{"nodes": [{"key": "cak_daus", "attributes": {"label": "cak_daus", "x": 99.05233511849887, "y": 652.1390107823464, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2044593597425872947", "id": "cak_daus", "source": "retweet-000002", "content": "Kesepakatan tarif antara Presiden Prabowo dan Donald Trump berisiko menggerus kedaulatan ekonomi serta regulasi sumber daya…", "post_id": "2044593597425872947"}}, {"key": "MongabayID", "attributes": {"label": "MongabayID", "x": 417.7865187126918, "y": 858.5127499201361, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 35.9417, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2044593597425872947", "id": "MongabayID", "source": "retweet-000002", "content": "Kesepakatan tarif antara Presiden Prabowo dan Donald Trump berisiko menggerus kedaulatan ekonomi serta regulasi sumber daya…", "post_id": "2044593597425872947"}}, {"key": "unaboobies", "attributes": {"label": "unaboobies", "x": 308.4621619580792, "y": 543.2895603116566, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2049257368429727757", "id": "unaboobies", "source": "tweet-000004", "content": "sprti indon masuk BOP atas permintaan trump, prabowo benar dgn ikut perintah trump.\n\n\"indon dapat pengurangan tarif dagang, obligasi dibeli, fiskal kita ketolong", "post_id": "2049257368429727757"}}, {"key": "virdikaa", "attributes": {"label": "virdikaa", "x": 181.39447468425118, "y": 244.02403901442716, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.9417, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2049257368429727757", "id": "virdikaa", "source": "tweet-000004", "content": "sprti indon masuk BOP atas permintaan trump, prabowo benar dgn ikut perintah trump.\n\n\"indon dapat pengurangan tarif dagang, obligasi dibeli, fiskal kita ketolong", "post_id": "2049257368429727757"}}, {"key": "NikkeiAsia", "attributes": {"label": "NikkeiAsia", "x": 598.5866423452667, "y": 697.8165179245342, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.9417, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2049257368429727757", "id": "NikkeiAsia", "source": "tweet-000004", "content": "sprti indon masuk BOP atas permintaan trump, prabowo benar dgn ikut perintah trump.\n\n\"indon dapat pengurangan tarif dagang, obligasi dibeli, fiskal kita ketolong", "post_id": "2049257368429727757"}}, {"key": "mesatu_", "attributes": {"label": "mesatu_", "x": 783.0347911605212, "y": 870.9342081445541, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 46.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "2048691410296295879", "id": "mesatu_", "source": "tweet-000004", "content": "Urgent versi rakyat sama Prabowo beda loooh. Kalau mengganti Airlangga jelas gak urgent.\n\nBagi Prabowo, mungkin Airlangga berhasil dalam nego tarif dagang Trump. Bahkan sampai ditunjuk jadi Ketua Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi.\n\nKalau mengganti Zulhas, lebih mustahil lagi.", "post_id": "2048691410296295879"}}, {"key": "ulasanwarga", "attributes": {"label": "ulasanwarga", "x": 865.1222635419335, "y": 440.2864242281275, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 64.8843, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048691410296295879", "id": "ulasanwarga", "source": "tweet-000004", "content": "Urgent versi rakyat sama Prabowo beda loooh. Kalau mengganti Airlangga jelas gak urgent.\n\nBagi Prabowo, mungkin Airlangga berhasil dalam nego tarif dagang Trump. Bahkan sampai ditunjuk jadi Ketua Satgas Percepatan Pertumbuhan Ekonomi.\n\nKalau mengganti Zulhas, lebih mustahil lagi.", "post_id": "2048691410296295879"}}, {"key": "GrigoriPutranto", "attributes": {"label": "GrigoriPutranto", "x": 198.5727530656317, "y": 264.9774583379538, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2043734549935641030", "id": "GrigoriPutranto", "source": "tweet-000004", "content": "Mnrt gw pemerintah bagus jg banyak sebut aja slah 1 deh saat tarif untuk tarif Trump mungkin agak berat sebelah tapi di Uni  Eropa diplomasi prabowo berhasil Indonesia berhasil ekspor ke Eropa 0% jadi bebas tarif   lalu ke kan ada 0%", "post_id": "2043734549935641030"}}, {"key": "GamefaqsIDN", "attributes": {"label": "GamefaqsIDN", "x": 