{"nodes": [{"key": "nida_ina", "attributes": {"label": "nida_ina", "x": 427.1804177683394, "y": 471.545885832148, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068234014214000727", "id": "nida_ina", "source": "tweet-000004", "content": "Memang benar suku bunga yang lebih tinggi dapat membebani debitur KPR dan pelaku UMKM yang bergantung pada kredit. Namun otoritas moneter biasanya harus menimbang risiko yang lebih besar jika stabilitas ekonomi tidak dijaga.", "post_id": "2068234014214000727"}}, {"key": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "kalistohenituse", "x": 751.8471379236804, "y": 549.6334722226561, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 64.6478, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068234014214000727", "id": "kalistohenituse", "source": "tweet-000004", "content": "Memang benar suku bunga yang lebih tinggi dapat membebani debitur KPR dan pelaku UMKM yang bergantung pada kredit. Namun otoritas moneter biasanya harus menimbang risiko yang lebih besar jika stabilitas ekonomi tidak dijaga.", "post_id": "2068234014214000727"}}, {"key": "0xKros", "attributes": {"label": "0xKros", "x": 840.1388505293284, "y": 190.03437333360296, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2067968046116061546", "id": "0xKros", "source": "tweet-000004", "content": "Biasanya korporasi itu sudah lebih mature, laporan keuangan bs diaudit, sedangkan kredit mikro dan UMKM itu \"pemula\", jadi risiko mereka gagal lebih tinggi. Makanya kebijakan di negara lain itu membimbing supaya umkm naik kelas jd korporasi, supaya credit costnya otomatis turun", "post_id": "2067968046116061546"}}, {"key": "vedantamaha", "attributes": {"label": "vedantamaha", "x": 912.476923843803, "y": 843.1768557654527, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.7963, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067968046116061546", "id": "vedantamaha", "source": "tweet-000004", "content": "Biasanya korporasi itu sudah lebih mature, laporan keuangan bs diaudit, sedangkan kredit mikro dan UMKM itu \"pemula\", jadi risiko mereka gagal lebih tinggi. Makanya kebijakan di negara lain itu membimbing supaya umkm naik kelas jd korporasi, supaya credit costnya otomatis turun", "post_id": "2067968046116061546"}}, {"key": "ricky_hopmans", "attributes": {"label": "ricky_hopmans", "x": 285.9360000315843, "y": 116.83744379132798, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 49.7963, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2067968046116061546", "id": "ricky_hopmans", "source": "tweet-000004", "content": "Biasanya korporasi itu sudah lebih mature, laporan keuangan bs diaudit, sedangkan kredit mikro dan UMKM itu \"pemula\", jadi risiko mereka gagal lebih tinggi. Makanya kebijakan di negara lain itu membimbing supaya umkm naik kelas jd korporasi, supaya credit costnya otomatis turun", "post_id": "2067968046116061546"}}, {"key": "yorlasnave", "attributes": {"label": "yorlasnave", "x": 120.16748453872961, "y": 109.96963309513474, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2068249302649160012", "id": "yorlasnave", "source": "tweet-000004", "content": "Implementasinya apakah memungkinkan atau wowo asal ngecap ?😂 logic aja kalo suku bunga kredit SME disamakan dengan korporasi ya bank akan fokus kucurin dana ke korporasi aja drpd SME yg notabene risiko creditnya lebih besar \n\nGood luck UMKM indo makin downfall from here 😂", "post_id": "2068249302649160012"}}, {"key": "SarjanaEksu", "attributes": {"label": "SarjanaEksu", "x": 192.6215298805165, "y": 685.1319589040561, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 64.6478, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2068249302649160012", "id": "SarjanaEksu", "source": "tweet-000004", "content": "Implementasinya apakah memungkinkan atau wowo asal ngecap ?