{"nodes": [{"key": "Bonggol80885712", "attributes": {"label": "Bonggol80885712", "x": 948.3773253196697, "y": 35.268021583520046, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 53.1208, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2041769835856851245", "id": "Bonggol80885712", "source": "tweet-000004", "content": "Jangan langsung ya,ngasih uangnya,, transfer ke rekening bank,,\nKrisis energi global \n  Maklum dampaknya Rupiah melemah di tambah lagi efek peredaran uang palsu,takutnya uang yang di beri bos itu uang palsu ya,,\n   Kan kasihan UMKM,dan pedagang kecil", "post_id": "2041769835856851245"}}, {"key": "ike_hw71", "attributes": {"label": "ike_hw71", "x": 261.9276126643508, "y": 963.6992587789886, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 68.1718, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2041769835856851245", "id": "ike_hw71", "source": "tweet-000004", "content": "Jangan langsung ya,ngasih uangnya,, transfer ke rekening bank,,\nKrisis energi global \n  Maklum dampaknya Rupiah melemah di tambah lagi efek peredaran uang palsu,takutnya uang yang di beri bos itu uang palsu ya,,\n   Kan kasihan UMKM,dan pedagang kecil", "post_id": "2041769835856851245"}}, {"key": "prabowo", "attributes": {"label": "prabowo", "x": 321.52939238014056, "y": 613.8437383263414, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 68.1718, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2041769835856851245", "id": "prabowo", "source": "tweet-000004", "content": "Jangan langsung ya,ngasih uangnya,, transfer ke rekening bank,,\nKrisis energi global \n  Maklum dampaknya Rupiah melemah di tambah lagi efek peredaran uang palsu,takutnya uang yang di beri bos itu uang palsu ya,,\n   Kan kasihan UMKM,dan pedagang kecil", "post_id": "2041769835856851245"}}, {"key": "DPR_RI", "attributes": {"label": "DPR_RI", "x": 516.944888725442, "y": 117.0164208394121, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 68.1718, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2041769835856851245", "id": "DPR_RI", "source": "tweet-000004", "content": "Jangan langsung ya,ngasih uangnya,, transfer ke rekening bank,,\nKrisis energi global \n  Maklum dampaknya Rupiah melemah di tambah lagi efek peredaran uang palsu,takutnya uang yang di beri bos itu uang palsu ya,,\n   Kan kasihan UMKM,dan pedagang kecil", "post_id": "2041769835856851245"}}, {"key": "indonesiainjb", "attributes": {"label": "indonesiainjb", "x": 5.286662462363534, "y": 890.3771211916157, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 53.1208, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3867845011547748119_5785543596", "id": "indonesiainjb", "source": "instagram-000001", "content": "Strategi LAJU: Mendorong Kedaulatan Ekonomi Indonesia–Malaysia 🇮🇩🇲🇾\n\nKJRI Johor Bahru bersama Bank Indonesia Representative Office Singapore  sukses menyelenggarakan forum strategis “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” pada 1 April 2026 di Johor Bahru.\n\nForum ini menegaskan pentingnya penggunaan mata uang lokal (Rupiah dan Ringgit) dalam transaksi bilateral guna meningkatkan efisiensi, stabilitas, dan kedaulatan ekonomi kedua negara.\n\nDalam keynote speech-nya, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, menekankan eratnya hubungan Indonesia–Malaysia, khususnya dengan Johor, yang ditopang konektivitas tinggi serta mobilitas masyarakat yang intens. Beliau juga mendorong optimalisasi LCT melalui pendekatan L.A.J.U sebagai langkah strategis memperkuat pertumbuhan ekonomi bersama.\n\nMelalui konsep L.A.J.U:\n🔹 Local Currency – Mengutamakan mata uang lokal\n🔹 Accelerate Adoption – Mempercepat adopsi oleh pelaku usaha\n🔹 Joint Growth – Mendorong pertumbuhan bersama\n🔹 Unlock Potential – Mengoptimalkan potensi ekonomi bilateral\n\n💡 Dampak nyata bagi UMKM:\nPenggunaan LCT membantu UMKM mengurangi biaya konversi mata uang, menekan risiko fluktuasi nilai tukar, serta mempermudah transaksi lintas negara. Hal ini membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing produk, dan memperkuat ekspansi UMKM Indonesia di Malaysia.