935.4211103730086, "y": 661.1857339802021, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 32.3686, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043734549935641030", "id": "GamefaqsIDN", "source": "tweet-000004", "content": "Mnrt gw pemerintah bagus jg banyak sebut aja slah 1 deh saat tarif untuk tarif Trump mungkin agak berat sebelah tapi di Uni  Eropa diplomasi prabowo berhasil Indonesia berhasil ekspor ke Eropa 0% jadi bebas tarif   lalu ke kan ada 0%", "post_id": "2043734549935641030"}}, {"key": "Mr_Nobody632", "attributes": {"label": "Mr_Nobody632", "x": 306.2542184651843, "y": 894.0373360843754, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 32.3686, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043734549935641030", "id": "Mr_Nobody632", "source": "tweet-000004", "content": "Mnrt gw pemerintah bagus jg banyak sebut aja slah 1 deh saat tarif untuk tarif Trump mungkin agak berat sebelah tapi di Uni  Eropa diplomasi prabowo berhasil Indonesia berhasil ekspor ke Eropa 0% jadi bebas tarif   lalu ke kan ada 0%", "post_id": "2043734549935641030"}}, {"key": "Ardaffaf", "attributes": {"label": "Ardaffaf", "x": 69.68960881305775, "y": 60.92578857632092, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 32.3686, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043734549935641030", "id": "Ardaffaf", "source": "tweet-000004", "content": "Mnrt gw pemerintah bagus jg banyak sebut aja slah 1 deh saat tarif untuk tarif Trump mungkin agak berat sebelah tapi di Uni  Eropa diplomasi prabowo berhasil Indonesia berhasil ekspor ke Eropa 0% jadi bebas tarif   lalu ke kan ada 0%", "post_id": "2043734549935641030"}}, {"key": "eskacangmerah", "attributes": {"label": "eskacangmerah", "x": 45.80263974570731, "y": 28.8190105871694, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2042134113428369458", "id": "eskacangmerah", "source": "tweet-000004", "content": "Gw ga pernah lupa dia bilang dpn prabowo di hadapan para ekonom, pas masih di LPS, \"ekonomi indo baik2 saja, dan tarif trump bisa menguntungkan indo", "post_id": "2042134113428369458"}}, {"key": "lingkjwul5r", "attributes": {"label": "lingkjwul5r", "x": 993.9832107730643, "y": 326.6274741716458, "size": 13.83, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 97.126, "in_degree": 0, "out_degree": 7, "degree": 7}, "_id": "7610301395039784212", "id": "lingkjwul5r", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "Kompas.com", "attributes": {"label": "Kompas.com", "x": 994.338662482912, "y": 256.5783482299472, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9208, "eigenvector": 107.6148, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7610301395039784212", "id": "Kompas.com", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "detik.com", "attributes": {"label": "detik.com", "x": 841.3029307803041, "y": 250.71571377444536, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9208, "eigenvector": 107.6148, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7610301395039784212", "id": "detik.com", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "tvOnenews", "attributes": {"label": "tvOnenews", "x": 856.2795791531842, "y": 283.0402547326103, "size": 7.17, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.285, "eigenvector": 37.3926, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7610301395039784212", "id": "tvOnenews", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "Prabowo", "attributes": {"label": "Prabowo", "x": 501.03083303593996, "y": 74.76311523221656, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9208, "eigenvector": 107.6148, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7610301395039784212", "id": "Prabowo", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "Tribunnews", "attributes": {"label": "Tribunnews", "x": 243.65391189343154, "y": 457.25013782111654, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9208, "eigenvector": 107.6148, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7610301395039784212", "id": "Tribunnews", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "Podcast", "attributes": {"label": "Podcast", "x": 