{"nodes": [{"key": "ciparay.id", "attributes": {"label": "ciparay.id", "x": 31.273319273054433, "y": 260.31534071018734, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 175.4386, "eigenvector": 250.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3916818897072366681_4031482764", "id": "ciparay.id", "source": "instagram-000001", "content": "Dalam 11 hari belakangan, Indonesia diwarnai berbagai perkembangan besar yang menyita perhatian publik.\nMulai dari utang negara yang terus meningkat, dorongan DPR untuk mengoptimalkan penerimaan pajak, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, hingga anjloknya IHSG ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.\nRentetan peristiwa yang terjadi hampir bersamaan tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama terkait kondisi ekonomi, daya beli, dan tekanan biaya hidup yang dirasakan semakin berat.\nDi tengah situasi ini, banyak masyarakat mulai bertanya: ke mana arah perekonomian Indonesia akan bergerak dalam waktu dekat? Apakah berbagai dinamika ini hanya gejolak sementara, atau menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian lebih serius?\n\nsourch :", "post_id": "3916818897072366681_4031482764"}}, {"key": "ahquote", "attributes": {"label": "ahquote", "x": 324.311619528502, "y": 874.8488374315933, "size": 9.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 324.5614, "eigenvector": 250.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3916818897072366681_4031482764", "id": "ahquote", "source": "instagram-000001", "content": "Dalam 11 hari belakangan, Indonesia diwarnai berbagai perkembangan besar yang menyita perhatian publik.\nMulai dari utang negara yang terus meningkat, dorongan DPR untuk mengoptimalkan penerimaan pajak, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, hingga anjloknya IHSG ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.\nRentetan peristiwa yang terjadi hampir bersamaan tersebut memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama terkait kondisi ekonomi, daya beli, dan tekanan biaya hidup yang dirasakan semakin berat.\nDi tengah situasi ini, banyak masyarakat mulai bertanya: ke mana arah perekonomian Indonesia akan bergerak dalam waktu dekat? Apakah berbagai dinamika ini hanya gejolak sementara, atau menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian lebih serius?\n\nsourch :", "post_id": "3916818897072366681_4031482764"}}, {"key": "folknomic", "attributes": {"label": "folknomic", "x": 728.9896000735189, "y": 421.50713164531595, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 175.4386, "eigenvector": 250.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomic", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}, {"key": "folknomics", "attributes": {"label": "folknomics", "x": 99.64632921310668, "y": 200.4684824219096, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 324.5614, "eigenvector": 250.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7631932313441537301", "id": "folknomics", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) menegaskan akan memperkuat intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, setelah mata uang domestik sempat melemah hingga mendekati level terendah terhadap dolar AS. Wakil Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa intervensi dilakukan secara berlapis, mencakup pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar obligasi, guna menekan volatilitas yang berlebihan. Ia menyebut tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, seperti tensi geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang memperkuat dolar AS. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang negara berkembang lainnya di kawasan Asia. Secara pasar, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.200–Rp17.300 per dolar AS, mendekati titik terlemahnya sepanjang sejarah. Tekanan ini juga terlihat dari arus keluar modal asing, khususnya di pasar obligasi pemerintah. Sebagai respons, BI tidak hanya mengandalkan intervensi valas, tetapi juga memperkuat bauran kebijakan dengan pendekatan pro-pasar untuk menjaga daya tarik aset domestik. Langkah tersebut meliputi optimalisasi operasi moneter dan penyesuaian suku bunga, sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 1,5%–3,5%. Ke depan, BI menegaskan akan terus memantau perkembangan global dan domestik serta siap mengambil langkah tambahan jika diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional. Follow  Number 1 Fintainment Media for the Modern Folks #folknomics #wealth #entrepreneur #financialfreedom #motivation", "post_id": "7631932313441537301"}}], "edges": [{"key": "ciparay.id", "source": "ciparay.id", "target": "ahquote", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "folknomic", "source": "folknomic", "target": "folknomics", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}]}