{"nodes": [{"key": "WOLF_of_IHSG", "attributes": {"label": "WOLF_of_IHSG", "x": 612.999245372325, "y": 162.81821181704527, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2048955579214024845", "id": "WOLF_of_IHSG", "source": "tweet-000004", "content": "sepertinya ada korelasi juga dgn rating dari Fitch \n\nFitch kasih outlook negatif ke  bank besar RI, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, yang memicu sentimen waspada di sektor perbankan.", "post_id": "2048955579214024845"}}, {"key": "maasdicc", "attributes": {"label": "maasdicc", "x": 644.4054917144913, "y": 393.3912151636587, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048955579214024845", "id": "maasdicc", "source": "tweet-000004", "content": "sepertinya ada korelasi juga dgn rating dari Fitch \n\nFitch kasih outlook negatif ke  bank besar RI, yaitu BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, yang memicu sentimen waspada di sektor perbankan.", "post_id": "2048955579214024845"}}, {"key": "DennySeggssegar", "attributes": {"label": "DennySeggssegar", "x": 418.26752582497016, "y": 906.2891551184464, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2048625840095989819", "id": "DennySeggssegar", "source": "tweet-000004", "content": "iya lab bagus karena penjualan flash (FBI)\ntapi dari sisi NIM (Net Interest Margin) bisnis inti perbankan sudah menurun wkwk", "post_id": "2048625840095989819"}}, {"key": "insidefolkative", "attributes": {"label": "insidefolkative", "x": 342.37317432418945, "y": 664.0704038616708, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048625840095989819", "id": "insidefolkative", "source": "tweet-000004", "content": "iya lab bagus karena penjualan flash (FBI)\ntapi dari sisi NIM (Net Interest Margin) bisnis inti perbankan sudah menurun wkwk", "post_id": "2048625840095989819"}}, {"key": "Azhanakiya", "attributes": {"label": "Azhanakiya", "x": 833.1524993319687, "y": 375.2523002118007, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048625840095989819", "id": "Azhanakiya", "source": "tweet-000004", "content": "iya lab bagus karena penjualan flash (FBI)\ntapi dari sisi NIM (Net Interest Margin) bisnis inti perbankan sudah menurun wkwk", "post_id": "2048625840095989819"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 815.9456909374362, "y": 68.40296018517932, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 21.068, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3880950048738281782_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "Fitch Ratings memberikan outlook negatif pada bank besar RI seperti Bank Central Asia Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk, Bank Mandiri Tbk, dan Bank Negara Indonesia Tbk 📊\n\nMeski demikian, fundamental perbankan dinilai masih kuat, didukung pertumbuhan ekonomi, permodalan solid, dan pencadangan yang memadai 💪\n\nOutlook negatif dipicu ketidakpastian kebijakan fiskal, risiko global, serta potensi tekanan kualitas aset ke depan 🌍\n\nSumber: Katadata.co.id, 22 April 2026\n\nGabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp).\n\n#FitchRatings #BBCA #BBRI #BMRI #BBNI #Perbankan #SahamIndonesia #BEI #mancingsaham", "post_id": "3880950048738281782_52512310886"}}, {"key": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "radar_indramayu", "x": 424.61944167052025, "y": 249.6563405605855, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 21.068, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3886567061468636286_8186324209", "id": "radar_indramayu", "source": "instagram-000001", "content": "Jakarta – Di tengah meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik geopolitik yang turut mendorong ketidakpastian ekonomi dunia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tetap mampu mencatatkan kinerja yang solid pada Triwulan I 2026. Dengan fundamental bisnis yang kuat didukung oleh pertumbuhan kredit yang selektif, pengelolaan biaya dana yang semakin efisien, serta kualitas aset yang terjaga, BRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7% year-on-year (yoy).\n.\nHal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI pada Kamis (30/4/2026). Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi dan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.\n.\nDalam paparannya, Hery Gunardi menyampaikan bahwa sepanjang Triwulan I 2026, kondisi ekonomi global masih diwarnai oleh peningkatan risiko geopolitik yang signifikan. Meski demikian, perekonomian Indonesia tetap resilien dengan dukungan yang semakin luas dari sisi demand, supply, dan fiskal sehingga memberikan buffer terhadap ketidakpastian global dan menjaga momentum pertumbuhan. \n.\nKondisi ini juga tercermin pada industri perbankan nasional yang tetap berada dalam kondisi stabil, dengan intermediasi yang kuat, likuiditas yang memadai, serta risiko yang terkendali, dan memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap melakukan ekspansi secara prudent.\n.\nHery Gunardi menambahkan, BRI tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan yang solid, seiring konsistensi transformasi yang dijalankan. Hal ini tercermin pada kinerja keuangan konsolidasi hingga akhir Triwulan I 2026 yang tetap menunjukkan tren positif.\n.\nBerita Selengkapnya kunjungi Instastory  lalu KLIK TAUTAN !!!\nhttps://radarindramayu.disway.id/read/684177/bri-pertahankan-momentum-kinerja-solid-laba-bersih-meles\n.\nFollow \n.\n.\n#radarindramayu #radarcirebon #radarkuningan #radarmajalengka #infoindramayu beritahariini indonesia kabupatenindramayu news viral jabaristimewa kota kabupaten kotamangga", "post_id": "3886567061468636286_8186324209"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 444.86148693046414, "y": 677.477608256358, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 149.4057, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 1, "degree": 3}, "_id": "3888705212412947954_3310659452", "id": "idx_channel", "source": "instagram-000001", "content": "Ada potensi risiko terhadap proyeksi kinerja emiten perbankan dan konsumer di tengah tren kenaikan harga minyak global yang bertahan lebih lama (higher-for-longer).\n\nBerdasarkan estimasi konsensus analis, median pertumbuhan laba bersih bank-bank besar (Big 4) diperkirakan masih berada di kisaran 5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada 2026. \n\nSementara itu, sejumlah emiten sektor konsumer diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba lebih tinggi, yakni sekitar 10 persen YoY.\n\nNamun demikian, Stockbit pada Kamis (30/4/2026) menilai proyeksi konsensus tersebut masih menyimpan potensi risiko penurunan (downside risk) yang belum sepenuhnya tercermin, terutama jika harga minyak global bertahan di level tinggi dalam periode yang lebih panjang.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/market-news/skenario-minyak-mahal-berlarut-ekspektasi-laba-emiten-besar-tertekan\n\nAtau klik link di bio \n\nFoto: istimewa\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity", "post_id": "3888705212412947954_3310659452"}}, {"key": "ahzatsa01", "attributes": {"label": "ahzatsa01", "x": 713.872742320552, "y": 91.01541480157249, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7626514043846610194", "id": "ahzatsa01", "source": "tiktok-000001", "content": "Apa hubungan Sekretaris Harta Negara dengan harga saham di BEI? Simak faktanya! 📊 Revenue negara 2026, proyeksi tax ratio & kebijakan fiskal terbaru sangat mempengaruhi cash flow emiten, laba bersih, hingga rasio PBV & PER. Saat likuiditas pasar dipengaruhi keputusan fiskal, investor ritel wajib update! 🧐 Siapa sebenarnya Sekretaris Harta Negara dan mengapa perannya krusial dalam menentukan arah keuangan negara? Pahami pengaruhnya ke tren sektor konsumer, perbankan hingga infrastruktur. Diskusi: Apakah optimisme ekonomi 2026 cukup kuat untuk mendongkrak EPS emiten? #Saham #Investasi #EkonomiMakro #ValueInvesting #FYP", "post_id": "7626514043846610194"}}, {"key": "sekuritas", "attributes": {"label": "sekuritas", "x": 528.154824757379, "y": 455.9463894075354, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7626514043846610194", "id": "sekuritas", "source": "tiktok-000001", "content": "Apa hubungan Sekretaris Harta Negara dengan harga saham di BEI? Simak faktanya! 📊 Revenue negara 2026, proyeksi tax ratio & kebijakan fiskal terbaru sangat mempengaruhi cash flow emiten, laba bersih, hingga rasio PBV & PER. Saat likuiditas pasar dipengaruhi keputusan fiskal, investor ritel wajib update! 🧐 Siapa sebenarnya Sekretaris Harta Negara dan mengapa perannya krusial dalam menentukan arah keuangan negara? Pahami pengaruhnya ke tren sektor konsumer, perbankan hingga infrastruktur. Diskusi: Apakah optimisme ekonomi 2026 cukup kuat untuk mendongkrak EPS emiten? #Saham #Investasi #EkonomiMakro #ValueInvesting #FYP", "post_id": "7626514043846610194"}}, {"key": "sukses.clipp", "attributes": {"label": "sukses.clipp", "x": 840.126934694564, "y": 828.5047041706842, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7626996819456757013", "id": "sukses.clipp", "source": "tiktok-000001", "content": "BUKAN BBCA! Ternyata Ini Alasan BBRI Lebih Menarik Buat Dikoleksi!  Lagi bingung mau serok saham bank apa pas market goyang? Rivan Kurniawan blak-blakan milih BBRI ketimbang BBCA nih! Alasannya logis banget: 🛑 BBCA Rawan Guyuran Asing: Valuasinya lagi tinggi dan free float-nya besar. Sekalinya investor asing lagi risk-off atau sell-off, BBCA yang bakal jadi sasaran utama buat jualan. ✅ Kenapa Pilih BBRI? 1️⃣ Dividen Royal: Kasih yield dividen yang mantap di kisaran 8-9%. 2️⃣ Margin Super Lebar: Fokus utama di segmen mikro bikin margin laba (NIM) BBRI jauh lebih besar. Ditambah lagi, sekarang mereka mulai merambah segmen korporat buat menekan risiko. 3️⃣ Low Base Effect: Karena tahun lalu performanya sempat tertekan, sedikit perbaikan kinerja aja di tahun ini bakal langsung diapresiasi tinggi sama market! 4️⃣ Paling Cuan Kalau Suku Bunga Turun: Karena rasio dana murah (CASA) BBRI relatif lebih rendah, kalau tren suku bunga turun, BBRI yang bakal paling kerasa efisiensinya karena cost of fund (biaya dana) mereka ikut turun drastis. Kalian tim setia nge-hold BBCA atau udah mulai nyicil BBRI nih sekarang? Coba absen di komen! 👇   #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay Keywords: Saham BBRI vs BBCA, analisa saham perbankan, Rivan Kurniawan, saham bluechip, dividen saham BBRI, IHSG turun, asing jualan saham, strategi serok bawah saham, net income margin, investasi saham pemula, nabung saham, rekomendasi saham fundamental, portofolio saham, cost of fund, rasio CASA perbankan. BZ-2026-E070EE", "post_id": "7626996819456757013"}}, {"key": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "rivan.kurniawan", "x": 604.1582391907584, "y": 243.48652375561065, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 43.0051, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7626996819456757013", "id": "rivan.kurniawan", "source": "tiktok-000001", "content": "BUKAN BBCA! Ternyata Ini Alasan BBRI Lebih Menarik Buat Dikoleksi!  Lagi bingung mau serok saham bank apa pas market goyang? Rivan Kurniawan blak-blakan milih BBRI ketimbang BBCA nih! Alasannya logis banget: 🛑 BBCA Rawan Guyuran Asing: Valuasinya lagi tinggi dan free float-nya besar. Sekalinya investor asing lagi risk-off atau sell-off, BBCA yang bakal jadi sasaran utama buat jualan. ✅ Kenapa Pilih BBRI? 1️⃣ Dividen Royal: Kasih yield dividen yang mantap di kisaran 8-9%. 2️⃣ Margin Super Lebar: Fokus utama di segmen mikro bikin margin laba (NIM) BBRI jauh lebih besar. Ditambah lagi, sekarang mereka mulai merambah segmen korporat buat menekan risiko. 