{"nodes": [{"key": "bppsdm_pkpdumai", "attributes": {"label": "bppsdm_pkpdumai", "x": 396.7371728043836, "y": 194.647321373978, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 2, "degree": 2}, "_id": "2051976735571550265", "id": "bppsdm_pkpdumai", "source": "retweet-000002", "content": "#SobatBahari, lewat goresan kuas bertema “Sinergi Erat Menjaga Rupiah Berdaulat”, Siswi SUPM Tegal berhasil mengukir prestas…", "post_id": "2051976735571550265"}}, {"key": "bppsdm_kp", "attributes": {"label": "bppsdm_kp", "x": 696.6860551576946, "y": 423.53035685230424, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["retweet-000002"], "scores": {"pagerank": 27.4541, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "2051976735571550265", "id": "bppsdm_kp", "source": "retweet-000002", "content": "#SobatBahari, lewat goresan kuas bertema “Sinergi Erat Menjaga Rupiah Berdaulat”, Siswi SUPM Tegal berhasil mengukir prestas…", "post_id": "2051976735571550265"}}, {"key": "onorus7940", "attributes": {"label": "onorus7940", "x": 744.6681237801675, "y": 365.1172403503192, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "2051314905136103874", "id": "onorus7940", "source": "tweet-000004", "content": "Merasa bisa  ( rumongso iso ) thomas djiwandono  tapi ora iso rumongso ( tidak bisa merasa ) . tinggal tunggu waktu nya  collaps moneter B.I di tangan deputy B.I coba - coba .", "post_id": "2051314905136103874"}}, {"key": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "LambeSahamjja", "x": 663.461794260261, "y": 994.9699767405872, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 35.6421, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "2051314905136103874", "id": "LambeSahamjja", "source": "tweet-000004", "content": "Merasa bisa  ( rumongso iso ) thomas djiwandono  tapi ora iso rumongso ( tidak bisa merasa ) . tinggal tunggu waktu nya  collaps moneter B.I di tangan deputy B.I coba - coba .", "post_id": "2051314905136103874"}}, {"key": "BI_ProvinsiBali", "attributes": {"label": "BI_ProvinsiBali", "x": 734.7394759353845, "y": 267.7349843170314, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tweet-000004"], "scores": {"pagerank": 128.4393, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "2050915292650643891", "id": "BI_ProvinsiBali", "source": "tweet-000004", "content": "Halo Semeton Rupiah! 👋\n\n menyelenggarakan Kick-Off Baligivation Festival 2026 (28/4) dengan tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Bali melalui Penguatan Digitalisasi dan Sinergi” sebagai langkah nyata mendorong ekonomi Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. 🌏 https://t.co/ArtR9Dfvmw", "post_id": "2050915292650643891"}}, {"key": "bank_indonesia_bali", "attributes": {"label": "bank_indonesia_bali", "x": 926.1773291744394, "y": 823.51790278604, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 128.4393, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3888882496876784769_3318831418", "id": "bank_indonesia_bali", "source": "instagram-000001", "content": "Halo Semeton Rupiah! 👋\n\n menyelenggarakan Kick-Off Baligivation Festival 2026 pada 28 April 2026 dengan tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Bali melalui Penguatan Digitalisasi dan Sinergi” sebagai langkah nyata mendorong ekonomi Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. 🌏\n\nKegiatan ini memperkuat sinergi lintas sektor sekaligus menegaskan komitmen penertiban money changer ilegal melalui seremoni pemindaian QR Logo KUPVA BB berizin oleh Gubernur Bali sebagai edukasi kepada masyarakat. ✨\n\nTak hanya itu, Baligivation 2026 juga menghadirkan seminar, sarasehan, serta berbagai program kolaboratif untuk mempercepat digitalisasi, memperluas literasi digital, dan mendorong peran generasi muda dalam transformasi ekonomi digital Bali. 🚀\n\nYuk, jadi bagian dari perjalanan digital Bali!\nSwipe untuk tahu lebih lanjut! 👉\n\n#diSetiapMaknaIndonesia #BankIndonesia #BIBaliAsikBIBaliTerbaik #Baligivation2026 #RahayuRahayuRahayu", "post_id": "3888882496876784769_3318831418"}}, {"key": "infobnn_prov_aceh", "attributes": {"label": "infobnn_prov_aceh", "x": 752.7823333791206, "y": 307.54384194043706, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 0, "out_degree": 3, "degree": 3}, "_id": "3885158944067162867_1565414733", "id": "infobnn_prov_aceh", "source": "instagram-000001", "content": "BNNP Aceh dan USK Kolaborasi Gelar Lomba Video Reels Edukatif Anti Narkotika se-Aceh\n\nBNNP Aceh berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Lomba Video Reels Edukatif Mahasiswa Anti Narkotika tingkat Provinsi Aceh yang resmi dimulai pada 28 April hingga 18 Mei 2026.\n\nKolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan kreatif dan digital. Lomba ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah.\n\nFinalisasi kegiatan dilakukan melalui pertemuan antara tim BNNP Aceh yang dipimpin oleh Katim Humas, Desi Rosdiana, SKM., MKM., dengan Wakil Rektor III USK Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Pertemuan tersebut membahas teknis pelaksanaan serta penguatan sinergi dalam menyukseskan kegiatan.\n\nKegiatan ini juga mendapat dukungan dari Bank Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung gerakan edukasi dan pencegahan narkoba di kalangan generasi muda. Melalui lomba video reels ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan edukatif secara kreatif, inspiratif, dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi sebaya. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah kampanye positif untuk meningkatkan kesadaran kolektif terhadap bahaya narkotika.\n\nDengan semangat kolaborasi dan inovasi, BNNP Aceh bersama USK optimis kegiatan ini dapat menjadi gerakan masif dalam membangun generasi Aceh yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.\n\n   \n\n#WarOnDrugsForHumanity \n#ANANDABersinar \n#SejukMenjagaKondusifitas", "post_id": "3885158944067162867_1565414733"}}, {"key": "infobnn_ri", "attributes": {"label": "infobnn_ri", "x": 538.914306886648, "y": 449.29352067863493, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7247, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3885158944067162867_1565414733", "id": "infobnn_ri", "source": "instagram-000001", "content": "BNNP Aceh dan USK Kolaborasi Gelar Lomba Video Reels Edukatif Anti Narkotika se-Aceh\n\nBNNP Aceh berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Lomba Video Reels Edukatif Mahasiswa Anti Narkotika tingkat Provinsi Aceh yang resmi dimulai pada 28 April hingga 18 Mei 2026.\n\nKolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan kreatif dan digital. Lomba ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah.\n\nFinalisasi kegiatan dilakukan melalui pertemuan antara tim BNNP Aceh yang dipimpin oleh Katim Humas, Desi Rosdiana, SKM., MKM., dengan Wakil Rektor III USK Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Pertemuan tersebut membahas teknis pelaksanaan serta penguatan sinergi dalam menyukseskan kegiatan.