{"nodes": [{"key": "trinugroho162", "attributes": {"label": "trinugroho162", "x": 863.7879671453154, "y": 346.06962108774985, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068228876439019939", "id": "trinugroho162", "source": "retweet-000002", "content": "Jika pelemahan Rupiah berdampak buruk pada dunia usaha yang bergantung pada bahan baku atau produk jadi impor, sementara bag…", "post_id": "2068228876439019939"}}, {"key": "ferrykoto", "attributes": {"label": "ferrykoto", "x": 750.2048248861233, "y": 475.19583627877927, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "2068228876439019939", "id": "ferrykoto", "source": "retweet-000002", "content": "Jika pelemahan Rupiah berdampak buruk pada dunia usaha yang bergantung pada bahan baku atau produk jadi impor, sementara bag…", "post_id": "2068228876439019939"}}, {"key": "Brutus_Istn2045", "attributes": {"label": "Brutus_Istn2045", "x": 367.75480405920655, "y": 203.3959607517557, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068378892205998532", "id": "Brutus_Istn2045", "source": "retweet-000002", "content": "Jika pelemahan Rupiah berdampak buruk pada dunia usaha yang bergantung pada bahan baku atau produk jadi impor, sementara bag…", "post_id": "2068378892205998532"}}, {"key": "Duwitmu", "attributes": {"label": "Duwitmu", "x": 98.95464435429413, "y": 864.4248247354501, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2067617237192827122", "id": "Duwitmu", "source": "tweet-000004", "content": "Ada resiko stagflasi - bunga naik, kredit turun, ekonomi seret, sementara rupiah yg diharapkan menguat tidak kuat2 akibatnya inflasi impor terjadi.", "post_id": "2067617237192827122"}}, {"key": "karimakayyim", "attributes": {"label": "karimakayyim", "x": 713.467603893409, "y": 834.0195917517219, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067617237192827122", "id": "karimakayyim", "source": "tweet-000004", "content": "Ada resiko stagflasi - bunga naik, kredit turun, ekonomi seret, sementara rupiah yg diharapkan menguat tidak kuat2 akibatnya inflasi impor terjadi.", "post_id": "2067617237192827122"}}, {"key": "aritj", "attributes": {"label": "aritj", "x": 104.76036602463745, "y": 801.0011943233283, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068279925908680989", "id": "aritj", "source": "tweet-000004", "content": "Cadangan devisa yang dihabiskan untuk menahan depresiasi Rupiah yang terlalu cepat dan terlalu dalam juga ga disebut. Padahal cadangan devisa lebih baik digunakan untuk memperbesar kapasitas ekspor impor kita.", "post_id": "2068279925908680989"}}, {"key": "dimarsasongko98", "attributes": {"label": "dimarsasongko98", "x": 878.379451057919, "y": 742.3758585486955, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068279925908680989", "id": "dimarsasongko98", "source": "tweet-000004", "content": "Cadangan devisa yang dihabiskan untuk menahan depresiasi Rupiah yang terlalu cepat dan terlalu dalam juga ga disebut. Padahal cadangan devisa lebih baik digunakan untuk memperbesar kapasitas ekspor impor kita.", "post_id": "2068279925908680989"}}, {"key": "RadioSmartFM", "attributes": {"label": "RadioSmartFM", "x": 870.1255880016823, "y": 489.16138653285725, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2067849865497899237", "id": "RadioSmartFM", "source": "tweet-000004", "content": "Ekonom Hosianna Evalita Situmorang menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen pada Juni 2026 untuk memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus meredam tekanan inflasi impor di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.\n\n#SmartNews  https://t.co/9sdg8Moea0", "post_id": "2067849865497899237"}}, {"key": "antaranews", "attributes": {"label": "antaranews", "x": 442.07904814286803, "y": 350.38680426417125, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067849865497899237", "id": "antaranews", "source": "tweet-000004", "content": "Ekonom Hosianna Evalita Situmorang menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,75 persen pada Juni 2026 untuk memperkuat nilai tukar rupiah sekaligus meredam tekanan inflasi impor di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.\n\n#SmartNews  https://t.co/9sdg8Moea0", "post_id": "2067849865497899237"}}, {"key": "Milantoon", "attributes": {"label": "Milantoon", "x": 858.1958008306808, "y": 138.67558509596, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "2068200512043033079", "id": "Milantoon", "source": "tweet-000004", "content": "salah satu kunci agar negara ini nggak ketergantungan impor energi, malah bisa²nya di musuhi 🥲\n\nmalah banyak yang ngira sawit baru² ini aja adanya, padahal pada 1993 sudah jadi gambar koin rupiah, saking pentingnya.", "post_id": "2068200512043033079"}}, {"key": "Mihom43573Hadi", "attributes": {"label": "Mihom43573Hadi", "x": 681.5045789521661, "y": 577.9802962290478, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068200512043033079", "id": "Mihom43573Hadi", "source": "tweet-000004", "content": "salah satu kunci agar negara ini nggak ketergantungan impor energi, malah bisa²nya di musuhi 🥲\n\nmalah banyak yang ngira sawit baru² ini aja adanya, padahal pada 1993 sudah jadi gambar koin rupiah, saking pentingnya.", "post_id": "2068200512043033079"}}, {"key": "AlexiaHavasi876", "attributes": {"label": "AlexiaHavasi876", "x": 146.14525143977485, "y": 418.0890389605539, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068199313269027047", "id": "AlexiaHavasi876", "source": "tweet-000004", "content": "\"Jika BI tidak menaikkan suku bunga di tengah tingginya bunga bank sentral global, rupiah berisiko melemah lebih dalam, yang justru akan memicu lonjakan harga barang impor (imported inflation) dan semakin mencekik rakyat kecil serta pelaku usaha.", "post_id": "2068199313269027047"}}, {"key": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "kalistohenituse", "x": 788.4928981315326, "y": 946.3000177722163, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068199313269027047", "id": "kalistohenituse", "source": "tweet-000004", "content": "\"Jika BI tidak menaikkan suku bunga di tengah tingginya bunga bank sentral global, rupiah berisiko melemah lebih dalam, yang justru akan memicu lonjakan harga barang impor (imported inflation) dan semakin mencekik rakyat kecil serta pelaku usaha.", "post_id": "2068199313269027047"}}, {"key": "jaymampang", "attributes": {"label": "jaymampang", "x": 986.493231066632, "y": 801.6654841659181, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068361447604896163", "id": "jaymampang", "source": "tweet-000004", "content": "I have few penguin bookss, i’d argue the quality isn’t really far aheadd ini semua karena rupiah kita lemah aja sama buku impor masih kena pajak yaddi yadda jadi expensenya cuma gede di landed cost. My take beli penguin books untuk judul yang belum ada di publisher lokal sie.", "post_id": "2068361447604896163"}}, {"key": "huironooo", "attributes": {"label": "huironooo", "x": 891.6956516834484, "y": 259.05006786759543, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068361447604896163", "id": "huironooo", "source": "tweet-000004", "content": "I have few penguin bookss, i’d argue the quality isn’t really far aheadd ini semua karena rupiah kita lemah aja sama buku impor masih kena pajak yaddi yadda jadi expensenya cuma gede di landed cost. My take beli penguin books untuk judul yang belum ada di publisher lokal sie.", "post_id": "2068361447604896163"}}, {"key": "Flawes9", "attributes": {"label": "Flawes9", "x": 831.8631654634243, "y": 395.50541228115253, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068522118850150764", "id": "Flawes9", "source": "tweet-000004", "content": "lah mereka jelas butuh belanja alat² pengamanan yang  cukup banyak impor.\n\nmakanya pemuda jaman sekarang belajar manufaktur biar bangsa lepas dari impor dan rupiah lebih kuat.", "post_id": "2068522118850150764"}}, {"key": "RomyLestari", "attributes": {"label": "RomyLestari", "x": 311.0095905428165, "y": 235.1329409825892, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068522118850150764", "id": "RomyLestari", "source": "tweet-000004", "content": "lah mereka jelas butuh belanja alat² pengamanan yang  cukup banyak impor.\n\nmakanya pemuda jaman sekarang belajar manufaktur biar bangsa lepas dari impor dan rupiah lebih kuat.", "post_id": "2068522118850150764"}}, {"key": "RohmatR48385843", "attributes": {"label": "RohmatR48385843", "x": 483.60408225616305, "y": 354.61444088580896, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068562147731525733", "id": "RohmatR48385843", "source": "tweet-000004", "content": "Batu baranya impor  dolarnya naik\nJadi suplay kepertamina tersendat\nKarena perubahan harga akibat dolar naik rupiah terkapar", "post_id": "2068562147731525733"}}, {"key": "Andiarief__", "attributes": {"label": "Andiarief__", "x": 491.14467904576, "y": 839.786191419668, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068562147731525733", "id": "Andiarief__", "source": "tweet-000004", "content": "Batu baranya impor  dolarnya naik\nJadi suplay kepertamina tersendat\nKarena perubahan harga akibat dolar naik rupiah terkapar", "post_id": "2068562147731525733"}}, {"key": "hanikedua", "attributes": {"label": "hanikedua", "x": 190.16450456436817, "y": 627.6631940507752, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 0, "out_degree": 8, "degree": 8}, "_id": "2068567368524337498", "id": "hanikedua", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "nemoozz22", "attributes": {"label": "nemoozz22", "x": 158.48798900137794, "y": 743.1989904229958, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.53, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2068567368524337498", "id": "nemoozz22", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "shinesainn", "attributes": {"label": "shinesainn", "x": 852.7540057141383, "y": 436.94913493703825, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.53, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068567368524337498", "id": "shinesainn", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "shinebrightb", "attributes": {"label": "shinebrightb", "x": 135.95427045700347, "y": 711.6056253704205, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.53, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068567368524337498", "id": "shinebrightb", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "Dhiyamardhiya1", "attributes": {"label": "Dhiyamardhiya1", "x": 518.5990156060886, "y": 28.23811982967406, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.53, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2068567368524337498", "id": "Dhiyamardhiya1", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "tanyakanrl", "attributes": {"label": "tanyakanrl", "x": 995.4174148886478, "y": 521.7098853373591, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 8.53, "eigenvector": 166.6647, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2068567368524337498", "id": "tanyakanrl", "source": "tweet-000004", "content": "-pupuk itu impor dan efek rupiah melemah jadi mahal otomatis produsen naikin harga jualnya, disini udah jelas bukan? letak sejahteranya itu dimana coba?", "post_id": "2068567368524337498"}}, {"key": "wisnudjati", "attributes": {"label": "wisnudjati", "x": 588.0731557229597, "y": 264.92059586605, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068554889417142622", "id": "wisnudjati", "source": "tweet-000004", "content": "Inovasi hemat BBM sangat dibutuhkan saat ini. 😁\n\nKalau dikombinasikan dengan transportasi umum dan kendaraan listrik, bisa bantu kurangi impor BBM dan selamatkan rupiah devisa negara. Semoga terus berkembang 🌱", "post_id": "2068554889417142622"}}, {"key": "nylaa4u", "attributes": {"label": "nylaa4u", "x": 888.7381785695292, "y": 691.2184232352328, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068554889417142622", "id": "nylaa4u", "source": "tweet-000004", "content": "Inovasi hemat BBM sangat dibutuhkan saat ini. 😁\n\nKalau dikombinasikan dengan transportasi umum dan kendaraan listrik, bisa bantu kurangi impor BBM dan selamatkan rupiah devisa negara. Semoga terus berkembang 🌱", "post_id": "2068554889417142622"}}, {"key": "andreyantama", "attributes": {"label": "andreyantama", "x": 277.19816428698607, "y": 407.3759356869314, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068554889417142622", "id": "andreyantama", "source": "tweet-000004", "content": "Inovasi hemat BBM sangat dibutuhkan saat ini. 