3️⃣ Low Base Effect: Karena tahun lalu performanya sempat tertekan, sedikit perbaikan kinerja aja di tahun ini bakal langsung diapresiasi tinggi sama market! 4️⃣ Paling Cuan Kalau Suku Bunga Turun: Karena rasio dana murah (CASA) BBRI relatif lebih rendah, kalau tren suku bunga turun, BBRI yang bakal paling kerasa efisiensinya karena cost of fund (biaya dana) mereka ikut turun drastis. Kalian tim setia nge-hold BBCA atau udah mulai nyicil BBRI nih sekarang? Coba absen di komen! 👇   #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay Keywords: Saham BBRI vs BBCA, analisa saham perbankan, Rivan Kurniawan, saham bluechip, dividen saham BBRI, IHSG turun, asing jualan saham, strategi serok bawah saham, net income margin, investasi saham pemula, nabung saham, rekomendasi saham fundamental, portofolio saham, cost of fund, rasio CASA perbankan. BZ-2026-E070EE", "post_id": "7626996819456757013"}}, {"key": "645dor.jateng", "attributes": {"label": "645dor.jateng", "x": 96.0355370213607, "y": 777.6544204165933, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "7624756620077190421", "id": "645dor.jateng", "source": "tiktok-000001", "content": "SEMARANG - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Tengah dipacu menjadi motor penggerak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus akselerator pertumbuhan ekonomi. Dengan kinerja yang menunjukkan tren positif, pemerintah daerah menargetkan kontribusi dividen terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar berorientasi pada kinerja bisnis yang sehat dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. BUMD diminta tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi pengungkit ekonomi dan sumber pendapatan daerah. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, prinsip utama pengelolaan BUMD adalah menghasilkan keuntungan. “Prinsipnya BUMD harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” tegasnya saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026). Data Pemprov Jateng mencatat, hingga 2025 terdapat 122 BUMD kabupaten/kota yang terdiri dari 33 lembaga keuangan, 54 aneka usaha, dan 35 perusahaan air minum. Total asetnya mencapai Rp 15,445 triliun dengan laba bersih Rp 587,684 miliar dan Return on Asset (ROA) sebesar 3,80 persen. Sementara itu, BUMD milik Pemprov Jawa Tengah berjumlah 41 entitas dengan total aset Rp 118,038 triliun. Laba bersih tercatat Rp 1,775 triliun dengan ROA 1,50 persen. Pada tahun yang sama, dividen yang disetorkan mencapai Rp 732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) sebesar 18,31 persen. Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi RPJMD pada 13 Maret 2025, target setoran dividen BUMD periode 2026-2030 diproyeksikan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 10,58 persen per tahun. Dalam sektor keuangan, Bank Jateng disebut menjadi tulang punggung penguatan fiskal daerah. Selain melayani transaksi pemerintah daerah, bank tersebut juga didorong memperluas pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, ketahanan pangan, perumahan, serta digitalisasi layanan keuangan. Keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil juga tercermin dari kinerja BPR BKK (Perseroda). Hingga 2025, penyaluran kredit mencapai Rp 10,823 triliun dengan komposisi 71 persen kredit produktif. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp 1,630 triliun, mayoritas disalurkan untuk sektor UMKM. Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menilai BUMD di Jawa Tengah berpotensi menjadi percontohan nasional, khususnya di sektor perbankan daerah, jika mampu menjaga kinerja yang sehat, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, bank daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berperan sebagai instrumen pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, serta mitra strategis pemerintah dalam pengelolaan keuangan. “Ukuran keberhasilan tidak cukup dari laba dan dividen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan dan pemerataan ekonomi,” ujarnya. Senada, anggota Komisi II DPR RI, Edy Oloan Pasaribu, menyebut Jawa Tengah memiliki peluang besar menjadi pilot project nasional dalam tata kelola BUMD yang transparan dan berkelanjutan. Ia menekankan, tantangan utama pemerintah daerah saat ini adalah menurunkan angka kemiskinan. Karena itu, kepala daerah didorong mengedepankan inovasi dan semangat kewirausahaan dalam mengelola aset daerah agar memberikan kontribusi nyata terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi II DPR RI berharap Jawa Tengah terus memperkuat tata kelola BUMD dan menjadikannya instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan PAD, serta memperluas kesejahteraan masyarakat. #jawatengah #ahmadluthfi #gubernurjateng #bumd #ngopeninglakoni  Luthfi  Luthfi  Jateng", "post_id": "7624756620077190421"}}, {"key": "Gubernur", "attributes": {"label": "Gubernur", "x": 675.1675312467233, "y": 395.67243354714134, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.5464, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7624756620077190421", "id": "Gubernur", "source": "tiktok-000001", "content": "SEMARANG - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Tengah dipacu menjadi motor penggerak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus akselerator pertumbuhan ekonomi. Dengan kinerja yang menunjukkan tren positif, pemerintah daerah menargetkan kontribusi dividen terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar berorientasi pada kinerja bisnis yang sehat dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. BUMD diminta tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi pengungkit ekonomi dan sumber pendapatan daerah. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, prinsip utama pengelolaan BUMD adalah menghasilkan keuntungan. “Prinsipnya BUMD harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” tegasnya saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026). Data Pemprov Jateng mencatat, hingga 2025 terdapat 122 BUMD kabupaten/kota yang terdiri dari 33 lembaga keuangan, 54 aneka usaha, dan 35 perusahaan air minum. Total asetnya mencapai Rp 15,445 triliun dengan laba bersih Rp 587,684 miliar dan Return on Asset (ROA) sebesar 3,80 persen. Sementara itu, BUMD milik Pemprov Jawa Tengah berjumlah 41 entitas dengan total aset Rp 118,038 triliun. Laba bersih tercatat Rp 1,775 triliun dengan ROA 1,50 persen. Pada tahun yang sama, dividen yang disetorkan mencapai Rp 732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) sebesar 18,31 persen. Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi RPJMD pada 13 Maret 2025, target setoran dividen BUMD periode 2026-2030 diproyeksikan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 10,58 persen per tahun. Dalam sektor keuangan, Bank Jateng disebut menjadi tulang punggung penguatan fiskal daerah. Selain melayani transaksi pemerintah daerah, bank tersebut juga didorong memperluas pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, ketahanan pangan, perumahan, serta digitalisasi layanan keuangan. Keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil juga tercermin dari kinerja BPR BKK (Perseroda). Hingga 2025, penyaluran kredit mencapai Rp 10,823 triliun dengan komposisi 71 persen kredit produktif. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp 1,630 triliun, mayoritas disalurkan untuk sektor UMKM. Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menilai BUMD di Jawa Tengah berpotensi menjadi percontohan nasional, khususnya di sektor perbankan daerah, jika mampu menjaga kinerja yang sehat, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, bank daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berperan sebagai instrumen pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, serta mitra strategis pemerintah dalam pengelolaan keuangan. “Ukuran keberhasilan tidak cukup dari laba dan dividen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan dan pemerataan ekonomi,” ujarnya. Senada, anggota Komisi II DPR RI, Edy Oloan Pasaribu, menyebut Jawa Tengah memiliki peluang besar menjadi pilot project nasional dalam tata kelola BUMD yang transparan dan berkelanjutan. Ia menekankan, tantangan utama pemerintah daerah saat ini adalah menurunkan angka kemiskinan. Karena itu, kepala daerah didorong mengedepankan inovasi dan semangat kewirausahaan dalam mengelola aset daerah agar memberikan kontribusi nyata terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi II DPR RI berharap Jawa Tengah terus memperkuat tata kelola BUMD dan menjadikannya instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan PAD, serta memperluas kesejahteraan masyarakat. #jawatengah #ahmadluthfi #gubernurjateng #bumd #ngopeninglakoni  Luthfi  Luthfi  Jateng", "post_id": "7624756620077190421"}}, {"key": "Ahmad", "attributes": {"label": "Ahmad", "x": 456.4723690593914, "y": 73.39378130204366, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.5464, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7624756620077190421", "id": "Ahmad", "source": "tiktok-000001", "content": "SEMARANG - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Tengah dipacu menjadi motor penggerak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus akselerator pertumbuhan ekonomi. Dengan kinerja yang menunjukkan tren positif, pemerintah daerah menargetkan kontribusi dividen terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar berorientasi pada kinerja bisnis yang sehat dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. BUMD diminta tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi pengungkit ekonomi dan sumber pendapatan daerah. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, prinsip utama pengelolaan BUMD adalah menghasilkan keuntungan. “Prinsipnya BUMD harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” tegasnya saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026). Data Pemprov Jateng mencatat, hingga 2025 terdapat 122 BUMD kabupaten/kota yang terdiri dari 33 lembaga keuangan, 54 aneka usaha, dan 35 perusahaan air minum. Total asetnya mencapai Rp 15,445 triliun dengan laba bersih Rp 587,684 miliar dan Return on Asset (ROA) sebesar 3,80 persen. Sementara itu, BUMD milik Pemprov Jawa Tengah berjumlah 41 entitas dengan total aset Rp 118,038 triliun. Laba bersih tercatat Rp 1,775 triliun dengan ROA 1,50 persen. Pada tahun yang sama, dividen yang disetorkan mencapai Rp 732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) sebesar 18,31 persen. Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi RPJMD pada 13 Maret 2025, target setoran dividen BUMD periode 2026-2030 diproyeksikan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 10,58 persen per tahun. Dalam sektor keuangan, Bank Jateng disebut menjadi tulang punggung penguatan fiskal daerah. Selain melayani transaksi pemerintah daerah, bank tersebut juga didorong memperluas pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, ketahanan pangan, perumahan, serta digitalisasi layanan keuangan. Keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil juga tercermin dari kinerja BPR BKK (Perseroda). Hingga 2025, penyaluran kredit mencapai Rp 10,823 triliun dengan komposisi 71 persen kredit produktif. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp 1,630 triliun, mayoritas disalurkan untuk sektor UMKM. Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menilai BUMD di Jawa Tengah berpotensi menjadi percontohan nasional, khususnya di sektor perbankan daerah, jika mampu menjaga kinerja yang sehat, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, bank daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berperan sebagai instrumen pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, serta mitra strategis pemerintah dalam pengelolaan keuangan. “Ukuran keberhasilan tidak cukup dari laba dan dividen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan dan pemerataan ekonomi,” ujarnya. Senada, anggota Komisi II DPR RI, Edy Oloan Pasaribu, menyebut Jawa Tengah memiliki peluang besar menjadi pilot project nasional dalam tata kelola BUMD yang transparan dan berkelanjutan. Ia menekankan, tantangan utama pemerintah daerah saat ini adalah menurunkan angka kemiskinan. Karena itu, kepala daerah didorong mengedepankan inovasi dan semangat kewirausahaan dalam mengelola aset daerah agar memberikan kontribusi nyata terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi II DPR RI berharap Jawa Tengah terus memperkuat tata kelola BUMD dan menjadikannya instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan PAD, serta memperluas kesejahteraan masyarakat. #jawatengah #ahmadluthfi #gubernurjateng #bumd #ngopeninglakoni  Luthfi  Luthfi  Jateng", "post_id": "7624756620077190421"}}, {"key": "Humas", "attributes": {"label": "Humas", "x": 60.5543805378902, "y": 583.4726881542709, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 15.5464, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7624756620077190421", "id": "Humas", "source": "tiktok-000001", "content": "SEMARANG - Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Tengah dipacu menjadi motor penggerak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus akselerator pertumbuhan ekonomi. Dengan kinerja yang menunjukkan tren positif, pemerintah daerah menargetkan kontribusi dividen terus meningkat dalam lima tahun ke depan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong seluruh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) agar berorientasi pada kinerja bisnis yang sehat dan berkontribusi nyata terhadap pembangunan daerah. BUMD diminta tidak sekadar menjalankan fungsi administratif, tetapi menjadi pengungkit ekonomi dan sumber pendapatan daerah. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, prinsip utama pengelolaan BUMD adalah menghasilkan keuntungan. “Prinsipnya BUMD harus untung. Ora untung, ora usah dadi BUMD,” tegasnya saat menerima kunjungan kerja spesifik Komisi II DPR RI di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (1/4/2026). Data Pemprov Jateng mencatat, hingga 2025 terdapat 122 BUMD kabupaten/kota yang terdiri dari 33 lembaga keuangan, 54 aneka usaha, dan 35 perusahaan air minum. Total asetnya mencapai Rp 15,445 triliun dengan laba bersih Rp 587,684 miliar dan Return on Asset (ROA) sebesar 3,80 persen. Sementara itu, BUMD milik Pemprov Jawa Tengah berjumlah 41 entitas dengan total aset Rp 118,038 triliun. Laba bersih tercatat Rp 1,775 triliun dengan ROA 1,50 persen. Pada tahun yang sama, dividen yang disetorkan mencapai Rp 732,388 miliar dengan Return on Investment (ROI) sebesar 18,31 persen. Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi RPJMD pada 13 Maret 2025, target setoran dividen BUMD periode 2026-2030 diproyeksikan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 10,58 persen per tahun. Dalam sektor keuangan, Bank Jateng disebut menjadi tulang punggung penguatan fiskal daerah. Selain melayani transaksi pemerintah daerah, bank tersebut juga didorong memperluas pembiayaan ke sektor produktif seperti UMKM, ketahanan pangan, perumahan, serta digitalisasi layanan keuangan. Keberpihakan terhadap pelaku usaha kecil juga tercermin dari kinerja BPR BKK (Perseroda). Hingga 2025, penyaluran kredit mencapai Rp 10,823 triliun dengan komposisi 71 persen kredit produktif. Sementara penjaminan produktif tercatat Rp 1,630 triliun, mayoritas disalurkan untuk sektor UMKM. Wakil Ketua Komisi II DPR RI, Aria Bima, menilai BUMD di Jawa Tengah berpotensi menjadi percontohan nasional, khususnya di sektor perbankan daerah, jika mampu menjaga kinerja yang sehat, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, bank daerah tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berperan sebagai instrumen pembangunan daerah, penggerak ekonomi lokal, serta mitra strategis pemerintah dalam pengelolaan keuangan. “Ukuran keberhasilan tidak cukup dari laba dan dividen, tetapi juga dari dampaknya terhadap pembangunan dan pemerataan ekonomi,” ujarnya. Senada, anggota Komisi II DPR RI, Edy Oloan Pasaribu, menyebut Jawa Tengah memiliki peluang besar menjadi pilot project nasional dalam tata kelola BUMD yang transparan dan berkelanjutan. Ia menekankan, tantangan utama pemerintah daerah saat ini adalah menurunkan angka kemiskinan. Karena itu, kepala daerah didorong mengedepankan inovasi dan semangat kewirausahaan dalam mengelola aset daerah agar memberikan kontribusi nyata terhadap PAD dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi II DPR RI berharap Jawa Tengah terus memperkuat tata kelola BUMD dan menjadikannya instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan PAD, serta memperluas kesejahteraan masyarakat. #jawatengah #ahmadluthfi #gubernurjateng #bumd #ngopeninglakoni  Luthfi  Luthfi  Jateng", "post_id": "7624756620077190421"}}, {"key": "kokocicisaham", "attributes": {"label": "kokocicisaham", "x": 497.44737680937624, "y": 355.1726550626837, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "7633610401376193812", "id": "kokocicisaham", "source": "tiktok-000001", "content": "BANK BESAR RI MASUK ZONA MERAH! 🚨 Fitch & Moody's kasih outlook negatif ke bank raksasa Indonesia. Sebagai proksi ekonomi, perbankan memang yang paling depan kena hantam kalau ekonomi melambat. Waspada! Source:  Setya Ananda Wijaya  Sekuritas  Disclaimer on: Informasi yang dipaparkan merupakan edukasi, dan bukan merupakan perintah beli atau jual. Setiap keuntungan dan kerugian menjadi tanggung jawab masing-masing dari pelaku pasar #SucorSekuritas #BeXpertWithSucor #Perbankan #FitchRatings #fyp", "post_id": "7633610401376193812"}}, {"key": "Bernadus", "attributes": {"label": "Bernadus", "x": 603.4668868209172, "y": 98.80601006288659, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7633610401376193812", "id": "Bernadus", "source": "tiktok-000001", "content": "BANK BESAR RI MASUK ZONA MERAH! 🚨 Fitch & Moody's kasih outlook negatif ke bank raksasa Indonesia. Sebagai proksi ekonomi, perbankan memang yang paling depan kena hantam kalau ekonomi melambat. Waspada! Source:  Setya Ananda Wijaya  Sekuritas  Disclaimer on: Informasi yang dipaparkan merupakan edukasi, dan bukan merupakan perintah beli atau jual. Setiap keuntungan dan kerugian menjadi tanggung jawab masing-masing dari pelaku pasar #SucorSekuritas #BeXpertWithSucor #Perbankan #FitchRatings #fyp", "post_id": "7633610401376193812"}}, {"key": "Sucor", "attributes": {"label": "Sucor", "x": 649.3041526695149, "y": 157.1904506211309, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7633610401376193812", "id": "Sucor", "source": "tiktok-000001", "content": "BANK BESAR RI MASUK ZONA MERAH! 🚨 Fitch & Moody's kasih outlook negatif ke bank raksasa Indonesia. Sebagai proksi ekonomi, perbankan memang yang paling depan kena hantam kalau ekonomi melambat. Waspada! Source:  Setya Ananda Wijaya  Sekuritas  Disclaimer on: Informasi yang dipaparkan merupakan edukasi, dan bukan merupakan perintah beli atau jual. Setiap keuntungan dan kerugian menjadi tanggung jawab masing-masing dari pelaku pasar #SucorSekuritas #BeXpertWithSucor #Perbankan #FitchRatings #fyp", "post_id": "7633610401376193812"}}, {"key": "kopimanis9999", "attributes": {"label": "kopimanis9999", "x": 586.1999130582951, "y": 200.87111285851066, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7633253137582689544", "id": "kopimanis9999", "source": "tiktok-000001", "content": "Nama : Amar Aufa Nim    : 2410401022 Prodi : Perbankan syari'ah Lokal : 4A Dosen Pengampuh : Pak Suprio Jaya Putra, S.H., M.H. Mata kuliah : Manajemen Pemasaran Bank Syari'ah Tugas: Video Pemasaran   IZIN WAK\"KU SEKALIAN APA BILA TIDAK BAGUS😅", "post_id": "7633253137582689544"}}, {"key": "suprio_jaya_", "attributes": {"label": "suprio_jaya_", "x": 482.31124978869246, "y": 835.2593125197413, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7633253137582689544", "id": "suprio_jaya_", "source": "tiktok-000001", "content": "Nama : Amar Aufa Nim    : 2410401022 Prodi : Perbankan syari'ah Lokal : 4A Dosen Pengampuh : Pak Suprio Jaya Putra, S.H., M.H. Mata kuliah : Manajemen Pemasaran Bank Syari'ah Tugas: Video Pemasaran   IZIN WAK\"KU SEKALIAN APA BILA TIDAK BAGUS😅", "post_id": "7633253137582689544"}}, {"key": "uangusia30an", "attributes": {"label": "uangusia30an", "x": 451.55254708852624, "y": 783.9134624494975, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7617488485393403156", "id": "uangusia30an", "source": "tiktok-000001", "content": "Penjelasan : Apa itu NIM (Net Interest Margin)? Yaitu selisih antara pendapatan bunga yang diperoleh bank dari pinjaman dengan bunga yang dibayarkan ke simpanan nasabah. Semakin tinggi NIM, semakin besar profitabilitas bank. Konteks Sejarah (2015-2016): Rivan memberikan contoh peristiwa tahun 2015/2016 di mana harga saham perbankan (Big Banks) jatuh drastis. Hal ini terjadi karena pemerintah dan OJK saat itu mengeluarkan wacana untuk membatasi atau menurunkan NIM perbankan Indonesia (yang dianggap salah satu yang tertinggi di dunia) ke angka sekitar 4%. Karena NIM adalah sumber pendapatan utama bank di Indonesia, berita ini memicu kekhawatiran investor dan menyebabkan aksi jual besar-besaran. Kecepatan Pemulihan (Rebound):  Meskipun sentimen tersebut membuat harga saham \"jeblok\", Rivan mencatat bahwa hanya dalam waktu satu tahun kemudian, harga saham-saham perbankan tersebut sudah kembali naik dan pulih dari keterpurukannya. Segmen ini menekankan bahwa bagi investor jangka panjang, fluktuasi harga pada saham bank besar akibat wacana regulasi sering kali merupakan peluang, karena secara fundamental bank-bank tersebut memiliki kemampuan untuk pulih dalam waktu yang relatif singkat (kurang dari 2 tahun).  #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #valueinvesting #SahamValuePlay BZ-2026-A61813", "post_id": "7617488485393403156"}}, {"key": "richmindsetidn", "attributes": {"label": "richmindsetidn", "x": 56.49935597228883, "y": 692.3705897801257, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7631258765014207751", "id": "richmindsetidn", "source": "tiktok-000001", "content": "PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merilis kinerja Q1 2026 dengan hasil solid. Laba bersih mencapai Rp15,4 triliun, naik 16,6% YoY. Direktur Utama Riduan menyebut pertumbuhan ini didorong fundamental kuat yang juga mempertebal modal, serta memberi optimisme kontribusi lebih besar ke industri perbankan nasional. Dari sisi kinerja: • Pendapatan bunga naik 11,1% YoY menjadi Rp21,2 triliun • Total pendapatan tumbuh 9,1% • Kredit meningkat 17,4% YoY Pertumbuhan ini hampir 2x lebih tinggi dari rata-rata industri. Sentimen positif tersebut mendorong saham BMRI naik 1,73% ke level 4.700 (21/04). Sumber: Ig |   #ternakuangnews #bank #mandiri", "post_id": "7631258765014207751"}}, {"key": "ternakuang.id", "attributes": {"label": "ternakuang.id", "x": 150.86023833191808, "y": 778.9500023856112, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7631258765014207751", "id": "ternakuang.id", "source": "tiktok-000001", "content": "PT Bank Mandiri (Persero) Tbk merilis kinerja Q1 2026 dengan hasil solid. Laba bersih mencapai Rp15,4 triliun, naik 16,6% YoY. Direktur Utama Riduan menyebut pertumbuhan ini didorong fundamental kuat yang juga mempertebal modal, serta memberi optimisme kontribusi lebih besar ke industri perbankan nasional. Dari sisi kinerja: • Pendapatan bunga naik 11,1% YoY menjadi Rp21,2 triliun • Total pendapatan tumbuh 9,1% • Kredit meningkat 17,4% YoY Pertumbuhan ini hampir 2x lebih tinggi dari rata-rata industri. Sentimen positif tersebut mendorong saham BMRI naik 1,73% ke level 4.700 (21/04). Sumber: Ig |   #ternakuangnews #bank #mandiri", "post_id": "7631258765014207751"}}, {"key": "belajarcuan78", "attributes": {"label": "belajarcuan78", "x": 407.58313708792923, "y": 970.1873687414924, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7633040839517834517", "id": "belajarcuan78", "source": "tiktok-000001", "content": "1. Commodity Boom dalam Saham (Pasar Bullish) Ketika harga komoditas global naik, saham-saham di sektor terkait biasanya akan memimpin kenaikan pasar. Peningkatan Margin Keuntungan: Perusahaan tambang atau perkebunan memiliki biaya operasional yang cenderung tetap, namun harga jual produk mereka melonjak. Hal ini membuat laba bersih perusahaan naik berlipat ganda. Dividen Jumbo: Karena keuntungan yang melimpah, perusahaan seringkali membagikan dividen yang sangat besar kepada pemegang saham. Ini menarik minat investor ritel dan institusi. Efek Sektoral: Tidak hanya perusahaan tambang, perusahaan pendukungnya (seperti jasa alat berat, logistik pelayaran, dan infrastruktur energi) juga akan ikut mengalami kenaikan harga saham. Contoh Sektor: Saham Batubara, Nikel, Minyak & Gas, serta CPO (Kelapa Sawit). 