{"nodes": [{"key": "grok", "attributes": {"label": "grok", "x": 445.9518077516431, "y": 382.54096519716063, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2043582319831781652", "id": "grok", "source": "tweet-000004", "content": "Depresiasi rupiah ke Rp17.500/USD akan bikin impor mahal (BBM, bahan baku, elektronik), picu inflasi 2-4% tambahan karena Indonesia impor ketergantungan tinggi. Ekspor & pariwisata untung, tapi daya beli rakyat & utang luar negeri membengkak. Bukan tujuan pemerintah—ini lebih", "post_id": "2043582319831781652"}}, {"key": "otakmeledak", "attributes": {"label": "otakmeledak", "x": 460.75098329147954, "y": 176.3286998301461, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043582319831781652", "id": "otakmeledak", "source": "tweet-000004", "content": "Depresiasi rupiah ke Rp17.500/USD akan bikin impor mahal (BBM, bahan baku, elektronik), picu inflasi 2-4% tambahan karena Indonesia impor ketergantungan tinggi. Ekspor & pariwisata untung, tapi daya beli rakyat & utang luar negeri membengkak. Bukan tujuan pemerintah—ini lebih", "post_id": "2043582319831781652"}}, {"key": "spectatorindex", "attributes": {"label": "spectatorindex", "x": 661.1162392004449, "y": 380.4780056852034, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2043582319831781652", "id": "spectatorindex", "source": "tweet-000004", "content": "Depresiasi rupiah ke Rp17.500/USD akan bikin impor mahal (BBM, bahan baku, elektronik), picu inflasi 2-4% tambahan karena Indonesia impor ketergantungan tinggi. Ekspor & pariwisata untung, tapi daya beli rakyat & utang luar negeri membengkak. Bukan tujuan pemerintah—ini lebih", "post_id": "2043582319831781652"}}, {"key": "AdityaDenyAndr1", "attributes": {"label": "AdityaDenyAndr1", "x": 969.1689244846098, "y": 842.3574412222486, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2050095059383800141", "id": "AdityaDenyAndr1", "source": "tweet-000004", "content": "Utang luar negeri gak bisa dilunasi pake rupiah kids. Rupiah loe gak bisa di pake di Amrik mikir kids", "post_id": "2050095059383800141"}}, {"key": "tanyarlfes", "attributes": {"label": "tanyarlfes", "x": 137.71086327195414, "y": 692.6116229290983, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2050095059383800141", "id": "tanyarlfes", "source": "tweet-000004", "content": "Utang luar negeri gak bisa dilunasi pake rupiah kids. Rupiah loe gak bisa di pake di Amrik mikir kids", "post_id": "2050095059383800141"}}, {"key": "Tendy_japung", "attributes": {"label": "Tendy_japung", "x": 487.3869959877711, "y": 111.34388660551953, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051112226959004157", "id": "Tendy_japung", "source": "tweet-000004", "content": "Satu tahun setengah menjabat presiden hasilnya ekonomi jeblok,Rupiah porak-poranda,ISHG hancur utang luar negeri semakin membengkak,APBN amburadul.", "post_id": "2051112226959004157"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 472.7716492535319, "y": 287.00582715328613, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051112226959004157", "id": "kompascom", "source": "tweet-000004", "content": "Satu tahun setengah menjabat presiden hasilnya ekonomi jeblok,Rupiah porak-poranda,ISHG hancur utang luar negeri semakin membengkak,APBN amburadul.", "post_id": "2051112226959004157"}}, {"key": "ichan_norax", "attributes": {"label": "ichan_norax", "x": 43.780824920135245, "y": 979.0595918378632, "size": 11.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 153.8461, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2051927286413488283", "id": "ichan_norax", "source": "tweet-000004", "content": "Rupiah terus terpuruk, apa iya pertumbuhan ekonomi 5,61 % ? Emang byr Utang luar Negeri pake daun singkong ?? Byr Utang 8 ribuan Trilyun Pake uang nya siapa ?", "post_id": "2051927286413488283"}}, {"key": "msaid_didu", "attributes": {"label": "msaid_didu", "x": 410.73213985580026, "y": 326.65510230522153, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 115.3846, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051927286413488283", "id": "msaid_didu", "source": "tweet-000004", "content": "Rupiah terus terpuruk, apa iya pertumbuhan ekonomi 5,61 % ? Emang byr Utang luar Negeri pake daun singkong ?? Byr Utang 8 ribuan Trilyun Pake uang nya siapa ?", "post_id": "2051927286413488283"}}, {"key": "prabowo", "attributes": {"label": "prabowo", "x": 461.2755969760193, "y": 213.8857196281463, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 28.9437, "eigenvector": 230.7692, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2051927286413488283", "id": "prabowo", "source": "tweet-000004", "content": "Rupiah terus terpuruk, apa iya pertumbuhan ekonomi 5,61 % ? Emang byr Utang luar Negeri