😂 logic aja kalo suku bunga kredit SME disamakan dengan korporasi ya bank akan fokus kucurin dana ke korporasi aja drpd SME yg notabene risiko creditnya lebih besar \n\nGood luck UMKM indo makin downfall from here 😂", "post_id": "2068249302649160012"}}, {"key": "idx_channel", "attributes": {"label": "idx_channel", "x": 634.7920294869025, "y": 269.3082939431943, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3925110357617634772_3310659452", "id": "idx_channel", "source": "instagram-000001", "content": "Keputusan berani Bank Indonesia untuk menaikkan kembali suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dinilai akan menjadi tantangan baru dunia usaha di paruh kedua tahun 2026. Tantangan bagi perusahaan tersebut mulai dari peningkatan biaya pendanaan (cost of fund), penundaan ekspansi bisnis dan investasi, penurunan daya beli konsumen hingga risiko lonjakan kredit bermasalah di industri perbankan maupun pembiayaan.\n\nDi sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seperti dikutip media meminta bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) untuk tidak segera menaikkan suku bunga pinjaman atau kredit. Sebab, kenaikan BI Rate dan suku bunga perbankan akan berdampak pada masyarakat dan pelaku usaha, terutama bagi mereka yang memiliki pinjaman di bank maupun perusahaan pembiayaan.\n\nSementara sejumlah sektor usaha yang berpotensi terdampak di era suku bunga tinggi diantaranya perumahan, konstruksi, otomotif, ritel dan barang konsumsi, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).\n\nSaksikan pembahasan selengkapnya dalam program Market Review bersama Prasetyo Wibowo , Senin 22 Juni 2026, pukul 21.00 - 21.30 WIB. LIVE di IDX Channel (Indihome Ch 119, MNC VISION Ch 100, MNC PLAY Ch 128 HD, First Media Ch 389, K-VISION Ch 129, OXYGEN Ch 137 dan MY REPUBLIK Ch 576). Saksikan juga LIVE STREAMING di www.idxchannel.com dan aplikasi IDX Channel TV di APPS  store.\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #marketreview #bankindonesia", "post_id": "3925110357617634772_3310659452"}}, {"key": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "prast_ulrich", "x": 65.23318464778238, "y": 305.96755234042297, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 64.6478, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3925110357617634772_3310659452", "id": "prast_ulrich", "source": "instagram-000001", "content": "Keputusan berani Bank Indonesia untuk menaikkan kembali suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dinilai akan menjadi tantangan baru dunia usaha di paruh kedua tahun 2026. Tantangan bagi perusahaan tersebut mulai dari peningkatan biaya pendanaan (cost of fund), penundaan ekspansi bisnis dan investasi, penurunan daya beli konsumen hingga risiko lonjakan kredit bermasalah di industri perbankan maupun pembiayaan.\n\nDi sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto seperti dikutip media meminta bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara) untuk tidak segera menaikkan suku bunga pinjaman atau kredit. Sebab, kenaikan BI Rate dan suku bunga perbankan akan berdampak pada masyarakat dan pelaku usaha, terutama bagi mereka yang memiliki pinjaman di bank maupun perusahaan pembiayaan.\n\nSementara sejumlah sektor usaha yang berpotensi terdampak di era suku bunga tinggi diantaranya perumahan, konstruksi, otomotif, ritel dan barang konsumsi, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).\n\nSaksikan pembahasan selengkapnya dalam program Market Review bersama Prasetyo Wibowo , Senin 22 Juni 2026, pukul 21.00 - 21.30 WIB. LIVE di IDX Channel (Indihome Ch 119, MNC VISION Ch 100, MNC PLAY Ch 128 HD, First Media Ch 389, K-VISION Ch 129, OXYGEN Ch 137 dan MY REPUBLIK Ch 576). Saksikan juga LIVE STREAMING di www.idxchannel.com dan aplikasi IDX Channel TV di APPS  store.