{"nodes": [{"key": "aldotjahjadi8", "attributes": {"label": "aldotjahjadi8", "x": 624.5284175276306, "y": 687.6170348694363, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2046855685259096531", "id": "aldotjahjadi8", "source": "retweet-000002", "content": "Pertumbuhan kredit perbankan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.\n\n➡️Kredit perbankan pada Maret 2026 tu…", "post_id": "2046855685259096531"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 134.6290053116477, "y": 788.5434642443512, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "2046855685259096531", "id": "bank_indonesia", "source": "retweet-000002", "content": "Pertumbuhan kredit perbankan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.\n\n➡️Kredit perbankan pada Maret 2026 tu…", "post_id": "2046855685259096531"}}, {"key": "Ryp_Ez", "attributes": {"label": "Ryp_Ez", "x": 329.44746475133513, "y": 600.3240806027635, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2046855859070988785", "id": "Ryp_Ez", "source": "retweet-000002", "content": "Pertumbuhan kredit perbankan terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.\n\n➡️Kredit perbankan pada Maret 2026 tu…", "post_id": "2046855859070988785"}}, {"key": "grok", "attributes": {"label": "grok", "x": 772.8053634367725, "y": 210.1169551683384, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "1966267850165027003", "id": "grok", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "r1dayat", "attributes": {"label": "r1dayat", "x": 227.97720802831645, "y": 873.550536239203, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 26.5349, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "r1dayat", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "arda_odang17", "attributes": {"label": "arda_odang17", "x": 468.951285705958, "y": 599.9231594695526, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 26.5349, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "arda_odang17", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "mochmasykur12", "attributes": {"label": "mochmasykur12", "x": 413.2909483701265, "y": 816.8881193056957, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 26.5349, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "mochmasykur12", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "icibosadd", "attributes": {"label": "icibosadd", "x": 138.72303882143544, "y": 49.09296342125691, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 26.5349, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "1966267850165027003", "id": "icibosadd", "source": "tweet-000004", "content": "Parameter yang perlu diamati untuk menilai dampak penarikan dana pemerintah dari BI meliputi:\n\n- Tingkat inflasi\n- Suku bunga acuan\n- Nilai tukar Rupiah\n- Likuiditas perbankan\n- Pertumbuhan kredit\n- Kinerja saham bank\n- Pertumbuhan PDB\n- Cadangan devisa\n\nPantau melalui data resmi", "post_id": "1966267850165027003"}}, {"key": "seekracle", "attributes": {"label": "seekracle", "x": 129.78076029708686, "y": 63.103649389329554, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2049375518521504035", "id": "seekracle", "source": "tweet-000004", "content": "Sebenernya ga selalu kyk gitu, justru pinjol banyak dapet sindikasi kreditnya dari perbankan plat merah. 🤣", "post_id": "2049375518521504035"}}, {"key": "RibowoJoko13246", "attributes": {"label": "RibowoJoko13246", "x": 226.4935875815254, "y": 449.8202388799056, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.1854, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2049375518521504035", "id": "RibowoJoko13246", "source": "tweet-000004", "content": "Sebenernya ga selalu kyk gitu, justru pinjol banyak dapet sindikasi kreditnya dari perbankan plat merah. 🤣", "post_id": "2049375518521504035"}}, {"key": "abulmuzaffar10", "attributes": {"label": "abulmuzaffar10", "x": 314.04320967941857, "y": 167.75251705510453, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 31.1854, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2049375518521504035", "id": "abulmuzaffar10", "source": "tweet-000004", "content": "Sebenernya ga selalu kyk gitu, justru pinjol banyak dapet sindikasi kreditnya dari perbankan plat merah. 🤣", "post_id": "2049375518521504035"}}, {"key": "hscarpenter2019", "attributes": {"label": "hscarpenter2019", "x": 162.73295812381906, "y": 222.77964067918322, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2047249427996496066", "id": "hscarpenter2019", "source": "tweet-000004", "content": "Thanks Arvin.  money supply belum punya efek,  jika berhenti di perbankan. Jika pertumbuhan kredit disektor riil masih lemah, ini problem. Irving Fischer, the purchasing power of money (MoneyxVelocity=Price×Trade Vol=GDP). Salam dari bukan PhD", "post_id": "2047249427996496066"}}, {"key": "ArvinHonami", "attributes": {"label": "ArvinHonami", "x": 610.4587011143782, "y": 732.4136543415314, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2047249427996496066", "id": "ArvinHonami", "source": "tweet-000004", "content": "Thanks Arvin.  