{"nodes": [{"key": "riversandlakes5", "attributes": {"label": "riversandlakes5", "x": 28.83551947210117, "y": 773.6014988497807, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2047619334261105138", "id": "riversandlakes5", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah terus melemah hingga sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS. Di tengah tekanan itu, Bank Indonesia menilai nilai tuka…", "post_id": "2047619334261105138"}}, {"key": "kompascom", "attributes": {"label": "kompascom", "x": 164.10108477385887, "y": 342.5707244834281, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 65.9323, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2047619334261105138", "id": "kompascom", "source": "retweet-000002", "content": "Rupiah terus melemah hingga sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS. Di tengah tekanan itu, Bank Indonesia menilai nilai tuka…", "post_id": "2047619334261105138"}}, {"key": "JHPrabowo_on_X", "attributes": {"label": "JHPrabowo_on_X", "x": 454.79548038576036, "y": 699.6691682837652, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051436737554247700", "id": "JHPrabowo_on_X", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051436737554247700"}}, {"key": "RagilSemar", "attributes": {"label": "RagilSemar", "x": 357.4947965976565, "y": 951.334016381981, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 319.8561, "eigenvector": 313.2261, "in_degree": 16, "out_degree": 2, "degree": 18}, "_id": "2051436737554247700", "id": "RagilSemar", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051436737554247700"}}, {"key": "abah_iman_", "attributes": {"label": "abah_iman_", "x": 70.37975679994734, "y": 586.8846888854927, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051197152769278047", "id": "abah_iman_", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051197152769278047"}}, {"key": "HasyimEdwin", "attributes": {"label": "HasyimEdwin", "x": 998.7573160788573, "y": 304.5803200338335, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051403310822048052", "id": "HasyimEdwin", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051403310822048052"}}, {"key": "black_k00k33", "attributes": {"label": "black_k00k33", "x": 540.6859923671749, "y": 126.50833081924617, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051139422650065074", "id": "black_k00k33", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051139422650065074"}}, {"key": "guan6566", "attributes": {"label": "guan6566", "x": 689.0900544065948, "y": 589.4689147115025, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051157495129985314", "id": "guan6566", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051157495129985314"}}, {"key": "beautydyah", "attributes": {"label": "beautydyah", "x": 736.2200535444102, "y": 928.9022751149157, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051136102749417487", "id": "beautydyah", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051136102749417487"}}, {"key": "DarthConscious", "attributes": {"label": "DarthConscious", "x": 71.49997824646238, "y": 915.9667697328298, "size": 6.76, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 98.1106, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051188971594735934", "id": "DarthConscious", "source": "retweet-000002", "content": "Bagong ceritakan ulang (karena artikelnya harus subscribe di Kompas)\n##\nRupiah pernah ambles ke Rp 17.000/dolar AS.\nPerusah…", "post_id": "2051188971594735934"}}, {"key": "hariankompas", "attributes": {"label": "hariankompas", "x": 555.4492378904419, "y": 438.95164204160886, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "3889445428417243229_1537212147", "id": "hariankompas", "source": "instagram-000001", "content": "Awal Januari 1998, rupiah seperti kehilangan jangkar. Dari sekitar Rp 2.450 per dolar AS pada Juli 1997, ia amblas, menyentuh Rp 17.000. Di balik angka itu ada perusahaan tutup, pekerja pulang tanpa kepastian. Ada dapur mendadak sunyi.\n\nPada 23 Februari 1998, di Bundaran Hotel Indonesia, sekelompok perempuan berdiri, membawa kegelisahan yang sederhana: harga susu yang melonjak. Tapi, justru di situlah krisis menemukan wajahnya, bukan dalam grafik. Melainkan dalam antrean, dalam kecemasan. Inflasi mencapai 77 persen. Ekonomi Indonesia runtuh. Mahasiswa turun ke jalan.\n\nMereka yang melewati 1998 tahu, itu tak sekadar krisis ekonomi. Peristiwa itu menjadi luka, tersimpan dalam ingatan kolektif. Mungkin karena itu, di Indonesia, nilai tukar tak pernah hanya angka, tetapi seperti detak jantung: sedikit bergejolak, ingatan lama bangkit. Setiap kali rupiah melemah, bayang-bayang Krisis Keuangan Asia 1998 kembali hadir, di pasar, di percakapan—dan mungkin—memengaruhi keputusan.\n\nRupiah, Risiko, dan Ingatan 1998\nOpini 4 Mei 2026\n\nDitulis oleh Muhamad Chatib Basri () \nVisiting Scholar Center for International Development Harvard University\n\n#HarianKompas #Kompasid #OpiniKompas #Ekonomi", "post_id": "3889445428417243229_1537212147"}}, {"key": "chatibbasri", "attributes": {"label": "chatibbasri", "x": 917.9289273526878, "y": 386.33064899301326, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 65.9323, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3889445428417243229_1537212147", "id": "chatibbasri", "source": "instagram-000001", "content": "Awal Januari 1998, rupiah seperti kehilangan jangkar. Dari sekitar Rp 2.450 per dolar AS pada Juli 1997, ia amblas, menyentuh Rp 17.000. Di balik angka itu ada perusahaan tutup, pekerja pulang tanpa kepastian. Ada dapur mendadak sunyi.\n\nPada 23 Februari 1998, di Bundaran Hotel Indonesia, sekelompok perempuan berdiri, membawa kegelisahan yang sederhana: harga susu yang melonjak. Tapi, justru di situlah krisis menemukan wajahnya, bukan dalam grafik. Melainkan dalam antrean, dalam kecemasan. Inflasi mencapai 77 persen. Ekonomi Indonesia runtuh. Mahasiswa turun ke jalan.