\n\n#idxchannel #idxchannelcommunity #marketreview #bankindonesia", "post_id": "3925110357617634772_3310659452"}}, {"key": "arahjakarta", "attributes": {"label": "arahjakarta", "x": 349.10075736309807, "y": 773.6972997792865, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 232.9626, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "7641305557936426261", "id": "arahjakarta", "source": "tiktok-000001", "content": "Presiden Prabowo Subianto melempar kebijakan populis baru dengan memerintahkan bank-bank pelat merah (Himbara) untuk memangkas bunga kredit bagi rakyat kecil menjadi maksimal 5% per tahun. Langkah ekstrem ini diambil setelah Presiden menyoroti jeratan bunga pinjaman di lapangan yang diklaimnya bisa mencekik hingga 70% setahun. Merespons titah istana, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Dian Ediana Rae, angkat bicara (17/5).  Meski mengapresiasi niat baik pemerintah untuk membantu kelompok unbankable, OJK langsung mengingatkan perbankan untuk memperketat tata kelola dan manajemen risiko. Otoritas mendorong bank melakukan stress test berkala serta menyiapkan pencadangan yang memadai guna mengantisipasi potensi ledakan kredit macet di tengah skenario ekonomi global yang sedang bergejolak. Perintah penurunan bunga hingga di bawah tingkat inflasi riil atau biaya dana (cost of fund) perbankan saat ini adalah kebijakan yang berisiko tinggi. Di tengah situasi makro ekonomi yang sensitif—di mana Rupiah sempat tersungkur ke level Rp17.500—memaksa bank BUMN menyalurkan kredit murah tanpa kalkulasi matang bisa mengikis ketahanan modal perbankan nasional.  Jika tidak disubsidi penuh oleh APBN melalui skema Subsidi Bunga, kebijakan ini akan mengorbankan tingkat kesehatan bank-bank negara demi pemenuhan syahwat politik jangka pendek. Publik patut waspada: tanpa pengawasan ketat, pemaksaan kredit murah berisiko menciptakan gelombang Non-Performing Loan (NPL) baru, di mana dana masyarakat justru habis menguap akibat penyaluran yang tidak kredibel dan salah sasaran. Niat baik memberi modal murah bagi rakyat jangan sampai mengorbankan kesehatan bank negara, karena merawat kepercayaan pasar jauh lebih mahal ketimbang meramu retorika di panggung pidato. Menurut lo, bunga kredit 5% ini bakal beneran bikin UMKM kita maju, atau justru bakal bikin bank-bank BUMN kita yang kolaps akibat kredit macet? Follow  untuk memantau stabilitas perbankan dan kebijakan ekonomi nasional. Tetap kritis, kawal uang negara, jangan biarkan sistem keuangan kita rapuh akibat kebijakan yang dipaksakan tanpa mitigasi risiko yang matang!", "post_id": "7641305557936426261"}}, {"key": "@jejaksaham", "attributes": {"label": "@jejaksaham", "x": 457.5523073982952, "y": 197.34157573473576, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "zWbiOendx64", "id": "@jejaksaham", "source": "youtube-000001", "content": "🏦BBRI🏦 Turun 50%, Tapi Justru Makin Menarik? Ini Analisa Lengkapnya🤗\n\nBBRI Turun 50%, Tapi Justru Makin Menarik? Investo Ini Perhitungan Lengkapnya🤗 ‪‬ \n\nHarga saham BBRI sudah turun lebih dari 50% dari puncaknya. Banyak investor mulai khawatir, bahkan mempertanyakan apakah BBRI masih layak dimiliki.\n\nNamun apakah penurunan harga ini benar-benar menandakan bisnis yang memburuk? Atau justru membuka peluang bagi investor jangka panjang?\n\nDi video ini kita akan membahas BBRI secara mendalam, mulai dari model bisnisnya sebagai penguasa segmen mikro dan UMKM, kondisi keuangan terbaru, kualitas kredit, pertumbuhan laba, valuasi saat ini, hingga potensi dividen beberapa tahun ke depan.