\n\nKegiatan ini juga mendapat dukungan dari Bank Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung gerakan edukasi dan pencegahan narkoba di kalangan generasi muda. Melalui lomba video reels ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan edukatif secara kreatif, inspiratif, dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi sebaya. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah kampanye positif untuk meningkatkan kesadaran kolektif terhadap bahaya narkotika.\n\nDengan semangat kolaborasi dan inovasi, BNNP Aceh bersama USK optimis kegiatan ini dapat menjadi gerakan masif dalam membangun generasi Aceh yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.\n\n   \n\n#WarOnDrugsForHumanity \n#ANANDABersinar \n#SejukMenjagaKondusifitas", "post_id": "3885158944067162867_1565414733"}}, {"key": "suyudiarioseto.official", "attributes": {"label": "suyudiarioseto.official", "x": 189.70989082426902, "y": 368.51698167486893, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7247, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3885158944067162867_1565414733", "id": "suyudiarioseto.official", "source": "instagram-000001", "content": "BNNP Aceh dan USK Kolaborasi Gelar Lomba Video Reels Edukatif Anti Narkotika se-Aceh\n\nBNNP Aceh berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Lomba Video Reels Edukatif Mahasiswa Anti Narkotika tingkat Provinsi Aceh yang resmi dimulai pada 28 April hingga 18 Mei 2026.\n\nKolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan kreatif dan digital. Lomba ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah.\n\nFinalisasi kegiatan dilakukan melalui pertemuan antara tim BNNP Aceh yang dipimpin oleh Katim Humas, Desi Rosdiana, SKM., MKM., dengan Wakil Rektor III USK Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Pertemuan tersebut membahas teknis pelaksanaan serta penguatan sinergi dalam menyukseskan kegiatan.\n\nKegiatan ini juga mendapat dukungan dari Bank Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung gerakan edukasi dan pencegahan narkoba di kalangan generasi muda. Melalui lomba video reels ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan edukatif secara kreatif, inspiratif, dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi sebaya. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah kampanye positif untuk meningkatkan kesadaran kolektif terhadap bahaya narkotika.\n\nDengan semangat kolaborasi dan inovasi, BNNP Aceh bersama USK optimis kegiatan ini dapat menjadi gerakan masif dalam membangun generasi Aceh yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.\n\n   \n\n#WarOnDrugsForHumanity \n#ANANDABersinar \n#SejukMenjagaKondusifitas", "post_id": "3885158944067162867_1565414733"}}, {"key": "univ_syiahkuala", "attributes": {"label": "univ_syiahkuala", "x": 458.57414435737854, "y": 577.4399438840675, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 24.7247, "eigenvector": 0.0001, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "3885158944067162867_1565414733", "id": "univ_syiahkuala", "source": "instagram-000001", "content": "BNNP Aceh dan USK Kolaborasi Gelar Lomba Video Reels Edukatif Anti Narkotika se-Aceh\n\nBNNP Aceh berkolaborasi dengan Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Lomba Video Reels Edukatif Mahasiswa Anti Narkotika tingkat Provinsi Aceh yang resmi dimulai pada 28 April hingga 18 Mei 2026.\n\nKolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika melalui pendekatan kreatif dan digital. Lomba ini terbuka bagi seluruh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, dengan total hadiah mencapai puluhan juta rupiah.\n\nFinalisasi kegiatan dilakukan melalui pertemuan antara tim BNNP Aceh yang dipimpin oleh Katim Humas, Desi Rosdiana, SKM., MKM., dengan Wakil Rektor III USK Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc. Pertemuan tersebut membahas teknis pelaksanaan serta penguatan sinergi dalam menyukseskan kegiatan.\n\nKegiatan ini juga mendapat dukungan dari Bank Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung gerakan edukasi dan pencegahan narkoba di kalangan generasi muda. Melalui lomba video reels ini, mahasiswa diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan edukatif secara kreatif, inspiratif, dan mudah diterima oleh masyarakat luas, khususnya generasi sebaya. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga menjadi wadah kampanye positif untuk meningkatkan kesadaran kolektif terhadap bahaya narkotika.\n\nDengan semangat kolaborasi dan inovasi, BNNP Aceh bersama USK optimis kegiatan ini dapat menjadi gerakan masif dalam membangun generasi Aceh yang sehat, produktif, dan bebas dari penyalahgunaan narkotika.\n\n   \n\n#WarOnDrugsForHumanity \n#ANANDABersinar \n#SejukMenjagaKondusifitas", "post_id": "3885158944067162867_1565414733"}}, {"key": "bank_indonesia_jatim", "attributes": {"label": "bank_indonesia_jatim", "x": 417.2614070485175, "y": 961.5607784767167, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3889404973356821752_3158106310", "id": "bank_indonesia_jatim", "source": "instagram-000001", "content": "Stabil di tengah tekanan, tumbuh di tengah tantangan!\n\n#SobatRupiah, ketidakpastian global, khususnya dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi risiko utama yang terus diantisipasi Bank Indonesia.\n\nDalam pertemuan bersama investor di Singapura, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan berbagai langkah strategis untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dan memperkuat kepercayaan investor (28/4).\n\nMulai dari penerapan integrated monetary policy mix melalui tiga pilar utama, hingga penguatan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.\n\nLalu, langkah apa lagi yang ditempuh untuk memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik? Yuk, #BeriMakna simak selengkapnya!\n•\nRepost from \n•\n\n#diSetiapMaknaIndonesia", "post_id": "3889404973356821752_3158106310"}}, {"key": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "bank_indonesia", "x": 391.889293824202, "y": 965.5904247708659, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 52.0182, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "3889404973356821752_3158106310", "id": "bank_indonesia", "source": "instagram-000001", "content": "Stabil di tengah tekanan, tumbuh di tengah tantangan!\n\n#SobatRupiah, ketidakpastian global, khususnya dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi risiko utama yang terus diantisipasi Bank Indonesia.\n\nDalam pertemuan bersama investor di Singapura, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan berbagai langkah strategis untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dan memperkuat kepercayaan investor (28/4).\n\nMulai dari penerapan integrated monetary policy mix melalui tiga pilar utama, hingga penguatan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.\n\nLalu, langkah apa lagi yang ditempuh untuk memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik? Yuk, #BeriMakna simak selengkapnya!