{"nodes": [{"key": "sandiuno", "attributes": {"label": "sandiuno", "x": 455.71868927232686, "y": 386.6175178381983, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3922936780844144609_2087030852", "id": "sandiuno", "source": "instagram-000001", "content": "Dari kantor Alibaba di Beijing, saya bersama teman-teman pengusaha yang ikut bergabung dalam  melihat bagaimana Tiongkok bisa merajai pasar dunia lewat ekosistem UMKM yang kuat.\n\nIndonesia juga pasti mampu. Kuncinya, kita kurangi ketergantungan impor, bangga pakai produk dalam negeri, manfaatkan teknologi agar bisnis makin produktif, sehingga nilai tukar Rupiah menguat, dan bisa menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.", "post_id": "3922936780844144609_2087030852"}}, {"key": "bosum.indonesia", "attributes": {"label": "bosum.indonesia", "x": 214.13093809174245, "y": 46.0602825128299, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 83.7104, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3922936780844144609_2087030852", "id": "bosum.indonesia", "source": "instagram-000001", "content": "Dari kantor Alibaba di Beijing, saya bersama teman-teman pengusaha yang ikut bergabung dalam  melihat bagaimana Tiongkok bisa merajai pasar dunia lewat ekosistem UMKM yang kuat.\n\nIndonesia juga pasti mampu. Kuncinya, kita kurangi ketergantungan impor, bangga pakai produk dalam negeri, manfaatkan teknologi agar bisnis makin produktif, sehingga nilai tukar Rupiah menguat, dan bisa menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.", "post_id": "3922936780844144609_2087030852"}}, {"key": "clipperfinance05", "attributes": {"label": "clipperfinance05", "x": 710.4822627447669, "y": 872.5429756996579, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7653091789263572244", "id": "clipperfinance05", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada 17–18 Juni 2026. Kenaikan ini merupakan yang ketiga secara beruntun sejak Mei 2026, dan ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang sempat melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS, sekaligus sebagai langkah pre-emptive menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran pemerintah. Sehari setelah keputusan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan jajaran direksi dan komisaris bank-bank Himbara (BRI, Mandiri, BNI, BTN, dan BSI) di Istana Kepresidenan. Pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar 4,5 jam itu turut dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, serta CEO Danantara Rosan Roeslani, untuk membahas pandangan dan arahan terkait arah perekonomian Indonesia ke depan. Menurut Rosan Roeslani, Presiden tidak memberikan arahan khusus untuk menahan suku bunga kredit meski acuan naik, melainkan meminta Himbara meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Dengan begitu, perbankan BUMN diharapkan tetap mampu menjaga penyaluran kredit ke sektor riil, khususnya UMKM, sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas sektor keuangan. Sumber: TWS News  #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7653091789263572244"}}, {"key": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "tradewithsuli", "x": 303.9849243613587, "y": 412.6722816386151, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 83.7104, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7653091789263572244", "id": "tradewithsuli", "source": "tiktok-000001", "content": "Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada 17–18 Juni 2026. Kenaikan ini merupakan yang ketiga secara beruntun sejak Mei 2026, dan ditujukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah yang sempat melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS, sekaligus sebagai langkah pre-emptive menjaga inflasi tetap dalam kisaran sasaran pemerintah. Sehari setelah keputusan tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan jajaran direksi dan komisaris bank-bank Himbara (BRI, Mandiri, BNI, BTN, dan BSI) di Istana Kepresidenan. Pertemuan tertutup yang berlangsung sekitar 4,5 jam itu turut dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, serta CEO Danantara Rosan Roeslani, untuk membahas pandangan dan arahan terkait arah perekonomian Indonesia ke depan. Menurut Rosan Roeslani, Presiden tidak memberikan arahan khusus untuk menahan suku bunga kredit meski acuan naik, melainkan meminta Himbara meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Dengan begitu, perbankan BUMN diharapkan tetap mampu menjaga penyaluran kredit ke sektor riil, khususnya UMKM, sekaligus menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas sektor keuangan. Sumber: TWS News  #kontencom #kontencomxtws #fyp", "post_id": "7653091789263572244"}}, {"key": "@sb30official", "attributes": {"label": "@sb30official", "x": 903.7782959282349, "y": 221.43823677431928, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "uPmPqZfR5q4", "id": "@sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "INDONESIA GELAP: Negara Kaya Batu Bara, Kok Mati Terus Merugikan Pengusaha UMKM?