182.24473199641943, "y": 444.58354554513846, "size": 11.34, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 31.3477, "eigenvector": 74.7851, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "7610301395039784212", "id": "Podcast", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "liputan6.com", "attributes": {"label": "liputan6.com", "x": 995.2861357491274, "y": 946.6100494507558, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9208, "eigenvector": 107.6148, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7610301395039784212", "id": "liputan6.com", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita       Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301395039784212"}}, {"key": "haristjj1dv", "attributes": {"label": "haristjj1dv", "x": 486.72375160537615, "y": 314.8599953584188, "size": 13.83, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 97.126, "in_degree": 0, "out_degree": 7, "degree": 7}, "_id": "7610301781893025045", "id": "haristjj1dv", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita    Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301781893025045"}}, {"key": "Tempo.co", "attributes": {"label": "Tempo.co", "x": 134.75687151136816, "y": 25.312062772273936, "size": 7.17, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.285, "eigenvector": 37.3926, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7610301781893025045", "id": "Tempo.co", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita    Bocor Alus Politik", "post_id": "7610301781893025045"}}, {"key": "vina.alfina83", "attributes": {"label": "vina.alfina83", "x": 841.7690749814119, "y": 180.08504388979097, "size": 12.51, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 85.274, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "7610301077136706837", "id": "vina.alfina83", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita      Politik", "post_id": "7610301077136706837"}}, {"key": "Total", "attributes": {"label": "Total", "x": 779.516391102445, "y": 76.88322247844049, "size": 6.66, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.7954, "eigenvector": 32.8297, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7610301077136706837", "id": "Total", "source": "tiktok-000001", "content": "Langkah diplomasi ekonomi yang agresif dan strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah membuahkan hasil nyata bagi penguatan ekonomi nasional melalui kesepakatan penurunan tarif dagang resiprokal dengan Amerika Serikat dari 32% menjadi 19%. Keberhasilan ini bukan sekadar angka, melainkan pintu gerbang bagi 1.819 produk unggulan Indonesia termasuk sektor pertanian seperti kopi, kakao, dan minyak sawit, hingga industri teknologi tinggi seperti semikonduktor untuk menikmati fasilitas tarif nol persen di pasar global. Melalui penandatanganan perjanjian Toward a New Golden Age bersama Presiden Donald Trump di Washington D.C., pemerintah tidak hanya berhasil melindungi daya saing jutaan pekerja industri padat karya, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam arsitektur ekonomi internasional yang mandiri dan berdaya saing tinggi. #DiplomasiPrabowo #EkonomiMaju #ProdukUnggulan #PasarGlobal #IndonesiaKita      Politik", "post_id": "7610301077136706837"}}, {"key": "IDXChannelcom", "attributes": {"label": "IDXChannelcom", "x": 119.17181921981323, "y": 651.0291920251859, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "432781620563594_1445894850667665", "id": "IDXChannelcom", "source": "facebook-000001", "content": "Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan tetap mengimpor minyak mentah dari Rusia, di tengah pelaksanaan perjanjian impor migas dari Amerika Serikat, yang tercakup dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.\n\nBahlil menegaskan, keputusan mengimpor minyak mentah dari AS dan Rusia lmurni diambil sebagai strategi diversifikasi pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional.\n\nMenurut Bahlil, kebutuhan minyak mentah nasional saat ini mencapai sekitar 300 juta barel per tahun, di mana sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil pasokan minyak mentah dari berbagai sumber, asalkan menguntungkan bagi kepentingan negara.