money supply belum punya efek,  jika berhenti di perbankan. Jika pertumbuhan kredit disektor riil masih lemah, ini problem. Irving Fischer, the purchasing power of money (MoneyxVelocity=Price×Trade Vol=GDP). Salam dari bukan PhD", "post_id": "2047249427996496066"}}, {"key": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "radar_indramayu", "x": 191.43019452878573, "y": 78.85311057438959, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 38.06, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 2, "degree": 4}, "_id": "3886567061468636286_8186324209", "id": "radar_indramayu", "source": "instagram-000001", "content": "Jakarta – Di tengah meningkatnya risiko global akibat eskalasi konflik geopolitik yang turut mendorong ketidakpastian ekonomi dunia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tetap mampu mencatatkan kinerja yang solid pada Triwulan I 2026. Dengan fundamental bisnis yang kuat didukung oleh pertumbuhan kredit yang selektif, pengelolaan biaya dana yang semakin efisien, serta kualitas aset yang terjaga, BRI berhasil mencatatkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7% year-on-year (yoy).\n.\nHal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam Press Conference Kinerja Keuangan BRI Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI pada Kamis (30/4/2026). Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi dan Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.\n.\nDalam paparannya, Hery Gunardi menyampaikan bahwa sepanjang Triwulan I 2026, kondisi ekonomi global masih diwarnai oleh peningkatan risiko geopolitik yang signifikan. Meski demikian, perekonomian Indonesia tetap resilien dengan dukungan yang semakin luas dari sisi demand, supply, dan fiskal sehingga memberikan buffer terhadap ketidakpastian global dan menjaga momentum pertumbuhan. \n.\nKondisi ini juga tercermin pada industri perbankan nasional yang tetap berada dalam kondisi stabil, dengan intermediasi yang kuat, likuiditas yang memadai, serta risiko yang terkendali, dan memberikan ruang bagi perbankan untuk tetap melakukan ekspansi secara prudent.\n.\nHery Gunardi menambahkan, BRI tetap mampu menjaga momentum pertumbuhan yang solid, seiring konsistensi transformasi yang dijalankan. Hal ini tercermin pada kinerja keuangan konsolidasi hingga akhir Triwulan I 2026 yang tetap menunjukkan tren positif.\n.\nBerita Selengkapnya kunjungi Instastory  lalu KLIK TAUTAN !!!\nhttps://radarindramayu.disway.id/read/684177/bri-pertahankan-momentum-kinerja-solid-laba-bersih-meles\n.\nFollow \n.\n.\n#radarindramayu #radarcirebon #radarkuningan #radarmajalengka #infoindramayu beritahariini indonesia kabupatenindramayu news viral jabaristimewa kota kabupaten kotamangga", "post_id": "3886567061468636286_8186324209"}}, {"key": "idx_yogyakarta", "attributes": {"label": "idx_yogyakarta", "x": 966.9900971677265, "y": 61.588157426654575, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "7582536744801815816", "id": "idx_yogyakarta", "source": "tiktok-000001", "content": "Likuiditas perbankan Indonesia yang semakin longgar menjelang 2026 membuka ruang besar bagi pertumbuhan kredit yang diproyeksikan mencapai hingga 11%. Kondisi ini mencerminkan stabilitas sektor keuangan serta kesiapan perbankan dalam mendukung ekspansi pembiayaan bagi dunia usaha dan masyarakat. Dengan dukungan kebijakan moneter dan pemulihan ekonomi, peningkatan penyaluran kredit diharapkan dapat memperkuat aktivitas ekonomi nasional tahun depan. 📲 Yuk, belajar bareng  #PerbankanIndonesia #PertumbuhanKredit2026 #LikuiditasPerbankan #EkonomiNasional #KebijakanMoneter", "post_id": "7582536744801815816"}}, {"key": "indonesiastockexchange", "attributes": {"label": "indonesiastockexchange", "x": 7.528400479091091, "y": 874.2998935184401, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 28.0851, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "7582536744801815816", "id": "indonesiastockexchange", "source": "tiktok-000001", "content": "Likuiditas perbankan Indonesia yang semakin longgar menjelang 2026 membuka ruang besar bagi pertumbuhan kredit yang diproyeksikan mencapai hingga 11%. Kondisi ini mencerminkan stabilitas sektor keuangan serta kesiapan perbankan dalam mendukung ekspansi pembiayaan bagi dunia usaha dan masyarakat. Dengan dukungan kebijakan moneter dan pemulihan ekonomi, peningkatan penyaluran kredit diharapkan dapat memperkuat aktivitas ekonomi nasional tahun depan. 📲 Yuk, belajar bareng  #PerbankanIndonesia #PertumbuhanKredit2026 #LikuiditasPerbankan #EkonomiNasional #KebijakanMoneter", "post_id": "7582536744801815816"}}, {"key": "ekssoverr", "attributes": {"label": "ekssoverr", "x": 985.5376558091848, "y": 230.33847537504292, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7608917227936632071", "id": "ekssoverr", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,96 persen secara tahunan pada Januari 2026, meningkat dari 9,69 persen pada Desember 2025. Gubernur Perry Warjiyo menyebut kinerja ini didorong peningkatan aktivitas ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta realisasi program prioritas pemerintah. Dari sisi permintaan, potensi ekspansi masih terbuka melalui optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum digunakan, dengan nilai undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari total plafon kredit. Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank dinilai tetap kuat, tercermin dari rasio likuiditas AL/DPK sebesar 27,54 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga 13,48 persen. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit didorong kredit investasi 22,38 persen, kredit konsumsi 6,58 persen, serta kredit modal kerja 4,13 persen. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8–12 persen. Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini cenderung berada di level single digit. Ia menilai permintaan pembiayaan masih belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat dan ekspansi usaha masih selektif, menandakan fase normalisasi pertumbuhan kredit—bukan krisis, namun juga belum ekspansi agresif. Biar nggak cuma paham, tapi juga enjoy bahas ekonomi 📊✨ Follow  dan jangan ketinggalan berita ekonomi yang dikemas ringan & fun! #fyp #beritaekonomiindonesia #beritaekonomi #kreditbank #perrywarjiyo", "post_id": "7608917227936632071"}}, {"key": "Ekssover", "attributes": {"label": "Ekssover", "x": 991.8970954890458, "y": 398.53486291574393, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7608917227936632071", "id": "Ekssover", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,96 persen secara tahunan pada Januari 2026, meningkat dari 9,69 persen pada Desember 2025. Gubernur Perry Warjiyo menyebut kinerja ini didorong peningkatan aktivitas ekonomi, pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta realisasi program prioritas pemerintah. Dari sisi permintaan, potensi ekspansi masih terbuka melalui optimalisasi fasilitas pinjaman yang belum digunakan, dengan nilai undisbursed loan mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari total plafon kredit. Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank dinilai tetap kuat, tercermin dari rasio likuiditas AL/DPK sebesar 27,54 persen dan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga 13,48 persen. Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit didorong kredit investasi 22,38 persen, kredit konsumsi 6,58 persen, serta kredit modal kerja 4,13 persen. BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8–12 persen. Sementara itu, Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, memperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini cenderung berada di level single digit. Ia menilai permintaan pembiayaan masih belum sepenuhnya pulih karena daya beli masyarakat dan ekspansi usaha masih selektif, menandakan fase normalisasi pertumbuhan kredit—bukan krisis, namun juga belum ekspansi agresif. Biar nggak cuma paham, tapi juga enjoy bahas ekonomi 📊✨ Follow  dan jangan ketinggalan berita ekonomi yang dikemas ringan & fun! #fyp #beritaekonomiindonesia #beritaekonomi #kreditbank #perrywarjiyo", "post_id": "7608917227936632071"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 977.4802058701363, "y": 898.3193725480165, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "-WUFSoiAPCQ", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] BBM Nonsubsidi Naik, Kredit Tumbuh, dan BEI Uji Liquidity Provider | KABAR BURSA 60\n\nKABARBURSA.COM — BEI resmi memulai implementasi liquidity provider saham pada Senin, 20 April 2026, dengan kuotasi perdana oleh Phintraco Sekuritas untuk mendorong likuiditas, mempersempit spread, dan memperdalam pasar. Di saat yang sama, pemerintah diminta menjaga agar kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak merembet ke harga kebutuhan pokok, sementara pertumbuhan kredit nasional tercatat 10,42 persen hingga 31 Maret 2026 dan PT Fore Kopi Indonesia Tbk terus ekspansi ke kota tier 2 dan tier 3. Rangkaian kabar ini penting karena memberi gambaran arah pasar modal, energi, perbankan, dan emiten konsumen yang sama-sama memengaruhi daya beli serta aktivitas ekonomi publik. Simak sampai selesai, lalu subscribe dan tinggalkan komentar Anda.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#bei #liquidityprovider #bbmnonsubsidi #kreditnasional #forecoffee #pasarmodal #pertamina #ekonomiindonesia #investasi #perbankan #umkm #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "-WUFSoiAPCQ"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 167.4137785439638, "y": 473.65965289138853, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 31.1854, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "-WUFSoiAPCQ", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] BBM Nonsubsidi Naik, Kredit Tumbuh, dan BEI Uji Liquidity Provider | KABAR BURSA 60\n\nKABARBURSA.COM — BEI resmi memulai implementasi liquidity provider saham pada Senin, 20 April 2026, dengan kuotasi perdana oleh Phintraco Sekuritas untuk mendorong likuiditas, mempersempit spread, dan memperdalam pasar. Di saat yang sama, pemerintah diminta menjaga agar kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak merembet ke harga kebutuhan pokok, sementara pertumbuhan kredit nasional tercatat 10,42 persen hingga 31 Maret 2026 dan PT Fore Kopi Indonesia Tbk terus ekspansi ke kota tier 2 dan tier 3. Rangkaian kabar ini penting karena memberi gambaran arah pasar modal, energi, perbankan, dan emiten konsumen yang sama-sama memengaruhi daya beli serta aktivitas ekonomi publik. Simak sampai selesai, lalu subscribe dan tinggalkan komentar Anda.