{"nodes": [{"key": "suaramuslimahjabar", "attributes": {"label": "suaramuslimahjabar", "x": 287.81661916912884, "y": 991.5602721372242, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 68.0658, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 6, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1447083657444392", "id": "suaramuslimahjabar", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus\n\nKrisis Kedelai, Tahu dan Tempe Masihkah Murah?\n\nHarga kedelai di Indonesia naik sebagai imbas kenaikan pada tingkat global. Harga kedelai dunia pada 21 Mei 2026 sebesar USD11,94/bushel, naik 18,3% dari awal tahun. Harga ini diprediksi akan naik lagi hingga USD13—14 (Rp230.308—248.024) per bushel setelah adanya kesepakatan pembelian kedelai AS dalam jumlah besar oleh Cina baru-baru ini. (Farm Progress, 18-5-2026). Di Indonesia, Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga kedelai impor di tingkat nasional pada 26 Mei 2026 adalah Rp13.679 per kg, naik 1,12% dibandingkan pada awal tahun.\n\nSelain karena kenaikan harga kedelai dunia, kenaikan harga kedelai di Indonesia juga disebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal tahun hingga menyentuh angka Rp17.906 per dolar AS pada Kamis (28-5-2026).\n\nKenaikan harga tahu dan tempe merupakan sebuah ironi. Pada saat harga ayam, daging, dan ikan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, kini tahu dan tempe pun tidak murah lagi. Alhasil, asupan protein untuk masyarakat makin minim, kualitas gizi masyarakat pun makin menurun.\n\nAlih-alih menyelesaikan masalah produksi dalam negeri, pemerintah justru menggenjot impor kedelai. Pemerintah membuat regulasi yang memasukkan kedelai sebagai komoditas impor non-larangan terbatas (non-lartas) sehingga perusahaan pengimpor bebas memasukkan kedelai ke Indonesia seberapa pun banyaknya. Kebijakan negara untuk melegalkan dominasi impor kedelai merupakan cerminan kuatnya liberalisasi pangan. Indonesia sebagai negara pengikut dalam konstelasi global berada dalam dominasi negara kapitalis (AS) sehingga Indonesia menjadi pasar bagi produk pertanian AS. Dominasi ini tampak dalam keputusan impor pangan yang masif dari negara adikuasa tersebut.\n\nIni adalah konsekuensi adopsi sistem kapitalisme oleh Indonesia dan dunia. Kapitalisme memandang pangan hanya sebagai komoditas yang diperlakukan berbasis prinsip ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebesar-besarnya. Impor lebih menguntungkan bagi para pejabat karena berpotensi mendatangkan keuntungan pribadi bagi dirinya dan pengusaha yang mendukungnya dalam kontestasi politik.\n\nNegara akhirnya menjadi seperti pedagang yang membuat keputusan berdasarkan untung rugi personal, bukan demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, negara lepas tangan dari urusan pangan rakyat dan menyerahkan pada mekanisme pasar.\n\nBerbeda dengan kapitalisme, Islam memandang persoalan pangan bukan sebaga komoditas semata, tetapi kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi negara. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).\n\nKetersediaan pangan akan mewujudkan salah satu maqashidu syariah, yaitu hifzhu nafs (penjagaan jiwa). Hal ini menjadi tanggung jawab penguasa yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda,\n\nأَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).\n\nKhalifah mengurus rakyat dengan prinsip “tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah” (kebijakan imam untuk mengurusi rakyat bergantung pada kemaslahatan), yaitu bahwa setiap kebijakan harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan pribadi penguasa dan kroninya.\n\nPolitik ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan individu per individu. Komoditas pangan strategis (seperti kedelai dan tempe sebagai sumber protein nabati) harus tersedia dalam jumlah cukup, yaitu mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, tanpa ada yang kekurangan atau kesulitan mengakses. Negara tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga kedaulatan pangan. Harga komoditas pangan strategis juga harus terjangkau oleh seluruh rakyat.