\n\n00:00 Hook: Jeritan UMKM di Bandung Hingga Isu Konspirasi \"Blackout 7 Hari\" di Tahun 2026\n\n00:51 Realita Makro: Kerugian Sektor Manufaktur Tembus Miliaran Rupiah Per Jam Akibat Pemadaman\n\n01:55 Ironi Sistem Jamali: Cadangan Daya 32% yang Tetap Jebol Akibat Krisis di Sektor Hulu\n\n02:35 Ketimpangan Modal: Mengapa UMKM Menjadi Korban Paling Rentan dari Kegagalan Sistem Terpusat\n\n03:29 Kronologi Krisis Kelistrikan 2026: Membaca Manipulasi Data Keamanan Stok Batubara PLN\n\n04:39 4 Faktor Utama Meledaknya Krisis: Kebijakan Kuota Produksi Hingga Kontrak Finansial Kaku\n\n05:28 Faktor 1 & 2—Disparitas Harga: Mengapa Pengusaha Tambang Lebih Memilih Ekspor Senilai $120 Per Ton\n\n06:38 Faktor 3—Psikologi Kuota Beras: Logika Pengusaha Mengamankan Margin di Tengah Pemotongan Kuota\n\n07:19 Transisi Satu Pintu Danantara (DSI): Benarkah Ada Aksi \"Jual Massal\" Sebelum Regulasi 2027?\n\n08:24 Faktor 4—Jeratan Finansial Kontrak Swasta: Menguliti Beban Biaya PLN yang Mengikat Arus Kas\n\n09:05 Hambatan Likuiditas PLN: Kapal Eskpor Terus Berlayar Saat Pembangkit Domestik Kehabisan Bahan Bakar\n\n09:44 Dampak Berantai Krisis Air: Kelumpuhan Rumah Pompa PDAM di Surabaya, Kediri, Hingga Medan\n\n10:40 Ironi Negara Raksasa Energi: Ketika Adonan Roti Rusak & Omset Fotokopi Anjlok Kena Sektor Hulu\n\n11:26 Target Pajak 2026 Terancam: Bagaimana Matinya Listrik Menggerogoti Basis Konsumsi Domestik\n\n12:14 Gelombang Protes Mahasiswa: Mempertanyakan Transparansi dan Lingkaran Elite di Samping Pak Prabowo\n\n13:08 Klaim Meleset Pemerintah: Janji Stok Aman Menteri Bahlil Versus Analisis Skeptis Lembaga Independen (IESR)\n\n14:18 Solusi Jangka Pendek vs Masalah Struktural: Kebiasaan Penambalan Permukaan yang Terus Berulang\n\n15:14 Bahaya Monopoli Energi: Ketiadaan Alternatif \"Plan B\" Bagi Konsumen Ketika Sistem Utama Gagal\n\n16:41 Refleksi Ketahanan Energi: Ketergantungan 75% Batubara & Hak Rakyat Atas Transparansi Informasi\n\n18:20 Closing: Suarakan Aspirasi di Kolom Komentar, Mari Selamatkan Ekonomi Keluarga! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "uPmPqZfR5q4"}}, {"key": "sb30official", "attributes": {"label": "sb30official", "x": 485.31575838652685, "y": 752.3646773711187, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 64.4796, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "uPmPqZfR5q4", "id": "sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "INDONESIA GELAP: Negara Kaya Batu Bara, Kok Mati Terus Merugikan Pengusaha UMKM?\n\n00:00 Hook: Jeritan UMKM di Bandung Hingga Isu Konspirasi \"Blackout 7 Hari\" di Tahun 2026\n\n00:51 Realita Makro: Kerugian Sektor Manufaktur Tembus Miliaran Rupiah Per Jam Akibat Pemadaman\n\n01:55 Ironi Sistem Jamali: Cadangan Daya 32% yang Tetap Jebol Akibat Krisis di Sektor Hulu\n\n02:35 Ketimpangan Modal: Mengapa UMKM Menjadi Korban Paling Rentan dari Kegagalan Sistem Terpusat\n\n03:29 Kronologi Krisis Kelistrikan 2026: Membaca Manipulasi Data Keamanan Stok Batubara PLN\n\n04:39 4 Faktor Utama Meledaknya Krisis: Kebijakan Kuota Produksi Hingga Kontrak Finansial Kaku\n\n05:28 Faktor 1 & 2—Disparitas Harga: Mengapa Pengusaha Tambang Lebih Memilih Ekspor Senilai $120 Per Ton\n\n06:38 Faktor 3—Psikologi Kuota Beras: Logika Pengusaha Mengamankan Margin di Tengah Pemotongan Kuota\n\n07:19 Transisi Satu Pintu Danantara (DSI): Benarkah Ada Aksi \"Jual Massal\" Sebelum Regulasi 2027?\n\n08:24 Faktor 4—Jeratan Finansial Kontrak Swasta: Menguliti Beban Biaya PLN yang Mengikat Arus Kas\n\n09:05 Hambatan Likuiditas PLN: Kapal Eskpor Terus Berlayar Saat Pembangkit Domestik Kehabisan Bahan Bakar\n\n09:44 Dampak Berantai Krisis Air: Kelumpuhan Rumah Pompa PDAM di Surabaya, Kediri, Hingga Medan\n\n10:40 Ironi Negara Raksasa Energi: Ketika Adonan Roti Rusak & Omset Fotokopi Anjlok Kena Sektor Hulu\n\n11:26 Target Pajak 2026 Terancam: Bagaimana Matinya Listrik Menggerogoti Basis Konsumsi Domestik\n\n12:14 Gelombang Protes Mahasiswa: Mempertanyakan Transparansi dan Lingkaran Elite di Samping Pak Prabowo\n\n13:08 Klaim Meleset Pemerintah: Janji Stok Aman Menteri Bahlil Versus Analisis Skeptis Lembaga Independen (IESR)\n\n14:18 Solusi Jangka Pendek vs Masalah Struktural: Kebiasaan Penambalan Permukaan yang Terus Berulang\n\n15:14 Bahaya Monopoli Energi: Ketiadaan Alternatif \"Plan B\" Bagi Konsumen Ketika Sistem Utama Gagal\n\n16:41 Refleksi Ketahanan Energi: Ketergantungan 75% Batubara & Hak Rakyat Atas Transparansi Informasi\n\n18:20 Closing: Suarakan Aspirasi di Kolom Komentar, Mari Selamatkan Ekonomi Keluarga! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "uPmPqZfR5q4"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "attributes": {"label": "@KompasTVDewata", "x": 505.14727054028697, "y": 989.982823149527, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "CH6D8qEmbW4", "id": "@KompasTVDewata", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Fabby Tumiwa Sebut Pemadaman Listrik Dipicu 70 Persen PLTU Kekurangan Batu Bara\n\nKOMPAS.TV  Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah memicu keluhan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku usaha mengaku mengalami penurunan omzet hingga jutaan rupiah akibat terganggunya aktivitas produksi dan layanan kepada pelanggan.