😁\n\nKalau dikombinasikan dengan transportasi umum dan kendaraan listrik, bisa bantu kurangi impor BBM dan selamatkan rupiah devisa negara. Semoga terus berkembang 🌱", "post_id": "2068554889417142622"}}, {"key": "udanudinudan", "attributes": {"label": "udanudinudan", "x": 243.5255303345918, "y": 396.1898151089196, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2069218070091165858", "id": "udanudinudan", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi beras tetap mahal di pasaran, jangan2 nanti ada impor beras. \nAgak sulit percaya dg data yg disampaikan pemerintah, bilangnya swasembada energi tetapi listrik pemadaman bergilir, pertamak dinaikan. Bilangnya fundamental kuat, eh.. rupiah nyungsep, investor asing kabur.", "post_id": "2069218070091165858"}}, {"key": "99propaganda", "attributes": {"label": "99propaganda", "x": 970.7265725443185, "y": 223.8224461021594, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2069218070091165858", "id": "99propaganda", "source": "tweet-000004", "content": "Tetapi beras tetap mahal di pasaran, jangan2 nanti ada impor beras. \nAgak sulit percaya dg data yg disampaikan pemerintah, bilangnya swasembada energi tetapi listrik pemadaman bergilir, pertamak dinaikan. Bilangnya fundamental kuat, eh.. rupiah nyungsep, investor asing kabur.", "post_id": "2069218070091165858"}}, {"key": "sandiuno", "attributes": {"label": "sandiuno", "x": 294.80576805426296, "y": 409.00607400372166, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3922936780844144609_2087030852", "id": "sandiuno", "source": "instagram-000001", "content": "Dari kantor Alibaba di Beijing, saya bersama teman-teman pengusaha yang ikut bergabung dalam  melihat bagaimana Tiongkok bisa merajai pasar dunia lewat ekosistem UMKM yang kuat.\n\nIndonesia juga pasti mampu. Kuncinya, kita kurangi ketergantungan impor, bangga pakai produk dalam negeri, manfaatkan teknologi agar bisnis makin produktif, sehingga nilai tukar Rupiah menguat, dan bisa menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.", "post_id": "3922936780844144609_2087030852"}}, {"key": "bosum.indonesia", "attributes": {"label": "bosum.indonesia", "x": 199.77468545358434, "y": 643.5226613393489, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3922936780844144609_2087030852", "id": "bosum.indonesia", "source": "instagram-000001", "content": "Dari kantor Alibaba di Beijing, saya bersama teman-teman pengusaha yang ikut bergabung dalam  melihat bagaimana Tiongkok bisa merajai pasar dunia lewat ekosistem UMKM yang kuat.\n\nIndonesia juga pasti mampu. Kuncinya, kita kurangi ketergantungan impor, bangga pakai produk dalam negeri, manfaatkan teknologi agar bisnis makin produktif, sehingga nilai tukar Rupiah menguat, dan bisa menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.", "post_id": "3922936780844144609_2087030852"}}, {"key": "fakta_banten", "attributes": {"label": "fakta_banten", "x": 58.37933404331519, "y": 88.65537465056805, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 51.4045, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3922024150386802081_4851899515", "id": "fakta_banten", "source": "instagram-000001", "content": "SERANG – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Simpang Ciceri, Kota Serang, Rabu (17/6/2026).\n\nDalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah pusat. Isu yang disoroti meliputi kondisi perekonomian nasional, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), Program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga persoalan demokrasi dan kebebasan sipil.\n\nKoordinator aksi, Muhammad Syahid, mengatakan mahasiswa merasa perlu menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.\n\nMenurutnya, kondisi ekonomi saat ini masih memberikan tekanan bagi masyarakat meski pemerintah kerap menyampaikan narasi positif terkait pertumbuhan ekonomi nasional.\n\n“Kami hadir untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Banyak persoalan ekonomi dan sosial yang perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” ujar Syahid saat berorasi.\n\nDalam aksinya, mahasiswa menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilai dapat memengaruhi harga barang impor dan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor.\n\nMereka menilai kondisi tersebut berpotensi berdampak pada daya beli masyarakat yang hingga kini masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.\n\nBaca selengkapnya di faktabanten.co.id\natau klik link yang ada di IGstory\n\nYuk bagikan kejadian menarik di sekitar Kawan Fakta dengan cara tag IG \n\n#fakta #faktabanten #beritacilegon #cilegon #banten", "post_id": "3922024150386802081_4851899515"}}, {"key": "info_malang", "attributes": {"label": "info_malang", "x": 996.6466820000192, "y": 860.6715477419265, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3921534072832409944_1606701810", "id": "info_malang", "source": "instagram-000001", "content": "Detik Jatim - Ratusan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan pada Rabu (17/6/2026). Berikut 9 tuntutan dari massa kepada DPRD Kota Malang.\n\n1. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM:\nMendesak pemerintah mengambil langkah konkret mengendalikan harga bahan pokok dan BBM yang mencekik daya beli masyarakat.\n\n2. Hentikan Program Tak Efektif:\nMendesak penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program Koperasi Desa Merah Putih jika terbukti tidak efektif dan membebani APBN, serta mengalihkan anggaran ke sektor pendidikan dan kesehatan.\n\n3. Revisi UU Peradilan Militer:\nMenuntut revisi UU Nomor 31 Tahun 1997 agar prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum diadili di peradilan umum demi kesetaraan hukum.\n\n4. Tolak Perluasan Kewenangan Polri:\nMenolak setiap kebijakan atau revisi regulasi dalam UU Polri yang berpotensi memperluas kewenangan kepolisian secara berlebihan tanpa pengawasan kuat.\n\n5. Sahkan RUU Perampasan Aset:\nMendesak DPR RI dan Pemerintah segera mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai instrumen memiskinkan koruptor.\n\n6. Turunkan Beban Biaya Kesehatan:\nMeminta BPOM dan Kemenkes memperketat pengawasan obat ilegal, serta mengatasi dampak pelemahan rupiah yang melambungkan biaya alat kesehatan dan obat impor hingga 16-20 persen.\n\n7. Hentikan Deforestasi:\nMendesak pemerintah menghentikan laju deforestasi, alih fungsi lahan, dan eksploitasi SDA yang merusak ruang hidup masyarakat.\n\n8. Reformasi Birokrasi Berbasis Meritokrasi:\nMenuntut penempatan pejabat berdasarkan kompetensi, bukan sebagai ruang balas jasa atau afiliasi politik.\n\n9. Tagih Janji DPRD Kota Malang:\nMenuntut DPRD Kota Malang menyampaikan hasil tindak lanjut dan langkah konkret atas tuntutan massa aksi secara terbuka.\n\nSelengkapnya baca di", "post_id": "3921534072832409944_1606701810"}}, {"key": "detik_jatim", "attributes": {"label": "detik_jatim", "x": 888.1212969682401, "y": 772.8038198558176, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3921534072832409944_1606701810", "id": "detik_jatim", "source": "instagram-000001", "content": "Detik Jatim - Ratusan massa aksi yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan pada Rabu (17/6/2026). Berikut 9 tuntutan dari massa kepada DPRD Kota Malang.\n\n1. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM:\nMendesak pemerintah mengambil langkah konkret mengendalikan harga bahan pokok dan BBM yang mencekik daya beli masyarakat.\n\n2. Hentikan Program Tak Efektif:\nMendesak penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program Koperasi Desa Merah Putih jika terbukti tidak efektif dan membebani APBN, serta mengalihkan anggaran ke sektor pendidikan dan kesehatan.\n\n3. Revisi UU Peradilan Militer:\nMenuntut revisi UU Nomor 31 Tahun 1997 agar prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum diadili di peradilan umum demi kesetaraan hukum.\n\n4. Tolak Perluasan Kewenangan Polri:\nMenolak setiap kebijakan atau revisi regulasi dalam UU Polri yang berpotensi memperluas kewenangan kepolisian secara berlebihan tanpa pengawasan kuat.\n\n5. Sahkan RUU Perampasan Aset:\nMendesak DPR RI dan Pemerintah segera mengesahkan RUU Perampasan Aset sebagai instrumen memiskinkan koruptor.\n\n6. Turunkan Beban Biaya Kesehatan:\nMeminta BPOM dan Kemenkes memperketat pengawasan obat ilegal, serta mengatasi dampak pelemahan rupiah yang melambungkan biaya alat kesehatan dan obat impor hingga 16-20 persen.\n\n7. Hentikan Deforestasi:\nMendesak pemerintah menghentikan laju deforestasi, alih fungsi lahan, dan eksploitasi SDA yang merusak ruang hidup masyarakat.\n\n8. Reformasi Birokrasi Berbasis Meritokrasi:\nMenuntut penempatan pejabat berdasarkan kompetensi, bukan sebagai ruang balas jasa atau afiliasi politik.\n\n9. Tagih Janji DPRD Kota Malang:\nMenuntut DPRD Kota Malang menyampaikan hasil tindak lanjut dan langkah konkret atas tuntutan massa aksi secara terbuka.\n\nSelengkapnya baca di", "post_id": "3921534072832409944_1606701810"}}, {"key": "sekitargarut", "attributes": {"label": "sekitargarut", "x": 954.8053350672288, "y": 649.1371285339266, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3923569991500997139_1388510614", "id": "sekitargarut", "source": "instagram-000001", "content": "Dollar Naik, Pertamax Naik!, Servis mobil kan bayarnya pakai rupiah? Betul, tapi beberapa komponennya masih bergantung pada impor. \n\nSebelum makin parah, segera cek kaki-kaki mobilmu di Jantrakakikaki Tasikmalaya. Kualitas terjamin & garansi hingga 2 tahun.\n\n Follow  untuk konsultasi & reservasi!\n\n📍Jl. Mayor S.L. Tobing No.216, Linggajaya, Kec. Mangkubumi, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat 46181\n📲WhatsApp Call Center 0811-3603-168", "post_id": "3923569991500997139_1388510614"}}, {"key": "jantrakakikaki.ofc", "attributes": {"label": "jantrakakikaki.ofc", "x": 270.63119014217307, "y": 448.8460474703149, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3923569991500997139_1388510614", "id": "jantrakakikaki.ofc", "source": "instagram-000001", "content": "Dollar Naik, Pertamax Naik!, Servis mobil kan bayarnya pakai rupiah? Betul, tapi beberapa komponennya masih bergantung pada impor. \n\nSebelum makin parah, segera cek kaki-kaki mobilmu di Jantrakakikaki Tasikmalaya. Kualitas terjamin & garansi hingga 2 tahun.\n\n Follow  untuk konsultasi & reservasi!\n\n📍Jl. Mayor S.L. Tobing No.216, Linggajaya, Kec. Mangkubumi, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat 46181\n📲WhatsApp Call Center 0811-3603-168", "post_id": "3923569991500997139_1388510614"}}, {"key": "trade.insight.id", "attributes": {"label": "trade.insight.id", "x": 539.4509431462371, "y": 992.4693070993538, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 51.4045, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7653419146700524820", "id": "trade.insight.id", "source": "tiktok-000001", "content": "🚨 Tak banyak yang sadar! Pemerintah baru saja membebaskan pajak atas bunga dolar hasil ekspor yang disimpan di Indonesia hingga 1 tahun. Tapi ini bukan sekadar soal pajak. Tujuan sebenarnya adalah menahan lebih banyak dolar tetap berada di dalam negeri agar cadangan devisa bertambah, rupiah lebih stabil, dan investasi nasional makin kuat. Kalau berhasil, dampaknya bisa terasa ke seluruh perekonomian Indonesia. Menurut kamu, ini langkah cerdas atau justru berisiko bagi eksportir? 👇 Follow  untuk fakta perdagangan global, ekspor, impor, dan ekonomi yang jarang dibahas. #Trade .Insight.ID #EksporIndonesia #GlobalTrade #EkonomiIndonesia #FYPIndonesia", "post_id": "7653419146700524820"}}, {"key": "arahjakarta", "attributes": {"label": "arahjakarta", "x": 194.6134567131028, "y": 908.1786358980471, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 51.4045, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7640495335210536213", "id": "arahjakarta", "source": "tiktok-000001", "content": "Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh lima dokter melalui kuasa hukum O.C. Kaligis terkait dugaan penggunaan gelar akademik Insinyur (Ir) (15/5). Menanggapi kegaduhan tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB)—tempat Menkes menempuh studi fisika nuklir dan lulus pada 1988—akhirnya buka suara.  Wakil Rektor ITB, Andryanto Rikrik Kusmara, menjelaskan bahwa sebelum terbitnya Keputusan Mendikbud No. 036/U/1993, ijazah lulusan ITB memang tidak secara eksplisit mencantumkan gelar akademik.  Penggunaan gelar \"Ir\" atau \"Drs\" pada era 1980-an murni merupakan tradisi akademik kelaziman umum warisan sistem Belanda, bukan gelar profesi formal sebagaimana yang diatur dalam UU Keinsinyuran tahun 2014. Di sisi lain, Kemenkes menegaskan sejak 2022 nama resmi sang menteri dalam dokumen negara selalu ditulis tanpa gelar: BUDI G. SADIKIN. Pelaporan hukum terhadap Menkes ini terasa kental dengan nuansa \"perang dingin\" yang belum usai antara sebagian kelompok profesi medis dengan kepemimpinan Budi Gunadi Sadikin, terutama pasca-pemberlakuan UU Kesehatan omnibus law.  Mempermasalahkan gelar akademik lulusan tahun 1980-an ke ranah pidana tampak seperti upaya mencari-cari celah formalitas di tengah absennya argumen substansial. Klarifikasi ITB secara tidak langsung mematahkan dalih pidana tersebut dengan mendudukkan masalah pada konteks sejarah pendidikan nasional.  Alih-alih sibuk berdebat di ruang penyidik soal warisan tradisi gelar masa lalu, energi para elite kesehatan semestinya dialokasikan untuk mengkritisi kebijakan riil Kemenkes, seperti penanganan krisis Rupiah yang mengancam harga obat impor atau evaluasi program Makan Bergizi Gratis yang kemarin sempat diwarnai kasus keracunan massal. Menurut lo, laporan dugaan gelar \"palsu\" Menkes ini murni penegakan hukum yang kritis atau sekadar \"serangan balik\" politik dari kelompok yang kontra kebijakan Menkes? Kasih opini tajam lo! Follow  untuk memantau polemik hukum dan kebijakan kesehatan nasional. Tetap kritis, suarakan edukasi yang utuh, jangan biarkan ruang publik kita disesaki debat kusir formalitas yang mengabaikan substansi kinerja!", "post_id": "7640495335210536213"}}, {"key": "marketroots", "attributes": {"label": "marketroots", "x": 588.4750372049255, "y": 75.64436252358763, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 51.4045, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7640472265737374994", "id": "marketroots", "source": "tiktok-000001", "content": "Prabowo bilang: “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok.”  