2. Commodity Downturn dalam Saham (Pasar Bearish) Saat harga komoditas jatuh, tekanan pada emiten (perusahaan) di bursa saham menjadi sangat berat. Penurunan Laba & Kerugian: Pendapatan turun drastis sementara biaya perawatan alat dan gaji karyawan tetap berjalan. Investor mulai melakukan aksi jual (panic selling) karena takut kinerja keuangan perusahaan memburuk. Sentimen Negatif Sektoral: Analis biasanya akan menurunkan rating saham-saham tersebut, yang menyebabkan aliran modal keluar (outflow) dari sektor komoditas ke sektor yang lebih aman (seperti perbankan atau konsumsi). Efek ke Indeks Saham: Jika harga komoditas turun secara sistemik, indeks harga saham gabungan bisa ikut tertekan karena sektor komoditas memiliki bobot kapitalisasi pasar yang cukup besar. #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay #investasi  Kurniawan | Investor  BZ-2026-00E179", "post_id": "7633040839517834517"}}, {"key": "Rivan", "attributes": {"label": "Rivan", "x": 245.1901643676424, "y": 915.4732423858339, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7633040839517834517", "id": "Rivan", "source": "tiktok-000001", "content": "1. Commodity Boom dalam Saham (Pasar Bullish) Ketika harga komoditas global naik, saham-saham di sektor terkait biasanya akan memimpin kenaikan pasar. Peningkatan Margin Keuntungan: Perusahaan tambang atau perkebunan memiliki biaya operasional yang cenderung tetap, namun harga jual produk mereka melonjak. Hal ini membuat laba bersih perusahaan naik berlipat ganda. Dividen Jumbo: Karena keuntungan yang melimpah, perusahaan seringkali membagikan dividen yang sangat besar kepada pemegang saham. Ini menarik minat investor ritel dan institusi. Efek Sektoral: Tidak hanya perusahaan tambang, perusahaan pendukungnya (seperti jasa alat berat, logistik pelayaran, dan infrastruktur energi) juga akan ikut mengalami kenaikan harga saham. Contoh Sektor: Saham Batubara, Nikel, Minyak & Gas, serta CPO (Kelapa Sawit). 2. Commodity Downturn dalam Saham (Pasar Bearish) Saat harga komoditas jatuh, tekanan pada emiten (perusahaan) di bursa saham menjadi sangat berat. Penurunan Laba & Kerugian: Pendapatan turun drastis sementara biaya perawatan alat dan gaji karyawan tetap berjalan. Investor mulai melakukan aksi jual (panic selling) karena takut kinerja keuangan perusahaan memburuk. Sentimen Negatif Sektoral: Analis biasanya akan menurunkan rating saham-saham tersebut, yang menyebabkan aliran modal keluar (outflow) dari sektor komoditas ke sektor yang lebih aman (seperti perbankan atau konsumsi). Efek ke Indeks Saham: Jika harga komoditas turun secara sistemik, indeks harga saham gabungan bisa ikut tertekan karena sektor komoditas memiliki bobot kapitalisasi pasar yang cukup besar. #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay #investasi  Kurniawan | Investor  BZ-2026-00E179", "post_id": "7633040839517834517"}}, {"key": "sorot.clip", "attributes": {"label": "sorot.clip", "x": 296.22014904180173, "y": 64.69310154198227, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7633053508731702548", "id": "sorot.clip", "source": "tiktok-000001", "content": "1. Commodity Boom dalam Saham (Pasar Bullish) Ketika harga komoditas global naik, saham-saham di sektor terkait biasanya akan memimpin kenaikan pasar. Peningkatan Margin Keuntungan: Perusahaan tambang atau perkebunan memiliki biaya operasional yang cenderung tetap, namun harga jual produk mereka melonjak. Hal ini membuat laba bersih perusahaan naik berlipat ganda. Dividen Jumbo: Karena keuntungan yang melimpah, perusahaan seringkali membagikan dividen yang sangat besar kepada pemegang saham. Ini menarik minat investor ritel dan institusi. Efek Sektoral: Tidak hanya perusahaan tambang, perusahaan pendukungnya (seperti jasa alat berat, logistik pelayaran, dan infrastruktur energi) juga akan ikut mengalami kenaikan harga saham. Contoh Sektor: Saham Batubara, Nikel, Minyak & Gas, serta CPO (Kelapa Sawit). 2. Commodity Downturn dalam Saham (Pasar Bearish) Saat harga komoditas jatuh, tekanan pada emiten (perusahaan) di bursa saham menjadi sangat berat. Penurunan Laba & Kerugian: Pendapatan turun drastis sementara biaya perawatan alat dan gaji karyawan tetap berjalan. Investor mulai melakukan aksi jual (panic selling) karena takut kinerja keuangan perusahaan memburuk. Sentimen Negatif Sektoral: Analis biasanya akan menurunkan rating saham-saham tersebut, yang menyebabkan aliran modal keluar (outflow) dari sektor komoditas ke sektor yang lebih aman (seperti perbankan atau konsumsi). Efek ke Indeks Saham: Jika harga komoditas turun secara sistemik, indeks harga saham gabungan bisa ikut tertekan karena sektor komoditas memiliki bobot kapitalisasi pasar yang cukup besar. #RivanKurniawan #PortoAntiBadai #ValueInvesting #SahamValuePlay #investasi  BZ-2026-00E179", "post_id": "7633053508731702548"}}, {"key": "IDXChannelcom", "attributes": {"label": "IDXChannelcom", "x": 455.4733017542052, "y": 884.5692652154381, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "432781620563594_1456583289598821", "id": "IDXChannelcom", "source": "facebook-000001", "content": "Ada potensi risiko terhadap proyeksi kinerja emiten perbankan dan konsumer di tengah tren kenaikan harga minyak global yang bertahan lebih lama (higher-for-longer).\n\nBerdasarkan estimasi konsensus analis, median pertumbuhan laba bersih bank-bank besar (Big 4) diperkirakan masih berada di kisaran 5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada 2026. \n\nSementara itu, sejumlah emiten sektor konsumer diperkirakan mencatatkan pertumbuhan laba lebih tinggi, yakni sekitar 10 persen YoY.\n\nNamun demikian, Stockbit pada Kamis (30/4/2026) menilai proyeksi konsensus tersebut masih menyimpan potensi risiko penurunan (downside risk) yang belum sepenuhnya tercermin, terutama jika harga minyak global bertahan di level tinggi dalam periode yang lebih panjang.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/market-news/skenario-minyak-mahal-berlarut-ekspektasi-laba-emiten-besar-tertekan\n\nAtau klik link di bio \n\nFoto: istimewa\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity", "post_id": "432781620563594_1456583289598821"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 123.89482094842185, "y": 697.8815866854451, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 303.88012367343885, "y": 596.5931959397632, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "attributes": {"label": "@NDTVProfitIndia", "x": 433.31048916003067, "y": 54.153579644081404, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "yFcMGHudNUc", "id": "@NDTVProfitIndia", "source": "youtube-000001", "content": "Hasil Keuangan Kuartal ke-4 Yes Bank: Laba Bersih Melonjak Lebih dari 44% YoY, Melampaui 1000 Cro...\n\nDirektur Utama Yes Bank mengatakan dalam konferensi pers pasca-pengumuman pendapatan bahwa bank tersebut akan terus berinvestasi dalam teknologi, produk, proses, dan SDM. Kemitraan yang sedang berlangsung dengan SMBC memberikan dukungan dalam perbankan lintas batas. Ia menambahkan bahwa laba bersih Yes Bank pada tahun fiskal 2026 meningkat 45% YoY menjadi Rs 3.476 crore. Pemulihan sebesar Rs 800-1.000 crore dari surat berharga diharapkan pada tahun fiskal 2027. Avinash Gorakshakar, Pendiri & Kepala Peneliti, AvinashMentor Research, bergabung dengan kami untuk analisis detail hasil kuartal keempat Yes Bank.\n\n#berita #pasarsaham #beritasahamyesbank #pasarsaham #investasi #beritaterkini\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "yFcMGHudNUc"}}, {"key": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "ndtvprofitindia", "x": 435.23491811926027, "y": 48.946384172760645, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "yFcMGHudNUc", "id": "ndtvprofitindia", "source": "youtube-000001", "content": "Hasil Keuangan Kuartal ke-4 Yes Bank: Laba Bersih Melonjak Lebih dari 44% YoY, Melampaui 1000 Cro...\n\nDirektur Utama Yes Bank mengatakan dalam konferensi pers pasca-pengumuman pendapatan bahwa bank tersebut akan terus berinvestasi dalam teknologi, produk, proses, dan SDM. Kemitraan yang sedang berlangsung dengan SMBC memberikan dukungan dalam perbankan lintas batas. Ia menambahkan bahwa laba bersih Yes Bank pada tahun fiskal 2026 meningkat 45% YoY menjadi Rs 3.476 crore. Pemulihan sebesar Rs 800-1.000 crore dari surat berharga diharapkan pada tahun fiskal 2027. Avinash Gorakshakar, Pendiri & Kepala Peneliti, AvinashMentor Research, bergabung dengan kami untuk analisis detail hasil kuartal keempat Yes Bank.\n\n#berita #pasarsaham #beritasahamyesbank #pasarsaham #investasi #beritaterkini\n\nUntuk video lainnya, berlangganan saluran kami:    /   \nKunjungi NDTV Profit untuk berita lainnya: https://www.ndtvprofit.com/\nJangan memasuki pasar saham tanpa pengetahuan. Baca semua Laporan Penelitian di sini: https://www.ndtvprofit.com/research-r...\n\nIkuti NDTV Profit di sini\nTwitter:   / ndtvprofitindia   ,   / ndtvprofit  \nLinkedIn:   / ndtvprofit  \nInstagram:   / ndtvprofit  \nFacebook:   / ndtvprofit", "post_id": "yFcMGHudNUc"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 186.44044218209487, "y": 215.1062815976681, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 0, "out_degree": 7, "degree": 7}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 346.1857021277776, "y": 966.0819132802098, "size": 9.3, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 13.5851, "eigenvector": 70.6518, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 19.556845540494304, "y": 798.5159451470224, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3013, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 796.2783725298442, "y": 325.718989128853, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3013, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 753.8556773091786, "y": 402.6632022190323, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3013, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 71.15110096659505, "y": 536.7837385784201, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3013, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 851.1702770708408, "y": 10.267249986148252, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 15.3013, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "RZlw0DNR4zs", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | 1ST SESSION CLOSING\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "RZlw0DNR4zs"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 662.1864218164917, "y": 117.8636157124795, "size": 13.86, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 121.803, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "zjJq45885mY", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "BBTN Cetak Laba Tumbuh 22,6% di Kuartal I-2026 | MILENOMICS\n\nPT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 22,6 persen pada kuartal I 2026. Kinerja positif ini ditopang oleh sektor pembiayaan perumahan yang tetap menjadi motor utama pertumbuhan, serta efisiensi biaya dana dan transformasi digital melalui aplikasi Bale by BTN. Hasil tersebut menunjukkan penguatan kinerja perseroan di tengah upaya akselerasi digitalisasi layanan perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "zjJq45885mY"}}, {"key": "@Channel1TVGH", "attributes": {"label": "@Channel1TVGH", "x": 870.808633590687, "y": 62.6110941825293, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "rJWRP54Kp-o", "id": "@Channel1TVGH", "source": "youtube-000001", "content": "Sudut Pandang: Depresiasi Mata Uang, UKM & Keuntungan GCB Bank Sebesar GH₵2 Miliar – Joe Jackson ...