\n\nNegara harus memperhatikan aspek produksi dan distribusi pangan. Pada aspek produksi, negara memastikan ketersediaan lahan cukup sehingga secara kuantitas bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.\n\nIslam memiliki solusi untuk permasalahan lahan, yaitu pertama, dengan pemberian lahan produktif dari negara pada rakyat (iqtha’). Yang kedua adalah kebolehan menghidupkan tanah mati (ihyaul mawat), yaitu tanah yang ditelantarkan selama tiga tahun berturut-turut terkategori tanah mati dan negara boleh mengambilnya untuk diberikan pada orang yang membutuhkan lahan dan bersedia menggarapnya. Dengan dua solusi ini, problem kekurangan lahan bisa teratasi.\n\nNegara Khilafah juga akan meningkatkan produksi pangan dengan penggunaan bibit unggul sehingga hasilnya lebih banyak dan kualitasnya terjamin. Negara juga akan memfasilitasi petani dengan menyediakan bibit dan pupuk, air irigasi, pestisida, penyuluh pertanian, dan semua alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi pertanian (saprotan).\n\nPembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung logistik dari petani ke pasar maupun konsumen. Teknologi pascapanen akan dikembangkan sehingga hasil panen tidak mudah mengalami susut (penurunan nilai ekonomi). Khilafah juga akan membiayai riset untuk mengembangkan varietas unggul sehingga membantu petani dalam produksi.\n\nNegara memberantas pelaku monopoli dan penimbunan yang bisa merusak harga alami pasar. Infrastruktur antarwilayah dipastikan tersedia dengan baik sehingga distribusi berjalan lancar.\n\nHarga bahan bakar dalam Khilafah akan dijaga agar murah dan stabil sehingga rakyat mudah mengaksesnya. Hal ini bisa terwujud dengan pengelolaan sumber daya alam milik umum (tambang migas) oleh negara, tidak diserahkan pada swasta, apalagi asing.\n\nKesatuan kaum muslim sedunia akan menjamin rantai pasok tetap aman. Jika ada wilayah yang kekurangan pangan strategis tertentu, baik karena paceklik atau hal lainnya, khalifah akan mendatangkan pasokan dari wilayah lain di dalam negara Khilafah. Demikian pula dalam hal penyediaan bahan bakar. Dengan demikian, negara tidak perlu melakukan impor terhadap komoditas strategis. Hal ini akan mencegah negara berada dalam dominasi negara asing.\n\nAllah Taala berfirman,\n\nوَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا\n\n“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’ [4]: 141).\n\nAdapun perdagangan luar negeri diatur bukan dengan orientasi keuntungan semata, melainkan berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan kepentingan dakwah dan jihad. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 161, “Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan tempat asal barang dagangan. Pedagang yang berasal dari negara yang sedang berperang dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya ataupun barang dagangannya. Pedagang yang berasal dari negara yang terikat perjanjian diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita dan mereka. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) dilarang mengekspor bahan-bahan yang diperlukan negara (Khilafah), termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat militer, industri, dan perekonomian musuh. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) tidak dilarang mengimpor barang yang hendak mereka miliki. Dikecualikan dari hukum-hukum ini, negara yang antara kita dan penduduknya terjadi peperangan secara langsung, seperti entitas Zion*s maka ia diperlakukan sebagai negara kafir harbi fi’lan pada semua hubungan dengan negara tersebut, baik hubungan perdagangan maupun nonperdagangan.”\n\nBerdasarkan pasal tersebut, Khilafah haram melakukan kerja sama dagang dengan negara kafir harbi fi’lan, seperti AS. Hanya ada hubungan perang dengan mereka. Dengan demikian, AS tidak akan bisa mendikte Khilafah, termasuk dalam aspek perdagangan (ekspor impor). Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1447083657444392"}}, {"key": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "zilenialdutaislam", "x": 197.88401349651585, "y": 732.0391015456142, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["facebook-000001"], "scores": {"pagerank": 77.7084, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 6, "out_degree": 0, "degree": 6}, "_id": "100064283155685_1447083657444392", "id": "zilenialdutaislam", "source": "facebook-000001", "content": "#Fokus\n\nKrisis Kedelai, Tahu dan Tempe Masihkah Murah?\n\nHarga kedelai di Indonesia naik sebagai imbas kenaikan pada tingkat global. Harga kedelai dunia pada 21 Mei 2026 sebesar USD11,94/bushel, naik 18,3% dari awal tahun. Harga ini diprediksi akan naik lagi hingga USD13—14 (Rp230.308—248.024) per bushel setelah adanya kesepakatan pembelian kedelai AS dalam jumlah besar oleh Cina baru-baru ini. (Farm Progress, 18-5-2026). Di Indonesia, Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa harga kedelai impor di tingkat nasional pada 26 Mei 2026 adalah Rp13.679 per kg, naik 1,12% dibandingkan pada awal tahun.\n\nSelain karena kenaikan harga kedelai dunia, kenaikan harga kedelai di Indonesia juga disebabkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Nilai tukar rupiah terus melemah sejak awal tahun hingga menyentuh angka Rp17.906 per dolar AS pada Kamis (28-5-2026).\n\nKenaikan harga tahu dan tempe merupakan sebuah ironi. Pada saat harga ayam, daging, dan ikan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat, kini tahu dan tempe pun tidak murah lagi. Alhasil, asupan protein untuk masyarakat makin minim, kualitas gizi masyarakat pun makin menurun.\n\nAlih-alih menyelesaikan masalah produksi dalam negeri, pemerintah justru menggenjot impor kedelai. Pemerintah membuat regulasi yang memasukkan kedelai sebagai komoditas impor non-larangan terbatas (non-lartas) sehingga perusahaan pengimpor bebas memasukkan kedelai ke Indonesia seberapa pun banyaknya. Kebijakan negara untuk melegalkan dominasi impor kedelai merupakan cerminan kuatnya liberalisasi pangan. Indonesia sebagai negara pengikut dalam konstelasi global berada dalam dominasi negara kapitalis (AS) sehingga Indonesia menjadi pasar bagi produk pertanian AS. Dominasi ini tampak dalam keputusan impor pangan yang masif dari negara adikuasa tersebut.\n\nIni adalah konsekuensi adopsi sistem kapitalisme oleh Indonesia dan dunia. Kapitalisme memandang pangan hanya sebagai komoditas yang diperlakukan berbasis prinsip ekonomi, yaitu meraih keuntungan sebesar-besarnya. Impor lebih menguntungkan bagi para pejabat karena berpotensi mendatangkan keuntungan pribadi bagi dirinya dan pengusaha yang mendukungnya dalam kontestasi politik.\n\nNegara akhirnya menjadi seperti pedagang yang membuat keputusan berdasarkan untung rugi personal, bukan demi kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, negara lepas tangan dari urusan pangan rakyat dan menyerahkan pada mekanisme pasar.\n\nBerbeda dengan kapitalisme, Islam memandang persoalan pangan bukan sebaga komoditas semata, tetapi kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi negara. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa di antara kalian ketika pagi merasakan sehat jasmaninya, menemukan rasa aman pada dirinya, dan memiliki makanan pokok hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia ini telah diberikan kepadanya.” (HR Tirmizi dan Ibnu Majah).\n\nKetersediaan pangan akan mewujudkan salah satu maqashidu syariah, yaitu hifzhu nafs (penjagaan jiwa). Hal ini menjadi tanggung jawab penguasa yang akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda,\n\nأَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ\n\n“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR Bukhari).\n\nKhalifah mengurus rakyat dengan prinsip “tasharruful imam ‘alar ra’iyyah manuthun bil maslahah” (kebijakan imam untuk mengurusi rakyat bergantung pada kemaslahatan), yaitu bahwa setiap kebijakan harus berorientasi pada kemaslahatan rakyat, bukan untuk keuntungan pribadi penguasa dan kroninya.