\n•\nRepost from \n•\n\n#diSetiapMaknaIndonesia", "post_id": "3889404973356821752_3158106310"}}, {"key": "bank_indonesia_jabar", "attributes": {"label": "bank_indonesia_jabar", "x": 588.7625490047649, "y": 868.2892486719871, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "3889525883992668600_6980760863", "id": "bank_indonesia_jabar", "source": "instagram-000001", "content": "Reposted from \n\nStabil di tengah tekanan, tumbuh di tengah tantangan!\n\n#SobatRupiah, ketidakpastian global, khususnya dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi risiko utama yang terus diantisipasi Bank Indonesia.\n\nDalam pertemuan bersama investor di Singapura, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan berbagai langkah strategis untuk menjaga fundamental ekonomi Indonesia dan memperkuat kepercayaan investor (28/4).\n\nMulai dari penerapan integrated monetary policy mix melalui tiga pilar utama, hingga penguatan sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.\n\nLalu, langkah apa lagi yang ditempuh untuk memastikan Indonesia tetap menjadi destinasi investasi yang menarik? Yuk, #BeriMakna simak selengkapnya!\n\n#diSetiapMaknaIndonesia", "post_id": "3889525883992668600_6980760863"}}, {"key": "swamediainc", "attributes": {"label": "swamediainc", "x": 874.7911600800704, "y": 646.1830748547364, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["instagram-000001"], "scores": {"pagerank": 128.4393, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 1, "degree": 2}, "_id": "3890140359829862647_282076797", "id": "swamediainc", "source": "instagram-000001", "content": "Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 di kisaran 4,9–5,7% meski menghadapi pelemahan ekonomi global. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan didorong oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga saat Idulfitri, peningkatan belanja pemerintah, serta investasi yang tetap kuat.\n\nKe depan, BI dan Pemerintah akan memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan, termasuk melalui stimulus domestik, penciptaan lapangan kerja, dan sinergi kebijakan moneter, fiskal, serta sistem pembayaran.\n\nUntuk berita selengkapnya dan informasi bisnis lainnya, baca https://swagroup.id/bankindonesia\n\n………………………………………………………………………………………………\n\nUntuk Berita dan informasi ekonomi bisnis terkini, silakan kunjungi www.swa.co.id\n\nJangan lupa follow, like and tag  di IG, Tiktok, Linkedin, X, dan Youtube\n\n#BankIndonesia\n#SWAMediaInc\n#SWAOnline\n#BacaSWAaja", "post_id": "3890140359829862647_282076797"}}, {"key": "voidfolk.media", "attributes": {"label": "voidfolk.media", "x": 658.0266809858357, "y": 659.9259430269713, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7635901599671405842", "id": "voidfolk.media", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Waktu ditanya wartawan soal kondisi Rupiah yang makin melemah sampai ke angka 17 ribu, jawaban Pak Purbaya yang bilang \"nggak tahu\" dan malah menyarankan buat tanya langsung ke bank sentral itu jujur agak mengkhawatirkan ya. Statement kayak gitu secara nggak langsung ngasih gambaran kalau Bank Indonesia sebagai bank sentral dan kementerian terkait itu kayak nggak jalan selaras atau nggak \"duduk bareng\" buat bahas isu krusial ini. Padahal di tengah situasi ekonomi yang lagi gojang-ganjing, kita butuh banget sinergi yang solid di antara mereka. ‎ ‎Kesan yang muncul ke publik jadi seolah-olah ada gap komunikasi yang besar, di mana masing-masing pihak kayak jalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang satu suara. Harusnya sebagai pemegang otoritas kebijakan, mereka bisa lebih kompak dan sinkron dalam menyampaikan narasi ke masyarakat, bukan malah lempar-lemparan tanggung jawab kayak gitu. Kalau komunikasinya aja nggak satu frekuensi, ya wajar kalau publik jadi ragu apakah mereka benar-benar punya strategi yang matang buat stabilin nilai tukar mata uang kita atau nggak. ‎Speaker:   ‎#gemagoeyardi #astronacci ‎#komunitasclipping #astroxkc8 ‎", "post_id": "7635901599671405842"}}, {"key": "gemagoeyardi", "attributes": {"label": "gemagoeyardi", "x": 253.94134498767906, "y": 992.535271335806, "size": 3.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 35.6421, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7635901599671405842", "id": "gemagoeyardi", "source": "tiktok-000001", "content": "‎Waktu ditanya wartawan soal kondisi Rupiah yang makin melemah sampai ke angka 17 ribu, jawaban Pak Purbaya yang bilang \"nggak tahu\" dan malah menyarankan buat tanya langsung ke bank sentral itu jujur agak mengkhawatirkan ya. Statement kayak gitu secara nggak langsung ngasih gambaran kalau Bank Indonesia sebagai bank sentral dan kementerian terkait itu kayak nggak jalan selaras atau nggak \"duduk bareng\" buat bahas isu krusial ini. Padahal di tengah situasi ekonomi yang lagi gojang-ganjing, kita butuh banget sinergi yang solid di antara mereka. ‎ ‎Kesan yang muncul ke publik jadi seolah-olah ada gap komunikasi yang besar, di mana masing-masing pihak kayak jalan sendiri-sendiri tanpa ada koordinasi yang satu suara. Harusnya sebagai pemegang otoritas kebijakan, mereka bisa lebih kompak dan sinkron dalam menyampaikan narasi ke masyarakat, bukan malah lempar-lemparan tanggung jawab kayak gitu. Kalau komunikasinya aja nggak satu frekuensi, ya wajar kalau publik jadi ragu apakah mereka benar-benar punya strategi yang matang buat stabilin nilai tukar mata uang kita atau nggak. ‎Speaker:   ‎#gemagoeyardi #astronacci ‎#komunitasclipping #astroxkc8 ‎", "post_id": "7635901599671405842"}}, {"key": "penarafflesiatv", "attributes": {"label": "penarafflesiatv", "x": 337.31519190003354, "y": 796.113379306881, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "7600793558987181319", "id": "penarafflesiatv", "source": "tiktok-000001", "content": "Ditengah tekanan ekonomi global dan tantangan penguatan permodalan industri perbankan, PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) berhasil menunjukkan kinerja yang tetap solid dan berkelanjutan.  Capaian positif tersebut ditegaskan langsung oleh Pelaksana Tugas (plt) Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025 yang digelar di Aula H. Mochtar Azehari, Graha Bank Bengkulu, Rabu (28/1). Iswahyudi mengungkapkan bahwa sepanjang tahun buku 2025, Bank Bengkulu mampu mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 8,06 persen dengan total aset mencapai Rp11,190 triliun. Capaian ini, menurutnya, merupakan hasil dari penguatan fundamental bisnis serta konsistensi bank dalam menjalankan transformasi secara bertahap dan terukur. “Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap Bank Bengkulu, sekaligus menjadi bukti bahwa strategi bisnis yang kami jalankan berada di jalur yang tepat,” ujar Iswahyudi. Dari sisi intermediasi, Iswahyudi menjelaskan bahwa penyaluran kredit meningkat 5,45 persen menjadi Rp7,816 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 2,52 persen dengan total mencapai Rp8,205 triliun. Kinerja tersebut berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas bank. “Bank Bengkulu membukukan laba setelah pajak sebesar Rp135,146 miliar, tumbuh signifikan 34,70 persen dibandingkan tahun 2024. Ini menjadi indikator kuat bahwa kinerja operasional dan efisiensi bank terus membaik,” tegasnya. Lebih lanjut, Iswahyudi menambahkan bahwa rasio keuangan Bank Bengkulu tetap berada pada kondisi sehat, dengan ROA sebesar 1,64 persen, ROE 9,51 persen, serta CAR mencapai 25,11 persen. Posisi modal inti per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp1,453 triliun, yang dinilai sangat memadai untuk mendukung ekspansi bisnis secara pruden dan berkelanjutan. Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menyampaikan apresiasi atas kinerja manajemen Bank Bengkulu di bawah kepemimpinan Iswahyudi. Ia berharap Bank Bengkulu semakin berperan dalam memperkuat fiskal daerah dan mendorong pembangunan ekonomi Bengkulu. Sementara itu, Iswahyudi menegaskan bahwa ke depan dukungan terhadap sektor produktif, khususnya UMKM, akan terus menjadi prioritas utama. Bank Bengkulu juga akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan digitalisasi serta ketidakpastian ekonomi global. “Kami berkomitmen menjadikan Bank Bengkulu sebagai bank daerah yang inklusif, tangguh, dan berdaya saing, sekaligus mitra strategis pembangunan ekonomi Bengkulu,” pungkas Iswahyudi.  #bankbengkulu #bengkulu #rups", "post_id": "7600793558987181319"}}, {"key": "iswahyudi.bankbengkulu", "attributes": {"label": "iswahyudi.bankbengkulu", "x": 623.3714335189302, "y": 599.6244673270596, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["tiktok-000001"], "scores": {"pagerank": 35.6421, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "7600793558987181319", "id": "iswahyudi.bankbengkulu", "source": "tiktok-000001", "content": "Ditengah tekanan ekonomi global dan tantangan penguatan permodalan industri perbankan, PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) berhasil menunjukkan kinerja yang tetap solid dan berkelanjutan.  Capaian positif tersebut ditegaskan langsung oleh Pelaksana Tugas (plt) Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi, dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025 yang digelar di Aula H. Mochtar Azehari, Graha Bank Bengkulu, Rabu (28/1). Iswahyudi mengungkapkan bahwa sepanjang tahun buku 2025, Bank Bengkulu mampu mencatatkan pertumbuhan aset sebesar 8,06 persen dengan total aset mencapai Rp11,190 triliun. Capaian ini, menurutnya, merupakan hasil dari penguatan fundamental bisnis serta konsistensi bank dalam menjalankan transformasi secara bertahap dan terukur. “Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap Bank Bengkulu, sekaligus menjadi bukti bahwa strategi bisnis yang kami jalankan berada di jalur yang tepat,” ujar Iswahyudi. Dari sisi intermediasi, Iswahyudi menjelaskan bahwa penyaluran kredit meningkat 5,45 persen menjadi Rp7,816 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 2,52 persen dengan total mencapai Rp8,205 triliun. Kinerja tersebut berdampak langsung pada peningkatan profitabilitas bank. “Bank Bengkulu membukukan laba setelah pajak sebesar Rp135,146 miliar, tumbuh signifikan 34,70 persen dibandingkan tahun 2024. Ini menjadi indikator kuat bahwa kinerja operasional dan efisiensi bank terus membaik,” tegasnya. Lebih lanjut, Iswahyudi menambahkan bahwa rasio keuangan Bank Bengkulu tetap berada pada kondisi sehat, dengan ROA sebesar 1,64 persen, ROE 9,51 persen, serta CAR mencapai 25,11 persen. Posisi modal inti per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp1,453 triliun, yang dinilai sangat memadai untuk mendukung ekspansi bisnis secara pruden dan berkelanjutan. Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menyampaikan apresiasi atas kinerja manajemen Bank Bengkulu di bawah kepemimpinan Iswahyudi. Ia berharap Bank Bengkulu semakin berperan dalam memperkuat fiskal daerah dan mendorong pembangunan ekonomi Bengkulu. Sementara itu, Iswahyudi menegaskan bahwa ke depan dukungan terhadap sektor produktif, khususnya UMKM, akan terus menjadi prioritas utama. Bank Bengkulu juga akan memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menjawab tantangan digitalisasi serta ketidakpastian ekonomi global. “Kami berkomitmen menjadikan Bank Bengkulu sebagai bank daerah yang inklusif, tangguh, dan berdaya saing, sekaligus mitra strategis pembangunan ekonomi Bengkulu,” pungkas Iswahyudi.  #bankbengkulu #bengkulu #rups", "post_id": "7600793558987181319"}}, {"key": "@garudatv.official", "attributes": {"label": "@garudatv.official", "x": 551.0994767096684, "y": 647.431313604004, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "BwHGzN2ANvI", "id": "@garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Kabar Gembira! Pemerintah Guyur 15 Triliun Rupiah, Pastikan KIP Kuliah 2026 Terus Berlanjut!\n\nPemerintah kembali menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Tidak main-main, anggaran jumbo lebih dari 15 triliun rupiah telah dialokasikan setiap tahunnya untuk menjamin masa depan 1,2 juta mahasiswa di seluruh pelosok negeri.\n\nMenteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyebut langkah ini sebagai upaya nyata menciptakan pemerataan pendidikan. Selain bantuan pemerintah, sinergi dari pihak industri dan alumni dalam menyediakan beasiswa mandiri juga menjadi kunci utama dalam mencetak SDM berkualitas yang siap menjawab tantangan zaman. Simak informasi selengkapnya!\n\nEditor & Uploader: BS\n\n#KIPKuliah #Beasiswa2026 #PendidikanTinggi #MendiktiSaintek #GarudaTV #Nasional\n-----\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\n🔴 Subscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \n🔴  Follow our Official TikTok   / garudatvnews  \n🔴 Like our Official Facebook   / garudatv.official  \n🔴 Follow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "BwHGzN2ANvI"}}, {"key": "garudatv.official", "attributes": {"label": "garudatv.official", "x": 434.14127815444516, "y": 408.45413434331135, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 35.6421, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "BwHGzN2ANvI", "id": "garudatv.official", "source": "youtube-000001", "content": "Kabar Gembira! Pemerintah Guyur 15 Triliun Rupiah, Pastikan KIP Kuliah 2026 Terus Berlanjut!\n\nPemerintah kembali menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan tinggi di Indonesia melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Tidak main-main, anggaran jumbo lebih dari 15 triliun rupiah telah dialokasikan setiap tahunnya untuk menjamin masa depan 1,2 juta mahasiswa di seluruh pelosok negeri.\n\nMenteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyebut langkah ini sebagai upaya nyata menciptakan pemerataan pendidikan. Selain bantuan pemerintah, sinergi dari pihak industri dan alumni dalam menyediakan beasiswa mandiri juga menjadi kunci utama dalam mencetak SDM berkualitas yang siap menjawab tantangan zaman. Simak informasi selengkapnya!\n\nEditor & Uploader: BS\n\n#KIPKuliah #Beasiswa2026 #PendidikanTinggi #MendiktiSaintek #GarudaTV #Nasional\n-----\nGARUDA TV - Digital TV Indonesia, Berita Terpercaya\n\nSaksikan Garuda TV di Free to Air atau Streaming melalui:\nwww.garuda.tv | YouTube Garuda TV | Aplikasi Vidio | Wewatch | IndiHome CH111 | Transvision CH824 | FirstMedia CH45\n\nScan ulang saluran digital kamu sekarang ya dan saksikan terus program-program seru terbaru hanya di GarudaTV.