\n\nDengan sinergi yang kuat, Indonesia dan Malaysia siap melangkah lebih cepat menuju integrasi ekonomi yang lebih kokoh, inklusif, dan berdaulat.", "post_id": "3867845011547748119_5785543596"}}, {"key": "bank_indonesia_singapura", "attributes": {"label": "bank_indonesia_singapura", "x": 137.66215903427636, "y": 67.76505323015813, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 98.2736, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3867845011547748119_5785543596", "id": "bank_indonesia_singapura", "source": "instagram-000001", "content": "Strategi LAJU: Mendorong Kedaulatan Ekonomi Indonesia–Malaysia 🇮🇩🇲🇾\n\nKJRI Johor Bahru bersama Bank Indonesia Representative Office Singapore  sukses menyelenggarakan forum strategis “Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia–Malaysia to Support Bilateral Economic Growth” pada 1 April 2026 di Johor Bahru.\n\nForum ini menegaskan pentingnya penggunaan mata uang lokal (Rupiah dan Ringgit) dalam transaksi bilateral guna meningkatkan efisiensi, stabilitas, dan kedaulatan ekonomi kedua negara.\n\nDalam keynote speech-nya, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, menekankan eratnya hubungan Indonesia–Malaysia, khususnya dengan Johor, yang ditopang konektivitas tinggi serta mobilitas masyarakat yang intens. Beliau juga mendorong optimalisasi LCT melalui pendekatan L.A.J.U sebagai langkah strategis memperkuat pertumbuhan ekonomi bersama.\n\nMelalui konsep L.A.J.U:\n🔹 Local Currency – Mengutamakan mata uang lokal\n🔹 Accelerate Adoption – Mempercepat adopsi oleh pelaku usaha\n🔹 Joint Growth – Mendorong pertumbuhan bersama\n🔹 Unlock Potential – Mengoptimalkan potensi ekonomi bilateral\n\n💡 Dampak nyata bagi UMKM:\nPenggunaan LCT membantu UMKM mengurangi biaya konversi mata uang, menekan risiko fluktuasi nilai tukar, serta mempermudah transaksi lintas negara. Hal ini membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing produk, dan memperkuat ekspansi UMKM Indonesia di Malaysia.\n\nDengan sinergi yang kuat, Indonesia dan Malaysia siap melangkah lebih cepat menuju integrasi ekonomi yang lebih kokoh, inklusif, dan berdaulat.", "post_id": "3867845011547748119_5785543596"}}, {"key": "arkan_turungku", "attributes": {"label": "arkan_turungku", "x": 66.67515100439859, "y": 232.4980312123175, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 53.1208, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7632883090750295317", "id": "arkan_turungku", "source": "tiktok-000001", "content": "Pada tahun 2026, kondisi ekonomi Indonesia secara umum masih berada dalam kategori stabil jika dilihat dari indikator makro.  Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1%–5,4%, didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta kebijakan pemerintah yang menjaga keseimbangan fiskal dan moneter. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dari sisi inflasi, data menunjukkan kisaran sekitar 2,5%–3,5% (year-on-year), yang masih berada dalam target Bank Indonesia. Hal ini menandakan bahwa secara umum harga barang dan jasa masih terkendali. Namun, dalam praktiknya, beberapa komoditas pangan seperti beras, cabai, dan daging sering mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi. Karena pangan merupakan kebutuhan utama, kenaikan ini lebih terasa langsung oleh masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada daya beli. Di beberapa kelompok masyarakat, terutama kelas menengah, daya beli mulai tertekan karena kenaikan harga tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan. Akibatnya, pola konsumsi berubah, di mana masyarakat cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Di sektor pasar keuangan, IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 6.800–7.400. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor global seperti kebijakan suku bunga negara maju, kondisi geopolitik, serta arus modal internasional. Pergerakan investor asing yang keluar-masuk pasar juga menjadi faktor yang mempengaruhi stabilitas pasar saham dan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah sendiri mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS dan kondisi ekonomi global. Namun, stabilitas tetap dijaga oleh Bank Indonesia melalui berbagai kebijakan moneter. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan, sistem ekonomi Indonesia masih memiliki mekanisme pengendalian yang berjalan. Di sisi lain, peran UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. UMKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian. Meski demikian, sektor ini juga menghadapi tantangan seperti akses permodalan, digitalisasi, dan persaingan pasar. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah kesenjangan ekonomi. Pertumbuhan yang terjadi belum sepenuhnya merata antar wilayah maupun kelompok masyarakat.  Perbedaan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi ini. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada 2026 dapat dikatakan stabil secara data dan tetap tumbuh, namun dampaknya belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menjelaskan mengapa terdapat perbedaan antara data resmi dan persepsi sebagian masyarakat. #creatorsearchinsight #edukasi #ekonomiindonesia #keuangan #Lewatberanda", "post_id": "7632883090750295317"}}, {"key": "StatifyID", "attributes": {"label": "StatifyID", "x": 703.96958423459, "y": 957.2661892827862, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 98.2736, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7632883090750295317", "id": "StatifyID", "source": "tiktok-000001", "content": "Pada tahun 2026, kondisi ekonomi Indonesia secara umum masih berada dalam kategori stabil jika dilihat dari indikator makro.  Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,1%–5,4%, didukung oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta kebijakan pemerintah yang menjaga keseimbangan fiskal dan moneter. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dari sisi inflasi, data menunjukkan kisaran sekitar 2,5%–3,5% (year-on-year), yang masih berada dalam target Bank Indonesia. Hal ini menandakan bahwa secara umum harga barang dan jasa masih terkendali. Namun, dalam praktiknya, beberapa komoditas pangan seperti beras, cabai, dan daging sering mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi. Karena pangan merupakan kebutuhan utama, kenaikan ini lebih terasa langsung oleh masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada daya beli. Di beberapa kelompok masyarakat, terutama kelas menengah, daya beli mulai tertekan karena kenaikan harga tidak selalu diikuti peningkatan pendapatan. Akibatnya, pola konsumsi berubah, di mana masyarakat cenderung lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Di sektor pasar keuangan, IHSG bergerak fluktuatif di kisaran 6.800–7.400. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor global seperti kebijakan suku bunga negara maju, kondisi geopolitik, serta arus modal internasional. Pergerakan investor asing yang keluar-masuk pasar juga menjadi faktor yang mempengaruhi stabilitas pasar saham dan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah sendiri mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS dan kondisi ekonomi global. Namun, stabilitas tetap dijaga oleh Bank Indonesia melalui berbagai kebijakan moneter. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan, sistem ekonomi Indonesia masih memiliki mekanisme pengendalian yang berjalan. Di sisi lain, peran UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional. UMKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian. Meski demikian, sektor ini juga menghadapi tantangan seperti akses permodalan, digitalisasi, dan persaingan pasar. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah kesenjangan ekonomi. Pertumbuhan yang terjadi belum sepenuhnya merata antar wilayah maupun kelompok masyarakat.  Perbedaan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang ekonomi menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi ini. Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada 2026 dapat dikatakan stabil secara data dan tetap tumbuh, namun dampaknya belum dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini menjelaskan mengapa terdapat perbedaan antara data resmi dan persepsi sebagian masyarakat. #creatorsearchinsight #edukasi #ekonomiindonesia #keuangan #Lewatberanda", "post_id": "7632883090750295317"}}, {"key": "zstlyprom", "attributes": {"label": "zstlyprom", "x": 88.55314057613883, "y": 449.60895000517473, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 53.1208, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7628605541576723719", "id": "zstlyprom", "source": "tiktok-000001", "content": "QRIS Lintas Negara: Lebih dari Sekadar Alat Bayar Lokal QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini bukan lagi sekadar sarana pembayaran di pasar domestik. Per April 2026, jangkauannya telah meluas ke berbagai negara berkat kerja sama Bank Indonesia dengan bank sentral mitra. Negara yang Mendukung QRIS Dengan aplikasi pembayaran Indonesia (m-banking atau e-wallet), kamu bisa langsung memindai kode QR standar di negara berikut: - Singapura: Jaringan NETS atau SGQR   - Thailand: Jaringan PromptPay   - Malaysia: Jaringan DuitNow   - Filipina: Jaringan InstaPay   - Jepang: Aktif bertahap sejak pertengahan 2025 melalui JPQR   - Tiongkok: Resmi digunakan luas sejak awal 2026   - Korea Selatan: Diluncurkan resmi pada 1 April 2026 Fakta Menarik tentang QRIS di Luar Negeri 1. Konversi Mata Uang Otomatis      Tidak perlu menukar uang di money changer atau menghitung kurs manual. Nominal transaksi langsung ditampilkan dalam mata uang asing beserta konversi ke Rupiah secara real-time.   2. Kurs Kompetitif      Nilai tukar QRIS antarnegara umumnya lebih menguntungkan dibandingkan menukar uang tunai atau memakai kartu kredit internasional yang sering dikenakan biaya tambahan.   3. Potong Saldo Rupiah Langsung      Transaksi otomatis mengurangi saldo Rupiah di rekening atau dompet digital. Pastikan saldo cukup karena tidak ada sistem “utang” seperti kartu kredit.   4. Limit Transaksi      Batas nominal mengikuti ketentuan Bank Indonesia dan penyedia jasa pembayaran (PJP). Limitnya umumnya cukup besar untuk kebutuhan belanja turis maupun kuliner.   5. Keamanan Terjamin      Transaksi diawasi Bank Indonesia dan bank sentral mitra. Selain aman dari risiko uang palsu, setiap transaksi wajib verifikasi PIN di ponsel.   6. Tidak Semua Merchant Mendukung      Pastikan merchant memiliki logo QR standar nasional (misalnya DuitNow di Malaysia atau PromptPay di Thailand). QR pribadi tidak bisa digunakan.   7. Efisiensi bagi UMKM      Kerja sama ini bersifat dua arah: turis dari negara mitra juga bisa berbelanja di UMKM Indonesia hanya dengan memindai QRIS menggunakan aplikasi asal mereka.   -----   #zstlyprom  #QRIS #Payment #crossborder #education", "post_id": "7628605541576723719"}}, {"key": "xhmxdmxdzxkxr", "attributes": {"label": "xhmxdmxdzxkxr", "x": 886.0210508083692, "y": 97.56164084274755, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 98.2736, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7628605541576723719", "id": "xhmxdmxdzxkxr", "source": "tiktok-000001", "content": "QRIS Lintas Negara: Lebih dari Sekadar Alat Bayar Lokal QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kini bukan lagi sekadar sarana pembayaran di pasar domestik. Per April 2026, jangkauannya telah meluas ke berbagai negara berkat kerja sama Bank Indonesia dengan bank sentral mitra. Negara yang Mendukung QRIS Dengan aplikasi pembayaran Indonesia (m-banking atau e-wallet), kamu bisa langsung memindai kode QR standar di negara berikut: - Singapura: Jaringan NETS atau SGQR   - Thailand: Jaringan PromptPay   - Malaysia: Jaringan DuitNow   - Filipina: Jaringan InstaPay   - Jepang: Aktif bertahap sejak pertengahan 2025 melalui JPQR   - Tiongkok: Resmi digunakan luas sejak awal 2026   - Korea Selatan: Diluncurkan resmi pada 1 April 2026 Fakta Menarik tentang QRIS di Luar Negeri 1. Konversi Mata Uang Otomatis      Tidak perlu menukar uang di money changer atau menghitung kurs manual. Nominal transaksi langsung ditampilkan dalam mata uang asing beserta konversi ke Rupiah secara real-time.   2. Kurs Kompetitif      Nilai tukar QRIS antarnegara umumnya lebih menguntungkan dibandingkan menukar uang tunai atau memakai kartu kredit internasional yang sering dikenakan biaya tambahan.   3. Potong Saldo Rupiah Langsung      Transaksi otomatis mengurangi saldo Rupiah di rekening atau dompet digital. Pastikan saldo cukup karena tidak ada sistem “utang” seperti kartu kredit.   4. Limit Transaksi      Batas nominal mengikuti ketentuan Bank Indonesia dan penyedia jasa pembayaran (PJP). Limitnya umumnya cukup besar untuk kebutuhan belanja turis maupun kuliner.   5. Keamanan Terjamin      Transaksi diawasi Bank Indonesia dan bank sentral mitra. Selain aman dari risiko uang palsu, setiap transaksi wajib verifikasi PIN di ponsel.   