{"nodes": [{"key": "hariankompas", "attributes": {"label": "hariankompas", "x": 645.4122117797274, "y": 243.34447126216696, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 350.8771, "eigenvector": 500.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3922063519494768532_1537212147", "id": "hariankompas", "source": "instagram-000001", "content": "Indonesia berkomitmen menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada 2045. Estimasi penulis menunjukkan rentang pendapatan per kapita pada 2045 antara 15.000 dolar AS hingga 30.000 dolar AS apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5-8 persen.\n\nRentang pendapatan per kapita per tahun untuk kelas menengah adalah yang terpanjang. Nilai rentang meningkat mengikuti laju inflasi. Untuk saat ini, menurut Bank Dunia, kelas menengah berada dalam dua kategori. Pertama, menengah bawah dalam rentang 1.136-4.495 dolar AS dan menengah atas dalam rentang 4.496-13.935 dolar AS. Pendapatan per kapita di bawah 1.136 dolar AS masuk kategori rendah, sedangkan di atas 13.935 dolar AS masuk kategori tinggi. Panjangnya klasifikasi kelas menengah membuat kemungkinan sebuah negara berada lama di dalam kategori kelas menengah, sangat besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah ”jebakan kelas menengah” atau middle income trap (MIT).\n\nAda empat variabel yang harus dijaga oleh setiap negara yang ingin lolos dari jebakan MIT: pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar. Saat kondisi ekonomi normal, output tumbuh positif dan nilai tukar bersifat stabil. Depresiasi mata uang domestik tidak akan menurunkan pendapatan per kapita. Namun, jika nilai tukar terus mengalami depresiasi, output akan cenderung turun karena biaya produksi meningkat sehingga menurunkan pendapatan per kapita. Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian bahan mentah, bahan baku, dan mesin-mesin berasal dari impor. Fenomena ini disebut imported inflation.\n\nMenjadi Negara Industri Maju dan Peran Nilai Tukar\nOpini 18 Juni 2026\n\nDitulis oleh Kiki Verico ()\nDosen Ekonomi Internasional dan Wakil Dekan FEB UI\n\n#Opini #Kompas61 #MerawatMasaDepan", "post_id": "3922063519494768532_1537212147"}}, {"key": "kiver_2021", "attributes": {"label": "kiver_2021", "x": 495.0286615482954, "y": 983.5443839024697, "size": 9.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 649.1229, "eigenvector": 500.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3922063519494768532_1537212147", "id": "kiver_2021", "source": "instagram-000001", "content": "Indonesia berkomitmen menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada 2045. Estimasi penulis menunjukkan rentang pendapatan per kapita pada 2045 antara 15.000 dolar AS hingga 30.000 dolar AS apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5-8 persen.\n\nRentang pendapatan per kapita per tahun untuk kelas menengah adalah yang terpanjang. Nilai rentang meningkat mengikuti laju inflasi. Untuk saat ini, menurut Bank Dunia, kelas menengah berada dalam dua kategori. Pertama, menengah bawah dalam rentang 1.136-4.495 dolar AS dan menengah atas dalam rentang 4.496-13.935 dolar AS. Pendapatan per kapita di bawah 1.136 dolar AS masuk kategori rendah, sedangkan di atas 13.935 dolar AS masuk kategori tinggi. Panjangnya klasifikasi kelas menengah membuat kemungkinan sebuah negara berada lama di dalam kategori kelas menengah, sangat besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah ”jebakan kelas menengah” atau middle income trap (MIT).\n\nAda empat variabel yang harus dijaga oleh setiap negara yang ingin lolos dari jebakan MIT: pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar. Saat kondisi ekonomi normal, output tumbuh positif dan nilai tukar bersifat stabil. Depresiasi mata uang domestik tidak akan menurunkan pendapatan per kapita. Namun, jika nilai tukar terus mengalami depresiasi, output akan cenderung turun karena biaya produksi meningkat sehingga menurunkan pendapatan per kapita. Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian bahan mentah, bahan baku, dan mesin-mesin berasal dari impor. Fenomena ini disebut imported inflation.\n\nMenjadi Negara Industri Maju dan Peran Nilai Tukar\nOpini 18 Juni 2026\n\nDitulis oleh Kiki Verico ()\nDosen Ekonomi Internasional dan Wakil Dekan FEB UI\n\n#Opini #Kompas61 #MerawatMasaDepan", "post_id": "3922063519494768532_1537212147"}}], "edges": [{"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "kiver_2021", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}]}