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#bei #liquidityprovider #bbmnonsubsidi #kreditnasional #forecoffee #pasarmodal #pertamina #ekonomiindonesia #investasi #perbankan #umkm #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "-WUFSoiAPCQ"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 526.5272577485601, "y": 732.1442471190504, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 455.98980171538227, "y": 724.8876050111319, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Ugc7al4E5bo", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "Jangan Beli Saham Perbankan Sebelum Tahu Jebakan Ini! | Wawasan Cerdas\n\nSelamat datang di Wawasan Cerdas! Apakah Anda sering tergiur melihat bank raksasa mencetak laba bersih hingga triliunan rupiah dan langsung ingin memborong sahamnya? Tunggu dulu! Di video kali ini, kita akan membongkar rahasia gelap dan realita di balik angka-angka top-line yang fantastis tersebut. Kami menemukan bahwa pertumbuhan kredit yang meledak-ledak sering kali hanyalah sebuah \"ilusi ekspansi\". Skala bisnis yang membesar tidak ada artinya jika biaya yang dikeluarkan untuk menjaga kredit tersebut ternyata jauh lebih mahal.\n\nBagi sebagian besar investor saham pemula, melihat pertumbuhan kredit dua digit biasanya memicu euforia karena logika sederhananya hal itu akan menebalkan laba bersih. Namun, mari kita bedah jebakan pertama bersama-sama: mahalnya biaya dana (Cost of Fund). Jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit namun harus meminjam dana dengan bunga mahal, keuntungan riil akan menguap. Contoh nyatanya ada pada BBNI yang berhasil menyalurkan kredit ekspansif hingga Rp899,53 triliun, tetapi laba bersih mereka justru merosot dari Rp21,67 triliun menjadi Rp20,11 triliun karena beban bunga melonjak tajam menjadi Rp29,06 triliun. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita: kredit baru tidak selalu mampu mengimbangi tekanan biaya dana yang harus dibayar. Selain itu, ekspansi masif sering membawa risiko masuknya debitur berkualitas rendah, seperti pada kasus BBRI, di mana rasio kredit macet (NPL gross) naik menjadi 3,07% dan laba tergerus 5,2% meski kreditnya tumbuh 12,5%. Anda juga wajib mewaspadai \"ongkos bersih-bersih\" di mana laba bank tersedot habis untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan penghapusbukuan (write-off). Di BJTM dan BBTN, beban menambal kerusakan aset ini meledak melampaui laba bersih mereka.\n\nSelanjutnya, kita akan mengupas tuntas bahaya \"Bom Waktu Restrukturisasi\". Di masa krisis ekonomi, restrukturisasi adalah pelampung penyelamat agar debitur tidak langsung dicatat sebagai NPL. Namun sebagai investor yang cerdas, Anda tidak boleh naif, karena restrukturisasi sering kali hanyalah penunda masalah. Banyak yang bersorak saat angka restrukturisasi bank turun, padahal kenyataannya banyak debitur yang gagal diselamatkan dan status kreditnya \"turun kelas\" menjadi macet secara permanen. Hal ini terjadi pada BBRI, di mana rasio NPL dari kredit restrukturisasi melonjak ke level 76,4% meskipun nominal restrukturisasi secara umum dilaporkan turun. Bahkan bank sekelas BBNI juga mengalami kebocoran di mana rasio NPL terhadap kredit restrukturisasi memburuk dari 10,52% menjadi 13,41%. Oleh karena itu, kami sangat menyarankan Anda untuk memantau metrik Loan at Risk (LAR), bukan hanya NPL. LAR merangkum semua kredit berisiko tinggi, seperti BBTN yang memiliki LAR mencapai 17,09% karena masih memikul \"hantu masa lalu\" berupa stok restrukturisasi yang sangat gemuk. Kasus serupa juga melanda BJTM yang harus menghabiskan tenaganya karena NPL pada portofolio restrukturisasi mereka meroket hingga 70%.\n\nTerakhir, mari kita sadari betapa mahalnya harga sebuah pertahanan bank. Ketika kredit macet meledak, bank harus membangun benteng CKPN dan melakukan write-off atau cuci gudang membuang kredit jelek dari neraca utama. Sayangnya, aksi bersih-bersih ini dibayar lunas menggunakan laba perusahaan! Beban pencadangan BBTN meledak 205% mencapai 176,5% dari laba bersihnya, sedangkan BBNI merelakan 48,35% labanya (Rp9,72 triliun) menguap untuk cadangan. Aksi write-off juga sangat berdarah, contohnya BBRI yang membuang nyaris tiga perempat laba bersih setahun penuhnya (Rp42,41 triliun) ke tong sampah untuk membersihkan masalah pasca-pandemi. Agar investasi Anda aman, pastikan Anda mengecek NPL Coverage, yaitu perbandingan total CKPN dengan total kredit macet yang wajib berada di atas 100%. BBNI sangat aman dengan bantalan 206,42%, sementara BJTM masih rentan karena rasionya tertahan di 98,3%.\n\nJangan pernah berhenti pada analisa Top-Line. Waspadai pertumbuhan laba semu yang ternyata habis termakan CKPN, jangan terkecoh NPL turun jika write-off nya triliunan, dan pastikan bank yang Anda beli punya pencadangan kokoh di atas 100%. Di pasar modal, skala raksasa bisa menjadi monster yang memakan laba jika risikonya tidak dikendalikan.\n\nMari jadikan diri kita investor perbankan yang tangguh, efisien, dan jeli bersama Wawasan Cerdas!\n\nJangan lupa untuk dukung terus channel kita! 👍 LIKE video ini jika Anda mendapat insight baru! 💬 COMMENT saham perbankan apa yang sedang Anda pegang saat ini? 🔔 SUBSCRIBE & Nyalakan lonceng agar tidak ketinggalan edukasi investasi cerdas lainnya!\n\n--------------------------------------------------------------------------------\n#WawasanCerdas #InvestasiSaham #SahamPerbankan #LaporanKeuangan #IHSG #SahamBBRI #SahamBBNI #SahamBBTN #SahamBJTM #KreditMacet #AnalisisSaham #LiterasiKeuangan #InvestorPemula #ValueInvesting #PasarModal #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "Ugc7al4E5bo"}}, {"key": "@thecore_in", "attributes": {"label": "@thecore_in", "x": 102.7479257571482, "y": 874.80736257741, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "AiuGRPBQcog", "id": "@thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Perang Iran Belum Berakhir! Pasar Melonjak Seiring Pengetatan Blokade | Govindraj Ethiraj | Lapor...