\n\n#EkonomiGhana #DalexFinance #GCBbank #JoeJackson #FarihanAlhassan #BernardAvle #OnThePoint #UKM #DepresiasiMataUang\n\nDalam episode On the Point of View bersama Bernard Avle ini, dua tokoh keuangan terkemuka Ghana, Joe Jackson (CEO, Dalex Finance) dan Farihan Alhassan (MD, GCB Bank PLC), memberikan wawasan eksklusif tentang pendorong sebenarnya dari ekonomi dan sektor perbankan Ghana.\n\nSorotan Utama:\n\nMitos Depresiasi Mata Uang Terbantahkan: Joe Jackson menjelaskan mengapa impor yang tinggi bukanlah penyebab utama, menekankan lemahnya retensi nilai ekspor domestik.\n\nEmas & Retensi Sektor Ekstraktif: Bagaimana penegakan hukum konten lokal dan pengelolaan emas artisanal dapat membantu Ghana mempertahankan kekayaan.\nUKM & Pertumbuhan Ekonomi: Joe Jackson menguraikan tantangan yang dihadapi UKM—akses pasar, peningkatan skala, sistem manajemen—dan mengapa memilih dan mendukung para juara sangat penting.\n\nKesehatan Perbankan & Keuangan: Farihan Alhassan berbagi bagaimana GCB Bank mencapai laba bersih bersejarah sebesar GH₵2 miliar dan mempertahankan praktik pemberian pinjaman yang hati-hati.\nPinjaman & Dampak Ekonomi Riil: GCB Bank tidak hanya memberikan pinjaman—mereka fokus pada dukungan sektor riil dan transformasi ekonomi.\nBudaya Menabung: Pentingnya dana jangka panjang dan mempromosikan budaya menabung di Ghana untuk mempertahankan pertumbuhan.\n\nChannelOne TV...Menceritakan Kisah Anda, Memberdayakan Perubahan\n\nIkuti kami:\n\nFacebook:   / channel1tvgh  \nX: https://x.com/Channel1TVGHA?t=DPofwFH...\nInstagram: https://www.instagram.com/channel1tvg...\nTikTok: https://www.tiktok.com/?...\nSitus web: channelonenewsonline.com", "post_id": "rJWRP54Kp-o"}}, {"key": "channel1tvgh", "attributes": {"label": "channel1tvgh", "x": 53.52042356485332, "y": 310.67501596304527, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "rJWRP54Kp-o", "id": "channel1tvgh", "source": "youtube-000001", "content": "Sudut Pandang: Depresiasi Mata Uang, UKM & Keuntungan GCB Bank Sebesar GH₵2 Miliar – Joe Jackson ...\n\n#EkonomiGhana #DalexFinance #GCBbank #JoeJackson #FarihanAlhassan #BernardAvle #OnThePoint #UKM #DepresiasiMataUang\n\nDalam episode On the Point of View bersama Bernard Avle ini, dua tokoh keuangan terkemuka Ghana, Joe Jackson (CEO, Dalex Finance) dan Farihan Alhassan (MD, GCB Bank PLC), memberikan wawasan eksklusif tentang pendorong sebenarnya dari ekonomi dan sektor perbankan Ghana.\n\nSorotan Utama:\n\nMitos Depresiasi Mata Uang Terbantahkan: Joe Jackson menjelaskan mengapa impor yang tinggi bukanlah penyebab utama, menekankan lemahnya retensi nilai ekspor domestik.\n\nEmas & Retensi Sektor Ekstraktif: Bagaimana penegakan hukum konten lokal dan pengelolaan emas artisanal dapat membantu Ghana mempertahankan kekayaan.\nUKM & Pertumbuhan Ekonomi: Joe Jackson menguraikan tantangan yang dihadapi UKM—akses pasar, peningkatan skala, sistem manajemen—dan mengapa memilih dan mendukung para juara sangat penting.\n\nKesehatan Perbankan & Keuangan: Farihan Alhassan berbagi bagaimana GCB Bank mencapai laba bersih bersejarah sebesar GH₵2 miliar dan mempertahankan praktik pemberian pinjaman yang hati-hati.\nPinjaman & Dampak Ekonomi Riil: GCB Bank tidak hanya memberikan pinjaman—mereka fokus pada dukungan sektor riil dan transformasi ekonomi.\nBudaya Menabung: Pentingnya dana jangka panjang dan mempromosikan budaya menabung di Ghana untuk mempertahankan pertumbuhan.\n\nChannelOne TV...Menceritakan Kisah Anda, Memberdayakan Perubahan\n\nIkuti kami:\n\nFacebook:   / channel1tvgh  \nX: https://x.com/Channel1TVGHA?t=DPofwFH...\nInstagram: https://www.instagram.com/channel1tvg...\nTikTok: https://www.tiktok.com/?...\nSitus web: channelonenewsonline.com", "post_id": "rJWRP54Kp-o"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "attributes": {"label": "@BloombergPodcasts", "x": 736.194851409725, "y": 672.4824882905353, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "tRsAkFpfBYI", "id": "@BloombergPodcasts", "source": "youtube-000001", "content": "Citi Mencatat Keuntungan Terbaik dalam Lima Tahun Terakhir Seiring dengan Berjalannya Reformasi.\n\nHerman Chan, Analis Senior Bank AS Bloomberg Intelligence, memberikan tanggapannya terhadap laporan pendapatan bank pagi ini, termasuk JPMorgan, Wells Fargo, dan Citi.\n\nPara trader Citigroup Inc. memanfaatkan gelombang volatilitas untuk mendorong bank Wall Street ini mencapai pendapatan kuartalan tertinggi dalam satu dekade, mencatatkan kesuksesan lain bagi rencana pemulihan CEO Jane Fraser.\nUnit pendapatan tetap, yang terbesar kedua di Wall Street, menghasilkan pendapatan sebesar $5,2 miliar pada kuartal pertama, melonjak 13% dari tahun sebelumnya, kata Citigroup dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. Bisnis ekuitas yang jauh lebih kecil menghasilkan pendapatan rekor sebesar $2,1 miliar, meningkat 39%. Bersama-sama, tim-tim tersebut melaporkan pendapatan perdagangan kuartalan tertinggi perusahaan setidaknya sejak krisis keuangan.\nSaham naik 2,4% menjadi $129,35 dalam perdagangan pra-pasar pada pukul 8:20 pagi di New York, Selasa.\n\nBank tersebut melaporkan pengembalian triwulanan tertinggi atas ekuitas umum berwujud dalam lima tahun dan mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan sekitar 90% dari program yang telah mereka tetapkan untuk memperbaiki masalah back-office dan pelaporan regulasi. Masalah-masalah tersebut telah menjadi target sanksi yang dikenakan oleh regulator perbankan sejak tahun 2020.\nDivisi perbankan Citigroup, yang dipimpin oleh Vis Raghavan, adalah satu-satunya dari lima unit perusahaan yang gagal memberikan leverage operasional positif. Pendapatan naik 12% dari tahun sebelumnya menjadi $1,23 miliar, lebih rendah dari perkiraan rata-rata $1,27 miliar dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Hal itu terjadi setelah kuartal keempat yang luar biasa, ketika pendapatan dari penanganan merger dan akuisisi melonjak.\nSecara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata $2,66 dari analis. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\n\nHasil ini merupakan tonggak sejarah lain bagi Fraser, yang perusahaannya telah lama tertinggal di Wall Street. Saham Citigroup naik 8,2% tahun ini hingga Senin, yang tertinggi di antara enam bank terbesar AS. Secara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata analis sebesar $2,66. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\nPerusahaan ini akan mengadakan hari investor pada awal Mei, di mana diharapkan akan memperbarui target keuangannya. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan bahwa pengembalian atas ekuitas umum berwujud, ukuran utama profitabilitas, akan mencapai 10% hingga 11% untuk tahun ini. Angka tersebut mencapai 13,1% pada kuartal pertama, naik dari 9,1% pada tahun sebelumnya.\n\nPerusahaan menghadapi pengeluaran yang lebih tinggi, dengan biaya melonjak 7% dari tahun sebelumnya.\n\nCitigroup mengatakan telah membeli kembali saham senilai $6,3 miliar pada kuartal pertama. Bank tersebut memperkirakan pembelian kembali obligasi akan lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun 2025, menurut presentasi perusahaan.\nHasil pendapatan tetap Citigroup kontras dengan hasil Goldman Sachs Group Inc., yang turun 10% dan meleset dari perkiraan Wall Street.\n\nBaca Selengkapnya: Divisi Obligasi Goldman Gagal Mencapai Target, Mengimbangi Rekor Saham\nPendapatan di bisnis kartu kredit konsumen Citigroup, yang sekarang menjadi unit terpisah, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 4% di tengah pengeluaran pelanggan yang lebih tinggi dan peningkatan rekening baru. Namun, bank tersebut mengatakan dalam presentasi bahwa mereka meningkatkan provisi untuk kerugian kredit, dengan alasan \"meningkatnya ketidakpastian dalam prospek ekonomi makro.\"\nPendapatan kuartal pertama di bisnis layanan Citigroup, raksasa penggerak uang global untuk perusahaan dan pemerintah, melonjak 17% menjadi $6,1 miliar.\nBisnis kekayaan, yang sekarang mencakup bank ritel, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 11%. Bulan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa para eksekutif bank telah mempertimbangkan untuk membeli bank lain atau perusahaan pialang kekayaan.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "tRsAkFpfBYI"}}, {"key": "markets", "attributes": {"label": "markets", "x": 152.7025044927245, "y": 681.9462885721574, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "tRsAkFpfBYI", "id": "markets", "source": "youtube-000001", "content": "Citi Mencatat Keuntungan Terbaik dalam Lima Tahun Terakhir Seiring dengan Berjalannya Reformasi.\n\nHerman Chan, Analis Senior Bank AS Bloomberg Intelligence, memberikan tanggapannya terhadap laporan pendapatan bank pagi ini, termasuk JPMorgan, Wells Fargo, dan Citi.\n\nPara trader Citigroup Inc. memanfaatkan gelombang volatilitas untuk mendorong bank Wall Street ini mencapai pendapatan kuartalan tertinggi dalam satu dekade, mencatatkan kesuksesan lain bagi rencana pemulihan CEO Jane Fraser.\nUnit pendapatan tetap, yang terbesar kedua di Wall Street, menghasilkan pendapatan sebesar $5,2 miliar pada kuartal pertama, melonjak 13% dari tahun sebelumnya, kata Citigroup dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. Bisnis ekuitas yang jauh lebih kecil menghasilkan pendapatan rekor sebesar $2,1 miliar, meningkat 39%. Bersama-sama, tim-tim tersebut melaporkan pendapatan perdagangan kuartalan tertinggi perusahaan setidaknya sejak krisis keuangan.\nSaham naik 2,4% menjadi $129,35 dalam perdagangan pra-pasar pada pukul 8:20 pagi di New York, Selasa.\n\nBank tersebut melaporkan pengembalian triwulanan tertinggi atas ekuitas umum berwujud dalam lima tahun dan mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan sekitar 90% dari program yang telah mereka tetapkan untuk memperbaiki masalah back-office dan pelaporan regulasi. Masalah-masalah tersebut telah menjadi target sanksi yang dikenakan oleh regulator perbankan sejak tahun 2020.\nDivisi perbankan Citigroup, yang dipimpin oleh Vis Raghavan, adalah satu-satunya dari lima unit perusahaan yang gagal memberikan leverage operasional positif. Pendapatan naik 12% dari tahun sebelumnya menjadi $1,23 miliar, lebih rendah dari perkiraan rata-rata $1,27 miliar dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Hal itu terjadi setelah kuartal keempat yang luar biasa, ketika pendapatan dari penanganan merger dan akuisisi melonjak.\nSecara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata $2,66 dari analis. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\n\nHasil ini merupakan tonggak sejarah lain bagi Fraser, yang perusahaannya telah lama tertinggal di Wall Street. Saham Citigroup naik 8,2% tahun ini hingga Senin, yang tertinggi di antara enam bank terbesar AS. Secara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata analis sebesar $2,66. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\nPerusahaan ini akan mengadakan hari investor pada awal Mei, di mana diharapkan akan memperbarui target keuangannya. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan bahwa pengembalian atas ekuitas umum berwujud, ukuran utama profitabilitas, akan mencapai 10% hingga 11% untuk tahun ini. Angka tersebut mencapai 13,1% pada kuartal pertama, naik dari 9,1% pada tahun sebelumnya.\n\nPerusahaan menghadapi pengeluaran yang lebih tinggi, dengan biaya melonjak 7% dari tahun sebelumnya.\n\nCitigroup mengatakan telah membeli kembali saham senilai $6,3 miliar pada kuartal pertama. Bank tersebut memperkirakan pembelian kembali obligasi akan lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun 2025, menurut presentasi perusahaan.\nHasil pendapatan tetap Citigroup kontras dengan hasil Goldman Sachs Group Inc., yang turun 10% dan meleset dari perkiraan Wall Street.\n\nBaca Selengkapnya: Divisi Obligasi Goldman Gagal Mencapai Target, Mengimbangi Rekor Saham\nPendapatan di bisnis kartu kredit konsumen Citigroup, yang sekarang menjadi unit terpisah, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 4% di tengah pengeluaran pelanggan yang lebih tinggi dan peningkatan rekening baru. Namun, bank tersebut mengatakan dalam presentasi bahwa mereka meningkatkan provisi untuk kerugian kredit, dengan alasan \"meningkatnya ketidakpastian dalam prospek ekonomi makro.\"\nPendapatan kuartal pertama di bisnis layanan Citigroup, raksasa penggerak uang global untuk perusahaan dan pemerintah, melonjak 17% menjadi $6,1 miliar.\nBisnis kekayaan, yang sekarang mencakup bank ritel, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 11%. Bulan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa para eksekutif bank telah mempertimbangkan untuk membeli bank lain atau perusahaan pialang kekayaan.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "tRsAkFpfBYI"}}, {"key": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "bloombergquicktake", "x": 177.19012857883476, "y": 151.657187180129, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 17.2626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "tRsAkFpfBYI", "id": "bloombergquicktake", "source": "youtube-000001", "content": "Citi Mencatat Keuntungan Terbaik dalam Lima Tahun Terakhir Seiring dengan Berjalannya Reformasi.\n\nHerman Chan, Analis Senior Bank AS Bloomberg Intelligence, memberikan tanggapannya terhadap laporan pendapatan bank pagi ini, termasuk JPMorgan, Wells Fargo, dan Citi.\n\nPara trader Citigroup Inc. memanfaatkan gelombang volatilitas untuk mendorong bank Wall Street ini mencapai pendapatan kuartalan tertinggi dalam satu dekade, mencatatkan kesuksesan lain bagi rencana pemulihan CEO Jane Fraser.\nUnit pendapatan tetap, yang terbesar kedua di Wall Street, menghasilkan pendapatan sebesar $5,2 miliar pada kuartal pertama, melonjak 13% dari tahun sebelumnya, kata Citigroup dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa. Bisnis ekuitas yang jauh lebih kecil menghasilkan pendapatan rekor sebesar $2,1 miliar, meningkat 39%. Bersama-sama, tim-tim tersebut melaporkan pendapatan perdagangan kuartalan tertinggi perusahaan setidaknya sejak krisis keuangan.\nSaham naik 2,4% menjadi $129,35 dalam perdagangan pra-pasar pada pukul 8:20 pagi di New York, Selasa.\n\nBank tersebut melaporkan pengembalian triwulanan tertinggi atas ekuitas umum berwujud dalam lima tahun dan mengatakan bahwa mereka telah menyelesaikan sekitar 90% dari program yang telah mereka tetapkan untuk memperbaiki masalah back-office dan pelaporan regulasi. Masalah-masalah tersebut telah menjadi target sanksi yang dikenakan oleh regulator perbankan sejak tahun 2020.\nDivisi perbankan Citigroup, yang dipimpin oleh Vis Raghavan, adalah satu-satunya dari lima unit perusahaan yang gagal memberikan leverage operasional positif. Pendapatan naik 12% dari tahun sebelumnya menjadi $1,23 miliar, lebih rendah dari perkiraan rata-rata $1,27 miliar dari analis yang disurvei oleh Bloomberg. Hal itu terjadi setelah kuartal keempat yang luar biasa, ketika pendapatan dari penanganan merger dan akuisisi melonjak.\nSecara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata $2,66 dari analis. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\n\nHasil ini merupakan tonggak sejarah lain bagi Fraser, yang perusahaannya telah lama tertinggal di Wall Street. Saham Citigroup naik 8,2% tahun ini hingga Senin, yang tertinggi di antara enam bank terbesar AS. Secara keseluruhan, laba bersih meningkat 42% menjadi $5,8 miliar, atau $3,06 per saham, mengalahkan perkiraan rata-rata analis sebesar $2,66. Pendapatan sebesar $24,6 miliar juga melampaui prediksi Wall Street.\nPerusahaan ini akan mengadakan hari investor pada awal Mei, di mana diharapkan akan memperbarui target keuangannya. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan bahwa pengembalian atas ekuitas umum berwujud, ukuran utama profitabilitas, akan mencapai 10% hingga 11% untuk tahun ini. Angka tersebut mencapai 13,1% pada kuartal pertama, naik dari 9,1% pada tahun sebelumnya.\n\nPerusahaan menghadapi pengeluaran yang lebih tinggi, dengan biaya melonjak 7% dari tahun sebelumnya.\n\nCitigroup mengatakan telah membeli kembali saham senilai $6,3 miliar pada kuartal pertama. Bank tersebut memperkirakan pembelian kembali obligasi akan lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun 2025, menurut presentasi perusahaan.\nHasil pendapatan tetap Citigroup kontras dengan hasil Goldman Sachs Group Inc., yang turun 10% dan meleset dari perkiraan Wall Street.\n\nBaca Selengkapnya: Divisi Obligasi Goldman Gagal Mencapai Target, Mengimbangi Rekor Saham\nPendapatan di bisnis kartu kredit konsumen Citigroup, yang sekarang menjadi unit terpisah, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 4% di tengah pengeluaran pelanggan yang lebih tinggi dan peningkatan rekening baru. Namun, bank tersebut mengatakan dalam presentasi bahwa mereka meningkatkan provisi untuk kerugian kredit, dengan alasan \"meningkatnya ketidakpastian dalam prospek ekonomi makro.\"\nPendapatan kuartal pertama di bisnis layanan Citigroup, raksasa penggerak uang global untuk perusahaan dan pemerintah, melonjak 17% menjadi $6,1 miliar.\nBisnis kekayaan, yang sekarang mencakup bank ritel, melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 11%. Bulan lalu, Bloomberg melaporkan bahwa para eksekutif bank telah mempertimbangkan untuk membeli bank lain atau perusahaan pialang kekayaan.\n\n-------- \nSaksikan Bloomberg Radio LIVE di YouTube \nHari kerja pukul 7 pagi - 6 sore ET \nTONTON DI SINI: http://bit.ly/3vTiACF \n\nIkuti kami di X:   / bloombergradio   \n\nBerlangganan Podcast kami: \n\nBloomberg Daybreak: http://bit.ly/3DWYoAN \nBloomberg Surveillance: http://bit.ly/3OPtReI \nBloomberg Intelligence: http://bit.ly/3YrBfOi \nBalance of Power: http://bit.ly/3OO8eLC \nBloomberg Businessweek: http://bit.ly/3IPl60i \n\nDengarkan di Apple CarPlay dan Android Auto dengan aplikasi Bloomberg Business: \nApple CarPlay: https://apple.co/486mghI \nAndroid Auto: https://bit.ly/49benZy \n\nKunjungi saluran YouTube kami: \nBloomberg Podcasts:    / bloombergpodcasts   \nBloomberg Television:    /    \nBloomberg Originals:    / bloomberg   \nQuicktake:    /", "post_id": "tRsAkFpfBYI"}}, {"key": "@OfficialiNews", "attributes": {"label": "@OfficialiNews", "x": 157.1177366847587, "y": 379.0288264215815, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "18qDO4dzeyk", "id": "@OfficialiNews", "source": "youtube-000001", "content": "Langkah Strategis Perbankan, BTN Tahan Laba Bersih Rp 3,5 Triliun | iNews Pagi (24/4)\n\nBerita Selengkapnya baca di: https://inews.id/news\n\nJoin membership channel ini dan nikmati berbagai konten eksklusif:\n   /   \n\n📰 iNews: Channel Berita Terlengkap, Tercepat, dan Terpercaya di Indonesia\nDapatkan berita terbaru dari seluruh Indonesia dan dunia, mulai dari politik, ekonomi, hukum, kriminal, olahraga, hiburan, hingga peristiwa penting lainnya. Dengan liputan langsung dari lokasi kejadian dan jurnalis profesional, iNews selalu menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan berimbang.\n\n📊 iNews menjadi sumber berita pilihan jutaan masyarakat yang ingin selalu update setiap saat. Jadilah bagian dari komunitas berita terbesar di Indonesia dan nikmati tayangan eksklusif yang tidak Anda temukan di tempat lain.\n\n📌 Jangan lupa\n✅ Klik SUBSCRIBE untuk bergabung dengan jutaan penonton setia kami\n✅ Aktifkan Lonceng Notifikasi agar tidak ketinggalan berita penting\n✅ Bagikan video ini agar lebih banyak orang mendapatkan informasi yang benar\n\nFollow WA Channel https://whatsapp.com/channel/0029Va7s...\nFollow our Official TikTok   / officialinews  \nFollow our Official Twitter   / officialinews_  \nLike our Official Facebook   / officialinews  \nFollow our Official Instagram   / officialinews  \n\n#iNews #BeritaTerkini #BreakingNews #BeritaHariIni #BeritaNasional #BeritaIndonesia #BeritaDunia #TerlengkapTercepatTerpercaya", "post_id": "18qDO4dzeyk"}}, {"key": "officialinews", "attributes": {"label": "officialinews", "x": 106.90918439534136, "y": 554.2169469823328, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "18qDO4dzeyk", "id": "officialinews", "source": "youtube-000001", "content": "Langkah Strategis Perbankan, BTN Tahan Laba Bersih Rp 3,5 Triliun | iNews Pagi (24/4)\n\nBerita Selengkapnya baca di: https://inews.id/news\n\nJoin membership channel ini dan nikmati berbagai konten eksklusif:\n   /   \n\n📰 iNews: Channel Berita Terlengkap, Tercepat, dan Terpercaya di Indonesia\nDapatkan berita terbaru dari seluruh Indonesia dan dunia, mulai dari politik, ekonomi, hukum, kriminal, olahraga, hiburan, hingga peristiwa penting lainnya. Dengan liputan langsung dari lokasi kejadian dan jurnalis profesional, iNews selalu menghadirkan informasi yang cepat, akurat, dan berimbang.\n\n📊 iNews menjadi sumber berita pilihan jutaan masyarakat yang ingin selalu update setiap saat. Jadilah bagian dari komunitas berita terbesar di Indonesia dan nikmati tayangan eksklusif yang tidak Anda temukan di tempat lain.\n\n📌 Jangan lupa\n✅ Klik SUBSCRIBE untuk bergabung dengan jutaan penonton setia kami\n✅ Aktifkan Lonceng Notifikasi agar tidak ketinggalan berita penting\n✅ Bagikan video ini agar lebih banyak orang mendapatkan informasi yang benar\n\nFollow WA Channel https://whatsapp.com/channel/0029Va7s...\nFollow our Official TikTok   / officialinews  \nFollow our Official Twitter   / officialinews_  \nLike our Official Facebook   / officialinews  \nFollow our Official Instagram   / officialinews  \n\n#iNews #BeritaTerkini #BreakingNews #BeritaHariIni #BeritaNasional #BeritaIndonesia #BeritaDunia #TerlengkapTercepatTerpercaya", "post_id": "18qDO4dzeyk"}}, {"key": "@InvestradeID", "attributes": {"label": "@InvestradeID", "x": 370.6754730924925, "y": 221.95114264492145, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "soqn2T__DH8", "id": "@InvestradeID", "source": "youtube-000001", "content": "BMRI Dividen 10%+ & PE Ratio 7x — Cek Ini Sebelum Cum Date 8 Mei 2026!\n\n▶️⚠️ Disclaimer: Seluruh pembahasan di video ini merupakan sudut pandang analisa pribadi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Jadikan sebagai informasi dan sudut pandang baru. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu.\n\n💰 Cum Date BMRI 8 Mei 2026 — Saham Bank Mandiri tahun ini membagikan dividen 2 kali dari laba bersih 2025. Dividen final yang dibagikan menghasilkan yield sekitar 8,5%, dan jika dijumlahkan dengan dividen interim maka total yield BMRI di 2026 mencapai lebih dari 10% — jauh di atas rata-rata yield BMRI yang biasanya di bawah 5–6% per tahun.\nDi video ini kita bahas tuntas apakah BMRI di harga sekarang masih layak dipertimbangkan — dari sisi kinerja, valuasi, hingga bagaimana membaca pergerakan harganya secara price action.\n\n📌 Yang dibahas di video ini:\n1️⃣ Dividen BMRI 2026 — Angka yang Menarik Perhatian\nTotal dividen yield 10%+ dengan payout rasio di bawah 80%. Angka ini jauh di atas ekspektasi historis BMRI dan menjadi salah satu yield tertinggi di antara saham perbankan besar Indonesia tahun ini.\n2️⃣ Kinerja Q1 2026 — Bagaimana Kondisinya?\nRevenue tercatat sedikit menurun dibanding kuartal sebelumnya — tapi menariknya laba bersih dan laba operasional justru masih tercatat meningkat di Q1 2026. Artinya dari sisi efisiensi bisnis masih bagus, walaupun perputaran uang pengguna jasa bank mulai sedikit berkurang seiring kondisi ekonomi saat ini.\n3️⃣ Valuasi — Murah atau Masih Wajar?\nPE Ratio BMRI saat ini ada di angka 7x — sangat rendah untuk ukuran saham perbankan besar. PBV berada di 1,35x yang tergolong netral. Kita juga bahas worst case scenario jika PBV menyentuh 0,9x seperti saat crash COVID 2020 — seberapa besar kemungkinannya terjadi?\n4️⃣ Strategi Cicil Saham di Kondisi Downtrend\nBukan soal beli sekarang atau tidak — tapi bagaimana cara yang lebih sistematis dalam mencicil saham bagus yang sedang downtrend. Kita bahas parameter yang bisa digunakan sebagai acuan, bukan sekadar feeling.\n5️⃣ Analisa Price Action — Major Trend vs Minor Trend\nBagaimana cara membaca sinyal awal potensi reversal dari weekly chart? Apa bedanya major trend dan secondary trend, dan kenapa penting untuk tidak salah membaca keduanya? Di kondisi BMRI saat ini, mana yang sedang terjadi?\n\n⚡ Poin penting dari video ini: Just survive dan perbaiki average jika harga turun lebih rendah. Karena jika market kembali optimis, reversal dari penurunan gelombang panjang ini akan sangat menarik — dan disaat itu datang, tetaplah bertahan dan jangan terburu-buru.\n\n🔗 Video terkait yang dibahas:\n▶️ Simulasi Nabung Saham BMRI vs BBCA Part 1 →    • BBCA vs BMRI — Nabung Saham 4 Juta/Bulan P...  \n▶️ Simulasi Nabung Saham BMRI vs BBCA Part 2 →    • Simulasi DCA + Reinvest Dividen BBCA vs BM...  \n\n▶️3 Data Penting yang Menandakan Saham Akan Naik Kencang!\n   • 3 Data Penting yang Menandakan Saham Akan ...  \n\n\n🔔 Subscribe & aktifkan notifikasi — analisa saham dividen dan price action rutin hadir di Investrade ID!\n👍 Like video ini kalau pembahasan BMRI dan strategi membaca harga dan cicil sahamnya bermanfaat!\n💬 Komentar: Kamu sudah pegang BMRI? Atau masih nunggu harga lebih murah dulu? Share di kolom komentar!\n\nGabung Suporter Sobat Investrade ID !!\n   /   \n\n#SahamBMRI #BankMandiri #DividenBMRI #CumDate2026 #SahamDividen2026 #DividenYield10 #InvestasiSaham #AnalisisSaham #PriceActionSaham #SahamDowntrend #StrategiSaham #ValuasiSaham #PERatio #SahamDividen #PassiveIncomeSaham #DividenInvesting2026 #Investrade #BelajarSaham", "post_id": "soqn2T__DH8"}}, {"key": "investradeid", "attributes": {"label": "investradeid", "x": 731.8277458482529, "y": 387.84395496468807, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "soqn2T__DH8", "id": "investradeid", "source": "youtube-000001", "content": "BMRI Dividen 10%+ & PE Ratio 7x — Cek Ini Sebelum Cum Date 8 Mei 2026!\n\n▶️⚠️ Disclaimer: Seluruh pembahasan di video ini merupakan sudut pandang analisa pribadi dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Jadikan sebagai informasi dan sudut pandang baru. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu.\n\n💰 Cum Date BMRI 8 Mei 2026 — Saham Bank Mandiri tahun ini membagikan dividen 2 kali dari laba bersih 2025. Dividen final yang dibagikan menghasilkan yield sekitar 8,5%, dan jika dijumlahkan dengan dividen interim maka total yield BMRI di 2026 mencapai lebih dari 10% — jauh di atas rata-rata yield BMRI yang biasanya di bawah 5–6% per tahun.\nDi video ini kita bahas tuntas apakah BMRI di harga sekarang masih layak dipertimbangkan — dari sisi kinerja, valuasi, hingga bagaimana membaca pergerakan harganya secara price action.\n\n📌 Yang dibahas di video ini:\n1️⃣ Dividen BMRI 2026 — Angka yang Menarik Perhatian\nTotal dividen yield 10%+ dengan payout rasio di bawah 80%. Angka ini jauh di atas ekspektasi historis BMRI dan menjadi salah satu yield tertinggi di antara saham perbankan besar Indonesia tahun ini.\n2️⃣ Kinerja Q1 2026 — Bagaimana Kondisinya?\nRevenue tercatat sedikit menurun dibanding kuartal sebelumnya — tapi menariknya laba bersih dan laba operasional justru masih tercatat meningkat di Q1 2026. Artinya dari sisi efisiensi bisnis masih bagus, walaupun perputaran uang pengguna jasa bank mulai sedikit berkurang seiring kondisi ekonomi saat ini.\n3️⃣ Valuasi — Murah atau Masih Wajar?\nPE Ratio BMRI saat ini ada di angka 7x — sangat rendah untuk ukuran saham perbankan besar. PBV berada di 1,35x yang tergolong netral. Kita juga bahas worst case scenario jika PBV menyentuh 0,9x seperti saat crash COVID 2020 — seberapa besar kemungkinannya terjadi?\n4️⃣ Strategi Cicil Saham di Kondisi Downtrend\nBukan soal beli sekarang atau tidak — tapi bagaimana cara yang lebih sistematis dalam mencicil saham bagus yang sedang downtrend. Kita bahas parameter yang bisa digunakan sebagai acuan, bukan sekadar feeling.\n5️⃣ Analisa Price Action — Major Trend vs Minor Trend\nBagaimana cara membaca sinyal awal potensi reversal dari weekly chart? Apa bedanya major trend dan secondary trend, dan kenapa penting untuk tidak salah membaca keduanya? Di kondisi BMRI saat ini, mana yang sedang terjadi?\n\n⚡ Poin penting dari video ini: Just survive dan perbaiki average jika harga turun lebih rendah. Karena jika market kembali optimis, reversal dari penurunan gelombang panjang ini akan sangat menarik — dan disaat itu datang, tetaplah bertahan dan jangan terburu-buru.\n\n🔗 Video terkait yang dibahas:\n▶️ Simulasi Nabung Saham BMRI vs BBCA Part 1 →    • BBCA vs BMRI — Nabung Saham 4 Juta/Bulan P...  \n▶️ Simulasi Nabung Saham BMRI vs BBCA Part 2 →    • Simulasi DCA + Reinvest Dividen BBCA vs BM...  \n\n▶️3 Data Penting yang Menandakan Saham Akan Naik Kencang!\n   • 3 Data Penting yang Menandakan Saham Akan ...  \n\n\n🔔 Subscribe & aktifkan notifikasi — analisa saham dividen dan price action rutin hadir di Investrade ID!\n👍 Like video ini kalau pembahasan BMRI dan strategi membaca harga dan cicil sahamnya bermanfaat!\n💬 Komentar: Kamu sudah pegang BMRI? Atau masih nunggu harga lebih murah dulu? Share di kolom komentar!\n\nGabung Suporter Sobat Investrade ID !!\n   /   \n\n#SahamBMRI #BankMandiri #DividenBMRI #CumDate2026 #SahamDividen2026 #DividenYield10 #InvestasiSaham #AnalisisSaham #PriceActionSaham #SahamDowntrend #StrategiSaham #ValuasiSaham #PERatio #SahamDividen #PassiveIncomeSaham #DividenInvesting2026 #Investrade #BelajarSaham", "post_id": "soqn2T__DH8"}}, {"key": "@ETNow", "attributes": {"label": "@ETNow", "x": 652.3068466745983, "y": 784.9492110158509, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "iQ4iFcwgAcY", "id": "@ETNow", "source": "youtube-000001", "content": "Hasil Kuartal ke-4 ESAF Small Finance Bank: Pertumbuhan Kuat, Pemulihan Lembaga Keuangan Mikro di...\n\nHasil Keuangan Kuartal ke-4 ESAF Small Finance Bank: Pertumbuhan Kuat, Pemulihan MFI di Depan Mata? | Berita Bisnis | ET Now\n\nESAF Small Finance Bank melaporkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan pinjaman sebesar 19% dan peningkatan kualitas aset.\n\nDalam interaksi eksklusif ini, MD & CEO K. Paul Thomas menguraikan:\n\nPertumbuhan kuat dalam portofolio pinjaman yang dijamin (sekarang 61%)\nBasis simpanan yang didorong oleh ritel mendukung pendanaan\nNIM di 7,3% dan prospek ke depan\nSegmen MFI menunjukkan tren pemulihan yang jelas\nBiaya kredit menurun dengan peningkatan efisiensi penagihan\n\nApa artinya ini bagi lintasan pertumbuhan ESAF dan sektor perbankan keuangan mikro yang lebih luas?\n\n#esafbank #bankingstocks #q4results #stockmarketindia #smallfinancebank #earnings #investingindia #marketnews #bankingsector\n\nKendalikan uang Anda dengan Economic Times sekarang.\n\n#etnow #beritabisnis #anggaran2026bersamaetnow\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "iQ4iFcwgAcY"}}, {"key": "etnow", "attributes": {"label": "etnow", "x": 47.51645181570352, "y": 478.8115010740801, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iQ4iFcwgAcY", "id": "etnow", "source": "youtube-000001", "content": "Hasil Kuartal ke-4 ESAF Small Finance Bank: Pertumbuhan Kuat, Pemulihan Lembaga Keuangan Mikro di...\n\nHasil Keuangan Kuartal ke-4 ESAF Small Finance Bank: Pertumbuhan Kuat, Pemulihan MFI di Depan Mata? | Berita Bisnis | ET Now\n\nESAF Small Finance Bank melaporkan kinerja yang solid dengan pertumbuhan pinjaman sebesar 19% dan peningkatan kualitas aset.\n\nDalam interaksi eksklusif ini, MD & CEO K. Paul Thomas menguraikan:\n\nPertumbuhan kuat dalam portofolio pinjaman yang dijamin (sekarang 61%)\nBasis simpanan yang didorong oleh ritel mendukung pendanaan\nNIM di 7,3% dan prospek ke depan\nSegmen MFI menunjukkan tren pemulihan yang jelas\nBiaya kredit menurun dengan peningkatan efisiensi penagihan\n\nApa artinya ini bagi lintasan pertumbuhan ESAF dan sektor perbankan keuangan mikro yang lebih luas?\n\n#esafbank #bankingstocks #q4results #stockmarketindia #smallfinancebank #earnings #investingindia #marketnews #bankingsector\n\nKendalikan uang Anda dengan Economic Times sekarang.\n\n#etnow #beritabisnis #anggaran2026bersamaetnow\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "iQ4iFcwgAcY"}}, {"key": "@thecore_in", "attributes": {"label": "@thecore_in", "x": 169.57749657013755, "y": 371.71907283606043, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.1141, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "_bkMq-C0oQM", "id": "@thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Kelelahan Akibat Perang Mendorong Kenaikan Saham! Inilah Alasannya | Govindraj Ethiraj | Laporan ...\n\nPada Episode 853 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbincang dengan Kapten Shiv Samrat Kapur, Direktur Pelaksana di Sentosa Ship Brokers.\n\nThe Core mempersembahkan “Menavigasi Risiko Pasar di Tahun 2026” (Rabu, 29 April, 08.30) di The Quorum, Lower Parel\nDaftar di tautan ini: https://luma.com/0etd8b63\n____________________________________________\nBekerja Sama Dengan:\nPasar bergerak cepat.\nTetap unggul dengan InvestingPro—akses penuh Anda ke 300.000+ instrumen, alat profesional & peringatan waktu nyata.\nTanpa gangguan. Hanya intelijen pasar.\n\nInvestingPro—perkuat portofolio Anda.\n\nUnduh Sekarang: https://www.investing-referral.com/af...\n____________________________________________\nCATATAN ACARA\n(00:00) Pembahasan\n(05:38) Saham India naik karena kelelahan jangka waktu terus berlanjut\n(09:05) Minyak Rusia kembali mendominasi rantai energi India\n(10:59) Apa yang ditunjukkan oleh arus terbaru kapal tanker India melalui Teluk.\n(23:53) Umpan Balik\n\nPembahasan:\n\nTransisi CEO Apple memicu debat global. John Ternus akan menggantikan Tim Cook, menimbulkan pertanyaan kunci. Dapatkah seorang pemimpin perangkat keras memimpin Apple di era AI?\n\nTernus, 51 tahun, menghabiskan 25 tahun di Apple, naik menjadi Wakil Presiden Senior bidang teknik perangkat keras. Mulai 1 September, ia memimpin raksasa pendapatan $400 miliar. Ia bukanlah seorang visioner AI. Itu mengungkapkan strategi Apple.