{"nodes": [{"key": "aldotjahjadi8", "attributes": {"label": "aldotjahjadi8", "x": 519.8904101576504, "y": 142.76276645966834, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2067508459646705914", "id": "aldotjahjadi8", "source": "retweet-000002", "content": "Pertumbuhan kredit perbankan tetap kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.\n\n➡️ Kredit perbankan pada Mei…", "post_id": "2067508459646705914"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 234.15152675011598, "y": 72.73719817038271, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 9.8282, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2067508459646705914", "id": "bank_indonesia", "source": "retweet-000002", "content": "Pertumbuhan kredit perbankan tetap kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.\n\n➡️ Kredit perbankan pada Mei…", "post_id": "2067508459646705914"}}, {"key": "deddyhariadi", "attributes": {"label": "deddyhariadi", "x": 789.2879603614849, "y": 244.95803424778506, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068204589409857890", "id": "deddyhariadi", "source": "retweet-000002", "content": "Bank Indonesia (BI) mempertebal stimulus makroprudensial guna memacu laju pertumbuhan kredit perbankan domestik di tengah…", "post_id": "2068204589409857890"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 449.9955327559778, "y": 992.9950849319674, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 124.1445, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 1, "degree": 7}, "_id": "2068204589409857890", "id": "idx_channel", "source": "retweet-000002", "content": "Bank Indonesia (BI) mempertebal stimulus makroprudensial guna memacu laju pertumbuhan kredit perbankan domestik di tengah…", "post_id": "2068204589409857890"}}, {"key": "isari68", "attributes": {"label": "isari68", "x": 747.7758396196942, "y": 392.29450654634104, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2068207203178418648", "id": "isari68", "source": "retweet-000002", "content": "Bank Indonesia (BI) mempertebal stimulus makroprudensial guna memacu laju pertumbuhan kredit perbankan domestik di tengah…", "post_id": "2068207203178418648"}}, {"key": "keuangan_", "attributes": {"label": "keuangan_", "x": 240.08581666074403, "y": 573.5561928118992, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2067597476027306142", "id": "keuangan_", "source": "tweet-000004", "content": "Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menunjukkan tren yang kuat dan tetap menjadi salah satu motor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.\n\nhttps://t.co/nBpmQ6eq38", "post_id": "2067597476027306142"}}, {"key": "AidilAKBAR", "attributes": {"label": "AidilAKBAR", "x": 363.93675360372725, "y": 935.5173426484598, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067597476027306142", "id": "AidilAKBAR", "source": "tweet-000004", "content": "Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan kredit perbankan nasional masih menunjukkan tren yang kuat dan tetap menjadi salah satu motor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.\n\nhttps://t.co/nBpmQ6eq38", "post_id": "2067597476027306142"}}, {"key": "BungIdoe", "attributes": {"label": "BungIdoe", "x": 715.8288312348171, "y": 127.67337894626219, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2067567714097611020", "id": "BungIdoe", "source": "tweet-000004", "content": "Pertumbuhan kredit melambat, pertumbuhan ekonomi mayoritas disokong ama konsumsi. Pertumbuhan Q2 bakal kureng bagus, tidak seperti Q1.", "post_id": "2067567714097611020"}}, {"key": "saptaipb", "attributes": {"label": "saptaipb", "x": 903.878254009349, "y": 762.8897578034947, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067567714097611020", "id": "saptaipb", "source": "tweet-000004", "content": "Pertumbuhan kredit melambat, pertumbuhan ekonomi mayoritas disokong ama konsumsi. Pertumbuhan Q2 bakal kureng bagus, tidak seperti Q1.", "post_id": "2067567714097611020"}}, {"key": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mancingsaham", "x": 391.3641868032999, "y": 251.41727525436286, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 45.9795, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3921534156681798507_52512310886", "id": "mancingsaham", "source": "instagram-000001", "content": "DBS Group Research menilai BBCA masih menjadi bank besar paling defensif di Indonesia berkat rasio CASA yang tinggi, sehingga mampu menjaga biaya dana tetap rendah dan profitabilitas tetap kuat. 💰\n\nMeski pertumbuhan kredit melambat, kinerja BBCA tetap ditopang oleh peningkatan pendapatan berbasis komisi, terutama dari aktivitas valas dan perdagangan. DBS pun mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp8.000 per saham. 🎯\n\nPer 17 Juni 2026, saham BBCA menguat 3,98% ke Rp6.525 dan telah naik 26,7% dalam sepekan seiring kembalinya minat investor ke saham-saham perbankan berfundamental kuat. 🚀\n\nSumber: IDX Channel, 17 Juni 2026\n\nGabung di  community untuk analisis market, stockpick pilihan, update berita saham, dan diskusi eksklusif dengan investor & trader lainnya. 📩 Bergabung sekarang! Klik lynk.id/owennath atau chat 081251880459 (WhatsApp). 🚀\n\n#BBCA #BCA #SahamBBCA #Perbankan #IHSG #Investasi #SahamIndonesia #BlueChip #ValueInvesting #mancingsaham", "post_id": "3921534156681798507_52512310886"}}, {"key": "arahjakarta", "attributes": {"label": "arahjakarta", "x": 148.0583907501779, "y": 271.43622167609374, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 45.9795, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7641305557936426261", "id": "arahjakarta", "source": "tiktok-000001", "content": "Presiden Prabowo Subianto melempar kebijakan populis baru dengan memerintahkan bank-bank pelat merah (Himbara) untuk memangkas bunga kredit bagi rakyat kecil menjadi maksimal 5% per tahun. Langkah ekstrem ini diambil setelah Presiden menyoroti jeratan bunga pinjaman di lapangan yang diklaimnya bisa mencekik hingga 70% setahun. Merespons titah istana, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Dian Ediana Rae, angkat bicara (17/5).  Meski mengapresiasi niat baik pemerintah untuk membantu kelompok unbankable, OJK langsung mengingatkan perbankan untuk memperketat tata kelola dan manajemen risiko. Otoritas mendorong bank melakukan stress test berkala serta menyiapkan pencadangan yang memadai guna mengantisipasi potensi ledakan kredit macet di tengah skenario ekonomi global yang sedang bergejolak. Perintah penurunan bunga hingga di bawah tingkat inflasi riil atau biaya dana (cost of fund) perbankan saat ini adalah kebijakan yang berisiko tinggi. Di tengah situasi makro ekonomi yang sensitif—di mana Rupiah sempat tersungkur ke level Rp17.500—memaksa bank BUMN menyalurkan kredit murah tanpa kalkulasi matang bisa mengikis ketahanan modal perbankan nasional.  Jika tidak disubsidi penuh oleh APBN melalui skema Subsidi Bunga, kebijakan ini akan mengorbankan tingkat kesehatan bank-bank negara demi pemenuhan syahwat politik jangka pendek. Publik patut waspada: tanpa pengawasan ketat, pemaksaan kredit murah berisiko menciptakan gelombang Non-Performing Loan (NPL) baru, di mana dana masyarakat justru habis menguap akibat penyaluran yang tidak kredibel dan salah sasaran. Niat baik memberi modal murah bagi rakyat jangan sampai mengorbankan kesehatan bank negara, karena merawat kepercayaan pasar jauh lebih mahal ketimbang meramu retorika di panggung pidato. Menurut lo, bunga kredit 5% ini bakal beneran bikin UMKM kita maju, atau justru bakal bikin bank-bank BUMN kita yang kolaps akibat kredit macet? Follow  untuk memantau stabilitas perbankan dan kebijakan ekonomi nasional. Tetap kritis, kawal uang negara, jangan biarkan sistem keuangan kita rapuh akibat kebijakan yang dipaksakan tanpa mitigasi risiko yang matang!", "post_id": "7641305557936426261"}}, {"key": "myterminal.id", "attributes": {"label": "myterminal.id", "x": 93.37379754034436, "y": 460.41708570900676, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 45.9795, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7650469763021376788", "id": "myterminal.id", "source": "tiktok-000001", "content": "Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami lonjakan signifikan sebesar 19% dalam tiga hari terakhir, mencapai Rp 5.825, yang menarik perhatian investor asing dengan catatan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 387,96 miliar. Dalam periode perdagangan Kamis (11/6), saham BBCA menjadi yang paling banyak diburu investor asing dan menyumbang 14,25% dari total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia, mencapai Rp 3,12 triliun. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900, menilai valuasi saham ini masih undervalued pada kisaran -2 SD P/BV dan menjadikannya pilihan utama di sektor perbankan. BBCA berencana untuk membagikan dividen sebanyak tiga kali dalam tahun ini, dengan dividen interim pertama sebesar Rp 20 per saham yang akan dibagikan pada 26 Juni 2026. Selain pembagian dividen, BBCA juga akan melaksanakan program pembelian kembali saham (buyback) hingga maksimal Rp 5 triliun selama periode 12 bulan, sebagai bentuk optimisme terhadap pasar modal Indonesia. Manajemen BBCA menyatakan bahwa aksi korporasi seperti pembagian dividen dan buyback tidak akan memberikan dampak material pada kondisi keuangan atau operasional perusahaan, serta tetap mematuhi prinsip GCG dan regulasi yang berlaku. Menanggapi kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 5,50%, BBCA terus mencermati perkembangan makroekonomi dan menjaga keseimbangan antara likuiditas dan pertumbuhan kredit yang sehat, serta menyesuaikan suku bunga kredit agar tetap kompetitif. Follow instagram", "post_id": "7650469763021376788"}}, {"key": "cipie.aja.sih", "attributes": {"label": "cipie.aja.sih", "x": 775.8414341506559, "y": 97.80968439440318, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7588942704592145685", "id": "cipie.aja.sih", "source": "tiktok-000001", "content": "Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Layanan Beli Sekarang Bayar Nanti (Buy Now Pay Later/BNPL) sebagai langkah mitigasi risiko atas pesatnya pertumbuhan pembiayaan digital di sektor jasa keuangan. Aturan ini mulai berlaku sejak diundangkan pada 15 Desember 2025. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, mengatakan regulasi tersebut disusun untuk memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko dalam layanan BNPL. “Pengaturan ini bertujuan memberikan kepastian hukum, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, serta mendorong pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan,” kata Ismail dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/12/2025). Ismail menjelaskan, pengaturan BNPL dalam Buy Now Pay Later sejalan dengan transformasi digital sektor jasa keuangan dan agenda peningkatan inklusi keuangan nasional, dengan tetap menempatkan kepercayaan masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam beleid tersebut ditegaskan bahwa penyelenggaraan layanan BNPL hanya dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan. Bank Umum dapat menyelenggarakan BNPL dengan mengacu pada ketentuan perbankan yang berlaku, sementara Perusahaan Pembiayaan wajib memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari OJK. “Penyelenggaraan BNPL dapat dilakukan secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya. POJK 32 Tahun 2025 juga mengatur karakteristik utama layanan BNPL, yakni digunakan untuk pembiayaan pembelian barang dan/atau jasa secara nontunai, tanpa agunan, memiliki batas plafon tertentu, serta dilakukan melalui sistem elektronik dengan skema pembayaran angsuran sesuai kesepakatan. Dalam pelaksanaannya, Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan diwajibkan menerapkan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, serta perlindungan data pribadi nasabah atau debitur sesuai peraturan perundang-undangan. Regulasi ini juga mewajibkan penyelenggara BNPL untuk menyampaikan keterbukaan informasi yang jelas, transparan, dan mudah dipahami kepada calon nasabah maupun nasabah. Informasi tersebut mencakup sumber dana pembiayaan, jumlah serta frekuensi cicilan, hingga informasi lain yang ditetapkan OJK. Kewajiban keterbukaan informasi itu diharapkan dapat membantu konsumen mengambil keputusan pembiayaan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus meminimalkan risiko gagal bayar. Selain itu, POJK 32 Tahun 2025 turut mengatur mekanisme penagihan, kewajiban pelaporan kepada OJK, serta ketentuan penghentian penyelenggaraan layanan BNPL, baik atas inisiatif penyelenggara maupun atas perintah OJK. Dalam aturan tersebut, OJK juga diberikan kewenangan menetapkan kebijakan tertentu, termasuk batas maksimum manfaat ekonomi bagi Perusahaan Pembiayaan dalam penyelenggaraan layanan BNPL. (vv)  Jasa Keuangan", "post_id": "7588942704592145685"}}, {"key": "Otoritas", "attributes": {"label": "Otoritas", "x": 243.00360697753064, "y": 717.7807876414718, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 18.6218, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "7588942704592145685", "id": "Otoritas", "source": "tiktok-000001", "content": "Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Layanan Beli Sekarang Bayar Nanti (Buy Now Pay Later/BNPL) sebagai langkah mitigasi risiko atas pesatnya pertumbuhan pembiayaan digital di sektor jasa keuangan. Aturan ini mulai berlaku sejak diundangkan pada 15 Desember 2025. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, mengatakan regulasi tersebut disusun untuk memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko dalam layanan BNPL. “Pengaturan ini bertujuan memberikan kepastian hukum, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, serta mendorong pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan,” kata Ismail dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/12/2025). Ismail menjelaskan, pengaturan BNPL dalam Buy Now Pay Later sejalan dengan transformasi digital sektor jasa keuangan dan agenda peningkatan inklusi keuangan nasional, dengan tetap menempatkan kepercayaan masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam beleid tersebut ditegaskan bahwa penyelenggaraan layanan BNPL hanya dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan. Bank Umum dapat menyelenggarakan BNPL dengan mengacu pada ketentuan perbankan yang berlaku, sementara Perusahaan Pembiayaan wajib memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari OJK. “Penyelenggaraan BNPL dapat dilakukan secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya. POJK 32 Tahun 2025 juga mengatur karakteristik utama layanan BNPL, yakni digunakan untuk pembiayaan pembelian barang dan/atau jasa secara nontunai, tanpa agunan, memiliki batas plafon tertentu, serta dilakukan melalui sistem elektronik dengan skema pembayaran angsuran sesuai kesepakatan. Dalam pelaksanaannya, Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan diwajibkan menerapkan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, serta perlindungan data pribadi nasabah atau debitur sesuai peraturan perundang-undangan. Regulasi ini juga mewajibkan penyelenggara BNPL untuk menyampaikan keterbukaan informasi yang jelas, transparan, dan mudah dipahami kepada calon nasabah maupun nasabah. Informasi tersebut mencakup sumber dana pembiayaan, jumlah serta frekuensi cicilan, hingga informasi lain yang ditetapkan OJK. Kewajiban keterbukaan informasi itu diharapkan dapat membantu konsumen mengambil keputusan pembiayaan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus meminimalkan risiko gagal bayar. Selain itu, POJK 32 Tahun 2025 turut mengatur mekanisme penagihan, kewajiban pelaporan kepada OJK, serta ketentuan penghentian penyelenggaraan layanan BNPL, baik atas inisiatif penyelenggara maupun atas perintah OJK. Dalam aturan tersebut, OJK juga diberikan kewenangan menetapkan kebijakan tertentu, termasuk batas maksimum manfaat ekonomi bagi Perusahaan Pembiayaan dalam penyelenggaraan layanan BNPL. (vv)  Jasa Keuangan", "post_id": "7588942704592145685"}}, {"key": "intinews.co", "attributes": {"label": "intinews.co", "x": 743.9490817528431, "y": 327.00635874675163, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7588168606425402644", "id": "intinews.co", "source": "tiktok-000001", "content": "Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Layanan Beli Sekarang Bayar Nanti (Buy Now Pay Later/BNPL) sebagai langkah mitigasi risiko atas pesatnya pertumbuhan pembiayaan digital di sektor jasa keuangan. Aturan ini mulai berlaku sejak diundangkan pada 15 Desember 2025. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi OJK, M. Ismail Riyadi, mengatakan regulasi tersebut disusun untuk memberikan kepastian hukum sekaligus memperkuat tata kelola dan manajemen risiko dalam layanan BNPL. “Pengaturan ini bertujuan memberikan kepastian hukum, memperkuat tata kelola dan manajemen risiko, menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, serta mendorong pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan,” kata Ismail dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (24/12/2025). Ismail menjelaskan, pengaturan BNPL dalam Buy Now Pay Later sejalan dengan transformasi digital sektor jasa keuangan dan agenda peningkatan inklusi keuangan nasional, dengan tetap menempatkan kepercayaan masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam beleid tersebut ditegaskan bahwa penyelenggaraan layanan BNPL hanya dapat dilakukan oleh Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan. Bank Umum dapat menyelenggarakan BNPL dengan mengacu pada ketentuan perbankan yang berlaku, sementara Perusahaan Pembiayaan wajib memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari OJK. “Penyelenggaraan BNPL dapat dilakukan secara konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah sesuai ketentuan yang berlaku,” ujarnya. POJK 32 Tahun 2025 juga mengatur karakteristik utama layanan BNPL, yakni digunakan untuk pembiayaan pembelian barang dan/atau jasa secara nontunai, tanpa agunan, memiliki batas plafon tertentu, serta dilakukan melalui sistem elektronik dengan skema pembayaran angsuran sesuai kesepakatan. Dalam pelaksanaannya, Bank Umum dan Perusahaan Pembiayaan diwajibkan menerapkan prinsip kehati-hatian, perlindungan konsumen, serta perlindungan data pribadi nasabah atau debitur sesuai peraturan perundang-undangan. Regulasi ini juga mewajibkan penyelenggara BNPL untuk menyampaikan keterbukaan informasi yang jelas, transparan, dan mudah dipahami kepada calon nasabah maupun nasabah. Informasi tersebut mencakup sumber dana pembiayaan, jumlah serta frekuensi cicilan, hingga informasi lain yang ditetapkan OJK. Kewajiban keterbukaan informasi itu diharapkan dapat membantu konsumen mengambil keputusan pembiayaan secara sadar dan bertanggung jawab, sekaligus meminimalkan risiko gagal bayar. Selain itu, POJK 32 Tahun 2025 turut mengatur mekanisme penagihan, kewajiban pelaporan kepada OJK, serta ketentuan penghentian penyelenggaraan layanan BNPL, baik atas inisiatif penyelenggara maupun atas perintah OJK. Dalam aturan tersebut, OJK juga diberikan kewenangan menetapkan kebijakan tertentu, termasuk batas maksimum manfaat ekonomi bagi Perusahaan Pembiayaan dalam penyelenggaraan layanan BNPL. (vv)  Jasa Keuangan", "post_id": "7588168606425402644"}}, {"key": "IDXChannelcom", "attributes": {"label": "IDXChannelcom", "x": 941.7944893504379, "y": 152.1066828085068, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "432781620563594_1497517512172065", "id": "IDXChannelcom", "source": "facebook-000001", "content": "Bank Indonesia (BI) mempertebal stimulus makroprudensial guna memacu laju pertumbuhan kredit perbankan domestik di tengah kepungan ketidakpastian ekonomi global. Salah satu langkah terobosan yang diambil oleh bank sentral adalah dengan mendongkrak batas maksimal Rasio Pendanaan Luar Negeri Bank (RPLN) dari rentang lama sebesar 35 persen menjadi 40 persen dari total modal bersih bank.\n\nGubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan pelonggaran keran likuiditas valas ini akan mulai diimplementasikan secara resmi pada 1 Juli 2026. Penyesuaian ini dirancang agar perbankan Tanah Air memiliki ruang gerak yang lebih luang dalam menghimpun dana segar dari pasar internasional, yang kemudian dapat dialirkan kembali untuk membiayai sektor riil di dalam negeri.\n\n“Peningkatan rasio RPLN ditujukan untuk memperluas sumber pendanaan perbankan, khususnya dari luar negeri, guna mendukung penyaluran kredit dan pembiayaan bagi perekonomian dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” kata Perry dalam konferensi pers RDG BI Bulanan di Jakarta, Kamis (18/6/2026).\n\nBukan hanya melonggarkan batas pinjaman luar negeri, BI juga mempererat jalinan sinergi bersama pemerintah serta otoritas terkait lewat peluncuran Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Program taktis ini ditargetkan mampu memotong sumbat birokrasi dalam penyaluran pembiayaan.\n\nBaca selengkapnya di\nhttps://www.idxchannel.com/banking/bi-naikkan-batas-pendanaan-luar-negeri-bank-jadi-40-persen-mulai-juli-2026\n\nAtau klik link di bio \n\nFoto: Istimewa \n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #RPLM #BankIndonesia #pendanaanluarnegeri", "post_id": "432781620563594_1497517512172065"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "attributes": {"label": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "x": 909.141856000181, "y": 230.49516957913764, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "uhYE9K6vFpI", "id": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "youtube-000001", "content": "MIRIS! Rahasia Pahit UMKM Sulit Naik Kelas: Modal Sendiri vs Kredit Bank\n\nKenapa jutaan pelaku usaha di Indonesia masih jalan di tempat? Benarkah akses modal usaha menjadi dinding pembatas terbesar?\n\nVideo ini membongkar fakta mengejutkan dari riset Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) yang mencatat bahwa sebanyak 88 persen pelaku UMKM sektor informal lebih memilih menggunakan dana pribadi untuk modal usaha, ketimbang mengajukan kredit perbankan. Fenomena ini memicu perlambatan pertumbuhan kredit UMKM dan membuat sektor usaha mikro kesulitan untuk ekspansi bisnis.\n\nMengapa para pemilik usaha enggan meminjam uang ke bank? Apa saja hambatan utama dari sisi pelaku usaha dan bagaimana ketatnya seleksi perbankan dalam menyetujui pinjaman modal? Kami mengulas pandangan kritis dari para ahli ekonomi terkait dilema keterbatasan agunan, pelemahan daya beli konsumen, kenaikan suku bunga, hingga pentingnya insentif kredit serta pendampingan manajemen agar UMKM Indonesia bisa benar-benar naik kelas.\n\nSimak analisis mendalam seputar dunia usaha, tantangan pembiayaan perbankan, dan solusi konkret melalui platform kolaborasi seperti UMKM Center dalam video ini sampai habis!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #umkm  #modalusaha  #KreditBank #ekonomiindonesia  #Perbanas #bisnisumkm  #finansial \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "uhYE9K6vFpI"}}, {"key": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "koranjakarta...", "x": 323.85513375059236, "y": 647.6085788473471, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "uhYE9K6vFpI", "id": "koranjakarta...", "source": "youtube-000001", "content": "MIRIS! Rahasia Pahit UMKM Sulit Naik Kelas: Modal Sendiri vs Kredit Bank\n\nKenapa jutaan pelaku usaha di Indonesia masih jalan di tempat? Benarkah akses modal usaha menjadi dinding pembatas terbesar?\n\nVideo ini membongkar fakta mengejutkan dari riset Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas) yang mencatat bahwa sebanyak 88 persen pelaku UMKM sektor informal lebih memilih menggunakan dana pribadi untuk modal usaha, ketimbang mengajukan kredit perbankan. Fenomena ini memicu perlambatan pertumbuhan kredit UMKM dan membuat sektor usaha mikro kesulitan untuk ekspansi bisnis.\n\nMengapa para pemilik usaha enggan meminjam uang ke bank? Apa saja hambatan utama dari sisi pelaku usaha dan bagaimana ketatnya seleksi perbankan dalam menyetujui pinjaman modal? Kami mengulas pandangan kritis dari para ahli ekonomi terkait dilema keterbatasan agunan, pelemahan daya beli konsumen, kenaikan suku bunga, hingga pentingnya insentif kredit serta pendampingan manajemen agar UMKM Indonesia bisa benar-benar naik kelas.\n\nSimak analisis mendalam seputar dunia usaha, tantangan pembiayaan perbankan, dan solusi konkret melalui platform kolaborasi seperti UMKM Center dalam video ini sampai habis!\n\nBerita Selengkapnya :\n\nReporter: \nVideo Editor: Agus Prasetyo\n\n#koranjakarta #news #umkm  #modalusaha  #KreditBank #ekonomiindonesia  #Perbanas #bisnisumkm  #finansial \n============================================================\n\nKunjungi media sosial kami untuk mendapatkan informasi terbaru.\n\nInstagram:   / koranjakarta.id  \nTwitter: https://x.com/koranjakarta_id/\nFacebook:   / koran.jakarta  \nThread: https://www.threads.com/\nTiktok:   / koranjakarta  \n\nWebsite Koran Jakarta : https://koran-jakarta.com\n\nHave any idea, or business inquiries\ndigital-jakarta.com\n\nKebenaran itu Tidak Pernah Memihak!", "post_id": "uhYE9K6vFpI"}}, {"key": "@christyhsgn", "attributes": {"label": "@christyhsgn", "x": 344.33909089794787, "y": 647.4687471764312, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "SuaZsCQR2NA", "id": "@christyhsgn", "source": "youtube-000001", "content": "TUGAS PRESENTASI PROPOSAL \n\nVideo ini merupakan tugas presentasi mata kuliah Metodologi Penelitian dengan judul “Analisis Perbandingan Manajemen Risiko dan Likuiditas terhadap Kinerja Keuangan pada Bank Swasta dan Bank BUMN di Indonesia”. Penelitian ini membahas perbandingan pengelolaan risiko dan likuiditas pada bank swasta serta bank BUMN, serta pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan. Semoga video ini dapat menambah wawasan mengenai manajemen keuangan dan sektor perbankan di Indonesia.\n\nUniversitas Bina Bangsa\nFakultas Ekonomi dan Bisnis\nProgram Studi Manajemen\nMata Kuliah: Metodologi Penelitian Manajemen\nDosen Pengampu: Ade Fauji, S.E,. M.M ‪‬ \nJudul Penelitian: Analisis Perbandingan Manajemen Risiko dan Likuiditas terhadap Kinerja Keuangan pada Bank Swasta dan Bank BUMN di Indonesia\n\nDisusun oleh : Christy Desi Hasugian (11012300443)", "post_id": "SuaZsCQR2NA"}}, {"key": "adefauji_official", "attributes": {"label": "adefauji_official", "x": 250.65723464060275, "y": 554.8435074327941, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "SuaZsCQR2NA", "id": "adefauji_official", "source": "youtube-000001", "content": "TUGAS PRESENTASI PROPOSAL \n\nVideo ini merupakan tugas presentasi mata kuliah Metodologi Penelitian dengan judul “Analisis Perbandingan Manajemen Risiko dan Likuiditas terhadap Kinerja Keuangan pada Bank Swasta dan Bank BUMN di Indonesia”. Penelitian ini membahas perbandingan pengelolaan risiko dan likuiditas pada bank swasta serta bank BUMN, serta pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan perbankan. Semoga video ini dapat menambah wawasan mengenai manajemen keuangan dan sektor perbankan di Indonesia.