\n\nPolitik ekonomi Islam menjamin pemenuhan kebutuhan pangan individu per individu. Komoditas pangan strategis (seperti kedelai dan tempe sebagai sumber protein nabati) harus tersedia dalam jumlah cukup, yaitu mampu memenuhi kebutuhan seluruh rakyat, tanpa ada yang kekurangan atau kesulitan mengakses. Negara tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga kedaulatan pangan. Harga komoditas pangan strategis juga harus terjangkau oleh seluruh rakyat.\n\nNegara harus memperhatikan aspek produksi dan distribusi pangan. Pada aspek produksi, negara memastikan ketersediaan lahan cukup sehingga secara kuantitas bisa memenuhi kebutuhan masyarakat.\n\nIslam memiliki solusi untuk permasalahan lahan, yaitu pertama, dengan pemberian lahan produktif dari negara pada rakyat (iqtha’). Yang kedua adalah kebolehan menghidupkan tanah mati (ihyaul mawat), yaitu tanah yang ditelantarkan selama tiga tahun berturut-turut terkategori tanah mati dan negara boleh mengambilnya untuk diberikan pada orang yang membutuhkan lahan dan bersedia menggarapnya. Dengan dua solusi ini, problem kekurangan lahan bisa teratasi.\n\nNegara Khilafah juga akan meningkatkan produksi pangan dengan penggunaan bibit unggul sehingga hasilnya lebih banyak dan kualitasnya terjamin. Negara juga akan memfasilitasi petani dengan menyediakan bibit dan pupuk, air irigasi, pestisida, penyuluh pertanian, dan semua alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi pertanian (saprotan).\n\nPembangunan infrastruktur dilakukan untuk mendukung logistik dari petani ke pasar maupun konsumen. Teknologi pascapanen akan dikembangkan sehingga hasil panen tidak mudah mengalami susut (penurunan nilai ekonomi). Khilafah juga akan membiayai riset untuk mengembangkan varietas unggul sehingga membantu petani dalam produksi.\n\nNegara memberantas pelaku monopoli dan penimbunan yang bisa merusak harga alami pasar. Infrastruktur antarwilayah dipastikan tersedia dengan baik sehingga distribusi berjalan lancar.\n\nHarga bahan bakar dalam Khilafah akan dijaga agar murah dan stabil sehingga rakyat mudah mengaksesnya. Hal ini bisa terwujud dengan pengelolaan sumber daya alam milik umum (tambang migas) oleh negara, tidak diserahkan pada swasta, apalagi asing.\n\nKesatuan kaum muslim sedunia akan menjamin rantai pasok tetap aman. Jika ada wilayah yang kekurangan pangan strategis tertentu, baik karena paceklik atau hal lainnya, khalifah akan mendatangkan pasokan dari wilayah lain di dalam negara Khilafah. Demikian pula dalam hal penyediaan bahan bakar. Dengan demikian, negara tidak perlu melakukan impor terhadap komoditas strategis. Hal ini akan mencegah negara berada dalam dominasi negara asing.\n\nAllah Taala berfirman,\n\nوَلَنْ يَّجْعَلَ اللّٰهُ لِلْكٰفِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلًا\n\n“Allah tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang mukmin.” (QS An-Nisa’ [4]: 141).\n\nAdapun perdagangan luar negeri diatur bukan dengan orientasi keuntungan semata, melainkan berdasarkan prinsip kewarganegaraan dan kepentingan dakwah dan jihad. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan dalam Kitab Muqaddimah ad-Dustûr Pasal 161, “Perdagangan luar negeri berlaku menurut kewarganegaraan pedagang, bukan berdasarkan tempat asal barang dagangan. Pedagang yang berasal dari negara yang sedang berperang dilarang mengadakan aktivitas perdagangan di negeri kita, kecuali dengan izin khusus untuk pedagangnya ataupun barang dagangannya. Pedagang yang berasal dari negara yang terikat perjanjian diperlakukan sesuai dengan teks perjanjian antara kita dan mereka. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) dilarang mengekspor bahan-bahan yang diperlukan negara (Khilafah), termasuk bahan-bahan yang akan memperkuat militer, industri, dan perekonomian musuh. Para pedagang yang berasal dari warga negara (Khilafah) tidak dilarang mengimpor barang yang hendak mereka miliki. Dikecualikan dari hukum-hukum ini, negara yang antara kita dan penduduknya terjadi peperangan secara langsung, seperti entitas Zion*s maka ia diperlakukan sebagai negara kafir harbi fi’lan pada semua hubungan dengan negara tersebut, baik hubungan perdagangan maupun nonperdagangan.”