\n\nSaksikan pembahasan selengkapnya dalam program Market Review bersama Prasetyo Wibowo , Senin 20 April 2026, pukul 21.30 – 22.00 WIB. LIVE di IDX Channel (MNC VISION Ch 100, MNC PLAY Ch 128 HD, First Media Ch 389, K-VISION Ch 129, OXYGEN Ch 137 dan MY REPUBLIK Ch 576). Saksikan juga LIVE STREAMING di www.idxchannel.com dan aplikasi IDX Channel TV di APPS  store. \n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #marketreview", "post_id": "432781620563594_1445894850667665"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 140.87542602975512, "y": 335.07367715906986, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 46.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "432781620563594_1445894850667665", "id": "prast_ulrich", "source": "facebook-000001", "content": "Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan tetap mengimpor minyak mentah dari Rusia, di tengah pelaksanaan perjanjian impor migas dari Amerika Serikat, yang tercakup dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang telah ditandatangani oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.\n\nBahlil menegaskan, keputusan mengimpor minyak mentah dari AS dan Rusia lmurni diambil sebagai strategi diversifikasi pasokan untuk menjaga ketahanan energi nasional.\n\nMenurut Bahlil, kebutuhan minyak mentah nasional saat ini mencapai sekitar 300 juta barel per tahun, di mana sebagian besar masih bergantung pada pasokan impor. Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil pasokan minyak mentah dari berbagai sumber, asalkan menguntungkan bagi kepentingan negara.\n\nSaksikan pembahasan selengkapnya dalam program Market Review bersama Prasetyo Wibowo , Senin 20 April 2026, pukul 21.30 – 22.00 WIB. LIVE di IDX Channel (MNC VISION Ch 100, MNC PLAY Ch 128 HD, First Media Ch 389, K-VISION Ch 129, OXYGEN Ch 137 dan MY REPUBLIK Ch 576). Saksikan juga LIVE STREAMING di www.idxchannel.com dan aplikasi IDX Channel TV di APPS  store. \n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #marketreview", "post_id": "432781620563594_1445894850667665"}}, {"key": "@ArchivezeroID", "attributes": {"label": "@ArchivezeroID", "x": 283.1174644587934, "y": 978.5734787020328, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "C7wuu1E4VR8", "id": "@ArchivezeroID", "source": "youtube-000001", "content": "Prabowo Bermain Api — Satu Indonesia Jadi Taruhannya\n\nPrabowo bermain api dengan 3 pemimpin paling berbahaya di dunia. Taruhannya? Hidup 280 juta rakyat Indonesia.\n\nArchive Zero membedah strategi \"Ambiguitas Strategis\" yang dijalankan Prabowo Subianto: bermain di tiga sisi sekaligus — Washington, Moskow, Beijing — tanpa berkomitmen pada siapa pun. Dari kesepakatan tarif Adengan Trump, pertemuan 3 jam di Kremlin dengan Putin, hingga ketegangan di Laut Natuna dengan Xi Jinping.\n\nApakah ini kecerdasan diplomatik tingkat tinggi — atau pertaruhan yang bisa menghancurkan kita semua?\n\n⏱ CHAPTERS:\n0:00 — Hook: Doktrin \"Bebas Aktif\" Sudah Mati?\n1:15 — Kematian Netralitas Pasif\n3:15 — Sumbu Pertama: Washington & Deal ART\n6:00 — Sumbu Kedua: Moskow & Latihan Militer Orruda\n8:30 — Sumbu Ketiga: Beijing & Ancaman Natuna\n11:00 — Reality Check: Dua Titik Buta Fatal\n13:00 — Ultimatum Langit Nusantara\n15:00 — Apa Artinya untuk Kamu?\n\n🔍 TOPIK YANG DIBAHAS:\nPerjanjian A(Agreement on Reciprocal Trade) Februari 2026\nPembatalan F-15EX dan pembelian 42 Rafale dari Prancis\nPertemuan Prabowo-Putin di Kremlin April 2026\nLatihan militer gabungan Indonesia-Rusia \"Orruda\"\nKlaim Nine-Dash Line China di Natuna\nProposal \"Blanket Overflight Access\" Amerika\nRisiko Indonesia menjadi proxy war zone\n\n📌 ARCHIVE ZERO — Unlocking the Classified Files\nGeopolitik. Sejarah tersembunyi. Arsip yang tidak ingin kamu tahu.\n\n🔔 Subscribe & nyalakan notifikasi:    /   \n▶ Eps sebelumnya: [   • Amerika Membunuh 3 Presiden Demi Satu Hal:...  ]\n\nVideo ini membahas analisis geopolitik Indonesia 2026, kebijakan luar negeri Prabowo Subianto terhadap Amerika Serikat, Rusia, dan China, termasuk perjanjian tarif ART, pembelian jet Rafale, pertemuan Prabowo-Putin di Kremlin, sengketa Laut Natuna, dan risiko Indonesia menjadi arena proxy war negara adidaya.