pake daun singkong ?? Byr Utang 8 ribuan Trilyun Pake uang nya siapa ?", "post_id": "2051927286413488283"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 723.7742426457103, "y": 314.4701288034133, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 115.3846, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051927286413488283", "id": "bank_indonesia", "source": "tweet-000004", "content": "Rupiah terus terpuruk, apa iya pertumbuhan ekonomi 5,61 % ? Emang byr Utang luar Negeri pake daun singkong ?? Byr Utang 8 ribuan Trilyun Pake uang nya siapa ?", "post_id": "2051927286413488283"}}, {"key": "crypt_cappy", "attributes": {"label": "crypt_cappy", "x": 61.10115889882728, "y": 736.9962041045309, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051296257310630224", "id": "crypt_cappy", "source": "tweet-000004", "content": "Jika Rupiah tembus Rp20.000 per USD, dampak utamanya:\n\n- Inflasi naik tajam karena barang impor (bahan pangan, elektronik, suku cadang) jadi mahal.\n- Cicilan utang luar negeri pemerintah & swasta membengkak.\n- Capital outflow berpotensi meningkat, tekan rupiah lebih dalam.", "post_id": "2051296257310630224"}}, {"key": "yusufgunawan", "attributes": {"label": "yusufgunawan", "x": 209.748162296156, "y": 469.31280034390596, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2048033841504505859", "id": "yusufgunawan", "source": "tweet-000004", "content": "Benar adanya! Soal struktural yang sudah lama menjadi tantangan ekonomi. \n\nKetika terjadi krisis global, nilai tukar rupiah cenderung melemah, yang secara drastis meningkatkan biaya impor dan beban utang luar negeri perusahaan. \n\nBiaya produksi melambung akibat kenaikan harga", "post_id": "2048033841504505859"}}, {"key": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "LambeSahamjja", "x": 397.7503968746788, "y": 151.66727114122625, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048033841504505859", "id": "LambeSahamjja", "source": "tweet-000004", "content": "Benar adanya! Soal struktural yang sudah lama menjadi tantangan ekonomi. \n\nKetika terjadi krisis global, nilai tukar rupiah cenderung melemah, yang secara drastis meningkatkan biaya impor dan beban utang luar negeri perusahaan. \n\nBiaya produksi melambung akibat kenaikan harga", "post_id": "2048033841504505859"}}, {"key": "RMTHandoko", "attributes": {"label": "RMTHandoko", "x": 494.3469539461134, "y": 376.1810310815561, "size": 11.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 153.8461, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2048191967851614293", "id": "RMTHandoko", "source": "tweet-000004", "content": "Efek dari rupiah melemah:\n1. Barang impor jadi mahal\n2. Inflasi meningkat\n3. Biaya BBM & energi naik\n4. Beban utang luar negeri bertambah\n5. Biaya proyek/infrastruktur naik\n6. Eksportir diuntungkan\n7. Tekanan ke Bank Indonesia & suku bunga\n8. Harga kebutuhan masyarakat ikut naik", "post_id": "2048191967851614293"}}, {"key": "Hasiando_9", "attributes": {"label": "Hasiando_9", "x": 746.0976206895864, "y": 379.0751204939583, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 115.3846, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048191967851614293", "id": "Hasiando_9", "source": "tweet-000004", "content": "Efek dari rupiah melemah:\n1. Barang impor jadi mahal\n2. Inflasi meningkat\n3. Biaya BBM & energi naik\n4. Beban utang luar negeri bertambah\n5. Biaya proyek/infrastruktur naik\n6. Eksportir diuntungkan\n7. Tekanan ke Bank Indonesia & suku bunga\n8. Harga kebutuhan masyarakat ikut naik", "post_id": "2048191967851614293"}}, {"key": "Bambangmulyonoo", "attributes": {"label": "Bambangmulyonoo", "x": 175.50374203075992, "y": 455.4987251604651, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 23.7092, "eigenvector": 115.3846, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2048191967851614293", "id": "Bambangmulyonoo", "source": "tweet-000004", "content": "Efek dari rupiah melemah:\n1. Barang impor jadi mahal\n2. Inflasi meningkat\n3. Biaya BBM & energi naik\n4. Beban utang luar negeri bertambah\n5. Biaya proyek/infrastruktur naik\n6. Eksportir diuntungkan\n7. Tekanan ke Bank Indonesia & suku bunga\n8. Harga kebutuhan masyarakat ikut naik", "post_id": "2048191967851614293"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 929.410409025721, "y": 342.23164253587925, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 227.8527, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 1, "degree": 3}, "_id": "3870843401181378488_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia turun US$3,7 miliar menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026 📊 Penurunan ini dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi stabilisasi Rupiah di tengah ketidakpastian global 🌍\n\nMeski turun, posisi cadev masih setara 6 bulan impor dan dinilai tetap kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi serta ketahanan eksternal 💪\n\nSumber: CNBC Indonesia, 8 April 2026\n\nGabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp).\n\n#cadangandevisa #bi #rupiah #ekonomiindonesia #makroekonomi #investasi #mancingsaham", "post_id": "3870843401181378488_52512310886"}}, {"key": "celebesmedia.id", "attributes": {"label": "celebesmedia.id", "x": 888.5158338686457, "y": 445.28284074469184, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 32.1299, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 2, "degree": 3}, "_id": "3877214800984678930_10864878485", "id": "celebesmedia.id", "source": "instagram-000001", "content": "Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 437,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 434,9 miliar dolar AS. \n\nPeningkatan atau pertumbuhan ULN tambah cepat jika dibandingkan dalam rentang tahunan. Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% (yoy - posisi Februari 2026 dibandingkan Februari 2025 ), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% (Januari 2026 dibandingkan Januari 2025). \n\nDirektur pada Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, Rabu (15/4/2026) menjelaskan, peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.\n\nDari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar 215,9 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 5,5% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6% (yoy). \n\nPerkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang. Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%). \n\nBaca selengkapnya di www.celebesmedia.id\n\nIkuti juga sosial media kami  & \ndi Instagram, Tiktok, Twitter, Threads, & Youtube\n\n#rupiah #matauang #dolar #nilaitukaruang #uang", "post_id": "3877214800984678930_10864878485"}}, {"key": "celebespsm", "attributes": {"label": "celebespsm", "x": 559.4304309245108, "y": 467.6913138881651, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 32.1299, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3877214800984678930_10864878485", "id": "celebespsm", "source": "instagram-000001", "content": "Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 437,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi ULN pada bulan sebelumnya sebesar 434,9 miliar dolar AS. \n\nPeningkatan atau pertumbuhan ULN tambah cepat jika dibandingkan dalam rentang tahunan. Secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5% (yoy - posisi Februari 2026 dibandingkan Februari 2025 ), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7% (Januari 2026 dibandingkan Januari 2025). \n\nDirektur pada Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Anton Pitono, Rabu (15/4/2026) menjelaskan, peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.\n\nDari ULN publik, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar 215,9 miliar dolar AS, atau secara tahunan tumbuh sebesar 5,5% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6% (yoy). \n\nPerkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang. Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3%); Jasa Pendidikan (16,2%); Konstruksi (11,6%); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5%). \n\nBaca selengkapnya di www.celebesmedia.id\n\nIkuti juga sosial media kami  & \ndi Instagram, Tiktok, Twitter, Threads, & Youtube\n\n#rupiah #matauang #dolar #nilaitukaruang #uang", "post_id": "3877214800984678930_10864878485"}}, {"key": "bangkabelitunginfonew", "attributes": {"label": "bangkabelitunginfonew", "x": 631.0375912687017, "y": 381.91792056102736, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 123.1637, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3881406030014445473_55481531290", "id": "bangkabelitunginfonew", "source": "instagram-000001", "content": "Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan pasar spot, Kamis (23/4/2026).\n\nMata uang Garuda bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.200 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.\n\nBerdasarkan data perdagangan pagi, rupiah dibuka di level Rp17.221 per dolar AS. Posisi ini melemah sekitar 0,23 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.181 per dolar AS.\n\nTekanan terhadap rupiah terus berlanjut hingga mendekati pukul 09.00 WIB. Di pasar spot, mata uang domestik bahkan sempat bergerak ke kisaran Rp17.230 per dolar AS.\n\nPelemahan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas nilai tukar dan dampaknya terhadap harga barang impor, utang luar negeri, hingga inflasi nasional.\n\nAnalis pasar uang menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.