\n\nDi tengah kondisi tersebut, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan telah meminta PLN mempercepat langkah mitigasi untuk mencegah pemadaman listrik berkepanjangan. Bahlil juga menegaskan tidak ada kendala pasokan batu bara dari sisi pemerintah, namun distribusi ke pembangkit listrik PLN dan mitra perlu dipastikan berjalan lancar.\n\nLalu, apa sebenarnya penyebab utama pemadaman bergilir yang meluas di Pulau Jawa? Benarkah gangguan teknis pada sejumlah pembangkit menjadi faktor utama, atau justru persoalan stok batu bara yang berada di bawah batas aman?\n\nMenurut CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) sekaligus pengamat energi, Fabby Tumiwa, kondisi ini diduga dipicu kombinasi beberapa faktor. Namun, faktor dominan disebut berasal dari ketersediaan batu bara di sejumlah PLTU yang berada di bawah level aman sehingga pembangkit tidak dapat beroperasi pada kapasitas maksimal. Fabby memperkirakan sekitar 60 hingga 70 persen PLTU di sistem Jawa-Bali mengalami kondisi pasokan batu bara yang tidak ideal, sehingga pasokan daya harus dikurangi sambil menunggu kedatangan stok baru.\n\nLalu, seberapa besar dampak pemadaman ini terhadap masyarakat dan pelaku UMKM? Mengapa pemadaman bisa terjadi di tengah sistem kelistrikan Jawa yang selama ini disebut memiliki cadangan daya cukup? Dan apakah peristiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan yang lebih andal?\n\nPembahasan selengkapnya akan menghadirkan CEO IESR sekaligus pengamat dan ahli transisi energi, Fabby Tumiwa.\n\n#PemadamanListrik #PLN #BahlilLahadalia #FabbyTumiwa #ESDM\n\nTerima kasih sudah menonton!\n\nJangan lewatkan berita dan inspirasi terkini dari Pulau Dewata. Dukung kami dengan LIKE, berikan pandangan Anda di KOMENTAR, BAGIKAN kepada kerabat Anda, dan pastikan Anda SUBSCRIBE untuk mendapatkan notifikasi video terbaru.\n\n🔔 Jangan Lupa Nyalakan Lonceng Notifikasi! 🔔\n\nKompasTV Dewata Official Channel.\nInspirasi Bali. Berita Terpercaya.\n\nTonton Kami Langsung di TV:\nSetiap hari pukul 05.30 WITA - 08.00 WITA\n\nJelajahi Konten Kami:\n\n🎥 VIDEO TERBARU:    /   \n\n✅ SUBSCRIBE SEKARANG:    /   \n\nIkuti Kami di Media Sosial:\n\nFacebook:   / kompastvdewata  \n\nInstagram:   / kompastvbalidewata", "post_id": "CH6D8qEmbW4"}}, {"key": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "kompastvdewata", "x": 272.44176031917175, "y": 831.1134412668904, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 64.4796, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "CH6D8qEmbW4", "id": "kompastvdewata", "source": "youtube-000001", "content": "[FULL] Fabby Tumiwa Sebut Pemadaman Listrik Dipicu 70 Persen PLTU Kekurangan Batu Bara\n\nKOMPAS.TV  Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah memicu keluhan masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku usaha mengaku mengalami penurunan omzet hingga jutaan rupiah akibat terganggunya aktivitas produksi dan layanan kepada pelanggan.\n\nDi tengah kondisi tersebut, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan telah meminta PLN mempercepat langkah mitigasi untuk mencegah pemadaman listrik berkepanjangan. Bahlil juga menegaskan tidak ada kendala pasokan batu bara dari sisi pemerintah, namun distribusi ke pembangkit listrik PLN dan mitra perlu dipastikan berjalan lancar.\n\nLalu, apa sebenarnya penyebab utama pemadaman bergilir yang meluas di Pulau Jawa? Benarkah gangguan teknis pada sejumlah pembangkit menjadi faktor utama, atau justru persoalan stok batu bara yang berada di bawah batas aman?\n\nMenurut CEO Institute for Essential Services Reform (IESR) sekaligus pengamat energi, Fabby Tumiwa, kondisi ini diduga dipicu kombinasi beberapa faktor. Namun, faktor dominan disebut berasal dari ketersediaan batu bara di sejumlah PLTU yang berada di bawah level aman sehingga pembangkit tidak dapat beroperasi pada kapasitas maksimal. Fabby memperkirakan sekitar 60 hingga 70 persen PLTU di sistem Jawa-Bali mengalami kondisi pasokan batu bara yang tidak ideal, sehingga pasokan daya harus dikurangi sambil menunggu kedatangan stok baru.\n\nLalu, seberapa besar dampak pemadaman ini terhadap masyarakat dan pelaku UMKM? Mengapa pemadaman bisa terjadi di tengah sistem kelistrikan Jawa yang selama ini disebut memiliki cadangan daya cukup? Dan apakah peristiwa ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan yang lebih andal?\n\nPembahasan selengkapnya akan menghadirkan CEO IESR sekaligus pengamat dan ahli transisi energi, Fabby Tumiwa.\n\n#PemadamanListrik #PLN #BahlilLahadalia #FabbyTumiwa #ESDM\n\nTerima kasih sudah menonton!\n\nJangan lewatkan berita dan inspirasi terkini dari Pulau Dewata. Dukung kami dengan LIKE, berikan pandangan Anda di KOMENTAR, BAGIKAN kepada kerabat Anda, dan pastikan Anda SUBSCRIBE untuk mendapatkan notifikasi video terbaru.\n\n🔔 Jangan Lupa Nyalakan Lonceng Notifikasi! 🔔\n\nKompasTV Dewata Official Channel.\nInspirasi Bali. Berita Terpercaya.