\n\n© 2026 Archive Zero. Konten ini adalah analisis independen berdasarkan dokumen dan data publik.\n\n#Prabowo #Trump #GeopolitikIndonesia #Putin #XiJinping #ArchiveZero #PolitikLuarNegeri #KebijakanPrabowo #LautNatuna #ProxyWar", "post_id": "C7wuu1E4VR8"}}, {"key": "archivezeroid", "attributes": {"label": "archivezeroid", "x": 312.1361862575053, "y": 124.19238635826856, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 46.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "C7wuu1E4VR8", "id": "archivezeroid", "source": "youtube-000001", "content": "Prabowo Bermain Api — Satu Indonesia Jadi Taruhannya\n\nPrabowo bermain api dengan 3 pemimpin paling berbahaya di dunia. Taruhannya? Hidup 280 juta rakyat Indonesia.\n\nArchive Zero membedah strategi \"Ambiguitas Strategis\" yang dijalankan Prabowo Subianto: bermain di tiga sisi sekaligus — Washington, Moskow, Beijing — tanpa berkomitmen pada siapa pun. Dari kesepakatan tarif Adengan Trump, pertemuan 3 jam di Kremlin dengan Putin, hingga ketegangan di Laut Natuna dengan Xi Jinping.\n\nApakah ini kecerdasan diplomatik tingkat tinggi — atau pertaruhan yang bisa menghancurkan kita semua?\n\n⏱ CHAPTERS:\n0:00 — Hook: Doktrin \"Bebas Aktif\" Sudah Mati?\n1:15 — Kematian Netralitas Pasif\n3:15 — Sumbu Pertama: Washington & Deal ART\n6:00 — Sumbu Kedua: Moskow & Latihan Militer Orruda\n8:30 — Sumbu Ketiga: Beijing & Ancaman Natuna\n11:00 — Reality Check: Dua Titik Buta Fatal\n13:00 — Ultimatum Langit Nusantara\n15:00 — Apa Artinya untuk Kamu?\n\n🔍 TOPIK YANG DIBAHAS:\nPerjanjian A(Agreement on Reciprocal Trade) Februari 2026\nPembatalan F-15EX dan pembelian 42 Rafale dari Prancis\nPertemuan Prabowo-Putin di Kremlin April 2026\nLatihan militer gabungan Indonesia-Rusia \"Orruda\"\nKlaim Nine-Dash Line China di Natuna\nProposal \"Blanket Overflight Access\" Amerika\nRisiko Indonesia menjadi proxy war zone\n\n📌 ARCHIVE ZERO — Unlocking the Classified Files\nGeopolitik. Sejarah tersembunyi. Arsip yang tidak ingin kamu tahu.\n\n🔔 Subscribe & nyalakan notifikasi:    /   \n▶ Eps sebelumnya: [   • Amerika Membunuh 3 Presiden Demi Satu Hal:...  ]\n\nVideo ini membahas analisis geopolitik Indonesia 2026, kebijakan luar negeri Prabowo Subianto terhadap Amerika Serikat, Rusia, dan China, termasuk perjanjian tarif ART, pembelian jet Rafale, pertemuan Prabowo-Putin di Kremlin, sengketa Laut Natuna, dan risiko Indonesia menjadi arena proxy war negara adidaya.\n\n© 2026 Archive Zero. Konten ini adalah analisis independen berdasarkan dokumen dan data publik.\n\n#Prabowo #Trump #GeopolitikIndonesia #Putin #XiJinping #ArchiveZero #PolitikLuarNegeri #KebijakanPrabowo #LautNatuna #ProxyWar", "post_id": "C7wuu1E4VR8"}}, {"key": "@ThinkBRICS", "attributes": {"label": "@ThinkBRICS", "x": 363.2014635652774, "y": 376.1287033197994, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 25.2223, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "PV5N5bPTou4", "id": "@ThinkBRICS", "source": "youtube-000001", "content": "Mereka Bertemu dengan Putin dan Menandatangani Kesepakatan dengan AS. Inilah Alasannya\n\nSatu negara, satu minggu—Jakarta menandatangani kesepakatan dengan AS, bertemu Putin, membeli rudal BrahMos, dan keluar dari Dewan Perdamaian Trump. Apakah ini strategi cerdas atau bom waktu 2026? Dalam analisis ahli ini, kami menganalisis bagaimana Indonesia, di bawah Presiden Prabowo, mendefinisikan ulang geopolitik untuk Global Selatan.\n\nDengan bergabung dengan BRICS pada Januari 2025 dan secara bersamaan mengamankan kesepakatan militer Pentagon, Jakarta memanfaatkan pengaruh maksimal untuk mempertahankan otonomi strategis. Kami menyelami lebih dalam rudal BrahMos senilai $100 juta dan teknologi drone AS yang mengamankan Selat Malaka—titik rawan maritim paling penting di dunia. Saat harga minyak terancam stagnasi dan konflik membayangi di dekat Selat Hormuz, diplomasi \"seribu sahabat\" Indonesia sedang diuji.