\n\nUniversitas Bina Bangsa\nFakultas Ekonomi dan Bisnis\nProgram Studi Manajemen\nMata Kuliah: Metodologi Penelitian Manajemen\nDosen Pengampu: Ade Fauji, S.E,. M.M ‪‬ \nJudul Penelitian: Analisis Perbandingan Manajemen Risiko dan Likuiditas terhadap Kinerja Keuangan pada Bank Swasta dan Bank BUMN di Indonesia\n\nDisusun oleh : Christy Desi Hasugian (11012300443)", "post_id": "SuaZsCQR2NA"}}, {"key": "@AI-InterConnect", "attributes": {"label": "@AI-InterConnect", "x": 441.01334079799204, "y": 928.1986993664609, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "bOBAPvzkb7o", "id": "@AI-InterConnect", "source": "youtube-000001", "content": "Mentransformasi Pembayaran Digital di Nepal: Kisah CellPay bersama Niraj Shukla\n\nSelamat datang di AI InterConnect! Dalam video ini, kita akan menjelajahi konsep revolusioner ekosistem pembayaran digital di Nepal bersama Niraj Shukla, CEO CellPay. Temukan bagaimana perusahaan fintech modern mentransformasikan saluran pembayaran yang terfragmentasi menjadi sistem terpadu untuk meningkatkan inklusi keuangan dan memimpin dalam ekonomi berbasis AI.\n\n📊 Infrastruktur Pembayaran Digital menawarkan platform yang sempurna untuk peningkatan skala bisnis dan inklusi keuangan. Platform ini secara khusus dibangun untuk mereka yang ingin mengotomatiskan pembayaran B2B, menjembatani kesenjangan literasi digital, dan memimpin di dunia keuangan yang mengutamakan perangkat seluler.\n\n➡️ Transformasi Pembayaran Digital di Nepal dengan CellPay Dijelaskan\n✅ Tiga Pilar Kesuksesan dengan CellPay:\n\n➔ Pertumbuhan Berbasis Ekosistem – Kesuksesan bergantung pada pergerakan melampaui dompet seluler sederhana ke platform terpadu yang menghubungkan pengguna, pedagang, dan pasar elektronik dalam aplikasi.\n\n➔ Inklusi Berbasis Data – Pelajari bagaimana data perilaku pembayaran digunakan untuk membangun model pinjaman digital bagi pengguna tanpa jaminan tradisional.\n\n➔ Interoperabilitas Strategis – Beralih dari sistem terisolasi ke gerbang pembayaran terpadu yang menggabungkan semua saluran dan memungkinkan pembayaran lintas batas (Nepal-India).\n\n🛠️ Semua yang Anda Butuhkan untuk Meningkatkan Kehadiran Anda:\n\n➔ Advokasi Literasi Digital – Terapkan strategi untuk mendidik penduduk pedesaan dan perkotaan tentang keamanan dan kemudahan transaksi digital.\n\n➔ Manajemen Risiko Berbasis AI – Manfaatkan AI untuk deteksi penipuan secara real-time, penilaian kredit alternatif, dan penyelesaian sengketa pelanggan otomatis.\n\n➔ Identitas Digital Terpadu – Kuasai transisi menuju sistem KYC terpusat untuk menyederhanakan proses pendaftaran di seluruh jaringan perbankan dan PSP.\n\n🚀 Hasil adalah Kekuatan\n\nMenerapkan Strategi Pembayaran Inklusif menghasilkan model bisnis yang berkembang pesat yang berjalan berdasarkan kekuatan koneksi dan transparansi data. Jika Anda ingin mewujudkan impian kewirausahaan Anda dengan memanfaatkan teknologi \"Leapfrog\" dan inovasi yang mengutamakan perangkat seluler, saatnya untuk terjun ke dunia CellPay.\n\nPembayaran digital, fintech Nepal, CellPay, Niraj Shukla, inklusi keuangan, pinjaman digital, gerbang pembayaran, AI dalam keuangan, pembayaran lintas batas, pengembangan startup, sistem bisnis, masa depan pekerjaan.\n\n🔔 Berlangganan AI InterConnect untuk episode baru setiap minggu:\n📝 Berikan Komentar Anda\n\n➡️ LinkedIn -   / nirajkshukla  \n\nJika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang pendekatan GTM dan Diagnostik Pipeline AI dari AI InterConnect:\n\n➡️ https://www.aiinterconnect.com\n\n➡️ Lihat video lainnya:\n\n👉   • Building Trustworthy AI Beyond ChatGPT: Br...  \n👉    • How to Build Private AI for Enterprise Tra...  \n👉    • The Future of Vertical AI: How Indian Star...  \n👉    • Scaling Global Brand Partnerships with a L...  \n👉    • From Bookkeeping to Strategy: Sergio Sepul...  \n\n🕒 Cap waktu:\n\n0:00 – Pendahuluan: Visi AI InterConnect\n0:50 – Latar Belakang Niraj Shukla: Dari Teknik ke Kepemimpinan Fintech\n3:30 – Mendeskripsikan CellPay: Lebih dari Sekadar Dompet Digital\n5:01 – Gerbang Pembayaran Terpadu: Menggabungkan Saluran B2B\n7:40 – Tantangan Skalabilitas: Literasi Digital dan Aksesibilitas Pedesaan\n10:15 – Membangun Kepercayaan: Standar Keamanan dan Pencegahan Penipuan\n13:10 – Akuisisi Merchant: Bersaing dengan Bank Tradisional\n16:45 – Pergeseran Pasar: Penetrasi Smartphone dan Pertumbuhan QR\n20:10 – Pinjaman Digital: Mengubah Data Transaksi menjadi Kredit\n24:30 – Peran AI: Personalisasi dan Pemantauan Transaksi\n28:50 – Sukses dalam 12-18 Bulan: Peta Jalan Pinjaman Pedagang\n32:15 – Perspektif Global: Melompati Infrastruktur Tradisional\n35:40 – Saran untuk Pendiri: Jangan Abaikan Data\n40:10 – Kesimpulan: Tetaplah Penasaran dan Terus Membangun\n\n#aiinterconnect #cellpay #fintech #nepal #digitalpayments #financialinclusion #digitallending #nirajshukla #paymentgateway #startupgrowth #aipowered #crossborderpayments #mobilefirst #bankinginnovation #fintechstrategy\n-InterConnect", "post_id": "bOBAPvzkb7o"}}, {"key": "AI", "attributes": {"label": "AI", "x": 832.9601875018986, "y": 459.9111959224178, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bOBAPvzkb7o", "id": "AI", "source": "youtube-000001", "content": "Mentransformasi Pembayaran Digital di Nepal: Kisah CellPay bersama Niraj Shukla\n\nSelamat datang di AI InterConnect! Dalam video ini, kita akan menjelajahi konsep revolusioner ekosistem pembayaran digital di Nepal bersama Niraj Shukla, CEO CellPay. Temukan bagaimana perusahaan fintech modern mentransformasikan saluran pembayaran yang terfragmentasi menjadi sistem terpadu untuk meningkatkan inklusi keuangan dan memimpin dalam ekonomi berbasis AI.\n\n📊 Infrastruktur Pembayaran Digital menawarkan platform yang sempurna untuk peningkatan skala bisnis dan inklusi keuangan. Platform ini secara khusus dibangun untuk mereka yang ingin mengotomatiskan pembayaran B2B, menjembatani kesenjangan literasi digital, dan memimpin di dunia keuangan yang mengutamakan perangkat seluler.\n\n➡️ Transformasi Pembayaran Digital di Nepal dengan CellPay Dijelaskan\n✅ Tiga Pilar Kesuksesan dengan CellPay:\n\n➔ Pertumbuhan Berbasis Ekosistem – Kesuksesan bergantung pada pergerakan melampaui dompet seluler sederhana ke platform terpadu yang menghubungkan pengguna, pedagang, dan pasar elektronik dalam aplikasi.\n\n➔ Inklusi Berbasis Data – Pelajari bagaimana data perilaku pembayaran digunakan untuk membangun model pinjaman digital bagi pengguna tanpa jaminan tradisional.\n\n➔ Interoperabilitas Strategis – Beralih dari sistem terisolasi ke gerbang pembayaran terpadu yang menggabungkan semua saluran dan memungkinkan pembayaran lintas batas (Nepal-India).\n\n🛠️ Semua yang Anda Butuhkan untuk Meningkatkan Kehadiran Anda:\n\n➔ Advokasi Literasi Digital – Terapkan strategi untuk mendidik penduduk pedesaan dan perkotaan tentang keamanan dan kemudahan transaksi digital.\n\n➔ Manajemen Risiko Berbasis AI – Manfaatkan AI untuk deteksi penipuan secara real-time, penilaian kredit alternatif, dan penyelesaian sengketa pelanggan otomatis.\n\n➔ Identitas Digital Terpadu – Kuasai transisi menuju sistem KYC terpusat untuk menyederhanakan proses pendaftaran di seluruh jaringan perbankan dan PSP.\n\n🚀 Hasil adalah Kekuatan\n\nMenerapkan Strategi Pembayaran Inklusif menghasilkan model bisnis yang berkembang pesat yang berjalan berdasarkan kekuatan koneksi dan transparansi data. Jika Anda ingin mewujudkan impian kewirausahaan Anda dengan memanfaatkan teknologi \"Leapfrog\" dan inovasi yang mengutamakan perangkat seluler, saatnya untuk terjun ke dunia CellPay.\n\nPembayaran digital, fintech Nepal, CellPay, Niraj Shukla, inklusi keuangan, pinjaman digital, gerbang pembayaran, AI dalam keuangan, pembayaran lintas batas, pengembangan startup, sistem bisnis, masa depan pekerjaan.\n\n🔔 Berlangganan AI InterConnect untuk episode baru setiap minggu:\n📝 Berikan Komentar Anda\n\n➡️ LinkedIn -   / nirajkshukla  \n\nJika Anda ingin mempelajari lebih lanjut tentang pendekatan GTM dan Diagnostik Pipeline AI dari AI InterConnect:\n\n➡️ https://www.aiinterconnect.com\n\n➡️ Lihat video lainnya:\n\n👉   • Building Trustworthy AI Beyond ChatGPT: Br...  \n👉    • How to Build Private AI for Enterprise Tra...  \n👉    • The Future of Vertical AI: How Indian Star...  \n👉    • Scaling Global Brand Partnerships with a L...  \n👉    • From Bookkeeping to Strategy: Sergio Sepul...  \n\n🕒 Cap waktu:\n\n0:00 – Pendahuluan: Visi AI InterConnect\n0:50 – Latar Belakang Niraj Shukla: Dari Teknik ke Kepemimpinan Fintech\n3:30 – Mendeskripsikan CellPay: Lebih dari Sekadar Dompet Digital\n5:01 – Gerbang Pembayaran Terpadu: Menggabungkan Saluran B2B\n7:40 – Tantangan Skalabilitas: Literasi Digital dan Aksesibilitas Pedesaan\n10:15 – Membangun Kepercayaan: Standar Keamanan dan Pencegahan Penipuan\n13:10 – Akuisisi Merchant: Bersaing dengan Bank Tradisional\n16:45 – Pergeseran Pasar: Penetrasi Smartphone dan Pertumbuhan QR\n20:10 – Pinjaman Digital: Mengubah Data Transaksi menjadi Kredit\n24:30 – Peran AI: Personalisasi dan Pemantauan Transaksi\n28:50 – Sukses dalam 12-18 Bulan: Peta Jalan Pinjaman Pedagang\n32:15 – Perspektif Global: Melompati Infrastruktur Tradisional\n35:40 – Saran untuk Pendiri: Jangan Abaikan Data\n40:10 – Kesimpulan: Tetaplah Penasaran dan Terus Membangun\n\n#aiinterconnect #cellpay #fintech #nepal #digitalpayments #financialinclusion #digitallending #nirajshukla #paymentgateway #startupgrowth #aipowered #crossborderpayments #mobilefirst #bankinginnovation #fintechstrategy\n-InterConnect", "post_id": "bOBAPvzkb7o"}}, {"key": "@OptiontoFIRE", "attributes": {"label": "@OptiontoFIRE", "x": 709.106436919399, "y": 818.9370843664836, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "mkALKQPM8fg", "id": "@OptiontoFIRE", "source": "youtube-000001", "content": "Saya Menemukan DTE Terbaik untuk Menjual Opsi: Hasil Backtest SPX 10 Tahun Terungkap\n\nBuku opsi serius - https://amzn.to/4a3zDng \nGabung Keanggotaan HARI INI -    /   \n\nBab & Cap Waktu\n0:00 – Pendahuluan: Kabar Terbaru & Mengapa Saya Menghabiskan Uang untuk Backtesting\n0:36 – Pendahuluan Saluran\n1:05 – Latar Belakang dan Pengalaman Trading Saya\n1:57 – Kriteria Pengujian\n4:20 – Naked Put Memvariasikan Hasil DTE\n8:41 – Put Spread Memvariasikan DTE\n12:00 – Kesimpulan: Putusan Akhir DTE Terbaik\n15:33 – Bagaimana perubahan kecil yang diatur dalam backtesting dapat mengubah hasil\n\nDalam video ini, kami menguraikan backtest SPX 10 tahun yang ketat menggunakan Option Omega untuk menemukan delta terbaik absolut untuk menjual credit spread dan naked option. Kami menganalisis portofolio dengan modal awal $100.000 dari Januari 2016 hingga Mei 2026, menetapkan kriteria masuk yang ketat—termasuk hingga 5 posisi yang diizinkan sekaligus dengan 1 kontrak per perdagangan sambil memilih untuk mengabaikan persyaratan margin—untuk menemukan pilihan strike mana yang memaksimalkan pengembalian. Data tersebut mengungkapkan kontras besar dalam kinerja sistematis: untuk spread kredit put SPX, delta 20 yang lebih tinggi berfungsi sebagai titik optimal, sedangkan penjualan call membutuhkan pendekatan delta yang lebih rendah untuk mengurangi risiko arah. Dengan membandingkan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR), penurunan maksimum, dan rasio Sharpe di seluruh pengaturan Delta 10, 15, dan 20, panduan strategi perdagangan opsi berbasis bukti ini memberi Anda fakta kuantitatif yang tepat yang Anda butuhkan untuk mengoptimalkan manajemen risiko Anda, menyempurnakan spread vertikal Anda, dan berhenti menebak penempatan strike Anda.\n\nPenafian: Video ini BUKAN nasihat keuangan. Saya bukan penasihat keuangan. Konten ini dimaksudkan hanya untuk tujuan informasi dan hiburan untuk berbagi perjalanan dan strategi pribadi saya. Perdagangan opsi melibatkan risiko tingkat tinggi dan tidak cocok untuk semua investor. Tingkat leverage yang tinggi dapat merugikan Anda maupun menguntungkan Anda. Harap berkonsultasi dengan perencana keuangan bersertifikat atau profesional pajak sebelum membuat keputusan perdagangan apa pun. Saya tidak bertanggung jawab atas kerugian finansial apa pun yang mungkin Anda alami.\n\n*Sebagai Amazon Associate, saya mendapatkan penghasilan dari pembelian yang memenuhi syarat.", "post_id": "mkALKQPM8fg"}}, {"key": "optiontofire", "attributes": {"label": "optiontofire", "x": 133.16891086336037, "y": 10.979716547258821, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "mkALKQPM8fg", "id": "optiontofire", "source": "youtube-000001", "content": "Saya Menemukan DTE Terbaik untuk Menjual Opsi: Hasil Backtest SPX 10 Tahun Terungkap\n\nBuku opsi serius - https://amzn.to/4a3zDng \nGabung Keanggotaan HARI INI -    /   \n\nBab & Cap Waktu\n0:00 – Pendahuluan: Kabar Terbaru & Mengapa Saya Menghabiskan Uang untuk Backtesting\n0:36 – Pendahuluan Saluran\n1:05 – Latar Belakang dan Pengalaman Trading Saya\n1:57 – Kriteria Pengujian\n4:20 – Naked Put Memvariasikan Hasil DTE\n8:41 – Put Spread Memvariasikan DTE\n12:00 – Kesimpulan: Putusan Akhir DTE Terbaik\n15:33 – Bagaimana perubahan kecil yang diatur dalam backtesting dapat mengubah hasil\n\nDalam video ini, kami menguraikan backtest SPX 10 tahun yang ketat menggunakan Option Omega untuk menemukan delta terbaik absolut untuk menjual credit spread dan naked option. Kami menganalisis portofolio dengan modal awal $100.000 dari Januari 2016 hingga Mei 2026, menetapkan kriteria masuk yang ketat—termasuk hingga 5 posisi yang diizinkan sekaligus dengan 1 kontrak per perdagangan sambil memilih untuk mengabaikan persyaratan margin—untuk menemukan pilihan strike mana yang memaksimalkan pengembalian. Data tersebut mengungkapkan kontras besar dalam kinerja sistematis: untuk spread kredit put SPX, delta 20 yang lebih tinggi berfungsi sebagai titik optimal, sedangkan penjualan call membutuhkan pendekatan delta yang lebih rendah untuk mengurangi risiko arah. Dengan membandingkan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR), penurunan maksimum, dan rasio Sharpe di seluruh pengaturan Delta 10, 15, dan 20, panduan strategi perdagangan opsi berbasis bukti ini memberi Anda fakta kuantitatif yang tepat yang Anda butuhkan untuk mengoptimalkan manajemen risiko Anda, menyempurnakan spread vertikal Anda, dan berhenti menebak penempatan strike Anda.