\n\nKita juga akan membahas simulasi strategi dividen investing, estimasi harga wajar berdasarkan beberapa pendekatan fundamental, zona akumulasi yang menarik, serta risiko-risiko yang tetap harus diperhatikan oleh investor.\n\nJika kamu adalah investor yang fokus pada fundamental, dividen, dan investasi jangka panjang, video ini wajib ditonton sampai selesai.\n\n📌 Pembahasan: ✔ Analisa bisnis BBRI\n✔ Kondisi keuangan terbaru\n✔ Valuasi dan harga wajar BBRI\n✔ Potensi dividen hingga 2030\n✔ Strategi beli bertahap\n✔ Risiko yang perlu diperhatikan\n✔ Kesimpulan dan outlook investasi\n\n⚠️ Disclaimer: Video ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.\n\n#BBRI #InvestasiSaham #Dividen #SahamIndonesia #ValueInvesting #IHSG #AnalisaSaham", "post_id": "zWbiOendx64"}}, {"key": "jejaksaham", "attributes": {"label": "jejaksaham", "x": 234.1347613764334, "y": 750.9691689814231, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 64.6478, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "zWbiOendx64", "id": "jejaksaham", "source": "youtube-000001", "content": "🏦BBRI🏦 Turun 50%, Tapi Justru Makin Menarik? Ini Analisa Lengkapnya🤗\n\nBBRI Turun 50%, Tapi Justru Makin Menarik? Investo Ini Perhitungan Lengkapnya🤗 ‪‬ \n\nHarga saham BBRI sudah turun lebih dari 50% dari puncaknya. Banyak investor mulai khawatir, bahkan mempertanyakan apakah BBRI masih layak dimiliki.\n\nNamun apakah penurunan harga ini benar-benar menandakan bisnis yang memburuk? Atau justru membuka peluang bagi investor jangka panjang?\n\nDi video ini kita akan membahas BBRI secara mendalam, mulai dari model bisnisnya sebagai penguasa segmen mikro dan UMKM, kondisi keuangan terbaru, kualitas kredit, pertumbuhan laba, valuasi saat ini, hingga potensi dividen beberapa tahun ke depan.\n\nKita juga akan membahas simulasi strategi dividen investing, estimasi harga wajar berdasarkan beberapa pendekatan fundamental, zona akumulasi yang menarik, serta risiko-risiko yang tetap harus diperhatikan oleh investor.\n\nJika kamu adalah investor yang fokus pada fundamental, dividen, dan investasi jangka panjang, video ini wajib ditonton sampai selesai.\n\n📌 Pembahasan: ✔ Analisa bisnis BBRI\n✔ Kondisi keuangan terbaru\n✔ Valuasi dan harga wajar BBRI\n✔ Potensi dividen hingga 2030\n✔ Strategi beli bertahap\n✔ Risiko yang perlu diperhatikan\n✔ Kesimpulan dan outlook investasi\n\n⚠️ Disclaimer: Video ini dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan ajakan membeli atau menjual saham tertentu. Seluruh keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.\n\n#BBRI #InvestasiSaham #Dividen #SahamIndonesia #ValueInvesting #IHSG #AnalisaSaham", "post_id": "zWbiOendx64"}}, {"key": "@sb30official", "attributes": {"label": "@sb30official", "x": 57.57544560180594, "y": 663.7345080720778, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "ApRy5EwmjPw", "id": "@sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Tembus 18.000 & Badai Pajak UMKM: 6 Alasan Mengapa Ekonomi Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja\n\n00:00 Hook: Dolar Melejit ke 18.000 & 6 Kebijakan \"Aneh\" Pemerintahan Baru yang Saling Mengunci\n\n00:51 Sisi Lain Ekonomi: Ini Bukan Kejadian Terpisah, Melainkan Satu Benang Merah Tekanan APBN\n\n01:49 Kebijakan 1—Bom Waktu Subsidi BBM: Efek Domino Harga Minyak Dunia (ICP) Tembus 91,8 Dolar\n\n03:29 Analogi Pinjol Rumah Tangga: Mengkritisi Retorika Politik \"Rakyat Desa Gak Butuh Dolar\"\n\n05:23 Kebijakan 2—Bom Waktu Pajak UMKM: Batas Waktu PPH Final 0,5% Habis, CV & PT Otomatis Kena 22%\n\n07:08 Aturan Firm Splitting: Ditjen Pajak Mengunci Celah Pengusaha yang Memecah Entitas Bisnis\n\n08:26 Kebijakan 3—Moneter Agresif: BI Rate Naik ke 5,5% Demi Menahan