\n\nBerdasarkan pasal tersebut, Khilafah haram melakukan kerja sama dagang dengan negara kafir harbi fi’lan, seperti AS. Hanya ada hubungan perang dengan mereka. Dengan demikian, AS tidak akan bisa mendikte Khilafah, termasuk dalam aspek perdagangan (ekspor impor). Wallahualam bissawab.\n\n=================\n\nRaih amal shalih dengan menyebarkan status ini. \n\n\"Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.\" (HR. Muslim)\n\n====================\nSUARA MUSLIMAH JABAR\n\"Ungkapan Pemikiran Cemerlang Muslimah\"\n\nFollow kami di:\nFP : Suara Muslimah Jabar\nIG : \nThread: \nTiktok:", "post_id": "100064283155685_1447083657444392"}}, {"key": "@gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "@gotvnewsofficial", "x": 186.93356762380552, "y": 307.4936299187655, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 68.0658, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "0nwYnhvMcfc", "id": "@gotvnewsofficial", "source": "youtube-000001", "content": "🚨 Rupiah Tembus Rp18.000/USD: Apa Dampaknya bagi Kita?\n\nPelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup tajam ini membawa efek domino bagi perekonomian nasional. Mulai dari harga barang impor yang semakin mahal, potensi kenaikan inflasi bahan pangan, hingga beban berat bagi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.\n\nDi sisi lain, para pelaku ekspor justru berpotensi meraup untung lebih dan wisatawan asing datang untuk borong barang dalam negeri. \n\nLalu, bagaimana kondisi ini memengaruhi bisnis atau keuangan pribadi Anda? \n\nYuk, mulai tinjau ulang strategi keuangan kita demi menjaga daya beli!\n\n#rupiah #ekonomiindonesia #infoekonomi #nilaitukar #ekonomimakro #krisisekonomi #dolarnaik #keuangan #rupiahmelemah \n\nBergabung dengan channel ini untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\n------------------------------------------------------------------------------------------------------\nKunjungi kami untuk mendapatkan konten dan berita menarik lainnya\n\nWebsite GO TV NEWS  https://gotvnews.co.id/\n\nFacebook GO TV NEWS   / redaksigotvnews.co.id  \n\nInstagram GO TV NEWS https:   / redaksigotv  \n\nTiktok GOTVNEW :   / gotv.id  \n\n#gotvnews #beritaviral #beritaterkini #livestreaming #breakingnews #news  #kepri #terbaru #terupdate #terpercaya #tanjungpinang #batam #karimun #lingga #bintan #natuna #anambas #beritaterbaru #beritakepri #keprisehat #kabarkepri #keprihariini #nasional #jakarta \n\nJangan lupa saksikan terus kami di Official Youtube GO TV NEWS dan Website Berita resmi kami di gotvnews.co.id\n--------------------------------------------------------------------------------------------------\nCopyright© GOTVNEWS\n--------------------------------------------------------------------------------------------------", "post_id": "0nwYnhvMcfc"}}, {"key": "gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "gotvnewsofficial", "x": 416.43468105014523, "y": 289.0526577735937, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 125.9218, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0nwYnhvMcfc", "id": "gotvnewsofficial", "source": "youtube-000001", "content": "🚨 Rupiah Tembus Rp18.000/USD: Apa Dampaknya bagi Kita?\n\nPelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup tajam ini membawa efek domino bagi perekonomian nasional. Mulai dari harga barang impor yang semakin mahal, potensi kenaikan inflasi bahan pangan, hingga beban berat bagi industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.\n\nDi sisi lain, para pelaku ekspor justru berpotensi meraup untung lebih dan wisatawan asing datang untuk borong barang dalam negeri. \n\nLalu, bagaimana kondisi ini memengaruhi bisnis atau keuangan pribadi Anda? \n\nYuk, mulai tinjau ulang strategi keuangan kita demi menjaga daya beli!