\n🔴 Subscribe GarudaTV Official Youtube Channel    /   \n🔴  Follow our Official TikTok   / garudatvnews  \n🔴 Like our Official Facebook   / garudatv.official  \n🔴 Follow our Official Instagram   / garudatv.official", "post_id": "BwHGzN2ANvI"}}, {"key": "@smartmotion-ID", "attributes": {"label": "@smartmotion-ID", "x": 450.87140750849284, "y": 190.3790805036728, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 0, "out_degree": 1, "degree": 1}, "_id": "bwh5Zf31wvI", "id": "@smartmotion-ID", "source": "youtube-000001", "content": "Solusi FMS Agroindustri | Mengubah Blind Spot Jadi Control Tower\n\nSelamat datang di era baru manajemen perkebunan! 🚜🌾 Dalam agroindustri yang sangat kompetitif, logistik bukan sekadar pergerakan armada, melainkan jantung dari profitabilitas perusahaan.\n\nBagaimana cara mengatasi \"kencing barang di jalan\", manipulasi identitas muatan, hingga keterlambatan suplai pabrik yang memicu kerugian miliaran rupiah?\n\nDi episode storytelling industri kali ini, SmartMotion membedah tuntas implementasi Fleet Management System (FMS) yang dirancang khusus untuk medan ekstrem perkebunan dan pabrik pengolahan. Mulai dari logistik inbound hingga outbound, temukan bagaimana teknologi mengubah operasional logistik menjadi lebih transparan, akurat, dan efisien.\n\n📌 Timestamp / Navigasi Video:\n00:00 - Intro: Era Baru Manajemen Perkebunan\n00:45 - Problem vs Solusi: Bahaya Ketiadaan Data Logistik\n01:30 - Diagnostik 5 Penyakit Kronis Logistik Perkebunan\n02:15 - Teknologi Adaptif & Offline Data Logging\n03:00 - Ekosistem 4 Pilar Rantai Pasok Agroindustri\n04:20 - Golden Time Evakuasi Panen & Proteksi Restan\n05:10 - Sistem Outbound & Proteksi Sensor Valve Tangki\n06:15 - Algoritma Cerdas Anti \"Kencing Barang\"\n07:30 - Sinergi Perusahaan & Transporter (Win-Win Solution)\n08:20 - Integrasi FMS dengan Sistem ERP & Jembatan Timbang\n09:10 - Kesimpulan: FMS Sebagai Auditor Digital 24 Jam\n\nPastikan operasional kebun Anda tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Tinggalkan komentar di bawah untuk diskusi lebih lanjut mengenai tantangan logistik di lapangan Anda!\n\nJangan lupa untuk menekan tombol LIKE dan SUBSCRIBE untuk konten edukasi industri lainnya.\n\n🔗 Kunjungi & Follow Kami Sekarang:\n🌐 Lynk.id: https://lynk.id/ayn\n🎵 TikTok:   / smartmotionid  \n📸 Instagram:   / smartmotion.id  \n▶️ YouTube:    / -id  \n\nHashtag:\n#SmartMotion #FleetManagementSystem #Agroindustri #LogistikPerkebunan #ManajemenPabrik #SupplyChain #StorytellingIndustri #TeknologiPertanian #KelapaSawit #EfisiensiBisnis", "post_id": "bwh5Zf31wvI"}}, {"key": "smartmotion", "attributes": {"label": "smartmotion", "x": 901.6811915833467, "y": 444.1777218992301, "size": 3.0, "color": "#3EC764", "sentiment": "positif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 35.6421, "eigenvector": 0.0, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "bwh5Zf31wvI", "id": "smartmotion", "source": "youtube-000001", "content": "Solusi FMS Agroindustri | Mengubah Blind Spot Jadi Control Tower\n\nSelamat datang di era baru manajemen perkebunan! 🚜🌾 Dalam agroindustri yang sangat kompetitif, logistik bukan sekadar pergerakan armada, melainkan jantung dari profitabilitas perusahaan.\n\nBagaimana cara mengatasi \"kencing barang di jalan\", manipulasi identitas muatan, hingga keterlambatan suplai pabrik yang memicu kerugian miliaran rupiah?\n\nDi episode storytelling industri kali ini, SmartMotion membedah tuntas implementasi Fleet Management System (FMS) yang dirancang khusus untuk medan ekstrem perkebunan dan pabrik pengolahan. Mulai dari logistik inbound hingga outbound, temukan bagaimana teknologi mengubah operasional logistik menjadi lebih transparan, akurat, dan efisien.\n\n📌 Timestamp / Navigasi Video:\n00:00 - Intro: Era Baru Manajemen Perkebunan\n00:45 - Problem vs Solusi: Bahaya Ketiadaan Data Logistik\n01:30 - Diagnostik 5 Penyakit Kronis Logistik Perkebunan\n02:15 - Teknologi Adaptif & Offline Data Logging\n03:00 - Ekosistem 4 Pilar Rantai Pasok Agroindustri\n04:20 - Golden Time Evakuasi Panen & Proteksi Restan\n05:10 - Sistem Outbound & Proteksi Sensor Valve Tangki\n06:15 - Algoritma Cerdas Anti \"Kencing Barang\"\n07:30 - Sinergi Perusahaan & Transporter (Win-Win Solution)\n08:20 - Integrasi FMS dengan Sistem ERP & Jembatan Timbang\n09:10 - Kesimpulan: FMS Sebagai Auditor Digital 24 Jam\n\nPastikan operasional kebun Anda tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Tinggalkan komentar di bawah untuk diskusi lebih lanjut mengenai tantangan logistik di lapangan Anda!\n\nJangan lupa untuk menekan tombol LIKE dan SUBSCRIBE untuk konten edukasi industri lainnya.\n\n🔗 Kunjungi & Follow Kami Sekarang:\n🌐 Lynk.id: https://lynk.id/ayn\n🎵 TikTok:   / smartmotionid  \n📸 Instagram:   / smartmotion.id  \n▶️ YouTube:    / -id  \n\nHashtag:\n#SmartMotion #FleetManagementSystem #Agroindustri #LogistikPerkebunan #ManajemenPabrik #SupplyChain #StorytellingIndustri #TeknologiPertanian #KelapaSawit #EfisiensiBisnis", "post_id": "bwh5Zf31wvI"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "attributes": {"label": "@TheIndonesiaPost", "x": 643.4369137948396, "y": 204.36164425262993, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 19.266, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 0, "out_degree": 5, "degree": 5}, "_id": "iiIkvJp8mYY", "id": "@TheIndonesiaPost", "source": "youtube-000001", "content": "Komisi IX DPR RI: Menakar Sinergi Menkes, Mensos, dan BPJS dalam Benang Kusut Data PBI\n\nDi tengah bayang-bayang tantangan fiskal sektor kesehatan, Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama lima pilar penyelenggara jaminan sosial mengungkap adanya urgensi sinkronisasi data kependudukan dan kemiskinan yang selama ini disinyalir mengakibatkan distribusi subsidi jaminan kesehatan belum sepenuhnya tepat sasaran bagi masyarakat rentan. 📉\n\nSinkronisasi Data: Antara Akurasi dan Realita Lapangan\nIntegrasi data antara  yang mengelola DTKS dan  melalui data kependudukan menjadi sorotan utama anggota dewan karena masih ditemukannya warga kategori mampu yang masuk daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara warga miskin justru terdepak dari sistem perlindungan. 🗂️\n\nDalam forum tersebut, ditekankan bahwa pemutakhiran data secara real-time di tingkat daerah seringkali terbentur kendala anggaran di kabupaten/kota, yang menghambat verifikasi serta validasi lapangan secara akurat. 🏚️\n\nHal ini memicu kritik tajam dari Komisi IX yang menuntut audit data terpadu guna memastikan bahwa setiap rupiah premi yang dibayarkan negara benar-benar melindungi mereka yang membutuhkan, alih-alih hanya menjadi angka statistik dalam laporan administratif yang semu. 🛡️\n\nInfrastruktur KRIS dan Keberlanjutan Dana Jaminan Sosial\n bersama DJSN menghadapi tantangan besar terkait rencana implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang bertujuan menghapus kasta layanan kelas 1, 2, dan 3 demi asas keadilan sosial, namun terganjal oleh kesiapan infrastruktur fisik rumah sakit di berbagai wilayah terpencil. 