\n\nPenafian: Video ini BUKAN nasihat keuangan. Saya bukan penasihat keuangan. Konten ini dimaksudkan hanya untuk tujuan informasi dan hiburan untuk berbagi perjalanan dan strategi pribadi saya. Perdagangan opsi melibatkan risiko tingkat tinggi dan tidak cocok untuk semua investor. Tingkat leverage yang tinggi dapat merugikan Anda maupun menguntungkan Anda. Harap berkonsultasi dengan perencana keuangan bersertifikat atau profesional pajak sebelum membuat keputusan perdagangan apa pun. Saya tidak bertanggung jawab atas kerugian finansial apa pun yang mungkin Anda alami.\n\n*Sebagai Amazon Associate, saya mendapatkan penghasilan dari pembelian yang memenuhi syarat.", "post_id": "mkALKQPM8fg"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "attributes": {"label": "@OpenDialogueByAxis", "x": 888.647002952335, "y": 693.0557509496399, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "@OpenDialogueByAxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "opendialoguebyaxis", "x": 442.5931582590665, "y": 982.5772261177598, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Gmj2_GgZkgI", "id": "opendialoguebyaxis", "source": "youtube-000001", "content": "Perlambatan Ekonomi India: Apa Selanjutnya? | Dialog Terbuka | Episode 47\n\nApakah ekonomi India menghadapi krisis struktural, ataukah kita sedang menyaksikan titik balik pertumbuhan yang penting? Dalam video ini, kami memberikan analisis mendalam tentang penurunan PDB saat ini, depresiasi rupee, dan tantangan yang sedang dihadapi pertumbuhan ekonomi India.\n\nKami menguraikan mengapa perlambatan PDB nominal, yang didorong oleh kombinasi inflasi ultra-rendah dan pengetatan fiskal, telah berdampak pada pendapatan perusahaan dan valuasi pasar, yang pada akhirnya memicu arus keluar FII baru-baru ini.\n\nPelajari bagaimana dampak inflasi, risiko geopolitik, dan siklus belanja modal global membentuk kembali pasar India saat ini. Para pembicara juga membahas indikator ekonomi utama yang menunjukkan potensi pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan menjelaskan mengapa lingkungan inflasi moderat 4–5% sangat penting untuk pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Dari menganalisis mengapa rupee jatuh hingga mengeksplorasi inisiatif terbaru RBI untuk menarik modal asing, uraian ini sangat penting bagi investor. Berlangganan Open Dialogue untuk percakapan yang lebih mendalam tentang ekonomi, perbankan, dan keuangan India!\n\n\nPembicara:\nSameer Shetty: Kepala Grup, Perbankan Digital & Program Strategis, Axis Bank\n\nR Sivakumar: Kepala Investasi, Axis Mutual Fund\n\nPenanda Waktu:\n\n00:00 – Pendahuluan - Penurunan Pasar Saham India: Apa yang Sebenarnya Terjadi?\n\n04:00 – Konsolidasi Fiskal & Kenaikan Suku Bunga RBI: Akar Penyebabnya\n09:00 – Krisis Asia Barat, Arus Keluar FII & Masalah Valuasi India\n17:00 – Depresiasi Rupee: Tiga Pukulan Berat & Respons Kebijakan RBI\n23:00 – Siklus Belanja Modal AI Global — Risiko Tersembunyi dalam Pendapatan yang Ditingkatkan\n40:00 – Prospek Ekonomi India — Indikator Utama yang Perlu Diperhatikan\n44:00 – Strategi Portofolio untuk Investor Ritel\n47:50 – Kesimpulan\n\n========================================================\nVideo yang direkomendasikan:\n\n▶️ Ini Bukan Hanya Soal Minyak: Bagaimana Konflik Mempengaruhi Pertumbuhan, Inflasi & Mata Uang | Episode Spesial:    • This Isn’t Just About Oil: How the Conflic...  \n\n▶️ Pertumbuhan Ekonomi India vs. Pendapatan Per Kapita Dijelaskan | Dialog Terbuka | Episode 33:    • India’s Economic Growth vs. Per Capita Inc...  \n\n▶️ Anggota MPC RBI Menjelaskan Kebijakan Moneter, Suku Bunga, Inflasi & Dampak Ekonomi | Dialog Terbuka | Episode 37:    • RBI’s MPC Member Explains Monetary Policy,...  \n\n#krisisekonomiindia #penurunanPDB #dampakinflasi #pertumbuhanekonomiindia #depresiasimatauang #depresiasirupee #risikogeopolitik #mengaparupeejatuh #indikatorekonomi #pemulihanekonomi #perlambatanekonomi #pertumbuhanPDBrilitif #PDBnominal #tigapenyebabpukulan #dinamikainvestasiasing #konflikasiabarat #fcnrswap #sikluscapex #AxisBank #OpenDialogue\n\nBERLANGGANAN KAMI:    /   \n\nUnduh Aplikasi Axis Bank: https://play.google.com/store/apps/de...\n\nUntuk video informatif dan diskusi lebih lanjut tentang topik penting terkait Perbankan, keuangan & ekonomi:\nLinkedIn -   / axis-bank  \nInstagram -   / opendialoguebyaxisbank  \nFacebook -   / axisbank  \nX- https://x.com/AxisBank\n\nHak Cipta:\n©Axis Bank Limited [2026]. Semua hak dilindungi undang-undang. Video ini dan semua video lain di saluran ini dilindungi oleh undang-undang hak cipta dan tidak boleh digunakan atau direproduksi tanpa izin tertulis dari pemilik hak cipta.\n\nPERNYATAAN PENAFIAN HUKUM:\nDengan mengakses podcast video ini (“Podcast”), saya mengakui bahwa Axis Bank Limited dan anak perusahaannya (“AXIS BANK”) tidak memberikan jaminan, garansi, atau pernyataan apa pun mengenai keakuratan atau kecukupan informasi yang ditampilkan dalam Podcast ini. Informasi, pendapat, dan rekomendasi yang disajikan dalam Podcast ini hanya untuk informasi umum dan setiap ketergantungan pada informasi yang diberikan dalam Podcast ini dilakukan atas risiko Anda sendiri. Podcast ini tidak boleh dianggap sebagai nasihat profesional. Kecuali dinyatakan secara khusus sebaliknya, AXIS BANK tidak mendukung, menyetujui, merekomendasikan, atau mensertifikasi informasi, produk, proses, layanan, atau organisasi apa pun yang disajikan atau disebutkan dalam Podcast ini, dan informasi dari Podcast ini tidak boleh dirujuk dengan cara apa pun untuk menyiratkan persetujuan atau dukungan tersebut. Lebih lanjut, AXIS BANK tidak memberikan jaminan bahwa Podcast ini, atau server yang menyediakannya, bebas dari virus, worm, atau elemen atau kode lain yang memiliki sifat merusak atau mencemari.\n\nAXIS BANK SECARA TEGAS MENOLAK SEGALA TANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN LANGSUNG, TIDAK LANGSUNG, INSIDENTAL, KHUSUS, KONSEKUENSIAL, ATAU KERUGIAN LAINNYA YANG TIMBUL AKIBAT PENGGUNAAN, REFERENSI, KEPERCAYAAN, ATAU KETIDAKMAMPUAN INDIVIDU UNTUK MENGGUNAKAN INFORMASI PODCAST YANG DISAJIKAN DALAM PODCAST INI.", "post_id": "Gmj2_GgZkgI"}}, {"key": "@newstomatoTV", "attributes": {"label": "@newstomatoTV", "x": 535.0138193021573, "y": 642.6823461131708, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "CgV23jtJ0tw", "id": "@newstomatoTV", "source": "youtube-000001", "content": "FSC Biarkan Pengendalian Internal Sektor Keuangan dan Pinjaman Daring Terbengkalai Selama 2 Tahun...\n\nTerungkap bahwa meskipun Komisi Jasa Keuangan (FSC) menyerukan penguatan pengendalian internal pada tahun 2024 untuk lembaga-lembaga yang tidak diklasifikasikan sebagai lembaga keuangan berdasarkan Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan Keuangan, seperti lembaga keuangan mutual, FSC tidak melakukan apa pun selama dua tahun terakhir.\n\nContoh representatif termasuk sektor keuangan mutual—seperti Nonghyup, Suhyup, Shinhyup, dan Koperasi Kredit Komunitas MG—serta industri pinjaman dan lembaga asuransi korporasi. Mengingat sebagian besar lembaga keuangan ini terkait erat dengan masyarakat umum, ada seruan untuk regulasi yang setara dengan struktur akuntabilitas yang saat ini diterapkan oleh bank.\n\nMenurut laporan News Tomato pada tanggal 23, dikonfirmasi bahwa tidak ada permintaan tingkat kerja atau dokumen resmi yang dipertukarkan antara departemen di dalam FSC dan Layanan Pengawasan Keuangan yang bertanggung jawab atas struktur akuntabilitas tingkat kerja untuk mengatasi kurangnya struktur tersebut untuk sektor keuangan mutual, industri pinjaman, dan Badan Umum (GA). Pejabat Otoritas Keuangan\n\n\"Saya tidak mengetahui detail spesifiknya, tetapi saya mendengar bahwa ada diskusi internal mengenai pengendalian internal untuk sektor-sektor terkait di dalam Komisi Jasa Keuangan (FSC) atau Layanan Pengawasan Keuangan (FSS),\" \"Saya belum dihubungi secara langsung.\"\n\nStruktur Akuntabilitas adalah sistem yang dirancang untuk memastikan implementasi langkah-langkah manajemen dengan mendistribusikan tanggung jawab hukum terkait pelaksanaan dan pengoperasian pengendalian internal dan manajemen risiko yang harus dipatuhi oleh perusahaan keuangan atau eksekutif dan karyawannya, berdasarkan eksekutif dan posisi.\n\nDengan disahkannya Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan pada tanggal 2 Januari 2024, dan berlaku efektif pada tanggal 3 Juli tahun yang sama, pengenalan Struktur Akuntabilitas oleh sektor keuangan telah terjadi. Rencananya adalah untuk menyelesaikan pengenalan Struktur Akuntabilitas di seluruh sektor keuangan pada Juli 2027.\n\nNamun, bisnis pembiayaan dan pinjaman bersama, yang diatur oleh undang-undang terpisah, dan Badan Umum (GA), yang tidak memiliki undang-undang independen, masih menghindari kewajiban untuk membentuk Struktur Akuntabilitas.\n\nKritik mengenai isu ini telah muncul di sektor ini sejak tahap awal operasi percontohan untuk membangun Struktur Akuntabilitas. Oleh karena itu, meskipun semua pihak, mulai dari mantan Ketua Komisi Jasa Keuangan Kim Byung-hwan hingga Ketua Lee Won-geon yang menjabat September lalu, telah menyatakan komitmen untuk meningkatkan tata kelola dan pengendalian internal sektor-sektor ini, belum ada kemajuan praktis yang terlihat.\n\nDilaporkan bahwa otoritas keuangan saat ini tidak dapat memutuskan tindakan karena pertimbangan mendalam mengenai sektor-sektor yang belum terjangkau oleh peraturan, bahkan dalam struktur akuntabilitas yang ada saat ini. Pejabat Otoritas Keuangan\n\n\"Meskipun diagram struktur akuntabilitas wajib diajukan setelah adanya resolusi dari dewan direksi, sektor keuangan mutual bukanlah perusahaan saham gabungan. Bahkan bisnis pinjaman yang lebih kecil pun tidak memiliki struktur seperti itu,\" \"Saya pikir kita perlu lebih banyak diskusi mengenai apakah industri dapat menerima Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan jika diterapkan secara seragam, dan apakah itu merupakan kebijakan yang realistis.\"\n\n🔥🔥Partisipasi Acara Pelanggan 🔥🔥\n\nIkuti obrolan langsung dan komentar, dan dapatkan kupon senilai hingga 7.000 TTCO (7.000 KRW) setiap hari 🍅🍅\n\nhttps://www.newstomato.com/ttco.aspx\n\nObrolan Langsung: Ikuti sekali sehari, dapatkan 2.000 TTCO\n\nKomentar: Ikuti 5 kali sehari, dapatkan 1.000 TTCO (Maksimum 5.000 TTCO per hari)\n\n💘💘 Bergabunglah dengan News Insider Prime (Keanggotaan Saluran)\n\n   /   \n\n💌💌 Berlangganan News Tomato Gratis: Manfaat khusus ditambahkan untuk pelanggan News Insider Prime (Pertanyaan: 02-2128-3874)\n\nhttps://www.tomatoprime.com:446/newin...\n\nJika Anda menyukai video ini, silakan tekan tombol 'Berlangganan' dan 'Suka'!\n\nTerima kasih.\n\n🖥 News Tomato\n\nhttp://newstomato.com\n\n🎯 Portal Berita ｜ News Tong\n\nhttps://www.newstong.co.kr/\n\n🎁 Tongtong Mall\n\nhttps://www.tongtongmall.net/main\n\n📊 Jajak Pendapat Reguler News Tomato\n\nhttps://www.newstomato.com/OpinionLis...", "post_id": "CgV23jtJ0tw"}}, {"key": "newstomatotv", "attributes": {"label": "newstomatotv", "x": 663.0128100067709, "y": 344.1487600901411, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "CgV23jtJ0tw", "id": "newstomatotv", "source": "youtube-000001", "content": "FSC Biarkan Pengendalian Internal Sektor Keuangan dan Pinjaman Daring Terbengkalai Selama 2 Tahun...\n\nTerungkap bahwa meskipun Komisi Jasa Keuangan (FSC) menyerukan penguatan pengendalian internal pada tahun 2024 untuk lembaga-lembaga yang tidak diklasifikasikan sebagai lembaga keuangan berdasarkan Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan Keuangan, seperti lembaga keuangan mutual, FSC tidak melakukan apa pun selama dua tahun terakhir.\n\nContoh representatif termasuk sektor keuangan mutual—seperti Nonghyup, Suhyup, Shinhyup, dan Koperasi Kredit Komunitas MG—serta industri pinjaman dan lembaga asuransi korporasi. Mengingat sebagian besar lembaga keuangan ini terkait erat dengan masyarakat umum, ada seruan untuk regulasi yang setara dengan struktur akuntabilitas yang saat ini diterapkan oleh bank.\n\nMenurut laporan News Tomato pada tanggal 23, dikonfirmasi bahwa tidak ada permintaan tingkat kerja atau dokumen resmi yang dipertukarkan antara departemen di dalam FSC dan Layanan Pengawasan Keuangan yang bertanggung jawab atas struktur akuntabilitas tingkat kerja untuk mengatasi kurangnya struktur tersebut untuk sektor keuangan mutual, industri pinjaman, dan Badan Umum (GA). Pejabat Otoritas Keuangan\n\n\"Saya tidak mengetahui detail spesifiknya, tetapi saya mendengar bahwa ada diskusi internal mengenai pengendalian internal untuk sektor-sektor terkait di dalam Komisi Jasa Keuangan (FSC) atau Layanan Pengawasan Keuangan (FSS),\" \"Saya belum dihubungi secara langsung.\"\n\nStruktur Akuntabilitas adalah sistem yang dirancang untuk memastikan implementasi langkah-langkah manajemen dengan mendistribusikan tanggung jawab hukum terkait pelaksanaan dan pengoperasian pengendalian internal dan manajemen risiko yang harus dipatuhi oleh perusahaan keuangan atau eksekutif dan karyawannya, berdasarkan eksekutif dan posisi.