\n\nTonton Kami Langsung di TV:\nSetiap hari pukul 05.30 WITA - 08.00 WITA\n\nJelajahi Konten Kami:\n\n🎥 VIDEO TERBARU:    /   \n\n✅ SUBSCRIBE SEKARANG:    /   \n\nIkuti Kami di Media Sosial:\n\nFacebook:   / kompastvdewata  \n\nInstagram:   / kompastvbalidewata", "post_id": "CH6D8qEmbW4"}}, {"key": "@Bennix", "attributes": {"label": "@Bennix", "x": 486.21522109350525, "y": 48.221268951165406, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "bGKMKgI443k", "id": "@Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "RUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nRUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nFenomena menarik terjadi di Asia Tenggara ketika jutaan warga Malaysia berbondong-bondong datang ke Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia. Banyak pihak menilai perbedaan kurs yang semakin lebar membuat Indonesia menjadi destinasi wisata, belanja, kuliner, hingga hiburan yang jauh lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia. Benarkah hingga 2 juta warga Malaysia menyerbu Indonesia? Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia, sektor pariwisata, UMKM, hotel, pusat perbelanjaan, dan masyarakat lokal?\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta di balik ramainya kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli warga Malaysia, serta mengapa kota-kota seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali menjadi tujuan favorit wisatawan dari negeri jiran. Kita juga akan melihat bagaimana pelemahan rupiah dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus tantangan bagi Indonesia di tengah persaingan ekonomi kawasan ASEAN.\n\nSelain itu, video ini mengulas hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia, perkembangan kurs rupiah terhadap ringgit, tren pariwisata lintas negara, serta dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Apakah fenomena ini menjadi bukti Indonesia semakin murah bagi wisatawan asing? Ataukah justru menjadi sinyal adanya persoalan ekonomi yang lebih besar? Simak pembahasannya sampai selesai.\n\nJangan lupa subscribe, like, dan bagikan video ini agar semakin banyak masyarakat yang memahami perkembangan ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, serta dinamika pariwisata dan perdagangan di Asia Tenggara.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "bGKMKgI443k"}}, {"key": "Bennix", "attributes": {"label": "Bennix", "x": 866.6804765895324, "y": 699.2528382146475, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.8642, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bGKMKgI443k", "id": "Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "RUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nRUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nFenomena menarik terjadi di Asia Tenggara ketika jutaan warga Malaysia berbondong-bondong datang ke Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia. Banyak pihak menilai perbedaan kurs yang semakin lebar membuat Indonesia menjadi destinasi wisata, belanja, kuliner, hingga hiburan yang jauh lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia. Benarkah hingga 2 juta warga Malaysia menyerbu Indonesia? Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia, sektor pariwisata, UMKM, hotel, pusat perbelanjaan, dan masyarakat lokal?\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta di balik ramainya kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli warga Malaysia, serta mengapa kota-kota seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali menjadi tujuan favorit wisatawan dari negeri jiran. Kita juga akan melihat bagaimana pelemahan rupiah dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus tantangan bagi Indonesia di tengah persaingan ekonomi kawasan ASEAN.\n\nSelain itu, video ini mengulas hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia, perkembangan kurs rupiah terhadap ringgit, tren pariwisata lintas negara, serta dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Apakah fenomena ini menjadi bukti Indonesia semakin murah bagi wisatawan asing? Ataukah justru menjadi sinyal adanya persoalan ekonomi yang lebih besar? Simak pembahasannya sampai selesai.\n\nJangan lupa subscribe, like, dan bagikan video ini agar semakin banyak masyarakat yang memahami perkembangan ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, serta dinamika pariwisata dan perdagangan di Asia Tenggara.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "bGKMKgI443k"}}, {"key": "bennix.official", "attributes": {"label": "bennix.official", "x": 4.20357808785865, "y": 734.5504187273821, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.8642, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bGKMKgI443k", "id": "bennix.official", "source": "youtube-000001", "content": "RUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nRUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nFenomena menarik terjadi di Asia Tenggara ketika jutaan warga Malaysia berbondong-bondong datang ke Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia. Banyak pihak menilai perbedaan kurs yang semakin lebar membuat Indonesia menjadi destinasi wisata, belanja, kuliner, hingga hiburan yang jauh lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia. Benarkah hingga 2 juta warga Malaysia menyerbu Indonesia? Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia, sektor pariwisata, UMKM, hotel, pusat perbelanjaan, dan masyarakat lokal?\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta di balik ramainya kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli warga Malaysia, serta mengapa kota-kota seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali menjadi tujuan favorit wisatawan dari negeri jiran. Kita juga akan melihat bagaimana pelemahan rupiah dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus tantangan bagi Indonesia di tengah persaingan ekonomi kawasan ASEAN.\n\nSelain itu, video ini mengulas hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia, perkembangan kurs rupiah terhadap ringgit, tren pariwisata lintas negara, serta dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Apakah fenomena ini menjadi bukti Indonesia semakin murah bagi wisatawan asing? Ataukah justru menjadi sinyal adanya persoalan ekonomi yang lebih besar? Simak pembahasannya sampai selesai.\n\nJangan lupa subscribe, like, dan bagikan video ini agar semakin banyak masyarakat yang memahami perkembangan ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, serta dinamika pariwisata dan perdagangan di Asia Tenggara.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "bGKMKgI443k"}}, {"key": "bennix.real", "attributes": {"label": "bennix.real", "x": 53.31038524046239, "y": 943.1809193002786, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.8642, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bGKMKgI443k", "id": "bennix.real", "source": "youtube-000001", "content": "RUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nRUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nFenomena menarik terjadi di Asia Tenggara ketika jutaan warga Malaysia berbondong-bondong datang ke Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia. Banyak pihak menilai perbedaan kurs yang semakin lebar membuat Indonesia menjadi destinasi wisata, belanja, kuliner, hingga hiburan yang jauh lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia. Benarkah hingga 2 juta warga Malaysia menyerbu Indonesia? Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia, sektor pariwisata, UMKM, hotel, pusat perbelanjaan, dan masyarakat lokal?\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta di balik ramainya kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli warga Malaysia, serta mengapa kota-kota seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali menjadi tujuan favorit wisatawan dari negeri jiran. Kita juga akan melihat bagaimana pelemahan rupiah dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus tantangan bagi Indonesia di tengah persaingan ekonomi kawasan ASEAN.\n\nSelain itu, video ini mengulas hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia, perkembangan kurs rupiah terhadap ringgit, tren pariwisata lintas negara, serta dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Apakah fenomena ini menjadi bukti Indonesia semakin murah bagi wisatawan asing? Ataukah justru menjadi sinyal adanya persoalan ekonomi yang lebih besar? Simak pembahasannya sampai selesai.\n\nJangan lupa subscribe, like, dan bagikan video ini agar semakin banyak masyarakat yang memahami perkembangan ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, serta dinamika pariwisata dan perdagangan di Asia Tenggara.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "bGKMKgI443k"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 364.5403861434876, "y": 112.78259027816773, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 54.8642, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bGKMKgI443k", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "RUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nRUPIAH MELEMAH RINGGIT MENGUAT!! 2 JUTA RAKYAT MALAYSIA SERBU INDONESIA?\n\nFenomena menarik terjadi di Asia Tenggara ketika jutaan warga Malaysia berbondong-bondong datang ke Indonesia di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap ringgit Malaysia. Banyak pihak menilai perbedaan kurs yang semakin lebar membuat Indonesia menjadi destinasi wisata, belanja, kuliner, hingga hiburan yang jauh lebih murah bagi wisatawan asal Malaysia. Benarkah hingga 2 juta warga Malaysia menyerbu Indonesia? Apa dampaknya bagi ekonomi Indonesia, sektor pariwisata, UMKM, hotel, pusat perbelanjaan, dan masyarakat lokal?\n\nDalam video ini kita akan membahas fakta di balik ramainya kedatangan wisatawan Malaysia ke Indonesia, pengaruh nilai tukar rupiah terhadap daya beli warga Malaysia, serta mengapa kota-kota seperti Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali menjadi tujuan favorit wisatawan dari negeri jiran. Kita juga akan melihat bagaimana pelemahan rupiah dapat menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus tantangan bagi Indonesia di tengah persaingan ekonomi kawasan ASEAN.