\n\nKepemimpinan Cook selama 15 tahun menghasilkan dominasi rantai pasokan dan lonjakan kapitalisasi pasar $3,6 triliun. Apple Watch dan AirPods adalah kemenangan besar. Namun Vision Pro dan proyek mobil senilai $10 miliar menunjukkan keterbatasan. Ternus adalah sosok skeptis internal, yang fokus pada eksekusi dan kualitas.\n\nIa mendorong peningkatan iPhone, iPad, dan Mac secara konsisten dan mendukung MacBook Neo seharga $599 untuk memperluas jangkauan. Kini tantangannya lebih besar. Hindari pemikiran inkremental dan definisikan masa depan AI Apple.\n\nApple bertaruh pada keunggulan perangkat keras dengan AI yang terintegrasi ke dalam perangkat. Ini mencerminkan tren CEO global. Membangun masa depan atau mempertahankan inti bisnis?\n\nDi India, perdebatan suksesi mencerminkan pergeseran ini. Reliance Industries menghadapi perubahan generasi. Di sektor perbankan, ICICI Bank, Axis Bank, Kotak Mahindra Bank, dan HDFC Bank bersiap untuk pergeseran kepemimpinan. Banyak perusahaan mengangkat CFO untuk stabilitas dan tata kelola.\n\nNamun kepemimpinan defensif memiliki batasan. Pasar yang sedang berkembang menuntut strategi yang berani. Perlambatan konsumsi di India membuktikannya. Inovasi, bukan kehati-hatian, mendorong ekspansi.\n\nLangkah Apple mengirimkan sinyal yang jelas. Pilihan CEO menentukan strategi. Operator atau pengusaha. Stabilitas atau pertumbuhan.\n\nPasar, Minyak, Rupee, dan Perkapalan:\n\nPasar global menguat karena investor fokus pada pertumbuhan AI dan meredakan kekhawatiran geopolitik. Pembicaraan AS-Iran meningkatkan sentimen, meskipun ketidakpastian tetap ada. Indeks MSCI World mencapai rekor tertinggi karena premi risiko menurun.\n\nDi India, Nifty 50 dan Sensex memperpanjang kenaikan karena optimisme. Nestlé India melaporkan pertumbuhan laba 26 persen karena permintaan membaik setelah perlambatan. Risiko tetap ada karena Moody's memangkas perkiraan PDB India menjadi 6 persen dengan alasan ketidakpastian global dan risiko inflasi.\n\nRupee melemah setelah perubahan kebijakan RBI. Harga minyak sedikit melunak, tetapi tekanan pasokan terus berlanjut secara global. India meningkatkan impor dari Rusia sementara pasokan Timur Tengah turun tajam, membentuk kembali arus perdagangan energi.\n\nTekanan perkapalan meningkat. Wawasan dari Kapten Shiv Samrat Kapoor menyoroti aliran minyak dan gas yang lebih ketat, kenaikan biaya pengiriman, dan gangguan rute perdagangan global yang berdampak pada pergerakan Asia ke Eropa.\n\nDHL Group memperingatkan titik kritis ekonomi global jika kekurangan minyak terus berlanjut. Rute perdagangan semakin ketat, biaya logistik meningkat, dan pasokan energi tetap menjadi risiko terbesar bagi pertumbuhan global.\n\nKesimpulan: Pasar tampak tenang, tetapi pergeseran kepemimpinan, gangguan AI, guncangan energi, dan tekanan perdagangan global diam-diam membentuk kembali masa depan.\n\nTetap terdepan dengan The Core Report saat kami menguraikan kelelahan perang yang mendorong kenaikan saham, perombakan CEO Apple dan pergeseran kepemimpinan AI, serta Rusia yang melampaui Timur Tengah dalam impor minyak India. Pantau Nifty Sensex, pasar global, harga minyak, dan risiko pasar yang membentuk tahun 2026.\n\n#PasarSaham #CEOApple #PasarMinyak #EkonomiIndia #PasarGlobal #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Kirimkan email ke shi...", "post_id": "_bkMq-C0oQM"}}, {"key": "thecore_in", "attributes": {"label": "thecore_in", "x": 703.1800092041811, "y": 81.53697045326291, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.4111, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "_bkMq-C0oQM", "id": "thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Kelelahan Akibat Perang Mendorong Kenaikan Saham! Inilah Alasannya | Govindraj Ethiraj | Laporan ...\n\nPada Episode 853 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbincang dengan Kapten Shiv Samrat Kapur, Direktur Pelaksana di Sentosa Ship Brokers.\n\nThe Core mempersembahkan “Menavigasi Risiko Pasar di Tahun 2026” (Rabu, 29 April, 08.30) di The Quorum, Lower Parel\nDaftar di tautan ini: https://luma.com/0etd8b63\n____________________________________________\nBekerja Sama Dengan:\nPasar bergerak cepat.\nTetap unggul dengan InvestingPro—akses penuh Anda ke 300.000+ instrumen, alat profesional & peringatan waktu nyata.\nTanpa gangguan. Hanya intelijen pasar.\n\nInvestingPro—perkuat portofolio Anda.\n\nUnduh Sekarang: https://www.investing-referral.com/af...\n____________________________________________\nCATATAN ACARA\n(00:00) Pembahasan\n(05:38) Saham India naik karena kelelahan jangka waktu terus berlanjut\n(09:05) Minyak Rusia kembali mendominasi rantai energi India\n(10:59) Apa yang ditunjukkan oleh arus terbaru kapal tanker India melalui Teluk.\n(23:53) Umpan Balik\n\nPembahasan:\n\nTransisi CEO Apple memicu debat global. John Ternus akan menggantikan Tim Cook, menimbulkan pertanyaan kunci. Dapatkah seorang pemimpin perangkat keras memimpin Apple di era AI?\n\nTernus, 51 tahun, menghabiskan 25 tahun di Apple, naik menjadi Wakil Presiden Senior bidang teknik perangkat keras. Mulai 1 September, ia memimpin raksasa pendapatan $400 miliar. Ia bukanlah seorang visioner AI. Itu mengungkapkan strategi Apple.\n\nKepemimpinan Cook selama 15 tahun menghasilkan dominasi rantai pasokan dan lonjakan kapitalisasi pasar $3,6 triliun. Apple Watch dan AirPods adalah kemenangan besar. Namun Vision Pro dan proyek mobil senilai $10 miliar menunjukkan keterbatasan. Ternus adalah sosok skeptis internal, yang fokus pada eksekusi dan kualitas.\n\nIa mendorong peningkatan iPhone, iPad, dan Mac secara konsisten dan mendukung MacBook Neo seharga $599 untuk memperluas jangkauan. Kini tantangannya lebih besar. Hindari pemikiran inkremental dan definisikan masa depan AI Apple.\n\nApple bertaruh pada keunggulan perangkat keras dengan AI yang terintegrasi ke dalam perangkat. Ini mencerminkan tren CEO global. Membangun masa depan atau mempertahankan inti bisnis?\n\nDi India, perdebatan suksesi mencerminkan pergeseran ini. Reliance Industries menghadapi perubahan generasi. Di sektor perbankan, ICICI Bank, Axis Bank, Kotak Mahindra Bank, dan HDFC Bank bersiap untuk pergeseran kepemimpinan. Banyak perusahaan mengangkat CFO untuk stabilitas dan tata kelola.\n\nNamun kepemimpinan defensif memiliki batasan. Pasar yang sedang berkembang menuntut strategi yang berani. Perlambatan konsumsi di India membuktikannya. Inovasi, bukan kehati-hatian, mendorong ekspansi.\n\nLangkah Apple mengirimkan sinyal yang jelas. Pilihan CEO menentukan strategi. Operator atau pengusaha. Stabilitas atau pertumbuhan.\n\nPasar, Minyak, Rupee, dan Perkapalan:\n\nPasar global menguat karena investor fokus pada pertumbuhan AI dan meredakan kekhawatiran geopolitik. Pembicaraan AS-Iran meningkatkan sentimen, meskipun ketidakpastian tetap ada. Indeks MSCI World mencapai rekor tertinggi karena premi risiko menurun.\n\nDi India, Nifty 50 dan Sensex memperpanjang kenaikan karena optimisme. Nestlé India melaporkan pertumbuhan laba 26 persen karena permintaan membaik setelah perlambatan. Risiko tetap ada karena Moody's memangkas perkiraan PDB India menjadi 6 persen dengan alasan ketidakpastian global dan risiko inflasi.\n\nRupee melemah setelah perubahan kebijakan RBI. Harga minyak sedikit melunak, tetapi tekanan pasokan terus berlanjut secara global. India meningkatkan impor dari Rusia sementara pasokan Timur Tengah turun tajam, membentuk kembali arus perdagangan energi.\n\nTekanan perkapalan meningkat. Wawasan dari Kapten Shiv Samrat Kapoor menyoroti aliran minyak dan gas yang lebih ketat, kenaikan biaya pengiriman, dan gangguan rute perdagangan global yang berdampak pada pergerakan Asia ke Eropa.\n\nDHL Group memperingatkan titik kritis ekonomi global jika kekurangan minyak terus berlanjut. Rute perdagangan semakin ketat, biaya logistik meningkat, dan pasokan energi tetap menjadi risiko terbesar bagi pertumbuhan global.\n\nKesimpulan: Pasar tampak tenang, tetapi pergeseran kepemimpinan, gangguan AI, guncangan energi, dan tekanan perdagangan global diam-diam membentuk kembali masa depan.\n\nTetap terdepan dengan The Core Report saat kami menguraikan kelelahan perang yang mendorong kenaikan saham, perombakan CEO Apple dan pergeseran kepemimpinan AI, serta Rusia yang melampaui Timur Tengah dalam impor minyak India. Pantau Nifty Sensex, pasar global, harga minyak, dan risiko pasar yang membentuk tahun 2026.\n\n#PasarSaham #CEOApple #PasarMinyak #EkonomiIndia #PasarGlobal #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung dengan The Core Insider untuk mendapatkan akses ke keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Kirimkan email ke shi...", "post_id": "_bkMq-C0oQM"}}], "edges": [{"key": "WOLF_of_IHSG", "source": "WOLF_of_IHSG", "target": "maasdicc", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "DennySeggssegar", "source": "DennySeggssegar", "target": "insidefolkative", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "DennySeggssegar", "source": "DennySeggssegar", "target": "Azhanakiya", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "radar_indramayu", "source": "radar_indramayu", "target": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "radar_indramayu", "source": "radar_indramayu", "target": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idx_channel", "source": "idx_channel", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "ahzatsa01", "source": "ahzatsa01", "target": "sekuritas", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "sukses.clipp", "source": "sukses.clipp", "target": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "645dor.jateng", "source": "645dor.jateng", "target": "Gubernur", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "645dor.jateng", "source": "645dor.jateng", "target": "Ahmad", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "645dor.jateng", "source": "645dor.jateng", "target": "Humas", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "kokocicisaham", "source": "kokocicisaham", "target": "Bernadus", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "kokocicisaham", "source": "kokocicisaham", "target": "Sucor", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "kopimanis9999", "source": "kopimanis9999", "target": "suprio_jaya_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "uangusia30an", "source": "uangusia30an", "target": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "richmindsetidn", "source": "richmindsetidn", "target": "ternakuang.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "belajarcuan78", "source": "belajarcuan78", "target": "Rivan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "sorot.clip", "source": "sorot.clip", "target": "rivan.kurniawan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "IDXChannelcom", "source": "IDXChannelcom", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "source": "@NDTVProfitIndia", "target": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Channel1TVGH", "source": "@Channel1TVGH", "target": "channel1tvgh", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@NDTVProfitIndia", "source": "@NDTVProfitIndia", "target": "ndtvprofitindia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "markets", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@BloombergPodcasts", "source": "@BloombergPodcasts", "target": "bloombergquicktake", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@OfficialiNews", "source": "@OfficialiNews", "target": "officialinews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@InvestradeID", "source": "@InvestradeID", "target": "investradeid", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ETNow", "source": "@ETNow", "target": "etnow", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}