\n\nMereka yang melewati 1998 tahu, itu tak sekadar krisis ekonomi. Peristiwa itu menjadi luka, tersimpan dalam ingatan kolektif. Mungkin karena itu, di Indonesia, nilai tukar tak pernah hanya angka, tetapi seperti detak jantung: sedikit bergejolak, ingatan lama bangkit. Setiap kali rupiah melemah, bayang-bayang Krisis Keuangan Asia 1998 kembali hadir, di pasar, di percakapan—dan mungkin—memengaruhi keputusan.\n\nRupiah, Risiko, dan Ingatan 1998\nOpini 4 Mei 2026\n\nDitulis oleh Muhamad Chatib Basri () \nVisiting Scholar Center for International Development Harvard University\n\n#HarianKompas #Kompasid #OpiniKompas #Ekonomi", "post_id": "3889445428417243229_1537212147"}}, {"key": "@Lumin.insight", "attributes": {"label": "@Lumin.insight", "x": 620.1006649641851, "y": 245.83517346244844, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 46.2683, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "dC65kCPG4oE", "id": "@Lumin.insight", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah 17.000/1$!!\n\nTiktok lumin:\nhttps://www.tiktok.com/?i...\n\nInstagram lumin:\nhttps://www.instagram.com/lumin_katon...\n\nWa bisnis lumin:\nhttps://wa.me/+6285121383942\n\nIHSG ambruk 3,38% ke level 7.129 pada Jumat (24/4) — pelemahan 5 hari beruntun dengan total koreksi 6,61% — dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik: ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan jalur perdagangan global, yang membuat harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran $106/barel, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan melebarnya defisit anggaran; di sisi lain, penguatan dolar AS secara global dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia menekan rupiah hingga mendekati Rp17.300/USD — level terlemah sepanjang sejarah; sebagai negara net importir minyak, kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat tajam, memperparah tekanan pada rupiah; dan akumulasi net sell asing sejak awal tahun 2026 menembus Rp40 triliun, dengan panic selling dan forced sell yang menyebar merata ke seluruh sektor terutama energi, infrastruktur, dan properti.\n\n #bisnis #trading #trading #bisnisbaru #saham #money #forex #cryptocurrency #pengusaha #bitcoin #motivasi", "post_id": "dC65kCPG4oE"}}, {"key": "katon_lumin", "attributes": {"label": "katon_lumin", "x": 678.1277895400551, "y": 523.8622267821776, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 85.5964, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "dC65kCPG4oE", "id": "katon_lumin", "source": "youtube-000001", "content": "Rupiah melemah 17.000/1$!!\n\nTiktok lumin:\nhttps://www.tiktok.com/?i...\n\nInstagram lumin:\nhttps://www.instagram.com/lumin_katon...\n\nWa bisnis lumin:\nhttps://wa.me/+6285121383942\n\nIHSG ambruk 3,38% ke level 7.129 pada Jumat (24/4) — pelemahan 5 hari beruntun dengan total koreksi 6,61% — dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik: ketegangan geopolitik di Selat Hormuz memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan jalur perdagangan global, yang membuat harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran $106/barel, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan melebarnya defisit anggaran; di sisi lain, penguatan dolar AS secara global dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia menekan rupiah hingga mendekati Rp17.300/USD — level terlemah sepanjang sejarah; sebagai negara net importir minyak, kebutuhan dolar untuk impor energi meningkat tajam, memperparah tekanan pada rupiah; dan akumulasi net sell asing sejak awal tahun 2026 menembus Rp40 triliun, dengan panic selling dan forced sell yang menyebar merata ke seluruh sektor terutama energi, infrastruktur, dan properti.\n\n #bisnis #trading #trading #bisnisbaru #saham #money #forex #cryptocurrency #pengusaha #bitcoin #motivasi", "post_id": "dC65kCPG4oE"}}], "edges": [{"key": "riversandlakes5", "source": "riversandlakes5", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "riversandlakes5", "source": "riversandlakes5", "target": "kompascom", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "JHPrabowo_on_X", "source": "JHPrabowo_on_X", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "JHPrabowo_on_X", "source": "JHPrabowo_on_X", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "abah_iman_", "source": "abah_iman_", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "abah_iman_", "source": "abah_iman_", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "HasyimEdwin", "source": "HasyimEdwin", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "HasyimEdwin", "source": "HasyimEdwin", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "black_k00k33", "source": "black_k00k33", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "black_k00k33", "source": "black_k00k33", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "guan6566", "source": "guan6566", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "guan6566", "source": "guan6566", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "beautydyah", "source": "beautydyah", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "beautydyah", "source": "beautydyah", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "DarthConscious", "source": "DarthConscious", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "DarthConscious", "source": "DarthConscious", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "RagilSemar", "source": "RagilSemar", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "RagilSemar", "source": "RagilSemar", "target": "RagilSemar", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "chatibbasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "hariankompas", "source": "hariankompas", "target": "chatibbasri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "facebook-000001"}}, {"key": "@Lumin.insight", "source": "@Lumin.insight", "target": "katon_lumin", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}