\n\nSelain itu, video ini mengulas hubungan ekonomi Indonesia dan Malaysia, perkembangan kurs rupiah terhadap ringgit, tren pariwisata lintas negara, serta dampak yang dirasakan oleh pelaku usaha lokal. Apakah fenomena ini menjadi bukti Indonesia semakin murah bagi wisatawan asing? Ataukah justru menjadi sinyal adanya persoalan ekonomi yang lebih besar? Simak pembahasannya sampai selesai.\n\nJangan lupa subscribe, like, dan bagikan video ini agar semakin banyak masyarakat yang memahami perkembangan ekonomi Indonesia, nilai tukar rupiah, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia, serta dinamika pariwisata dan perdagangan di Asia Tenggara.\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "bGKMKgI443k"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "@kabarbursadotcom", "x": 8.092568704838765, "y": 164.45592090693972, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "BwDJtn4m97Q", "id": "@kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] Daya Beli Kelas Menengah Tergerus: Ancaman Nyata bagi Ekonomi Nasional\n\nKABARBURSA.COM — Kelas menengah Indonesia dinilai menghadapi tekanan yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, bunga kredit, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Data BPS mencatat jumlah kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 47 juta orang dalam lima tahun terakhir, padahal kelompok ini menyumbang lebih dari 81 persen total konsumsi nasional. Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan bahwa pelemahan daya beli kelas menengah berpotensi memicu efek domino: menekan UMKM, meningkatkan kredit bermasalah, hingga mengurangi penerimaan pajak negara. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi publik dan pembuat kebijakan bahwa stabilitas konsumsi kelas menengah adalah fondasi ketahanan ekonomi Indonesia. Jangan lewatkan analisis lengkapnya — subscribe dan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#kelasmenegah #dayabeli #ekonomiindonesia #bps #upnveteranjakarta #konsumsinasional #pertumbuhanekonomi #umkm #kreditbermasalah #kebijakan ekonomi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "BwDJtn4m97Q"}}, {"key": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "kabarbursadotcom", "x": 76.1830515502674, "y": 266.4829649666416, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 83.7104, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "BwDJtn4m97Q", "id": "kabarbursadotcom", "source": "youtube-000001", "content": "[LIVE] Daya Beli Kelas Menengah Tergerus: Ancaman Nyata bagi Ekonomi Nasional\n\nKABARBURSA.COM — Kelas menengah Indonesia dinilai menghadapi tekanan yang semakin berat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, bunga kredit, dan pelemahan nilai tukar rupiah. Data BPS mencatat jumlah kelas menengah menyusut dari 57 juta menjadi 47 juta orang dalam lima tahun terakhir, padahal kelompok ini menyumbang lebih dari 81 persen total konsumsi nasional. Ekonom dan pakar kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, mengingatkan bahwa pelemahan daya beli kelas menengah berpotensi memicu efek domino: menekan UMKM, meningkatkan kredit bermasalah, hingga mengurangi penerimaan pajak negara. Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi publik dan pembuat kebijakan bahwa stabilitas konsumsi kelas menengah adalah fondasi ketahanan ekonomi Indonesia. Jangan lewatkan analisis lengkapnya — subscribe dan tinggalkan pendapat Anda di kolom komentar.\n\nBuka dan baca berita terkait hanya di portal https://kabarbursa.com/\nKabarbursa.com adalah portal berita finansial PT Kabar Bursa Indonesia yang merupakan bagian dari jaringan PT Kabar Grup Indonesia atau KGI Network. Kabarbursa.com menyajikan berita ekonomi terkini, analisis mendalam, investasi dan inspirasi bisnis.\n\nKamu juga bisa mengunjungi media sosial Kabar Bursa:\nYoutube:    /   \nInstagram:   / kabarbursacom  \nTiktok:   / kabarbursacom  \nWA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Vae5...\n\n#kelasmenegah #dayabeli #ekonomiindonesia #bps #upnveteranjakarta #konsumsinasional #pertumbuhanekonomi #umkm #kreditbermasalah #kebijakan ekonomi #kabarbursa #news #newsupdate #beritaterkini #beritasaham #beritaekonomi", "post_id": "BwDJtn4m97Q"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "attributes": {"label": "@wawasan-cerdas", "x": 492.0432170132163, "y": 873.4158074207012, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 45.2489, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "99uEfTWgMVE", "id": "@wawasan-cerdas", "source": "youtube-000001", "content": "KIAMAT TRADER?! Wacana Trading Dianggap Omzet Pajak & Dunia Lagi Mode Hawkish! | WAWASAN CERDAS\n\n00:06 Wacana Trading Saham Dianggap Omzet Pajak\n09:37 Dunia Lagi Mode Hawkish\n17:33 The Fed Tetap Hold Rate\n25:59 Australia Paling Semangat Naikkan Rate, Indonesia Nomor Dua\n32:46 Bursa Indonesia vs Australia vs Singapura\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! Di episode kali ini, kita akan membongkar tuntas sebuah \"Perfect Storm\" atau badai mematikan yang sedang menghantui pasar modal Indonesia. Ada dua ancaman raksasa yang siap menggerus portofolio Anda: wacana mengerikan dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait trading saham, dan kondisi makroekonomi global yang sedang berada dalam mode hawkish ekstrem!