Modal Asing Keluar (Capital Outflow)\n\n09:55 Dampak Suku Bunga Mengambang (Floating): Sektor Properti, KPR, Otomatif, & UMKM Mulai Megap-Megap\n\n11:19 Kebijakan 4—Ekspor Satu Pintu DSI: Regulasi Danantara yang Memicu Ketidakpastian Investor Global\n\n12:38 Prediksi Ekstrim 2027: Risiko Nyata Aliran Devisa Macet yang Bisa Menyeret Rupiah ke 25.000\n\n13:17 Kebijakan 5—Lingkaran Setan PHK Massal: Kontraksi Daya Beli dan Penurunan Setoran PPN Negara\n\n14:37 Kebijakan 6—Krisis Kepercayaan Publik: Mempertanyakan Gurita Entitas Baru DSI, Danantara, & Kopdes\n\n15:40 Ironi Kopdes Merah Putih: Niat Menyaingi Alfamart-Indomaret tapi Ambil Stok di Gudang yang Sama\n\n16:27 Isu Transparansi Proyek Politik: Potensi Kebocoran Anggaran Tanpa Sistem Pengawasan yang Ketat\n\n17:01 Kesimpulan 6 Pilar Masalah: Rangkuman Siklus Benang Kusut Makro Ekonomi Indonesia 2026\n\n17:37 Strategi Survival Pengusaha: Audit Biaya, Cek Status Pajak Badan, & Antisipasi Kredit Mengambang\n\n17:52 Strategi Survival Karyawan: Keluar dari Sektor Rentan & Cara Membangun Sumber Income Tambahan\n\n18:36 Closing: Berhenti Mengutuk Pemerintah, Selamatkan Ekonomi Keluarga Anda! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "ApRy5EwmjPw"}}, {"key": "sb30official", "attributes": {"label": "sb30official", "x": 562.9561807958378, "y": 365.3387718328227, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 64.6478, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "ApRy5EwmjPw", "id": "sb30official", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah Tembus 18.000 & Badai Pajak UMKM: 6 Alasan Mengapa Ekonomi Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja\n\n00:00 Hook: Dolar Melejit ke 18.000 & 6 Kebijakan \"Aneh\" Pemerintahan Baru yang Saling Mengunci\n\n00:51 Sisi Lain Ekonomi: Ini Bukan Kejadian Terpisah, Melainkan Satu Benang Merah Tekanan APBN\n\n01:49 Kebijakan 1—Bom Waktu Subsidi BBM: Efek Domino Harga Minyak Dunia (ICP) Tembus 91,8 Dolar\n\n03:29 Analogi Pinjol Rumah Tangga: Mengkritisi Retorika Politik \"Rakyat Desa Gak Butuh Dolar\"\n\n05:23 Kebijakan 2—Bom Waktu Pajak UMKM: Batas Waktu PPH Final 0,5% Habis, CV & PT Otomatis Kena 22%\n\n07:08 Aturan Firm Splitting: Ditjen Pajak Mengunci Celah Pengusaha yang Memecah Entitas Bisnis\n\n08:26 Kebijakan 3—Moneter Agresif: BI Rate Naik ke 5,5% Demi Menahan Modal Asing Keluar (Capital Outflow)\n\n09:55 Dampak Suku Bunga Mengambang (Floating): Sektor Properti, KPR, Otomatif, & UMKM Mulai Megap-Megap\n\n11:19 Kebijakan 4—Ekspor Satu Pintu DSI: Regulasi Danantara yang Memicu Ketidakpastian Investor Global\n\n12:38 Prediksi Ekstrim 2027: Risiko Nyata Aliran Devisa Macet yang Bisa Menyeret Rupiah ke 25.000\n\n13:17 Kebijakan 5—Lingkaran Setan PHK Massal: Kontraksi Daya Beli dan Penurunan Setoran PPN Negara\n\n14:37 Kebijakan 6—Krisis Kepercayaan Publik: Mempertanyakan Gurita Entitas Baru DSI, Danantara, & Kopdes\n\n15:40 Ironi Kopdes Merah Putih: Niat Menyaingi Alfamart-Indomaret tapi Ambil Stok di Gudang yang Sama\n\n16:27 Isu Transparansi Proyek Politik: Potensi Kebocoran Anggaran Tanpa Sistem Pengawasan yang Ketat\n\n17:01 Kesimpulan 6 Pilar Masalah: Rangkuman Siklus Benang Kusut Makro Ekonomi Indonesia 2026\n\n17:37 Strategi Survival Pengusaha: Audit Biaya, Cek Status Pajak Badan, & Antisipasi Kredit Mengambang\n\n17:52 Strategi Survival Karyawan: Keluar dari Sektor Rentan & Cara Membangun Sumber Income Tambahan\n\n18:36 Closing: Berhenti Mengutuk Pemerintah, Selamatkan Ekonomi Keluarga Anda! Salam Hebat Luar Biasa!\n\n---\nWA CHANNEL SB30 UNTUK KONTEN EKSKLUSIF:\nhttps://whatsapp.com/channel/0029Vb61...