembayaran BRICS\n11:31 – Apakah NDB Merupakan Alternatif Sejati untuk Global Selatan?\n\n#Uzbekistan #Geopolitik #DeDolarisasi #GlobalSelatan #NDB #DuniaMultipolar\n\n🗣 Berlangganan: https://www.youtube.com/\n===========\nBRICS Business menyajikan analisis pasar berdasarkan data dan riset publik. Bukan nasihat keuangan. Verifikasi secara independen. Materi berlisensi komersial digunakan.", "post_id": "9GaYLesuEMc"}}], "edges": [{"key": "Rahadi0816", "source": "Rahadi0816", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Rahadi0816", "source": "Rahadi0816", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Rahadi240987455", "source": "Rahadi240987455", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Rahadi240987455", "source": "Rahadi240987455", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "satunusa185593", "source": "satunusa185593", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "satunusa185593", "source": "satunusa185593", "target": "Rahadi0816", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "AzmiFaiqoh", "source": "AzmiFaiqoh", "target": "yayaggp", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "AzmiFaiqoh", "source": "AzmiFaiqoh", "target": "hrdbacot", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "__RismaWidiono_", "source": "__RismaWidiono_", "target": "ganjarpranowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "_fadln", "source": "_fadln", "target": "TxtdariHI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "p0congg", "source": "p0congg", "target": "ramzanrachmat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "p0congg", "source": "p0congg", "target": "radjathaher", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ekbisbanten", "source": "ekbisbanten", "target": "ekbisbanten", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "swamediainc", "source": "swamediainc", "target": "swamediainc", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Korea", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Community", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "IDNTimes.Hype", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Duniaku_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popbela_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popbela.Beauty", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Popmama_com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idntimes.video", "source": "idntimes.video", "target": "Yummy.idn", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "ekbisbanten", "source": "ekbisbanten", "target": "ekbisbanten", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "benkemashurie", "source": "benkemashurie", "target": "Prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "xinayel", "source": "xinayel", "target": "xinayel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "fadhnet.id", "source": "fadhnet.id", "target": "rayd.sky", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "noel_samo.ht", "source": "noel_samo.ht", "target": "irwandiferry", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@BennixInvestasi", "source": "@BennixInvestasi", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Sulselsatu", "source": "@Sulselsatu", "target": "sulselsatu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastv", "source": "@kompastv", "target": "kompastv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "source": "@NDTVProfitIndia", "target": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@tuturmediadigital", "source": "@tuturmediadigital", "target": "tuturtvmedia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "JCCNetwork", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jccbetwork.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jcc_network", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@JCCNetwork", "source": "@JCCNetwork", "target": "jccnetwork.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TrendLabID", "source": "@TrendLabID", "target": "TrendLabID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "source": "@OpenDialogueByAxis", "target": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BRICSbusiness", "source": "@BRICSbusiness", "target": "BRICSbusines...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}