\n\n#rupiah #ekonomiindonesia #infoekonomi #nilaitukar #ekonomimakro #krisisekonomi #dolarnaik #keuangan #rupiahmelemah \n\nBergabung dengan channel ini untuk mendapatkan akses ke berbagai keuntungan:\n   /   \n\n------------------------------------------------------------------------------------------------------\nKunjungi kami untuk mendapatkan konten dan berita menarik lainnya\n\nWebsite GO TV NEWS  https://gotvnews.co.id/\n\nFacebook GO TV NEWS   / redaksigotvnews.co.id  \n\nInstagram GO TV NEWS https:   / redaksigotv  \n\nTiktok GOTVNEW :   / gotv.id  \n\n#gotvnews #beritaviral #beritaterkini #livestreaming #breakingnews #news  #kepri #terbaru #terupdate #terpercaya #tanjungpinang #batam #karimun #lingga #bintan #natuna #anambas #beritaterbaru #beritakepri #keprisehat #kabarkepri #keprihariini #nasional #jakarta \n\nJangan lupa saksikan terus kami di Official Youtube GO TV NEWS dan Website Berita resmi kami di gotvnews.co.id\n--------------------------------------------------------------------------------------------------\nCopyright© GOTVNEWS\n--------------------------------------------------------------------------------------------------", "post_id": "0nwYnhvMcfc"}}, {"key": "@Bennix", "attributes": {"label": "@Bennix", "x": 218.17745110791708, "y": 121.15222957625382, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 68.0658, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 0, "out_degree": 4, "degree": 4}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "@Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "Bennix", "attributes": {"label": "Bennix", "x": 50.158343815428495, "y": 686.6360146972162, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 82.5298, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "Bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix.official", "attributes": {"label": "bennix.official", "x": 296.4493151711732, "y": 672.9016543460779, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 82.5298, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix.official", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix.real", "attributes": {"label": "bennix.real", "x": 902.9798897110168, "y": 698.2535999483437, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 82.5298, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix.real", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "bennix", "attributes": {"label": "bennix", "x": 599.9510622120401, "y": 289.21857328134547, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 82.5298, "eigenvector": 200.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "0apVHpnfQUs", "id": "bennix", "source": "youtube-000001", "content": "DOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDOSA BESAR DIBALIK REPUBLIK TEPUNG!! 56 T Devisa Habis Tiap Tahun, Rakyat RI SUKSES DI CUCI OTAK?\n\nDalam video ini kita akan membahas fenomena yang jarang disadari oleh masyarakat Indonesia, yaitu bagaimana Indonesia perlahan berubah menjadi \"Republik Tepung\". Ketergantungan masyarakat terhadap makanan berbasis tepung dan gandum impor terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara Indonesia bukanlah negara penghasil gandum. Akibatnya, puluhan triliun rupiah devisa harus keluar setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan impor gandum yang terus melonjak. Apakah kondisi ini hanya sekadar perubahan pola konsumsi, atau ada faktor ekonomi global yang lebih besar di baliknya?\n\nVideo ini mengulas sejarah masuknya gandum ke Indonesia, perubahan pola makan masyarakat, menjamurnya makanan berbasis tepung di berbagai daerah, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa negara. Kita juga akan membahas mengapa Indonesia yang kaya akan sumber karbohidrat lokal seperti singkong, ubi, sagu, dan jagung justru semakin bergantung pada gandum impor. Benarkah ketergantungan ini menjadi salah satu faktor yang membuat devisa terus mengalir ke luar negeri? Apakah konsumsi gandum yang terus meningkat dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan nilai tukar rupiah dalam jangka panjang?