\n\nPenguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan seiring tingginya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.\n\nSelain itu, tensi geopolitik internasional yang belum mereda juga membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.\n\nDi sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat turut memperburuk sentimen terhadap mata uang emerging market.\n\nInvestor masih menunggu sinyal terbaru dari bank sentral AS atau The Federal Reserve terkait kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.\n\nPelemahan rupiah kali ini juga menjadi sorotan karena telah melampaui level yang pernah terjadi saat krisis pandemi Covid-19 maupun gejolak ekonomi global sebelumnya.\n\nMeski demikian, sejumlah ekonom menilai pelemahan rupiah masih relatif terkendali selama Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas pasar dan cadangan devisa tetap kuat.\n\n📝 selengkapnya di bangka.tribunnews.com\n\nHanya Followers Yang Bisa Komentar‼️\n\nFollow  Buat Kamu Lebih Tau Kabar Seputar Bangka Belitung & Sekitarnya\n\n#bangkabelitunginfo #bangkabelitunginfonew #bangkabelitung #breakingnews #informasi", "post_id": "3881406030014445473_55481531290"}}, {"key": "mancingsaham.id", "attributes": {"label": "mancingsaham.id", "x": 850.5469361721573, "y": 101.34490045549815, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7626407550656761108", "id": "mancingsaham.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia turun US$3,7 miliar menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026 📊 Penurunan ini dipicu pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi stabilisasi Rupiah di tengah ketidakpastian global 🌍 Meski turun, posisi cadev masih setara 6 bulan impor dan dinilai tetap kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi serta ketahanan eksternal 💪 Sumber: CNBC Indonesia, 8 April 2026 Gabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp). #saham #sahamindonesia #investasi #fyp #mancingsaham", "post_id": "7626407550656761108"}}, {"key": "amingandul06", "attributes": {"label": "amingandul06", "x": 794.6536455812295, "y": 724.1137813684863, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul06", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "amingandul", "attributes": {"label": "amingandul", "x": 439.39333821068726, "y": 375.45448884112255, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635760900976151829", "id": "amingandul", "source": "tiktok-000001", "content": "Uang, ekonomi & inflasi indonesia Secara umum, pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) tidak menganut orientasi mencetak uang tanpa jaminan (balance). Kebijakan moneter kita sangat menjaga keseimbangan antara jumlah uang beredar dengan ketersediaan barang dan jasa agar tidak terjadi inflasi yang merusak daya beli masyarakat. Namun, ada beberapa konteks penting di mana \"pencetakan uang\" (dalam arti luas) dilakukan dengan strategi tertentu: 1. Mekanisme Burden Sharing (Berbagi Beban) Saat pandemi COVID-19, pemerintah dan BI menjalankan skema yang mirip dengan \"cetak uang\" untuk membiayai APBN, yang disebut Burden Sharing. Cara kerja: BI membeli obligasi pemerintah (SBN) secara langsung di pasar perdana. Tujuan: Membiayai belanja kesehatan dan bansos tanpa harus bergantung sepenuhnya pada utang luar negeri dengan bunga tinggi. Risiko: Jika dilakukan tanpa perhitungan pertumbuhan ekonomi riil, ini bisa memicu inflasi tinggi. Karena itu, skema ini bersifat sementara dan dipantau ketat. 2. Teori MMT (Modern Monetary Theory) Beberapa pihak sering mengusulkan agar Indonesia menggunakan MMT. Teori ini berargumen bahwa negara yang memiliki kedaulatan atas mata uangnya sendiri (seperti Rupiah) tidak perlu takut mencetak uang untuk membiayai pembangunan, selama kapasitas produksi nasional (seperti infrastruktur dan tenaga kerja) masih bisa menyerap uang tersebut tanpa memicu inflasi. Kenyataannya: Pemerintah Indonesia tetap bersikap konservatif dan tidak sepenuhnya menerapkan MMT karena risiko pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. 