\n\nDengan disahkannya Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan pada tanggal 2 Januari 2024, dan berlaku efektif pada tanggal 3 Juli tahun yang sama, pengenalan Struktur Akuntabilitas oleh sektor keuangan telah terjadi. Rencananya adalah untuk menyelesaikan pengenalan Struktur Akuntabilitas di seluruh sektor keuangan pada Juli 2027.\n\nNamun, bisnis pembiayaan dan pinjaman bersama, yang diatur oleh undang-undang terpisah, dan Badan Umum (GA), yang tidak memiliki undang-undang independen, masih menghindari kewajiban untuk membentuk Struktur Akuntabilitas.\n\nKritik mengenai isu ini telah muncul di sektor ini sejak tahap awal operasi percontohan untuk membangun Struktur Akuntabilitas. Oleh karena itu, meskipun semua pihak, mulai dari mantan Ketua Komisi Jasa Keuangan Kim Byung-hwan hingga Ketua Lee Won-geon yang menjabat September lalu, telah menyatakan komitmen untuk meningkatkan tata kelola dan pengendalian internal sektor-sektor ini, belum ada kemajuan praktis yang terlihat.\n\nDilaporkan bahwa otoritas keuangan saat ini tidak dapat memutuskan tindakan karena pertimbangan mendalam mengenai sektor-sektor yang belum terjangkau oleh peraturan, bahkan dalam struktur akuntabilitas yang ada saat ini. Pejabat Otoritas Keuangan\n\n\"Meskipun diagram struktur akuntabilitas wajib diajukan setelah adanya resolusi dari dewan direksi, sektor keuangan mutual bukanlah perusahaan saham gabungan. Bahkan bisnis pinjaman yang lebih kecil pun tidak memiliki struktur seperti itu,\" \"Saya pikir kita perlu lebih banyak diskusi mengenai apakah industri dapat menerima Undang-Undang Tata Kelola Perusahaan jika diterapkan secara seragam, dan apakah itu merupakan kebijakan yang realistis.\"\n\n🔥🔥Partisipasi Acara Pelanggan 🔥🔥\n\nIkuti obrolan langsung dan komentar, dan dapatkan kupon senilai hingga 7.000 TTCO (7.000 KRW) setiap hari 🍅🍅\n\nhttps://www.newstomato.com/ttco.aspx\n\nObrolan Langsung: Ikuti sekali sehari, dapatkan 2.000 TTCO\n\nKomentar: Ikuti 5 kali sehari, dapatkan 1.000 TTCO (Maksimum 5.000 TTCO per hari)\n\n💘💘 Bergabunglah dengan News Insider Prime (Keanggotaan Saluran)\n\n   /   \n\n💌💌 Berlangganan News Tomato Gratis: Manfaat khusus ditambahkan untuk pelanggan News Insider Prime (Pertanyaan: 02-2128-3874)\n\nhttps://www.tomatoprime.com:446/newin...\n\nJika Anda menyukai video ini, silakan tekan tombol 'Berlangganan' dan 'Suka'!\n\nTerima kasih.\n\n🖥 News Tomato\n\nhttp://newstomato.com\n\n🎯 Portal Berita ｜ News Tong\n\nhttps://www.newstong.co.kr/\n\n🎁 Tongtong Mall\n\nhttps://www.tongtongmall.net/main\n\n📊 Jajak Pendapat Reguler News Tomato\n\nhttps://www.newstomato.com/OpinionLis...", "post_id": "CgV23jtJ0tw"}}, {"key": "@IDXChannel", "attributes": {"label": "@IDXChannel", "x": 371.710029143963, "y": 282.9401390993791, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 14, "degree": 14}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "@IDXChannel", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "idxchannel_", "attributes": {"label": "idxchannel_", "x": 348.91030681593406, "y": 245.53299875576772, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.3157, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "idxchannel_", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "wicky_adrian", "x": 879.5246578254314, "y": 714.2400179171789, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.2928, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "wicky_adrian", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "fajar.wayong", "x": 250.79367197734527, "y": 969.9548664692592, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.2928, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "fajar.wayong", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "deffid_83", "attributes": {"label": "deffid_83", "x": 266.2220458004516, "y": 138.43232448737365, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.2928, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "deffid_83", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 494.5695508088894, "y": 996.9662943634816, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.2928, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "prast_ulrich", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "rosalinehioe", "x": 898.1619948238915, "y": 776.6015653176479, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 8.2928, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 3, "out_degree": 0, "degree": 3}, "_id": "jtSh3lBOA88", "id": "rosalinehioe", "source": "youtube-000001", "content": "Saat Suku Bunga Naik, Kredit Perbankan Justru Melesat 11,5& di Mei 2026! | MARKET HIGHLIGHTS\n\nDi tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan Indonesia justru menunjukkan kinerja yang semakin kuat. Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen secara tahunan pada Mei 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,98 persen.\n\nGubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit yang tetap solid diharapkan mampu mendukung aktivitas ekonomi nasional ke depan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan mencapai 21,95 persen. Bank Indonesia juga memperkirakan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 tetap terjaga dalam kisaran 8 hingga 12 persen, mencerminkan optimisme terhadap prospek perekonomian nasional.\n#idxcupdate #idxc\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nFollow US on Social Media\nYuk Subscribe -    /   \nWa Channel - https://whatsapp.com/channel/0029Va5V...\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idx_channel  \n-------------------------------------------------------------------------------------\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\nMyRepublic Channel 576\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "jtSh3lBOA88"}}, {"key": "@kompastvmedan", "attributes": {"label": "@kompastvmedan", "x": 987.2199303736523, "y": 372.9181578920627, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "iMysZBzQksU", "id": "@kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Pimpinan DPR dan Himpunan Bank Milik Negara Bertemu, Bahas Kondisi Perbankan dan Pasar Keuangan\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, melakukan pertemuan dengan jajaran Himpunan Bank Milik Negara untuk membahas kondisi sektor perbankan nasional serta perkembangan pasar keuangan.\n\nDalam pertemuan tersebut, dibahas kinerja fundamental bank-bank anggota Himbara yang dinilai berada dalam kondisi sangat baik. Pertumbuhan kredit tercatat berada di kisaran 20 persen dan disebut sebagai salah satu capaian kinerja terbaik yang berhasil dibukukan Himbara dalam beberapa waktu terakhir.\n\nSelain sektor perbankan, pembahasan juga menyentuh perkembangan pasar modal. Dasco mengungkapkan pihaknya turut berdiskusi dengan BPJS dan Taspen mengenai kondisi saham-saham yang dinilai memiliki fundamental baik dan berpotensi untuk kembali diakumulasi atau dibeli.\n\nSecara umum, pertemuan ini membahas penguatan sektor keuangan nasional, mulai dari kinerja perbankan BUMN, pertumbuhan kredit, hingga strategi menjaga stabilitas dan optimisme di pasar modal melalui pengelolaan investasi yang berbasis pada fundamental ekonomi yang kuat.\n\n#SufmiDascoAhmad #DPRRI #Himbara #dpr #bankmandiri #bni #bri #btn \n\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "iMysZBzQksU"}}, {"key": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "kompastvmedan", "x": 365.02750501202894, "y": 845.5113166544454, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iMysZBzQksU", "id": "kompastvmedan", "source": "youtube-000001", "content": "Pimpinan DPR dan Himpunan Bank Milik Negara Bertemu, Bahas Kondisi Perbankan dan Pasar Keuangan\n\nJAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, melakukan pertemuan dengan jajaran Himpunan Bank Milik Negara untuk membahas kondisi sektor perbankan nasional serta perkembangan pasar keuangan.\n\nDalam pertemuan tersebut, dibahas kinerja fundamental bank-bank anggota Himbara yang dinilai berada dalam kondisi sangat baik. Pertumbuhan kredit tercatat berada di kisaran 20 persen dan disebut sebagai salah satu capaian kinerja terbaik yang berhasil dibukukan Himbara dalam beberapa waktu terakhir.\n\nSelain sektor perbankan, pembahasan juga menyentuh perkembangan pasar modal. Dasco mengungkapkan pihaknya turut berdiskusi dengan BPJS dan Taspen mengenai kondisi saham-saham yang dinilai memiliki fundamental baik dan berpotensi untuk kembali diakumulasi atau dibeli.\n\nSecara umum, pertemuan ini membahas penguatan sektor keuangan nasional, mulai dari kinerja perbankan BUMN, pertumbuhan kredit, hingga strategi menjaga stabilitas dan optimisme di pasar modal melalui pengelolaan investasi yang berbasis pada fundamental ekonomi yang kuat.\n\n#SufmiDascoAhmad #DPRRI #Himbara #dpr #bankmandiri #bni #bri #btn \n\n------------------------------------------\nSahabat Kompas TV, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Medan, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.\n\nJangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live\n\nSahabat Kompas TV juga bisa memperoleh informasi terkini melalui website: www.kompas.tv\n\nMedia sosial Kompas TV Medan\nTikTok :   / kompastvmedan  \nInstagram :   / kompastvmedan  \nFacebook :   / kompastvmdn  \nTwitter :   / kompastvmedan  \nThreads: https://www.threads.net/\n\nKompas TV\nIndependen | Terpercaya\n#kompastvmedan", "post_id": "iMysZBzQksU"}}, {"key": "@ETNow", "attributes": {"label": "@ETNow", "x": 967.3548957466356, "y": 893.7210771803323, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "0N2zwnNB_tA", "id": "@ETNow", "source": "youtube-000001", "content": "Prospek Saham HDFC Bank: Haruskah Anda Menahan di Level 818? Pandangan Pakar: Beli, Tahan, atau T...\n\nHDFC Bank tetap menjadi fokus perhatian investor karena mereka menilai apakah saham ini layak dibeli, dipertahankan, atau ditunggu pada level saat ini setelah fase konsolidasi yang berkepanjangan.\n\nSeorang ahli pasar teknikal membagikan prospek jangka panjang, menyoroti valuasi yang menarik, potensi kenaikan, dan level-level kunci yang perlu diperhatikan. Diskusi ini juga mencakup faktor-faktor makro seperti arus masuk dana asing dan tren pertumbuhan kredit yang dapat mendukung saham ke depannya.\n\nBagi investor jangka panjang, analisis ini memberikan kejelasan tentang strategi, manajemen risiko, dan apakah level saat ini menghadirkan peluang untuk mengakumulasi saham.\n\n#etnow #hdfcbank #stockmarketindia #technicalanalysis #banknifty #stocks #investing #sharemarket #longterminvesting #businessnews #topnews #stockmarket\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk Pembaruan Terbaru tentang Berita Pasar Saham, Berita Bisnis, Berita Perusahaan, IPO & Lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "0N2zwnNB_tA"}}, {"key": "etnow", "attributes": {"label": "etnow", "x": 358.39270059684515, "y": 598.3538528085652, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0N2zwnNB_tA", "id": "etnow", "source": "youtube-000001", "content": "Prospek Saham HDFC Bank: Haruskah Anda Menahan di Level 818? Pandangan Pakar: Beli, Tahan, atau T...\n\nHDFC Bank tetap menjadi fokus perhatian investor karena mereka menilai apakah saham ini layak dibeli, dipertahankan, atau ditunggu pada level saat ini setelah fase konsolidasi yang berkepanjangan.\n\nSeorang ahli pasar teknikal membagikan prospek jangka panjang, menyoroti valuasi yang menarik, potensi kenaikan, dan level-level kunci yang perlu diperhatikan. Diskusi ini juga mencakup faktor-faktor makro seperti arus masuk dana asing dan tren pertumbuhan kredit yang dapat mendukung saham ke depannya.\n\nBagi investor jangka panjang, analisis ini memberikan kejelasan tentang strategi, manajemen risiko, dan apakah level saat ini menghadirkan peluang untuk mengakumulasi saham.\n\n#etnow #hdfcbank #stockmarketindia #technicalanalysis #banknifty #stocks #investing #sharemarket #longterminvesting #businessnews #topnews #stockmarket\n\nSaluran YouTube -    /   \n\nBerlangganan ET Now untuk Pembaruan Terbaru tentang Berita Pasar Saham, Berita Bisnis, Berita Perusahaan, IPO & Lainnya | https://bit.ly/SubscribeToETNow\n\nBerlangganan Sekarang ke Saluran Jaringan Kami :-\nET Now Swadesh:    / etnowswadesh  \nTimes Now: http://goo.gl/U9ibPb\n\nTautan Media Sosial :-\nTwitter - http://goo.gl/hA0vDt\nFacebook - http://goo.gl/5Lr4mC\n\nSitus web - https://www.etnownews.com\nUnduh Aplikasi kami untuk Berita Terkini: https://tinyurl.com/4y6e3u2e\n\nIkuti kami di Google News untuk pembaruan terbaru\nET Now: https://news.google.com/publications/...