\n\nPada Episode 848 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Upasna Bhardwaj, Kepala Ekonom di Kotak Mahindra Bank; Adelle Thomas, Direktur Adaptasi di NRDC dan Wakil Ketua Kelompok Kerja IPCC; serta Krishnan Sitaraman, Kepala Petugas Pemeringkatan di Crisil Ratings.\n\n____________________________________________\nBekerja Sama Dengan:\nPasar bergerak cepat.\nTetap unggul dengan InvestingPro—akses penuh Anda ke 300.000+ instrumen, alat profesional & peringatan waktu nyata.\nTanpa kebisingan. Hanya intelijen pasar.\n\nInvestingPro—perkuat portofolio Anda.\n\nUnduh Sekarang: https://www.investing-referral.com/af...\n____________________________________________\nCATATAN ACARA\n(00:00) Berita Hari Ini\n(00:50) Pasar selalu menyambut baik kata-kata tersebut, tetapi mengapa tindakan menunjukkan sebaliknya\n(04:07) Ekspor India ke AS meningkat karena tarif yang lebih rendah\n(06:14) Bagaimana berkurangnya musim hujan akan berdampak pada perekonomian\n(13:32) Mengapa kredit perbankan melambat tahun ini?\n(24:30) Panas ekstrem muncul sebagai salah satu risiko iklim paling mendesak secara global\n\nPasar, Blokade, Rupee, dan Minyak:\n\nApakah perang Iran sudah berakhir? Tentu saja tidak. Pasar menyambut baik sinyal kemungkinan berakhirnya perang Iran, tetapi di lapangan, tidak banyak yang berubah. Pemboman tanpa henti kini telah beralih ke blokade angkatan laut dan ekonomi AS skala penuh.\n\nBlokade AS terhadap pelabuhan Iran sepenuhnya berlaku, memutus hampir 90 persen perdagangan maritim Iran melalui Selat Hormuz, jalur minyak global utama. Lebih dari 10.000 tentara AS, kapal angkatan laut, dan jet tempur dikerahkan. Dalam 24 jam pertama, kapal-kapal dipulangkan, memperketat perdagangan global dan risiko pasokan minyak. Meskipun pembicaraan diplomatik terus berlanjut, ketidakpastian tetap tinggi.\n\nHarga minyak kembali naik mendekati 95 dolar per barel, sementara IMF telah memangkas perkiraan pertumbuhan global dan memperingatkan skenario risiko harga minyak yang tinggi. Terlepas dari itu, pasar saham India melonjak, dengan Sensex dan Nifty mencapai level tertinggi satu bulan karena harapan meredanya ketegangan.\n\nPasar yang lebih luas menguat, tetapi investor asing tetap berhati-hati. Investor asing telah menarik miliaran dolar dari saham India karena risiko geopolitik, valuasi, dan tekanan mata uang. Rupee tetap lemah di dekat 93 per dolar di tengah permintaan dolar yang kuat.\n\nEkspor India ke AS:\n\nEkspor ke AS membaik karena tarif yang lebih rendah, mempersempit defisit perdagangan India. Namun, biaya pengiriman yang lebih tinggi dan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Ekspor permata dan perhiasan menurun, mencerminkan lemahnya permintaan global.\n\nLaporan Crisil menyoroti kondisi keuangan yang lebih ketat yang didorong oleh arus keluar FPI, pelemahan rupee, dan kenaikan imbal hasil obligasi. Tindakan RBI menstabilkan pasar, tetapi volatilitas tetap ada.\n\nDampak Musim Hujan Ini terhadap Ekonomi:\n\nInflasi kembali meningkat, dipimpin oleh harga minyak mentah, logam, dan pangan. Prakiraan musim hujan yang lemah menambah risiko lebih lanjut terhadap pertumbuhan dan permintaan pedesaan. Upasana Bharadwaj dari Kotak Mahindra Bank menyoroti pentingnya tren musim hujan untuk stabilitas ekonomi.\n\nPerlambatan Kredit Bank:\n\nPertumbuhan kredit bank diperkirakan akan melambat di tengah ketidakpastian global, meskipun permintaan UMKM dan ritel tetap stabil. Krishnan Sitaraman dari Crisil Ratings mencatat bahwa tren kredit akan bergantung pada suku bunga dan risiko geopolitik.\n\nMengatasi Panas Ekstrem di Dunia:\n\nMeningkatnya risiko gelombang panas muncul sebagai tantangan ekonomi global utama. Adele Thomas dari NRDC dan IPCC menyoroti urgensi adaptasi iklim dan respons kebijakan.\n\nPertanyaan kuncinya tetap: Apakah pasar mengabaikan risiko nyata seiring berlanjutnya konflik Iran?\n\nSaat narasi perang Iran belum berakhir terungkap dan blokade AS semakin ketat, pasar melonjak tetapi risiko tetap ada. Dari harga minyak, rupee, Sensex dan Nifty hingga sinyal ekonomi global, apakah pasar mengabaikan realitas? Tetap terinformasi dengan The Core Report oleh Govindraj Ethiraj.\n\n#PerangIran #PasarSahamIndia #HargaMinyak #SensexNifty #EkonomiGlobal #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung The Core Insider untuk mendapatkan akses ke keuntungan:\n   /   \n\nPendengar! Kami menunggu umpan balik Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Hubungi shiva untuk kebutuhan sponsor & studio merek.\n\nUntuk liputan selengkapnya, kunjungi thecore.in (https://www.thecore.in/)\n\nDukung Core Report (https://tinyurl.com/Support-the-Core-...)\n\nGabung & Berinteraksi secara anonim di saluran WhatsApp kami (https://tinyurl.com/The-Core-WhatsApp...)\n\nBerlangganan Newsletter kami (https://www.thecore.in/newsletters/th...)\n\nIkuti Kami di Media Sosial untuk Pembaruan Lebih Lanjut:\nTwitter (http...", "post_id": "AiuGRPBQcog"}}, {"key": "thecore_in", "attributes": {"label": "thecore_in", "x": 753.2926002226734, "y": 342.5494679259752, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "AiuGRPBQcog", "id": "thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Perang Iran Belum Berakhir! Pasar Melonjak Seiring Pengetatan Blokade | Govindraj Ethiraj | Lapor...