\nGABUNG MEMBER YOUTUBE SUCCESS BEFORE 30\n   /", "post_id": "ApRy5EwmjPw"}}, {"key": "@EconpoliAI", "attributes": {"label": "@EconpoliAI", "x": 367.3987663461887, "y": 181.3341122725175, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 34.9448, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "239OdfrVgb0", "id": "@EconpoliAI", "source": "youtube-000001", "content": "SEBI Tindak Tegas Praktik Screen-Scraping -- Risiko Denda ₹1 Crore bagi Fintech\n\n[HOT] Tonton Selanjutnya — Lonjakan Impor $24 Miliar: India Mengaudit 9 FTA untuk Memperbaiki Defisit Perdagangan:    • $24B Import Surge: India Audits 9 FTAs to ...  \n\n[TV] JELAJAHI LEBIH LANJUT TENTANG TOPIK INI:\n• Pivot e-Rupee RBI Senilai ₹771 Miliar -- Tokenisasi Aset Baru Membuka Pintu:    • RBI’s ₹771Cr e-Rupee Pivot -- New Asset To...  \n• Peningkatan PDB 4% pada tahun 2030 — Tambang Emas Startup DPI 2.0 India:    • 4% GDP Boost by 2030 — India’s DPI 2.0 Sta...  \n• Kesenjangan Kredit ₹380 Miliar vs Pertumbuhan UMKM — Mengapa Arus Kas Menjadi Medan Pertempuran Baru India:    • ₹380 Billion Credit Gap vs MSME Growth — W...  \n\nSEBI telah mengeluarkan tindakan keras yang ketat terhadap Praktik pengambilan data dari layar (screen-scraping) menandakan pergeseran regulasi besar yang dapat mengenakan denda sebesar ₹1 crore kepada perusahaan fintech yang tidak patuh. Video ini menguraikan implikasi mandat baru ini bagi ekosistem keuangan India dan bagaimana hal itu akan membentuk kembali keamanan data dan privasi pengguna.\n\nBAB:\n00:00 — Pendahuluan\n00:08 — Apa yang Terjadi & Mengapa Itu Penting\n01:39 — Pemenang, Pecundang & Apa Kerugiannya bagi Anda\n03:36 — Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya & Bagaimana Beradaptasi\n\n[TV] Tonton versi singkatnya: https://www.youtube.com/\n[TWITTER] Ikuti di X untuk wawasan cepat: https://x.com/econpoliai\n[IG] Instagram Reels:   / econpoliai  \n[LINKEDIN] Analisis LinkedIn:   / 113052952  \n\n[BERLANGGANAN] Berlangganan untuk ekonomi & geopolitik harian:    /   \n\n#EconPoli #SEBI #Fintech #PrivasiData #PenjelasanEkonomi #BeritaTerbaru #BeritaDunia #Keuangan #Geopolitik #India", "post_id": "239OdfrVgb0"}}, {"key": "EconpoliAI/s...", "attributes": {"label": "EconpoliAI/s...", "x": 58.00389712144094, "y": 446.350989524633, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 49.7963, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "239OdfrVgb0", "id": "EconpoliAI/s...", "source": "youtube-000001", "content": "SEBI Tindak Tegas Praktik Screen-Scraping -- Risiko Denda ₹1 Crore bagi Fintech\n\n[HOT] Tonton Selanjutnya — Lonjakan Impor $24 Miliar: India Mengaudit 9 FTA untuk Memperbaiki Defisit Perdagangan:    • $24B Import Surge: India Audits 9 FTAs to ...  \n\n[TV] JELAJAHI LEBIH LANJUT TENTANG TOPIK INI:\n• Pivot e-Rupee RBI Senilai ₹771 Miliar -- Tokenisasi Aset Baru Membuka Pintu:    • RBI’s ₹771Cr e-Rupee Pivot -- New Asset To...  \n• Peningkatan PDB 4% pada tahun 2030 — Tambang Emas Startup DPI 2.0 India:    • 4% GDP Boost by 2030 — India’s DPI 2.0 Sta...  \n• Kesenjangan Kredit ₹380 Miliar vs Pertumbuhan UMKM — Mengapa Arus Kas Menjadi Medan Pertempuran Baru India:    • ₹380 Billion Credit Gap vs MSME Growth — W...  \n\nSEBI telah mengeluarkan tindakan keras yang ketat terhadap Praktik pengambilan data dari layar (screen-scraping) menandakan pergeseran regulasi besar yang dapat mengenakan denda sebesar ₹1 crore kepada perusahaan fintech yang tidak patuh. Video ini menguraikan implikasi mandat baru ini bagi ekosistem keuangan India dan bagaimana hal itu akan membentuk kembali keamanan data dan privasi pengguna.