\n\n🚨 Bencana Pajak Saham: Jual Rugi Tetap Dianggap Omzet? Pernahkah Anda membayangkan transaksi saham Anda disamakan dengan jualan warung kelontong? Kegaduhan luar biasa sedang melanda komunitas trader ritel setelah munculnya wacana dari penyuluhan DJP di YouTube yang mengindikasikan bahwa aktivitas trading saham aktif dapat dikategorikan sebagai kegiatan usaha. Artinya, seluruh nilai transaksi jual saham Anda berpotensi dianggap sebagai peredaran bruto atau omzet!\n\nAturan ini sangat absurd karena dalam dunia saham, menjual senilai Rp1 miliar belum tentu berarti untung. Anda bisa saja menjual karena cut loss (rugi), namun di mata wacana pajak ini, nilai jual tersebut tetap memperbesar angka \"omzet\" Anda. Bahaya terbesarnya ada pada investor ritel yang juga memiliki usaha UMKM. Jika total nilai jual saham digabung dengan omzet usaha dan menembus batas Rp4,8 miliar per tahun, Anda bisa tiba-tiba kehilangan hak istimewa fasilitas PPh Final UMKM 0,5%! Padahal, selama ini setiap penjualan saham sudah otomatis dipotong PPh Final 0,1% oleh broker. Jika ritel ketakutan dan berhenti transaksi, likuiditas Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kering kerontang, bid-offer merenggang, dan IHSG bisa rontok.\n\n🌍 Dunia Mode Hawkish: Suku Bunga Mencekik & Rupiah Terkapar Seolah masalah pajak belum cukup, kita sedang dihantam tsunami dari luar negeri. Nampaknya seluruh dunia saat ini sedang kompak dalam mode hawkish, di mana era uang murah telah berakhir. Amerika Serikat memimpin ketegangan ini. Meskipun The Fed menahan suku bunga di level 3,50% - 3,75%, proyeksi inflasi PCE mereka untuk tahun 2026 justru dinaikkan menjadi 3,6% (jauh di atas target 2%). Sinyal dari The Fed ini sangat keras: suku bunga tinggi akan ditahan lebih lama!\n\nKepanikan menyebar ke seluruh dunia. Bank of Japan (BoJ) yang biasanya menjadi sumber dana murah global secara mengejutkan menaikkan suku bunga ke 1%, tertinggi dalam 31 tahun terakhir. European Central Bank (ECB) juga ikut menaikkan tiga suku bunga utamanya sebesar 25 bps. Dampaknya? Dolar AS mengamuk dan yield (imbal hasil) obligasi global terbang tinggi.\n\n📉 Apa Kabar Indonesia? Untuk membentengi nilai tukar Rupiah dari pelarian modal asing (capital outflow), Bank Indonesia (BI) terpaksa harus bertindak galak dengan menaikkan BI-Rate menjadi 5,50%. Pasar obligasi kita merespons dengan panik; yield SBN tenor 2 tahun melonjak tajam nyaris 200 bps secara year-to-date menyentuh 7,095%. Kondisi suku bunga tinggi dan dolar kuat ini menjadi racun bagi IHSG. Kombinasi yield tinggi dan potensi keluarnya investor asing membuat saham-saham growth (pertumbuhan), teknologi, properti, dan perusahaan dengan utang dolar yang besar menjadi sangat rentan dan berdarah-darah. Sebaliknya, saham bank besar dan eksportir mungkin sedikit lebih defensif, namun tetap berisiko jika asing jualan massal.\n\nBagaimana kita sebagai investor dan trader harus bersikap di tengah ancaman pajak yang tidak masuk akal dan tekanan suku bunga global ini? Temukan analisis strategis selengkapnya hanya di video ini agar Anda tidak salah mengambil keputusan finansial!\n\nDisclaimer: Video ini dibuat murni untuk tujuan edukasi, diskusi, dan informasi. Ini bukan rekomendasi atau ajakan dari penasihat investasi untuk melakukan jual atau beli saham. Segala keputusan, keuntungan, dan risiko investasi sepenuhnya berada di tangan dan tanggung jawab masing-masing investor.\n\nDukung terus Wawasan Cerdas untuk memajukan literasi finansial Indonesia! Klik tombol LIKE jika video ini membuka wawasan Anda, SUBSCRIBE sekarang juga, dan aktifkan LONCENG notifikasi supaya tidak ketinggalan update paling krusial seputar ekonomi, IHSG, dan strategi investasi.\n\nAyo suarakan pendapat Anda di kolom komentar: Apakah Anda setuju jika nilai trading saham dianggap omzet dan digabung dengan perhitungan pajak UMKM Anda? Mari kita berdiskusi dengan cerdas!\n\n\n#WawasanCerdas #IHSG #PajakSaham #TradingSaham #PajakUMKM #TheFed #SukuBungaBI #Rupiah #MarketCrash #BursaEfekIndonesia #InvestasiSaham #SahamPemula #MakroEkonomi #SahamAnjlok #KrisisEkonomi #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "99uEfTWgMVE"}}, {"key": "wawasan", "attributes": {"label": "wawasan", "x": 575.1525526609038, "y": 82.7296586630224, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 83.7104, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "99uEfTWgMVE", "id": "wawasan", "source": "youtube-000001", "content": "KIAMAT TRADER?! Wacana Trading Dianggap Omzet Pajak & Dunia Lagi Mode Hawkish! | WAWASAN CERDAS\n\n00:06 Wacana Trading Saham Dianggap Omzet Pajak\n09:37 Dunia Lagi Mode Hawkish\n17:33 The Fed Tetap Hold Rate\n25:59 Australia Paling Semangat Naikkan Rate, Indonesia Nomor Dua\n32:46 Bursa Indonesia vs Australia vs Singapura\n\nSelamat datang kembali di channel Wawasan Cerdas! Di episode kali ini, kita akan membongkar tuntas sebuah \"Perfect Storm\" atau badai mematikan yang sedang menghantui pasar modal Indonesia. Ada dua ancaman raksasa yang siap menggerus portofolio Anda: wacana mengerikan dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait trading saham, dan kondisi makroekonomi global yang sedang berada dalam mode hawkish ekstrem!