6. Tidak Semua Merchant Mendukung      Pastikan merchant memiliki logo QR standar nasional (misalnya DuitNow di Malaysia atau PromptPay di Thailand). QR pribadi tidak bisa digunakan.   7. Efisiensi bagi UMKM      Kerja sama ini bersifat dua arah: turis dari negara mitra juga bisa berbelanja di UMKM Indonesia hanya dengan memindai QRIS menggunakan aplikasi asal mereka.   -----   #zstlyprom  #QRIS #Payment #crossborder #education", "post_id": "7628605541576723719"}}, {"key": "@Bennix", "attributes": {"label": "@Bennix", "x": 392.2233668552433, "y": 672.9288819926268, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 53.1208, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 0, "out_degree": 8, "degree": 8}, "_id": "OjcztFCC6b8", "id": "@Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "49 T LUDES TIAP TAHUN! RI Baru Tersadar Jadi “Budak Plastik”? UMKM Semakin MENJERIT?\n\nIndonesia ternyata kehilangan hingga Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat Indonesia seperti terjebak dalam krisis senyap yang jarang disadari publik. Saat dunia diguncang konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, dan ancaman terganggunya jalur energi global, dampaknya langsung terasa hingga ke sektor UMKM dalam negeri.\n\nPlastik bukan hanya soal kantong belanja atau kemasan biasa. Hampir seluruh sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia bergantung pada plastik, mulai dari industri makanan, minuman, pertanian, perikanan, logistik, hingga manufaktur rumahan. Ketika harga bahan baku plastik naik akibat perang dan gangguan pasokan global, UMKM menjadi pihak pertama yang paling terpukul.\n\nMengapa Indonesia masih sangat bergantung pada impor petrokimia dan bahan baku plastik dari luar negeri? Padahal Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya energi yang melimpah. Mengapa devisa negara terus terkuras hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?\n\nVideo ini membahas bagaimana Indonesia bisa menjadi “budak plastik”, mengapa perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz sangat berbahaya bagi ekonomi nasional, bagaimana impor petrokimia memengaruhi cadangan devisa negara, serta mengapa sektor UMKM menjadi korban terbesar dari krisis ini. Kita juga akan membahas apakah Indonesia mampu lepas dari ketergantungan impor plastik dan membangun kemandirian industri petrokimia nasional.\n\nKetika harga plastik naik, yang terdampak bukan hanya pabrik besar, tetapi juga pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga masyarakat biasa. Inilah ancaman ekonomi nyata yang sedang terjadi sekarang.\n\nApakah Indonesia akan terus kehilangan Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk plastik? Ataukah ini saatnya membangun kedaulatan industri nasional?\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "OjcztFCC6b8"}}, {"key": "Bennix", "attributes": {"label": "Bennix", "x": 873.1673041443021, "y": 235.9931788030053, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.7649, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "OjcztFCC6b8", "id": "Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "49 T LUDES TIAP TAHUN! RI Baru Tersadar Jadi “Budak Plastik”? UMKM Semakin MENJERIT?\n\nIndonesia ternyata kehilangan hingga Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat Indonesia seperti terjebak dalam krisis senyap yang jarang disadari publik. Saat dunia diguncang konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, dan ancaman terganggunya jalur energi global, dampaknya langsung terasa hingga ke sektor UMKM dalam negeri.\n\nPlastik bukan hanya soal kantong belanja atau kemasan biasa. Hampir seluruh sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia bergantung pada plastik, mulai dari industri makanan, minuman, pertanian, perikanan, logistik, hingga manufaktur rumahan. Ketika harga bahan baku plastik naik akibat perang dan gangguan pasokan global, UMKM menjadi pihak pertama yang paling terpukul.\n\nMengapa Indonesia masih sangat bergantung pada impor petrokimia dan bahan baku plastik dari luar negeri? Padahal Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya energi yang melimpah. Mengapa devisa negara terus terkuras hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?