\n\nDari de-dolarisasi dan pembiayaan NDB hingga menavigasi persaingan Tiongkok-AS, analisis ini menjelaskan mengapa Indonesia adalah pemain baru yang paling berbahaya di dunia multipolar. Jelajahi bagaimana ekonomi terbesar ASEAN mengekstrak nilai dari Moskow dan Washington tanpa mengorbankan keamanan nasionalnya.\n\nMeskipun analisis ini memberikan uraian mendalam tentang teknologi pertahanan Indonesia saat ini dan strategi ekonomi BRICS, analisis ini tidak memberikan survei historis tentang gerakan kemerdekaan Jakarta tahun 1945 di luar pengaruhnya pada diplomasi \"Bebas dan Aktif\" modern. Kami fokus pada kesepakatan militer 2026 dan pertemuan Putin-Prabowo, tetapi kami tidak merinci cetak biru teknis spesifik kapal selam Rusia atau logistik internal blokade maritim Angkatan Laut AS.\n\nVideo ini mengkaji ancaman inflasi dan stagflasi yang terkait dengan lonjakan harga minyak, tetapi ini bukan tutorial keuangan tentang perdagangan ritel atau keuangan pribadi. Lebih lanjut, meskipun kami membahas pergeseran \"think brics\" menuju multipolaritas, ini bukan daftar lengkap semua kandidat ekspansi BRICS 2026, dan juga tidak mencakup kebijakan sosial domestik pemerintahan Trump di luar Dewan Perdamaian dan tarif perdagangan. Terakhir, kami menganalisis titik rawan di Selat Malaka tetapi tidak membahas upaya konservasi lingkungan maritim lokal di wilayah tersebut.\n\n#BRICS #indonesia #malacca\n\n0:00 - Permainan Tiga Pihak Indonesia: Kesepakatan AS, Pertemuan Putin, Rudal Rusia Dijelaskan\n0:30 - Strategi Lindung Nilai 2026: Mengapa Indonesia Menolak Memilih Pihak\n0:57 - Indonesia Bergabung dengan BRICS: Raksasa ASEAN Membentuk Kembali Kekuatan Global\n01:27 - Pakta Militer AS + Rudal BrahMos: Langkah Pertahanan Jakarta yang Berani\n01:52 - BRICS Dijelaskan: Mengapa Ini Tentang Keuangan, Bukan Aliansi Militer\n02:22 - Otonomi Strategis di BRICS: India, UEA, Mesir Menetapkan Model\n02:54 - Rincian Kesepakatan Pentagon–Jakarta: Kapal Selam, Drone, Peperangan Masa Depan\n03:52 - Teknologi AS vs Rudal Rusia: Strategi Pencegahan Maksimum Indonesia\n04:45 - Selat Malaka: Titik Cengkeraman Paling Kritis di Dunia untuk Minyak\n05:08 - Krisis Hormuz 2026: Minyak, Perang, dan Kenaikan Harga Global\n05:34 - Peringatan Guncangan Minyak: Bagaimana Konflik Memicu Stagflasi Global\n06:01 - Dampak Krisis Energi: Inflasi, Keruntuhan Perdagangan, Tekanan Diplomatik\n06:56 - Risiko Bahan Bakar Indonesia: Protes, Subsidi, dan Kerapuhan Ekonomi\n07:26 - Dilema Prabowo: Antara Trump, Perang, dan Reaksi Domestik\n07:59 - Dampak Dewan Perdamaian: Mengapa Indonesia Menangguhkan Keselarasan dengan AS\n08:52 - Washington ke Moskow: Aksi Penyeimbangan Strategis Prabowo\n09:17 - “Seribu Sahabat”: Penjelasan Doktrin Kebijakan Luar Negeri Indonesia\n09:47 - 80 Tahun Netralitas: Dari Perang Dingin ke Strategi Multipolar\n10:19 - Manfaat BRICS: Perdagangan, De-Dolarisasi, dan Alternatif IMF\n11:05 - Kemenangan Perang Tarif: Bagaimana Indonesia Menegosiasikan Penurunan Tarif dengan AS\n11:37 - Kesepakatan Energi dengan Rusia: Melewati Sistem Keuangan Barat\n12:02 - Risiko Lindung Nilai: China, India, Minyak, dan Sinyal Militer\n12:35 - Ancaman Minyak $150: Ekonomi Indonesia di Ambang Kehancuran\n13:03 - Proposal Akses Wilayah Udara AS: Garis Antara Netralitas & Keselarasan\n13:29 - Buku Panduan India: Bagaimana Menyeimbangkan Kekuatan AS, Rusia, dan BRICS\n13:55 - Kebangkitan Global Selatan: Tidak Ada Lagi Memilih Pihak di Tahun 2026\n14:24 - Tatanan Dunia Multipolar: Strategi Ekstraksi di Atas Keselarasan\n14:49 - Paradoks De-Dolarisasi: Dolar vs. Kontrak Pertahanan\n15:22 - Strategi Mata Uang: Bagaimana Indonesia Mengelola Ketergantungan Dolar\n15:47 - Apa Status Indonesia Sekarang? Sekutu, Mitra, atau Kekuatan Independen?\n\n16:13 - Realitas Multipolar: Bagaimana Negara-negara Bertahan di Antara Kekuatan Super\n16:39 - Minyak, Konflik, dan Kekuasaan: Mengapa Indonesia Memegang Kartu di Tahun 2026\n\n✉ Newsletter: https://thinkbrics.substack.com\n🗣 Berlangganan: https://www.youtube.com/?s...