Tapi Indonesia impor 2,56 juta ton kedelai di 2025. 88% dari AS, semua dibeli dalam Dollar.  Rupiah melemah, harga kedelai dalam Rupiah naik, harga tahu dan tempe ikut naik. Masyarakat di desa tidak pegang Dollar secara langsung, tapi mereka merasakan efek dari pelemahan rupiah ini. #prabowo #dollar #rupiah #makroekonomi #marketroots Follow  untuk data yang jarang dibahas.", "post_id": "7640472265737374994"}}, {"key": "rominofrian", "attributes": {"label": "rominofrian", "x": 457.7625713331246, "y": 581.5634003362317, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7648691307921050901", "id": "rominofrian", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan rupiah bukan cuma angka di grafik. Dampaknya sudah terasa langsung di pasar tradisional. Pedagang di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengaku omzet mereka turun drastis. Daya beli masyarakat merosot, kios sepi, dan harga barang naik tajam. Salah satu pedagang sembako mengungkapkan harga plastik saja sudah naik hingga 40%, dari Rp10.000 per pack menjadi Rp16.000-18.000 per pack. \"Dolar naik, barang-barang di sini pada naik semua,\" ujarnya. Ini bukan kasus satu toko. Ini sinyal bahwa kurs rupiah yang kini melemah ke kisaran Rp18.000/USD sudah merambat ke ekonomi akar rumput. Ketika pedagang pasar sudah merasakan sesak, artinya tekanan inflasi impor sudah nyata, bukan sekadar wacana makro.  TWS News #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7648691307921050901"}}, {"key": "Sumber", "attributes": {"label": "Sumber", "x": 366.73748363832794, "y": 972.0677272618464, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7648691307921050901", "id": "Sumber", "source": "tiktok-000001", "content": "Pelemahan rupiah bukan cuma angka di grafik. Dampaknya sudah terasa langsung di pasar tradisional. Pedagang di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengaku omzet mereka turun drastis. Daya beli masyarakat merosot, kios sepi, dan harga barang naik tajam. Salah satu pedagang sembako mengungkapkan harga plastik saja sudah naik hingga 40%, dari Rp10.000 per pack menjadi Rp16.000-18.000 per pack. \"Dolar naik, barang-barang di sini pada naik semua,\" ujarnya. Ini bukan kasus satu toko. Ini sinyal bahwa kurs rupiah yang kini melemah ke kisaran Rp18.000/USD sudah merambat ke ekonomi akar rumput. Ketika pedagang pasar sudah merasakan sesak, artinya tekanan inflasi impor sudah nyata, bukan sekadar wacana makro.  TWS News #kontencom #kontencomxtws", "post_id": "7648691307921050901"}}, {"key": "pointofview.news", "attributes": {"label": "pointofview.news", "x": 392.3919862639804, "y": 533.2345179474448, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 51.4045, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7651513536149015816", "id": "pointofview.news", "source": "tiktok-000001", "content": "Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) memperkuat nilai tukar rupiah melalui kerja sama Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan China. Perjanjian BCSA itu diteken oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur People's Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng, pada Kamis (11/6) di Shanghai, China. Dasco menyebut dalam kerja sama itu juga terdapat MoU tentang Local Currency Transaction (LCT) yang diperluas mencakup wilayah Hong Kong dengan Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue. \"Kesepakatan itu membuat transaksi antara Indonesia, China Daratan dan Hong Kong bisa lakukan dengan menggunakan rupiah atau remimbi tanpa harus menggantungkan pada dolar Amerika Serikat,\" jelasnya dalam keterangan tertulis, Minggu (14/6) Ia mengatakan QRIS lintas batas Indonesia dengan China juga telah disepakati sehingga transaksi antara pengusaha kedua negara bisa menggunakan QRIS. Dasco menjelaskan sistem ini sudah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia yang semuanya terhubung. Menurutnya dengan perjanjian BI tersebut maka seluruh transaksi ekspor dan impor antara Indonesia-China bisa menggunakan mata uang rupiah dan tidak tergantung lagi dengan dolar Amerika Serikat. Dasco mengatakan perjanjian ini merupakan terobosan yang sangat penting mengingat nilai transaksi perdagangan antara Indonesia-China mencapai mencapai US$ 154,5 di tahun 2025. \"Ini upaya yang sangat serius mengurangi kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk transaksi dagang. Termasuk digunakannya QRIS lintas negara antara Indonesia-China,\" ujarnya. sc: cnnindonesia Follow  untuk sudut pandang berita lainnya", "post_id": "7651513536149015816"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "attributes": {"label": "suaramuslimahjabar", "x": 469.7100039154233, "y": 981.2474987646946, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1448019254017499", "id": "suaramuslimahjabar", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus \n\nHantaman El Nino dan Pelemahan Rupiah, Beban Petani Makin Berat\n\nMenurut prediks Badan Meteorologi Australia (BoM), kondisi saat ini menunjukkan kemungkinan el nino yang sangat kuat akan berkembang pada akhir tahun. Beberapa data prakiraan bahkan menunjukkan kenaikan suhu dapat melampaui 3°C. Temuan ini melampaui catatan pada 1877 saat kenaikan suhunya mencapai 2,7°C. Pada masa itu, el nino berlangsung sekitar 18 bulan dan memicu kekeringan ekstrem dan kelaparan luas di Asia, Brasil, dan Afrika yang menewaskan jutaan orang, sekaligus menghasilkan banjir parah di wilayah lain seperti Peru. (BBC, 22-5-2026).\n\nEl Nino sangat kuat terakhir terjadi pada 2015—2016, sedangkan el nino pada 2023—2024 disebut sebagai tahun terpanas dalam catatan. Profesor pakar risiko iklim dan ketahanan di University of Reading Liz Stephens berkata bahwa kemungkinan suhu global akan memecahkan rekor tahun depan. Ia juga memprediksi ada kemungkinan terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan di beberapa bagian Australia, Indonesia, dan utara Amerika Selatan yang menyebabkan penurunan produksi pertanian dan stok pangan global.\n\nPertanian merupakan sektor strategis karena menjadi fondasi utama ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional. Peran ini tecermin dalam upaya memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat serta mengurangi ketergantungan pada impor. Lebih dari sekadar penyedia kebutuhan pokok, pertanian juga berfungsi sebagai penopang vital pertumbuhan ekonomi, penyedia lapangan kerja bagi mayoritas penduduk, dan pemasok bahan baku krusial bagi industri.\n\nNamun, sektor pertanian nasional juga bukan tanpa masalah. Kelestarian pertanian saat ini sangat terancam oleh kombinasi perubahan iklim global, alih fungsi lahan secara masif, degradasi kesuburan tanah, hingga masalah sosial-ekonomi seperti rendahnya minat generasi muda untuk bertani. Selain itu, ada pula urbanisasi yang mengancam kelestarian pertanian karena memicu alih fungsi lahan subur menjadi area terbangun, menyebabkan krisis tenaga kerja produktif di pedesaan, dan mengancam regenerasi petani muda. Hal ini secara drastis menurunkan kapasitas produksi pangan nasional dan ketahanan ekonomi perdesaan.\n\nLebih miris lagi, kebijakan pemerintah justru tidak berpihak kepada petani. Logika kapitalistik dalam mengelola sektor pertanian membuat pemerintah kerap melakukan impor komoditas pertanian sehingga membuat produk petani lokal kalah bersaing dengan produk impor. Realisasi impor ini sejatinya demi keuntungan segelintir oknum penguasa dan pengusaha yang mendukungnya. Demikian halnya perihal lahan dan konflik agraria. Banyak lahan yang begitu mudah dikuasai segelintir korporasi, sedangkan lahan pertanian rakyat makin sempit karena alih fungsi.\n\nSemua ini makin menegaskan bahwa kehadiran negara begitu minim secara politik untuk melindungi para petani dan sektor pertanian secara umum, alih-alih melakukan mitigasi serta melindungi mereka dari dampak el nino dan pelemahan rupiah. Sungguh, negara sekuler kapitalis tidak berperan sebagai raa’in (pengurus, pemelihara) dan junnah (perisai, pelindung) untuk rakyatnya.\n\nPolitik Ekonomi Islam Penyangga Pertanian Khilafah\nDi dalam Islam, pertanian adalah salah satu sektor ekonomi strategis yang sangat diperhatikan oleh negara. Khilafah adalah negara berideologi Islam dengan visi strategis sebagai negara mandiri, berdaulat, dan tidak tergantung pada negara lain, termasuk soal impor pangan. Penguasa di dalam sistem Islam berperan penuh sebagai raa’in dan junnah, sehingga pengaturan dan pengelolaan pertanian dilakukan dengan serius mulai dari hulu hingga hilir.\n\nRasulullah saw. bersabda di dalam hadis,\n\nالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari).\n\nJuga di dalam hadis,\n\nإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ\n\n“Sungguh imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR Muslim).\n\nPenguasa Islam (khalifah) akan menerapkan politik ekonomi Islam untuk mengatur pemenuhan seluruh kebutuhan rakyat, terutama kebutuhan primer berupa sandang, pangan, dan papan. Sebagai kunci pemenuhan kebutuhan pangan, pertanian akan dikelola tanpa berbasis impor.\n\nSyekh Abdurrahman al-Maliki menjelaskan di dalam kitab As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla (Politik Ekonomi Islam) bahwa jaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer individu per individu merupakan perkara fundamental dalam sistem politik ekonomi Islam. Kebutuhan-kebutuhan primer ini merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh negara.\n\nPolitik ekonomi Islam diterapkan oleh Khilafah sebagai mekanisme yang menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer individu per individu secara menyeluruh, dan membantu tiap-tiap individu di antara mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kemampuannya. Politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota sebagai realisasi jaminan pemenuhan kebutuhan tiap warga. Di mana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya. Dengan demikian, jaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer merupakan politik ekonomi Islam.\n\nDi dalam kitab yang sama, Syekh Abdurrahman al-Maliki juga menjelaskan seputar ekonomi pertanian, bahwa proyek-proyek pertanian dilaksanakan menurut hukum-hukum syarak yang terkait dengan tanah sehingga proyek-proyek untuk produksi pertanian berstatus sebagai kepemilikan individu, bukan kepemilikan negara. Namun, pada saat yang sama, negara bertanggung jawab untuk memberikan harta kepada orang yang tidak mampu di antara para petani sebagai subsidi bagi mereka.\n\nPada dasarnya, politik pertanian dijalankan untuk meningkatkan produksi pertanian, yakni dengan menempuh dua jalan, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Dengan kedua hal ini, akan tercapai peningkatan produksi pertanian, dan akan terealisasi tujuan pokok dalam politik pertanian.\n\nWujud intensifikasi misalnya dengan melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan produksi tanah. Intensifikasi pertanian dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, penyebarluasan teknik-teknik modern di kalangan para petani, dan membantu pengadaan benih serta budidayanya.\n\nNegara memberikan modal yang diperlukan bagi yang tidak mampu sebagai hibah, bukan sebagai utang, supaya mereka dapat membeli segala sesuatu yang mereka butuhkan, seperti peralatan, benih, dan obat-obatan untuk meningkatkan produksi, serta mendorong mereka yang mampu agar membeli semua itu dengan dorongan yang efektif dan efisien.\n\nAdapun ekstensifikasi adalah penambahan luas area yang akan ditanami. Ekstensifikasi pertanian dilakukan dengan mendorong untuk menghidupkan tanah mati dan memagarinya. Juga pemberian tanah secara cuma-cuma oleh negara kepada mereka yang mampu bertani yang tidak memiliki tanah, mereka yang memiliki area tanah sempit, dan termasuk tanah yang berada di bawah kekuasaan negara. Negara akan mengambil tanah dari tiap-tiap warga yang menelantarkan tanahnya selama tiga tahun berturut-turut, untuk selanjutnya memberikannya kepada individu warga yang mampu mengolahnya. Ini sebagaimana hadis Rasulullah saw.,\n\nمَنْ أَحْيَى أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ\n\n“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).\n\nKhilafah akan memfasilitasi beragam riset dan inovasi pertanian demi meningkatkan produktivitas pertanian di dalam negeri. Hal ini termasuk perlunya riset mengenai penemuan pupuk alternatif dengan bahan baku alternatif sehingga tidak harus mengandalkan bahan baku impor untuk memproduksi pupuk dan memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri.\n\nTidak lupa, khalifah selaku pemimpin negara Islam akan melakukan inspeksi secara intensif sampai ke pelosok desa sehingga mengetahui betul kondisi rakyat dan kebutuhan mereka. Khalifah memiliki data lengkap perihal inventarisasi tanah, sumber daya lahan, profil petani, beserta seluruh kebutuhannya agar tepat dalam memberikan penanganan. Khalifah menjamin distribusi pupuk dan mengawasi rantai pasoknya agar pupuk tidak mengalami kelangkaan atau harganya melonjak hingga merugikan petani.