\n\nVideo ini membahas bagaimana Indonesia bisa menjadi “budak plastik”, mengapa perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz sangat berbahaya bagi ekonomi nasional, bagaimana impor petrokimia memengaruhi cadangan devisa negara, serta mengapa sektor UMKM menjadi korban terbesar dari krisis ini. Kita juga akan membahas apakah Indonesia mampu lepas dari ketergantungan impor plastik dan membangun kemandirian industri petrokimia nasional.\n\nKetika harga plastik naik, yang terdampak bukan hanya pabrik besar, tetapi juga pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga masyarakat biasa. Inilah ancaman ekonomi nyata yang sedang terjadi sekarang.\n\nApakah Indonesia akan terus kehilangan Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk plastik? Ataukah ini saatnya membangun kedaulatan industri nasional?\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "OjcztFCC6b8"}}, {"key": "bennix.official", "attributes": {"label": "bennix.official", "x": 128.85152307581993, "y": 164.97424344204515, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.7649, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "OjcztFCC6b8", "id": "bennix.official", "source": "youtube-000001", "content": "49 T LUDES TIAP TAHUN! RI Baru Tersadar Jadi “Budak Plastik”? UMKM Semakin MENJERIT?\n\nIndonesia ternyata kehilangan hingga Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat Indonesia seperti terjebak dalam krisis senyap yang jarang disadari publik. Saat dunia diguncang konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, dan ancaman terganggunya jalur energi global, dampaknya langsung terasa hingga ke sektor UMKM dalam negeri.\n\nPlastik bukan hanya soal kantong belanja atau kemasan biasa. Hampir seluruh sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia bergantung pada plastik, mulai dari industri makanan, minuman, pertanian, perikanan, logistik, hingga manufaktur rumahan. Ketika harga bahan baku plastik naik akibat perang dan gangguan pasokan global, UMKM menjadi pihak pertama yang paling terpukul.\n\nMengapa Indonesia masih sangat bergantung pada impor petrokimia dan bahan baku plastik dari luar negeri? Padahal Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya energi yang melimpah. Mengapa devisa negara terus terkuras hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?\n\nVideo ini membahas bagaimana Indonesia bisa menjadi “budak plastik”, mengapa perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz sangat berbahaya bagi ekonomi nasional, bagaimana impor petrokimia memengaruhi cadangan devisa negara, serta mengapa sektor UMKM menjadi korban terbesar dari krisis ini. Kita juga akan membahas apakah Indonesia mampu lepas dari ketergantungan impor plastik dan membangun kemandirian industri petrokimia nasional.\n\nKetika harga plastik naik, yang terdampak bukan hanya pabrik besar, tetapi juga pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga masyarakat biasa. Inilah ancaman ekonomi nyata yang sedang terjadi sekarang.\n\nApakah Indonesia akan terus kehilangan Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk plastik? Ataukah ini saatnya membangun kedaulatan industri nasional?\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "OjcztFCC6b8"}}, {"key": "bennix.real", "attributes": {"label": "bennix.real", "x": 870.6845019277001, "y": 580.8796878764197, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.7649, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "OjcztFCC6b8", "id": "bennix.real", "source": "youtube-000001", "content": "49 T LUDES TIAP TAHUN! RI Baru Tersadar Jadi “Budak Plastik”? UMKM Semakin MENJERIT?\n\nIndonesia ternyata kehilangan hingga Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat Indonesia seperti terjebak dalam krisis senyap yang jarang disadari publik. Saat dunia diguncang konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, dan ancaman terganggunya jalur energi global, dampaknya langsung terasa hingga ke sektor UMKM dalam negeri.\n\nPlastik bukan hanya soal kantong belanja atau kemasan biasa. Hampir seluruh sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia bergantung pada plastik, mulai dari industri makanan, minuman, pertanian, perikanan, logistik, hingga manufaktur rumahan. Ketika harga bahan baku plastik naik akibat perang dan gangguan pasokan global, UMKM menjadi pihak pertama yang paling terpukul.