\nTimes Now Navbharat: https://bit.ly/3zDaKJo \nTimes Now : https://bit.ly/3CyrrYg\nZoom: https://bit.ly/3CEK0dv", "post_id": "0N2zwnNB_tA"}}, {"key": "@FICO_corp", "attributes": {"label": "@FICO_corp", "x": 775.3399978495341, "y": 74.9973938426921, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "K9KmKkbg1w8", "id": "@FICO_corp", "source": "youtube-000001", "content": "FICO World 26 | FICO Newsroom Live! | Hari ke-2\n\n--- Kunjungi blog kami: https://www.fico.com/blogs/\n\nBERLANGGANAN:    /   \n\nIkuti kami:\n---\nTwitter – https://x.com/FICO_corp\nInstagram –   / fico_corp  \nFacebook –   / ficodecisions  \nTikTok –   / fico_corp  \nLinkedIn:   / fico  \n\nTENTANG FICO\n\nFICO (NYSE: FICO) memberdayakan keputusan yang membantu orang dan bisnis di seluruh dunia untuk berkembang. Didirikan pada tahun 1956, perusahaan ini merupakan pelopor dalam penggunaan analitik prediktif dan ilmu data untuk meningkatkan keputusan operasional. FICO memiliki lebih dari 200 paten AS dan asing atas teknologi yang meningkatkan profitabilitas, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan bisnis di sektor jasa keuangan, asuransi, telekomunikasi, perawatan kesehatan, ritel, dan banyak industri lainnya. Dengan menggunakan solusi FICO, bisnis di lebih dari 100 negara melakukan berbagai hal, mulai dari melindungi 4 miliar kartu pembayaran dari penipuan, meningkatkan inklusi keuangan, hingga meningkatkan ketahanan rantai pasokan. Skor FICO®, yang digunakan oleh 90% pemberi pinjaman terkemuka di AS, adalah ukuran standar risiko kredit konsumen di AS dan telah tersedia di lebih dari 40 negara lain, meningkatkan manajemen risiko, akses kredit, dan transparansi. Pelajari lebih lanjut di www.fico.com", "post_id": "K9KmKkbg1w8"}}, {"key": "fico_corp", "attributes": {"label": "fico_corp", "x": 54.32910416205794, "y": 827.1398978787611, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "K9KmKkbg1w8", "id": "fico_corp", "source": "youtube-000001", "content": "FICO World 26 | FICO Newsroom Live! | Hari ke-2\n\n--- Kunjungi blog kami: https://www.fico.com/blogs/\n\nBERLANGGANAN:    /   \n\nIkuti kami:\n---\nTwitter – https://x.com/FICO_corp\nInstagram –   / fico_corp  \nFacebook –   / ficodecisions  \nTikTok –   / fico_corp  \nLinkedIn:   / fico  \n\nTENTANG FICO\n\nFICO (NYSE: FICO) memberdayakan keputusan yang membantu orang dan bisnis di seluruh dunia untuk berkembang. Didirikan pada tahun 1956, perusahaan ini merupakan pelopor dalam penggunaan analitik prediktif dan ilmu data untuk meningkatkan keputusan operasional. FICO memiliki lebih dari 200 paten AS dan asing atas teknologi yang meningkatkan profitabilitas, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan bisnis di sektor jasa keuangan, asuransi, telekomunikasi, perawatan kesehatan, ritel, dan banyak industri lainnya. Dengan menggunakan solusi FICO, bisnis di lebih dari 100 negara melakukan berbagai hal, mulai dari melindungi 4 miliar kartu pembayaran dari penipuan, meningkatkan inklusi keuangan, hingga meningkatkan ketahanan rantai pasokan. Skor FICO®, yang digunakan oleh 90% pemberi pinjaman terkemuka di AS, adalah ukuran standar risiko kredit konsumen di AS dan telah tersedia di lebih dari 40 negara lain, meningkatkan manajemen risiko, akses kredit, dan transparansi. Pelajari lebih lanjut di www.fico.com", "post_id": "K9KmKkbg1w8"}}, {"key": "@inovasipublishing", "attributes": {"label": "@inovasipublishing", "x": 382.1909461440679, "y": 824.6356008496039, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "XejWN4s1CAU", "id": "@inovasipublishing", "source": "youtube-000001", "content": "STUDI KOMPREHENSIF TENTANG BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN\n\n🌟 Dalam Buku Ini Anda Akan Mendapatkan:\n✅ Pemahaman tentang sejarah dan perkembangan sistem perbankan\n✅ Pengetahuan mengenai fungsi dan peran bank dalam perekonomian\n✅ Pembahasan jenis-jenis bank dan karakteristiknya\n✅ Informasi lengkap mengenai produk dan jasa perbankan\n✅ Pemahaman tentang lembaga keuangan nonbank dan perannya dalam masyarakat\n✅ Penjelasan mengenai sistem keuangan dan stabilitas ekonomi\n✅ Konsep manajemen risiko dalam industri keuangan\n✅ Pembahasan regulasi dan pengawasan sektor keuangan\n✅ Wawasan mengenai prinsip dan praktik keuangan syariah\n✅ Pemahaman tentang transformasi digital, fintech, dan inovasi layanan keuangan\n✅ Contoh penerapan lembaga keuangan dalam kehidupan sehari-hari\n✅ Pengetahuan yang mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan\n===========================================================\n🌟 Jadilah Penulis Hebat Bersama CV. Inovasi Publishing Indonesia!\nSudah saatnya karya dan pemikiranmu dikenal lebih luas! Bersama CV. Inovasi Publishing Indonesia, kamu bisa mewujudkan mimpi menerbitkan buku dengan mudah dan menyenangkan.\n📚 Mulai perjalanan literasimu dengan proses penerbitan yang profesional, cepat, dan ramah untuk penulis dari berbagai latar belakang.\n✨ Dapatkan berbagai promo menarik, layanan eksklusif, dan pendampingan penuh dalam setiap langkah penerbitan!\n💬 Silahkan hubungi nomor admin di bawah ini untuk info lebih lanjut 👇🏻\nAdmin Rani : 0851-8546-3247\nUntuk lebih tau mengenai Inovasi Publishing Indonesia silahkan Ikuti Kami di Media Sosial:\nInstagram :   / inovasipublishin.  .\nYouTube :    /   \nWebsite : https://www.inovasipublishing.id/\n#BankDanLembagaKeuangan #Perbankan #LembagaKeuangan #LiterasiKeuangan #EdukasiKeuangan #ManajemenKeuangan #SistemKeuangan #KeuanganDigital #Fintech #PerbankanDigital #Ekonomi #KeuanganSyariah #Investasi #MahasiswaEkonomi #BukuAkademik #FinancialLiteracy #FinancialTechnology #Banking #FinanceEducation #DigitalFinance", "post_id": "XejWN4s1CAU"}}, {"key": "inovasipublishing", "attributes": {"label": "inovasipublishing", "x": 288.0238850511873, "y": 101.9861265769233, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "XejWN4s1CAU", "id": "inovasipublishing", "source": "youtube-000001", "content": "STUDI KOMPREHENSIF TENTANG BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN\n\n🌟 Dalam Buku Ini Anda Akan Mendapatkan:\n✅ Pemahaman tentang sejarah dan perkembangan sistem perbankan\n✅ Pengetahuan mengenai fungsi dan peran bank dalam perekonomian\n✅ Pembahasan jenis-jenis bank dan karakteristiknya\n✅ Informasi lengkap mengenai produk dan jasa perbankan\n✅ Pemahaman tentang lembaga keuangan nonbank dan perannya dalam masyarakat\n✅ Penjelasan mengenai sistem keuangan dan stabilitas ekonomi\n✅ Konsep manajemen risiko dalam industri keuangan\n✅ Pembahasan regulasi dan pengawasan sektor keuangan\n✅ Wawasan mengenai prinsip dan praktik keuangan syariah\n✅ Pemahaman tentang transformasi digital, fintech, dan inovasi layanan keuangan\n✅ Contoh penerapan lembaga keuangan dalam kehidupan sehari-hari\n✅ Pengetahuan yang mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan\n===========================================================\n🌟 Jadilah Penulis Hebat Bersama CV. Inovasi Publishing Indonesia!\nSudah saatnya karya dan pemikiranmu dikenal lebih luas! Bersama CV. Inovasi Publishing Indonesia, kamu bisa mewujudkan mimpi menerbitkan buku dengan mudah dan menyenangkan.\n📚 Mulai perjalanan literasimu dengan proses penerbitan yang profesional, cepat, dan ramah untuk penulis dari berbagai latar belakang.\n✨ Dapatkan berbagai promo menarik, layanan eksklusif, dan pendampingan penuh dalam setiap langkah penerbitan!\n💬 Silahkan hubungi nomor admin di bawah ini untuk info lebih lanjut 👇🏻\nAdmin Rani : 0851-8546-3247\nUntuk lebih tau mengenai Inovasi Publishing Indonesia silahkan Ikuti Kami di Media Sosial:\nInstagram :   / inovasipublishin.  .\nYouTube :    /   \nWebsite : https://www.inovasipublishing.id/\n#BankDanLembagaKeuangan #Perbankan #LembagaKeuangan #LiterasiKeuangan #EdukasiKeuangan #ManajemenKeuangan #SistemKeuangan #KeuanganDigital #Fintech #PerbankanDigital #Ekonomi #KeuanganSyariah #Investasi #MahasiswaEkonomi #BukuAkademik #FinancialLiteracy #FinancialTechnology #Banking #FinanceEducation #DigitalFinance", "post_id": "XejWN4s1CAU"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "attributes": {"label": "@IDXCHANNELINSIGHT", "x": 312.69313907588435, "y": 63.50516307664478, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "16VAynkEHfg", "id": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "youtube-000001", "content": "OJK Tekankan Pengelolaan Risiko dalam Implementasi AI di Industri Keuangan | TECH BIZZ\n\nOtoritas Jasa Keuangan menegaskan penerapan artificial intelligence di industri keuangan, termasuk perbankan, harus tetap mengedepankan tata kelola dan manajemen risiko yang ketat guna menjaga keamanan serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.\n\nBerita selengkapnya klik di sini: \nhttps://www.idxchannel.com/\n\nStasiun televisi ini pertama kali siaran pada tanggal 29 September 2010 hingga saat ini. IDX Channel memiliki tagline Your Trustworthy Economic, Business and Capital Market Channel. Saluran televisi ini bermarkas di Gedung Bursa Efek Indonesia Tower 2, Lantai 1, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan.\n\nSaksikan terus IDX Channel\nIndiHome Channel 119\nIndovision Channel 100\nK-Vision Channel 129\nFirst Media Channel 389\nOxygen Channel 137\n\n#IDXChannel #Saham #BEI\n--------------------------------------------\nFollow US on Social Media\nWebsite - http://www.idxchannel.com\nInstagram -   / idx_channel  \nFacebook -   / officialidxchannel  \nTwitter -   / idxchannelcom  \n------------------------------------------ \nDownload Aplikasi IDX Channel\n\nAndorid - https://play.google.com/store/apps/de...\niOS - https://apps.apple.com/us/app/idx-cha...\n------------------------------------------ \nProgram dan News Anchor IDX CHANNEL \n\nMarket Buzz (Senin – Jumat 08.30-09.30) \nWicky Adrian (IG : )\n\nIDX 1st Session Closing (Senin – Jumat 11.30-12.30) \nFajar Wayong (IG : )\n\nIDX 2nd Session Closing (Senin – Jumat 15.30-16.30) \nDeffid San Opel (IG : ) \n\nMarket Review (Senin – Jumat 21.00-22.00) \nPrasetyo Wibowo (IG : ) \n\nPrime Market Highlight (Senin - Jumat 20.00-21.00)\nRosaline Hioe (IG : ) & Fajar Wayong (IG : )", "post_id": "16VAynkEHfg"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "attributes": {"label": "@dr.harshitsinhachannel9695", "x": 130.0626420210841, "y": 356.7058723030136, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 0, "out_degree": 56, "degree": 56}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "AsapSCIENCE", "attributes": {"label": "AsapSCIENCE", "x": 808.6085824187458, "y": 404.1779563900839, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "AsapSCIENCE", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Asian", "attributes": {"label": "Asian", "x": 667.7075377905971, "y": 134.36848152012948, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Asian", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Bloomberg", "attributes": {"label": "Bloomberg", "x": 95.62217173019927, "y": 796.8608125421903, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Bloomberg", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Bombay", "attributes": {"label": "Bombay", "x": 76.45079694314283, "y": 396.07400887423404, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Bombay", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Confederation", "attributes": {"label": "Confederation", "x": 644.6712828231264, "y": 45.613483971250865, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Confederation", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Climate", "attributes": {"label": "Climate", "x": 521.0297314082387, "y": 333.70530131467723, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Climate", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Corporate", "attributes": {"label": "Corporate", "x": 356.02570207356587, "y": 954.3966683459824, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Corporate", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Deloitte", "attributes": {"label": "Deloitte", "x": 689.4274746808563, "y": 1.0925308238347586, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Deloitte", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Drishti", "attributes": {"label": "Drishti", "x": 900.8691931068572, "y": 436.13968159978253, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Drishti", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "DWDocumentary", "attributes": {"label": "DWDocumentary", "x": 648.6480543112667, "y": 555.9230404386014, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "DWDocumentary", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Economic", "attributes": {"label": "Economic", "x": 209.92579567736115, "y": 301.16042457959105, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Economic", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Ecosystm", "attributes": {"label": "Ecosystm", "x": 214.17993808797365, "y": 712.2771561435026, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Ecosystm", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Environmental", "attributes": {"label": "Environmental", "x": 391.70897781124694, "y": 370.6244548909844, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Environmental", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "ESG", "attributes": {"label": "ESG", "x": 825.4181589543618, "y": 275.4973881520518, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 4, "out_degree": 0, "degree": 4}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "ESG", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "ESRC", "attributes": {"label": "ESRC", "x": 33.138263869353146, "y": 827.9332101816663, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "ESRC", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Ethical", "attributes": {"label": "Ethical", "x": 309.1168896792157, "y": 158.2498803804352, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Ethical", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "EY", "attributes": {"label": "EY", "x": 72.11083153380827, "y": 904.6800178154558, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "EY", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Good", "attributes": {"label": "Good", "x": 194.25240540366283, "y": 804.2177119595354, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Good", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "GreenBiz", "attributes": {"label": "GreenBiz", "x": 473.3180916913151, "y": 