3. Risiko Jika \"Tanpa Balance\" Jika pemerintah mencetak uang hanya untuk membayar utang atau membagikannya tanpa adanya peningkatan produktivitas (pertumbuhan ekonomi), dampaknya akan sangat buruk: Hiperinflasi: Harga barang melonjak karena terlalu banyak uang mengejar barang yang jumlahnya sedikit (contoh ekstrem: Zimbabwe atau Venezuela). Kehilangan Kepercayaan: Masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada Rupiah dan beralih ke aset lain seperti emas atau mata uang asing, yang akan membuat Rupiah tidak bernilai. Nilai Tukar Anjlok: Uang yang beredar terlalu banyak akan membuat nilai tukar kita jatuh, sehingga harga barang impor (termasuk bahan baku industri) menjadi sangat mahal. Kesimpulan Orientasi Indonesia saat ini tetap pada stabilitas harga. Bank Indonesia biasanya hanya menambah jumlah uang beredar (likuiditas) sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi tahunan (sekitar 5%). Tujuannya adalah untuk memastikan ekonomi tetap berputar tanpa membuat harga-harga di pasar menjadi tidak terkendali. Intinya: Mencetak uang adalah alat, bukan solusi ajaib. Jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang nyata (produksi barang/jasa), uang tersebut hanya akan menjadi kertas yang kehilangan nilainya. #", "post_id": "7635760900976151829"}}, {"key": "@kronologifakta", "attributes": {"label": "@kronologifakta", "x": 850.1924926311736, "y": 911.4060113614073, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "YDZcULfjXKY", "id": "@kronologifakta", "source": "youtube-000001", "content": "GAWAT SERIUS! RUPIAH AMBRUK 21 RIBU BERARTI APA UNTUK ANDA?\n\nSumber ini memaparkan potensi krisis ekonomi di Indonesia yang dipicu oleh ancaman pelemahan nilai tukar rupiah hingga angka 21.000 per dolar. Penurunan nilai mata uang tersebut diprediksi akan *melambungkan harga barang impor, meningkatkan beban utang luar negeri secara drastis, serta menekan *daya beli masyarakat yang sudah mulai melemah.\n\nSituasi sulit ini diperkirakan dapat memicu gelombang PHK massal di berbagai sektor industri dan memaksa pemerintah mengambil kebijakan ekstrem seperti pencabutan subsidi. Selain faktor eksternal seperti *konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, sumber ini menyoroti ketidaksiapan dana cadangan serta risiko ketidakstabilan sosial-politik.\n\nSebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan untuk segera menyiapkan dana darurat serta mengalihkan aset ke dalam bentuk emas atau perak. Secara keseluruhan, narasi ini berfungsi sebagai pengingat kritis agar individu dan negara bersiap menghadapi kemungkinan tekanan finansial yang lebih berat di masa depan.\n\nSetiap kejadian punya cerita, setiap fakta punya rahasia. Kronologi Fakta hadir untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi secara kronologis dan tajam.\nmengupas tentang sejarah, berita terbaru, investigasi, dan edukasi.\n\nDirangkum ulang dari sumber terpercaya.\nSubscribe ‪‬ untuk update informasi faktual setiap hari!\n#politik #geopolitik #ekonomidunia #investigasikriminal #investigasimendalam #investigasi #kronologi #sejarah #edukasisejarah #faktamenarik #faktasejarah #faktaberita #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritadunia #sejarahdunia #educationworld #kronologifakta #infosejarah #infofakta #infokriminal #kejadiannyata", "post_id": "YDZcULfjXKY"}}, {"key": "kronologifakta", "attributes": {"label": "kronologifakta", "x": 753.0017503296876, "y": 560.3545459771699, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "YDZcULfjXKY", "id": "kronologifakta", "source": "youtube-000001", "content": "GAWAT SERIUS! RUPIAH AMBRUK 21 RIBU BERARTI APA UNTUK ANDA?\n\nSumber ini memaparkan potensi krisis ekonomi di Indonesia yang dipicu oleh ancaman pelemahan nilai tukar rupiah hingga angka 21.000 per dolar. Penurunan nilai mata uang tersebut diprediksi akan *melambungkan harga barang impor, meningkatkan beban utang luar negeri secara drastis, serta menekan *daya beli masyarakat yang sudah mulai melemah.\n\nSituasi sulit ini diperkirakan dapat memicu gelombang PHK massal di berbagai sektor industri dan memaksa pemerintah mengambil kebijakan ekstrem seperti pencabutan subsidi. Selain faktor eksternal seperti *konflik Timur Tengah dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat, sumber ini menyoroti ketidaksiapan dana cadangan serta risiko ketidakstabilan sosial-politik.\n\nSebagai langkah antisipasi, masyarakat disarankan untuk segera menyiapkan dana darurat serta mengalihkan aset ke dalam bentuk emas atau perak. Secara keseluruhan, narasi ini berfungsi sebagai pengingat kritis agar individu dan negara bersiap menghadapi kemungkinan tekanan finansial yang lebih berat di masa depan.\n\nSetiap kejadian punya cerita, setiap fakta punya rahasia. Kronologi Fakta hadir untuk mengungkap apa yang sebenarnya terjadi secara kronologis dan tajam.\nmengupas tentang sejarah, berita terbaru, investigasi, dan edukasi.\n\nDirangkum ulang dari sumber terpercaya.\nSubscribe ‪‬ untuk update informasi faktual setiap hari!