\n\nMengapa Indonesia masih sangat bergantung pada impor petrokimia dan bahan baku plastik dari luar negeri? Padahal Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya energi yang melimpah. Mengapa devisa negara terus terkuras hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?\n\nVideo ini membahas bagaimana Indonesia bisa menjadi “budak plastik”, mengapa perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz sangat berbahaya bagi ekonomi nasional, bagaimana impor petrokimia memengaruhi cadangan devisa negara, serta mengapa sektor UMKM menjadi korban terbesar dari krisis ini. Kita juga akan membahas apakah Indonesia mampu lepas dari ketergantungan impor plastik dan membangun kemandirian industri petrokimia nasional.\n\nKetika harga plastik naik, yang terdampak bukan hanya pabrik besar, tetapi juga pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga masyarakat biasa. Inilah ancaman ekonomi nyata yang sedang terjadi sekarang.\n\nApakah Indonesia akan terus kehilangan Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk plastik? Ataukah ini saatnya membangun kedaulatan industri nasional?\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "OjcztFCC6b8"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 21.23433329330848, "y": 17.020690888588817, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 58.7649, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "OjcztFCC6b8", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "49 T LUDES TIAP TAHUN! RI Baru Tersadar Jadi “Budak Plastik”? UMKM Semakin MENJERIT?\n\nIndonesia ternyata kehilangan hingga Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk memenuhi kebutuhan bahan baku plastik impor, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat Indonesia seperti terjebak dalam krisis senyap yang jarang disadari publik. Saat dunia diguncang konflik Iran, ketegangan di Selat Hormuz, dan ancaman terganggunya jalur energi global, dampaknya langsung terasa hingga ke sektor UMKM dalam negeri.\n\nPlastik bukan hanya soal kantong belanja atau kemasan biasa. Hampir seluruh sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia bergantung pada plastik, mulai dari industri makanan, minuman, pertanian, perikanan, logistik, hingga manufaktur rumahan. Ketika harga bahan baku plastik naik akibat perang dan gangguan pasokan global, UMKM menjadi pihak pertama yang paling terpukul.\n\nMengapa Indonesia masih sangat bergantung pada impor petrokimia dan bahan baku plastik dari luar negeri? Padahal Indonesia adalah negara besar dengan sumber daya energi yang melimpah. Mengapa devisa negara terus terkuras hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun? Siapa yang sebenarnya diuntungkan dari kondisi ini?\n\nVideo ini membahas bagaimana Indonesia bisa menjadi “budak plastik”, mengapa perang Iran dan ketegangan di Selat Hormuz sangat berbahaya bagi ekonomi nasional, bagaimana impor petrokimia memengaruhi cadangan devisa negara, serta mengapa sektor UMKM menjadi korban terbesar dari krisis ini. Kita juga akan membahas apakah Indonesia mampu lepas dari ketergantungan impor plastik dan membangun kemandirian industri petrokimia nasional.\n\nKetika harga plastik naik, yang terdampak bukan hanya pabrik besar, tetapi juga pedagang kecil, pelaku UMKM, petani, peternak, hingga masyarakat biasa. Inilah ancaman ekonomi nyata yang sedang terjadi sekarang.\n\nApakah Indonesia akan terus kehilangan Rp49 triliun setiap tahun hanya untuk plastik? Ataukah ini saatnya membangun kedaulatan industri nasional?\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "OjcztFCC6b8"}}], "edges": [{"key": "Bonggol80885712", "source": "Bonggol80885712", "target": "ike_hw71", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bonggol80885712", "source": "Bonggol80885712", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Bonggol80885712", "source": "Bonggol80885712", "target": "DPR_RI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "indonesiainjb", "source": "indonesiainjb", "target": "bank_indonesia_singapura", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "arkan_turungku", "source": "arkan_turungku", "target": "StatifyID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "zstlyprom", "source": "zstlyprom", "target": "xhmxdmxdzxkxr", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}