\n\nKebijakan Impor Khilafah\nIslam tidak antiimpor, tetapi jika ada kondisi yang mengharuskan Khilafah melakukan impor pangan, impor hanya layak menjadi solusi sementara, bukan permanen. Sebelum melakukan impor, Khilafah akan terlebih dahulu mengupayakan subsidi silang dari sebagian wilayahnya yang makmur untuk menyuplai kebutuhan di wilayah yang kekurangan. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ketika musim paceklik melanda Madinah.\n\nSaat itu Khalifah Umar ra. menulis surat kepada para walinya di sejumlah wilayah untuk meminta pertolongan. Beliau menulis surat kepada ‘Amru bin al-Ash ra., wali beliau di Mesir. Surat serupa juga dikirimkannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan ra. di Damaskus, Abu Ubaidah bin Jarrah ra. di Palestina, juga kepada Saad bin Abi Waqqash ra. di Irak.\n\nKaum muslim di berbagai wilayah pun bergegas mengulurkan bantuan. Abu Ubaidah mengirimkan 4.000 unta bermuatan penuh bahan pangan. Dari Mesir, ‘Amru bin al-Ash mengirimkan makanan lewat jalur darat dan laut, ada tepung dan lemak bersama 1.000 unta. Muawiyah mengirim 3.000 unta, sedangkan Saad mengirim 1.000 unta bermuatan tepung. Mantel, selimut, dan pakaian turut dikirimkan bersama bahan pangan.\n\nSelanjutnya, Khilafah juga menerapkan sistem mata uang emas dan perak di dalam perdagangan, termasuk perdagangan internasional (ekspor-impor), dan tidak menerima pembayaran dengan mata uang selain keduanya. Dengan demikian, jika impor harus terjadi, aktivitas tersebut tidak boleh membebani Khilafah maupun warganya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.\n\nSedangkan terkait ekspor pangan, Khilafah harus memastikan agar kebutuhan dalam negeri terjamin dan tercukupi. Saat terjadi surplus hasil pertanian dan jika diperlukan, ekspor bisa dilakukan. Aktivitas ekspor pangan yang Khilafah lakukan tidak semata-mata demi keuntungan ekonomi, melainkan bagian dari aktivitas riayatusy syuunil ummah (mengurusi urusan umat) baik di dalam negeri maupun di luar negeri.\n\nDengan gambaran ini, petani dalam sistem Islam tidak perlu khawatir terhadap masa depan profesi maupun kesejahteraan mereka. Generasi muda pun tidak lagi memandang profesi petani sebagai jalan suram.\n\nSistem Islam memiliki mekanisme yang menjamin kebutuhan pokok setiap individu, termasuk ketahanan sekaligus kedaulatan pangan. Khilafah berkewajiban memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan atau jalur nafkah yang layak. Khilafah akan mengupayakan berbagai kebijakan sehingga kemaslahatan publik terpelihara dengan baik. Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1448019254017499"}}, {"key": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "zilenialdutaislam", "x": 189.01934068064406, "y": 774.2012868072144, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 8.8031, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1448019254017499", "id": "zilenialdutaislam", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus \n\nHantaman El Nino dan Pelemahan Rupiah, Beban Petani Makin Berat\n\nMenurut prediks Badan Meteorologi Australia (BoM), kondisi saat ini menunjukkan kemungkinan el nino yang sangat kuat akan berkembang pada akhir tahun. Beberapa data prakiraan bahkan menunjukkan kenaikan suhu dapat melampaui 3°C. Temuan ini melampaui catatan pada 1877 saat kenaikan suhunya mencapai 2,7°C. Pada masa itu, el nino berlangsung sekitar 18 bulan dan memicu kekeringan ekstrem dan kelaparan luas di Asia, Brasil, dan Afrika yang menewaskan jutaan orang, sekaligus menghasilkan banjir parah di wilayah lain seperti Peru. (BBC, 22-5-2026).\n\nEl Nino sangat kuat terakhir terjadi pada 2015—2016, sedangkan el nino pada 2023—2024 disebut sebagai tahun terpanas dalam catatan. Profesor pakar risiko iklim dan ketahanan di University of Reading Liz Stephens berkata bahwa kemungkinan suhu global akan memecahkan rekor tahun depan. Ia juga memprediksi ada kemungkinan terjadinya kekeringan dan kebakaran hutan di beberapa bagian Australia, Indonesia, dan utara Amerika Selatan yang menyebabkan penurunan produksi pertanian dan stok pangan global.\n\nPertanian merupakan sektor strategis karena menjadi fondasi utama ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional. Peran ini tecermin dalam upaya memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat serta mengurangi ketergantungan pada impor. Lebih dari sekadar penyedia kebutuhan pokok, pertanian juga berfungsi sebagai penopang vital pertumbuhan ekonomi, penyedia lapangan kerja bagi mayoritas penduduk, dan pemasok bahan baku krusial bagi industri.\n\nNamun, sektor pertanian nasional juga bukan tanpa masalah. Kelestarian pertanian saat ini sangat terancam oleh kombinasi perubahan iklim global, alih fungsi lahan secara masif, degradasi kesuburan tanah, hingga masalah sosial-ekonomi seperti rendahnya minat generasi muda untuk bertani. Selain itu, ada pula urbanisasi yang mengancam kelestarian pertanian karena memicu alih fungsi lahan subur menjadi area terbangun, menyebabkan krisis tenaga kerja produktif di pedesaan, dan mengancam regenerasi petani muda. Hal ini secara drastis menurunkan kapasitas produksi pangan nasional dan ketahanan ekonomi perdesaan.\n\nLebih miris lagi, kebijakan pemerintah justru tidak berpihak kepada petani. Logika kapitalistik dalam mengelola sektor pertanian membuat pemerintah kerap melakukan impor komoditas pertanian sehingga membuat produk petani lokal kalah bersaing dengan produk impor. Realisasi impor ini sejatinya demi keuntungan segelintir oknum penguasa dan pengusaha yang mendukungnya. Demikian halnya perihal lahan dan konflik agraria. Banyak lahan yang begitu mudah dikuasai segelintir korporasi, sedangkan lahan pertanian rakyat makin sempit karena alih fungsi.\n\nSemua ini makin menegaskan bahwa kehadiran negara begitu minim secara politik untuk melindungi para petani dan sektor pertanian secara umum, alih-alih melakukan mitigasi serta melindungi mereka dari dampak el nino dan pelemahan rupiah. Sungguh, negara sekuler kapitalis tidak berperan sebagai raa’in (pengurus, pemelihara) dan junnah (perisai, pelindung) untuk rakyatnya.\n\nPolitik Ekonomi Islam Penyangga Pertanian Khilafah\nDi dalam Islam, pertanian adalah salah satu sektor ekonomi strategis yang sangat diperhatikan oleh negara. Khilafah adalah negara berideologi Islam dengan visi strategis sebagai negara mandiri, berdaulat, dan tidak tergantung pada negara lain, termasuk soal impor pangan. Penguasa di dalam sistem Islam berperan penuh sebagai raa’in dan junnah, sehingga pengaturan dan pengelolaan pertanian dilakukan dengan serius mulai dari hulu hingga hilir.\n\nRasulullah saw. bersabda di dalam hadis,\n\nالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari).\n\nJuga di dalam hadis,\n\nإِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ\n\n“Sungguh imam (khalifah) adalah perisai. Orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengan dirinya.” (HR Muslim).\n\nPenguasa Islam (khalifah) akan menerapkan politik ekonomi Islam untuk mengatur pemenuhan seluruh kebutuhan rakyat, terutama kebutuhan primer berupa sandang, pangan, dan papan. Sebagai kunci pemenuhan kebutuhan pangan, pertanian akan dikelola tanpa berbasis impor.\n\nSyekh Abdurrahman al-Maliki menjelaskan di dalam kitab As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla (Politik Ekonomi Islam) bahwa jaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer individu per individu merupakan perkara fundamental dalam sistem politik ekonomi Islam. Kebutuhan-kebutuhan primer ini merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh negara.\n\nPolitik ekonomi Islam diterapkan oleh Khilafah sebagai mekanisme yang menjamin pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer individu per individu secara menyeluruh, dan membantu tiap-tiap individu di antara mereka dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kemampuannya. Politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di desa maupun di kota sebagai realisasi jaminan pemenuhan kebutuhan tiap warga. Di mana pun ada orang, akan dilakukan pembangunan ekonomi untuk melayani kebutuhannya. Dengan demikian, jaminan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer merupakan politik ekonomi Islam.\n\nDi dalam kitab yang sama, Syekh Abdurrahman al-Maliki juga menjelaskan seputar ekonomi pertanian, bahwa proyek-proyek pertanian dilaksanakan menurut hukum-hukum syarak yang terkait dengan tanah sehingga proyek-proyek untuk produksi pertanian berstatus sebagai kepemilikan individu, bukan kepemilikan negara. Namun, pada saat yang sama, negara bertanggung jawab untuk memberikan harta kepada orang yang tidak mampu di antara para petani sebagai subsidi bagi mereka.\n\nPada dasarnya, politik pertanian dijalankan untuk meningkatkan produksi pertanian, yakni dengan menempuh dua jalan, yakni intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Dengan kedua hal ini, akan tercapai peningkatan produksi pertanian, dan akan terealisasi tujuan pokok dalam politik pertanian.\n\nWujud intensifikasi misalnya dengan melakukan berbagai usaha untuk meningkatkan produksi tanah. Intensifikasi pertanian dilakukan dengan menggunakan obat-obatan, penyebarluasan teknik-teknik modern di kalangan para petani, dan membantu pengadaan benih serta budidayanya.\n\nNegara memberikan modal yang diperlukan bagi yang tidak mampu sebagai hibah, bukan sebagai utang, supaya mereka dapat membeli segala sesuatu yang mereka butuhkan, seperti peralatan, benih, dan obat-obatan untuk meningkatkan produksi, serta mendorong mereka yang mampu agar membeli semua itu dengan dorongan yang efektif dan efisien.\n\nAdapun ekstensifikasi adalah penambahan luas area yang akan ditanami. Ekstensifikasi pertanian dilakukan dengan mendorong untuk menghidupkan tanah mati dan memagarinya. Juga pemberian tanah secara cuma-cuma oleh negara kepada mereka yang mampu bertani yang tidak memiliki tanah, mereka yang memiliki area tanah sempit, dan termasuk tanah yang berada di bawah kekuasaan negara. Negara akan mengambil tanah dari tiap-tiap warga yang menelantarkan tanahnya selama tiga tahun berturut-turut, untuk selanjutnya memberikannya kepada individu warga yang mampu mengolahnya. Ini sebagaimana hadis Rasulullah saw.,\n\nمَنْ أَحْيَى أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ\n\n“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).\n\nKhilafah akan memfasilitasi beragam riset dan inovasi pertanian demi meningkatkan produktivitas pertanian di dalam negeri. Hal ini termasuk perlunya riset mengenai penemuan pupuk alternatif dengan bahan baku alternatif sehingga tidak harus mengandalkan bahan baku impor untuk memproduksi pupuk dan memenuhi kebutuhan pupuk dalam negeri.\n\nTidak lupa, khalifah selaku pemimpin negara Islam akan melakukan inspeksi secara intensif sampai ke pelosok desa sehingga mengetahui betul kondisi rakyat dan kebutuhan mereka. Khalifah memiliki data lengkap perihal inventarisasi tanah, sumber daya lahan, profil petani, beserta seluruh kebutuhannya agar tepat dalam memberikan penanganan. Khalifah menjamin distribusi pupuk dan mengawasi rantai pasoknya agar pupuk tidak mengalami kelangkaan atau harganya melonjak hingga merugikan petani.\n\nKebijakan Impor Khilafah\nIslam tidak antiimpor, tetapi jika ada kondisi yang mengharuskan Khilafah melakukan impor pangan, impor hanya layak menjadi solusi sementara, bukan permanen. Sebelum melakukan impor, Khilafah akan terlebih dahulu mengupayakan subsidi silang dari sebagian wilayahnya yang makmur untuk menyuplai kebutuhan di wilayah yang kekurangan. Hal ini sebagaimana pernah dilakukan Khalifah Umar bin Khaththab ketika musim paceklik melanda Madinah.\n\nSaat itu Khalifah Umar ra. menulis surat kepada para walinya di sejumlah wilayah untuk meminta pertolongan. Beliau menulis surat kepada ‘Amru bin al-Ash ra., wali beliau di Mesir. Surat serupa juga dikirimkannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan ra. di Damaskus, Abu Ubaidah bin Jarrah ra. di Palestina, juga kepada Saad bin Abi Waqqash ra. di Irak.\n\nKaum muslim di berbagai wilayah pun bergegas mengulurkan bantuan. Abu Ubaidah mengirimkan 4.000 unta bermuatan penuh bahan pangan. Dari Mesir, ‘Amru bin al-Ash mengirimkan makanan lewat jalur darat dan laut, ada tepung dan lemak bersama 1.000 unta. Muawiyah mengirim 3.000 unta, sedangkan Saad mengirim 1.000 unta bermuatan tepung. Mantel, selimut, dan pakaian turut dikirimkan bersama bahan pangan.\n\nSelanjutnya, Khilafah juga menerapkan sistem mata uang emas dan perak di dalam perdagangan, termasuk perdagangan internasional (ekspor-impor), dan tidak menerima pembayaran dengan mata uang selain keduanya. Dengan demikian, jika impor harus terjadi, aktivitas tersebut tidak boleh membebani Khilafah maupun warganya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.\n\nSedangkan terkait ekspor pangan, Khilafah harus memastikan agar kebutuhan dalam negeri terjamin dan tercukupi. Saat terjadi surplus hasil pertanian dan jika diperlukan, ekspor bisa dilakukan. Aktivitas ekspor pangan yang Khilafah lakukan tidak semata-mata demi keuntungan ekonomi, melainkan bagian dari aktivitas riayatusy syuunil ummah (mengurusi urusan umat) baik di dalam negeri maupun di luar negeri.