\n\nBAB:\n00:00 — Pendahuluan\n00:08 — Apa yang Terjadi & Mengapa Itu Penting\n01:39 — Pemenang, Pecundang & Apa Kerugiannya bagi Anda\n03:36 — Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya & Bagaimana Beradaptasi\n\n[TV] Tonton versi singkatnya: https://www.youtube.com/\n[TWITTER] Ikuti di X untuk wawasan cepat: https://x.com/econpoliai\n[IG] Instagram Reels:   / econpoliai  \n[LINKEDIN] Analisis LinkedIn:   / 113052952  \n\n[BERLANGGANAN] Berlangganan untuk ekonomi & geopolitik harian:    /   \n\n#EconPoli #SEBI #Fintech #PrivasiData #PenjelasanEkonomi #BeritaTerbaru #BeritaDunia #Keuangan #Geopolitik #India", "post_id": "239OdfrVgb0"}}, {"key": "econpoliai", "attributes": {"label": "econpoliai", "x": 230.87830956228515, "y": 352.7906209165186, "size": 15.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 49.7963, "eigenvector": 166.6667, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "239OdfrVgb0", "id": "econpoliai", "source": "youtube-000001", "content": "SEBI Tindak Tegas Praktik Screen-Scraping -- Risiko Denda ₹1 Crore bagi Fintech\n\n[HOT] Tonton Selanjutnya — Lonjakan Impor $24 Miliar: India Mengaudit 9 FTA untuk Memperbaiki Defisit Perdagangan:    • $24B Import Surge: India Audits 9 FTAs to ...  \n\n[TV] JELAJAHI LEBIH LANJUT TENTANG TOPIK INI:\n• Pivot e-Rupee RBI Senilai ₹771 Miliar -- Tokenisasi Aset Baru Membuka Pintu:    • RBI’s ₹771Cr e-Rupee Pivot -- New Asset To...  \n• Peningkatan PDB 4% pada tahun 2030 — Tambang Emas Startup DPI 2.0 India:    • 4% GDP Boost by 2030 — India’s DPI 2.0 Sta...  \n• Kesenjangan Kredit ₹380 Miliar vs Pertumbuhan UMKM — Mengapa Arus Kas Menjadi Medan Pertempuran Baru India:    • ₹380 Billion Credit Gap vs MSME Growth — W...  \n\nSEBI telah mengeluarkan tindakan keras yang ketat terhadap Praktik pengambilan data dari layar (screen-scraping) menandakan pergeseran regulasi besar yang dapat mengenakan denda sebesar ₹1 crore kepada perusahaan fintech yang tidak patuh. Video ini menguraikan implikasi mandat baru ini bagi ekosistem keuangan India dan bagaimana hal itu akan membentuk kembali keamanan data dan privasi pengguna.\n\nBAB:\n00:00 — Pendahuluan\n00:08 — Apa yang Terjadi & Mengapa Itu Penting\n01:39 — Pemenang, Pecundang & Apa Kerugiannya bagi Anda\n03:36 — Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya & Bagaimana Beradaptasi\n\n[TV] Tonton versi singkatnya: https://www.youtube.com/\n[TWITTER] Ikuti di X untuk wawasan cepat: https://x.com/econpoliai\n[IG] Instagram Reels:   / econpoliai  \n[LINKEDIN] Analisis LinkedIn:   / 113052952  \n\n[BERLANGGANAN] Berlangganan untuk ekonomi & geopolitik harian:    /   \n\n#EconPoli #SEBI #Fintech #PrivasiData #PenjelasanEkonomi #BeritaTerbaru #BeritaDunia #Keuangan #Geopolitik #India", "post_id": "239OdfrVgb0"}}], "edges": [{"key": "nida_ina", "source": "nida_ina", "target": "kalistohenituse", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "0xKros", "source": "0xKros", "target": "vedantamaha", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "0xKros", "source": "0xKros", "target": "ricky_hopmans", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "yorlasnave", "source": "yorlasnave", "target": "SarjanaEksu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "idx_channel", "source": "idx_channel", "target": "prast_ulrich", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "arahjakarta", "source": "arahjakarta", "target": "arahjakarta", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@jejaksaham", "source": "@jejaksaham", "target": "jejaksaham", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@sb30official", "source": "@sb30official", "target": "sb30official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@EconpoliAI", "source": "@EconpoliAI", "target": "EconpoliAI/s...", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@EconpoliAI", "source": "@EconpoliAI", "target": "econpoliai", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}