🏥\n\nKesiapan fiskal dana jaminan sosial juga menjadi perdebatan hangat, di mana DJSN didesak untuk menjamin bahwa penyesuaian tarif ke depan tidak memberikan beban tambahan bagi peserta mandiri di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 💰\n\nAnggota dewan memberikan peringatan keras bahwa tanpa simulasi transisi yang matang, migrasi menuju sistem KRIS justru berisiko menurunkan standar layanan medis dan memperpanjang antrean pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. ⏳\n\nTransformasi Kesehatan dan Ego Sektoral Birokrasi\nDi sisi lain,  memaparkan urgensi transformasi layanan rujukan yang memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah melalui koordinasi ketat  untuk memastikan persebaran tenaga medis spesialis yang merata. 🩺\n\nMasalah klasik seperti minimnya insentif bagi nakes di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi isu yang kerap memicu aksi \"lempar bola\" tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pelayanan seringkali terfragmentasi oleh batasan birokrasi otonomi. 🤝 \n\nSinergi ini dianggap sangat krusial, karena tanpa dukungan regulasi yang sinkron antara kebijakan kesehatan pusat dan tata kelola pemerintahan daerah, visi besar pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan sulit tercapai secara inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. 🇮🇩\n\nDampaknya, kegagalan dalam menyelaraskan data kemiskinan dan kesiapan infrastruktur rumah sakit dalam waktu dekat akan memperlebar kesenjangan akses pengobatan serta mengancam stabilitas keuangan BPJS Kesehatan secara jangka panjang. ⚠️\n\nMenurut Anda, apakah penghapusan sistem kelas 1, 2, dan 3 BPJS Kesehatan menjadi satu kelas standar (KRIS) sudah mencerminkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, atau justru akan menurunkan standar kenyamanan pasien? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar! 👇\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost #DPRRI #KomisiIX #BPJSKesehatan #Menkes #KRISBPJS #JaminanKesehatan #BeritaPemerintah #KeadilanSosial #indonesiasehat  #datakemiskinanjawatimur", "post_id": "iiIkvJp8mYY"}}, {"key": "kemensosri", "attributes": {"label": "kemensosri", "x": 793.5805239115414, "y": 967.5544976246471, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.5412, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iiIkvJp8mYY", "id": "kemensosri", "source": "youtube-000001", "content": "Komisi IX DPR RI: Menakar Sinergi Menkes, Mensos, dan BPJS dalam Benang Kusut Data PBI\n\nDi tengah bayang-bayang tantangan fiskal sektor kesehatan, Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama lima pilar penyelenggara jaminan sosial mengungkap adanya urgensi sinkronisasi data kependudukan dan kemiskinan yang selama ini disinyalir mengakibatkan distribusi subsidi jaminan kesehatan belum sepenuhnya tepat sasaran bagi masyarakat rentan. 📉\n\nSinkronisasi Data: Antara Akurasi dan Realita Lapangan\nIntegrasi data antara  yang mengelola DTKS dan  melalui data kependudukan menjadi sorotan utama anggota dewan karena masih ditemukannya warga kategori mampu yang masuk daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara warga miskin justru terdepak dari sistem perlindungan. 🗂️\n\nDalam forum tersebut, ditekankan bahwa pemutakhiran data secara real-time di tingkat daerah seringkali terbentur kendala anggaran di kabupaten/kota, yang menghambat verifikasi serta validasi lapangan secara akurat. 🏚️\n\nHal ini memicu kritik tajam dari Komisi IX yang menuntut audit data terpadu guna memastikan bahwa setiap rupiah premi yang dibayarkan negara benar-benar melindungi mereka yang membutuhkan, alih-alih hanya menjadi angka statistik dalam laporan administratif yang semu. 🛡️\n\nInfrastruktur KRIS dan Keberlanjutan Dana Jaminan Sosial\n bersama DJSN menghadapi tantangan besar terkait rencana implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang bertujuan menghapus kasta layanan kelas 1, 2, dan 3 demi asas keadilan sosial, namun terganjal oleh kesiapan infrastruktur fisik rumah sakit di berbagai wilayah terpencil. 🏥\n\nKesiapan fiskal dana jaminan sosial juga menjadi perdebatan hangat, di mana DJSN didesak untuk menjamin bahwa penyesuaian tarif ke depan tidak memberikan beban tambahan bagi peserta mandiri di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 💰\n\nAnggota dewan memberikan peringatan keras bahwa tanpa simulasi transisi yang matang, migrasi menuju sistem KRIS justru berisiko menurunkan standar layanan medis dan memperpanjang antrean pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. ⏳\n\nTransformasi Kesehatan dan Ego Sektoral Birokrasi\nDi sisi lain,  memaparkan urgensi transformasi layanan rujukan yang memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah melalui koordinasi ketat  untuk memastikan persebaran tenaga medis spesialis yang merata. 🩺\n\nMasalah klasik seperti minimnya insentif bagi nakes di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi isu yang kerap memicu aksi \"lempar bola\" tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pelayanan seringkali terfragmentasi oleh batasan birokrasi otonomi. 🤝 \n\nSinergi ini dianggap sangat krusial, karena tanpa dukungan regulasi yang sinkron antara kebijakan kesehatan pusat dan tata kelola pemerintahan daerah, visi besar pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan sulit tercapai secara inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. 🇮🇩\n\nDampaknya, kegagalan dalam menyelaraskan data kemiskinan dan kesiapan infrastruktur rumah sakit dalam waktu dekat akan memperlebar kesenjangan akses pengobatan serta mengancam stabilitas keuangan BPJS Kesehatan secara jangka panjang. ⚠️\n\nMenurut Anda, apakah penghapusan sistem kelas 1, 2, dan 3 BPJS Kesehatan menjadi satu kelas standar (KRIS) sudah mencerminkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, atau justru akan menurunkan standar kenyamanan pasien? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar! 👇\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost #DPRRI #KomisiIX #BPJSKesehatan #Menkes #KRISBPJS #JaminanKesehatan #BeritaPemerintah #KeadilanSosial #indonesiasehat  #datakemiskinanjawatimur", "post_id": "iiIkvJp8mYY"}}, {"key": "kemendagri", "attributes": {"label": "kemendagri", "x": 713.9590327008424, "y": 289.7986819563535, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.5412, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 2, "out_degree": 0, "degree": 2}, "_id": "iiIkvJp8mYY", "id": "kemendagri", "source": "youtube-000001", "content": "Komisi IX DPR RI: Menakar Sinergi Menkes, Mensos, dan BPJS dalam Benang Kusut Data PBI\n\nDi tengah bayang-bayang tantangan fiskal sektor kesehatan, Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama lima pilar penyelenggara jaminan sosial mengungkap adanya urgensi sinkronisasi data kependudukan dan kemiskinan yang selama ini disinyalir mengakibatkan distribusi subsidi jaminan kesehatan belum sepenuhnya tepat sasaran bagi masyarakat rentan. 