\n#politik #geopolitik #ekonomidunia #investigasikriminal #investigasimendalam #investigasi #kronologi #sejarah #edukasisejarah #faktamenarik #faktasejarah #faktaberita #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritadunia #sejarahdunia #educationworld #kronologifakta #infosejarah #infofakta #infokriminal #kejadiannyata", "post_id": "YDZcULfjXKY"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "attributes": {"label": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "x": 244.27579114401797, "y": 785.8206518489372, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 18.4747, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "fUQJEbIx_rk", "id": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "youtube-000001", "content": "GILA! UTANG TEMBUS 7.389 TRILIUN, Indonesia Terjebak Lingkaran Setan Dolar AS?\n\nIndonesia kembali dihadapkan pada tantangan ekonomi serius di awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia meroket hingga 434,7 miliar dolar AS atau menembus angka fantastis Rp7.389,9 triliun! Apakah ini sinyal bahaya bagi ketahanan fiskal kita?\nDi tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp17.000 per Dolar AS, beban pembayaran utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta kini menjadi sorotan tajam.\nSimak analisis mendalam bersama para pakar ekonomi mengenai struktur utang Indonesia, efektivitas belanja negara, hingga pentingnya hilirisasi industri sebagai kunci keluar dari jebakan utang luar negeri.\n\nVideo Editor: Rifqi Rahmandika\n\n#koranjakarta #news #UtangLuarNegeri #EkonomiIndonesia2026 #bankindonesia #KursRupiah #krisisekonomi #beritaterkini #FiskalIndonesia #dolar  #analisisekonomi \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "fUQJEbIx_rk"}}, {"key": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "koranjakarta...", "x": 567.5214873859961, "y": 332.5405863042057, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.1782, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "fUQJEbIx_rk", "id": "koranjakarta...", "source": "youtube-000001", "content": "GILA! UTANG TEMBUS 7.389 TRILIUN, Indonesia Terjebak Lingkaran Setan Dolar AS?\n\nIndonesia kembali dihadapkan pada tantangan ekonomi serius di awal tahun 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia meroket hingga 434,7 miliar dolar AS atau menembus angka fantastis Rp7.389,9 triliun! Apakah ini sinyal bahaya bagi ketahanan fiskal kita?\nDi tengah fluktuasi nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp17.000 per Dolar AS, beban pembayaran utang luar negeri baik pemerintah maupun swasta kini menjadi sorotan tajam.\nSimak analisis mendalam bersama para pakar ekonomi mengenai struktur utang Indonesia, efektivitas belanja negara, hingga pentingnya hilirisasi industri sebagai kunci keluar dari jebakan utang luar negeri.\n\nVideo Editor: Rifqi Rahmandika\n\n#koranjakarta #news #UtangLuarNegeri #EkonomiIndonesia2026 #bankindonesia #KursRupiah #krisisekonomi #beritaterkini #FiskalIndonesia #dolar  #analisisekonomi \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "fUQJEbIx_rk"}}], "edges": [{"key": "grok", "source": "grok", "target": "otakmeledak", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "spectatorindex", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "AdityaDenyAndr1", "source": "AdityaDenyAndr1", "target": "tanyarlfes", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Tendy_japung", "source": "Tendy_japung", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ichan_norax", "source": "ichan_norax", "target": "msaid_didu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ichan_norax", "source": "ichan_norax", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "ichan_norax", "source": "ichan_norax", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "grok", "source": "grok", "target": "crypt_cappy", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "yusufgunawan", "source": "yusufgunawan", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RMTHandoko", "source": "RMTHandoko", "target": "Hasiando_9", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RMTHandoko", "source": "RMTHandoko", "target": "Bambangmulyonoo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RMTHandoko", "source": "RMTHandoko", "target": "prabowo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "celebesmedia.id", "source": "celebesmedia.id", "target": "celebesmedia.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "celebesmedia.id", "source": "celebesmedia.id", "target": "celebespsm", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bangkabelitunginfonew", "source": "bangkabelitunginfonew", "target": "bangkabelitunginfonew", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "mancingsaham.id", "source": "mancingsaham.id", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "amingandul06", "source": "amingandul06", "target": "amingandul", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@kronologifakta", "source": "@kronologifakta", "target": "kronologifakta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}