\n\nDengan gambaran ini, petani dalam sistem Islam tidak perlu khawatir terhadap masa depan profesi maupun kesejahteraan mereka. Generasi muda pun tidak lagi memandang profesi petani sebagai jalan suram.\n\nSistem Islam memiliki mekanisme yang menjamin kebutuhan pokok setiap individu, termasuk ketahanan sekaligus kedaulatan pangan. Khilafah berkewajiban memastikan setiap kepala keluarga memiliki pekerjaan atau jalur nafkah yang layak. Khilafah akan mengupayakan berbagai kebijakan sehingga kemaslahatan publik terpelihara dengan baik. Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1448019254017499"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "attributes": {"label": "@fokus.indosiar", "x": 127.60448895730548, "y": 144.21313184742357, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "wk-GGK8EaZs", "id": "@fokus.indosiar", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Masih Melemah, Harga Buah Impor Melambung | Fokus\n\nMasih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada komoditas impor. Salah satunya adalah buah-buahan impor yang mengalami kenaikan harga. Sudah ada Prissilia Claudia yang akan melaporkan langsung dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.\n\nSimak berita-berita lainnya di: https://www.vidio.com/\n\n#NewsIndosiar #Fokus #FokusIndosiar\n\nFokus Indosiar adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan PT. Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Menayangkan rangkaian informasi berita menarik pilihan pada pagi, siang, dan malam hari mengenai peristiwa dalam negeri maupun mancanegara yang aktual dan terkini.\n\nJangan lewatkan tayangan berita Fokus indosiar, dengan terus mengikuti perkembangannya melalui media sosial:\n\nFacebook Indosiar:   / indosiarid.tv  \nTwitter Indosiar:   / indosiar  \nVidio Indosiar: https://www.vidio.com/\n\nAnda juga dapat mengikuti informasi pilihan seputar berita hukum dan kriminal, tragedi, bencana alam, hingga orang hilang di media sosial Patroli Indosiar:\nYouTube Patroli Indosiar:    /   \nTikTok Patroli Indosiar:   / patroli.indosiar", "post_id": "wk-GGK8EaZs"}}, {"key": "indosiar", "attributes": {"label": "indosiar", "x": 208.8845359646644, "y": 36.79432355081935, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.8031, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "wk-GGK8EaZs", "id": "indosiar", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Masih Melemah, Harga Buah Impor Melambung | Fokus\n\nMasih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada komoditas impor. Salah satunya adalah buah-buahan impor yang mengalami kenaikan harga. Sudah ada Prissilia Claudia yang akan melaporkan langsung dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.\n\nSimak berita-berita lainnya di: https://www.vidio.com/\n\n#NewsIndosiar #Fokus #FokusIndosiar\n\nFokus Indosiar adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan PT. Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Menayangkan rangkaian informasi berita menarik pilihan pada pagi, siang, dan malam hari mengenai peristiwa dalam negeri maupun mancanegara yang aktual dan terkini.\n\nJangan lewatkan tayangan berita Fokus indosiar, dengan terus mengikuti perkembangannya melalui media sosial:\n\nFacebook Indosiar:   / indosiarid.tv  \nTwitter Indosiar:   / indosiar  \nVidio Indosiar: https://www.vidio.com/\n\nAnda juga dapat mengikuti informasi pilihan seputar berita hukum dan kriminal, tragedi, bencana alam, hingga orang hilang di media sosial Patroli Indosiar:\nYouTube Patroli Indosiar:    /   \nTikTok Patroli Indosiar:   / patroli.indosiar", "post_id": "wk-GGK8EaZs"}}, {"key": "patroliindosiar", "attributes": {"label": "patroliindosiar", "x": 61.55078617931187, "y": 155.2435626672344, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.8031, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "wk-GGK8EaZs", "id": "patroliindosiar", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Masih Melemah, Harga Buah Impor Melambung | Fokus\n\nMasih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada komoditas impor. Salah satunya adalah buah-buahan impor yang mengalami kenaikan harga. Sudah ada Prissilia Claudia yang akan melaporkan langsung dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.\n\nSimak berita-berita lainnya di: https://www.vidio.com/\n\n#NewsIndosiar #Fokus #FokusIndosiar\n\nFokus Indosiar adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan PT. Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Menayangkan rangkaian informasi berita menarik pilihan pada pagi, siang, dan malam hari mengenai peristiwa dalam negeri maupun mancanegara yang aktual dan terkini.\n\nJangan lewatkan tayangan berita Fokus indosiar, dengan terus mengikuti perkembangannya melalui media sosial:\n\nFacebook Indosiar:   / indosiarid.tv  \nTwitter Indosiar:   / indosiar  \nVidio Indosiar: https://www.vidio.com/\n\nAnda juga dapat mengikuti informasi pilihan seputar berita hukum dan kriminal, tragedi, bencana alam, hingga orang hilang di media sosial Patroli Indosiar:\nYouTube Patroli Indosiar:    /   \nTikTok Patroli Indosiar:   / patroli.indosiar", "post_id": "wk-GGK8EaZs"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "@tribunnewsbogorvideo", "x": 762.2305692032548, "y": 399.710385592283, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}, {"key": "tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "tribunnewsbogorvideo", "x": 399.49561598351704, "y": 837.7964719757011, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "tribunnewsbogorvideo", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}, {"key": "tribunbogor", "attributes": {"label": "tribunbogor", "x": 658.4212752264827, "y": 884.2034591393202, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "tribunbogor", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}, {"key": "@VideoTribunPontianak", "attributes": {"label": "@VideoTribunPontianak", "x": 691.3587403293786, "y": 264.18493635157057, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "pg12vMIXU7s", "id": "@VideoTribunPontianak", "source": "youtube-000001", "content": "RIBUAN BURUH PABRIK TERANCAM PHK DI JATIM & JABAR❗ SAID IQBAL MINTA PRABOWO TAK NAIKKAN BBM SUBSIDI\n\nPenasihat Khusus Presiden Republik Indonesia bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menemukan potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal ribuan buruh di Jawa Timur dan Jawa Barat. Untuk mencegah gelombang PHK yang semakin luas, Said Iqbal bakal meminta Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.\n\nPernyataan itu disampaikan Said Iqbal dalam konferensi pers secara daring pada Minggu (21/6). Said Iqbal mengatakan sebanyak 2.500 karyawan pabrik di Jawa Timur terancam PHK. Sementara di Jawa Barat terdapat 4.000 buruh yang juga terancam PHK oleh perusahaannya.\n\nFenomena tersebut muncul akibat fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan perang antara Amerika Serikat, dengan Iran di Timur Tengah. Menurut Said kondisi tersebut mempengaruhi produksi dari perusahaan yang berorientasi ekspor maupun perusahaan yang membeli bahan baku impor.\n\n#saidiqbal #prabowo #bbm #subsidi #buruh #phk #jatim #jabar #viral #beritaterkini \n\nSimak berita selengkapnya di http://pontianak.tribunnews.com/\nSimak Video Viral lainnya    / tribunsingkawang1  \n\nProgram: -\nHost: -\nEditor Video: Heru\nUploader: -\n\n‎Ikuti saluran Tribun Pontianak di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLd...\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nFollow us:\n\nInstagram:   / tribunpontianak  \nFacebook:   / tribunpontianakinteraktif  \nTwitter:   / tribunpontianak  \nTikTok: tiktok.com/\n\nTerima Kasih Telah Subscribe, Like, dan comment konten-konten menarik dari Kami.", "post_id": "pg12vMIXU7s"}}, {"key": "tribunpontianak", "attributes": {"label": "tribunpontianak", "x": 706.6070521727305, "y": 125.94230070760814, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "pg12vMIXU7s", "id": "tribunpontianak", "source": "youtube-000001", "content": "RIBUAN BURUH PABRIK TERANCAM PHK DI JATIM & JABAR❗ SAID IQBAL MINTA PRABOWO TAK NAIKKAN BBM SUBSIDI\n\nPenasihat Khusus Presiden Republik Indonesia bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal menemukan potensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal ribuan buruh di Jawa Timur dan Jawa Barat. Untuk mencegah gelombang PHK yang semakin luas, Said Iqbal bakal meminta Presiden Prabowo Subianto untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.\n\nPernyataan itu disampaikan Said Iqbal dalam konferensi pers secara daring pada Minggu (21/6). Said Iqbal mengatakan sebanyak 2.500 karyawan pabrik di Jawa Timur terancam PHK. Sementara di Jawa Barat terdapat 4.000 buruh yang juga terancam PHK oleh perusahaannya.\n\nFenomena tersebut muncul akibat fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan perang antara Amerika Serikat, dengan Iran di Timur Tengah. Menurut Said kondisi tersebut mempengaruhi produksi dari perusahaan yang berorientasi ekspor maupun perusahaan yang membeli bahan baku impor.\n\n#saidiqbal #prabowo #bbm #subsidi #buruh #phk #jatim #jabar #viral #beritaterkini \n\nSimak berita selengkapnya di http://pontianak.tribunnews.com/\nSimak Video Viral lainnya    / tribunsingkawang1  \n\nProgram: -\nHost: -\nEditor Video: Heru\nUploader: -\n\n‎Ikuti saluran Tribun Pontianak di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLd...\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nFollow us:\n\nInstagram:   / tribunpontianak  \nFacebook:   / tribunpontianakinteraktif  \nTwitter:   / tribunpontianak  \nTikTok: tiktok.com/\n\nTerima Kasih Telah Subscribe, Like, dan comment konten-konten menarik dari Kami.", "post_id": "pg12vMIXU7s"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "attributes": {"label": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "x": 557.6229646405302, "y": 800.3691189456845, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "coJPPSyyerM", "id": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "youtube-000001", "content": "BBM Bakal Turun?! Dampak Gila Buat Indonesia Jika Iran & AS Mendadak Damai!\n\nBBM Bakal Turun? Dampak Gila Buat Indonesia Jika Iran & AS Mendadak Damai! Apakah perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat benar-benar bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia dari ancaman krisis energi dan lonjakan inflasi? \n\nDalam video analisis ekonomi global ini, kita akan membedah dampak masif dari pembukaan kembali Selat Hormuz jika resolusi damai antara Iran dan AS terealisasi secara permanen. Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak bumi global. Konflik geopolitik di wilayah ini selalu berhasil membuat harga minyak mentah dunia meroket dan mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri.\n\nNamun, apa yang terjadi jika kedua negara ini mendadak damai? Bagi masyarakat Indonesia, keuntungan utamanya sangat nyata: stabilitas harga BBM dan tarif listrik, keamanan armada kapal tanker nasional seperti milik Pertamina, hingga pengurangan subsidi energi pada APBN kita. Dampak domonino ini tidak hanya memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, tetapi juga menekan biaya impor bahan baku yang membuat harga bahan pokok di pasar tradisional tetap murah dan terjangkau.\n\nSaksikan juga analisis kritis mengenai sektor industri Indonesia mana yang paling cepat merasakan dampak positif ini. Mulai dari sektor logistik, sektor transportasi, hingga sektor manufaktur dan industri barang konsumsi (FMCG) yang siap melakukan ekspansi pasar ekspor secara masif karena penurunan biaya operasional.\n\nBagaimana pendapat Anda mengenai masa depan perdamaian Timur Tengah ini? Apakah stabilitas ekonomi Indonesia akan sepenuhnya aman? Tuliskan analisis kritis Anda di kolom komentar!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #IranASDamai #hargabbm  #ekonomiindonesia  #selathormuz  #SubsidiEnergi #geopolitik  #analisisekonomi  #beritahariini  #logistikindonesia  #pertamina  #RupiahMenguat #youtubenews \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "coJPPSyyerM"}}, {"key": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "koranjakarta...", "x": 358.054505617316, "y": 812.3615054034029, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "coJPPSyyerM", "id": "koranjakarta...", "source": "youtube-000001", "content": "BBM Bakal Turun?! Dampak Gila Buat Indonesia Jika Iran & AS Mendadak Damai!\n\nBBM Bakal Turun? Dampak Gila Buat Indonesia Jika Iran & AS Mendadak Damai! Apakah perdamaian permanen antara Iran dan Amerika Serikat benar-benar bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia dari ancaman krisis energi dan lonjakan inflasi? \n\nDalam video analisis ekonomi global ini, kita akan membedah dampak masif dari pembukaan kembali Selat Hormuz jika resolusi damai antara Iran dan AS terealisasi secara permanen. Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak bumi global. Konflik geopolitik di wilayah ini selalu berhasil membuat harga minyak mentah dunia meroket dan mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri.\n\nNamun, apa yang terjadi jika kedua negara ini mendadak damai? Bagi masyarakat Indonesia, keuntungan utamanya sangat nyata: stabilitas harga BBM dan tarif listrik, keamanan armada kapal tanker nasional seperti milik Pertamina, hingga pengurangan subsidi energi pada APBN kita. Dampak domonino ini tidak hanya memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS, tetapi juga menekan biaya impor bahan baku yang membuat harga bahan pokok di pasar tradisional tetap murah dan terjangkau.\n\nSaksikan juga analisis kritis mengenai sektor industri Indonesia mana yang paling cepat merasakan dampak positif ini. Mulai dari sektor logistik, sektor transportasi, hingga sektor manufaktur dan industri barang konsumsi (FMCG) yang siap melakukan ekspansi pasar ekspor secara masif karena penurunan biaya operasional.\n\nBagaimana pendapat Anda mengenai masa depan perdamaian Timur Tengah ini? Apakah stabilitas ekonomi Indonesia akan sepenuhnya aman? Tuliskan analisis kritis Anda di kolom komentar!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #IranASDamai #hargabbm  #ekonomiindonesia  #selathormuz  #SubsidiEnergi #geopolitik  #analisisekonomi  #beritahariini  #logistikindonesia  #pertamina  #RupiahMenguat #youtubenews \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "coJPPSyyerM"}}, {"key": "@andikatvkediri", "attributes": {"label": "@andikatvkediri", "x": 330.7413643983771, "y": 794.4260029382145, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "imWXZ9Y1xik", "id": "@andikatvkediri", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah, produk impor terancam makin mahal\n\nANDIKA TV - Nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS mulai menjadi perhatian berbagai kalangan. Pengamat ekonomi sekaligus dosen Pascasarjana Uniska, Dr. Hajah Nisa Mutiara, S.Sos., M.Si., menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang berbahan baku impor dan memicu inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. (rif)\n\nIkuti Berita terbaru kami melalui :\nFacebook :  \nInstagram  \nTelegram : \nWebsite : www.kubus.id\n\nDownload Aplikasi Streaming di Playstore", "post_id": "imWXZ9Y1xik"}}, {"key": "Ag243", "attributes": {"label": "Ag243", "x": 921.5623966275369, "y": 795.6159272620373, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "imWXZ9Y1xik", "id": "Ag243", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah, produk impor terancam makin mahal\n\nANDIKA TV - Nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS mulai menjadi perhatian berbagai kalangan. Pengamat ekonomi sekaligus dosen Pascasarjana Uniska, Dr. Hajah Nisa Mutiara, S.Sos., M.Si., menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang berbahan baku impor dan memicu inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. (rif)\n\nIkuti Berita terbaru kami melalui :\nFacebook :  \nInstagram  \nTelegram : \nWebsite : www.kubus.id\n\nDownload Aplikasi Streaming di Playstore", "post_id": "imWXZ9Y1xik"}}, {"key": "radioandika", "attributes": {"label": "radioandika", "x": 634.1749754641623, "y": 112.34768558417318, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "imWXZ9Y1xik", "id": "radioandika", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah, produk impor terancam makin mahal\n\nANDIKA TV - Nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS mulai menjadi perhatian berbagai kalangan. Pengamat ekonomi sekaligus dosen Pascasarjana Uniska, Dr. Hajah Nisa Mutiara, S.Sos., M.Si., menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang berbahan baku impor dan memicu inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. (rif)\n\nIkuti Berita terbaru kami melalui :\nFacebook :  \nInstagram  \nTelegram : \nWebsite : www.kubus.id\n\nDownload Aplikasi Streaming di Playstore", "post_id": "imWXZ9Y1xik"}}, {"key": "radioandikaofficial", "attributes": {"label": "radioandikaofficial", "x": 408.1041346834916, "y": 870.7419813124968, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "imWXZ9Y1xik", "id": "radioandikaofficial", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah, produk impor terancam makin mahal\n\nANDIKA TV - Nilai tukar rupiah yang menembus Rp18.000 per dolar AS mulai menjadi perhatian berbagai kalangan. Pengamat ekonomi sekaligus dosen Pascasarjana Uniska, Dr. Hajah Nisa Mutiara, S.Sos., M.Si., menilai pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang berbahan baku impor dan memicu inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. (rif)\n\nIkuti Berita terbaru kami melalui :\nFacebook :  \nInstagram  \nTelegram : \nWebsite : www.kubus.id\n\nDownload Aplikasi Streaming di Playstore", "post_id": "imWXZ9Y1xik"}}, {"key": "@liputan6_news", "attributes": {"label": "@liputan6_news", "x": 52.65877418803699, "y": 451.79173414199335, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "7gbxiURemxQ", "id": "@liputan6_news", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Membaik, Produk Impor Turun Harga? | Liputan 6\n\nDalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berangsur menguat. Tetapi penguatan rupiah belum terlalu berpengaruh pada produk impor seperti buah dan kedelai yang harganya masih tinggi.\n\nUpdate video lainnya dari SCTV dan Liputan 6, klik: https://www.vidio.com/\n\nSimak konten Liputan 6 lainnya di    /   \n\nPerbaharui informasi dari sejumlah daerah di Indonesia, klik:    /   \n\nLiputan 6 SCTV adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Group. Liputan 6 SCTV juga menyajikan informasi dalam bentuk live report dan breaking news. Tayang siaran langsung, setiap hari di saluran tv SCTV pada program Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang Terkini, dan Liputan 6 Malam.\n\nIkuti media sosial Liputan 6 SCTV untuk mendapatkan informasi Aktual, Tajam, Terpercaya. \n\nLiputan 6 SCTV Official Instagram:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Tiktok:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Facebook :   / liputan6sctv  \nSCTV Facebook Fanpage:   / sctv  \nSCTV Official Twitter:   / sctv  \n\n#newssctv #liputan6pagi #liputan6sctv #liputan6siang #liputan6 #liputan6daerah #viral #liputan6bandung #liputan6semarang #berita #beritabola #beritabolaterbaru #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritahariini #beritaupdate #beritaterbaruhariini #beritapolitik #berandafypシ #beranda #berandayoutube #berandayt", "post_id": "7gbxiURemxQ"}}, {"key": "sctv", "attributes": {"label": "sctv", "x": 958.8676440123797, "y": 178.68440946903274, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7gbxiURemxQ", "id": "sctv", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Membaik, Produk Impor Turun Harga? | Liputan 6\n\nDalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berangsur menguat. Tetapi penguatan rupiah belum terlalu berpengaruh pada produk impor seperti buah dan kedelai yang harganya masih tinggi.\n\nUpdate video lainnya dari SCTV dan Liputan 6, klik: https://www.vidio.com/\n\nSimak konten Liputan 6 lainnya di    /   \n\nPerbaharui informasi dari sejumlah daerah di Indonesia, klik:    /   \n\nLiputan 6 SCTV adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Group. Liputan 6 SCTV juga menyajikan informasi dalam bentuk live report dan breaking news. Tayang siaran langsung, setiap hari di saluran tv SCTV pada program Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang Terkini, dan Liputan 6 Malam.\n\nIkuti media sosial Liputan 6 SCTV untuk mendapatkan informasi Aktual, Tajam, Terpercaya. \n\nLiputan 6 SCTV Official Instagram:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Tiktok:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Facebook :   / liputan6sctv  \nSCTV Facebook Fanpage:   / sctv  \nSCTV Official Twitter:   / sctv  \n\n#newssctv #liputan6pagi #liputan6sctv #liputan6siang #liputan6 #liputan6daerah #viral #liputan6bandung #liputan6semarang #berita #beritabola #beritabolaterbaru #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritahariini #beritaupdate #beritaterbaruhariini #beritapolitik #berandafypシ #beranda #berandayoutube #berandayt", "post_id": "7gbxiURemxQ"}}, {"key": "liputan6_news", "attributes": {"label": "liputan6_news", "x": 462.20413962448293, "y": 392.6749305904415, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7gbxiURemxQ", "id": "liputan6_news", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Membaik, Produk Impor Turun Harga? | Liputan 6\n\nDalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berangsur menguat. Tetapi penguatan rupiah belum terlalu berpengaruh pada produk impor seperti buah dan kedelai yang harganya masih tinggi.\n\nUpdate video lainnya dari SCTV dan Liputan 6, klik: https://www.vidio.com/\n\nSimak konten Liputan 6 lainnya di    /   \n\nPerbaharui informasi dari sejumlah daerah di Indonesia, klik:    /   \n\nLiputan 6 SCTV adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Group. Liputan 6 SCTV juga menyajikan informasi dalam bentuk live report dan breaking news. Tayang siaran langsung, setiap hari di saluran tv SCTV pada program Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang Terkini, dan Liputan 6 Malam.\n\nIkuti media sosial Liputan 6 SCTV untuk mendapatkan informasi Aktual, Tajam, Terpercaya. \n\nLiputan 6 SCTV Official Instagram:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Tiktok:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Facebook :   / liputan6sctv  \nSCTV Facebook Fanpage:   / sctv  \nSCTV Official Twitter:   / sctv  \n\n#newssctv #liputan6pagi #liputan6sctv #liputan6siang #liputan6 #liputan6daerah #viral #liputan6bandung #liputan6semarang #berita #beritabola #beritabolaterbaru #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritahariini #beritaupdate #beritaterbaruhariini #beritapolitik #berandafypシ #beranda #berandayoutube #berandayt", "post_id": "7gbxiURemxQ"}}, {"key": "liputan6daerah", "attributes": {"label": "liputan6daerah", "x": 458.77358561697577, "y": 66.61097879223887, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7gbxiURemxQ", "id": "liputan6daerah", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Membaik, Produk Impor Turun Harga? | Liputan 6\n\nDalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berangsur menguat. Tetapi penguatan rupiah belum terlalu berpengaruh pada produk impor seperti buah dan kedelai yang harganya masih tinggi.\n\nUpdate video lainnya dari SCTV dan Liputan 6, klik: https://www.vidio.com/\n\nSimak konten Liputan 6 lainnya di    /   \n\nPerbaharui informasi dari sejumlah daerah di Indonesia, klik:    /   \n\nLiputan 6 SCTV adalah program berita televisi nasional yang berada di bawah naungan Elang Mahkota Teknologi (Emtek) Group. Liputan 6 SCTV juga menyajikan informasi dalam bentuk live report dan breaking news. Tayang siaran langsung, setiap hari di saluran tv SCTV pada program Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Siang, Liputan 6 Petang Terkini, dan Liputan 6 Malam.\n\nIkuti media sosial Liputan 6 SCTV untuk mendapatkan informasi Aktual, Tajam, Terpercaya. \n\nLiputan 6 SCTV Official Instagram:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Tiktok:   / liputan6.sctv  \nLiputan 6 SCTV Official Facebook :   / liputan6sctv  \nSCTV Facebook Fanpage:   / sctv  \nSCTV Official Twitter:   / sctv  \n\n#newssctv #liputan6pagi #liputan6sctv #liputan6siang #liputan6 #liputan6daerah #viral #liputan6bandung #liputan6semarang #berita #beritabola #beritabolaterbaru #beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #beritahariini #beritaupdate #beritaterbaruhariini #beritapolitik #berandafypシ #beranda #berandayoutube #berandayt", "post_id": "7gbxiURemxQ"}}, {"key": "@SindoPodcast", "attributes": {"label": "@SindoPodcast", "x": 310.59694524938106, "y": 915.2884697586777, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "pHWFD-E2vvI", "id": "@SindoPodcast", "source": "youtube-000001", "content": "Diagnosa Penyakit Rupiah, Ekonom: Presepsi Buruk, Ditambah Kebanyakan Impor | To The Point Aja\n\nPelemahan rupiah dinilai bukan hanya akibat tekanan dolar AS, tetapi juga karena rapuhnya struktur pasar keuangan Indonesia yang masih bergantung pada dana asing. Ekonom menilai arus modal asing di pasar modal bisa menjadi pisau bermata dua: saat masuk, IHSG terlihat kuat dan rupiah terbantu, tetapi ketika keluar, pasar langsung terguncang dan kebutuhan dolar meningkat. Ketergantungan pada dana asing jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap gejolak global, kenaikan suku bunga AS, serta kepanikan investor.\n\nYuk Subscribe \n   /   \n   /   \n   /   \n\nTanggal Tayang: 11 Juni 2026\n\nSelengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/\n\nFollow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9l...\nFollow our Official TikTok   / sindonews  \nFollow our Official Twitter   / sindonews    \nLike our Official Facebook   / sindonews   \nFollow our Official Instagram   / sindonews  \n\nUploader: GALIH \n\n#rupiah #ekonomi #ekonomiindonesia", "post_id": "pHWFD-E2vvI"}}, {"key": "officialsindonews", "attributes": {"label": "officialsindonews", "x": 748.9613816615787, "y": 595.870180728785, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "pHWFD-E2vvI", "id": "officialsindonews", "source": "youtube-000001", "content": "Diagnosa Penyakit Rupiah, Ekonom: Presepsi Buruk, Ditambah Kebanyakan Impor | To The Point Aja\n\nPelemahan rupiah dinilai bukan hanya akibat tekanan dolar AS, tetapi juga karena rapuhnya struktur pasar keuangan Indonesia yang masih bergantung pada dana asing. Ekonom menilai arus modal asing di pasar modal bisa menjadi pisau bermata dua: saat masuk, IHSG terlihat kuat dan rupiah terbantu, tetapi ketika keluar, pasar langsung terguncang dan kebutuhan dolar meningkat. Ketergantungan pada dana asing jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap gejolak global, kenaikan suku bunga AS, serta kepanikan investor.