\n\n🚨 Bencana Pajak Saham: Jual Rugi Tetap Dianggap Omzet? Pernahkah Anda membayangkan transaksi saham Anda disamakan dengan jualan warung kelontong? Kegaduhan luar biasa sedang melanda komunitas trader ritel setelah munculnya wacana dari penyuluhan DJP di YouTube yang mengindikasikan bahwa aktivitas trading saham aktif dapat dikategorikan sebagai kegiatan usaha. Artinya, seluruh nilai transaksi jual saham Anda berpotensi dianggap sebagai peredaran bruto atau omzet!\n\nAturan ini sangat absurd karena dalam dunia saham, menjual senilai Rp1 miliar belum tentu berarti untung. Anda bisa saja menjual karena cut loss (rugi), namun di mata wacana pajak ini, nilai jual tersebut tetap memperbesar angka \"omzet\" Anda. Bahaya terbesarnya ada pada investor ritel yang juga memiliki usaha UMKM. Jika total nilai jual saham digabung dengan omzet usaha dan menembus batas Rp4,8 miliar per tahun, Anda bisa tiba-tiba kehilangan hak istimewa fasilitas PPh Final UMKM 0,5%! Padahal, selama ini setiap penjualan saham sudah otomatis dipotong PPh Final 0,1% oleh broker. Jika ritel ketakutan dan berhenti transaksi, likuiditas Bursa Efek Indonesia (BEI) akan kering kerontang, bid-offer merenggang, dan IHSG bisa rontok.\n\n🌍 Dunia Mode Hawkish: Suku Bunga Mencekik & Rupiah Terkapar Seolah masalah pajak belum cukup, kita sedang dihantam tsunami dari luar negeri. Nampaknya seluruh dunia saat ini sedang kompak dalam mode hawkish, di mana era uang murah telah berakhir. Amerika Serikat memimpin ketegangan ini. Meskipun The Fed menahan suku bunga di level 3,50% - 3,75%, proyeksi inflasi PCE mereka untuk tahun 2026 justru dinaikkan menjadi 3,6% (jauh di atas target 2%). Sinyal dari The Fed ini sangat keras: suku bunga tinggi akan ditahan lebih lama!\n\nKepanikan menyebar ke seluruh dunia. Bank of Japan (BoJ) yang biasanya menjadi sumber dana murah global secara mengejutkan menaikkan suku bunga ke 1%, tertinggi dalam 31 tahun terakhir. European Central Bank (ECB) juga ikut menaikkan tiga suku bunga utamanya sebesar 25 bps. Dampaknya? Dolar AS mengamuk dan yield (imbal hasil) obligasi global terbang tinggi.\n\n📉 Apa Kabar Indonesia? Untuk membentengi nilai tukar Rupiah dari pelarian modal asing (capital outflow), Bank Indonesia (BI) terpaksa harus bertindak galak dengan menaikkan BI-Rate menjadi 5,50%. Pasar obligasi kita merespons dengan panik; yield SBN tenor 2 tahun melonjak tajam nyaris 200 bps secara year-to-date menyentuh 7,095%. Kondisi suku bunga tinggi dan dolar kuat ini menjadi racun bagi IHSG. Kombinasi yield tinggi dan potensi keluarnya investor asing membuat saham-saham growth (pertumbuhan), teknologi, properti, dan perusahaan dengan utang dolar yang besar menjadi sangat rentan dan berdarah-darah. Sebaliknya, saham bank besar dan eksportir mungkin sedikit lebih defensif, namun tetap berisiko jika asing jualan massal.\n\nBagaimana kita sebagai investor dan trader harus bersikap di tengah ancaman pajak yang tidak masuk akal dan tekanan suku bunga global ini? Temukan analisis strategis selengkapnya hanya di video ini agar Anda tidak salah mengambil keputusan finansial!\n\nDisclaimer: Video ini dibuat murni untuk tujuan edukasi, diskusi, dan informasi. Ini bukan rekomendasi atau ajakan dari penasihat investasi untuk melakukan jual atau beli saham. Segala keputusan, keuntungan, dan risiko investasi sepenuhnya berada di tangan dan tanggung jawab masing-masing investor.\n\nDukung terus Wawasan Cerdas untuk memajukan literasi finansial Indonesia! Klik tombol LIKE jika video ini membuka wawasan Anda, SUBSCRIBE sekarang juga, dan aktifkan LONCENG notifikasi supaya tidak ketinggalan update paling krusial seputar ekonomi, IHSG, dan strategi investasi.\n\nAyo suarakan pendapat Anda di kolom komentar: Apakah Anda setuju jika nilai trading saham dianggap omzet dan digabung dengan perhitungan pajak UMKM Anda? Mari kita berdiskusi dengan cerdas!\n\n\n#WawasanCerdas #IHSG #PajakSaham #TradingSaham #PajakUMKM #TheFed #SukuBungaBI #Rupiah #MarketCrash #BursaEfekIndonesia #InvestasiSaham #SahamPemula #MakroEkonomi #SahamAnjlok #KrisisEkonomi #WawasanCerdas #InvestasiSaham #Saham\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   / -cerdas", "post_id": "99uEfTWgMVE"}}], "edges": [{"key": "sandiuno", "source": "sandiuno", "target": "bosum.indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "clipperfinance05", "source": "clipperfinance05", "target": "tradewithsuli", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@KompasTVDewata", "source": "@KompasTVDewata", "target": "kompastvdewata", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kabarbursadotcom", "source": "@kabarbursadotcom", "target": "kabarbursadotcom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@wawasan-cerdas", "source": "@wawasan-cerdas", "target": "wawasan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}