911.0935041001981, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "GreenBiz", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "GPRESB", "attributes": {"label": "GPRESB", "x": 121.89701652124629, "y": 293.1462781949086, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "GPRESB", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Produk", "attributes": {"label": "Produk", "x": 794.3585233361998, "y": 345.0771183406244, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Produk", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "IAS", "attributes": {"label": "IAS", "x": 407.7600793614338, "y": 316.9932920797851, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "IAS", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "IITRoorkee", "attributes": {"label": "IITRoorkee", "x": 487.14616071562824, "y": 181.36943714677756, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "IITRoorkee", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Ministryofcorporateaffairsindia", "attributes": {"label": "Ministryofcorporateaffairsindia", "x": 506.1225817733733, "y": 354.95402468728275, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Ministryofcorporateaffairsindia", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Morningstar", "attributes": {"label": "Morningstar", "x": 76.36164612220419, "y": 662.9442421284814, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Morningstar", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "National", "attributes": {"label": "National", "x": 793.694669879346, "y": 132.8087677446267, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "National", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Our", "attributes": {"label": "Our", "x": 678.8409574697563, "y": 47.495639358897336, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Our", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Project", "attributes": {"label": "Project", "x": 373.10879832967925, "y": 776.6436693377394, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Project", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "PwC", "attributes": {"label": "PwC", "x": 823.1483056828894, "y": 348.3077742363654, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "PwC", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Rob", "attributes": {"label": "Rob", "x": 659.9013002695159, "y": 334.34284884424824, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Rob", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Securities", "attributes": {"label": "Securities", "x": 379.2963589951016, "y": 731.0283394166821, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Securities", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Shelbizleee", "attributes": {"label": "Shelbizleee", "x": 497.5597919473397, "y": 511.3571661504087, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Shelbizleee", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "StudyIQ", "attributes": {"label": "StudyIQ", "x": 625.7268455876041, "y": 277.4891740711356, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "StudyIQ", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "studyiqofficial", "attributes": {"label": "studyiqofficial", "x": 710.8165863165581, "y": 632.3279513034197, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "studyiqofficial", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Sustainability", "attributes": {"label": "Sustainability", "x": 49.15264068269376, "y": 398.9177426230084, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Sustainability", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "SustainabilitySimplyPut", "attributes": {"label": "SustainabilitySimplyPut", "x": 808.174097967883, "y": 497.6404051657191, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "SustainabilitySimplyPut", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Sustainable", "attributes": {"label": "Sustainable", "x": 418.548337008152, "y": 487.73094001178754, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Sustainable", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "The", "attributes": {"label": "The", "x": 193.21752383864631, "y": 97.79063631362395, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "The", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "UN", "attributes": {"label": "UN", "x": 205.15237978628642, "y": 793.1596575151648, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "UN", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "UnacademyUPSCHindi", "attributes": {"label": "UnacademyUPSCHindi", "x": 581.0787599201326, "y": 990.3030342142459, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "UnacademyUPSCHindi", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Dana", "attributes": {"label": "Dana", "x": 542.4206848022667, "y": 676.2134942005287, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Dana", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Perserikatan", "attributes": {"label": "Perserikatan", "x": 171.46024781199088, "y": 991.5693739603132, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Perserikatan", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Vox", "attributes": {"label": "Vox", "x": 260.6305231190754, "y": 550.3147784492818, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Vox", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Wear", "attributes": {"label": "Wear", "x": 837.8085361838597, "y": 586.2054776939552, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Wear", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Grup", "attributes": {"label": "Grup", "x": 585.8210046316962, "y": 26.467191096139487, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Grup", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Forum", "attributes": {"label": "Forum", "x": 961.3952682407916, "y": 206.02883255835502, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Forum", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Dokumenter", "attributes": {"label": "Dokumenter", "x": 972.1257065385697, "y": 152.76180446739195, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Dokumenter", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "Saluran", "attributes": {"label": "Saluran", "x": 202.1639874924802, "y": 903.5249496717528, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "Saluran", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "dr.harshitsinhachannel9695", "attributes": {"label": "dr.harshitsinhachannel9695", "x": 972.8813210624817, "y": 379.9930488683201, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 7.0017, "eigenvector": 20.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "NSCXr5X09mY", "id": "dr.harshitsinhachannel9695", "source": "youtube-000001", "content": "Kerangka Kerja Pengungkapan Spesifik Iklim 5f1\n\nPresentasi ini memberikan kajian komprehensif dan berbobot intelektual tentang evolusi, signifikansi, dan dampak kelembagaan dari Satuan Tugas Pengungkapan Keuangan Terkait Iklim (TCFD) dalam sistem keuangan global. Presentasi ini menetapkan bahwa TCFD muncul sebagai respons terhadap kegagalan struktural yang mendalam di pasar keuangan: ketidakmampuan kerangka pengungkapan perusahaan tradisional untuk mengidentifikasi, mengukur, dan mengkomunikasikan risiko keuangan terkait iklim. Meskipun ilmu iklim telah lama memperingatkan tentang meningkatnya ancaman lingkungan dan ekonomi, lembaga keuangan kekurangan mekanisme standar untuk mengintegrasikan risiko tersebut ke dalam analisis investasi, evaluasi kredit, pengawasan regulasi, dan pengambilan keputusan strategis.\nDiskusi ini menelusuri fondasi historis TCFD dari pengakuan yang semakin meningkat terhadap risiko iklim sebagai masalah keuangan sistemik, khususnya setelah pidato penting Mark Carney tahun 2015 \"Tragedi Cakrawala\" dan pembentukan Satuan Tugas oleh Dewan Stabilitas Keuangan di bawah kepemimpinan Michael Bloomberg. Presentasi ini menyoroti bagaimana TCFD mengubah perubahan iklim dari isu lingkungan yang marginal menjadi masalah inti tata kelola keuangan dan transparansi pasar.\n\nFokus utama diletakkan pada kontribusi intelektual TCFD dalam menjembatani kesenjangan antara ilmu iklim dan analisis keuangan melalui metodologi pengungkapan berbasis skenario. Empat pilar dasar kerangka kerja — Tata Kelola, Strategi, Manajemen Risiko, dan Metrik & Target — diperiksa sebagai arsitektur terintegrasi untuk menanamkan pertimbangan iklim ke dalam struktur tata kelola perusahaan, perencanaan strategis, manajemen risiko perusahaan, dan sistem pengukuran kinerja.\nPresentasi ini selanjutnya menekankan implikasi sistemik dari paparan iklim yang tidak diberi harga, termasuk risiko aset yang terdampar, kerentanan transisi, dan skala paparan keuangan terkait iklim di seluruh pasar global. Kesimpulan presentasi ini menempatkan TCFD sebagai landasan gerakan pengungkapan keberlanjutan modern dan fondasi konseptual untuk standar pelaporan wajib yang muncul seperti IFRS S2, memperkuat transisi menuju tata kelola perusahaan yang tangguh, transparan, dan berorientasi masa depan.\n\n------------------------------\n0:00 Pendahuluan\n1:48 Bagian 1 Pendahuluan\n3.24 Pemanasan Planet\n5:06 Risiko Tak Terlihat\n6:55 Slide: $1 Kuadriliun\n8:37 Ketidaksesuaian Sains vs. Pasar\n10:36 Aset yang Terbengkalai\n12:31 Ambang Batas 2°C\n14:25 Pidato Mark Carney\n16:19 Bagian II Pendahuluan\n18:25 FSB Mengambil Tindakan\n20:34 Michael Bloomberg\n22:31 Pernyataan Misi TCFD\n25:14 Gambaran Umum Empat Pilar\n------------------------------------\n\n,  Development Bank,  QuickTake,  Stock Exchange,  of Indian Industry,  Reality,  Town,  Knights,  US,  IAS ENGLISH, , , ,  Finance,  Academy,  Insider (S&P Global),  News,  Today,  Social,  Corporation,  Global,  Investing, , ,  industri dan manufaktur,  Corridor, , ,  Sustainalytics,  Accreditation Board for Education and Training,  Stock Exchange,  Changing Climate,  Drawdown,  US,  Greenfield,  and Exchange Board of India, ,  IAS, ,  Illustrated, ,  Brands,  Human,  Economist,  Climate Action, ,  Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP),  Bangsa-Bangsa,  Climate Lab, ,  I Live,  Bank Dunia,  Ekonomi Dunia,  YouTube,  YouTube,", "post_id": "NSCXr5X09mY"}}, {"key": "@TrendLabID", "attributes": {"label": "@TrendLabID", "x": 396.20616424967426, "y": 631.283558155012, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 6.897, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "rolPKkebd4M", "id": "@TrendLabID", "source": "youtube-000001", "content": "Proyek KDM 2029: Mengapa Tender Jatuh ke Tangan Sama?\n\nProyek KDM 2029: Mengapa Tender Jatuh ke Tangan Sama? | Laporan Intelijen Data ‪‬ \nPerkembangan infrastruktur strategis menuju tahun 2029 menuntut pemahaman mendalam mengenai manajemen aset dan kebijakan anggaran publik. Ketika alokasi dana daerah digulirkan, pola distribusi proyek sering kali memperlihatkan kecenderungan yang seragam. Ini bukan sekadar masalah teknis pengadaan barang dan jasa, melainkan cerminan dari dinamika konsolidasi kapital di tingkat elite. Analisis terhadap dokumen pengadaan menunjukkan adanya kriteria kualifikasi yang sangat spesifik, yang secara natural membatasi jumlah partisipan pasar yang mampu bersaing. Fenomena ini memicu diskusi hangat di kalangan analis kebijakan publik mengenai efisiensi penyerapan anggaran fiskal dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi regional jangka panjang.\n\nDalam lanskap ekonomi politik kontemporer, keterkaitan antara pemegang kebijakan dan entitas korporasi besar membentuk sebuah ekosistem yang kompleks. Melalui pemetaan kekuatan (power mapping) yang objektif, kita dapat melihat bagaimana instrumen regulasi makro sering kali selaras dengan rencana ekspansi bisnis kelompok usaha tertentu. Stabilitas nasional menuju proyeksi 2029 membutuhkan kepastian hukum dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur fisik. Oleh karena itu, penunjukan mitra strategis yang memiliki rekam jejak panjang sering kali dipandang oleh otoritas sebagai langkah mitigasi risiko kegagalan proyek, meskipun di sisi lain, hal ini menciptakan anomali kebijakan yang mereduksi iklim kompetisi yang sehat di sektor investasi daerah.\n\nProyek infrastruktur skala besar yang dikaitkan dengan figur kepemimpinan strategis seperti KDM selalu melibatkan instrumen finansial yang rumit, mulai dari skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) hingga sekuritisasi aset masa depan. Bagi para investor institusional, memahami pergerakan modal dalam lingkaran tender ini adalah kunci untuk membaca arah kebijakan moneter dan riil di tingkat domestik. Konsentrasi proyek pada segelintir korporasi raksasa secara tidak langsung memengaruhi volatilitas sektor konstruksi dan perbankan penyedia likuiditas. Artikel dan analisis ini membedah bagaimana manajemen risiko korporasi beradaptasi dengan preferensi politik lokal yang berdampak pada stabilitas makroekonomi secara nasional.\n\nMenjelang transisi kepemimpinan dan target pembangunan jangka panjang tahun 2029, setiap keputusan anggaran membawa bobot geopolitik domestik yang signifikan. Sentralisasi penyerapan proyek di satu tangan memunculkan pertanyaan mengenai desentralisasi ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Apakah pola ini merupakan prasyarat mutlak demi tercapainya efisiensi eksekusi di tengah ketidakpastian global, ataukah ini bentuk pengamanan logistik strategis jangka panjang? Dengan pendekatan yang dingin dan berbasis data finansial, kita mengeksplorasi bagaimana arsitektur kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuasaan sekaligus memastikan roda industrialisasi daerah tetap berputar sesuai target pertumbuhan nasional.