\n\nPada Episode 848 dari The Core Report, jurnalis keuangan Govindraj Ethiraj berbicara dengan Upasna Bhardwaj, Kepala Ekonom di Kotak Mahindra Bank; Adelle Thomas, Direktur Adaptasi di NRDC dan Wakil Ketua Kelompok Kerja IPCC; serta Krishnan Sitaraman, Kepala Petugas Pemeringkatan di Crisil Ratings.\n\n____________________________________________\nBekerja Sama Dengan:\nPasar bergerak cepat.\nTetap unggul dengan InvestingPro—akses penuh Anda ke 300.000+ instrumen, alat profesional & peringatan waktu nyata.\nTanpa kebisingan. Hanya intelijen pasar.\n\nInvestingPro—perkuat portofolio Anda.\n\nUnduh Sekarang: https://www.investing-referral.com/af...\n____________________________________________\nCATATAN ACARA\n(00:00) Berita Hari Ini\n(00:50) Pasar selalu menyambut baik kata-kata tersebut, tetapi mengapa tindakan menunjukkan sebaliknya\n(04:07) Ekspor India ke AS meningkat karena tarif yang lebih rendah\n(06:14) Bagaimana berkurangnya musim hujan akan berdampak pada perekonomian\n(13:32) Mengapa kredit perbankan melambat tahun ini?\n(24:30) Panas ekstrem muncul sebagai salah satu risiko iklim paling mendesak secara global\n\nPasar, Blokade, Rupee, dan Minyak:\n\nApakah perang Iran sudah berakhir? Tentu saja tidak. Pasar menyambut baik sinyal kemungkinan berakhirnya perang Iran, tetapi di lapangan, tidak banyak yang berubah. Pemboman tanpa henti kini telah beralih ke blokade angkatan laut dan ekonomi AS skala penuh.\n\nBlokade AS terhadap pelabuhan Iran sepenuhnya berlaku, memutus hampir 90 persen perdagangan maritim Iran melalui Selat Hormuz, jalur minyak global utama. Lebih dari 10.000 tentara AS, kapal angkatan laut, dan jet tempur dikerahkan. Dalam 24 jam pertama, kapal-kapal dipulangkan, memperketat perdagangan global dan risiko pasokan minyak. Meskipun pembicaraan diplomatik terus berlanjut, ketidakpastian tetap tinggi.\n\nHarga minyak kembali naik mendekati 95 dolar per barel, sementara IMF telah memangkas perkiraan pertumbuhan global dan memperingatkan skenario risiko harga minyak yang tinggi. Terlepas dari itu, pasar saham India melonjak, dengan Sensex dan Nifty mencapai level tertinggi satu bulan karena harapan meredanya ketegangan.\n\nPasar yang lebih luas menguat, tetapi investor asing tetap berhati-hati. Investor asing telah menarik miliaran dolar dari saham India karena risiko geopolitik, valuasi, dan tekanan mata uang. Rupee tetap lemah di dekat 93 per dolar di tengah permintaan dolar yang kuat.\n\nEkspor India ke AS:\n\nEkspor ke AS membaik karena tarif yang lebih rendah, mempersempit defisit perdagangan India. Namun, biaya pengiriman yang lebih tinggi dan gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Ekspor permata dan perhiasan menurun, mencerminkan lemahnya permintaan global.\n\nLaporan Crisil menyoroti kondisi keuangan yang lebih ketat yang didorong oleh arus keluar FPI, pelemahan rupee, dan kenaikan imbal hasil obligasi. Tindakan RBI menstabilkan pasar, tetapi volatilitas tetap ada.\n\nDampak Musim Hujan Ini terhadap Ekonomi:\n\nInflasi kembali meningkat, dipimpin oleh harga minyak mentah, logam, dan pangan. Prakiraan musim hujan yang lemah menambah risiko lebih lanjut terhadap pertumbuhan dan permintaan pedesaan. Upasana Bharadwaj dari Kotak Mahindra Bank menyoroti pentingnya tren musim hujan untuk stabilitas ekonomi.\n\nPerlambatan Kredit Bank:\n\nPertumbuhan kredit bank diperkirakan akan melambat di tengah ketidakpastian global, meskipun permintaan UMKM dan ritel tetap stabil. Krishnan Sitaraman dari Crisil Ratings mencatat bahwa tren kredit akan bergantung pada suku bunga dan risiko geopolitik.\n\nMengatasi Panas Ekstrem di Dunia:\n\nMeningkatnya risiko gelombang panas muncul sebagai tantangan ekonomi global utama. Adele Thomas dari NRDC dan IPCC menyoroti urgensi adaptasi iklim dan respons kebijakan.\n\nPertanyaan kuncinya tetap: Apakah pasar mengabaikan risiko nyata seiring berlanjutnya konflik Iran?\n\nSaat narasi perang Iran belum berakhir terungkap dan blokade AS semakin ketat, pasar melonjak tetapi risiko tetap ada. Dari harga minyak, rupee, Sensex dan Nifty hingga sinyal ekonomi global, apakah pasar mengabaikan realitas? Tetap terinformasi dengan The Core Report oleh Govindraj Ethiraj.\n\n#PerangIran #PasarSahamIndia #HargaMinyak #SensexNifty #EkonomiGlobal #TheCoreReport #TheCore\n\nGabung The Core Insider untuk mendapatkan akses ke keuntungan:\n   /   \n\nPendengar! Kami menunggu umpan balik Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Hubungi shiva untuk kebutuhan sponsor & studio merek.\n\nUntuk liputan selengkapnya, kunjungi thecore.in (https://www.thecore.in/)\n\nDukung Core Report (https://tinyurl.com/Support-the-Core-...)\n\nGabung & Berinteraksi secara anonim di saluran WhatsApp kami (https://tinyurl.com/The-Core-WhatsApp...)\n\nBerlangganan Newsletter kami (https://www.thecore.in/newsletters/th...)\n\nIkuti Kami di Media Sosial untuk Pembaruan Lebih Lanjut:\nTwitter (http...", "post_id": "AiuGRPBQcog"}}, {"key": "@Channel1TVGH", "attributes": {"label": "@Channel1TVGH", "x": 902.3084683913788, "y": 886.1368478501366, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "xS3STbP1a64", "id": "@Channel1TVGH", "source": "youtube-000001", "content": "Penyaluran Pinjaman Bank Melambat - Pertumbuhan Kredit Turun menjadi 15,6% karena Bank Menjadi Le...