\n\nSelain itu, video ini juga mengulas perkembangan industri pangan Indonesia, impor gandum Indonesia, konsumsi tepung terigu nasional, kondisi petani lokal, strategi ketahanan pangan, kedaulatan pangan Indonesia, serta tantangan ekonomi yang dihadapi Indonesia di tengah persaingan global. Dengan data, fakta, dan analisis ekonomi yang menarik, video ini akan membantu Anda memahami bagaimana kebiasaan konsumsi masyarakat dapat berdampak pada perekonomian negara secara keseluruhan.\n\nTonton sampai selesai dan bagikan pendapat Anda di kolom komentar. Apakah Indonesia sudah terlalu bergantung pada gandum impor? Apakah pangan lokal bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut? Jangan lupa subscribe, nyalakan lonceng notifikasi, dan dukung channel ini agar terus menghadirkan analisis ekonomi, geopolitik, perdagangan internasional, dan isu strategis Indonesia yang jarang dibahas media arus utama.\n\n\n\nCome on, join the Bennix Investor Group now!!\nWhile there are still lots of promotions.\nvisit: www.Bennix.id\n\nEmail: halobennix\nRequests for Interviews, Speaking or Business Inquiries can contact us \n\nManager Lisa at\nWA: 0811-868-959\n-\n-\nFollow me:\nFacebook :\n\nInstagram:\n\nTikTok:\n\n\nMusic by Karl Casey @ White Bat Audio\n\nJoin Free Whatsaap Channel Bennix :\nhttps://www.whatsapp.com/channel/0029...\n\nJoin this channel to get access to perks:\n   /", "post_id": "0apVHpnfQUs"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "@tribunnewsbogorvideo", "x": 33.93338609537777, "y": 222.59193913702413, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 68.0658, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}, {"key": "tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "tribunnewsbogorvideo", "x": 696.5938228262157, "y": 982.2629719344575, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 96.9938, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "tribunnewsbogorvideo", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}, {"key": "tribunbogor", "attributes": {"label": "tribunbogor", "x": 647.7212562436673, "y": 199.79369814534985, "size": 3.0, "color": "#B3B6C6", "sentiment": "netral", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 96.9938, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "Jq7jNuw3aVo", "id": "tribunbogor", "source": "youtube-000001", "content": "Sempat Tembus Rp90 Ribu! Harga Cabai Mulai Melandai, Komoditas Lain Masih Naik\n\nDownload aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru.\n\nHarga cabai rawit merah di Pasar Gembrong Sukasari, Kota Bogor, akhirnya mengalami penurunan setelah sempat melonjak hingga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per kilogram. Kini, harga cabai rawit merah kembali berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.\n\nMeski begitu, pedagang menyebut sebagian besar komoditas sayuran lainnya masih mengalami kenaikan harga. Kenaikan BBM dan melemahnya nilai tukar rupiah disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga pangan, termasuk komoditas impor seperti bawang putih.\n\nProgram:\nHost:\nEditor Video: Dwi\nUploader: Dwi\n\nJangan lupa follow akun-akun sosial media TribunnewsBogor.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:\n\nYouTube:    /   \nFacebook:   / tribunnewsbogor  \nSaluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaGz...\nTikTok:   / tribunbogor  \n​Instagram:", "post_id": "Jq7jNuw3aVo"}}], "edges": [{"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "suaramuslimahjabar", "source": "suaramuslimahjabar", "target": "zilenialdutaislam", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@gotvnewsofficial", "source": "@gotvnewsofficial", "target": "gotvnewsofficial", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "Bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix.real", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@Bennix", "source": "@Bennix", "target": "bennix", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "@tribunnewsbogorvideo", "target": "tribunnewsbogorvideo", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@tribunnewsbogorvideo", "source": "@tribunnewsbogorvideo", "target": "tribunbogor", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}