📉\n\nSinkronisasi Data: Antara Akurasi dan Realita Lapangan\nIntegrasi data antara  yang mengelola DTKS dan  melalui data kependudukan menjadi sorotan utama anggota dewan karena masih ditemukannya warga kategori mampu yang masuk daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara warga miskin justru terdepak dari sistem perlindungan. 🗂️\n\nDalam forum tersebut, ditekankan bahwa pemutakhiran data secara real-time di tingkat daerah seringkali terbentur kendala anggaran di kabupaten/kota, yang menghambat verifikasi serta validasi lapangan secara akurat. 🏚️\n\nHal ini memicu kritik tajam dari Komisi IX yang menuntut audit data terpadu guna memastikan bahwa setiap rupiah premi yang dibayarkan negara benar-benar melindungi mereka yang membutuhkan, alih-alih hanya menjadi angka statistik dalam laporan administratif yang semu. 🛡️\n\nInfrastruktur KRIS dan Keberlanjutan Dana Jaminan Sosial\n bersama DJSN menghadapi tantangan besar terkait rencana implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang bertujuan menghapus kasta layanan kelas 1, 2, dan 3 demi asas keadilan sosial, namun terganjal oleh kesiapan infrastruktur fisik rumah sakit di berbagai wilayah terpencil. 🏥\n\nKesiapan fiskal dana jaminan sosial juga menjadi perdebatan hangat, di mana DJSN didesak untuk menjamin bahwa penyesuaian tarif ke depan tidak memberikan beban tambahan bagi peserta mandiri di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 💰\n\nAnggota dewan memberikan peringatan keras bahwa tanpa simulasi transisi yang matang, migrasi menuju sistem KRIS justru berisiko menurunkan standar layanan medis dan memperpanjang antrean pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. ⏳\n\nTransformasi Kesehatan dan Ego Sektoral Birokrasi\nDi sisi lain,  memaparkan urgensi transformasi layanan rujukan yang memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah melalui koordinasi ketat  untuk memastikan persebaran tenaga medis spesialis yang merata. 🩺\n\nMasalah klasik seperti minimnya insentif bagi nakes di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi isu yang kerap memicu aksi \"lempar bola\" tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pelayanan seringkali terfragmentasi oleh batasan birokrasi otonomi. 🤝 \n\nSinergi ini dianggap sangat krusial, karena tanpa dukungan regulasi yang sinkron antara kebijakan kesehatan pusat dan tata kelola pemerintahan daerah, visi besar pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan sulit tercapai secara inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. 🇮🇩\n\nDampaknya, kegagalan dalam menyelaraskan data kemiskinan dan kesiapan infrastruktur rumah sakit dalam waktu dekat akan memperlebar kesenjangan akses pengobatan serta mengancam stabilitas keuangan BPJS Kesehatan secara jangka panjang. ⚠️\n\nMenurut Anda, apakah penghapusan sistem kelas 1, 2, dan 3 BPJS Kesehatan menjadi satu kelas standar (KRIS) sudah mencerminkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, atau justru akan menurunkan standar kenyamanan pasien? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar! 👇\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost #DPRRI #KomisiIX #BPJSKesehatan #Menkes #KRISBPJS #JaminanKesehatan #BeritaPemerintah #KeadilanSosial #indonesiasehat  #datakemiskinanjawatimur", "post_id": "iiIkvJp8mYY"}}, {"key": "bpjskesehatan_ri", "attributes": {"label": "bpjskesehatan_ri", "x": 481.9559334008946, "y": 997.5047909933379, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.5412, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iiIkvJp8mYY", "id": "bpjskesehatan_ri", "source": "youtube-000001", "content": "Komisi IX DPR RI: Menakar Sinergi Menkes, Mensos, dan BPJS dalam Benang Kusut Data PBI\n\nDi tengah bayang-bayang tantangan fiskal sektor kesehatan, Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama lima pilar penyelenggara jaminan sosial mengungkap adanya urgensi sinkronisasi data kependudukan dan kemiskinan yang selama ini disinyalir mengakibatkan distribusi subsidi jaminan kesehatan belum sepenuhnya tepat sasaran bagi masyarakat rentan. 📉\n\nSinkronisasi Data: Antara Akurasi dan Realita Lapangan\nIntegrasi data antara  yang mengelola DTKS dan  melalui data kependudukan menjadi sorotan utama anggota dewan karena masih ditemukannya warga kategori mampu yang masuk daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara warga miskin justru terdepak dari sistem perlindungan. 🗂️\n\nDalam forum tersebut, ditekankan bahwa pemutakhiran data secara real-time di tingkat daerah seringkali terbentur kendala anggaran di kabupaten/kota, yang menghambat verifikasi serta validasi lapangan secara akurat. 🏚️\n\nHal ini memicu kritik tajam dari Komisi IX yang menuntut audit data terpadu guna memastikan bahwa setiap rupiah premi yang dibayarkan negara benar-benar melindungi mereka yang membutuhkan, alih-alih hanya menjadi angka statistik dalam laporan administratif yang semu. 🛡️\n\nInfrastruktur KRIS dan Keberlanjutan Dana Jaminan Sosial\n bersama DJSN menghadapi tantangan besar terkait rencana implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang bertujuan menghapus kasta layanan kelas 1, 2, dan 3 demi asas keadilan sosial, namun terganjal oleh kesiapan infrastruktur fisik rumah sakit di berbagai wilayah terpencil. 🏥\n\nKesiapan fiskal dana jaminan sosial juga menjadi perdebatan hangat, di mana DJSN didesak untuk menjamin bahwa penyesuaian tarif ke depan tidak memberikan beban tambahan bagi peserta mandiri di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 💰\n\nAnggota dewan memberikan peringatan keras bahwa tanpa simulasi transisi yang matang, migrasi menuju sistem KRIS justru berisiko menurunkan standar layanan medis dan memperpanjang antrean pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. ⏳\n\nTransformasi Kesehatan dan Ego Sektoral Birokrasi\nDi sisi lain,  memaparkan urgensi transformasi layanan rujukan yang memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah melalui koordinasi ketat  untuk memastikan persebaran tenaga medis spesialis yang merata. 🩺\n\nMasalah klasik seperti minimnya insentif bagi nakes di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi isu yang kerap memicu aksi \"lempar bola\" tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pelayanan seringkali terfragmentasi oleh batasan birokrasi otonomi. 🤝 \n\nSinergi ini dianggap sangat krusial, karena tanpa dukungan regulasi yang sinkron antara kebijakan kesehatan pusat dan tata kelola pemerintahan daerah, visi besar pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan sulit tercapai secara inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. 🇮🇩\n\nDampaknya, kegagalan dalam menyelaraskan data kemiskinan dan kesiapan infrastruktur rumah sakit dalam waktu dekat akan memperlebar kesenjangan akses pengobatan serta mengancam stabilitas keuangan BPJS Kesehatan secara jangka panjang. ⚠️\n\nMenurut Anda, apakah penghapusan sistem kelas 1, 2, dan 3 BPJS Kesehatan menjadi satu kelas standar (KRIS) sudah mencerminkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, atau justru akan menurunkan standar kenyamanan pasien? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar! 👇\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost #DPRRI #KomisiIX #BPJSKesehatan #Menkes #KRISBPJS #JaminanKesehatan #BeritaPemerintah #KeadilanSosial #indonesiasehat  #datakemiskinanjawatimur", "post_id": "iiIkvJp8mYY"}}, {"key": "kemenkes_ri", "attributes": {"label": "kemenkes_ri", "x": 628.4664894171234, "y": 759.9995496096161, "size": 15.0, "color": "#ED3E3E", "sentiment": "negatif", "labels": ["youtube-000001"], "scores": {"pagerank": 22.5412, "eigenvector": 199.9999, "in_degree": 1, "out_degree": 0, "degree": 1}, "_id": "iiIkvJp8mYY", "id": "kemenkes_ri", "source": "youtube-000001", "content": "Komisi IX DPR RI: Menakar Sinergi Menkes, Mensos, dan BPJS dalam Benang Kusut Data PBI\n\nDi tengah bayang-bayang tantangan fiskal sektor kesehatan, Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama lima pilar penyelenggara jaminan sosial mengungkap adanya urgensi sinkronisasi data kependudukan dan kemiskinan yang selama ini disinyalir mengakibatkan distribusi subsidi jaminan kesehatan belum sepenuhnya tepat sasaran bagi masyarakat rentan. 📉\n\nSinkronisasi Data: Antara Akurasi dan Realita Lapangan\nIntegrasi data antara  yang mengelola DTKS dan  melalui data kependudukan menjadi sorotan utama anggota dewan karena masih ditemukannya warga kategori mampu yang masuk daftar Penerima Bantuan Iuran (PBI), sementara warga miskin justru terdepak dari sistem perlindungan. 🗂️\n\nDalam forum tersebut, ditekankan bahwa pemutakhiran data secara real-time di tingkat daerah seringkali terbentur kendala anggaran di kabupaten/kota, yang menghambat verifikasi serta validasi lapangan secara akurat. 🏚️\n\nHal ini memicu kritik tajam dari Komisi IX yang menuntut audit data terpadu guna memastikan bahwa setiap rupiah premi yang dibayarkan negara benar-benar melindungi mereka yang membutuhkan, alih-alih hanya menjadi angka statistik dalam laporan administratif yang semu. 🛡️\n\nInfrastruktur KRIS dan Keberlanjutan Dana Jaminan Sosial\n bersama DJSN menghadapi tantangan besar terkait rencana implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) yang bertujuan menghapus kasta layanan kelas 1, 2, dan 3 demi asas keadilan sosial, namun terganjal oleh kesiapan infrastruktur fisik rumah sakit di berbagai wilayah terpencil. 🏥\n\nKesiapan fiskal dana jaminan sosial juga menjadi perdebatan hangat, di mana DJSN didesak untuk menjamin bahwa penyesuaian tarif ke depan tidak memberikan beban tambahan bagi peserta mandiri di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil. 💰\n\nAnggota dewan memberikan peringatan keras bahwa tanpa simulasi transisi yang matang, migrasi menuju sistem KRIS justru berisiko menurunkan standar layanan medis dan memperpanjang antrean pasien di fasilitas kesehatan tingkat lanjut. ⏳\n\nTransformasi Kesehatan dan Ego Sektoral Birokrasi\nDi sisi lain,  memaparkan urgensi transformasi layanan rujukan yang memerlukan dukungan penuh pemerintah daerah melalui koordinasi ketat  untuk memastikan persebaran tenaga medis spesialis yang merata. 🩺\n\nMasalah klasik seperti minimnya insentif bagi nakes di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi isu yang kerap memicu aksi \"lempar bola\" tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga pelayanan seringkali terfragmentasi oleh batasan birokrasi otonomi. 🤝 \n\nSinergi ini dianggap sangat krusial, karena tanpa dukungan regulasi yang sinkron antara kebijakan kesehatan pusat dan tata kelola pemerintahan daerah, visi besar pembangunan ketahanan kesehatan nasional akan sulit tercapai secara inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. 🇮🇩\n\nDampaknya, kegagalan dalam menyelaraskan data kemiskinan dan kesiapan infrastruktur rumah sakit dalam waktu dekat akan memperlebar kesenjangan akses pengobatan serta mengancam stabilitas keuangan BPJS Kesehatan secara jangka panjang. ⚠️\n\nMenurut Anda, apakah penghapusan sistem kelas 1, 2, dan 3 BPJS Kesehatan menjadi satu kelas standar (KRIS) sudah mencerminkan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat, atau justru akan menurunkan standar kenyamanan pasien? Sampaikan pendapat kritis Anda di kolom komentar! 👇\n\nSosial Media : MZF\n\n#theindonesiapost #DPRRI #KomisiIX #BPJSKesehatan #Menkes #KRISBPJS #JaminanKesehatan #BeritaPemerintah #KeadilanSosial #indonesiasehat  #datakemiskinanjawatimur", "post_id": "iiIkvJp8mYY"}}], "edges": [{"key": "bppsdm_pkpdumai", "source": "bppsdm_pkpdumai", "target": "bppsdm_kp", "attributes": {"label": "retweet", "type": "retweet", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "bppsdm_pkpdumai", "source": "bppsdm_pkpdumai", "target": "bppsdm_kp", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "retweet-000002"}}, {"key": "onorus7940", "source": "onorus7940", "target": "LambeSahamjja", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "BI_ProvinsiBali", "source": "BI_ProvinsiBali", "target": "BI_ProvinsiBali", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tweet-000004"}}, {"key": "bank_indonesia_bali", "source": "bank_indonesia_bali", "target": "bank_indonesia_bali", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "infobnn_prov_aceh", "source": "infobnn_prov_aceh", "target": "infobnn_ri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "infobnn_prov_aceh", "source": "infobnn_prov_aceh", "target": "suyudiarioseto.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "infobnn_prov_aceh", "source": "infobnn_prov_aceh", "target": "univ_syiahkuala", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bank_indonesia_jatim", "source": "bank_indonesia_jatim", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "bank_indonesia_jabar", "source": "bank_indonesia_jabar", "target": "bank_indonesia", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "swamediainc", "source": "swamediainc", "target": "swamediainc", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "instagram-000001"}}, {"key": "voidfolk.media", "source": "voidfolk.media", "target": "gemagoeyardi", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "penarafflesiatv", "source": "penarafflesiatv", "target": "iswahyudi.bankbengkulu", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "tiktok-000001"}}, {"key": "@garudatv.official", "source": "@garudatv.official", "target": "garudatv.official", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@smartmotion-ID", "source": "@smartmotion-ID", "target": "smartmotion", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "kemensosri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "kemendagri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "bpjskesehatan_ri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "kemenkes_ri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}, {"key": "@TheIndonesiaPost", "source": "@TheIndonesiaPost", "target": "kemendagri", "attributes": {"label": "mention", "type": "mention", "source": "youtube-000001"}}]}