\n\n#EkonomiGhana #SektorPerbankan #PertumbuhanKredit #BeritaKeuangan #BeritaGhana #BeritaTerkini #ChannelOneNews\n\nPertumbuhan kredit di sektor perbankan Ghana melambat, menandakan lingkungan pemberian pinjaman yang lebih hati-hati di seluruh industri. Pertumbuhan telah melambat menjadi 15,6%, dengan total arus kredit bersih turun menjadi GH¢14,6 miliar.\n\nTren ini menunjukkan bahwa bank semakin beralih ke aset yang lebih aman sambil memperketat persyaratan pinjaman, mencerminkan sikap yang lebih menghindari risiko di sektor ini.\n\nPara ahli memperingatkan bahwa hal ini dapat berdampak pada ekspansi kredit sektor swasta dalam jangka pendek dan memperlambat aktivitas ekonomi.\n\nChannelOne TV...Menceritakan Kisah Anda, Memberdayakan Perubahan\n\nIkuti kami:\nFacebook:   / channel1tvgh  \nX: https://x.com/Channel1TVGHA?t=DPofwFH...\nInstagram: https://www.instagram.com/channel1tvg...\nTikTok: https://www.tiktok.com/?...\nSitus web: channelonenewsonline.com", "post_id": "xS3STbP1a64"}}, {"key": "channel1tvgh", "attributes": {"label": "channel1tvgh", "x": 796.9658249353498, "y": 682.0784083168808, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "xS3STbP1a64", "id": "channel1tvgh", "source": "youtube-000001", "content": "Penyaluran Pinjaman Bank Melambat - Pertumbuhan Kredit Turun menjadi 15,6% karena Bank Menjadi Le...\n\n#EkonomiGhana #SektorPerbankan #PertumbuhanKredit #BeritaKeuangan #BeritaGhana #BeritaTerkini #ChannelOneNews\n\nPertumbuhan kredit di sektor perbankan Ghana melambat, menandakan lingkungan pemberian pinjaman yang lebih hati-hati di seluruh industri. Pertumbuhan telah melambat menjadi 15,6%, dengan total arus kredit bersih turun menjadi GH¢14,6 miliar.\n\nTren ini menunjukkan bahwa bank semakin beralih ke aset yang lebih aman sambil memperketat persyaratan pinjaman, mencerminkan sikap yang lebih menghindari risiko di sektor ini.\n\nPara ahli memperingatkan bahwa hal ini dapat berdampak pada ekspansi kredit sektor swasta dalam jangka pendek dan memperlambat aktivitas ekonomi.\n\nChannelOne TV...Menceritakan Kisah Anda, Memberdayakan Perubahan\n\nIkuti kami:\nFacebook:   / channel1tvgh  \nX: https://x.com/Channel1TVGHA?t=DPofwFH...\nInstagram: https://www.instagram.com/channel1tvg...\nTikTok: https://www.tiktok.com/?...\nSitus web: channelonenewsonline.com", "post_id": "xS3STbP1a64"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 42.9231724303919, "y": 282.8922231749792, "size": 13.86, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 121.803, "in_degree": 0, "out_degree": 12, "degree": 12}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 416.2323207210757, "y": 736.5146983252935, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.3204, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 792.9406534428018, "y": 425.7947829136205, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.3204, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 10, "out_degree": 0, "degree": 10}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 865.0979458561771, "y": 414.55984269665237, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.3204, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 388.6064380987788, "y": 312.85380207703327, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.3204, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 330.84582848007335, "y": 454.56021751655373, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 24.3204, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 5, "out_degree": 0, "degree": 5}, "_id": "-8SPc-9o3XM", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "BI Laporkan Pertumbuhan Kredit Mencapai 9,49 Persen | PRIME MARKET HIGHLIGHTS\n\nBank Indonesia melaporkan pertumbuhan kredit perbankan pada Maret 2026 mencapai 9,49 persen. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 9,37 persen, menunjukkan tren penyaluran kredit yang tetap stabil dan positif.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "-8SPc-9o3XM"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 325.59963098740207, "y": 740.6830201866876, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 134.5909, "in_degree": 0, "out_degree": 21, "degree": 21}, "_id": "Y9vIf8NCZsM", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Berpotensi di Bawah 5,4 Persen | 1ST SESSION CLOSING\n\nPerlambatan ekonomi diperkirakan mulai terlihat pada awal tahun seiring melemahnya sejumlah faktor pendorong, terutama pertumbuhan kredit perbankan. Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Big Data INDEF, Eko Listiyanto, menyebutkan bahwa pada Maret pertumbuhan kredit berada di level 9,49 persen dan belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Kondisi ini dinilai akan berdampak pada perlambatan ekonomi nasional pada kuartal I 2026, yang diperkirakan sedikit di bawah capaian kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen. INDEF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini akan berada di bawah 5,4 persen, seiring masih lemahnya dorongan dari sektor kredit perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "Y9vIf8NCZsM"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 164.81648348651123, "y": 894.8199208801635, "size": 9.3, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.7703, "eigenvector": 70.6518, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "Y9vIf8NCZsM", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Berpotensi di Bawah 5,4 Persen | 1ST SESSION CLOSING\n\nPerlambatan ekonomi diperkirakan mulai terlihat pada awal tahun seiring melemahnya sejumlah faktor pendorong, terutama pertumbuhan kredit perbankan. Pengamat ekonomi sekaligus Direktur Big Data INDEF, Eko Listiyanto, menyebutkan bahwa pada Maret pertumbuhan kredit berada di level 9,49 persen dan belum menunjukkan penguatan yang signifikan. Kondisi ini dinilai akan berdampak pada perlambatan ekonomi nasional pada kuartal I 2026, yang diperkirakan sedikit di bawah capaian kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen. INDEF juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini akan berada di bawah 5,4 persen, seiring masih lemahnya dorongan dari sektor kredit perbankan.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "Y9vIf8NCZsM"}}, {"key": "@ETNow", "attributes": {"label": "@ETNow", "x": 115.22517820639955, "y": 523.735058774749, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 21.8845, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "uaLA7xFED4M", "id": "@ETNow", "source": "youtube-000001", "content": "Mengapa ICICI Bank Tetap Menjadi Pilihan Utama di Tengah Volatilitas Pasar | Properti, Perbankan,...\n\nMusim laporan keuangan mengungkapkan tren pasar yang jelas—bank-bank sedang naik daun sementara sektor IT tetap netral dan sektor FMCG menghadapi tekanan biaya. Para ahli menyoroti kualitas aset yang kuat, pertumbuhan kredit yang meningkat, dan rotasi sektoral ke sektor energi dan logam. Dengan Nifty yang melonjak lebih dari 2000 poin, apakah ini masih pasar beli saat harga turun?\n\nBerikut adalah arah pergerakan uang cerdas saat ini.\n\nKendalikan uang Anda dengan kondisi ekonomi saat ini.\n\n#etnow #businessnews #stockmarketindia #nifty50 #bankstocks #earningsseason #investing #marketanalysis #psubanks #powerstocks\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "uaLA7xFED4M"}}, {"key": "etnow", "attributes": {"label": "etnow", "x": 252.80592870500072, "y": 695.8669282684662, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 40.4863, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "uaLA7xFED4M", "id": "etnow", "source": "youtube-000001", "content": "Mengapa ICICI Bank Tetap Menjadi Pilihan Utama di Tengah Volatilitas Pasar | Properti, Perbankan,...\n\nMusim laporan keuangan mengungkapkan tren pasar yang jelas—bank-bank sedang naik daun sementara sektor IT tetap netral dan sektor FMCG menghadapi tekanan biaya. Para ahli menyoroti kualitas aset yang kuat, pertumbuhan kredit yang meningkat, dan rotasi sektoral ke sektor energi dan logam. Dengan Nifty yang melonjak lebih dari 2000 poin, apakah ini masih pasar beli saat harga turun?\n\nBerikut adalah arah pergerakan uang cerdas saat ini.\n\nKendalikan uang Anda dengan kondisi ekonomi saat ini.\n\n#etnow #businessnews #stockmarketindia #nifty50 #bankstocks #earningsseason #investing #marketanalysis #psubanks #powerstocks\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk mendapatkan pembaruan terbaru tentang berita pasar saham, berita bisnis, berita perusahaan, IPO & lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "uaLA7xFED4M"}}], "edges": [{"key": "aldotjahjadi8", "source": "aldotjahjadi8", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "aldotjahjadi8", "source": "aldotjahjadi8", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Ryp_Ez", "source": "Ryp_Ez", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Ryp_Ez", "source": "Ryp_Ez", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "r1dayat", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "arda_odang17", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "mochmasykur12", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "icibosadd", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "seekracle", "source": "seekracle", "target": "RibowoJoko13246", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "seekracle", "source": "seekracle", "target": "abulmuzaffar10", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hscarpenter2019", "source": "hscarpenter2019", "target": "ArvinHonami", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "radar_indramayu", "source": "radar_indramayu", "target": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "radar_indramayu", "source": "radar_indramayu", "target": "radar_indramayu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idx_yogyakarta", "source": "idx_yogyakarta", "target": "indonesiastockexchange", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "idx_yogyakarta", "source": "idx_yogyakarta", "target": "indonesiastockexchange", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "ekssoverr", "source": "ekssoverr", "target": "Ekssover", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "idx_yogyakarta", "source": "idx_yogyakarta", "target": "indonesiastockexchange", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Channel1TVGH", "source": "@Channel1TVGH", "target": "channel1tvgh", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ETNow", "source": "@ETNow", "target": "etnow", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}