\n\nYuk Subscribe \n   /   \n   /   \n   /   \n\nTanggal Tayang: 11 Juni 2026\n\nSelengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/\n\nFollow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9l...\nFollow our Official TikTok   / sindonews  \nFollow our Official Twitter   / sindonews    \nLike our Official Facebook   / sindonews   \nFollow our Official Instagram   / sindonews  \n\nUploader: GALIH \n\n#rupiah #ekonomi #ekonomiindonesia", "post_id": "pHWFD-E2vvI"}}, {"key": "sindopodcast", "attributes": {"label": "sindopodcast", "x": 43.85085681618184, "y": 438.62524506543974, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "pHWFD-E2vvI", "id": "sindopodcast", "source": "youtube-000001", "content": "Diagnosa Penyakit Rupiah, Ekonom: Presepsi Buruk, Ditambah Kebanyakan Impor | To The Point Aja\n\nPelemahan rupiah dinilai bukan hanya akibat tekanan dolar AS, tetapi juga karena rapuhnya struktur pasar keuangan Indonesia yang masih bergantung pada dana asing. Ekonom menilai arus modal asing di pasar modal bisa menjadi pisau bermata dua: saat masuk, IHSG terlihat kuat dan rupiah terbantu, tetapi ketika keluar, pasar langsung terguncang dan kebutuhan dolar meningkat. Ketergantungan pada dana asing jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap gejolak global, kenaikan suku bunga AS, serta kepanikan investor.\n\nYuk Subscribe \n   /   \n   /   \n   /   \n\nTanggal Tayang: 11 Juni 2026\n\nSelengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/\n\nFollow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9l...\nFollow our Official TikTok   / sindonews  \nFollow our Official Twitter   / sindonews    \nLike our Official Facebook   / sindonews   \nFollow our Official Instagram   / sindonews  \n\nUploader: GALIH \n\n#rupiah #ekonomi #ekonomiindonesia", "post_id": "pHWFD-E2vvI"}}, {"key": "sindokalam", "attributes": {"label": "sindokalam", "x": 987.750403160981, "y": 664.5350221226429, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.8954, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "pHWFD-E2vvI", "id": "sindokalam", "source": "youtube-000001", "content": "Diagnosa Penyakit Rupiah, Ekonom: Presepsi Buruk, Ditambah Kebanyakan Impor | To The Point Aja\n\nPelemahan rupiah dinilai bukan hanya akibat tekanan dolar AS, tetapi juga karena rapuhnya struktur pasar keuangan Indonesia yang masih bergantung pada dana asing. Ekonom menilai arus modal asing di pasar modal bisa menjadi pisau bermata dua: saat masuk, IHSG terlihat kuat dan rupiah terbantu, tetapi ketika keluar, pasar langsung terguncang dan kebutuhan dolar meningkat. Ketergantungan pada dana asing jangka pendek membuat rupiah rentan terhadap gejolak global, kenaikan suku bunga AS, serta kepanikan investor.\n\nYuk Subscribe \n   /   \n   /   \n   /   \n\nTanggal Tayang: 11 Juni 2026\n\nSelengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/\n\nFollow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9l...\nFollow our Official TikTok   / sindonews  \nFollow our Official Twitter   / sindonews    \nLike our Official Facebook   / sindonews   \nFollow our Official Instagram   / sindonews  \n\nUploader: GALIH \n\n#rupiah #ekonomi #ekonomiindonesia", "post_id": "pHWFD-E2vvI"}}, {"key": "@kompastvmedan", "attributes": {"label": "@kompastvmedan", "x": 621.53395366123, "y": 534.7918345061476, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "q4yVpv7fseE", "id": "@kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah Harga Kedelai Naik 30 Persen\n\nPEKANBARU, KOMPAS.TV – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Kota Pekanbaru, Riau. Salah satunya para perajin tahu yang terpaksa menanggung kenaikan harga bahan baku hingga 30 persen.\n\nSeperti perajin di Kecamatan Marpoyan Damai, kenaikan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama membuat biaya produksi meningkat signifikan.\n\nSaat ini harga kedelai mencapai 560 ribu rupiah per karung naik sekitar 30 persen dibandingkan harga sebelumnya. (*)\n\n#rupiahmelemah #dollaramerikaserikat #pekanbaru #riau #hargakedelai #beritamedan #kotamedan #sumaterautara #sumut #medan #beritamedan #beritadaerah\n-----------\n\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "q4yVpv7fseE"}}, {"key": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "kompastvmedan", "x": 669.6369049795438, "y": 449.6891454274189, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "q4yVpv7fseE", "id": "kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Melemah Harga Kedelai Naik 30 Persen\n\nPEKANBARU, KOMPAS.TV – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika serikat mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil di Kota Pekanbaru, Riau. Salah satunya para perajin tahu yang terpaksa menanggung kenaikan harga bahan baku hingga 30 persen.\n\nSeperti perajin di Kecamatan Marpoyan Damai, kenaikan harga kedelai impor sebagai bahan baku utama membuat biaya produksi meningkat signifikan.\n\nSaat ini harga kedelai mencapai 560 ribu rupiah per karung naik sekitar 30 persen dibandingkan harga sebelumnya. (*)\n\n#rupiahmelemah #dollaramerikaserikat #pekanbaru #riau #hargakedelai #beritamedan #kotamedan #sumaterautara #sumut #medan #beritamedan #beritadaerah\n-----------\n\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "q4yVpv7fseE"}}, {"key": "@Bennix", "attributes": {"label": "@Bennix", "x": 531.3142340351362, "y": 404.56382378284286, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0024, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "@Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "Bennix", "attributes": {"label": "Bennix", "x": 319.35368255946395, "y": 41.30437581196544, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.3493, "eigenvector": 0.0024, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix.official", "attributes": {"label": "bennix.official", "x": 991.6655369518986, "y": 850.0087014778163, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.3493, "eigenvector": 0.0024, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix.official", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix.real", "attributes": {"label": "bennix.real", "x": 217.10229841202866, "y": 176.86575613256207, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.3493, "eigenvector": 0.0024, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix.real", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 798.9448390020584, "y": 445.4585254456944, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 9.3493, "eigenvector": 0.0024, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 582.4851260853782, "y": 467.46325212501296, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Yj94XU0L944", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] KLBF Diuji Kurs Rupiah dan Peluang Growth Engine Baru | INSIGHT EMITEN\n\nKABARBURSA.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencetak all-time high di Rp18.190 per USD pada 8 Juni 2026, menekan biaya bahan baku impor industri farmasi nasional. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tetap membuktikan ketahanannya dengan membukukan penjualan neto kuartal I 2026 tumbuh 10,13 persen menjadi Rp9,68 triliun, ditopang lini Distribusi dan Logistik senilai Rp3,49 triliun.Perseroan juga menjalankan buyback saham senilai Rp500 miliar untuk mengerek proforma EPS ke Rp81,19, sembari menyiapkan pabrik bahan baku obat PT Livzon Pharma Indonesia guna memangkas ketergantungan impor.\n\nIsu ini penting bagi publik karena menyangkut stabilitas industri farmasi nasional di tengah gejolak kurs yang berdampak luas pada harga obat dan layanan kesehatan masyarakat. Saksikan analisis lengkapnya bersama Tasya Natalia, Researcher Mikirduit — jangan lupa subscribe dan bagikan pendapatmu di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#klbf #kalbefarma #kursrupiah #rupiahmelemah #sahamfarmasi #buybacksaham #ihsg #emitenfarmasi #livzonpharma #dividensaham #bisniskesehatan #investasisaham #ekonomiindonesia #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "Yj94XU0L944"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 806.0165590217853, "y": 165.9572399567042, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Yj94XU0L944", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] KLBF Diuji Kurs Rupiah dan Peluang Growth Engine Baru | INSIGHT EMITEN\n\nKABARBURSA.COM — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencetak all-time high di Rp18.190 per USD pada 8 Juni 2026, menekan biaya bahan baku impor industri farmasi nasional. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tetap membuktikan ketahanannya dengan membukukan penjualan neto kuartal I 2026 tumbuh 10,13 persen menjadi Rp9,68 triliun, ditopang lini Distribusi dan Logistik senilai Rp3,49 triliun.Perseroan juga menjalankan buyback saham senilai Rp500 miliar untuk mengerek proforma EPS ke Rp81,19, sembari menyiapkan pabrik bahan baku obat PT Livzon Pharma Indonesia guna memangkas ketergantungan impor.\n\nIsu ini penting bagi publik karena menyangkut stabilitas industri farmasi nasional di tengah gejolak kurs yang berdampak luas pada harga obat dan layanan kesehatan masyarakat. Saksikan analisis lengkapnya bersama Tasya Natalia, Researcher Mikirduit — jangan lupa subscribe dan bagikan pendapatmu di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#klbf #kalbefarma #kursrupiah #rupiahmelemah #sahamfarmasi #buybacksaham #ihsg #emitenfarmasi #livzonpharma #dividensaham #bisniskesehatan #investasisaham #ekonomiindonesia #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "Yj94XU0L944"}}, {"key": "@gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "@gotvnewsofficial", "x": 528.7819162407022, "y": 820.7818400427889, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "0nwYnhvMcfc", "id": "@gotvnewsofficial", "source": "youtube-000001", "content": "🚨 Rupiah Tembus Rp18.000/USD: Apa Dampaknya bagi Kita?\n\nPelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup tajam ini membawa efek domino bagi perekonomian nasional. Mulai dari harga barang impor yang semakin mahal, potensi kenaikan inflasi bahan pangan, hingga beban berat bagi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.\n\nDi sisi lain, para pelaku ekspor justru berpotensi meraup untung lebih dan wisatawan asing datang untuk borong barang dalam negeri. \n\nLalu, bagaimana kondisi ini memengaruhi bisnis atau keuangan pribadi Anda? \n\nYuk, mulai tinjau ulang strategi keuangan kita demi menjaga daya beli!\n\n#rupiah #ekonomiindonesia #infoekonomi #nilaitukar #ekonomimakro #krisisekonomi #dolarnaik #keuangan #rupiahmelemah \n\nBergabung dengan channel ini untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\n------------------------------------------------------------------------------------------------------\nKunjungi kami untuk mendapatkan konten dan berita menarik lainnya\n\nWebsite GO TV NEWS  https://gotvnews.co.id/\n\nFacebook GO TV NEWS   / redaksigotvnews.co.id  \n\nInstagram GO TV NEWS https:   / redaksigotv  \n\nTiktok GOTVNEW :   / gotv.id  \n\n#gotvnews #beritaviral #beritaterkini #livestreaming #breakingnews #news  #kepri #terbaru #terupdate #terpercaya #tanjungpinang #batam #karimun #lingga #bintan #natuna #anambas #beritaterbaru #beritakepri #keprisehat #kabarkepri #keprihariini #nasional #jakarta \n\nJangan lupa saksikan terus kami di Official Youtube GO TV NEWS dan Website Berita resmi kami di gotvnews.co.id\n--------------------------------------------------------------------------------------------------\nCopyright© GOTVNEWS\n--------------------------------------------------------------------------------------------------", "post_id": "0nwYnhvMcfc"}}, {"key": "gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "gotvnewsofficial", "x": 908.4676023712215, "y": 244.77678300778183, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 14.2649, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0nwYnhvMcfc", "id": "gotvnewsofficial", "source": "youtube-000001", "content": "🚨 Rupiah Tembus Rp18.000/USD: Apa Dampaknya bagi Kita?\n\nPelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup tajam ini membawa efek domino bagi perekonomian nasional. Mulai dari harga barang impor yang semakin mahal, potensi kenaikan inflasi bahan pangan, hingga beban berat bagi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.\n\nDi sisi lain, para pelaku ekspor justru berpotensi meraup untung lebih dan wisatawan asing datang untuk borong barang dalam negeri. \n\nLalu, bagaimana kondisi ini memengaruhi bisnis atau keuangan pribadi Anda? \n\nYuk, mulai tinjau ulang strategi keuangan kita demi menjaga daya beli!