\n\nStamptime:\n00:00 - Analisis Makro: Cetak Biru Infrastruktur Nasional 2029\n02:15 - Anatomi Pengadaan: Membaca Klausul Tender Berkinerja Tinggi\n04:30 - Power Mapping: Jaringan Korporasi dan Otoritas Publik\n06:45 - Anomali Kebijakan: Alasan Teknis di Balik Pemenang yang Sama\n09:15 - Manajemen Aset Daerah: Aliran Likuiditas Fiskal\n11:30 - Proyeksi KDM: Mitigasi Risiko Versus Efisiensi Pembangunan\n13:45 - Kesimpulan Eksekutif: Stabilitas Nasional dan Konsolidasi Kapital 2029\n\n#KDM #DediMulyadi #KepemimpinanStrategis #ElitePolitik #TokohNasional #KebijakanPublik #KonsolidasiKapital #InfrastrukturDaerah #AnggaranFiskal #RegulasiMakro #Proyeksi2029 #StabilitasNasional #AnalisisMakroekonomi #ManajemenAset #GeopolitikDomestik\n---------------------------------------------------------------------------------------------------------\nAlgorithmc Integrity & Research Protocol:\nAnalisis & Riset: Team Trend Lab Indonesia\nMetodologi: Analisis Sentimen Digital & Social Media Mapping 2026\nSumber Data: Google Trends, Metadata Analysis, & Public Interaction Tracking\n\nEducation Shield (Disclaimer):\nVideo di channel ini diproduksi eksklusif untuk tujuan edukasi, analisis sosiologi mendalam, serta riset media digital. Trend Lab Indonesia beroperasi sebagai laboratorium data independen dan TIDAK BERAFILIASI dengan entitas politik, partai, atau tokoh publik manapun. Kami menggunakan pendekatan Data Science untuk membedah fenomena sosiopsikologi di Indonesia secara netral dan ilmiah.", "post_id": "rolPKkebd4M"}}, {"key": "TrendLabID", "attributes": {"label": "TrendLabID", "x": 319.69158620541236, "y": 829.9264711957213, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 12.7594, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "rolPKkebd4M", "id": "TrendLabID", "source": "youtube-000001", "content": "Proyek KDM 2029: Mengapa Tender Jatuh ke Tangan Sama?\n\nProyek KDM 2029: Mengapa Tender Jatuh ke Tangan Sama? | Laporan Intelijen Data ‪‬ \nPerkembangan infrastruktur strategis menuju tahun 2029 menuntut pemahaman mendalam mengenai manajemen aset dan kebijakan anggaran publik. Ketika alokasi dana daerah digulirkan, pola distribusi proyek sering kali memperlihatkan kecenderungan yang seragam. Ini bukan sekadar masalah teknis pengadaan barang dan jasa, melainkan cerminan dari dinamika konsolidasi kapital di tingkat elite. Analisis terhadap dokumen pengadaan menunjukkan adanya kriteria kualifikasi yang sangat spesifik, yang secara natural membatasi jumlah partisipan pasar yang mampu bersaing. Fenomena ini memicu diskusi hangat di kalangan analis kebijakan publik mengenai efisiensi penyerapan anggaran fiskal dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi regional jangka panjang.\n\nDalam lanskap ekonomi politik kontemporer, keterkaitan antara pemegang kebijakan dan entitas korporasi besar membentuk sebuah ekosistem yang kompleks. Melalui pemetaan kekuatan (power mapping) yang objektif, kita dapat melihat bagaimana instrumen regulasi makro sering kali selaras dengan rencana ekspansi bisnis kelompok usaha tertentu. Stabilitas nasional menuju proyeksi 2029 membutuhkan kepastian hukum dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur fisik. Oleh karena itu, penunjukan mitra strategis yang memiliki rekam jejak panjang sering kali dipandang oleh otoritas sebagai langkah mitigasi risiko kegagalan proyek, meskipun di sisi lain, hal ini menciptakan anomali kebijakan yang mereduksi iklim kompetisi yang sehat di sektor investasi daerah.\n\nProyek infrastruktur skala besar yang dikaitkan dengan figur kepemimpinan strategis seperti KDM selalu melibatkan instrumen finansial yang rumit, mulai dari skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) hingga sekuritisasi aset masa depan. Bagi para investor institusional, memahami pergerakan modal dalam lingkaran tender ini adalah kunci untuk membaca arah kebijakan moneter dan riil di tingkat domestik. Konsentrasi proyek pada segelintir korporasi raksasa secara tidak langsung memengaruhi volatilitas sektor konstruksi dan perbankan penyedia likuiditas. Artikel dan analisis ini membedah bagaimana manajemen risiko korporasi beradaptasi dengan preferensi politik lokal yang berdampak pada stabilitas makroekonomi secara nasional.\n\nMenjelang transisi kepemimpinan dan target pembangunan jangka panjang tahun 2029, setiap keputusan anggaran membawa bobot geopolitik domestik yang signifikan. Sentralisasi penyerapan proyek di satu tangan memunculkan pertanyaan mengenai desentralisasi ekonomi dan pemerataan kesejahteraan. Apakah pola ini merupakan prasyarat mutlak demi tercapainya efisiensi eksekusi di tengah ketidakpastian global, ataukah ini bentuk pengamanan logistik strategis jangka panjang? Dengan pendekatan yang dingin dan berbasis data finansial, kita mengeksplorasi bagaimana arsitektur kebijakan ini dirancang untuk menjaga keseimbangan kekuasaan sekaligus memastikan roda industrialisasi daerah tetap berputar sesuai target pertumbuhan nasional.\n\nStamptime:\n00:00 - Analisis Makro: Cetak Biru Infrastruktur Nasional 2029\n02:15 - Anatomi Pengadaan: Membaca Klausul Tender Berkinerja Tinggi\n04:30 - Power Mapping: Jaringan Korporasi dan Otoritas Publik\n06:45 - Anomali Kebijakan: Alasan Teknis di Balik Pemenang yang Sama\n09:15 - Manajemen Aset Daerah: Aliran Likuiditas Fiskal\n11:30 - Proyeksi KDM: Mitigasi Risiko Versus Efisiensi Pembangunan\n13:45 - Kesimpulan Eksekutif: Stabilitas Nasional dan Konsolidasi Kapital 2029\n\n#KDM #DediMulyadi #KepemimpinanStrategis #ElitePolitik #TokohNasional #KebijakanPublik #KonsolidasiKapital #InfrastrukturDaerah #AnggaranFiskal #RegulasiMakro #Proyeksi2029 #StabilitasNasional #AnalisisMakroekonomi #ManajemenAset #GeopolitikDomestik\n---------------------------------------------------------------------------------------------------------\nAlgorithmc Integrity & Research Protocol:\nAnalisis & Riset: Team Trend Lab Indonesia\nMetodologi: Analisis Sentimen Digital & Social Media Mapping 2026\nSumber Data: Google Trends, Metadata Analysis, & Public Interaction Tracking\n\nEducation Shield (Disclaimer):\nVideo di channel ini diproduksi eksklusif untuk tujuan edukasi, analisis sosiologi mendalam, serta riset media digital. Trend Lab Indonesia beroperasi sebagai laboratorium data independen dan TIDAK BERAFILIASI dengan entitas politik, partai, atau tokoh publik manapun. Kami menggunakan pendekatan Data Science untuk membedah fenomena sosiopsikologi di Indonesia secara netral dan ilmiah.", "post_id": "rolPKkebd4M"}}], "edges": [{"key": "aldotjahjadi8", "source": "aldotjahjadi8", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "aldotjahjadi8", "source": "aldotjahjadi8", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "deddyhariadi", "source": "deddyhariadi", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "deddyhariadi", "source": "deddyhariadi", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "isari68", "source": "isari68", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "isari68", "source": "isari68", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "keuangan_", "source": "keuangan_", "target": "AidilAKBAR", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "BungIdoe", "source": "BungIdoe", "target": "saptaipb", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "mancingsaham", "source": "mancingsaham", "target": "mancingsaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "idx_channel", "source": "idx_channel", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "arahjakarta", "source": "arahjakarta", "target": "arahjakarta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "myterminal.id", "source": "myterminal.id", "target": "myterminal.id", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "cipie.aja.sih", "source": "cipie.aja.sih", "target": "Otoritas", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "intinews.co", "source": "intinews.co", "target": "Otoritas", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "IDXChannelcom", "source": "IDXChannelcom", "target": "idx_channel", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "source": "@KoranJakartaYoutubeOfficial", "target": "koranjakarta...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@christyhsgn", "source": "@christyhsgn", "target": "adefauji_official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@AI-InterConnect", "source": "@AI-InterConnect", "target": "AI", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@OptiontoFIRE", "source": "@OptiontoFIRE", "target": "optiontofire", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@OpenDialogueByAxis", "source": "@OpenDialogueByAxis", "target": "opendialoguebyaxis", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@newstomatoTV", "source": "@newstomatoTV", "target": "newstomatotv", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@kompastvmedan", "source": "@kompastvmedan", "target": "kompastvmedan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@ETNow", "source": "@ETNow", "target": "etnow", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@FICO_corp", "source": "@FICO_corp", "target": "fico_corp", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@inovasipublishing", "source": "@inovasipublishing", "target": "inovasipublishing", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXCHANNELINSIGHT", "source": "@IDXCHANNELINSIGHT", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "idxchannel_", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "wicky_adrian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "deffid_83", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "rosalinehioe", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@IDXChannel", "source": "@IDXChannel", "target": "fajar.wayong", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "AsapSCIENCE", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Asian", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Bloomberg", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Bombay", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Confederation", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Climate", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Climate", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Corporate", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Deloitte", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Drishti", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "DWDocumentary", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Economic", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Ecosystm", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Environmental", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "ESG", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "ESG", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "ESG", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "ESG", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "ESRC", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Ethical", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "EY", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Good", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "GreenBiz", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "GPRESB", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Produk", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "IAS", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "IITRoorkee", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Ministryofcorporateaffairsindia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Morningstar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "National", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "National", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Our", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Project", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "PwC", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Rob", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Securities", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Shelbizleee", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "StudyIQ", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "studyiqofficial", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Sustainability", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "SustainabilitySimplyPut", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Sustainable", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Sustainable", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "The", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "UN", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "UnacademyUPSCHindi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Dana", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Perserikatan", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Vox", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Vox", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Wear", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Grup", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Forum", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Dokumenter", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "Saluran", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@dr.harshitsinhachannel9695", "source": "@dr.harshitsinhachannel9695", "target": "dr.harshitsinhachannel9695", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TrendLabID", "source": "@TrendLabID", "target": "TrendLabID", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}