\n☞ Dukung Kami dengan Kopi: https://www.buymeacoffee.com/ThinkBRICS\n☞ Media Sosial Kami: https://dubbia.com/profile/Think-BRICS/\n===========\nVideo ini menyajikan kont...", "post_id": "PV5N5bPTou4"}}, {"key": "ThinkBRICS", "attributes": {"label": "ThinkBRICS", "x": 662.2351364882646, "y": 344.82611026051256, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 46.6612, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "PV5N5bPTou4", "id": "ThinkBRICS", "source": "youtube-000001", "content": "Mereka Bertemu dengan Putin dan Menandatangani Kesepakatan dengan AS. Inilah Alasannya\n\nSatu negara, satu minggu—Jakarta menandatangani kesepakatan dengan AS, bertemu Putin, membeli rudal BrahMos, dan keluar dari Dewan Perdamaian Trump. Apakah ini strategi cerdas atau bom waktu 2026? Dalam analisis ahli ini, kami menganalisis bagaimana Indonesia, di bawah Presiden Prabowo, mendefinisikan ulang geopolitik untuk Global Selatan.\n\nDengan bergabung dengan BRICS pada Januari 2025 dan secara bersamaan mengamankan kesepakatan militer Pentagon, Jakarta memanfaatkan pengaruh maksimal untuk mempertahankan otonomi strategis. Kami menyelami lebih dalam rudal BrahMos senilai $100 juta dan teknologi drone AS yang mengamankan Selat Malaka—titik rawan maritim paling penting di dunia. Saat harga minyak terancam stagnasi dan konflik membayangi di dekat Selat Hormuz, diplomasi \"seribu sahabat\" Indonesia sedang diuji.\n\nDari de-dolarisasi dan pembiayaan NDB hingga menavigasi persaingan Tiongkok-AS, analisis ini menjelaskan mengapa Indonesia adalah pemain baru yang paling berbahaya di dunia multipolar. Jelajahi bagaimana ekonomi terbesar ASEAN mengekstrak nilai dari Moskow dan Washington tanpa mengorbankan keamanan nasionalnya.\n\nMeskipun analisis ini memberikan uraian mendalam tentang teknologi pertahanan Indonesia saat ini dan strategi ekonomi BRICS, analisis ini tidak memberikan survei historis tentang gerakan kemerdekaan Jakarta tahun 1945 di luar pengaruhnya pada diplomasi \"Bebas dan Aktif\" modern. Kami fokus pada kesepakatan militer 2026 dan pertemuan Putin-Prabowo, tetapi kami tidak merinci cetak biru teknis spesifik kapal selam Rusia atau logistik internal blokade maritim Angkatan Laut AS.\n\nVideo ini mengkaji ancaman inflasi dan stagflasi yang terkait dengan lonjakan harga minyak, tetapi ini bukan tutorial keuangan tentang perdagangan ritel atau keuangan pribadi. Lebih lanjut, meskipun kami membahas pergeseran \"think brics\" menuju multipolaritas, ini bukan daftar lengkap semua kandidat ekspansi BRICS 2026, dan juga tidak mencakup kebijakan sosial domestik pemerintahan Trump di luar Dewan Perdamaian dan tarif perdagangan. Terakhir, kami menganalisis titik rawan di Selat Malaka tetapi tidak membahas upaya konservasi lingkungan maritim lokal di wilayah tersebut.\n\n#BRICS #indonesia #malacca\n\n0:00 - Permainan Tiga Pihak Indonesia: Kesepakatan AS, Pertemuan Putin, Rudal Rusia Dijelaskan\n0:30 - Strategi Lindung Nilai 2026: Mengapa Indonesia Menolak Memilih Pihak\n0:57 - Indonesia Bergabung dengan BRICS: Raksasa ASEAN Membentuk Kembali Kekuatan Global\n01:27 - Pakta Militer AS + Rudal BrahMos: Langkah Pertahanan Jakarta yang Berani\n01:52 - BRICS Dijelaskan: Mengapa Ini Tentang Keuangan, Bukan Aliansi Militer\n02:22 - Otonomi Strategis di BRICS: India, UEA, Mesir Menetapkan Model\n02:54 - Rincian Kesepakatan Pentagon–Jakarta: Kapal Selam, Drone, Peperangan Masa Depan\n03:52 - Teknologi AS vs Rudal Rusia: Strategi Pencegahan Maksimum Indonesia\n04:45 - Selat Malaka: Titik Cengkeraman Paling Kritis di Dunia untuk Minyak\n05:08 - Krisis Hormuz 2026: Minyak, Perang, dan Kenaikan Harga Global\n05:34 - Peringatan Guncangan Minyak: Bagaimana Konflik Memicu Stagflasi Global\n06:01 - Dampak Krisis Energi: Inflasi, Keruntuhan Perdagangan, Tekanan Diplomatik\n06:56 - Risiko Bahan Bakar Indonesia: Protes, Subsidi, dan Kerapuhan Ekonomi\n07:26 - Dilema Prabowo: Antara Trump, Perang, dan Reaksi Domestik\n07:59 - Dampak Dewan Perdamaian: Mengapa Indonesia Menangguhkan Keselarasan dengan AS\n08:52 - Washington ke Moskow: Aksi Penyeimbangan Strategis Prabowo\n09:17 - “Seribu Sahabat”: Penjelasan Doktrin Kebijakan Luar Negeri Indonesia\n09:47 - 80 Tahun Netralitas: Dari Perang Dingin ke Strategi Multipolar\n10:19 - Manfaat BRICS: Perdagangan, De-Dolarisasi, dan