\n\n#rupiah #ekonomiindonesia #infoekonomi #nilaitukar #ekonomimakro #krisisekonomi #dolarnaik #keuangan #rupiahmelemah \n\nBergabung dengan channel ini untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\n------------------------------------------------------------------------------------------------------\nKunjungi kami untuk mendapatkan konten dan berita menarik lainnya\n\nWebsite GO TV NEWS  https://gotvnews.co.id/\n\nFacebook GO TV NEWS   / redaksigotvnews.co.id  \n\nInstagram GO TV NEWS https:   / redaksigotv  \n\nTiktok GOTVNEW :   / gotv.id  \n\n#gotvnews #beritaviral #beritaterkini #livestreaming #breakingnews #news  #kepri #terbaru #terupdate #terpercaya #tanjungpinang #batam #karimun #lingga #bintan #natuna #anambas #beritaterbaru #beritakepri #keprisehat #kabarkepri #keprihariini #nasional #jakarta \n\nJangan lupa saksikan terus kami di Official Youtube GO TV NEWS dan Website Berita resmi kami di gotvnews.co.id\n--------------------------------------------------------------------------------------------------\nCopyright© GOTVNEWS\n--------------------------------------------------------------------------------------------------", "post_id": "0nwYnhvMcfc"}}, {"key": "@thecore_in", "attributes": {"label": "@thecore_in", "x": 89.01169887578541, "y": 831.0327262681993, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.7107, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "BZGg8QsOgjo", "id": "@thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Pertahanan Rupiah oleh RBI Menghadapi Risiko yang Lebih Besar | Cara Kerja Ekonomi India | The Core\n\nUpaya pertahanan rupee oleh RBI menghadapi risiko yang lebih besar karena India menghadapi tekanan dari depresiasi rupee, cadangan devisa, arus keluar modal asing, dan perubahan ekonomi global.\n\nDalam episode How India’s Economy Works di The Core ini, Jurnalis Puja Mehra berbicara dengan ekonom Renu Kohli (mantan karyawan Bank Sentral India dan IMF dan saat ini sebagai peneliti senior di Centre for Social and Economic Progress (CSEP)) tentang mengapa rupee India melemah meskipun cadangan devisa India cukup besar. Diskusi ini membahas intervensi RBI, batasan cadangan devisa, penurunan FDI, arus keluar portofolio, guncangan harga minyak, dan mengapa neraca pembayaran India mungkin berada di bawah tekanan yang lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh angka-angka utama.\n\nRenu Kohli menjelaskan mengapa cadangan devisa India tidak sama dengan cadangan yang diperoleh, bagaimana \"cadangan pinjaman\" bergantung pada arus masuk modal, dan mengapa tidak ada jumlah cadangan yang dapat sepenuhnya melindungi rupee jika investor asing berhenti membawa uang masuk. Ia juga membandingkan tekanan rupee saat ini dengan episode masa lalu seperti tahun 1991, 2008, dan 2013, sambil menjelaskan mengapa momen ini berbeda.\n\nPercakapan ini juga membahas apakah RBI membiarkan rupee tetap terlalu kuat terlalu lama, mengapa langkah-langkah jangka pendek hanya dapat mengulur waktu, dan apa yang perlu dilakukan India untuk menarik modal asing yang lebih berkelanjutan. Dari FDI dan defisit transaksi berjalan hingga impor minyak, arus modal yang dipimpin AI, dan ketidakpastian global, episode ini menguraikan risiko yang lebih dalam yang dihadapi ekonomi India.\n\nPertahanan rupee oleh RBI menghadapi risiko yang lebih besar karena depresiasi rupee, cadangan devisa, arus keluar modal asing, penurunan FDI, impor minyak, dan neraca pembayaran India berada di bawah tekanan. Saksikan Bagaimana Ekonomi India Bekerja di The Core untuk memahami apa arti rupee yang lebih lemah bagi kebijakan RBI, investor, dan ekonomi India.\n\n#RBI #Rupee #EkonomiIndia #CadanganValutaAsing #CaraKerjaEkonomiIndia #TheCore\n\nGabung The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Kirimkan email ke shiva untuk kebutuhan sponsor & studio merek.\n\nUntuk liputan selengkapnya, kunjungi thecore.in (https://www.thecore.in/)\n\nDukung Core Report (https://tinyurl.com/Support-the-Core-...)\n\nGabung & Berinteraksi secara anonim di saluran WhatsApp kami (https://tinyurl.com/The-Core-WhatsApp...)\n\nBerlangganan Newsletter kami (https://www.thecore.in/newsletters/th...)\n\nIkuti Kami di Media Sosial untuk Pembaruan Lebih Lanjut:\nTwitter (  / the_core_in  )\nInstagram (  / the.core.in  )\nFacebook (  / thecore.biz  )\nLinkedIn (  / thecore-in  )\nYouTube (   /   )", "post_id": "BZGg8QsOgjo"}}, {"key": "thecore_in", "attributes": {"label": "thecore_in", "x": 950.1737486289802, "y": 138.93044846460367, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 10.9878, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "BZGg8QsOgjo", "id": "thecore_in", "source": "youtube-000001", "content": "Pertahanan Rupiah oleh RBI Menghadapi Risiko yang Lebih Besar | Cara Kerja Ekonomi India | The Core\n\nUpaya pertahanan rupee oleh RBI menghadapi risiko yang lebih besar karena India menghadapi tekanan dari depresiasi rupee, cadangan devisa, arus keluar modal asing, dan perubahan ekonomi global.\n\nDalam episode How India’s Economy Works di The Core ini, Jurnalis Puja Mehra berbicara dengan ekonom Renu Kohli (mantan karyawan Bank Sentral India dan IMF dan saat ini sebagai peneliti senior di Centre for Social and Economic Progress (CSEP)) tentang mengapa rupee India melemah meskipun cadangan devisa India cukup besar. Diskusi ini membahas intervensi RBI, batasan cadangan devisa, penurunan FDI, arus keluar portofolio, guncangan harga minyak, dan mengapa neraca pembayaran India mungkin berada di bawah tekanan yang lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh angka-angka utama.\n\nRenu Kohli menjelaskan mengapa cadangan devisa India tidak sama dengan cadangan yang diperoleh, bagaimana \"cadangan pinjaman\" bergantung pada arus masuk modal, dan mengapa tidak ada jumlah cadangan yang dapat sepenuhnya melindungi rupee jika investor asing berhenti membawa uang masuk. Ia juga membandingkan tekanan rupee saat ini dengan episode masa lalu seperti tahun 1991, 2008, dan 2013, sambil menjelaskan mengapa momen ini berbeda.\n\nPercakapan ini juga membahas apakah RBI membiarkan rupee tetap terlalu kuat terlalu lama, mengapa langkah-langkah jangka pendek hanya dapat mengulur waktu, dan apa yang perlu dilakukan India untuk menarik modal asing yang lebih berkelanjutan. Dari FDI dan defisit transaksi berjalan hingga impor minyak, arus modal yang dipimpin AI, dan ketidakpastian global, episode ini menguraikan risiko yang lebih dalam yang dihadapi ekonomi India.\n\nPertahanan rupee oleh RBI menghadapi risiko yang lebih besar karena depresiasi rupee, cadangan devisa, arus keluar modal asing, penurunan FDI, impor minyak, dan neraca pembayaran India berada di bawah tekanan. Saksikan Bagaimana Ekonomi India Bekerja di The Core untuk memahami apa arti rupee yang lebih lemah bagi kebijakan RBI, investor, dan ekonomi India.\n\n#RBI #Rupee #EkonomiIndia #CadanganValutaAsing #CaraKerjaEkonomiIndia #TheCore\n\nGabung The Core Insider untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\nPara pendengar! Kami menunggu tanggapan Anda: https://tinyurl.com/TCR-Listener-Survey\n\nThe Core & The Core Report didukung iklan & GRATIS untuk semua pembaca & pendengar. Kirimkan email ke shiva untuk kebutuhan sponsor & studio merek.\n\nUntuk liputan selengkapnya, kunjungi thecore.in (https://www.thecore.in/)\n\nDukung Core Report (https://tinyurl.com/Support-the-Core-...)\n\nGabung & Berinteraksi secara anonim di saluran WhatsApp kami (https://tinyurl.com/The-Core-WhatsApp...)\n\nBerlangganan Newsletter kami (https://www.thecore.in/newsletters/th...)\n\nIkuti Kami di Media Sosial untuk Pembaruan Lebih Lanjut:\nTwitter (  / the_core_in  )\nInstagram (  / the.core.in  )\nFacebook (  / thecore.biz  )\nLinkedIn (  / thecore-in  )\nYouTube (   /   )", "post_id": "BZGg8QsOgjo"}}], "edges": [{"key": "trinugroho162", "source": "trinugroho162", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "trinugroho162", "source": "trinugroho162", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Brutus_Istn2045", "source": "Brutus_Istn2045", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Brutus_Istn2045", "source": "Brutus_Istn2045", "target": "ferrykoto", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "Duwitmu", "source": "Duwitmu", "target": "karimakayyim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "aritj", "source": "aritj", "target": "dimarsasongko98", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RadioSmartFM", "source": "RadioSmartFM", "target": "antaranews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Milantoon", "source": "Milantoon", "target": "Mihom43573Hadi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "AlexiaHavasi876", "source": "AlexiaHavasi876", "target": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "jaymampang", "source": "jaymampang", "target": "huironooo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Milantoon", "source": "Milantoon", "target": "Flawes9", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "Milantoon", "source": "Milantoon", "target": "RomyLestari", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "RohmatR48385843", "source": "RohmatR48385843", "target": "Andiarief__", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "nemoozz22", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "shinesainn", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "shinebrightb", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "Dhiyamardhiya1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "tanyakanrl", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "wisnudjati", "source": "wisnudjati", "target": "nylaa4u", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "wisnudjati", "source": "wisnudjati", "target": "andreyantama", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "udanudinudan", "source": "udanudinudan", "target": "99propaganda", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "nemoozz22", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "Dhiyamardhiya1", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "hanikedua", "source": "hanikedua", "target": "tanyakanrl", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "sandiuno", "source": "sandiuno", "target": "bosum.indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "fakta_banten", "source": "fakta_banten", "target": "fakta_banten", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "info_malang", "source": "info_malang", "target": "detik_jatim", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "sekitargarut", "source": "sekitargarut", "target": "jantrakakikaki.ofc", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "trade.insight.id", "source": "trade.insight.id", "target": "trade.insight.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "arahjakarta", "source": "arahjakarta", "target": "arahjakarta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "marketroots", "source": "marketroots", "target": "marketroots", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "rominofrian", "source": "rominofrian", "target": "Sumber", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "pointofview.news", "source": "pointofview.news", "target": "pointofview.news", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "indosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "indosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "patroliindosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "@tribunnewsbogorvideo", "target": "tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "@tribunnewsbogorvideo", "target": "tribunbogor", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@VideoTribunPontianak", "source": "@VideoTribunPontianak", "target": "tribunpontianak", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@andikatvkediri", "source": "@andikatvkediri", "target": "Ag243", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@andikatvkediri", "source": "@andikatvkediri", "target": "radioandika", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@andikatvkediri", "source": "@andikatvkediri", "target": "radioandikaofficial", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "indosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "indosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@fokus.indosiar", "source": "@fokus.indosiar", "target": "patroliindosiar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@liputan6_news", "source": "@liputan6_news", "target": "sctv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@liputan6_news", "source": "@liputan6_news", "target": "liputan6_news", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@liputan6_news", "source": "@liputan6_news", "target": "liputan6daerah", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@SindoPodcast", "source": "@SindoPodcast", "target": "officialsindonews", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@SindoPodcast", "source": "@SindoPodcast", "target": "sindopodcast", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@SindoPodcast", "source": "@SindoPodcast", "target": "sindokalam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@gotvnewsofficial", "source": "@gotvnewsofficial", "target": "gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@thecore_in", "source": "@thecore_in", "target": "thecore_in", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}