Alternatif IMF\n11:05 - Kemenangan Perang Tarif: Bagaimana Indonesia Menegosiasikan Penurunan Tarif dengan AS\n11:37 - Kesepakatan Energi dengan Rusia: Melewati Sistem Keuangan Barat\n12:02 - Risiko Lindung Nilai: China, India, Minyak, dan Sinyal Militer\n12:35 - Ancaman Minyak $150: Ekonomi Indonesia di Ambang Kehancuran\n13:03 - Proposal Akses Wilayah Udara AS: Garis Antara Netralitas & Keselarasan\n13:29 - Buku Panduan India: Bagaimana Menyeimbangkan Kekuatan AS, Rusia, dan BRICS\n13:55 - Kebangkitan Global Selatan: Tidak Ada Lagi Memilih Pihak di Tahun 2026\n14:24 - Tatanan Dunia Multipolar: Strategi Ekstraksi di Atas Keselarasan\n14:49 - Paradoks De-Dolarisasi: Dolar vs. Kontrak Pertahanan\n15:22 - Strategi Mata Uang: Bagaimana Indonesia Mengelola Ketergantungan Dolar\n15:47 - Apa Status Indonesia Sekarang? Sekutu, Mitra, atau Kekuatan Independen?\n\n16:13 - Realitas Multipolar: Bagaimana Negara-negara Bertahan di Antara Kekuatan Super\n16:39 - Minyak, Konflik, dan Kekuasaan: Mengapa Indonesia Memegang Kartu di Tahun 2026\n\n✉ Newsletter: https://thinkbrics.substack.com\n🗣 Berlangganan: https://www.youtube.com/?s...\n☞ Dukung Kami dengan Kopi: https://www.buymeacoffee.com/ThinkBRICS\n☞ Media Sosial Kami: https://dubbia.com/profile/Think-BRICS/\n===========\nVideo ini menyajikan kont...", "post_id": "PV5N5bPTou4"}}], "edges": [{"key": "cak_daus", "source": "cak_daus", "target": "MongabayID", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "cak_daus", "source": "cak_daus", "target": "MongabayID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "unaboobies", "source": "unaboobies", "target": "virdikaa", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "unaboobies", "source": "unaboobies", "target": "NikkeiAsia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mesatu_", "source": "mesatu_", "target": "ulasanwarga", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "GrigoriPutranto", "source": "GrigoriPutranto", "target": "GamefaqsIDN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "GrigoriPutranto", "source": "GrigoriPutranto", "target": "Mr_Nobody632", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "GrigoriPutranto", "source": "GrigoriPutranto", "target": "Ardaffaf", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "eskacangmerah", "source": "eskacangmerah", "target": "mesatu_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "Kompas.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "detik.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "tvOnenews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "Prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "Tribunnews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "Podcast", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "lingkjwul5r", "source": "lingkjwul5r", "target": "liputan6.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "Kompas.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "Tribunnews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "Podcast", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "Tempo.co", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "detik.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "Prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "haristjj1dv", "source": "haristjj1dv", "target": "liputan6.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "liputan6.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "Tribunnews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "Prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "Kompas.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "Total", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "vina.alfina83", "source": "vina.alfina83", "target": "detik.com", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "IDXChannelcom", "source": "IDXChannelcom", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@ArchivezeroID", "source": "@ArchivezeroID", "target": "archivezeroid", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ThinkBRICS", "source": "@ThinkBRICS", "target": "ThinkBRICS", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}